Saturday, June 24, 2017

PENTING MANA NIAT ATAU AMAL?


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Penting mana niat atau amal? Pertanyaan ini saya lemparkan kepada kawan-kawan seperjuangan untuk mengajak berpikir dengan tertib dan teratur sesuai kehendak Tuhan. Jawaban dari pertanyaan ini ternyata beragam. Ada yang mengatakan amal lebih penting karena niat tanpa amal tidak akan berarti apa apa. Ada yang mengatakan dua-duanya penting, karena niat dan amal bagaikan dua sisi dari mata uang. Ada juga yang pilih niat, karena tidak ada amal tanpa niat. Begitulah tiga jawaban dari pertanyaan yang saya lemparkan di media sosial.

Ketika saya konfirmasi, apa dasar berpikir (dalil, teori) yang mendukung pendapat Anda? Jawabannya ada yang mengemukakan sebatas pandangan pribadi, ada juga yang memerintahkan kembali kepada saya untuk mencari dalam hadis dan kitab kuning. Dari jawaban-jawaban ini, saya menilai bahwa keberagamaan kawan-kawan kita masih lemah, karena belum punya pola pikir yang kuat. Gaya beragama seperti ini sangat rentan dan perlu pembelajaran.

Alhamdulilah dari peserta diskusi dalam media sosial ada yang menjawab dengan memposting hadis dan ayat suci Al-Qur’an lengkap dengan pendapat ahli tafsirnya. “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi.” (HR. Bukhari).

Dari postingan hadis ini, mereka bisa menyimpulkan niat lebih penting dibanding dengan amal, karena tidak ada amal tanpa niat yang benar. Saya berpikir dengan kesimpulan ini semua peserta diskusi di media sosial sudah paham.

Namun muncul komentar berikutnya, “Islam agama praktek bukan agama teori”. Rupanya masih terjadi perbedaan persepsi. Komentar selanjutnya, “niat saja untuk berbuat baik sudah dapat kebaikan tetapi nilainya rendah”.

Baiklah, dalam diskusi ini sebenarnya saya ingin mengajak kepada para pemeluk agama (untuk belajar berpikir baku dan benar. Berpikir pada dasarnya adalah mencari sebab dan mencari akibat. Setiap pendapat manusia tidak lepas dari berbicara sebab dan akibat. SEBAB selalu ada di awal dan AKIBAT selalu ada di akhir.

NIAT BAIK DAN BURUK BISA TERCERMIN DALAM PERKATAAN, KARENA PERKATAAN MEWAKILI NIAT. 
Patokan berpikir baku, sebab yang ada di awal adalah Allah, dan akibat yang ada di akhir adalah Allah. Allah menjadi pembatas kemampuan berpikir manusia. Selama manusia masih mampu memahami dengan akalnya silahkan lakukan, dan pasti akan menemukan ketidaktahuan yang pada saat itu manusia akan menemukan Allah Yang Maha Tahu.

Dalam berpendapat kita harus menempatkan argumen, fakta, teori, dalil, sebab sebagai awalan dalam mengemukakan pendapat, dan mendudukan pendapat (akibat) dengan jelas memiliki hubungan langsung dengan sebab. Dalam kasus niat dan amal, saya sebenarnya mengajak kepada kawan-kawan untuk menentukan mana sebab dan mana akibat. Dalam segala hal untuk menentukan mana awal atau sebab, kita harus merujuk kepada dalil, teori, yang menjadi landasan berpikir yang kuat.

Ketika kita mengatakan amal lebih penting dasarnya apa? Demikian sebaliknya ketika mengatakan niat lebih penting apa dasarnya? Dari diskusi di media sosial saya analisis cara-cara berpikir kawan-kawan ada yang kuat dan lemah.

Pertanyaan : Mana yang lebih penting niat atau amal?

Pemikir
Jawaban (Akibat)
Alasan (Sebab)
Keterangan
1
Amal pak,
kalo hanya niat saja tidak cukup
Lemah
2
Niat pak
Karena satu niat yang baik sudah bernilai amal
lemah
3
Dua-duanya sama penting
Silahkan cari di hadis dan kitab kuning
lemah
4
Niat pak
Segala sesuatu haru dibarengi niat. “Amal tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai niatnya”. (Hadis)
Kuat
5
Amal
Niat bisa berubah tergantung situasi dan kondisi
Lemah
6
Niat pak
“Dan tiadalah mereka (manusia) diperintah kecuali untuk beribadah menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya semata-mata untuk-Nya. (Al-Bayinah, 5). Qurtubi berpendapat ayat ini menjadi dalil yang bahwa niat itu wajib dilakukan dalam sekalian ibadat, karena ikhlas itu merupakan pekerjaan hati, yaitu sengaja bahwa semua itu dikerjakan semata-mata karena Allah tidak karena yang lain (Qurthubi, Juz XX hal : 144).
Kuat
7
Islam agama praktek bukan teori
Orang yang mengajarkan satu ayat pahala jauh lebh besar dari pahala orang yang sholat sunat 1000 rakaat
Lemah

Dari hasil analisis di atas, kita dapat melihat mana yang pendapatnya kuat dan lemah. Dalam hal ini saya ingin mengajak kepada kawan-kawan untuk mengenal cara berpikir yang benar.

Setiap pendapat adalah produk pikiran. Hasil pemikiran kita berkualitas jika kita punya dasar pemikiran. Dasar pemikiran tersebut adalah teori atau dalil yang diakui kebenarannya. Pemikir yang mengatakan niat lebih penting disebabkan pada keterangan hadis dan Al-Qur’an, itulah cara berpikir yang memenuhi kaidah, sehingga pendapatnya kuat. Pemikir yang tidak mengeluarkan teori, dalil, dianggap pendapatnya lemah, tidak berkualitas, dan pemikir itu dianggap kurang pengetahuan.

Setelah berpendapat memenuhi kaidah pola berpikir, masalah benar tidaknya pendapat bisa dibantu dengan penjelasan rasional selanjutnya, jika tidak bisa, terjadi perbedaan, maka harus dikembalikan kepada pemilik kebenaran. Diskusi semacam ini akan mencerdaskan umat, menambah pengetahuan, dan mengajak kepada semua untuk berpikir mencari terus kebenaran, dan saling menghargai perbedaan pendapat. Penghargaan terhadap suatu pendapat akan dihargai bukan melihat orang, tapi penghargaan terhadap sebab teori atau dalil yang dimiliki seseorang. 

Berdasarkan keterangan hadis dan Al-Qur’an di atas, saya beri kesimpulan bahwa niat harus mengawali setiap perbuatan. Tanpa niat, tidak akan ada amal, dan niat sendiri adalah amal. Niat baik jika tidak dikerjakan tercatat satu kebaikan, niat buruk jika belum dikerjakan tidak ada keburukan. Inilah kemurahan Tuhan yang akan mengadili niat setiap manusia dengan adil.

Berdasarkan pemahaman di atas, kita dapat memahami betapa pentingnya memelihara niat. Ranah niat ada di dalam hati dan pikiran, maka urusan niat adalah urusan pengetahuan seseorang. Untuk itulah kita sebagai umat beragama sangat membutuhkan pengetahuan tentang kebenaran, agar niat kita beramal tidak salah dan tidak hanya ikut-ikutan.

“Janganlah kamu menjadi orang yang "ikut-ikutan" dengan mengatakan "Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim". Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas, merupakan gambaran kualitas manusia yang memiliki pola pikir benar dan mengetahui kebenaran. Mustahil ada amal tanpa niat. Jangan lupa berniat sebelum beramal! Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment