Sunday, May 8, 2016

LOGIKA ABU BAKAR


Kisah Abu Bakar ini, saya kutif dari buku Misbah Em Majidy (2013:264). Di dalam buku ini dikisahkan bahwa Abu Bakar merupakan sosok pemikir. Oleh Nabi Muhammad saw, sosok Abu Bakar disandingkan dengan Nabi Ibrahim. Dalam cerita Al-Qur’an, Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang pandai berdebat. Logika-logikanya dibangun berdasarkan logika ke-Tuhan-an.

Berikut adalah saya paparkan isi dialog Abu Bakar dengan para sahabatnya.

“Para sahabat mendapati Abu Bakar sedang memikirkan sesuatu, salah seorang diantara mereka bertanya, “ wahai Abu Bakar, apa yang terjadi kepadamu  sedari  tadi kami melihatmu seperti sedang memikirkan sesuatu.”

Abu Bakar menjawab, “Aku sedang menafakuri ayat Al-Qur’an.”

Mereka bertanya, “ayat Al-Qur’an manakah itu, wahai Abu Bakar? Lantas, Abu Bakar melantunkan firman Allah swt. Berikut ini;

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu bencana kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya…” (QS. Yunus, 10:107).

“Kini aku mengerti bahwa jika Allah menghendaki kebaikan untukku, tidak ada seorang pun yang bisa melenyapkanya dari ku selain-Nya. Adapun jika Allah menghendaki kejelekkan untukku, tidak ada seorang pun yang mampu menghindarkannya selain-Nya”.

Adapun semenjak memaknai ayat ini, Abu Bakar tidak lagi risau memikirkan masalah rezekinya.
Pertanyaannya mengapa Abu Bakar tidak risau dengan rejekinya, setelah menafakuri ayat ini? Menurut pemahaman saya, dalam ayat ini mengandung ajaran bahwa ketentuan buruk (bencana) dan baik (rejeki), sepenuhnya ada di tangan Tuhan. Maka dari itu, ketentuan buruk dan baik adalah keniscayaan hidup yang akan selalu ada dalam romantika kehidupan manusia.

Oleh karena itu, menghilangkan keburukan adalah hal yang sia-sia karena dia akan selalu ada dalam kehidupan kita, sebaliknya menolak-nolak kebaikan sama sia sianya.

Dari ayat ini kita diajarkan oleh Tuhan, bahwa dalam hidup kita diapit oleh dua ketentuan yaitu baik dan buruk, cara terbaik menyikapinya adalah dalam kondisi baik dan buruk kita harus selalu ingat Tuhan, meminta tolong kepada Tuhan.

Maka ketika Abu Bakar ditanya oleh para sahabat, ayat mana lagi yang mengesankan relung hatinya? Lalu Abu Bakar melantunkan firan Allah berikut ini:

Maka Ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu… (QS. Al Baqarah, 2:152)

Dengan sebab ayat ini, kita memahami bahwa orang-orang terbaik bukanlah orang yang terhindar dari bencana atau memiliki banyak rezeki, karena orang-orang terbaik adalah mereka yang selalu ingat Tuhan dalam segala kondisi. Selama kita bisa ingat Tuhan, maka Tuhan akan memberi yang terbaik untuk kehidupan kita. Itulah kira-kira pamahaman Abu Bakar, sehingga dirinya bisa menjadi tenang dalam menghadapi segala kondisi.

Sabda Rasulullah, saw. Tentang Abu Bakar,  “Abu Bakar mengungguli kalian semua bukan karena banyaknya salat dan puasa, melainkan karena sesuatu yang bersemayam di dalam hati (red: termasuk dalam pikirannya)”

Demikian keburukan saya dalam berpikir hingga berani memahami ayat-ayat Tuhan dengan logika. Namun apa yang saya lakukan telah dicontohkan oleh para Nabi dan sahabat-sahabat terbaiknya. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment