Sunday, November 19, 2017

PEMIMPIN HARUS MERENDAHKAN KEDUDUKANNYA


OLEH
MUHAMMAD PLATO

Banyak faktor yang memengaruhi prilaku seseorang. Namun semua sepakat bahwa lingkungan adalah faktor terbesar dalam memengaruhi prilaku seseorang. Salah satu faktor lingkungan tersebut adalah kedudukan yang dimiliki seseorang.

Perubahan sikap dan prilaku, seorang pemimpin dalam jabatan dipengaruhi oleh lingkungan dan pribadinya. Prilaku bisa terjadi karena seorang pejabat diatur oleh protokoler dan pola pemahamannya terhadap posisi seorang pemimpin.

Peraturan ketat protokoler sangat singnifikan dapat merubah pola prilaku seorang pemimpin. Protokoler akan menciptakan hubungan sosial pemimpin menjadi tidak ramah, ekslusif, dan menjadi sebab terjadinya kerenggangan antara pemimpin dengan abdinya.

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN, DIA HARUS MENGERJAKAN SEMUA TUGASNYA SEKALIPUN DIPANDANG RENDAH DIHADAPAN MANUSIA.
Untuk itulah ada beberapa pemimpin yang tidak protokoler, untuk menjaga hubungan dengan masyarakatnya tetap harmonis. Tipe pemimpin seperti ini cenderung dari penglihatan kasat mata dinilai telah merendahkan kedudukannya. Dinilai berprilaku tidak pantas dan kurang terhormat bagi seorang pemimpin, serta merendahkan kedudukan seorang pemimpin di depan rakyatnya.

Sebelum menerima amanah tugas yang sedang dikerjakan, saat wawancara penulis menjelaskan bahwa pada prinsipnya pemimpin adalah pelayan. Prinsip ini memang dilandasi oleh nilai agama. Dalam Hadis, Rasulullah, saw. menjelaskan bahwa “Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka. (HR. Abu Na'im)”

Melihat sosok Kulafaur Rasyidin, pada masa kekahlifahnnya mereka tampil dalam kesederhanaan penampilan. Raja-raja Romawi tampil dengan kemegahan Istana dan baju kebesaran, Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra, dan Ali ra, tampil dengan penuh kesederhaan, tanpa singgasana dan tanpa baju kebesaran. Mereka meniru akhlak kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw.

Filosofis tinggi bahwa pemimpin sebagai pelayan masyarakat adalah ajaran Islam yang merendahkan kedudukan seseorang jika menjadi seorang pemimpin atau menduduki jabatan. Pada hakikatnya, seorang pemimpin harus merendahkan kedudukannya dihadapan rakyat dan rakyat harus sepenuhnya tunduk dan patuh kepada pemimpinnya.

Barangsiapa menghina penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan menghinanya. (HR. Tirmidzi)

Sekalipun pemimpin merendahkan kedudukannya demi melayani rakyatnya, tetapi rakyat diperintahkan oleh Tuhan untuk menghormati dan mentaatinya.  “Barangsiapa tidak menyukai sesuatu dari tindakan penguasa maka hendaklah bersabar. Sesungguhnya orang yang meninggalkan (membelot) jamaah walaupun hanya sejengkal maka wafatnya tergolong jahiliyah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi kehormatan pemimpin tidak terletak pada baju kebesaran dan singgasananya. Kehormatan pemimpin tidak terletak pada tampilan-tampilan pagan, tapi diletakkan oleh Tuhan bahwa setiap pemimpin harus dihormati. Cara berpakaian, cara berbicara, kendaraan yang dimiliki, gaya kepemimpinnan, bukan syarat pemimpin harus dihormati, tetapi keharusan dari Tuhan setiap pemimpin harus dihormati.

Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu. (HR. Muslim dan An-Nasaa'i)

Sekalipun pemimpin wajib dihormati, seorang pemimpin tidak akan gila hormat karena tugasnya adalah merendahkan kedudukannya dihadapan Tuhan dengan menjadi pelayan masyarakat. Seorang pelayan masyarakat, semua pekerjaan dari hubungan diplomatik sampai dengan urusan pembuangan sampah, wc mampet, septic tank penuh, adalah kewajiban seorang pemimpin menyelesaikannya.

 Tidak ada alasan pemimpin menjadi terhina gara-gara berpakaian sederhana, masuk selokan memungut sampah, membersihkan wc, dan menyapu halaman. Selama prilaku pemimpin tidak keluar dari tugasnya sebagai pelayan masyarakat, dan sekalipun prilakunya tidak menyenangkan, pemimpin tetap harus dihormati.

Sesunggunya jiwa pemimpin harus merendahkan kedudukannya di hadapan Tuhan, dan mengerjakan semua tugasnya sekalipun harus terlihat rendah dihadapan manusia. Penulis berpikir inilah gaya kepemimpinan yang akan mensejahterakan rakyatnya, dan membawa keberkahan Tuhan bagi alam. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika-Tuhan)

No comments:

Post a Comment