Tuesday, June 11, 2013

SANGAT DILARANG MENYESAL!

Menyesal dengan mengeluh beda tipis. Menyesal bisa dikategorikan bagian dari mengeluh. Artinya jika orang menyesal sudah pasti mengeluh. Sebaliknya orang mengeluh belum tentu menyesal.

Supaya tidak pusing kita definisikan saja. Mengeluh itu adalah menyebut-nyebut kondisi yang dialami dalam bahasa negatif. Contohnya, makanan ini tidak enak, sambil dia makan. Hari ini panas banget sambil kipas-kipas tangan. Hidup ini tambah berat saja, padahal dari dulu juga begitu-begitu saja.

Bagaimana dengan menyesal? Menyesal adalah menyalahkan diri sendiri (akan diikuti dengan menyalahkan orang lain), karena keputusan yang diambilnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Contoh; menyesal telah menikah dengan pasangan pilihan orang tuanya, karena suaminya tidak setia. Menyesal telah memilih kuliah di jurusan komputer, setelah melihat temannya masuk kedokteran. Menyesal telah memilih melanjutkan kuliah, setelah melihat teman-temannya sukses di dunia kerja tanpa melanjutkan kuliah. 

Mengapa menyesal sangat dilarang? Secara psikologis bisa Anda rasakan menyesal adalah pintu masuknya pikiran dan perasaan negatif. Dalam jangka waktu lama, penyesalan akan menjadi penyakit hati yang sulit disembuhkan. Jika hatinya sakit maka sakitlah seluruh tubuhnya.

Bayangkan jika Anda seorang suami/istri, lalu menyesali pernikahan dengan laki-laki/wanita yang sekarang jadi istri/suami Anda, dengan alasan tidak mencintainya sepenuh hati. Apa yang akan terjadi dalam rumah tangga Anda? Sekalipun bertahan, rumah tangga Anda akan seperti neraka dan anak-anak Anda menjadi korbannya. Sementara Anda sendiri sebagai istri/suami akan terus menjadi pendurhaka terhadap suami/istri Anda, karena dari penyesalan itu akan memunculkan rasa antipati dan tumbuh kebencian bukan hanya pada suami/istri Anda tapi kepada seluruh keluarga suami/istri, termasuk orang tua (ibu/bapak) suami/istri Anda.

Ketika seorang suami/istri membenci suami/istrinya, biasanya akan berlanjut membenci ibu dan bapaknya suami/istri, maka Anda akan menjadi seorang suami/istri yang berada dalam masalah besar. Karena Anda menentang dua ketentuan Tuhan.

Seorang suami tidak boleh menyulitkan dan harus memuliakan istrinya. Seorang istri harus patuh dan taat pada suaminya. Dua ketetapan Tuhan ini telah dilangggar oleh suami/istri yang selalu ada kebencian dalam rumah tangganya karena menyesali pernikahannya. Inilah pelanggaran bagi suami/istri terhadap ketentuan Tuhan yang pertama.

Di bawah ini adalah dua ketentuan Tuhan yang ditetapkan kepada seseorang yang sudah bersuami atau beristri.

"Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi". (HR. Abu 'Asaakir). Ini ketentuan buat suami.

“Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena besarnya jasa (hak) suami terhadap isterinya”. (HR. Ahmad). Ini ketentuan buat istri.

Ketenuan kedua; seorang suami/istri harus menganggap ibu mertuanya sebagai ibunya sendiri. Jika suami/istri tidak hormat pada ibu mertuanya, suami/istri tersebut telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Tuhan yang kedua. Berikut adalah ketentuan Tuhan bagi seseorang yang sudah bersuami atau beristri.

“Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad). Ini ketentuan buat suami dan istri.

Jika sebuah keluarga dibangun dalam pengingkaran, pendustaan, terhadap ketentuan Tuhan. Maka perhatikan saja oleh kalian berdua! Tidak akan pernah ada ketenteraman dan kedamaian dalam keluarga kalian berdua.

Kesejahteraan itu tidak terletak pada jumlah anggaran belanja yang bisa kalian upayakan. Kesejahteraan itu milik Tuhan, dan akan diberikan kepada mereka-mereka yang taat pada ketentuan-Nya. Itulah contoh bahaya menyesal jika terjadi dalam kehidupan keluarga.

Lalu pertanyaan mendasarnya, mengapa menyesal sangat dilarang? Alasan pertama: menyesal sama dengan perbuatan para penghuni neraka. “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. (Al Baqarah:167).

Anda saksikan dan buktikan! setiap kata di dalam Al-Qur’an memiliki keterkaitan erat. Anda lihat di atas? Kata SESAL dituliskan sejajar dalam satu ayat dengan kata NERAKA. Lalu apa artinya? Beristigfarlah... dan bertobatlah... wahai para istri dan suami yang selama ini menyesali pernikahannya. Jika SESAL itu Anda pelihara dalam kehidupan rumah tangga, maka sesungguhnya Anda telah menjadikan keluarga Anda sebagai NERAKA dalam kehidupan Anda. Berpikirlah... dan rasakan agar Anda memahaminya.

Alasan kedua: segala sesuatu yang telah terjadi pada diri kita adalah TAKDIR (ketentuan) Tuhan. Kita sebagai orang beriman diwajibkan untuk percaya kepada TAKDIR Tuhan. Percaya kepada takdir artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang telah terjadi pada diri kita adalah kehendak Tuhan dan pasti menjadi yang terbaik bagi diri kita. Suka atau tidak suka, kita harus BERSABAR (mensyukuri, kreatif) menjalaninya karena di setiap TAKDIR Tuhan yang kita alami akan ada kebaikan.

Sesungguhnya jika kamu menyesali apa yang telah terjadi pada diri kamu sendiri, maka kamu telah berprasangka buruk kepada Tuhan. Kamu termasuk pada orang-orang jahiliah yang tidak berpengetahuan. “...mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah..” (Ali Imran:154).

“...Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah"... Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Ali Imran:154).

Silahkan menyesali apa yang sudah terjadi pada diri Anda, dan kelak Anda akan abadi dalam kehidupan sengsara di dunia dan akhirat, karena Anda mengingkari TAKDIR dengan berprasangka buruk terhadap Tuhan. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

No comments:

Post a Comment