Tuesday, February 5, 2019

PENYEBAB PASTI KEMATIAN


OLEH : MUHAMMAD PLATO

Apakah penyebab kematian? Jika sakit adalah penyebab kematian, banyak orang sembuh dari sakit, dan meninggal bukan karena sakit. Jika kecelakaan penyebab orang mati, beberapa kesaksian ada yang berhasil selamat dari kematian sekalipun mengalami kecelakaan berat. Jika racun penyebab kematian, ada orang-orang keracunan berhasil selamat dari kematian.

Banyak macam sebab kematian di dunia ini, karena terlalu banyak sebab, kita tidak akan sanggup menyebutkannya. Itulah variasi sebab kematian dari sudut pandang duniawi. Kita tidak bisa menyebutkan secara tegas apa penyebab kematian. Kesimpulannya ada banyak penyebab kematian di muka bumi ini.

Ilmu tentang keduniawian memang rumit dan sulit dicari keajegannya. Jika sakit biasanya segera diobati, dan sebenarnya sembuh dan tidak setelah diobati tidak dapat dipastikan. Ada yang sembuh diobati, namun ada juga yang meninggal setelah diobati. Dunia ini sifatnya tidak pasti. Kepastian dunia hanya mitos, sebagai bentuk kesepakatan bersama dengan dukungan data-data, agar terlihat pasti.

Kepastian ada dalam kontinum waktu. Kehidupan dunia terlalu singkat untuk melihat kepastian. Guna melihat kepastian, kontinum waktu harus dibaca tembus sampai ke kehidupan setelah mati.

Masa lalu>>>masa sekarang>>>masa depan>>>setelah kematian (akhirat)

Kepastian hidup di dunia dapat kita pahami, jika hidup ini berkelanjutan tembus sampai kehidupan setelah mati. Untuk itu, penting meyakini adanya hidup setelah mati, agar kita punya kepastian dalam hidup. Oleh karena itu, keyakinan kepada adanya hari akhirat, adalah keyakinan sesungguhnya yang harus benar-benar diyakini oleh manusia.  Pola pikir ini dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (Al Mukmunuun, 23:74).

Surat ini menegaskan bahwa keyakinan kepada akhirat adalah kebenaran mutlak. Harus dimiliki oleh setiap orang agar punya kepastian dalam hidup.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut, 29:64).

Keterangan ini, menguatkan lagi bahwa kehidupan nyata ada di akhirat, dan manusia harus berusaha mengetahuinya sampai haqul yakin. Tanpa keyakinan di kehidupan akhirat, tidak akan ada kepastian hidup di dunia.

Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh. (An Nahl, 16;122)

Orang-orang yang mendapat kebaikan di dunia, bukan karena terlihat kebaikannya di dunia, tetapi karena dinilai baik oleh Allah dI kehidupan akhirat. Bagi penglihatan manusia di dunia, kebaikan harus menghasilkan kebaikan, namun di akhirat, apa yang dilihat keburukan bisa jadi pembuat kebaikan seseorang. Kebaikan tidak dinilai pada saat terjadinya kebaikan, tetapi kebaikan seseorang dinilai setelah kebaikan itu berlalu. Sehingga kita sering menemukan kebaikan-kebaikan seseorang setelah orang itu pergi dari sisi kita.

Kebaikan sifatnya keyakinan pribadi seseorang dengan Tuhannya. Kebaikan seseorang dinilai dari niatnya, maka kebaikan di dunia adalah kebaikan yang bernilai baik di akhirat. Kebaikan tidak dapat dinilai pada saat kebaikan itu dilakukan, tetapi setelah kebaikan itu dilakukan. Maka untuk menilai sesuatu bernilai baik atau tidak butuh waktu, sampai akhirnya kebaikan di nilai di akhirat. Atas dasar itu, dilarang manusia berprasangka buruk terhadap prilaku seseorang.

Allah lah penyebab segala kebaikan, demikian juga dengan kematian. Bukan sakit, kecelakaan, bencana, penyebab kematian manusia, tetapi semata-mata karena takdir Allah swt. Allah lah penyebab segala sebab, dan kepada Allah lah kita akan berakhir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadid, 57:3)

Suatu kepastian adalah Allah penyebab kematian seseorang, dan terjadi dalam berbagai cara. Namun dari setiap kejadian yang beraneka ragam akan ada pelajaran (Allah mengajarkan) untuk belajar dari alam, dan  instrospeksi diri, untuk persiapan kembali kepada Yang Maha Suci, karena Allah tempat semua kembali. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer logika Tuhan)

No comments:

Post a Comment