Saturday, October 19, 2019

TIDAK ADA YANG MELEBIHI ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Manusia adalah makhluk doollin (pelupa). Demikian Prof. Fahmi Basya menjelaskan makna Doollin dalam surah Al-Fatihah dengan arti kata lupa. Memang benar pada kenyataannya manusia sering lupa. Pada saat berdoa, shalat sekalipun kesadaran kita kepada Allah sering lupa dari pada ingatnya. Di hutan kita bisa tersesat karena lupa jalan pulang. Lupa adalah penyebab manusia tersesat.

Dalam surah Al-Fatihah, sudah dijelaskan bahwa kita adalah orang yang telah berada di jalan lurus, namun sering lupa. Oleh karena itu kita diajarkan berulang-ulang minta tolong agar tidak dijadikan orang-orang lupa kepada Allah.

Saya,  mungkin juga Anda, pada saat menghadapi masalah besar sering lupa bahwa Allah pemberi pertolongan. Pikiran refleks kita dalam situasi panik selalu mencari pertolongan pada makhluk, dan merasa khawatir, putus asa, jika tidak ada sosok makhluk yang bisa dijadikan penolong. Kebiasaan ini terbangun karena pola pikir yang tidak mengarusutamakan Allah sebagai Dzat Maha Kuasa atas segala kejadian.

Daniel (dalam Hendarman, 2019, hlm. 7) menjelaskan bahwa langkah revolusi mental terdiri tiga tahap yaitu; satu, menemukan permasalahan hidup dan memunculkan harapan hidup lebih baik.  Dua, menghilangkan segala perbuatan jelek dari alam pikiran. Terakhir berserah diri dan memohon pertolongan dari Tuhan. Penjelasan ini membuktikan bahwa Tuhan sebagai Dzat Maha Kuasa, disimpan pada posisi terakhir dalam menyelesaikan masalah. Seharusnya disimpan pada awal akan dilakukan penyelesaian salah, sebab Tuhanlah yang akan memberi petujuk kepada kita dalam menyelesaikan masalah apapun di muka bumi ini.

Pola pikir menyimpan Tuhan di posisi terakhir, yang menjadi kebiasaan awam ini lama kelamaan akan menggeser eksistensi Tuhan menjadi tidak bermakna dalam kehidupan. Tuhan hanya berfungsi sebagai pembangun harapan semata, bukan sebagai penyelesai masalah. Tuhan seharusnya ditempatkan pada posisi pertama, agar Tuhan bisa kita rasakan dalam setiap langkah sebagai penyelesai solusi plus pembangun harapan tanpa batas.

Pola pikir yang terbangun dalam setiap masyarakat religius, seharusnya menjadikan Tuhan sebagai penolong utama, pemberi ide, penyemangat, pemberi harapan, dan penggerak dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia. Pola pikir ini harus dipelihara dalam setiap pikiran manusia, sampai menjadi bagian reflek alam bawah sadar masyarakat.

Ketika saya berbicara, membaca kisah orang-orang sukses dari berbagai lapisan masyarakat, tidak sedikit yang menjelaskan bagaimana pengalaman pribadi-pribadi mereka mendapat sukses kehidupan dunia dengan intervensi ghaib (Tuhan) menjadi sebab kelancaran dan kesuksesan hidupnya. Sayang kejadian-kejadian ini hanya dianggap sebagai kejadian kasuistis orang per orang. Belum ada kesadaran untuk meneliti bahwa fakta-fakta ini bisa dijelaskan dalam bentuk generalisasi menjadi sebuah teori atau hukum. Selanjutnya dikembangkan mejadi pola pikir baku bagaimana manusia-manusia berkualitas bisa tetap hidup di muka bumi dalam kehendak Tuhan.

Mayoritas filsuf di seluruh dunia tidak pernah menyangkal dan berdebat jika dikatakan bahwa Tuhan sebagai causa prima. Pola pikir ini harus ditanam, dipupuk, mengakar kuat, dan terus tumbuh sampai berbunga dan berbuah menjadi karakter berpikir sehat setiap manusia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ulil Albab).” (Ali Imran, 3:190).

Ulil Albab yang diterjemahkan sebagai orang-orang berpikir atau berakal sehat, adalah mereka yang bisa memahami tanda-tanda (sebab-sebab), di setiap kejadian atau fenomena bahwa di dalamnya terdapat kekuasaan dan berlakunya hukum-hukum Tuhan. Bagi mereka yang berhasil menjadi Ulil Albab (berpikir sehat), mereka akan berubah menjadi karakter-karakter unggul.

Bagi mereka yang telah berhasil membiasakan berpikir sehat, masalah sebesar apapun yang dihadapi manusia di muka bumi ini, akan selalu dihadapi dan selalu optimis ada jalan keluarnya. Logika ini bisa terjadi jika Allah dijadikan sebagai causa prima dalam setiap kejadian. Jika Allah menjadi causa prima dalam setiap kejadian, maka Allah juga harus menjadi causa prima dari segala solusi kehidupan manusia.

Jika Allah sudah menjadi causa prima, maka siapa lagi yang bisa melebihi kekuasaan Allah. Maka siapa orang-orang berpengaruh di dunia ini dan harus kita waspadai? Bukan mereka yang memiliki keuasaan, kekayaan, dan teknologi, tetapi mereka yang menjadikan Tuhan sebagai penolong utama dan selalu bergerak menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Siapa manusia ini, siapa bangsa ini? Kemungkinan bisa hadir dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.

Bagi manusia-manusia unggul, manusia berakal sehat, jika masalah sudah diadukan kepada Tuhan untuk diselesaikan, maka siapa lagi yang bisa melebihi Tuhan? Pola pikir sombong manusia telah meremehkan intervensi Tuhan di alam semesta, dengan menjadikan ilmu dan teknologi sebagai Tuhan.

Jika Allah sudah menjadi causa prima, maka siapa lagi yang bisa melebihi kekuasaan Allah? (Muhammad Plato)
 Hampir di seluruh penjuru dunia, manusia pernah mengalami pengalaman-pengalaman kejadian di luar kendali kesadaran. Bagi manusia-manusia berakal sehat, pengalaman itu adalah tanda-tanda intervensi Tuhan dalam kausalitas kejadian di dunia. Kausalitas kejadian di dunia ini meliputi kejadian yang bisa diapahami langsung dan tidak langsung oleh akal manusia. Kejadian yang bisa dipahami langsung akal amnusia adalah karunia pengetahuan dari Tuhan, dan kejadian yang tidak bisa dipahami langsung adalah Tuhan langsung penyebabnya dan Tuhan adalah dzat yang berkehendak baik dalam setiap kejadian.

Inilah pola berpikir seluruh manusia di muka bumi,  harus terus disosialisasikan agar manusia belajar terus mencari dan mengembangkan pemikirannya atas nama Tuhan, dan Tuhan adalah Yang Maha Berkehendak baik atas segala kejadian di muka bumi ini. Wallahu’alam

(Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment