Wednesday, November 15, 2017

ORANG BERAGAMA CENDERUNG DAMAI


Oleh:
MUHAMMAD PLATO

Kisah para Nabi selalu memperlihatkan sosok jiwa yang tenang dan damai dalam menghadapi segala ejekan, cemoohan, kaumnya yang belum mengerti. Sebenarnya jika mengerti, mempertahankan hidup damai tidak ada sedikit pun yang kita korbankan, karena rasa damai adalah kemenangan sejati.

Dalam sejarah Rasulullah ada cerita peperangan yang sering dijadikan alasan oleh orang-orang yang tidak mengerti bahwa islam agama perang. Padahal jika kita pahami bagaimana terjadinya proses perang, para Nabi Muhammad saw mengajarkan agar hidup manusia cenderung pada kedamaian.

Tampilan wajah perang dari kaum muslimin adalah bentuk pertahanan, karena orang-orang yang berorientasi damai sering mendapat perlakuan tidak adil. Kaum muslimin selalu menjadi sasaran ketidakadilan. Fitnah-fitnah sering menimpa kaum muslimin.

Pada awal kenabiannya Nabi Muhammad saw selalu mendapat cemoohan, hinaan, dan pelecehan yang melampaui batas. Tidak sedikitpun Nabi merespon hinaan dengan balik hujatan. Nabi Muhammad saw lebih memilih diam karena ada damai dalam jiwanya. Diam nya Nabi Muhammad saw dalam damai dianggap sebagai ketidakberdayaan oleh para pencemoohnya. Sehingga hinaan dan cemoohannya semakin menjadi jadi. Mereka para pencemooh tidak mengerti bahwa dirinya lahyang sedang direndahkan oleh Allah.

MEMBANGUN JIWA-JIWA YANG DAMAI DENGAN SHOLAT DHUHA 12 RAKAAT TIAP HARI
Nabi Muhammad saw bisa bertahan dalam damai sekalipun mendapat hinaan yang melampaui batas. Nabi Muhammad saw diajarkan logika dari Tuhan Yang Esa, bahwa jiwa-jiwa damailah yang akan dijanjikan kemenangan besar oleh Allah swt.

“Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka. (An Nisaa, 4:91)

Inilah alasan nyata bagi kaum muslimin melakukan perlawanan, bukan untuk keangkara murkaan atau nafsu membinasakan, tetapi sebagai bentuk perlawanan untuk memaksa manusia hidup dalam damai, saling menghargai dan menghormati.

Dan inilah karakteristik pribadi-pribadi muslim sesungguhnya, mereka adalah pembawa misi perdamaian di seluruh dunia. Pribadi kaum muslimin adalah pribadi-peribadi yang cenderung damai. Peperangan pun dilakukan dalam rangka misi memaksa manusia agar hidup damai.

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfaal, 8:61)

Tidak ada diskusi, tidak ada pembicaraan yang baik dalam sebuah perjanjian kecuali perjanjian untuk damai, saling tolong menolong dan saling berbuat kebaikan. Inilah isi kesepakatan-kesepakatan yang harus dilakukan dalam setiap perundingan.

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An Nisaa, 4:114)

Dalam ayat Al-Qur’an di atas, Allah mengajarkan logika berpikir kepada seluruh umat manusia. Bahwa dibalik perdamaian ada kemenangan yang besar. Dalam urutan sebab akibat kita akan menemukan ketentuan yang berlaku pasti sebagai berikut;

SEBAB
PASTI
AKIBAT
Bagi siapa pun yang cenderung, mengupayakan, mengadakan Perdamaian
Akan Mendapat
Pahala Besar (Kemenangan Besar)

Cenderung pada damai dalam menghadapi segala permasalahan adalah mind set, logika berpikir sesuai dengan petunjuk Tuhan. Maka dari itu, pribadi-pribadi damai, berjiwa tenang adalah akhlak mulia bagi setiap muslim. 

Penegasan Allah bahwa kaum muslimin harus memiliki jiwa damai dijelaskan , “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat, 49:10)

Maka ayat ayat mana lagi yang akan kamu dustakan, kamu sembunyikan dalam hati mu? Sesungguhnya mereka para pencemooh, pencaci, penyebar fitnah, penyebar konflik, pengadu domba, tukang buruk sangka, bukan lah pribadi seorang muslim.

Dalam sejarah perjalanan Nabi Muhammad saw, penaklukkan Mekah terjadi bukan setelah perang. Penaklukkan Mekkah terjadi setelah diadakan perjanjian damai antara Nabi Muhammad dengan kaum penguasa Mekah dalam perjanjian Hudaibiyah.

Masa damai itu benar-benar telah menjadi tonggak kemenangan besar bagi kaum muslimin. Mekkah pun menyerah kepada kekuasaan kaum muslimin dengan penuh suasana damai. Jika kita tarik kesimpulan dari perjalanan sejarah kenabian Nabi Muhammad saw, jelaslah misi Nabi Muhammad saw  bukan memaksa atau mengintimidasi manusia-manusia untuk takluk di bawah kekuasaanya, melainkan mengajak kepada manusia untuk berbuat baik, saling tolong, mengajarkan kebenaran dan hidup dalam jiwa yang damai. Jadi ciri-ciri orang beragama itu cenderung damai. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan)

No comments:

Post a Comment