Monday, March 23, 2020

HADAPI CORONA DENGAN 80,5 MILIAR TENTARA


Oleh: Muhammad Plato

Masih ingatkah bagaimana Nabi Muhammad saw merasa ketakutan, kebingungan dan mengurung diri. Setelah wahyu diterima dan kenabian diembannya, maka seluruh Mekah dan saudara-saudaranya menjadi musuh nyata bagi dirinya. Mungkin dalam benak Nabi Muhammad saw bergumam, “kenapa jadi begini? Mengapa jiwa ku menjadi terancam, keluarga tercerai berai, padahal Aku Nabi membawa pesan kebenaran dari Tuhan? Itulah gambaran heurmeunitik saya ketika membaca kisah awal kenabian Nabi Muhammad saw. di Mekah.

Kondisi yang dialami pada awal kenabian Nabi Muhammad saw, mungkin persis seperti sekarang yang dialami oleh umat beragama di Indonesia khususnya umat Islam. Mungkin saja kita juga bertanya, “mengapa jadi begini? Semua kegiatan berhenti padahal tidak sedang perang. Kita tahu musuh kita, tetapi dia tidak terlihat. Kita seperti mendapat serangan dari musuh-musuh yang sudah punya teknologi tinggi, mereka sulit dideteksi dan kita ke sana ke mari tidak tentu arah.

Kita semua seperti orang-orang zaman dahulu, tidak boleh keluar rumah karena ada hantu gentayangan. Kita ketakutan dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Makhluk-makluk halus seperti terus bergerombol dan melakukan serangan, sementara kita tidak melihat di mana posisi mereka. Kita melakukan tembakan ke segala arah tanpa punya kepastian mengenai sasaran atau tidak. Inilah kondisi chaos yang terjadi sebagai tanda dunia sedang menghadapi krisis kemanusiaan.


Tidak semua orang bisa bertahan terus di dalam rumah. Mencari nafkah harus tetap jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aktivitas ekonomi, sosial, politik, mengalami stagnasi. Negara akan mengalami krisis hebat jika wabah tidak segera berlalu. Apa yang harus kita lakukan? Tidak ada solusi kecuali kita menunggu waktu badai wabah berlalu.

Sebagaimana dikisahkan dalam sejarah Nabi Muhammad saw, dalam kondisi ketakutan dan tidak menentu, Allah datang memberi pertolongan dengan menurunkan wahyu, “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (Al Muddatsir, 74:1-8)

Ayat ini mengajarkan kepada Nabi Muhammad untuk tetap optimis, dan bangkitlah untuk tetap menjaga kebersihan, kembali kepada satu Tuhan, dan saling memberi bantuan dengan niat ikhlas dan menjaga tetap sabar di jalan kebenaran. Kita bukan bangsa seperti China, Italia, atau Amerika. Kita bangsa yang penduduknya sebagian besar percaya kepada Tuhan.

Shalat berjamaah tidak memungkinkan, umrah tidak memungkin, ibadah haji pun teracaman batal. Ada satu ibadah yang masih bisa dilakukan yaitu shalat dhuha, shalat malam, karena ini dilakukan sendiri-sendiri.

Untuk memenangkan peperangan, saya mengajak kepada seluruh penduduk Indonesia yang beragama Islam kurang lebih 250 juta orang, untuk bangkit di sepertiga  malam untuk memohon bantuan kepada Allah dengan 11 kali ruku dan sujud merendahkan ketidakberdayaan kita kepada Tuhan.  Jika 250 juta penduduk muslim Indonesia serentak bangkit tahajud setiap hari 11 rakaat, maka setiap malam akan ada 2,75 miliar rakaat mengajukan permohonan kepada Tuhan. Jika gerakan ini dilakukan selama 14 hari maka akan ada 38,5 miliar permintaan naik ke langit ke tujuh tanpa hijab.

Pada siang hari, 250 juta orang, kita lakukan gerakan shalat dhuha 12 rakaat. Maka setiap hari akan ada suara gemuruh memenuhi langit dan bumi sebanyak 3 miliar doa. Jika dilakukan 14 hari maka akan ada suara permohonan kepada Tuhan sebanyak 42 miliar doa. Jika digabung siang dan malam maka akan ada badai yang menyapu Virus Corona dengan pasukan 80,5 miliar pasukan TENTARA ALLAH dari bumi Indonesia tercinta.    

Subhanalloh, gerakan ini tidak akan dimiliki kecuali oleh umat Islam. Gerakan ini tidak mungkin dapat dipahami oleh logika alam China, Amerika, Italia, kecuali orang-orang beriman yang berpikir dengan logika Tuhan dari Indonesia. Virus Corona adalah makhluk ghaib, maka kita hadapi bersama-sama tanpa harus beranjak dari rumah dengan cara-cara yang dapat menghadirkan pasukan ghaib.

Tidak ada salahnya gerakan ini kita coba. Dengan alasan, pertama; tidak ada APBN atau APBD yang mesti dikeluarkan pemerintah. Kedua; program social distancing tetap dilaksanakan karena gerakan ini dilakukan dari rumah masing-masing. Ketiga; jika program ini tidak berhasil tidak ada kerugian sedikitpun untuk pribadi maupun orang lain. Keempat; tahajud dan dhuha bukan ajaran manusia, tapi solusi yang diajarkan dari Tuhan. Kelima; tidak ada yang akan bisa melebihi kekuasaan Tuhan di muka bumi ini.

Gerakan bisa dikomando oleh MUI, para da’i, dan para pemimpin di tiap-tiap RT, RW atau kelurahan. Waktu pelaksanaan ditentukan secara nasional dan disosialisasikan melalui berbagai media. JIka ini dilakukan tidak menutup kemungkinan kejadian-kejadian menggembirakan, keajaiban, akan datang dari Indonesia untuk masyarakat Indonesia dan dunia. Bisa jadi Indonesia akan jadi negara dengan kekuatan ekonomi dunia dan berdaulat dalam menghadapi wabah Virus Corona. Semoga Allah melindungi dan memberi kekuataan kepada kita semua.  Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Logika Tuhan)

1 comment: