Saturday, August 10, 2019

MANUSIA BERKARAKTER AKHIRAT


OLEH: MUHAMMA PLATO

Allah menciptakan dua alam yaitu aalam dunia dan akhirat. Dunia bersifat fana, rusak, kusam, keriput, hancur, musnah, temporer, dan sementara. Akhirat bersifat kekal, baku, tetap, pasti, dan selamanya. Allah mengabarkan beberapa penghuni akhirat dengan beberapa kharakter yang dapat kita ketahui dari kitab suci Al-Qur’an.

SEMUA PERKATAANNYA BAIK

Manusia-manusia berkarakter akhirat semua pekrataannya tidak ada yang sia-sia. Perkataan yang tidak sia-sia adalah ucapan-ucapan yang semuanya mengandung unsur doa, berampak positif, menyenangkan, mengarah pada kerukunan dan perdamaian.

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (Al Waaq’ah, 56:25-26).

Perkataan baik adalah perkataan yang mengandung kualitas doa, rasa syukur, terimakasih, pujian, dan kekaguman,  terhadap segala kegiatan dan kejadian. Setiap perkataan dalam kualitas doa, tidak ada yang sia-sia.

SABAR DAN SHALAT

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2;45).

Manusia berkaratker akhirat tampil dengan tenang, karena pribadinya sudah terbentuk jadi pribadi-pribadi sabar. Kesabarannya dibangun bukan menahan amarah, tetapi memahami dari logika tuhan bahwa keburukan bukan datang dari luar dirinya, tetapi dari dalam diri atas dasar apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukannya.

Shalat adalah karakter manusia akhirat. Shalat tidak menghasilkan keuntungan langsung dalam wujud materi, namun shalat bisa mengarahkan karekter manusia untuk menghargai waktu, disiplin, optimis, dan memotivasi untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas dan tidak fokus pada keuntungan material.

Shalat jika dikaji dari sains neurologi, adalah membentuk pola pikir baku dalam membangun harapan. Shalat adalah proses pembekuan pola pikir agar menjadikan satu Tuhan sebagai tempat berharap. Tuhan yang tidak mati, tidak beranak, tidak berwujud materi, tidak berbapak dan tidak beribu. Pembekuan pola pikir ini untuk menjaga agar optimisme hidup tetap hidup dalam segala kondisi.

SELALU OPTIMIS

Optimisme hidup lahir dari harapan baik. Optimisme bisa tetap ada jika pikiran menerima informasi positif. Informasi positif bisa di dapat jika seseorang melakukan hal-hal positif. Manusia berkarakter akhirat melakukan tindakan-tindakan yang berlandaskan pada keterangan dari akhirat.

Setan adalah makhluk yang hidup dengan logikanya sendiri, tanpa dipandu dari Tuhan. Seoptimis-optimisnya setan dia pesimis. Informasi akhirat selalu menawarkan kepastian terhadap balasan perbuatan baik. Optimis tanpa batas, bisa terjadi jika pikiran kita punya patokan baku dan kepastian.  “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Alam Nasyraah, 94:8).

BERMANFAAT

Manusia bermanfaat itu tertuang dalam informasi akhirat, bahwa manusia-manusia terbaik adalah mereka yang menyisihkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Kebermanfaatan manusia terhadap manusia lain, menjadi keunggulan dari manusia akhirat.

Manusia bermanfaat  tidak tergantung pada material. Manusia bermanfaat selalu memosisikan diri sebagai pemberi bukan penerima. “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” (Al Baqarah, 2:3)

PEKERJA KERAS

Manusia berkarakter akhirat tidak pernah mengenal putus asa. Selalu menciptakan pekerjaan dan mengerjakan segala sesuatu dengan penuh kecintaan dan keikhlasan. Setiap pekerjaan yang dilakukan selalu menghasilkan harapan. Manusia dengan karakter akhirat tampil sebagai sosok pekerja keras dan bergerak tanpa batas.

Dorongan untuk menjadi pekerja keras, bersumber dari prinsip bahwa perubahan tidak akan menjadi takdir dirinya, jika perubahan tidak dilakukannya sendiri. Tuhan sudah menetapkan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Ar Rad, 13:11).

MEMBALAS KEBURUKAN

Manusia berkarakter akhirat membalas keburukan dengan kebaikan. Baginya hidup hanya dua pilihan antara baik dan lebih baik. Sekalipun manusia diberi pilihan membalas keburukan seimbang, manusia berkarakter akhirat akan membalas keburukan dengan kebaikan.

Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan mempersulit diri untuk keluar dari keburukan.  “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Al Mukminuun, 23;96).

Orang-orang sukses di dunia memiliki karakter akhirat. Maka bisa dipahami jika hadis mengatakan, “fokuslah pada akhirat, dunia akan mengikutimu”. Artinya jadilah manusia-manusia berkarakter akhirat. wallahu'alam.

(Head Master Trainer Logika Tuhan)

No comments:

Post a Comment