Saturday, July 14, 2018

UKURAN MANUSIA DEWASA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ukuran manusia dewasa lazim diakui semua orang, dilihat dari umur. Kesepakatan ini dibakukan dalam undang-undang. Manusia dewasa menurut undang-undang RI adalah berusia 18 tahun. Oleh karena itu hati-hati, yang menikahi perempuan di bawah 18 tahun bisa dianggap melanggar undang-undang dengan sangkaan menikahi perempuan di bawah umur.

Namun faktanya kategori orang dewasa tidak bisa diukur dari umur belaka. Ukuran dewasa harus dilihat dari unsur lain yang lebih substantif. Melihat kedewasaan dari aspek umur hanya bersifat kuantitatif.

Kedewasaan bisa juga dilihat dari aspek fisik, ditandai dengan perubahan bentuk tubuh dan perubahan orientasi seks dan hormon. Ukuran kedewasaan ini juga masih dalam kategori kuantitatif.

Sebaliknya ada ukuran kedewasaan yang bersifat kualitatif. Ukuran ini mengarah kepada substansi berupa sikap atau akhlak manusia. Secara kualitatif ukuran kedewasaan sangat tergantung pada perbendaharaan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah prasyarat kedewasaan seseorang, semakin banyak ilmu yang dimiliki maka semakin besar kemungkinan orang bersikap dewasa. Dalilnya di dalam Al-Qur’an adalah;

Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Yusuf, 12:22)

Ilmu pengetahuan adalah faktor penentu seseorang dalam berprilaku. Orang-orang yang melakukan kekerasan dia melakukannya dengan kadar pengetahuan yang dimilikinya. Di dalam otak orang-orang yang melakukan kekerasan, dia tidak menemukan cara-cara damai dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Sekalipun ada yang memberi tahu, dia tidak memiliki pengalaman dan keyakinan bahwa dengan cara-cara damai masalahnya dapat diselesaikan.

Ilmu pengetahuan yang dapat mendewasakan seseorang harus bersumber pada yang benar. Sumber ilmu pengetahuan yang dijamin benar, membawa kedamaian adalah kitab suci Al-Qur’an.

Fakta secara substansi, kedewasaan seseorang terlihat saat menyikapi segala kejadian. Sikap-sikap orang dewasa dalam menyikapi segala kejadian diatur dalam kitab suci Al-Qur’an. Aturan itu bersifat baku oleh karena itu menjadi alat ukur kedewasaan seseorang. Berikut adalah alat ukur paling dasar dari kedewasaan seseorang bersumber dari Al-Qur’an.

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu MEREKA TELAH CERDAS (pandai memelihara harta), maka SERAHKANLAH KEPADA MEREKA HARTA-HARTANYA. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) SEBELUM MEREKA DEWASA. (An Nisaa, 4:6)

Bedasarkan konsep-konsep yang ada dalam Al-Qur’an di atas, secara kasat mata kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kecerdasannya. Bila kita hubungkan dengan Surat Yusuf ayat 22, dapat disimpulkan bahwa orang-orang cerdas adalah mereka yang diberi hikmah (kemampuan mencipta) dan ilmu.

Surat An Nisaa ayat 6, menjelaskan lebih lanjut bahwa orang-orang dewasa yang telah diberi hikmah dan ilmu adalah mereka yang pandai mengelola harta. Mereka yang pandai mengelola harta adalah yang mampu membelanjakan hartanya di jalan Tuhan, yaitu yang menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan umum, anak-anak yatim, fakir miskin, orang tua jompo dan sebagainya.

Menurut Al-Qur’an kecerdasan paling mendasar yang bisa dilihat dan menjadi ukuran bahwa orang itu sudah dewasa adalah mereka yang bisa mendonasikan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain (sedekah). Konsep sedekah itu kemudian diimplementasikan dalam berbagai aktivitas kehidupan, yaitu dalam dagang, politik, sosial, dan budaya.   

Dengan demikian kita bisa melihat siapa orang-orang dewasa dan siapa anak-anak. Bukan dilihat dari umurnya tetapi dilihat dari cara-cara mengelola harta yang dimilikinya, dan caranya menyikapi segala kejadian.

Ciri sikap yang paling menonjol dari orang dewasa, dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, (Fushshilat, 41:34). Lihatlah dengan mata kepala sendiri, mereka orang-orang dewasa menolak kejahatan dengan kebaikan.

Berdasarkan hasil riset David R. Hawkins level orang-orang dewasa ada di level power. Orang-orang di level ini memancarkan energi dari rentang 200 menuju damai sejahtera 1000. Lebih lanjut akan saya jelaskan di artikel berikutnya. Demikian saya sampaikan untuk semata mendapat keridhaan Allah swt.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan) 

No comments:

Post a Comment