Oleh: Muhammad Plato
Ada kisah manusia yang wajib diajarkan pada seluruh umat manusia. Informasi ini bisa ditemukan di dalam sebuah kisah anak Adam, dijelaskan dalam Al Quran.
"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).
"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (Al Maa'idah, 5:28).
"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan dosa ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim." (Al Maa'idah, 5:29).
"Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi." (Al Maa'idah, 5:30).
"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al Maa'idah, 5:31).
Kisah dua putra Adam ini bukan sekedar sosok fisik manusia. Dua kisah ini menggambarkan dua kekuatan yang dimiliki manusia. Dua putra Adam adalah dua sifat dalam diri manusia yaitu nafsu tak terkendali (fujur) dan terkendali (takwa). Dua sifat ini merupakan kodrat yang ada dalam diri Adam. Sebagaimana Allah mengabarkan dalam Al Quran.
"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syam, 91:8). Berdasarkan makna dasarnya, fujur adalah potensi meluap dan melanggar batas. Takwa kemampuan mengerem, memelihara, menjaga taat pada ketentuan.
Kisah dua anak Adam adalah sebuah pergulatan psikologis di dalam setiap jiwa manusia. Di dalam diri manusia senantiasa ada dua kekuatan saling konflik. Jiwa perusak kadang melampui batas hingga berani melakukan pembunuhan. Jiwa pemelihara bersikap hati-hati hingga bersikap lemah dan pasrah pada keadaan.
Ketika jiwa pemelihara terbunuh maka manusia menjadi pelaku kejahatan di muka bumi. Dari kejahatan yang dilakukannya manusia bisa kembali sadar dan menyesali perbuatannya dan berusaha menata kembali menghidupkan jiwa pemelihara.
Dua anak Adam ini bergerak dinamis dari jiwa perusak ke pemelihara dari pemelihara ke perusak. Jiwa perusak bisa menghidupakan kembali jiwa pemelihara dengan cara mau menerima pengajaran dan belajar dari siapa saja dari seluruh makhluk.
Dalam kasus dua anak Adam dikisahkan jiwa perusak yang telah melakukan pembunuhan mendapat pengajaran dari Allah dari burung Gagak. Burung gagak adalah simbol dari kemampuan ilmu yang harus dimiliki oleh jiwa perusak jika ingin kembali sadar untuk mewujudkan keadaan damai bersama jiwa pemelihara.
Burung Gagak adalah simbol kompetensi yang harus dimiliki anak-anak Adam. Sebuah penelitian menemukan kemampuan intelektual burung Gagak. Dari hasil penelitian para ahli biologi dan neurosain, burung Gagak memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Mampu berpikir kompleks, mengingat kejadian spesifik di masa lalu dan merencanakan kebutuhan masa depan. Burung gagak memiliki kemampuan persepsi subjektif sebagai indikator kemampuan untuk membangun kesadaran.
Berdasarkan literasi dari berbagai sumber, Gagak dikenal "ahli pemecah masalah" di dunia hewan. Mereka tidak hanya menggunakan alat yang tersedia, tetapi juga memodifikasi alat (seperti membengkokkan kawat) untuk mencapai tujuan.
Gagak memiliki struktur sosial yang sangat kuat. Mereka berbagi informasi tentang sumber makanan dan saling memperingatkan tentang adanya bahaya. Mereka pandai dalam membangun kerja berkolaborasi.
Gagak tidak hanya belajar dari pengalaman pribadi, tetapi juga mengamati pengalaman gagak lain. Mereka memiliki ingatan jangka panjang yang luar biasa terhadap wajah-wajah yang pernah mengancam atau membantu mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa gagak mampu menunda keinginan sesaat (seperti tidak memakan makanan langsung) demi mendapatkan alat yang bisa memberikan makanan yang lebih besar di kemudian hari. Beberapa penelitian mengamati perilaku gagak yang "berduka" atau berkumpul di sekitar rekan mereka yang mati. Mereka juga dikenal sangat setia pada pasangannya (monogami).
Pesan penting dari dua kisah anak Adam adalah setiap anak adam memiliki sisi unggul dan lemah. Melalui burung Gagak manusia diingatkan untuk menjadi manusia pembelajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan teknologi, untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dari segala kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu.
Untuk menjaga kehidupan damai, hidupkan kesadaran berkolaborasi, saling mengenal, untuk memecahkan berbagai masalah dengan tidak melupakan nilai-nilai moral, spiritual, yang diajarkan Tuhan.***
No comments:
Post a Comment