Sunday, November 14, 2021

TIGA AYAT AMALAN ORANG PALING KAYA DI INDONESIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Inilah tiga ayat amalan ilmu orang paling kaya di Indonesia, Aditya Prayoga. Kemungkinan, sedekahnya 500 persen lebih besar dari penghasilannya. Gagasan mendirikan Rumah Makan Gratis (RMG), bisa dibilang ide yang tidak bisa dipahami nalar rasional material. Dalam kondisi terbatas, pendidikan hanya sekolah dasar, rumah petakan kontrak, dan penghasilan tidak menentu, gagasan mendirikan RMG sangat tidak diterima nalar awam yang mainstream material. Inilah keunggulan orang-orang yang berpikir mengikuti logika Tuhan. Siapapun pelakunya, dari lapisan manapun, kalangan manapun dia akan tampil jadi sosok pribadi inspiratif dan edukatif.

Aditya Prayoga tidak sekolah khusus tentang agama, tetapi apa yang dilakukannya telah mengikuti apa yang telah diajarkan dalam pelajaran agama. Adit drop out dari dunia pendidikan, tetapi dia belajar dari sekolah kehidupan dengan merantau, terjun ke dunia real dan berusaha survival. Tulisan ini akan mengambil pelajaran-pelajaran penting yang bisa kita tiru dan ajarkan dalam dunia pendidikan. Banyak pesan moral yang harus kita renungkan dari kesuksesan Adit Prayoga yang berhasil membangun RMG dan berhasil membuka beberapa cabang di berbagai daerah. Inilah kunci kesuksesan Adit Prayoga yang bisa kita teladani.


Pertama,
komitmen Adit sebagai anak yang benar-benar berbakti pada orang tua sepenuh hati. Berbakti pada orang tua sebagai kunci sukses bukan semata dongeng rakyat tetapi sebuah ketetapan dari Tuhan yang bagi siapapun dapat melakukannya, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Berbakti pada orang tua adalah rumus sukses bisnis orang-orang China, rumus sukses para pengusaha, rumus ilmu sosial dasar, dan grand theory ilmu pendidikan. Allah telah menetapkan ketentuan ini sejak dulu hingga sekarang.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Al Israa, 17:23).

Ketentuan ini berlaku general tidak hanya untuk orang tua kandung, tapi untuk seluruh orang tua. Ketentuan yang berat ini, berhasil Adit aplikasikan dengan sempurna. Beliau mengurus seorang nenek yang hidup, sakit, sebatang kara hingga ajalnya tiba. Ketulusan Adit yang tidak berpendidikan tinggi dalam menghargai, menghormati, dan memelihara orang tua, telah mengguncang dunia spiritual. Malaikat bersujud dan Allah memuji prilakunya.

Kedua, secara faktual Adit tidak menjadikan shalat dan sabar sebagai ritual dan ucapan tanpa makna, tetapi menjadi alat berkomunikasi dirinya dengan Tuhan ketika berhadapan dengan kesulitan, dan tempat berkeluh kesah kesah tentang kondisi hidup yang dihadapinya. Kemampuannya dalam bersabar telah dibuktikan oleh Adit dengan mengambil ajaran yang terberat dirasa manusia, dan tidak semua orang bisa melakukannya yaitu:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (At Thalaaq, 65:7).

Prilaku Adit bertentangan dengan pola umum tetapi sangat dianjurkan di dalam Islam, yaitu sedekah di kala sempit. Sedekah dikala tidak punya uang. Sedekah dikala sakit. Sedekah di kala tidak punya pekerjaan. Sedekah dikala tidak punya uang untuk bayar kontrakkan. Sedekah dikala hidup dilanda kegelisahan. Cara berpikir ini tidak dapat dijelaskan oleh cara berpikir rasional materialis, tapi hanya bisa dipahami oleh cara berpikir rasional religius.

Ketiga, Adit mengimplementasikan cara berpikir berkelimpahan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, 1-1=700. Ini cara berpikir orang-orang besar terdahulu. Cara berpikir para Nabi dan cara berpikir para sahabat Nabi. Cara berpikir ini akan melahirkan semangat jiwa berkorban, semakin mengabdi pada Tuhan, dan semangat untuk mensejahterakan banyak orang. Ayat ini mengandung rumus bagaimana orang-orang besar dapat memperoleh keberhasilan yang besar. Rumus ini tidak dapat dipahami dengan matematika material, hanya bisa dipahami oleh matematika Al-Qur’an yang belum dapat diketahui turunan rumusnya tetapi bisa dibuktikan adanya secara nyata.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarag, 2:261).

Bagi siapapun yang berani hidup di jalan ini, pasti hidupnya sejahtera. Kuncinya hanya keberanian. Jika belum berani, sedikit-sedikit saja kerjakan tapi konsisten. Mari kita ajarkan pada anak-anak kita, agar mereka menjadi manusia-manusia pemberkah di masa mendatang. Ini standar kompetensi dari Tuhan. Jangan percaya apa yang saya katakan, pikirkan saja ayatnya! Wallahu’alam. 

No comments:

Post a Comment