Wednesday, June 12, 2013

BERDHUHA KARENA BANYAK KEBUTUHAN

Inti dari sebuah ibadah adalah doa. Dalam ajaran Islam, peribadatan yang diwujudkan dalam gerakan-gerakan shalat yang di dalamnya terdapat doa-doa. Inti melaksanakan shalat itu adalah berdoa kepada Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda “Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah”. (HR. Tirmidzi).

Dalam kehidupan keluarga, kami mencoba untuk membiasakan shalat dhuha. Kami memahami bahwa waktu dhuha adalah waktu spesial dihadapan Tuhan. Nabi Muhammad saw mencontohnya kepada kami sekeluarga untuk mendirikan shalat (berdoa) di waktu dhuha. Keuntungan jika kita selalu berdoa (shalat) di waktu dhuha, adalah Tuhan akan selalu mencukupkan rezeki kita setiap hari. Keuntungan ini dijanjikan Tuhan, yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadis. Mendengar janji ini, siapa yang tidak termotivasi untuk berdoa di waktu dhuha?

Motivator-motivator muslim pun selalu menganjurkan shalat dhuha kepada orang Islam. Banyak dibuktikan bahwa orang-orang yang merutinkan shalat dhuha setiap menjelang pajar, dicukupkan rezekinya oleh Tuhan. Kata cukup bagi Tuhan, berbeda dengan kata cukup manusia. Ini sekedar contoh, salah seorang pengusaha muslim terkaya di India, konon dikabarkan dia tidak pernah meninggalkan shalat dhuha. Motivator muda yang sudah terkenal seperti Ippho Santosa kekayaannya sudah lebih dari cukup untuk ukuran anak muda. Bisnisnya merambah ke mana-mana, dan sering sekali mendapat undangan seminar di dalam maupun luar negeri. Dia buka kartu, rezekinya diberkahi karena setiap hari merutinkan shalat dhuha.

Kami sekeluarga berusaha memahami bahwa shalat dhuha itu adalah penyebab melimpahnya (dicukupkannya) rezeki. Jadi kesimpulan kami, kalau dalam kehidupan keluarga, kita ingin dicukupkan (dilimpahkan) rezeki, maka harus merutinkan shalat dhuha. Logiskan?

Maka dari itu, saya maupun istri selalu menyempatkan shalat dhuha setiap hari, baik dikala sempit maupun lapang, dikala sibuk atau senggang. Apa sebab? Karena kami sekeluarga tidak ingin hidup kekurangan alias miskin. Terus terang saja kami takut miskin, karena kemiskinan itu mendekati kekufuran, dan jika sudah parah, kita bisa menjadi tergolong orang-orang kafir. Lihat saja banyak kita saksikan, orang-orang miskin yang menggadaikan keimanannya karena kekurangan makan dan minum.

Apakah benar dengan shalat dhuha rezeki keluarga akan berlimpah? Inilah hal penting yang perlu dipahami semua. Sebuah kebenaran bisa diyakini dengan keimanan, tapi keimanan itu turun naik. Kadang melemah kadang menguat. Maka untuk menguatkan keimanan dibutuhkan keyakinan nyata. Untuk itu tidak ada salahnya jika kita merutinkan shalat dhuha sambil menguji, apakah benar setelah merutinkan shalat dhuha rezeki kita akan dicukupkan atau melimpah? Untuk pertama kali, mungkin Anda bisa mencobanya dalam jangka waktu satu, dua, atau tiga bulan. Jika dalam tiga bulan belum teruji, naikkan saja rutinitasnya menjadi satu tahun. Insya Allah Tuhan ngasih pengetahuan kepada Anda, tahu-tahu rezeki Anda sudah melimpah saja.

Apakah boleh, melaksanakan shalat dhuha karena niat ingin mencukupi kebutuhan? Saya bukan kiyai, izinkan berpendapat (berijtihad) kalau salah betulkan saja, tidak usah pakai mencela-cela, apalagi sampai bilang kafir-kafiran segala. Saya katakan, niat melaksanakan shalat dhuha karena ingin mencukupi kebutuhan kita yang banyak sekali di muka bumi ini, BOLEH.

Alasannya apa? Segala sesuatu itu dibangun oleh niat. Sebuah niat dilandasi oleh pengetahuan. Semua orang tahu, bahwa Nabi Muhammad saw mencontohkan kepada umatnya untuk merutinkan shalat dhuha. Mengapa Beliau melakukannya? Dalam hadisnya Nabi Mauhammad saw menerangkan (memberi pengetahuan) bahwa barang siapa shalat enam rakaat akan dicukupkan rezekinya dalam sehari. Maka jika setiap hari shalat dhuha, otomatis kebutuhan kita setiap hari akan terpenuhi. Jika setiap hari terpenuhi sudah pasti akan berlebih.

Berangkat dari pengetahuan ini, apakah salah jika kita berniat shalat dhuha karena ingin dicukupkan segala kebutuhan hidup setiap hari? Ada yang bilang tidak sah dan tidak boleh melaksanakan shalat dhuha karena karena niat ingin memenuhi kebutuhan, takutnya jika sudah tidak memiliki kebutuhan kita tidak akan shalat. Baik, kita balik bertanya, apakah mungkin selama orang hidup tidak memiliki kebutuhan? Semua orang pasti menjawab serentak tidak mungkin! Kalau mungkin ada, berapa orang kemungkinannya? Semua orang pasti menjawab serentak tidak mungkin ada!

Untuk itulah, berniat shalat dhuha karena ingin memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari menjadi mungkin dilakukan. Pada ujungnya kita akan merasakan dekat dengan Tuhan. Kalau Anda tetap berpendapat bahwa niat seperti itu tidak boleh dan shalat dhuhanya tidak sah. Kami ingatkan kepada saudara ku, Anda itu bukan Tuhan, tapi manusia. Jangan menilai perbuatan orang berdasarkan pendapat Anda sendiri. Perbanyak membaca kitab suci dan berpikir.

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". (Albaqarah:216). 

Kamu benci kan sama perang? Ada bangsa sampai kampanye, damai-damai semuanya! Dianya sendiri perang sampai keluarkan miliaran dolar. Kenapa mereka perang karena situasi butuhnya perang. Maka jangan membenci, melarang sesuatu tanpa pengetahuan. 

Kesimpulannya, jika kita masih hidup kekurangan, jangan pura-pura tidak butuh dihadapan Tuhan, masa sama Tuhan saja bohong. Baru, setelah dicukupkan rezeki sama Tuhan, Anda naik level dengan hanya mencari kedekatan (ridho) dari Tuhan. Kalau belum mampu, masih khawatir buat bayar cicilan bulanan, khawatir buat biaya kuliah belum ada, ekonomi diakhir bulan morat-marit, susu anak belum kebeli, belajar dulu deh dari dasar, dengan niat shalat dhuha untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga.  Jangan kaya si Cepot (tokoh anekdot dalam wayang golek budaya Sunda Jawa Barat Indonesia), yang mimpi jadi raja tapi ilmunya terbatas. Akhirnya si cepot pura-pura jadi raja, suka ngelantur dan jenaka, karena kurang pengetahuan. Belajar itu ada tahapan. Sekolah aja tidak langsung S3 kan? Demikian juga, jika ingin dekat (ridho) Tuhan bertahap saja. Dimulai dengan cara memenuhi kebutuhan hidup kita di atas jalan Tuhan. Wallahu al’alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

4 comments:

  1. terimakasih banyak atas infonya postingannya sangat bermanfaat sekali untuk saya....!

    ReplyDelete
  2. saudara nafian, terimakasih atas kunjungannya, semoga sukses!

    ReplyDelete