Sunday, January 25, 2026

HUKUM PARETO DAN PERANG BADAR

Oleh: Muhammad Plato

Tahun 1848-1923 Vilfredo Pareto seorang ahli ekonomi dan sosiologi menemukan fakta 80% tanah di Italia dikuasai oleh 20% populasi. Temuan ini dipolulerkan menjadi “Prinsip Pareto”.

Kondisi ini pernah terjadi di Indonesia pada zaman Orde Baru, ekonomi Indonesia dikuasai oleh 10% para pengusaha. Fakta ini masih terjadi hingga sekarang kepemilikan kekayaan Indonesia hanya dimiliki segelintir orang. 

Prinsip "yang sedikit menguasai yang banyak" rupanya jadi hukum hidup. Prinsip ini berlaku dalam berbagai bidang tidak hanya dalam bidang ekonomi. Prinsipnya dasarnya bisa dipahami dalam pola sebab akibat, yaitu sebab 20% akan berakibat 80%. Dalam prinsip ekonomi, "usaha sedikit hasil maksimal" bisa dipahami melalui hukum ini.

Joseph M. Juran (1904–2008) menyebut fenomena ini dengan " the vital few and the trivial many " (sedikit yang penting dan banyak yang sepele). Al Quran telah memberita ide prinsip ini 1400 tahun lalu. Hanya kemalasan berpikir umat Islam, ide ini diungkap oleh Pareto dari Italia. 

Toto Suharya telah mengungkap hukum ini di dalam Al Quran. Peristiwanya terekam di dalam kisah perang Badar yang dialami Nabi Muhammad. https://www.logika-tuhan.com/2019/07/sebagian-besar-manusia-tersesat.html

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk membangkitkan. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, (Al Anfal, 8:65).

Ayat ini saling menguatkan dengan ayat lain , "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al Baqarah, 2:249).

Di dalam Al Quran tercatat perhitungan 20 orang dapat mengalahkan 200 orang, dan 100 orang dapat mengalahkan 1.000 orang. Polanya adalah 20/200 dan 100/1000.

Apa yang diberitakan dalam Al Quran adalah hukum dasar atau prinsip bahwa telah berlaku "sedikit yang penting dan banyak yang sepele".

Di dalam fakta sejarah pasukan Nabi Muhammad saat perang Badar sekitar 300 lebih dan pasukan musyirikin kurang lebih 900 - 1000 orang. Jadi pasukan Nabi Muhammad kurang lebih 30%.

Antara Al Quran, kisah Perang Badar, pendapat Pareto, dan Juran, memiliki kesamaan pada prinsipnya yaitu "sedikit yang penting dan banyak yang sepele".

Sejak 1400 tahun lalu, Al Quran sudah membicarakan kelompok kecil mengalahkan kelompok besar. Hukum ini dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pembangunan, sebuah negara harus memilih faktor mana yang penting untuk bisa meningkatkan produktivitas.

Kita berterimakasih pada Pareto dan Juran sudah mengenalkan hukum ini kepada publik. Sebagai umat beragama, sebaik-baiknya ilmu ketika berhubungan dengan kitab sucinya. Ilmu yang bersumber dari kitab suci selain mengandung kebenaran juga mengandung keyakinan atau optimisme. 

Berdasarkan prinsip Al Quran dan kisah Nabi Muhammad ketika perang Badar, jumlah manusia berkualitas yang harus dimiliki sebuah negara kurang lebih 30% dari populasi penduduk. 

Maka untuk menuju Indonesia emas 2045, bangsa Indonesia membutuhkan 86 juta manusia berkualitas tinggi dari total 286 juta populasi penduduk Indonesia. Salah satu manusia berkualitas tinggi yaitu para investor di pasar modal”*** 

Friday, January 16, 2026

IDE SAINS DAN TEKNOLOGI DARI ISRA MI'RAJ

Oleh: Muhammad Plato

Cerita Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad pada masa itu menggemparkan seluruh penduduk. Dalam konteks kenabian, pada usia antara 51-52 tahun Nabi Muhammad melakukan Isra dan Mi'raj. Posisi Nabi Muhammad masih sedang berada di Mekah. Kondisi Nabi Muhammad sedang berduka karena Khadijah istri Nabi saw, dan Abu Thalib paman Nabi telah wafat.

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al Israa, 17:1).

Berdasarkan buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal, reaksi masyarakat Mekah saat mendengar cerita Isra Mi'raj ditandai dengan pendustaan yang keras, ejekan, dan lecehan semakin meningkat. Keimanan pada umat Islam saat itu mendapat guncangan hebat.

Cerita Isra Mi'raj sangat tidak masuk akal bagi masyarakat Arab saat itu, karena perjalanan dari Masjidil Haram (Mekah) ke Madjidil Aksa (Palestina) dapat ditempuh melalui perjalan satu bulan. Sementara Isra Mi'raj ditempuh dalam satu malam. Belum ada ilmu dan teknologi yang bisa menjelas perjalanan Nabi saat itu. Dari suasana psikologis masyarakat saat itu, dapat tergambarkan tidak sedikit yang tadinya sudah muslim kembali murtad.

Namun diluar konteks historis, ada pesan dari Allah dalam surat Al Israa ayat 1, peristiwa Isra Mi'raj adalah ayat atau tanda-tanda untuk dikabarkan agar manusia bisa menemukan bukti kebesaran Allah dan Rasulnya. Maka ketika Nabi Muhammad oleh Ummu Hani diingatkan supaya hati-hati tidak menceritakannya pada orang Arab, Nabi Muhammad malah mengumumkannya kepada orang Mekah di Masjidil Haram, karena Allah memerintahkan untuk mengabarkannya. Tandanya bisa dilihat pada dua kata terakhir di surat Al Israa ayat 1.

Tanda-tanda berikutnya, kisah Isra Mi'raj dipandang dari geografi. Jarak dan Waktu Tempuh: Jarak antara Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) adalah sekitar 1.500 km. Secara geografis, perjalanan ini biasanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan (30-40 hari) menggunakan transportasi unta atau kuda.

Lompatan Ruang: Secara geografis, penyelesaian perjalanan ini dalam satu malam menghancurkan batasan fisik ruang yang diketahui masyarakat Arab saat itu, menjadikannya bukti kekuasaan transendental di atas hukum alam. Dapat dipahami jika masyarakat Arab yang sudah beriman pada saat itu terguncang, dan masyarakat Arab kafir bersorak sorai karena mereka memiliki bahan bukti untuk melecehkan Nabi Muhammad. 

Lompatan antar ruang dengan kecepatan tinggi, sangat tidak masuk nalar ketika zaman Nabi Muhammad. Tapi di era sekarang, perjalanan satu malam bisa ditempuh dengan pesawat terbang kecepatan tinggi. Perlu 1400 tahun memahami secara rasional tanda kebenaran empiris terjadinya peristiwa Isra Mi'raj.

Isra Mi'raj dikabarkan dalam Al Quran sebagai tanda-tanda, dapat dipahami kisah Isra Mi'raj sebagai sumber ide pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi penulis, Isra Mi'raj mengandung ide tentang kepemilikan manusia tentang teknologi tinggi yang bisa dikembangkan manusia di masa depan.  

Di internet beredar ide tentang Isra Mir'raj dengan kecepatan cahaya: Idenya mengaitkan kecepatan Buraq dengan kecepatan cahaya (speed of light), yaitu sekitar 300.000 km/detik. Pada zaman Nabi Muhammad, pemikiran orang saat itu belum sampai pada bukti-bukti rasional dipahami akal, maka disimpulkan sebagai mukjizat, namun sekarang konsep ini menjadi dasar teknologi serat optik dan komunikasi nirkabel.

Saat mendengar Nabi Isra dan Mi'raj semalam, orang Arab yang sudah muslim kembali murtad, dan orang kafir di Arab saat itu membully Nabi, karena dianggap mengarang dongeng yang tidak masuk akal. Sekarang, perjalanan itu dapat dipahami dengan sistem transportasi super cepat. Perjalanan Makkah-Yerusalem yang ditempuh dalam sekejap menginspirasi pemikiran tentang teknologi transportasi masa depan yang memangkas hambatan ruang-waktu.

Perjalanan Isra Mir'aj Nabi mengandung pesan untuk sebuah ilmu dalam fisika. Beberapa teori fisika menghubungkan perjalanan Isra Mi'raj dengan "Teori Anihilasi," di mana materi diubah menjadi energi untuk dapat berpindah dengan kecepatan tinggi dan kemudian disusun kembali menjadi materi di tempat tujuan. Pengiriman data melalui internet adalah bagian dari teori Anihilasi. Konsep ini merupakan dasar teoretis bagi teknologi teleportasi yang sedang diteliti dalam skala partikel subatomik.

Fleksibilitas Waktu: Terjadinya perjalanan luar biasa hanya dalam waktu semalam merupakan contoh nyata dari teori dilatasi waktu atau pemuluran waktu dalam Relativitas Khusus Einstein. Di mana bagi pelaku perjalanan dengan kecepatan sangat tinggi, waktu akan terasa jauh lebih lambat dibandingkan mereka yang diam di bumi.

Kisah Isra Mi'raj adalah sumber gagasan bagi manusia untuk terus menggali tanda-tanda dari Tuhan sebagai sumber ide dalam mengembangkan berbagai bidang kehidupan, untuk menemukan kebenaran Tuhan sebagai Sang Maha Mendengar dan Mengetahui.

Dari psikologi, bisa jadi kisah Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad diantara usia 51-52 bisa menjadi sebuah tanda perjalanan spiritual manusia yang harus mengalami peningkatan di usia 51-52 tahun. Hal ini ditandai dengan beban berat yang akan menimpa manusia di antar usia 51-52 tahun.

Banyak ilmu-ilmu dan teknologi tinggi dari inspirasi Al Quran yang bisa dikembangkan manusia. Al Quran adalah ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Semua orang bisa menemukan Tuhan dari berbagai sudut pandang ilmu dan teknologi. Keberadaan ilmu dan teknologi selain mempermudah kehidupan manusia, tujuan sebenarnya adalah menemukan kebenaran-kebenaran dari Tuhan Pencipta Semesta Alam. ***

Thursday, January 8, 2026

MUSUH PALING BERBAHAYA ADALAH MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

Banyak orang tidak sadar bahwa musuh yang paling berbahaya di muka bumi ini adalah manusia. Musuh berbahaya bagi manusia bukan makhluk-makhluk luar angkasa, binatang buas, atau makhluk-makhluk bermuka buruk. 

Godaan manusia yang paling berbahaya ada dua jenis. Dunia jenis godaan ini bersifat tersembunyi. Dua jenis godaan itu datang dari golongan manusia. Siapa dua manusia itu? Dua potensi godaan pada manusia itu ada di dalam diri manusia itu sendiri. 

Dua jenis godaan manusia tersembunyi dapat kita identifikasi dalam Al Quran yang berbicara tentang perintah Tuhan kepada manusia agar belindung kepada Tuhan yang memelihara manusia, Pengendali manusia, dan yang ditaati manusia dari kejahatan manusia.


Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (yang ditaati) manusia. (An Naas, 114:1-3).

Selanjutnya, Allah menjelaskan dalam konteks apa manusia belindung kepada Tuhan? Dilanjutkan dalam tiga ayat berikutnya:

dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia. (An Nass, 114:4-6).

Dalam konteks sains, dapat dipahami bahwa kejahatan tersembunyi berkaitan dengan penyakit mental. Di era informasi kejahatan tersembunyi datang melalui pikiran-pikiran buruk yang bisa membangkitkan naluri-naluri jahat yang bisa muncul dan potensinya ada pada sifat manusia. 

Sumber kejahatan tersembunyi ini datang dalam berbagai bentuk informasi yang diakses oleh panca indera manusia, kemudian masuk ke otak diproses dalam pikiran dan hati manusia dan menjadi bisikan-bisikan berulang yang memengaruhi cara berpikir. 

Salah satu bentuk konkrit permohonan manusia berlindung kepada Tuhan yaitu berkaitan dengan perintah Tuhan kepada manusia untuk membaca atas nama Tuhan. 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al 'Alaq, 96:1-2).

Perintah ini bermakna agar manusia selalu mengakses pengetahuan dari sumber yang diturunkan Allah kepada manusia berupa wahyu kepada para nabi. Di dalam Al Quran Allah menjelaskan:

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (Al Baqaarah, 2:1-2).

Manusia dibekali dua potensi berpikir yaitu aktif dan pasif. Berpikir aktif manusia harus berusaha mengelola informasi yang masuk ke otak menjadi kebaikan. Pada situasi tertentu manusia bisa pasif dalam arti berserah diri pada ketentuan-ketenuan yang telah ditetapkan Allah di dalam wahyu. 

Permohonan perlindungan pada Allah dapat diartikan sebagai membangun kesadaran agar manusia tidak terbawa arus pada pemikiran-pemikiran buruk. Manusia harus bisa mengendalikan pikirannya dengan mengikuti petunjuk berpikir dari Allah.

Kejahatan tersembunyi yang datang dari jin dan manusia, dapat terkendali dengan cara manusia membangun kesadaran untuk mengendalikan pikirannya agar selalu aktif menjaga pikiran dan hatinya selalu baik.

Kesimpulannya, musuh paling berbahaya bagi manusia adalah manusia itu sendiri, yaitu manusia yang tidak bisa mengaktifkan pikiran-pikirannya kepada hal-hal baik dan manusia yang cenderung menjauh atau enggan membaca petunjuk-petunjuk dari Allah. Maka Al Quran harus menjadi bacaan utama untuk menggali berbagai rahasia yang ada pada diri manusia, agar rasa ketuhanan selalu hadir dalam pikiran dan hati manusia.***  


Friday, January 2, 2026

BELAJAR DARI KISAH DUA ANAK ADAM

Oleh: Muhammad Plato

Ada kisah manusia yang wajib diajarkan pada seluruh umat manusia. Informasi ini bisa ditemukan di dalam sebuah kisah anak Adam, dijelaskan dalam Al Quran. 

"Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (Al Maa'idah, 5:28).

"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan dosa ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang dzalim."  (Al Maa'idah, 5:29).

"Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi." (Al Maa'idah, 5:30).

"Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal." (Al Maa'idah, 5:31). 

Kisah dua putra Adam ini bukan sekedar sosok fisik manusia. Dua kisah ini menggambarkan dua kekuatan yang dimiliki manusia. Dua putra Adam adalah dua sifat dalam diri manusia yaitu nafsu tak terkendali (fujur) dan terkendali (takwa). Dua sifat ini merupakan kodrat yang ada dalam diri Adam. Sebagaimana Allah mengabarkan dalam Al Quran.

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya," (Asy Syam, 91:8). Berdasarkan makna dasarnya, fujur adalah potensi meluap dan melanggar batas. Takwa kemampuan mengerem, memelihara, menjaga taat pada ketentuan.

Kisah dua anak Adam adalah sebuah pergulatan psikologis di dalam setiap jiwa manusia. Di dalam diri manusia senantiasa ada dua kekuatan saling konflik. Jiwa perusak kadang melampui batas hingga berani melakukan pembunuhan. Jiwa pemelihara bersikap hati-hati hingga bersikap lemah dan pasrah pada keadaan. 

Ketika jiwa pemelihara terbunuh maka manusia menjadi pelaku kejahatan di muka bumi. Dari kejahatan yang dilakukannya manusia bisa kembali sadar dan menyesali perbuatannya dan berusaha menata kembali menghidupkan jiwa pemelihara.  

Dua anak Adam ini bergerak dinamis dari jiwa perusak ke pemelihara dari pemelihara ke perusak. Jiwa perusak bisa menghidupakan kembali jiwa pemelihara dengan cara mau menerima pengajaran dan belajar dari siapa saja dari seluruh makhluk.

Dalam kasus dua anak Adam dikisahkan jiwa perusak yang telah melakukan pembunuhan mendapat pengajaran dari Allah dari burung Gagak. Burung gagak adalah simbol dari kemampuan ilmu yang harus dimiliki oleh jiwa perusak jika ingin kembali sadar untuk mewujudkan keadaan damai bersama jiwa pemelihara.

Burung Gagak adalah simbol kompetensi yang harus dimiliki anak-anak Adam. Sebuah penelitian menemukan kemampuan intelektual burung Gagak. Dari hasil penelitian para ahli biologi dan neurosain, burung Gagak memiliki kemampuan literasi dan numerasi. Mampu berpikir kompleks, mengingat kejadian spesifik di masa lalu dan merencanakan kebutuhan masa depan. Burung gagak memiliki kemampuan persepsi subjektif sebagai indikator kemampuan untuk membangun kesadaran.

Berdasarkan literasi dari berbagai sumber, Gagak dikenal "ahli pemecah masalah" di dunia hewan. Mereka tidak hanya menggunakan alat yang tersedia, tetapi juga memodifikasi alat (seperti membengkokkan kawat) untuk mencapai tujuan. 

Gagak memiliki struktur sosial yang sangat kuat. Mereka berbagi informasi tentang sumber makanan dan saling memperingatkan tentang adanya bahaya. Mereka pandai dalam membangun kerja berkolaborasi. 

Gagak tidak hanya belajar dari pengalaman pribadi, tetapi juga mengamati pengalaman gagak lain. Mereka memiliki ingatan jangka panjang yang luar biasa terhadap wajah-wajah yang pernah mengancam atau membantu mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa gagak mampu menunda keinginan sesaat (seperti tidak memakan makanan langsung) demi mendapatkan alat yang bisa memberikan makanan yang lebih besar di kemudian hari. Beberapa penelitian mengamati perilaku gagak yang "berduka" atau berkumpul di sekitar rekan mereka yang mati. Mereka juga dikenal sangat setia pada pasangannya (monogami).

Pesan penting dari dua kisah anak Adam adalah setiap anak adam memiliki sisi unggul dan lemah. Melalui burung Gagak manusia diingatkan untuk menjadi manusia pembelajar, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan teknologi, untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dari segala kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu. 

Untuk menjaga kehidupan damai, hidupkan kesadaran berkolaborasi, saling mengenal, untuk memecahkan berbagai masalah dengan tidak melupakan nilai-nilai moral, spiritual, yang diajarkan Tuhan.***