Sunday, September 18, 2022

MERASAKAN KEMATIAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Jika anda mengatakan kematian adalah akhir dari kehidupan, dapat dipastikan bahwa pemikiran anda termasuk materialis. Cara berpikir materialis, kebenaran yang dapat dikatakan benar selalu berbasis pada fakta. Kematian secara fakta memang tidak dapat dibantah sebagai akhir dari hidup manusia. Namun demikian pengetahuan dari alam nyata yang dipahami manusia terlalu sempit. Alam semesta sangat luas, tetapi keterbatasan manusia membuktikan kebenaran-kebenaran secara empiris sangat terbatas. 

Sangat bisa dipahami jika ada orang ditinggal mati oleh orang yang sangat dikasihi akan menangis. Tangisan ini disebabkan oleh perasaan yang bersifat materialis. Merasa kehilangan secara fisik orang-orang yang dikasihi bisa jadi sebab kesedihan. Hal ini masih bisa dikatakan wajar, tetapi jika kesedihan berlarut-larut itulah yang sangat tidak disarankan dalam ajaran agama.  

Kematian jika kita pikirkan berdasar sumber informasi dari Al Quran, bukanlah sebagai akhir dari kematian, tetapi sebagai proses perpindahan tempat hidup. 

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran, 3:185)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (Al Anbiyaa, 21:34)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (Al 'Ankaabut, 29:57)

Mari kita simak penjelasan Al Quran. Setiap yang berjiwa merasakan mati. Ini bahasa terjemah, dalam arti bahasa paling sederhana. Kata "merasakan" merupakan point penting yang perlu kita simak. Fenomena merasakan seperti bagaimana kita merasakan panas, dingin, sakit, sedih, senang, gembira, dan sebagainya. Dalam fenomena kematian kita sering melihat ekspresi mayat sedih dan senang. Ini berarti kematian adalah sebuah fenomena sebuah proses dalam kehidupan yang bisa dirasakan oleh setiap orang, bisa dalam ekpresi senang atau menyedihkan. 

Hal ini bisa punya arti bahwa kematian bisa terjadi pada setiap orang sebagai fenomena kebahagiaan atau kesedihan bagi orang yang merasakannya. Dengan demikian, kematian tidak dipandang sebagai akhir kehidupan, tetapi sebagai proses seseorang menuju suatu kehidupan di dimensi lain. Untuk menuju kehidupan di dimensi lain, setiap orang akan "merasakan kematian". Rasa kematian itu dikabarkan sebagai sesuatu yang menyakitkan, dan ada juga yang merasakannya sebagai kegembiraan.

Orang-orang muslim biasanya selalu berdoa mendapat kemudahan dan kebahagiaan disaat menghadapi kematian. Kebahagiaan ini dirasakan pada saat orang merasakan mati dalam kebaikan atau khusnul khotimah. 

Pandangan di atas tentunya berlaku bagi orang-orang yang meyakini adanya kehidupan dimensi lain, setelah kehidupan dunia yaitu kehidupan akhirat. Untuk itu, Allah menentukan ciri orang-orang beriman mereka harus beriman kepada adanya hari akhirat. Pandangan ini akan sedikit berbeda bagi orang-orang yang tidak meyakini adanya kehidupan akhirat. Untuk itu, perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman adalah kepercayaannya kepada adanya hari akhirat, atau kehidupan di dimensi lain setelah kehidupan di dunia. 

Jadi bagi orang-orang yang percaya pada kehidupan akhirat, kematian adalah sebuah proses perpindahan manusia dari kehidupan dunia menuju ke kehidupan akhirat. Setiap orang akan mengalami ini, dan kita berharap kita dapat merasakan kematian dengan penuh kegembiraan yaitu kemudahan dalam sakaratul maut, dan dalam keadaan baik atau khusnul khotimah.***

 


No comments:

Post a Comment