Friday, December 26, 2025

PENDIDIKAN FOKUS CETAK PEDAGANG, PENGUSAHA, DAN INVESTOR

Oleh: Muhammad Plato

Menurut Syafii Antonio, semasa hidupnya Nabi Muhammad lebih lama menjadi pengusaha dari pada menjadi nabi. Masa berdagang Nabi Muhammad antara 17 s.d. 37 tahun kurang lebih 25 tahun. Masa kerasulan 40 s.d. 63 tahun kurang lebih 23 tahun.

Selanjutnya beliau menjelaskan, pada usia 12-17 tahun mulai belajar berdagang (magang) mengikuti pamannya Abu Thalib ke luar negeri. Pada usia 17-25 tahun menjadi manajer bisnis dan investasi. Pada usia 25-37 tahun menjadi mitra bisnis sekaligus pengelola perdagangan milik Khadijah setelah menikah. 

Nabi Muhammad dijelaskan di dalam Al Quran sebagai contoh teladan bagi umat manusia. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al Ahzab, 33:21).

Dijelaskan jika ingin hidup sukses, Allah sudah menciptakan model sosok manusia yang layak untuk ditiru prilakunya. Kisah Nabi Muhammad masih terekam utuh di dalam Al Quran dan hadis, dan masih bisa dipelajari hingga sekarang. Kisah Nabi Muhammad dari sejak dalam kandungan hingga meninggal faktanya masih dapat dibuktikan hingga sekarang.

Jika umat Islam benar-benar ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad yang dijadikan oleh Allah sebagai contoh teladan, seharusnya sebagian besar umat Islam bekerja menjadi pedagang, pengusaha, dan investor. Menjadi pekerja tidak jadi prioritas tujuan hidup seorang muslim. Bekerja hanya dilakukan untuk belajar mencari pengalaman atau magang.

Kisah Nabi Muhammad bisa jadi inspirasi dalam pengembangan pendidikan di sekolah-sekolah. Sejak TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB, murid-murid harus diajarkan bagaimana menjadi pedagang, pengelola bisnis, dan investor. Semua mata pelajaran diarahkan untuk membentuk mental-mental pedagang, pengusaha, dan investor. 

Kedudukan mata pelajaran tidak berdiri sendiri, tetapi sebagai alat untuk memberi penguatan pada murid-murid yang akan dibentuk menjadi pedagang, pengusaha, dan investor. Semua mata pelajaran bergerak bersama mengajarkan ilmunya secara kontekstual untuk membentuk pribadi seorang pedagang, pengusaha, dan investor. 

Pengajaran harus dilakukan secara mendalam melalui pemahaman, praktek, dan refleksi. Pendidikan-pendidikan muslim dengan model pesantren, boarding, dan full day, semua serampak membentuk pribadi-pribadi muslim sebagai pedagang, pengusaha, dan investor. 

Sejak usia 12 tahun murid-murid muslim diajarkan untuk berdagang. Murid-murid diberi keterampilan hidup melalui praktek langsung sesuai bakat dan minat murid-murid. Kemudian murid dilatih merancang sebuah bisnis dengan target penghasilan yang ditetapkan. Selanjutnya, ketika mendapat penghasilan murid dilatih untuk berivestasi di pasar modal. 

Dalam pengelolaan hasil keuntungan murid-murid dilatih untuk mengalokasikan keuntungan minimalnya pada tiga kategori, yaitu makan, sedekah, dan investasi. Karakter ini harus dibangun sejak dini untuk membentuk pribadi-pribadi unggul dan kompeten.

Gerakan ini harus terus dikembangkan menajadi sistem pendidikan terencana, terukur, dan terkontrol. Upaya ini semata-mata dilakukan untuk menciptakan kehidupan dunia lebih damai dan sejahtera sebagaimana prinsip ajaran Islam sebagai ramhat bagi seluruh makhluk. 

Di dalam pembelajaran praktek, murid-murid harus menerapkan etika dan moral yang harus dimiiliki seorang pedagang, pebisnis, dan investor. Etika dan moral dikembangkan dari nilai-nilai ketuhanan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh makhluk di muka bumi.*** 


Thursday, December 25, 2025

BERHAJI TANPA KE MEKAH

Oleh: Muhammad Plato

Berdasarkan informasi dari media massa pada tahun 2026, di Indonesia jika seseorang mau melaksanakan ibadah haji harus mengantri 26-24,4 tahun. Antrian cukup panjang dan belum tentu niat ibadah haji seseorang bisa terlaksana karena ajal siapa yang tahu.

Jika ingin ibadah haji cepat tanpa antrian, bisa mendaftar melalui program haji furoda. Resikonya harus mengeluarkan biaya lebih tinggi. Tahun 2026 biaya yang harus dikeluarkan kisaran 315 juta hingga 498 juta per jemaah.  

Mengapa antrian begitu panjang, dan kalau mau cepat mahal? Saya tidak akan membahas faktor teknis penyebab antrian panjang dan biaya mahal. Saya ajak pembaca kembali ke masalah spiritual. Membaca fenomena ini dari pesan keagamaan untuk penganut agama Islam.

Allah mendatangkan masalah agar manusia berpikir. Tujuan berpikir untuk memberi makna dan mencari solusi. Makna antrian ibadah haji, bisa jadi pesan pada umat Islam untuk memahami dan mendalami kembali kadar keislaman. 

Rukun Islam ada lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Jika kita berpikir rukun Islam sebuah tingkat keberagamaan seseorang maka ibadah haji adalah puncak spiritual seseorang. Untuk mencapai puncak spiritual tentu harus menempuh tingkat demi tingkat. Umpama kita berpendidikan tidak ujug-ujug langsung loncat ke-S1, tapi harus selesaikan dahulu tingkat pendidikan dibawahnya. 

Nah, antrian panjang bisa mengandung pesan. Sebelum berangkat ibadah haji perbaiki dulu pemahaman keberagamaan setingkat demi setingkat. Kemampuan haji bukan karena ada kemampuan uang, tapi harus dibarengi dengan kualitas keberagamaan secara mendalam. Berhaji tanpa dibarengi dengan pemahaman mendalam, takutnya ketika shalat di Baitullah seperti yang dikabarkan di dalam Al Quran. 

"Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu." (An Anfaal, 8:35).

Kekafiran bukan saja dialamatkan pada kelompok penyembah selain Allah, tapi pada orang-orang yang berpaling ketika ditegur oleh Allah. Ketika kita disuruh membaca, tapi kita tidak suka membaca prilaku ini bagian dari kekafiran pada perintah Allah. Ketika diperintah shalat lima waktu tapi tidak shalat ini bagian kekafiran, ketika diperintah sedekah tetapi kita kikir, maka itu bagian dari kekafiran pada perintah Allah.  

Idelanya mereka yang melaksanakan haji, sudah memiliki keimanan dan ketakwaan kokoh kepada Allah, ditandai dengan disiplin shalat bahkan berjamaah di masjid, plus dengan shalat sunah. Selanjutnya karakter calon jamaah haji sudah meenunjukkan sosok ahli sedekah, zakat, dan infak, dari harta terbaik yang dimilikinya. Para calon jamaah haji sudah punya karakter dermawan tidak takut kehilangan uang karena sedekah. Puasa sunah menjadi bagian dari rutinitas dalam keseharian.

Pesan selanjutnya mengapa antrian haji begitu lama? Bisa jadi peringatan dari Allah perbaiki dulu shalat dan sedekah mu. Ketika ibadah haji ratusan juta diupayakan, tapi mengapa nasib orang tua, fakir miskin, anak yatim, jompo, rumah korban banjir, sekolah rusak, gaji guru rendah, malah cenderung terabaikan. 

Mengeluarkan uang ratusan juta untuk bantuan-bantuan sosial memang tidak  ada gelar yang disematkan seperti gelar "H" setelah ibadah haji ke Mekah. Apakah para dermawan harus diberi gelar "D" agar punya prestise di mata masyarakat? Tapi kita yakin, dalam ibadah bukan gelar yang dikejar tetapi keridhaan Allah. 

Jika kita bandingkan ibadah sedekah, zakat, dengan haji, mana yang lebih berdampak bagi umat manusia? Ibadah haji memang lebih fokus urusan pribadi masing-masing. Sekalipun ratusan juta dikeluarkan. Dampak seseorang yang beribadah haji tidak langsung pada penerima sedekah seperti yang dijelaskan dalam Al Quran.

Bisa jadi antrian panjang adalah pesan kepada umat Islam, perbaiki ibadah sedekah mu, agar kesejahteraan merata kepada seluruh umat manusia. Perbaiki ibadah sedekah mu, agar Islam benar-benar terlihat menjadi rahmat bagi seluruh makhluk.

Jangat takut untuk tidak bergelar haji, Nabi Muhammad memberikan alternatif bagaimana cara agar mendapat pahala haji, sekalipun belum punya kesempatan berangkat haji tapi bisa mendapat pahala haji. 

"Nabi Muhammad SAW bertanya: 'Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?' Orang itu menjawab: 'Ibunya masih hidup.' Nabi bersabda: 'Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah, dan berjihad'." (HR. Ath-Thabrani). 

Para calon haji, jangan terlantarkan orang tua, bahagiakan mereka, bersyukurlah kepada mereka, itulah sebaik-baiknya haji sekalipun membahagiakan orang tua tidak akan mendapat gelar "H".

"Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu melaksanakan shalat dua rakaat (shalat Isyraq/Dhuha awal), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna." (HR. Tirmidzi). 

Para calon haji, tingkatkan keimanan dengan bangun subuh tiap hari dan penuhilah masjid setiap subuh. Jaga dua rakaat shalat dhuha di awal maka mereka  akan mendapat pahala haji sekalipun tanpa gelar "H".

Antrian haji bisa jadi membawa pesan, mengapa orang-orang bergelar haji tambah banyak tetapi kepedulian sosial tidak mengalami peningkatakan. Jumlah jamaah shalat subuh di masjid tidak meningkat, kelaparan, dan rumah-rumah janda serta yatim piatu yang rapuh, tidak layak huni, tidak mendapat perhatian untuk mendapat pahala haji.

Sambil menunggu antrian, mari kita penuhi masjid setiap subuh, bahagiakan orang tua, beri makan fakir miskin, dan anak yatim, agar kita bisa berhaji setiap hari, dan semoga Allah mempermudah segala urusan haji kita.***  


Sunday, December 21, 2025

KEMANDIRIAN BERPIKIR

Oleh: Muhammad Plato

Di era informasi, kelebihan dan kekurangan sebuah pemikiran bisa terbuka, teridentifikasi dengan bantuan teknologi informasi. Semua orang bisa membuktikan tidak ada hasil pemikiran sempurna. Novi Basuki penulis buku Islam Di China Kini dan Dulu, mengatakan bahwa salah satu ukuran kebenaran pemikiran adalah mempraktekannya. Ketika sudah dipraktekan akan terlihat manfaat dan madharatnya. 

Di era semakin terbuka, sebuah masyarakat tidak lagi fanatik pada satu budaya dengan menolak budaya lain. Setiap budaya sudah sunatullah memiliki dua sisi, yaitu lebih dan kurang. Ego kelompok dalam mempertahankan pemikiran sudah tidak bisa jadi gaya hidup di era teknologi saat ini.

Di dalam beragama, bukan saatnya lagi memeprtahankan pemikiran dari madzab-madzab tertentu hanya karena ingin membela sebuah identitas pemikiran kelompok, sementara kita sudah tahu setiap pemikiran yang dianut sebuah kelompok pasti memiliki sisi kurang dan lebih. 

Saat ini berlaku peribahasa, "tidak ada lagi kucing hitam atau putih, asal bisa menagkap tikus itu yang dibutuhkan". Demikian juga dalam beragama, tidak ada lagi pemikiran kiri atau kanan, asal bisa menyelesaikan masalah menyelasaikan masalah umat, itulah yang dibutuhkan.

Pemikiran beragama bukan lagi dikondisikan oleh kepentingan kelompok, pemikiran beragama dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah kejahiliyahan, itulah yang dibutuhkan. Sumber agama bukan lagi berkiblat pada kelompok-kelompok pemikiran, tapi kepada sumber yang sudah dijamin kebenarannya yaitu kitab suci dan sunnah. 

Dalam beragama tidak ada lagi kendali dari lembaga-lembaga yang mengatasnamakan agama, tetapi kendali berdasarkan pada ajaran agama dari kitab suci yang diimani bersama. Keberagamaan tidak lagi dipandang sebagai kepatuhan pada kelompok aliran agama, tapi pada ajaran agama sebenarnya.

Setiap umat beragama punya kemandirian berpikir dalam beragama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Setiap umat beragama boleh memilih apa yang akan dilakukan berdasarkan ajaran agama agar dirinya terbebas dari dosa dan masalah-masalah dunia yang bisa menjerat dirinya ke jurang neraka. 

Era informasi telah menuntut semua orang bertindak berdasarkan penelitiannya sendiri karena ilmu pengetahuan agama sudah menjadi milik semua orang bukan seorang atau kelompok orang yang punya otoritas.

Di era teknologi informasi tidak ada lagi yang bisa mengaku sebagai paling ahli, karena setiap orang sudah bisa mengetahui kekurangan setiap orang. Setiap orang yang dipandang ahli, hanya paham pada sedikit bidang yang digeluti.

Para pakar saat ini adalah bukan mereka yang merasa lebih tahu, tetapi mereka yang punya rasa hormat pada pendapat setiap orang, karena sadar setiap orang hanya diberi sedikit tahu tentang sesuatu. 

Para pakar saat ini adalah mereka yang suka mendengar pendapat orang lain untuk berdiskusi mendapatkan pemahaman dan solusi dari permasalahan yang sedang dihadapinya dari sudut pandang orang lain. 

Saat ini dituntut manusia-manusia mandiri dalam berpikir. Kemandirian dalam berpikir merupakan bukti bahwa seseorang punya kompetensi dan bisa berkolaborasi untuk memecahkan masalah kehidupan bersama-sama.

Buat apa kita mempertentangkan kelompok dan aliran beragama, kalau hidup kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dalam ajaran agama. Buat apa kita terus membangga-banggakan negara kaya dihadapan bangsa lain, pada faktanya hidup kita jauh lebih miskin dari bangsa lain.

Tidak peduli pemikiran barat atau timur, tidak peduli aliran kiri atau kanan, tidak peduli madzab ini madzab itu, yang penting bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat maka keputusan ada pada pribadi masing-masing. 

Manusia-manusia pembelajaran akan belajar terus untuk keluar dari masalah yang dihadapi. Manusia-manusia malas, dia akan terus mencari alasan untuk tidak berubah, padahal dirinya sedang ada dalam masalah.***


Sunday, December 14, 2025

APA SEBAB KEJATUHAN BANGSA?

Oleh: Muhammad Plato

Penyebab kejatuhan peradaban bukan karena serangan bangsa luar. Sebab kejatuhan peradaban akibat kemapanan dan kesenangan. Kehidupan nyaman membuat kehilangan daya juang untuk bertahan hidup. 

Dalam kisah jatuhnya kekuasaan Spanyol Islam, Alkhateeb (2016) menceritakan kondisi penduduk Andalusia merasa senang, terlena, dan tidak ingin meninggalkan kenyamanan hidup untuk mempertahankan Spanyol Islam. Kelesuan penduduk merambat ke pemerintahan. Pada saat itu konflik perebutan kekuasaan di antara keluarga umum terjadi.

Pada tahun 1009 Bani Umayyah jatuh, persatuan politik Andalusia tenggelam dalam lumpur perebutan kekuasaan dan perang sipil. Orang-orang Islam membayar orang kristen untuk menyerang dan melemahkan orang Islam. Dalam situasi mendorong tumbuhnya militer dan ekonomi Spanyol Kristen.


Paus Innocent II menyerukan perang salib pan-Eropa. Di bawah pimpinan Alponso VII dari Castile menyerang, mengakibatkan 100 ribu korban perang dari kubu muslim. Masjid agung berubah menjadi katedral Katolik dengan kapel raksasa di tengah bangunan.

Sejak berkuasa Spanyol Kristen, penduduk Spanyol yang tadinya mayoritas muslim dipaksa untuk masuk Kristen. Penduduk yang sukarela masuk kristen mendapat hadiah emas dan yang tidak mau, mereka mendapat pelecehan dan ancaman hukuman mati. 

Dari kisah sejarah, Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk belajar. Dosa adalah ketidaktaatan manusia pada prinsip-prinsip ketuhanan. Kekuasaan menjadi rebutan bukan sebagai tanggungjawab menuju kehidupan damai dan sejahtera.  "Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa." (An Naml, 27:69).

Ketika sebuah peradaban bangsa akan hancur, yang pertama Allah cabut adalah kenikmatan hidup. Salah satu bentuk kenikmatan hidup yang dicabut Allah dari sebuah bangsa adalah rasa persatuan. Faktor pertama sebuah bangsa bisa hidup tentram dan damai adalah rasa persatuan. Ketika nikmat rasa persatuan dicabut, maka kedamaian dan kesejahteraan akan hilang. 

Maka Allah memerintahkan untuk memegang teguh kepada umat manusia untuk tidak berpecah belah. Rasa persatuan yang ada dalam setiap hati manusia adalah nikmat yang diberikan Allah untuk sebuah bangsa. 

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara;..." (Ali Imran, 3:103).

Kekacauan dalam jangka waktu lama akan melahirkan kekuatan, dan kenyamanan dalam jangka waktu lama akan melahirkan kelemahan. Untuk mempertahankan kejayaan bangsa dibutuhkan pemimpin yang mampu menjaga persatuan. 

Lahirnya pemimpin yang bisa mempersatukan bisa dilihat dari cara suksesi kepemimpinan suatu bangsa. Pergantian pemimpin harus melalui musyawarah untuk menghasilkan mufakat. Selanjutnya kemampuan seorang pemimpin yang mempersatukan teruji dari kemampuannya dalam mensejahterakan masyarakat. 

Lahirnya pemimpin dari cara-cara kekerasan atau kudeta, tidak akan melahirkan rasa persatuan. Kepemimpinan yang lahir dari cara kekerasan atau kudeta, akan melahirkan pemberontakan tidak berkesudahan. 

Menjaga peradaban sebuah bangsa merupakan upaya para penguasa untuk tetap setia pada nilai-nilai ketuhanan. Ketika para pemimpin bangsa mengabaikan nilai-nilai ketuhanan, sedikit demi sedikit kejayaan bangsa akan terus turun menuju jurang kehancuran. 

Bukan serangan bangsa luar, bukan karena bencana alam sebuah peradaban hilang, tapi karena perilaku-perilaku pemimpin peradaban yang sudah tidak peduli pada tata nilai hidup dari Tuhan yang esa. Ketika dunia fana menjadi tujuan hidup para penguasa, maka rasa kemanusiaan dan kepedulian pada alam hilang seiring dengan hilangnya kejayaan sebuah peradaban.***  

Wednesday, December 10, 2025

KALAU BERDEBAT JANGAN MENCELA

Oleh: Muhammad Plato

Jika seorang pendebat mengemukakan celaan kepada lawan debat, tinggalkan perdebatan. Seorang pendebat yang mencela lawan debat akan mengundang kebencian dan bukan ilmu yang disampaikan, tapi permusuhan. Allah mengisyaratkan dalam Al Quran. "dan bantahlah mereka dengan cara yang baik" (An Nahl, 16:125).

Ciri dari orang berilmu jika berdebat tidak mencela. Ketika orang berilmu mencela pendapat orang lain, maka dia telah menjadi pemilik kebenaran sedangkan kebenaran bukan miliknya. Tugas orang berilmu adalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, untuk mengajak orang berpikir melakukan refleksi.

Syeh Abdul Qadir Al-Jailani membagi ilmu menjadi empat, yaitu syariat lahiriah berupa hukum-hukum, syariat batiniah disebut ilmu tarekat, tarekat batiniah disebut makrifat, dan batiniah batin disebut ilmu hakikat. Nabi Muhammad bersabda, "syariat bagaikan pohon, tarekat bagaikan cabangnya, makrifat bagaikan daunnya, dan hakikat adalah buahnya".


 
Menurut Al Jailani pada setiap tingkatan ilmu, ada hawa nafsu akan datang menggoda. Pada level syariat hawa nafsu menggoda mengajak melakukan sesuatu berlawanan dengan syariat. Pada level tarekat, hawa nafsu menggoda mengajak melakukan sesuatu sesuai syariat tetapi menipu, dengan mengaku nabi atau wali. Pada level makrifat nafsu mengganggu dengan berbuat syirik dengan mengaku tuhan.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, (Al Jaatsiyah, 45:23).

Al Jailani mengatakan, pada level hakikat setan, nafsu, malaikat, tidak dapat masuk, karena selain Allah semua makhluk akan terbakar. Pada level hakikat nafsunya sudah mendapat rahmat dari Allah.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf, 12:53). 

Musuh terbesar dari orang-orang berilmu adalah hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda, "musuh mu yang paling berbahaya ialah hawa nafsu mu yang berada di antara kedua lambung mu". Musuh itu ada dalam wujud diri seperti nafsu amarah (jiwa tiranik), Nafsu lawamah (jiwa mencela diri sendiri), dan nafsu mulhamah (jiwa yang terilhami).  

Jiwa-jiwa terilhami menjadikan Al Quran sebagai pedoman dalam setiap langkah. Jiwa terilhami mereka tetap menjadi manusia dan menyatakan dirinya sebatas menyampaikan kebenaran dari Allah yang telah disampaikan kepada Rasulnya.

Orang yang sudah mencapai ilmu hakikat, semua ucapannya kebaikan bagi diri dan yang mendengarnya. Mereka lebih banyak sadar tentang dosa-dosa batin yang dilakukannya. Sehingga Rasulullah mencontohkannya dengan beristigfar setiap hari 100 kali. Sebagaimana Allah berfirman, "mohon ampunlah atas dosamu." (Muhammad, 47:19).

Buah dari Ilmu adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw, "berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah". Manusia yang sudah bekahlak dengan akhlak Allah, sifat-sifatnya mengikuti sifat Allah. Allah berfirman dalam hadis Qudsi, "jika Aku telah mencintai hamba, Aku akan menjadi pendengarannya, penglihatannya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Maka dengan Ku dia mendengar, dengan Ku dia melihat, dengan Ku dia berbicara, dengan Ku dia marah, dan dengan Ku dia berjalan.".

Mencela bukan sifat dari manusia berilmu, karena manusia bukan Tuhan. Manusia berilmu berakhlak dengan akhlah Allah, dan Allah dikenal dengan sifat-sifat baik. Maka seluruh pekataan yang keluar dari mulut orang berilmu mengandung kebaikan dari Allah.***