Friday, May 6, 2016

AA GYM JUGA BERLOGIKA TUHAN


Memperhatikan dakwah Aa Gym di Facebook akun KH. Abdullah Gymnastiar. Saya tertarik untuk memahami pola pola pikir Aa Gym dalam dawahnya. Mudah-mudahan ini jadi ilmu bagi kita semua untuk menjadi orang-orang terbaik di hadapan Allah, Tuhan semesta alam

Berikut adalah salah satu kutipan dakwah Aa Gym yang akan saya analisis dari ilmu berpikir yang saya kembangkan, yaitu berpikir dengan petunjuk Tuhan (logika_Tuhan).
   
“Saudaraku, musuh paling berat yang harus selalu kita waspadai adalah diri kita sendiri. Kita tak akan celaka kecuali oleh diri kita sendiri. Orang yang menyakiti kita, menghina kita, memfitnah kita, itu tidaklah berbahaya. Yang berbahaya ada jikalau kita yang menyakiti, menghina, memfitnah orang lain.”

Kita rendah bukan karena direndahkan oleh orang lain, tapi kita rendah jikalau kita melakuan perbuatan rendah. Kita hina bukan karena dihinakan oleh orang lain, tapi kita hina jikalau kita melakukan perbuatan hina. Na’udzubillahi mindzalik”. (Aa Gym).

Pola berpikir (berlogika) seperti di atas petunjuknya banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an. Misalnya yang sering dijadikan dalil oleh Aa Gym adalah;

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, ..” (Al Israa, 17:7)

“Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan”. (Al Waaqiah, 56:24)

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar Rahmaan, 55:60)

“Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al Qashsash, 28:84)

PANDUAN BERPIKIR DARI AYAT-AYAT DI ATAS ADALAH PERBUATAN BAIK DAN BURUK KITA AKAN MEMANTUL KEPADA DIRI KITA SENDIRI.
Dari panduan Al-Qur’an di atas, jelas terang benderang kebaikan dan keburukan datang dari diri kita sendiri. Kesimpulannya seperti yang dikatakan Aa Gym, “yang paling berbahaya bagi diri kita sendiri adalah diri kita”. Inilah cara berpikir yang benar menurut petunjuk Tuhan. Believe it!

Berikut kita bahas pola berlogika Aa Gym yang kedua. Saya kutif juga dari facebook KH. Abdullah Gymnastiar.  

“saudaraku, setiap perbuatan kita disaksikan oleh Alloh Swt. Tidak ada yang kecil bagi Alloh. Besar atau kecil, itu adalah bagi kita sebagai manusia. Bagi Alloh, sama saja, setiap hal perbuatan diketahui oleh-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menyibukkan diri dalam amal-amal kebaikan, termasuk amal-amal yang sepertinya kecil dalam pandangan manusia, namun besar dalam pandangan Alloh Swt.

Pola berpikir Aa Gym banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an. Salah satu dalilnya saya kemukakan sebagai berikut:

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Az Zalzalah, 99 :7-8).

Dan inilah fakta sejarah yang mengisahkan tentang diterimanya dan tidaknya suatu perbuatan di hadapan Allah. 

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa’idah, 5:27)

Kisah di atas memberi panduan berpikir kepada kita bahwa dalam berbuat sesuatu jangan mempertimbangkan besar dan kecilnya, tetapi berpikirlah apakah pekerjaan itu diterima atau tidak oleh Tuhan. 

Maka, Nabi Muhammad saw memberi panduan berpikir kepada kita semua dalam hadis berikut yang sangat terkenal dan harus jadi pola pikir:

“sesungguhnya setiap perbuatan itu diberi ganjaran sesuai dengan niat” .
“Sesungguhnya orang-orang yang terbunuh itu akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya”.
“betapa banyak orang yang terbunuh di antara dua kelompok tersebut dan Allah Maha Mengetahuai tentang niatnya”.
“Barang siapa yang berperang dan dia tidak berniat kecuali sekedar untuk memenuhi kewajibannya, maka pahal yang akan diterimanya sesuai dengan niatnya”.

Saya sependapat dengan Umar Sulaiman Al-Asqar (2012), niat berkaitan dengan pekerjaan suatu ibadah. Niat adalah usaha untuk melakukan perbuatan baik demi mendapat ridha Allah”. Inilah yang memberikan kesimpulan bahwa “perbuatan baik tidak dilihat dari besar dan kecilnya tapi dari NIATNYA, sehingga disimpulkan Allah tidak melihat perbuatan baik dari besar dan kecilnya. 

Jadi saudara-sauradara sekalian, berpikir itu ada standarnya, dan Allah swt Tuhan seluruh alam, telah memberikan petunjuk BERPIKIR dalam Al-Qur’an. BERLOGIKA ATAU BERPIKIR bukan milik seseorang, kelompok, atau bangsa, berlogika itu milik semua makhluk dan penciptanya adalah Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment