Saturday, April 6, 2013

NABI MUHAMMAD SAW MAHA GURU LOGIKA TUHAN (1)


Bagi kaum muslimin, ada dua sumber hukum yang dijadikan rujukan beragama. Pertama adalah Al-Quranul karim. Kedua Al Hadis berisi pemikiran, perkataan, yang mencerminkan segala prilaku Nabi Muhammad saw. Kaum muslimin meyakini 100% bahwa kedua sumber hukum tersebut saling menjelaskan. Namun kedudukan Al-Qur’an menjadi sumber utama dan Al Hadis menjelaskan lebih praktis tentang kandungan Al-Qur’an. Bahkan umat Islam yakin bahwa tafsir Al Qur’an yang paling mendekati kebenaran adalah tafsir yang menggunakan hadis-hadis Nabi Muhammad saw.

Jika di cermati dengan seksama tidak ada manusia cerdas seperti Rasulullah saw. Bahkan penulis berani berpendapat Nabi Muhammad adalah manusia paling cerdas di muka bumi ini. Dibanding dengan siapa pun IQ Nabi Muhammad saw adalah yang terbaik dan pasti memiliki skor paling tinggi. Untuk itu, Beliau mampu mengaplikasikan logika Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ke dalam bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh umat manusia.

Coba cermati dari beberapa contoh hadis Nabi Muhammad saw, di dalamnnya mengandung logika Tuhan yang bersumber dari Al-Qur’an. Perhatikan beberapa hadis Nabi Muhammad saw di bawah ini;

Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya... (HR. Muslim)

Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya. (HR. Bukhari).

Janganlah kamu menjadi orang yang "ikut-ikutan" dengan mengatakan "Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim". Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi)

Ketiga hadis di atas mengandung logika dari Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dasar logikanya adalah jika berbuat kebaikan maka akan berbalas kebaikan dan jika berbuat kejahatan maka akan berbalas kejahatan. Sumber logika yang digunakan dalam hadis di atas terdapat dalam Al-Qur’an sebagai berikut;

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,... (Al Israa:7)

Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al Qashash:84)

Maka, bersumber dari logika dari Tuhan (Al-Qur’an) di atas, bunyi hadis Nabi Muhammad saw dapat dipahami secara logis. Konstruksi logisnya bisa kita pahami sebagai berikut;

Jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), maka;

barangsiapa melapangkan kesusahan, kesempitan seorang mukmin di dunia (KEBAIKAN)...
maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan (KEBAIKAN)... (HR. Muslim).

Anda saksikan, kontrsuksi bunyi hadis yang dikemukan Nabi Muhammad saw, mengikuti konstruksi logika yang terdapat dalam Al-Qur’an.  

Kontruksi hadis berikutnya, jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), maka

orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan (KEBAIKAN)
sama pahalanya seperti orang yang melakukannya (KEBAIKAN) (HR. Bukhari).

Konstruksi hadis berikutnya, jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), Maka,

...teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula  dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi)

Mengapa Nabi Muhammad saw, mengajarkan agar kita berprinsip tetap baik ketika orang lain berbuat kejahatan? Karena logikanya sudah jelas bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan untuk kebaikan kita, dan kejahatan yang kita lakukan juga untuk kita. Maka kita harus berprinsip tetap berbuat baik sekalipun orang berbuat jahat karena apapun yang kita lakukan semuanya akan kembali pada diri kita. Jadi prinsipnya harus tetap berbuat baik, agar hidup kita selalu mendapat kebaikan.

Sudah jelas bukan? Maka kalau Anda mau menjadi manusia super cerdas seperti Nabi Muhammad saw, marilah kita belajar logika Tuhan dari sumbernya yaitu Al-Qur’an. Sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah contoh teladan bagi seluruh umat manusia dalam berlogika. Semua kesesatan bersumber dari logika yang salah yaitu logika-logika yang tidak bersumber dari Tuhan. Nabi Muhammad saw adalah Maha Guru Besar kita dalam berlogika Tuhan. 

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @ logika_Tuhan.

No comments:

Post a Comment