Saturday, September 24, 2016

MENYALAKAN NALURI UNGGUL


Selain murid-murid, para guru wajib membaca buku berjudul“Rahasia DNA”. Buku ini mengangkat informasi hasil penelitian Kazuo Murakami (2015) tentang DNA. Hasil penelitiannya menyimpulkan jika DNA diibaratkan kitab suci, gen adalah ayat-ayat dan genom adalah huruf-huruf yang terdapat di dalamnya.

Kazuo Murakami memberi penjelasan bahwa kecerdasan manusia ditetapkan oleh gen/naluri, tetapi pengembangannya ditentukan oleh pembelajaran, pengalaman, dan usaha. Pengaruh lingkungan yang bersifat pembelajaran sangatlah kuat. Sekalipun naluri unggul dimiliki, jika tidak ada fasilitas untuk mengembangkannya atau malas, maka naluri unggul itu akan tetap tidur.

Hal menarik dari hasil penelitian Murakami adalah tentang pentingnya menyalakan GEN (NALURI) BERPIKIR OPTIMIS. Menurut Murakami, agar tetap berpikir optimis, jangan memasukkan keraguan atau kecurigaan ke dalam pikiran. Teruslah bertindak dengan pikiran sederhana tak peduli disebut bodoh atau tidak tahu adat. Orang yang berpikir positif tidak memberikan waktu pada dirinya untuk berpikir apakah negatif atau positif yang penting adalah “melakukan”. Berpikir optimis adalah gen/naluri unggul yang harus dijaga agar tetap menyala.


Gen atau naluri berpikir optimis ternyata menjadi perintah Allah swt dalam kitab suci. “...jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (yusuf:87). 

“Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat". (Al Hijr: 56).

Berputus asa (pesimis) sama dengan penyakit yang mematikan gen/naluri berpikir optimis dan akan berdampak buruk pada kehidupan. Dari hasil riset, tingginya angka bunuh diri di Jepang, disumbang oleh oleh pola pikir pesimis. Fakta ini jadi pemahaman rasional mengapa Allah melarang manusia berputus asa dan menggolongkan orang-orang putus asa sebagai perbuatan sesat. 

Selain gen/naluri berpikir optimis menurut Murakami, SIKAP DAN CARA HIDUP MEMENTINGKAN ORANG LAIN adalah cara hidup paling baik untuk dipelihara karena dapat menyalakan gen/naluri unggul. Ditegaskan oleh Murakami, “cara paling efektif lain untuk menyalakan gen/naluri unggul adalah dengan berpikir berguna bagi orang lain”. 

Orientasi hidup ingin selalu menolong orang lain dan melakukan sesuatu untuk orang lain, adalah keistimewaan bawaan lahir manusia yang ditetapkan dalam gen/naluri. Jadi secara alamiah manusia telah memiliki gen/naluri untuk melakukan kebaikan demi orang lain. 

Temuan Murakami dari hasil penelitian DNA, ternyata ada kaitan dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan bahwa “orang-orang yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, yaitu orang-orang yang selalu mementingkan kepentingan orang lain.

Sesungguhnya Allah Maha Tahu, ternyata apa-apa yang diperintahkan kepada manusia, bertujuan mengaktifkan gen/neluri unggul yang ada dalam diri manusia. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (At Thalaaq:7).

Dari hasil penelitiannya, Murakami memberi kesaksian, “orang yang punya pemikiran mendalam sangat paham bahwa dengan mengusahakan kepentingan orang lain, keuntungan lebih besar akan kita dapatkan. Hidup bermanfaat bagi orang lain adalah ketentuan bagi orang-orang yang ingin hidup bahagia. Melakukan sesuatu demi orang lain atau demi masyarakat sama sekali bukanlah bekerja  “tanpa pamrih”, tetapi akan berbalas dengan kegembiraan pribadi, manfaat, arti hidup, dan kepuasan diri.” 

Jadi dari penjelasan di atas, kita ambil kesimpulan bahwa tugas guru dari masa ke masa adalah bekerja keras membentuk lingkungan pendidikan yang dapat menyalakan GEN/NALURI OPTIMIS DAN MEMENTINGKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN. Faktor lingkungan yang paling dominan untuk menyalakan gen/naluri unggul para murid adalah guru. Di tangan para guru cerdaslah, generasi unggul yang selalu optimis dan bermanfaat bagi sesama akan terus dilahirkan. Wallahu ‘alam. 
Muhammad Plato, @logika_Tuhan.

No comments:

Post a Comment