Friday, January 16, 2026

IDE SAINS DAN TEKNOLOGI DARI ISRA MI'RAJ

Oleh: Muhammad Plato

Cerita Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad pada masa itu menggemparkan seluruh penduduk. Dalam konteks kenabian, pada usia antara 51-52 tahun Nabi Muhammad melakukan Isra dan Mi'raj. Posisi Nabi Muhammad masih sedang berada di Mekah. Kondisi Nabi Muhammad sedang berduka karena Khadijah istri Nabi saw, dan Abu Thalib paman Nabi telah wafat.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al Israa, 17:1).

Berdasarkan buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal, reaksi masyarakat Mekah saat mendengar cerita Isra Mi'raj ditandai dengan pendustaan yang keras, ejekan, dan lecehan semakin meningkat. Keimanan pada umat Islam saat itu mendapat guncangan hebat.

Cerita Isra Mi'raj sangat tidak masuk akal bagi masyarakat Arab saat itu, karena perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Madjidil Aksa (Palestina) dapat ditempuh melalui perjalan satu bulan. Sementara Isra Mi'raj ditempuh dalam satu malam. Belum ada ilmu dan teknologi yang bisa menjelas perjalanan Nabi saat itu. Dari suasana psikologis masyarakat saat itu, dapat tergambarkan tidak sedikit yang tadinya sudah muslim kembali murtad.

Namun diluar konteks historis, ada pesan dari Allah dalam surat Al Israa ayat 1, peristiwa Isra Mi'raj adalah ayat atau tanda-tanda untuk dikabarkan agar manusia bisa menemukan bukti kebesaran Allah dan Rasulnya. Maka ketika Nabi Muhammad oleh Ummu Hani diingatkan supaya hati-hati tidak menceritakannya pada orang Arab, Nabi Muhammad malah mengumumkannya kepada orang Mekah di Masjidil Haram, karena Allah memerintahkan untuk mengabarkannya. Tandanya bisa dilihat pada dua kata terakhir di surat Al Israa ayat 1.

Tanda-tanda berikutnya, kisah Isra Mi'raj dipandang dari geografi. Jarak dan Waktu Tempuh: Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) adalah sekitar 1.500 km. Secara geografis, perjalanan ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan (30-40 hari) menggunakan transportasi unta atau kuda.

Lompatan Ruang: Secara geografis, penyelesaian perjalanan ini dalam satu malam menghancurkan batasan fisik ruang yang diketahui masyarakat Arab saat itu, menjadikannya bukti kekuasaan transendental di atas hukum alam. Dapat dipahami jika masyarakat Arab yang sudah beriman pada saat itu terguncang, dan masyarakat Arab kafir bersorak sorai karena mereka memiliki bahan bukti untuk melecehkan Nabi Muhammad. 

Lompatan antar ruang dengan kecepatan tinggi, sangat tidak masuk nalar ketika zaman Nabi Muhammad. Tapi di era sekarang, perjalanan satu malam bisa ditempuh dengan pesawat terbang kecepatan tinggi. Perlu 1400 tahun memahami secara rasional tanda kebenaran empiris terjadinya peristiwa Isra Mi'raj.

Isra Mi'raj dikabarkan dalam Al Quran sebagai tanda-tanda, dapat dipahami kisah Isra Mi'raj sebagai sumber ide pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi penulis, Isra Mi'raj mengandung ide tentang kepemilikan manusia tentang teknologi tinggi yang bisa dikembangkan manusia di masa depan.  

Di internet beredar ide tentang Isra Mir'raj dengan kecepatan cahaya: Idenya mengaitkan kecepatan Buraq dengan kecepatan cahaya (speed of light), yaitu sekitar 300.000 km/detik. Pada zaman Nabi Muhammad, pemikiran orang saat itu belum sampai pada bukti-bukti rasional dipahami akal, maka disimpulkan sebagai mukjizat, namun sekarang konsep ini menjadi dasar teknologi serat optik dan komunikasi nirkabel.

Saat mendengar Nabi Isra dan Mi'raj semalam, orang Arab yang sudah muslim kembali murtad, dan orang kafir di Arab saat itu membully Nabi, karena dianggap mengarang dongeng yang tidak masuk akal. Sekarang, perjalanan itu dapat dipahami dengan sistem transportasi super cepat. Perjalanan Makkah-Yerusalem yang ditempuh dalam sekejap menginspirasi pemikiran tentang teknologi transportasi masa depan yang memangkas hambatan ruang-waktu.

Perjalanan Isra Mir'aj Nabi mengandung pesan untuk sebuah ilmu dalam fisika. Beberapa teori fisika menghubungkan perjalanan Isra Mi'raj dengan "Teori Anihilasi," di mana materi diubah menjadi energi untuk dapat berpindah dengan kecepatan tinggi dan kemudian disusun kembali menjadi materi di tempat tujuan. Pengiriman data melalui internet adalah bagian dari teori Anihilasi. Konsep ini merupakan dasar teoretis bagi teknologi teleportasi yang sedang diteliti dalam skala partikel subatomik.

Fleksibilitas Waktu: Terjadinya perjalanan luar biasa hanya dalam waktu semalam merupakan contoh nyata dari teori dilatasi waktu atau pemuluran waktu dalam Relativitas Khusus Einstein. Di mana bagi pelaku perjalanan dengan kecepatan sangat tinggi, waktu akan terasa jauh lebih lambat dibandingkan mereka yang diam di bumi.

Kisah Isra Mi'raj adalah sumber gagasan bagi manusia untuk terus menggali tanda-tanda dari Tuhan sebagai sumber ide dalam mengembangkan berbagai bidang kehidupan, untuk menemukan kebenaran Tuhan sebagai Sang Maha Mendengar dan Mengetahui.

Dari psikologi, bisa jadi kisah Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad diantara usia 51-52 bisa menjadi sebuah tanda perjalanan spiritual manusia yang harus mengalami peningkatan di usia 51-52 tahun. Hal ini ditandai dengan beban berat yang akan menimpa manusia di antar usia 51-52 tahun.

Banyak ilmu-ilmu dan teknologi tinggi dari inspirasi Al Quran yang bisa dikembangkan manusia. Al Quran adalah ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Semua orang bisa menemukan Tuhan dari berbagai sudut pandang ilmu dan teknologi. Keberadaan ilmu dan teknologi selain mempermudah kehidupan manusia, tujuan sebenarnya adalah menemukan kebenaran-kebenaran dari Tuhan Pencipta Semesta Alam. ***

Thursday, January 8, 2026

MUSUH PALING BERBAHAYA ADALAH MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

Banyak orang tidak sadar bahwa musuh yang paling berbahaya di muka bumi ini adalah manusia. Musuh berbahaya bagi manusia bukan makhluk-makhluk luar angkasa, binatang buas, atau makhluk-makhluk bermuka buruk. 

Godaan manusia yang paling berbahaya ada dua jenis. Dunia jenis godaan ini bersifat tersembunyi. Dua jenis godaan itu datang dari golongan manusia. Siapa dua manusia itu? Dua potensi godaan pada manusia itu ada di dalam diri manusia itu sendiri. 

Dua jenis godaan manusia tersembunyi dapat kita identifikasi dalam Al Quran yang berbicara tentang perintah Tuhan kepada manusia agar belindung kepada Tuhan yang memelihara manusia, Pengendali manusia, dan yang ditaati manusia dari kejahatan manusia.


Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (yang ditaati) manusia. (An Naas, 114:1-3).

Selanjutnya, Allah menjelaskan dalam konteks apa manusia belindung kepada Tuhan? Dilanjutkan dalam tiga ayat berikutnya:

dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia. (An Nass, 114:4-6).

Dalam konteks sains, dapat dipahami bahwa kejahatan tersembunyi berkaitan dengan penyakit mental. Di era informasi kejahatan tersembunyi datang melalui pikiran-pikiran buruk yang bisa membangkitkan naluri-naluri jahat yang bisa muncul dan potensinya ada pada sifat manusia. 

Sumber kejahatan tersembunyi ini datang dalam berbagai bentuk informasi yang diakses oleh panca indera manusia, kemudian masuk ke otak diproses dalam pikiran dan hati manusia dan menjadi bisikan-bisikan berulang yang memengaruhi cara berpikir. 

Salah satu bentuk konkrit permohonan manusia berlindung kepada Tuhan yaitu berkaitan dengan perintah Tuhan kepada manusia untuk membaca atas nama Tuhan. 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al 'Alaq, 96:1-2).

Perintah ini bermakna agar manusia selalu mengakses pengetahuan dari sumber yang diturunkan Allah kepada manusia berupa wahyu kepada para nabi. Di dalam Al Quran Allah menjelaskan:

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqaarah, 2:1-2).

Manusia dibekali dua potensi berpikir yaitu aktif dan pasif. Berpikir aktif manusia harus berusaha mengelola informasi yang masuk ke otak menjadi kebaikan. Pada situasi tertentu manusia bisa pasif dalam arti berserah diri pada ketentuan-ketenuan yang telah ditetapkan Allah di dalam wahyu. 

Permohonan perlindungan pada Allah dapat diartikan sebagai membangun kesadaran agar manusia tidak terbawa arus pada pemikiran-pemikiran buruk. Manusia harus bisa mengendalikan pikirannya dengan mengikuti petunjuk berpikir dari Allah.

Kejahatan tersembunyi yang datang dari jin dan manusia, dapat terkendali dengan cara manusia membangun kesadaran untuk mengendalikan pikirannya agar selalu aktif menjaga pikiran dan hatinya selalu baik.

Kesimpulannya, musuh paling berbahaya bagi manusia adalah manusia itu sendiri, yaitu manusia yang tidak bisa mengaktifkan pikiran-pikirannya kepada hal-hal baik dan manusia yang cenderung menjauh atau enggan membaca petunjuk-petunjuk dari Allah. Maka Al Quran harus menjadi bacaan utama untuk menggali berbagai rahasia yang ada pada diri manusia, agar rasa ketuhanan selalu hadir dalam pikiran dan hati manusia.***  


Friday, January 2, 2026

BELAJAR DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Muhammad Plato

Ada kisah manusia yang wajib diajarkan pada seluruh umat manusia. Informasi ini bisa ditemukan di dalam sebuah kisah anak Adam, dijelaskan dalam Al Quran. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (Al Maa'idah, 5:28).

"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan dosa ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim."  (Al Maa'idah, 5:29).

"Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi." (Al Maa'idah, 5:30).

"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al Maa'idah, 5:31). 

Kisah dua putra Adam ini bukan sekedar sosok fisik manusia. Dua kisah ini menggambarkan dua kekuatan yang dimiliki manusia. Dua putra Adam adalah dua sifat dalam diri manusia yaitu nafsu tak terkendali (fujur) dan terkendali (takwa). Dua sifat ini merupakan kodrat yang ada dalam diri Adam. Sebagaimana Allah mengabarkan dalam Al Quran.

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syam, 91:8). Berdasarkan makna dasarnya, fujur adalah potensi meluap dan melanggar batas. Takwa kemampuan mengerem, memelihara, menjaga taat pada ketentuan.

Kisah dua anak Adam adalah sebuah pergulatan psikologis di dalam setiap jiwa manusia. Di dalam diri manusia senantiasa ada dua kekuatan saling konflik. Jiwa perusak kadang melampui batas hingga berani melakukan pembunuhan. Jiwa pemelihara bersikap hati-hati hingga bersikap lemah dan pasrah pada keadaan. 

Ketika jiwa pemelihara terbunuh maka manusia menjadi pelaku kejahatan di muka bumi. Dari kejahatan yang dilakukannya manusia bisa kembali sadar dan menyesali perbuatannya dan berusaha menata kembali menghidupkan jiwa pemelihara.  

Dua anak Adam ini bergerak dinamis dari jiwa perusak ke pemelihara dari pemelihara ke perusak. Jiwa perusak bisa menghidupakan kembali jiwa pemelihara dengan cara mau menerima pengajaran dan belajar dari siapa saja dari seluruh makhluk.

Dalam kasus dua anak Adam dikisahkan jiwa perusak yang telah melakukan pembunuhan mendapat pengajaran dari Allah dari burung Gagak. Burung gagak adalah simbol dari kemampuan ilmu yang harus dimiliki oleh jiwa perusak jika ingin kembali sadar untuk mewujudkan keadaan damai bersama jiwa pemelihara.

Burung Gagak adalah simbol kompetensi yang harus dimiliki anak-anak Adam. Sebuah penelitian menemukan kemampuan intelektual burung Gagak. Dari hasil penelitian para ahli biologi dan neurosain, burung Gagak memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Mampu berpikir kompleks, mengingat kejadian spesifik di masa lalu dan merencanakan kebutuhan masa depan. Burung gagak memiliki kemampuan persepsi subjektif sebagai indikator kemampuan untuk membangun kesadaran.

Berdasarkan literasi dari berbagai sumber, Gagak dikenal "ahli pemecah masalah" di dunia hewan. Mereka tidak hanya menggunakan alat yang tersedia, tetapi juga memodifikasi alat (seperti membengkokkan kawat) untuk mencapai tujuan. 

Gagak memiliki struktur sosial yang sangat kuat. Mereka berbagi informasi tentang sumber makanan dan saling memperingatkan tentang adanya bahaya. Mereka pandai dalam membangun kerja berkolaborasi. 

Gagak tidak hanya belajar dari pengalaman pribadi, tetapi juga mengamati pengalaman gagak lain. Mereka memiliki ingatan jangka panjang yang luar biasa terhadap wajah-wajah yang pernah mengancam atau membantu mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa gagak mampu menunda keinginan sesaat (seperti tidak memakan makanan langsung) demi mendapatkan alat yang bisa memberikan makanan yang lebih besar di kemudian hari. Beberapa penelitian mengamati perilaku gagak yang "berduka" atau berkumpul di sekitar rekan mereka yang mati. Mereka juga dikenal sangat setia pada pasangannya (monogami).

Pesan penting dari dua kisah anak Adam adalah setiap anak adam memiliki sisi unggul dan lemah. Melalui burung Gagak manusia diingatkan untuk menjadi manusia pembelajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan teknologi, untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dari segala kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu. 

Untuk menjaga kehidupan damai, hidupkan kesadaran berkolaborasi, saling mengenal, untuk memecahkan berbagai masalah dengan tidak melupakan nilai-nilai moral, spiritual, yang diajarkan Tuhan.*** 





 


Friday, December 26, 2025

PENDIDIKAN FOKUS CETAK PEDAGANG, PENGUSAHA, DAN INVESTOR

Oleh: Muhammad Plato

Menurut Syafii Antonio, semasa hidupnya Nabi Muhammad lebih lama menjadi pengusaha dari pada menjadi nabi. Masa berdagang Nabi Muhammad antara 17 s.d. 37 tahun kurang lebih 25 tahun. Masa kerasulan 40 s.d. 63 tahun kurang lebih 23 tahun.

Selanjutnya beliau menjelaskan, pada usia 12-17 tahun mulai belajar berdagang (magang) mengikuti pamannya Abu Thalib ke luar negeri. Pada usia 17-25 tahun menjadi manajer bisnis dan investasi. Pada usia 25-37 tahun menjadi mitra bisnis sekaligus pengelola perdagangan milik Khadijah setelah menikah. 

Nabi Muhammad dijelaskan di dalam Al Quran sebagai contoh teladan bagi umat manusia. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al Ahzab, 33:21).

Dijelaskan jika ingin hidup sukses, Allah sudah menciptakan model sosok manusia yang layak untuk ditiru prilakunya. Kisah Nabi Muhammad masih terekam utuh di dalam Al Quran dan hadis, dan masih bisa dipelajari hingga sekarang. Kisah Nabi Muhammad dari sejak dalam kandungan hingga meninggal faktanya masih dapat dibuktikan hingga sekarang.

Jika umat Islam benar-benar ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad yang dijadikan oleh Allah sebagai contoh teladan, seharusnya sebagian besar umat Islam bekerja menjadi pedagang, pengusaha, dan investor. Menjadi pekerja tidak jadi prioritas tujuan hidup seorang muslim. Bekerja hanya dilakukan untuk belajar mencari pengalaman atau magang.

Kisah Nabi Muhammad bisa jadi inspirasi dalam pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah. Sejak TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB, murid-murid harus diajarkan bagaimana menjadi pedagang, pengelola bisnis, dan investor. Semua mata pelajaran diarahkan untuk membentuk mental-mental pedagang, pengusaha, dan investor. 

Kedudukan mata pelajaran tidak berdiri sendiri, tetapi sebagai alat untuk memberi penguatan pada murid-murid yang akan dibentuk menjadi pedagang, pengusaha, dan investor. Semua mata pelajaran bergerak bersama mengajarkan ilmunya secara kontekstual untuk membentuk pribadi seorang pedagang, pengusaha, dan investor. 

Pengajaran harus dilakukan secara mendalam melalui pemahaman, praktek, dan refleksi. Pendidikan-pendidikan muslim dengan model pesantren, boarding, dan full day, semua serampak membentuk pribadi-pribadi muslim sebagai pedagang, pengusaha, dan investor. 

Sejak usia 12 tahun murid-murid muslim diajarkan untuk berdagang. Murid-murid diberi keterampilan hidup melalui praktek langsung sesuai bakat dan minat murid-murid. Kemudian murid dilatih merancang sebuah bisnis dengan target penghasilan yang ditetapkan. Selanjutnya, ketika mendapat penghasilan murid dilatih untuk berivestasi di pasar modal. 

Dalam pengelolaan hasil keuntungan murid-murid dilatih untuk mengalokasikan keuntungan minimalnya pada tiga kategori, yaitu makan, sedekah, dan investasi. Karakter ini harus dibangun sejak dini untuk membentuk pribadi-pribadi unggul dan kompeten.

Gerakan ini harus terus dikembangkan menajadi sistem pendidikan terencana, terukur, dan terkontrol. Upaya ini semata-mata dilakukan untuk menciptakan kehidupan dunia lebih damai dan sejahtera sebagaimana prinsip ajaran Islam sebagai ramhat bagi seluruh makhluk. 

Di dalam pembelajaran praktek, murid-murid harus menerapkan etika dan moral yang harus dimiiliki seorang pedagang, pebisnis, dan investor. Etika dan moral dikembangkan dari nilai-nilai ketuhanan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh makhluk di muka bumi.*** 


Thursday, December 25, 2025

BERHAJI TANPA KE MEKAH

Oleh: Muhammad Plato

Berdasarkan informasi dari media massa pada tahun 2026, di Indonesia jika seseorang mau melaksanakan ibadah haji harus mengantri 26-24,4 tahun. Antrian cukup panjang dan belum tentu niat ibadah haji seseorang bisa terlaksana karena ajal siapa yang tahu.

Jika ingin ibadah haji cepat tanpa antrian, bisa mendaftar melalui program haji furoda. Resikonya harus mengeluarkan biaya lebih tinggi. Tahun 2026 biaya yang harus dikeluarkan kisaran 315 juta hingga 498 juta per jemaah.  

Mengapa antrian begitu panjang, dan kalau mau cepat mahal? Saya tidak akan membahas faktor teknis penyebab antrian panjang dan biaya mahal. Saya ajak pembaca kembali ke masalah spiritual. Membaca fenomena ini dari pesan keagamaan untuk penganut agama Islam.

Allah mendatangkan masalah agar manusia berpikir. Tujuan berpikir untuk memberi makna dan mencari solusi. Makna antrian ibadah haji, bisa jadi pesan pada umat Islam untuk memahami dan mendalami kembali kadar keislaman. 

Rukun Islam ada lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Jika kita berpikir rukun Islam sebuah tingkat keberagamaan seseorang maka ibadah haji adalah puncak spiritual seseorang. Untuk mencapai puncak spiritual tentu harus menempuh tingkat demi tingkat. Umpama kita berpendidikan tidak ujug-ujug langsung loncat ke-S1, tapi harus selesaikan dahulu tingkat pendidikan dibawahnya. 

Nah, antrian panjang bisa mengandung pesan. Sebelum berangkat ibadah haji perbaiki dulu pemahaman keberagamaan setingkat demi setingkat. Kemampuan haji bukan karena ada kemampuan uang, tapi harus dibarengi dengan kualitas keberagamaan secara mendalam. Berhaji tanpa dibarengi dengan pemahaman mendalam, takutnya ketika shalat di Baitullah seperti yang dikabarkan di dalam Al Quran. 

"Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu." (An Anfaal, 8:35).

Kekafiran bukan saja dialamatkan pada kelompok penyembah selain Allah, tapi pada orang-orang yang berpaling ketika ditegur oleh Allah. Ketika kita disuruh membaca, tapi kita tidak suka membaca prilaku ini bagian dari kekafiran pada perintah Allah. Ketika diperintah shalat lima waktu tapi tidak shalat ini bagian kekafiran, ketika diperintah sedekah tetapi kita kikir, maka itu bagian dari kekafiran pada perintah Allah.  

Idelanya mereka yang melaksanakan haji, sudah memiliki keimanan dan ketakwaan kokoh kepada Allah, ditandai dengan disiplin shalat bahkan berjamaah di masjid, plus dengan shalat sunah. Selanjutnya karakter calon jamaah haji sudah meenunjukkan sosok ahli sedekah, zakat, dan infak, dari harta terbaik yang dimilikinya. Para calon jamaah haji sudah punya karakter dermawan tidak takut kehilangan uang karena sedekah. Puasa sunah menjadi bagian dari rutinitas dalam keseharian.

Pesan selanjutnya mengapa antrian haji begitu lama? Bisa jadi peringatan dari Allah perbaiki dulu shalat dan sedekah mu. Ketika ibadah haji ratusan juta diupayakan, tapi mengapa nasib orang tua, fakir miskin, anak yatim, jompo, rumah korban banjir, sekolah rusak, gaji guru rendah, malah cenderung terabaikan. 

Mengeluarkan uang ratusan juta untuk bantuan-bantuan sosial memang tidak  ada gelar yang disematkan seperti gelar "H" setelah ibadah haji ke Mekah. Apakah para dermawan harus diberi gelar "D" agar punya prestise di mata masyarakat? Tapi kita yakin, dalam ibadah bukan gelar yang dikejar tetapi keridhaan Allah. 

Jika kita bandingkan ibadah sedekah, zakat, dengan haji, mana yang lebih berdampak bagi umat manusia? Ibadah haji memang lebih fokus urusan pribadi masing-masing. Sekalipun ratusan juta dikeluarkan. Dampak seseorang yang beribadah haji tidak langsung pada penerima sedekah seperti yang dijelaskan dalam Al Quran.

Bisa jadi antrian panjang adalah pesan kepada umat Islam, perbaiki ibadah sedekah mu, agar kesejahteraan merata kepada seluruh umat manusia. Perbaiki ibadah sedekah mu, agar Islam benar-benar terlihat menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.

Jangat takut untuk tidak bergelar haji, Nabi Muhammad memberikan alternatif bagaimana cara agar mendapat pahala haji, sekalipun belum punya kesempatan berangkat haji tapi bisa mendapat pahala haji. 

"Nabi Muhammad SAW bertanya: 'Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?' Orang itu menjawab: 'Ibunya masih hidup.' Nabi bersabda: 'Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah, dan berjihad'." (HR. Ath-Thabrani). 

Para calon haji, jangan terlantarkan orang tua, bahagiakan mereka, bersyukurlah kepada mereka, itulah sebaik-baiknya haji sekalipun membahagiakan orang tua tidak akan mendapat gelar "H".

"Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu melaksanakan shalat dua rakaat (shalat Isyraq/Dhuha awal), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi). 

Para calon haji, tingkatkan keimanan dengan bangun subuh tiap hari dan penuhilah masjid setiap subuh. Jaga dua rakaat shalat dhuha di awal maka mereka  akan mendapat pahala haji sekalipun tanpa gelar "H".

Antrian haji bisa jadi membawa pesan, mengapa orang-orang bergelar haji tambah banyak tetapi kepedulian sosial tidak mengalami peningkatakan. Jumlah jamaah shalat subuh di masjid tidak meningkat, kelaparan, dan rumah-rumah janda serta yatim piatu yang rapuh, tidak layak huni, tidak mendapat perhatian untuk mendapat pahala haji.

Sambil menunggu antrian, mari kita penuhi masjid setiap subuh, bahagiakan orang tua, beri makan fakir miskin, dan anak yatim, agar kita bisa berhaji setiap hari, dan semoga Allah mempermudah segala urusan haji kita.***  


Sunday, December 21, 2025

KEMANDIRIAN BERPIKIR

Oleh: Muhammad Plato

Di era informasi, kelebihan dan kekurangan sebuah pemikiran bisa terbuka, teridentifikasi dengan bantuan teknologi informasi. Semua orang bisa membuktikan tidak ada hasil pemikiran sempurna. Novi Basuki penulis buku Islam Di China Kini dan Dulu, mengatakan bahwa salah satu ukuran kebenaran pemikiran adalah mempraktekannya. Ketika sudah dipraktekan akan terlihat manfaat dan madharatnya. 

Di era semakin terbuka, sebuah masyarakat tidak lagi fanatik pada satu budaya dengan menolak budaya lain. Setiap budaya sudah sunatullah memiliki dua sisi, yaitu lebih dan kurang. Ego kelompok dalam mempertahankan pemikiran sudah tidak bisa jadi gaya hidup di era teknologi saat ini.

Di dalam beragama, bukan saatnya lagi memeprtahankan pemikiran dari madzab-madzab tertentu hanya karena ingin membela sebuah identitas pemikiran kelompok, sementara kita sudah tahu setiap pemikiran yang dianut sebuah kelompok pasti memiliki sisi kurang dan lebih. 

Saat ini berlaku peribahasa, "tidak ada lagi kucing hitam atau putih, asal bisa menagkap tikus itu yang dibutuhkan". Demikian juga dalam beragama, tidak ada lagi pemikiran kiri atau kanan, asal bisa menyelesaikan masalah menyelasaikan masalah umat, itulah yang dibutuhkan.

Pemikiran beragama bukan lagi dikondisikan oleh kepentingan kelompok, pemikiran beragama dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah kejahiliyahan, itulah yang dibutuhkan. Sumber agama bukan lagi berkiblat pada kelompok-kelompok pemikiran, tapi kepada sumber yang sudah dijamin kebenarannya yaitu kitab suci dan sunnah. 

Dalam beragama tidak ada lagi kendali dari lembaga-lembaga yang mengatasnamakan agama, tetapi kendali berdasarkan pada ajaran agama dari kitab suci yang diimani bersama. Keberagamaan tidak lagi dipandang sebagai kepatuhan pada kelompok aliran agama, tapi pada ajaran agama sebenarnya.

Setiap umat beragama punya kemandirian berpikir dalam beragama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Setiap umat beragama boleh memilih apa yang akan dilakukan berdasarkan ajaran agama agar dirinya terbebas dari dosa dan masalah-masalah dunia yang bisa menjerat dirinya ke jurang neraka. 

Era informasi telah menuntut semua orang bertindak berdasarkan penelitiannya sendiri karena ilmu pengetahuan agama sudah menjadi milik semua orang bukan seorang atau kelompok orang yang punya otoritas.

Di era teknologi informasi tidak ada lagi yang bisa mengaku sebagai paling ahli, karena setiap orang sudah bisa mengetahui kekurangan setiap orang. Setiap orang yang dipandang ahli, hanya paham pada sedikit bidang yang digeluti.

Para pakar saat ini adalah bukan mereka yang merasa lebih tahu, tetapi mereka yang punya rasa hormat pada pendapat setiap orang, karena sadar setiap orang hanya diberi sedikit tahu tentang sesuatu. 

Para pakar saat ini adalah mereka yang suka mendengar pendapat orang lain untuk berdiskusi mendapatkan pemahaman dan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapinya dari sudut pandang orang lain. 

Saat ini dituntut manusia-manusia mandiri dalam berpikir. Kemandirian dalam berpikir merupakan bukti bahwa seseorang punya kompetensi dan bisa berkolaborasi untuk memecahkan masalah kehidupan bersama-sama.

Buat apa kita mempertentangkan kelompok dan aliran beragama, kalau hidup kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dalam ajaran agama. Buat apa kita terus membangga-banggakan negara kaya dihadapan bangsa lain, pada faktanya hidup kita jauh lebih miskin dari bangsa lain.

Tidak peduli pemikiran barat atau timur, tidak peduli aliran kiri atau kanan, tidak peduli madzab ini madzab itu, yang penting bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat maka keputusan ada pada pribadi masing-masing. 

Manusia-manusia pembelajaran akan belajar terus untuk keluar dari masalah yang dihadapi. Manusia-manusia malas, dia akan terus mencari alasan untuk tidak berubah, padahal dirinya sedang ada dalam masalah.***


Sunday, December 14, 2025

APA SEBAB KEJATUHAN BANGSA?

Oleh: Muhammad Plato

Penyebab kejatuhan peradaban bukan karena serangan bangsa luar. Sebab kejatuhan peradaban akibat kemapanan dan kesenangan. Kehidupan nyaman membuat kehilangan daya juang untuk bertahan hidup. 

Dalam kisah jatuhnya kekuasaan Spanyol Islam, Alkhateeb (2016) menceritakan kondisi penduduk Andalusia merasa senang, terlena, dan tidak ingin meninggalkan kenyamanan hidup untuk mempertahankan Spanyol Islam. Kelesuan penduduk merambat ke pemerintahan. Pada saat itu konflik perebutan kekuasaan di antara keluarga umum terjadi.

Pada tahun 1009 Bani Umayyah jatuh, persatuan politik Andalusia tenggelam dalam lumpur perebutan kekuasaan dan perang sipil. Orang-orang Islam membayar orang kristen untuk menyerang dan melemahkan orang Islam. Dalam situasi mendorong tumbuhnya militer dan ekonomi Spanyol Kristen.


Paus Innocent II menyerukan perang salib pan-Eropa. Di bawah pimpinan Alponso VII dari Castile menyerang, mengakibatkan 100 ribu korban perang dari kubu muslim. Masjid agung berubah menjadi katedral Katolik dengan kapel raksasa di tengah bangunan.

Sejak berkuasa Spanyol Kristen, penduduk Spanyol yang tadinya mayoritas muslim dipaksa untuk masuk Kristen. Penduduk yang sukarela masuk kristen mendapat hadiah emas dan yang tidak mau, mereka mendapat pelecehan dan ancaman hukuman mati. 

Dari kisah sejarah, Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk belajar. Dosa adalah ketidaktaatan manusia pada prinsip-prinsip ketuhanan. Kekuasaan menjadi rebutan bukan sebagai tanggungjawab menuju kehidupan damai dan sejahtera.  "Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa." (An Naml, 27:69).

Ketika sebuah peradaban bangsa akan hancur, yang pertama Allah cabut adalah kenikmatan hidup. Salah satu bentuk kenikmatan hidup yang dicabut Allah dari sebuah bangsa adalah rasa persatuan. Faktor pertama sebuah bangsa bisa hidup tentram dan damai adalah rasa persatuan. Ketika nikmat rasa persatuan dicabut, maka kedamaian dan kesejahteraan akan hilang. 

Maka Allah memerintahkan untuk memegang teguh kepada umat manusia untuk tidak berpecah belah. Rasa persatuan yang ada dalam setiap hati manusia adalah nikmat yang diberikan Allah untuk sebuah bangsa. 

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara;..." (Ali Imran, 3:103).

Kekacauan dalam jangka waktu lama akan melahirkan kekuatan, dan kenyamanan dalam jangka waktu lama akan melahirkan kelemahan. Untuk mempertahankan kejayaan bangsa dibutuhkan pemimpin yang mampu menjaga persatuan. 

Lahirnya pemimpin yang bisa mempersatukan bisa dilihat dari cara suksesi kepemimpinan suatu bangsa. Pergantian pemimpin harus melalui musyawarah untuk menghasilkan mufakat. Selanjutnya kemampuan seorang pemimpin yang mempersatukan teruji dari kemampuannya dalam mensejahterakan masyarakat. 

Lahirnya pemimpin dari cara-cara kekerasan atau kudeta, tidak akan melahirkan rasa persatuan. Kepemimpinan yang lahir dari cara kekerasan atau kudeta, akan melahirkan pemberontakan tidak berkesudahan. 

Menjaga peradaban sebuah bangsa merupakan upaya para penguasa untuk tetap setia pada nilai-nilai ketuhanan. Ketika para pemimpin bangsa mengabaikan nilai-nilai ketuhanan, sedikit demi sedikit kejayaan bangsa akan terus turun menuju jurang kehancuran. 

Bukan serangan bangsa luar, bukan karena bencana alam sebuah peradaban hilang, tapi karena perilaku-perilaku pemimpin peradaban yang sudah tidak peduli pada tata nilai hidup dari Tuhan yang esa. Ketika dunia fana menjadi tujuan hidup para penguasa, maka rasa kemanusiaan dan kepedulian pada alam hilang seiring dengan hilangnya kejayaan sebuah peradaban.***  

Wednesday, December 10, 2025

KALAU BERDEBAT JANGAN MENCELA

Oleh: Muhammad Plato

Jika seorang pendebat mengemukakan celaan kepada lawan debat, tinggalkan perdebatan. Seorang pendebat yang mencela lawan debat akan mengundang kebencian dan bukan ilmu yang disampaikan, tapi permusuhan. Allah mengisyaratkan dalam Al Quran. "dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (An Nahl, 16:125).

Ciri dari orang berilmu jika berdebat tidak mencela. Ketika orang berilmu mencela pendapat orang lain, maka dia telah menjadi pemilik kebenaran sedangkan kebenaran bukan miliknya. Tugas orang berilmu adalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, untuk mengajak orang berpikir melakukan refleksi.

Syeh Abdul Qadir Al-Jailani membagi ilmu menjadi empat, yaitu syariat lahiriah berupa hukum-hukum, syariat batiniah disebut ilmu tarekat, tarekat batiniah disebut makrifat, dan batiniah batin disebut ilmu hakikat. Nabi Muhammad bersabda, "syariat bagaikan pohon, tarekat bagaikan cabangnya, makrifat bagaikan daunnya, dan hakikat adalah buahnya".


 
Menurut Al Jailani pada setiap tingkatan ilmu, ada hawa nafsu akan datang menggoda. Pada level syariat hawa nafsu menggoda mengajak melakukan sesuatu berlawanan dengan syariat. Pada level tarekat, hawa nafsu menggoda mengajak melakukan sesuatu sesuai syariat tetapi menipu, dengan mengaku nabi atau wali. Pada level makrifat nafsu mengganggu dengan berbuat syirik dengan mengaku tuhan.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, (Al Jaatsiyah, 45:23).

Al Jailani mengatakan, pada level hakikat setan, nafsu, malaikat, tidak dapat masuk, karena selain Allah semua makhluk akan terbakar. Pada level hakikat nafsunya sudah mendapat rahmat dari Allah.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf, 12:53). 

Musuh terbesar dari orang-orang berilmu adalah hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda, "musuh mu yang paling berbahaya ialah hawa nafsu mu yang berada di antara kedua lambung mu". Musuh itu ada dalam wujud diri seperti nafsu amarah (jiwa tiranik), Nafsu lawamah (jiwa mencela diri sendiri), dan nafsu mulhamah (jiwa yang terilhami).  

Jiwa-jiwa terilhami menjadikan Al Quran sebagai pedoman dalam setiap langkah. Jiwa terilhami mereka tetap menjadi manusia dan menyatakan dirinya sebatas menyampaikan kebenaran dari Allah yang telah disampaikan kepada Rasulnya.

Orang yang sudah mencapai ilmu hakikat, semua ucapannya kebaikan bagi diri dan yang mendengarnya. Mereka lebih banyak sadar tentang dosa-dosa batin yang dilakukannya. Sehingga Rasulullah mencontohkannya dengan beristigfar setiap hari 100 kali. Sebagaimana Allah berfirman, "mohon ampunlah atas dosamu." (Muhammad, 47:19).

Buah dari Ilmu adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw, "berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah". Manusia yang sudah bekahlak dengan akhlak Allah, sifat-sifatnya mengikuti sifat Allah. Allah berfirman dalam hadis Qudsi, "jika Aku telah mencintai hamba, Aku akan menjadi pendengarannya, penglihatannya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Maka dengan Ku dia mendengar, dengan Ku dia melihat, dengan Ku dia berbicara, dengan Ku dia marah, dan dengan Ku dia berjalan.".

Mencela bukan sifat dari manusia berilmu, karena manusia bukan Tuhan. Manusia berilmu berakhlak dengan akhlah Allah, dan Allah dikenal dengan sifat-sifat baik. Maka seluruh pekataan yang keluar dari mulut orang berilmu mengandung kebaikan dari Allah.*** 

Sunday, November 30, 2025

BENCANA DARI ALLAH ATAU ULAH MANUSIA?

Oleh: Muhammad Plato

Bencana adalah musibah bagi umat manusia. Pertanyaannya apakah musibah dari Allah atau akibat dari ulah manusia? Jika kita kaji kabar dari Al Quran, ada dua sudut pandang diajarkan Allah pada manusia. 

Dua sudut pandang ini sekaligus mengajarkan gaya komunikasi antar sesama manusia agar manusia tidak saling berburuk sangka, dan saling menyalahkan antar sesama.

Sudut pandang pertama, ketika melihat musibah berupa bencana alam menimpa orang lain, maka kita harus mengatakan bahwa bencana sesungguhnya datang dari sisi Allah. Tidak boleh kita mengatakan bencana alam yang menimpa saudara kita datang dari mereka yang ditimpa bencana.

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?" (An Nisaa, 4:78).

Dalam sudut pandang pertama, Allah mengajarkan bahwa sesuatu yang menimpa orang lain hanya Allah yang tahu penyebabnya. Ketika kita mengatakan bencana yang terjadi akibat dari kesalahan mereka yang ditimpa bencana, maka kita telah berprasangka buruk pada orang lain.

Berprasangka buruk pada orang lain sangat dilarang oleh Allah. Jika suatu kejadian menimpa orang lain, kita tidak tahu secara pasti penyebabnya maka segala sebab kejadian harus dikembalikan kepada yang maha tahu yaitu Allah swt. Kita tidak boleh menghakimi apa yang terjadi pada orang lain, karena kita tidak tahu pasti apa penyebabnya.

Gaya komunikasi pada sudut pandang pertama Allah menjaga orang-orang berakal tetap menjaga sudut pandangnya tidak buruk. Inilah gaya komunikasi santun, membawa kedamaian, dan tidak akan terjebak perpecahan karena saling salah menyalahkan antar sesama karena terjadi musibah.

Dalam sudut pandang kedua, Allah mengajarkan gaya komunikasi pada kaum yang ditimpa musibah bencana. Musibah bencana yang terjadi pada diri mereka pasti mereka sendiri yang tahu penyebabnya, karena mereka sendiri yang mengalaminya. Gaya komunikasi ini, Allah ajarkan kepada Rasullullah sebagai teladan untuk seluruh umat manusia.

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi." (An Nisaa, 91:79).

Allah mengajarkan kepada mereka yang tertimpa musibah bencana, untuk tidak mengatakan bencana datang dari sisi Allah. Mereka yang ditimpa bencana harus melakukan refleksi diri sehingga mereka tahu apa sebab-sebab terjadinya musibah bencana. 

Sudut pandang ini berkaitan dengan ayat Al Quran yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dari dua sifat yaitu buruk dan baik. Atas dasar itu, keburukan hakikatnya melekat pada diri setiap manusia. 

"dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syams, 91:7-8).

Maka ketika sebuah kaum tertimpa bencana, semangat kebersamaan harus tetap terjalin dengan tidak saling berburuk sangka, tetapi sebagai kaum yang beriman kepada Tuhan mereka harus bahu membahu memperbaiki diri. Sebagaimana Allah ajarkan bahwa perubahan ke arah lebih baik tidak akan terjadi tanpa perubahan dari kaum itu sendiri.

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar Ra'd, 13:11).

Begitulah Allah mengajarkan pada orang-orang berakal dalam menyikapi sebuah musibah bencana. Sungguh Allah maha benar dengan segala firmannya.***

    

Wednesday, November 19, 2025

BULLYING HARAM

Oleh Muhammad Plato

Kasus perundungan yang terjadi di sekolah sebuah ironi yang tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan. Agama Islam sejak 1400 tahun yang lalu sudah mengajarkan kepada manusia dilarang melakukan bullying (perundungan). 

Perundungan bagian dari perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Allah melarang keras bagi orang-orang beriman melakukan perundungan. Larangan melakukan perundungan terang berderang dijelaskan di dalam Al Quran. 

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (Al Hujuraat, 49:11).

Dalam ajaran Islam orang-orang yang melakukan perundungan dipastikan sebagai orang-orang berprilaku paling buruk. Orang-orang yang melakukan perundungan dikategorikan sebagai orang-orang yang berbuat dzalim. Kata dzalim dalam perbuatan melanggar hak Allah, dalam makna luas diartikan sebagai perbuatan kejam, bengis atau sewenang-wenang. 

Dalam ajaran Islam orang-orang yang melakukan perundungan dipastikan mereka sedang mencela dirinya sendiri. Setiap celaan, cemoohan, yang diberikan pada orang lain sesungguhnya cemoohan dan celaan akan jadi miliknya sendiri. 

Logika keburukan berbalas keburukan dan kebaikan berbalas kebaikan dapat dipahami dalam penjelasan Al Quran. Hukum ini harus dipahami bagi orang-orang beriman. 

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Al Israa', 17:7).

Pikiran orang-orang beriman berdasar ajaran Islam selalu memandang semua kejadian dan ciptaan Tuhan sebagai kebaikan. Manusia telah diciptakan Tuhan dengan rupa terbaik. Manusia diciptakan dari citranya Tuhan. Manusia-manusia beriman memandang manusia bukan dari fisik tapi sebagai representasi citra Tuhan yang maha sempurna.  

Melakukan perundungan pada makhluk Tuhan sama dengan melakukan perundungan pada citra Tuhan. Perundungan menjadi perbuatan orang-orang tidak beriman. Ketika orang-orang beriman melakukan perundungan maka hukuman dua kali lipat, satu mengingkari perintah Tuhan dan menghina ciptaan Tuhan.

Bagaimanapun rupa fisik manusia atau makhluk dia diciptakan Tuhan sempurna. Maka Allah membimbing pikiran orang-orang beriman untuk selalu berprasangka baik pada segala ciptaan Tuhan. Pikiran orang-orang beriman dibimbing Allah melalui Al Quran.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat, 49:12).

Pelaku perundungan adalah orang yang fokus pada padangan matanya secara fisik dengan mencari-cari sisi buruk. Pikirannya dipenuhi dengan sudut pandang buruk. Allah mengibaratkan mereka sebagai manusia pemakai bangkai yang menjijikan.

Orang Indonesia dengan populasi penduduk paling banyak percaya pada Tuhan, dengan dasar ideologi ketuhanan yang maha esa, haram melakukan perundungan kepada sesama makhluk Tuhan. Perundungan adalah prilaku paling rendah karena hakikatnya telah merendahkan ciptaan Tuhan yang sempurna.*** 



Tuesday, November 11, 2025

AL QURAN PEMERSATU PIKIRAN

Oleh: Muhammad Plato

Al Quran bukan untuk barat atau timur. Al Quran petunjuk untuk seluruh umat manusia. Al Quran pemersatu mengajak kepada manusia untuk beriman kepada satu Tuhan Maha Esa, dan beramal baik menjaga kesucian langit dan bumi serta saling membantu antara sesama.

Al Quran pemersatu pikiran antara barat dan timur. Berpikir mengikuti petunjuk Al Quran, mengikuti syariat yang diajarkan dalam Al Quran. Berpikir mengikuti petunjuk Al Quran berpikir berserah diri kepada Tuhan, mengikuti petunjuk dari Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad. 

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, ..." (Al Baqarah, 2:177).

Jangan membuat konflik antara barat dan timur, dua-duanya milik Allah. Manusia di barat dan timur dua-duanya diciptakan Allah dengan memiliki dua sifat yaitu fujur dan takwa. Sifat manusia punya kelebihan dan kekurangan. Di dalam Al Quran, Allah memandang manusia dari karakternya. 

Manusia jahat ada di barat dan ada di timur. Sebaliknya manusia baik ada di barat dan ada di timut. Kelebihan dan kekurangan manusia di barat dan timur, menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling kenal dan tolong menolong, saling mencukupi kekurangan.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat, 49:13).

Siapapun orangnya jika mempelajari Al Quran, akan jadi manusia-manusia pemersatu bukan pemecah belah. Para pemecah belah, pemberontak, dia telah membawa pikirannya sendiri, karena Allah tidak memerintahkan manusia berpecah belah. 

Berpikir berserah diri tidak mengikuti hawa nafsu untuk membenarkan pendapat pribadi tetapi mengikuti logika sebab akibat yang dijelaskan di dalam Al Quran. Sekalipun orang berpendapat berdasar kepada Al Quran, orang tidak bisa memaksakan pendapat pada orang lain, atau mengklaim dirinya pemilik kebenaran. 

Pendapat pribadi adalah milik pribadi. Kebenaran terletak pada data dan pemilik data adalah Allah. Setiap orang bisa berdebat tentang kebenaran, tetapi masing-masing berdebat bukan untuk saling mengklaim sebagai pemilik kebenaran tetapi untuk saling bertukar argumen. Pembenaran jadi milik pribadi masing-masing melalui proses refleksi setelah beradu argumen.

Perdebatan bertujuan menguji penalaran dan kesehatan akal. Kesehatan akal ketika para pendebat tidak sedang menjadi pemilik kebenaran. Tidak ada emosi dalam debat karena debat menggunakan nalar bukan emosi. 

Jika perdebatan menggunakan emosi cenderung menggunakan amarah, dan amarah melahirkan kesombongan, hujatan, lecehan, dan kedengkian. Perdebatan yang dilandasi kesombongan dan kedengkian bukan perdebatan sehat karena dilandasi sifat setan. 

Orang-orang yang berpikir berlandaskan Al Quran, hanya bertugas menyampaikan kebenaran apa yang telah Allah jelaskan dalam Al Quran. Diterima atau tidaknya kebenaran oleh orang bukan urusannya, karena diterima tidak diterima kebenaran oleh seseorang hak Allah sang pemberi kebenaran kepada siapa saja yang Dia kehendaki.***

Tuesday, October 28, 2025

KARAKTER MANUSIA SEJAHTERA DI DUNIA DAN AKHIRAT

Oleh: Muhammad Plato

Ciri dari orang-orang beriman dia memiliki cita-cita dunia dan akhirat. Pola pikir ini dimiliki oleh orang yang percaya kepada Tuhan. Orang tidak percaya Tuhan, tidak ada pola pikir ini dalam otaknya. 

Allah tidak mencatat pola pikir buruk sebagai perbuatan buruk, namun Allah menganjurkan untuk selalu berpola pikir baik, karena setiap pola pikir baik akan dicatat sebagai satu kebaikan, dan bila dilaksanakannya Allah akan mentatkan kebaikannya tujuh ratus kali lipat dan kelipatannya.

Pola pikir baik salah satunya adalah selalu berharap pada kebaikan di dunia dan di akhirat. Orang-orang beriman pola pikirnya tidak memisahkan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia dan akhirat satu kesatuan tidak terpisah seperti tarik dan buang nafas.

Harapan pada dunia dan akhirat harus jadi pola pikir pada setiap tindakan yang dilakukan. Apapun tindakan yang dilakukan harus mengandung harapan baik di dunia dan akhirat. Pola pikir ini pedomannya Al Quran. 

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran, 3:145).

Dari pola pikir selalu berharap dunia dan akhirat akan lahir manusia-manusia berkarakter unggul. Pola pikir berharap dunia dan akhirat, membuat orang mampu bertahan dalam kondisi sulit. Inilah penyebab mengapa rakyat Palestina bisa bertahan melawan penjajah sekalipun puluhan ribu nyawa telah hilang. 

Orang yang pula pola pikir berharap kebaikan di dunia dan akhirat, karkternya dikabarkan di dalam Al Quran. Mereka menjadi manusia yang tidak lemah, tidak lesu, dan tidak akan menyerah, karena mereka telah memiliki karakter orang-orang sabar, karena mampu bertahan dalam kondisi sulit.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran, 3:146).

Mereka memotivasi diri dengan kalimat-kalimat Allah dalam Al Quran. Mereka berpegang teguh pada apa yang telah Allah kabarkan dalam Al Quran. Manusia-manusia yang berharap dunia dan akhirat tidak akan terkalahkan. 

"Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (Ali Imran, 3: 147).

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali Imran, 3:148).

Maka orang-orang yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, yaitu mereka yang bersyukur, bertakwa, bersabar, dan selalu berbuat kebaikan. Inilah orang-orang yang dicintai dan kekasih Allah. Inilah karakter manusia yang dijanjikan kehidupan sejahtera di dunia dan akhirat.

Jadi, orang takwa dia selalu ada dalam kondisi berbuat kebaikan. Orang bersyukur mereka selalu berharap kebaikan dunia dan akhirat. Orang sabar, dia tidak pernah merasa lemah, lesu, dan pantang menyerah.  

Jadi gabungan dari karakter takwa, syukur, dan sabar, menjadi jaminan bagi siapa saja akan mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Inilah karakter agung manusia-manusia yang dikabarkan Allah di dalam Al Quran. Semoga Allah memberi pahaman mendalam pada kita semua. Wallahu'alam.***

Sunday, October 26, 2025

TANGGA ILMU MENJADI PEMIMPIN

Oleh: Muhammad Plato

Allah menjadikan seluruh manusia sebagai Adam. Manusia yang dijadikan Adam oleh Allah adalah pemimpin yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Setiap manusia diberi kemampuan memimpin, maka dari itu semua manusia adalah Adam yang punya kemampuan sebagai khalifah. 

Adam adalah kompetensi kepemimpinan yang dimiliki setiap manusia. Misi hidup manusia adalah menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang adil.

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (An Naml, 27:62).

Manusia sebagai khalifah merupakan makhluk berkualitas tinggi yang diciptakan Allah. Puncak keberhasilan manusia kualitas tinggi adalah manusia berhasil menjaga kualitas kepemimpinannya sebagai manusia. 

Dimensi kepemimpinan manusia terbagi menjadi dua yaitu kepemimpinan atas diri sendiri, dan kepemimpinan untuk mengelola manusia-manusia lain. Maka dari itu manusia-manusia yang bisa menjadi pemimpin bagi manusia lain, dikategorikan manusia-manusia kualitas tinggi.

Di dalam Al Quran, manusia-manusia kualitas tinggi memiliki kelebihan harus memiliki kemampuan sebagai Ulil Abshar, Ulil Albab, Ulil Azmi, dan Ulil Amri. Empat kepemilikan ilmu ini secara berurutan menjadi tanggap kompetensi yang harus dipelajari oleh setiap orang untuk menjadi seorang pemimpin adil. Empat tangga tersebut disusun sebagai berikut:

Tangga Pertama, Ulil Absar. 

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu. Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Ali Imran, 3:13)

Pada tahap pertama, pemimpin berkualitas tinggi harus memiliki pengalaman panjang dalam memahami berbagai fenomena kehidupan alam dan manusia. Dasar kepemimpinan adalah memiliki kemampuan meneliti, mengalami sendiri, menemukan hukum-hukum yang berlaku dalam kehidupan. Ulil Absar adalah peneliti ulung yang sangat berpengalaman.

Pemimpin berkualitas tinggi memiliki pengetahuan empiris tentang bagaimana kebenaran-kebenaran selalu menjadi penyebab keberhasilan setiap orang dalam memimpin. Pada tangga ini kemampuan pemimpin dilatih untuk melihat kualitas bukan kuantitas, sebab kualitas selalu mengalahkan kuantitas.

Hukum kausalitas di alam dipahami bukan sebatas hukum alam berdasar penghlihatan mata, tetapi dilihat dari kebenaran-kebenaran bersumber dari ketuhanan. Membaca alam atas nama Tuhan Semesta Alam. Inilah kemampuan pemimpin tingkat pertama.

Tangga Kedua, Ulil Albab.

Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:269).

Di tangga kedua, pemimpin berkualitas tinggi memiliki kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, imajinasi, adalah kompetensi wajib dimiliki seorang pemimpin. Pada tangga ilmu kedua, para pemimpin sudah seperti layaknya filsuf. Para pemimpin punya kompetensi sebagai ahli pikir sehat dan lurus.

Para pemimpin ahli pikir tidak akan tertipu dengan pandangan mata, kebenaran dicerna dengan akal sehingga tidak akan mudah menghukum dan menghakimi orang. Pada tahap ini pemimpin sudah menjadi hakim yang adil bagi dirinya dan orang lain. Cara berpikir pemimpin berkualitas tinggi, berpikir bukan dengan nalar material atau nalar nafsu, tapi berpikir menggunakan nalar murni dari petunjuk Tuhan Semesta Alam.

Tangga Ketiga, Ulil Azmi

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al Ahqaf, 46:35).

Pada tangga ini, pemimpin berkualitas tinggi sudah punya keteguhan hati seperti para rasul. Kulitas pemimpin dilihat dari kesabaran dalam menghadapi segala ujian. Kesabaran menjaga dan melaksanakan prinsip-prinsip kebenaran di jalan Tuhan Semesta Alam. 

Kualitas pemimpin ditahap ini, punya kemampuan bertahan dalam kondisi sulit yang sudah teruji. Mereka mampu bertahan dalam kondisi ekstrim untuk menjaga prinsip-prinsip kebenaran tetap dipegang. Prinsip-prinsip kebenaran yang dimilikinya dari pengamatan, pengalaman, dan pemikiran, menjadi keteguhan hati untuk memperjuangkan dan mempertahankannya hingga akhir hayat.

Tangga Keempat, Ulil Amri.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An Nisa, 4:59).

Setelah melalui tiga tahap keilmuan, pada tahap ini manusia menjadi pemimpin sejati mengikuti jejak langkah para rasul dalam memimpin. Ulim Amri adalah para pemimpin diantara para pemimpin. Manusia pemimpin berkualitas tinggi  misinya melanjutkan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan para rasul. 

Setiap manusia harus berusaha, diberi pendidikan untuk menjadi ulil amri, minimal ulil amri untuk dirinya. Maka di antara ulil amri harus ada manusia terpilih untuk menjadi pemimpin di antara manusia lain. Misi ulil amri melanjutkan misi para rasul membwa manusia pada kehidupan damai dan sejahtera di dunia dan kehidupan akhirat. 

Nabi Muhammad dinobatkan sebagai tokoh pemimpin paling berpengaruh di dunia. Nabi Muhammad menjadi contoh bagi seluruh umat manusia. Nabi Muhammad semasa hidupnya telah berhasil mewujudkan misinya membawa manusia pada kehidupan damai dan sejahtera di muka bumi.

Ulim amri adalah manusia berkualitas tinggi, manusia yang bukan hanya bisa mimpin dirinya tapi bisa memimpin manusia lain ke jalan yang benar. Pemimpin berkualitas tinggi harus sudah memiliki pemahaman mendalam tentang hukum-hukum kehidupan, dan memiliki pola pikir yang dipandu dan dikendalikan oleh Tuhan Semesta Alam, serta punya tekad yang teguh untuk menjaga dan mengajarkannya kepada seluruh umat manusia. 

Pola pikir ulil amri tidak menggunakan pola pikir hawa nafsunya, melainkan pola pikir yang dipandu oleh logika Tuhan Yang Esa bersumber pada kitab suci Al Quran. Wallahu'alam.***