Saturday, March 7, 2020

MENGAMATI KEJADIAN SETELAH SHALAT


OLEH: Muhammad Plato

Sudah berjalan kurang lebih dua tahun, program shalat dhuha 12 rakaat setiap hari berjalan. Namun masih ada yang belum merasakan apa dampak dari shalat dhuha. Sejenak saya berpikir apa yang terjadi? Selama itu shalat tidak pernah memberi dampak pada kehidupan sehari-harinya? Lalu apa yang salah?

Di sini pentingnya pengetahuan. Segala sesuatu yang kita rasakan tidak lepas dari informasi yang di proses di otak. Rasa itu kita ketahui melalui informasi apa yang ada di otak. Apa yang dirasakan hati, informasinya tentang sedih, senang, sempit lapang, informasinya diketahui oleh otak.

Shalat bisa dirasakan akibatnya jika shalat dijadikan sebab dalam menyelesaikan masalah. Shalat adalah ajaran gaib yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Shalat seperti obat penawar dari segala penyakit. Dalam blog ini, saya sudah menulis beberapa fungsi shalat bagi kehidupan manusia. Dari fungsi-fungsi itulah kita dapat memahami makna dan merasakan setelah kita shalat.

Sebagai contoh kasus, ketika saya menghadapi masalah besar, saya punya keyakinan bahwa shalat adalah cara memohon pertolongan Allah yang diajarkan Allah kepada manusia. Shalat terbaik selain lima waktu yang telah ditentukan yaitu pada waktu sepertiga malam atau waktu dhuha.  Shalat adalah permohonan pertolongan atas permasalahan apa yang sedang dihadapi.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al Baqarah, 2:186).

Ayat ini menginformasikan bagaimana agar doa bisa dikabulkan oleh Allah. Pertama, lakukan shalat dan mohon pertolongan kepada Allah. Kedua, jagalah prilaku sehari-hari selalu dijalan benar, dengan cara lakukan apa yang diperintahkan Allah dan tanamkan dalam pikiran, keyakinan kepada Allah sebagai dzat pemberi pertolongan. Jangan berhenti berharap dari pertolongan Allah, fokuskan selalu dalam hati dan pikiran.

LANTUNKAN PERMOHONAN MU DALAM SHALAT LALU RASAKAN APA YANG KAMU MOHON DALAM SHALAT DI KEHIDUPAN SEHARI HARI. (MUHAMMAD PLATO)  
Setelah doa dilantunkan dalam shalat, untuk merasakan dampaknya kita harus fokus pada bentuk pertolongan apa yang diminta kepada Allah. Jika bentuknya barang, jodoh, atau kedudukan,  kita harus fokus dan merasakan kapan Allah memberikannya untuk kita. Selama kita menunggu jawaban dari Allah, kita tidak boleh berhenti berkomunikasi dengan Allah dengan keyakinan bahwa Allah pasti mengabulkan, dan terus menerus mengulangi permohonan dalam shalat-shalat yang kita lakukan. 

Lalu tanamkan dalam hati dan pikiran perkataan ini, “jika urusan sudah diserahkan kepada Allah, siapa lagi yang dapat melebihi kekuasaan Allah?”. Perkataan ini akan menyingkirkan segala keyakinan kita kepada selain Allah dan semakin percaya diri bahwa Allah penolong dan penyelamat. Semakin sering kita dekati Allah, semakin sering kita komunikasi dengan Allah, semakin sering kita ingat Allah, semakin sering ingat janji-janji Allah, maka Allah akan meliputi seluruh isi hati dan pikiran kita dengan keyakinan kepada Allah.

Saya melakukan kegiatan ini seperti kegiatan eksperimen, setelah melakukan sebuah tindakan lalu saya mengamati setiap kejadian demi kejadian. Setelah saya shalat memohon pertolongan Allah, saya amati kejadian demi kejadian dikaitkan dengan permohonan yang saya sampaikan dalam shalat kepada Allah. Saya lakukan pengamatan dengan menggunakan catatan harian.

Dari catatan harian penulis pada tahun 2011 diberi amanah menjadi kepala sekolah. Saat itu belum memiliki rumah tinggal. Pada saat menjadi kepala sekolah, program shalat dhuha sudah dilaksanakan di sekolah. Sambil melaksanakan program dhuha di sekolah, terbersit dalam hati penulis untuk punya rumah, dan dhuha ditingkatkan sampai 12 rakaat setiap hari, karena tergiur janji Allah akan menyediakan rumah di surga. Waktu itu penulis pikir, jika di surga disediakan rumah, pasti termasuk disediakan rumah juga di dunia, karena Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tanggal 12 Juli 2013, saya transaksi membeli rumah, sampai sekarang sudah 8 tahun mencicil, tinggal tersisa tiga tahun.

Jika kita perhatikan, dari tahun 2011 doa dipanjatkan, pada tahun 2013 doa dikabulkan Tuhan. Kurang lebih tiga tahunan doa itu saya lantunkan setiap hari dan menjadi kenyataan. Demikianlah lamanya doa dikabulkan sesuai dengan kadar permintaan yang kita inginkan. Jika permintaannya besar maka semakin lama doa itu harus dilantunkan. Demikianlah setelah itu saya lebih berkeyakinan (haqul yaqin) bahwa setiap permohonan pasti dikabul sesuai dengan kadar permohonan yang kita inginkan. Wallahu’alam.

(Master Trainer Logika Tuhan)

No comments:

Post a Comment