Saturday, April 13, 2019

REZEKI GHAIB

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Rezeki itu ghaib. Pendapat ini sering dikemukakan dalam ceramah-ceramah keagamaan. Pendapat ini tidak sederhana, karena di tafsir dari Al-Qur’an.

“…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (At Thalaq, 65:2-3).

Informasi di atas, menjadi dasar penfasiran bahwa rezeki ghaib. Tepatnya tafsir rezeki ghaib terletak pada kata “memberi rezeki dari arah tiada di sangka-sangka”. Dalam pemahaman kita, rezeki tidak disangka-sangka adalah tidak bisa ditentukan dari mana arah dan sumbernya, atau ghaib.

Bukti bahwa rezeki ghaib, kita tidak pernah melakukan akuntansi keuangan di dalam kehidupan rumah tangga, tetapi berapa banyak keluarga dengan penghasilan biasa-biasa, pas-pasan, bisa membiayai anak-anaknya sekolah sarjana, bahkan lulus dari universitas di luar negeri. Keluarga dengan penghasilan 2 juta per bulan hidup, 10 juta per bulan hidup, 68 juta perbulan hidup. Keluarga dengan penghasilan 2 juta kurang, 10 juta kurang, dan 68 juta ternyata masih kurang. Semua kurang, tetapi semua hidup, itulah fakta rezeki ghaib.

Rezeki adalah hak prerogatif Allah. Bisa dilihat dalam kalimat selanjutnya dalam ayat di atas. “sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. Kalimat ini memperkuat tafsir bahwa rezeki itu ghaib karena urusan Allah. Jika urusan Allah yang Allah yang tahu, kita hanya menerka-nerka.

Para ulama juga mengatakan, “rezeki seperti kematian selalu mengincar kita”. Artinya jangan takut tidak dapat rezeki, dan jangan terlalu serius mencari-cari rezeki. Sebagaimana kematian, jangan takut mati, dan jangan serius mencari-cari mati. Hidup harus diatas kewajaran, bermain di dalam aturan. Bekerjalah di jam kerja, waktu liburan manfaatkan untuk kepentingan keluarga dan bercengkrama dengan sesama warga. Waktu shalat, tinggalkan pekerjaan, shalat dulu, jangan takut rezeki hilang, karena Allah yang atur urusan rezeki.

Semua manusia pasti mencari rezeki, tetapi apakah semua tawakal (optimis, berharap) pada Allah? Semua pasti mencari rezeki, pergi pagi pulang sore atau malam, belum tentu semua pencari rezeki harapannya selalu bergantung pada Allah. Mungkin ada yang harapannya digantung pada hasil pekerjaan, penilaian atasan, follower, subscriber, atau perniagannya. Orang yang tidak tawakal, pasti dijajah oleh pekerjaan, atasan, follower, subscriber, dan perniagaannya.

Apa bedanya tawakal dan tidak tawakal? Dalam hidup pasti ada dua siklus bergantian, sempit kemudian lapang, sempit kemudian lapang, begitu seterusnya. Orang-orang tawakal dalam kondisi sempit tetap optimis, dalam kondisi lapang semakin optimis. Jadi orang-orang tawakal optimisnya tanpa batas berharap rezeki dari yang ghaib.

Tawakal itu obat anti putus asa! Pola pikir bertawakal harus diajarkan didunia pendidikan, agar bangsa kita dari zaman ke zaman melahirkan generasi-generasi tangguh pantang mengeluh tanpa batas!.  Wallahu allam.

(Penulis Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment