Sunday, November 10, 2019

PASSIVE INCOME

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sahabat sekalian, pernah terpikir tidak untuk hidup dengan passive income? Saya juga berpikir begitu, ingin rasanya hidup dengan kondisi keuangan passive income. Jika saya pada posisi itu, saya berimajinasi, akan saya dunakan uang yang saya miliki untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Ketika ada orang yang sedang bangun masjid, tak perlu ngencleng di pinggir jalan. Saya akan panggil panitia pembangunan masjid dan ditanya berapa dana yang dibutuhkan. Saya akan segera penuhi sampai selesai. Ketika ada anak jalanan, saya tanya apakah mereka mau hidup layak? Lalu saya siapkan sekolah dan pekerjaan untuk mereka. Ketika ada orang-orang sulit cari pekerjaan, saya ajak mereka untuk mengembangkan bisnis bersama-sama. Bahagia rasanya jika hidup ini bisa menyelesaikan masalah-masalah kehidupan masyarakat.

Namun bagaimana caranya supaya hidup ini bisa ada pada posisi passive income? Alternatif pertama; kita harus memulai bisnis dan mengembangkan bisnis hingga beromset miliaran. Kita harus berani mengawali bisnis-bisnis dari hal kecil. Rumus memulai bisnis adalah kunfayakun! Artinya kerjakan, action, dan berproseslah dari satu, dua, tiga, dst. Ketika kita memulai bisnis sekalipun kecil, kita harus melakukannya. Tanpa melakukan kita tidak akan pernah punya kesempatan sukses. Ternyata, sudah beberapa tahun mencoba bisnis, saya belum menemukan bisnis yang bisa mememberi dan menambah penghasilan sampai passive income.

BEKERJA ADALAH MELAKSANAKAN PERINTAH TUHAN, UNTUK MELAYANI, MEMUHI KEBUTUHAN ORANG LAIN. (MUHAMMAD PLATO) 
Namun saya tidak pernah putus asa untuk bisnis, karena niat bisnis saya yang utama bukan cari untung dulu, tapi cari rugi alias cari pengalaman, percobaan, atau ilmu bisnis. Dan tujuan bisnis paling dasar sekali adalah membantu orang. Alhamdullillah, sampai sekarang beberapa bisnis sudah memberi keuntungan dalam bentuk membuka lapangan pekerjaan, sekalipun saya tidak dapat untung material sepeser pun setiap bulan. Setiap bulan bisnis saya secara material rugi, tetapi karena niatnya bantu orang, setiap bulan saya keluarkan uang dari kantong sendiri yang penting bisnis tetap jalan dan orang tetap punya pekerjaan. Saya serahkan urusan rezeki kepada Tuhan.

Alternatif kedua, agar bisa sampai pada posisi passive income adalah dengan menyederhanakan hidup dan total berserah diri kepada Tuhan.  Setelah saya amati ternyata hidup ini hanya apa yang kita makan dan pakai setiap hari. Baju tidak lebih dari tujuh potong sesuai jumlah hari, dan makanan tidak lebih dari tiga piring yang kita makan sehari. Baju yang numpuk di lemari tidak bisa saya pakai semua, karena setiap hari pakai baju kerja yang sudah dijadwal pemakaiannya dan baju bebas ketika libur. Banyak baju yang tidak bisa saya pakai. Baju yang tidak bisa saya pakai adalah passive income yang bisa saya dermakan untuk bantu orang. Makanan pun tidak lebih dari tiga piring sehari, dan bisa saya penuhi dengan sedikit nasi, ikan, dan sayuran dengan harga 2000 satu ikat yang bisa digunakan beberapa kali makan.

Saya berkesimpulan kondisi passive income yang mungkin disa dialami oleh setiap orang adalah dengan menyederhanakan hidup, dengan memilih waktu makan ketika lapar, membeli pakaian ketika butuh, membeli kendaraan berdasarkan fungsinya dan meminimalisir aksesoris hidup. Hindari utang dengan cara riba, dan berutang hanya untuk investasi.

Untuk mendukung hidup sederhana bisa dibangun pola pikir total surrender, menyerahkan segala urusan rezeki kepada yang mengurus semua makhluk yaitu Tuhan. Tota surrender adalah bekerja dengan niat membantu kesulitan orang, disiplin, full power, dan membiarkan urusan rezeki dijamin Tuhan yang punya ketentuan pasti. Passive income adalah suatu keadaan ketika pada posisi, wamaa umiruu illaa liya’budulloha mushlisiina lahuddin. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyin, 98:5). Orang-orang yang berkarakter passive income adalah mereka yang dalam segala kondisi tetap shalat (teguh berkeyakinan dan berharap pada Tuhan), dan zakat (tetap komitmen untuk membantu sesama).

Pada posisi “kemurniaan ketaatan”, seseorang sudah mencapai derajat merasakan rezeki banyak tetapi kebutuhan material untuk pribadi harmpir tidak ada. Artinya, posisi passive income seseorang akan terjadi jika seseorang berhasil menekan seminimal mungkin kebutuhan pribadi.  Aktivitas sehari-harinya menjadi aktivitas kemurnian ketaatan kepada Tuhan, pada posisi ini rezeki orang akan diangkat dan dijamin oleh Allah kehidupannya hingga sempurna rezekinya di dunia dan akhirat. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment