Saturday, February 22, 2020

MEMAHAMI MAKRIFAT


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ustad Abdul Somad mengatakan syariat ibarat sampan, hakikat ibarat laut, tarekat ibarat berenang menyelam, makrifat ibarat Mutiara. Mengutif Al-Ghazali, makrifat adalah cahaya yang ditembakkan Allah ke hati hamba. (youtube, 08/01/2018, diakses, 21/02/2020). Prof. Buya Syakur berpendapat syariat itu artinya jalan besar atau aturan, tarekat adalah jalan kecil atau etika. Hakikat dia tidak hidup lagi dengan aturan tetapi menghormati yang punya aturan yaitu Allah. Nabi Khidir membunuh anak kecil, tidak dlihat dari aturan tapi perintah pemilik aturan. Syariat adalah pintu gerbang. (youtue, 15/09/2019, diakses, 22/02/2020).

Dua penejalasan ulama di atas, belum memberikan penjelasan lengkap karena dijelaskan dalam bentuk lisan dan terbatas. Perlu pengkajian lagi apa yang dimaksud keempat konsep yang berkembang dalam komunitas muslim.

Dari hasil penelurusan beberapa pendapat  di internet terdapat pengertian ke empat konsep hampir sama, salah satunya dalam situs berikut; http://syiarislam1234.blogspot.com/2013/10/pengertian-syariat-tariqat-hakikat-dan.html

SYARIAT adalah hukum dan aturan islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Islam. TAREKAT adalah jalan atau metode. HAKIKAT adalah kebenaran atau yang benar-benar ada, berasal dari kata al haq dalam arti pemilik. MAKRIFAT adalah pengetahuan yang hakiki tentang ilahiyah.

Ditelusuri dari situs internet lain terdapat persamaan dan sedikit perbedaan. http://satriopinayunganasrorrr.blogspot.com/2016/10/apa-itu-syariat-tarekat-hakikat-makrifat.html pemilik situs ini berpendapat;

SYARIAT adalah hukum dan aturan (Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Islam. . TAREKAT adalah jalan untuk menjadi orang taqwa. Tarekat wajib adalah amalan wajib. Tarekat sunnah adalah amalan sunnah. HAKIKAT adalah kepercayaan sejati (mengenai Tuhan) pekerjaan hati. Dari bahasa dan istilah hakikat artinya kebenaran. MAKRIFAT adalah pengetahuan atau pengalaman. Makrifat adalah pandai, mengerti, paham dan melaksanakan dengan sempurna.

Informasi situs lainnya https://www.alkhoirot.net/2015/12/tasawuf-syariat-tarekat-hakikat-dan.html#2 keempat istilah itu dijelaskan sebagai konsep konsep dalam ajaran tasawuf. Pemilik situs ini berpendapat;

SYARIAT adalah sisi praktis dari ibadah dan muamalah dan perkara-perkara ubudiyah. TAREKAT adalah kesungguhan hati dan meningkatkan kualitas karakter hati. Tarekat adalah jembatan yang menjadi perantara syariat menuju hakikat. Contoh shalat adalah sisi fisikal dan ada sisi ruh. MAKRIFAT adalah maqam tertinggi di kalangan penganut tarekat. Menurut kalangan sufi makrifat adalah anugerah Allah kepada kalangan orang yang mencapai makrifat, berupa ilmu, rahasia, dan kelembutan.

Bedasarkan situs http://ngajibarengyu.blogspot.com/2017/01/pengertian-syariat-tarekat-hakikat-dan.html pendapat tentang syriat, tarekat, dan hakikat hampir sama dengan pendapat pada umumnya. Namun situs ini memberikan penjelasan para ahli tentang makna makrifat sebagai berikut;

MAKRIFAT adalah mengetahuai atau mengenal sesuatu. Dalam tasawuf berarti mengenal Allah ketika sufi mencapai maqam tasawuf.  Kemudian menurut para ulama, Dr. Mustaf Zahri, makrifat adalah ketetapan hati, dalam mempercayai unsur yang wajib ada. Al Kadiriy mengatakan makrifat adalah hadirnya kebenaran Allah, dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan nur ilahi. Imam Al-Qusyairy berpendapat makrifat merupakan ketenangan hati sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan dalam pikiran. Makrifat menurut bahasa, mengetahui Allah, dan menurut istilah sadar kepada Allah.

Dari beberapa situs di atas penulis punya pendapat lain mengenai keberadaan istilah syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Keempat konsep ini bisa kita olah untuk membantu semua orang agar bisa mengembangkan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Penulis mengunakan metode qiyas (analogi) untuk menemukan pemahaman lain tentang keempat konsep ajaran tasawuf tersebut.

TABEL 1.
PERBANDINGAN KONSEP

TASAWUF
KEYAKINAN
FILSAFAT
Syariat
Ilmal Yaqin
Axiologi
Tarekat
Ainul Yaqin
Epistemology
Hakikat
Haqqul Yaqin
Ontology
Makrifat
Haqqul Yaqin+
Ontology+

Pengertian tentang tiga konsep keyakinan dikemukakan Al Ghazali, (dalam Thoha, 2004, hlm.77), pendekatan akal dalam menemukan kebenaran dalam tingkat keyakinan dikategorikan sebagai ilmal yaqin. Sedangkan tingkat keyakinan yang diperoleh melalui indera dapat dikategorikan sebagai ainalyaqin. Selanjutnya kesimpulan yang ditarik dan tingkat keyakinan atas realitas yang dibangun melalui pendekatan deduktif-logik dan induktif-empiris ini dapat dikategorikan sebagai haqul-yaqin. Menurut Al-Gazali derajat haqul yaqin di dapat sebagai sebuah sintesa dari kebenaran akal dan empiris. Logika ini sama dengan pendekatan yang dikemukan Hegel, yaitu tesis, antitesis dan sintesis. Artinya orang-orang yang telah mencapai keyakinan haqul yaqin yaitu yang sudah menemukan kebenaran sesuai antara kebenaran akal dan empiris. 



Penulis sedikit  berbeda dengan Al-Gazhali mengenai konsep keyakinan. Konsep keyakinan yang diperkenalkan oleh Al-Gazhali sebenarnya diambil dari Al-Qur’an. Kunci keyakinan bersumber pada pengetahuan yang dimiliki. Sumber pengetahuan penulis kategorikan menjadi tiga yaitu dari hasil penalaran akal (rasio), pengalaman nyata empiris, dan keterangan kitab suci. Untuk itu, bagi penulis ilmal yaqin adalah keyakinan yang diperoleh dari penalaran akal, ainal yaqin berdasar pada pengalaman, dan haqul yaqin berdasar pada wahyu.

Atas dasar itu pengertian syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat merupakan suatu tahap atau pengelompokkan dalam tata cara memperoleh kebenaran atau keyakinan. Syariat adalah suatu proses mencari keyakinan (kebenaran) berdasarkan pada aktivitas akal diawali dengan membaca untuk mengetahui hukum atau aturan hidup. Tarekat adalah proses penemuan keyakinan melalui jalan khusus melalui pengalaman dengan melakukan percobaan atau pendalaman pemahaman pada hukum atau aturan yang ditetapkan. Hakikat adalah proses penemuan keyakinan berdasarkan akal dan pengalaman. Makrifat adalah proses memperoleh kesimpulan akhir bahwa apa yang dipikirkan dan diaalaminya adalah sesuai dengan keterangan kitab suci.

Pada tataran syariat manusia hanya mengetahui aturan-aturan, hukum, yang harus dilakukan dalam menjalani hidup. Pada tataran tarekat manusia tertarik untuk belajar membuktikan salah satu aturan yang ingin didalami, dipahami untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Pada tahap hakikat manusia bisa menemukan mana yang benar dan salah. Pada tahap makrifat manusia sudah tidak lagi membedakan antara benar-salah, baik-buruk, tetapi semuanya dipersespi sebagai sebuah sistem kebenaran Allah, yang menciptakan seluruh makhluk dengan kebaikan-Nya. Seluruh makhluk dan kejadian di muka bumi ini bertujuan untuk mengarahkan manusia agar seluruh kehidupannya berada di jalan kebenaran dan menuju kesejahteraan. Manusia-manusia makrifat seluruh pikirannya dibangun dengan prasangka baik, sebagaimana Allah dan Nabi memerintahkannya.

Pada tahap makrifat, membagi kehidupan dunia dengan dua kutub berlawanan antara baik dan buruk adalah sebuah prasangka buruk kepada Allah. Jika Allah maha baik mencitptakan kehidupan alam semesta dengan takdir-takdirnya, sangat tidak beralasan jika baik dan buruk ada pada posisi berlawanan. Baik dan buruk dua duanya adalah sistem yang harus dipersepsi sebagai ketetapan hidup dari Tuhan untuk menjaga sistem hidup dalam menuju kebaikan.

Pada tahap makrifat tujuan hidup bukan membelah kehidupan menjadi dua kutub belawanan, tetapi menjaga kesimbangan. Keadaan ini diagendakan dengan mengedepankan cara-cara damai melalui dialog, musyarawarah, saling menghargai, menghormati, dan toleransi. Tujuan hidupnya sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr, 89:27-30).

Tujuan hidup pada tataran makrifat adalah menciptakan ketenangan jiwa, untuk merasakan rindu dan ridha kembali kepada Tuhan dan menempati surga-surga yang dijanjikan-Nya. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

No comments:

Post a Comment