Friday, August 21, 2020

GULMA KETAUHIDAN

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketauhidan adalah inti ajaran agama. “Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al Qashash, 28:70).

Jika semua tindakan manusia diawali dari hati dan pikiran, maka menjaga hati tetap fokus pada Allah adalah ketauhidan yang harus dijaga. Hati bekerja dalam dua tindakan yaitu cinta dan benci. Hati yang akan mengendalikan kemana pikiran bekerja. Indera manusia penerima stimulus, hati akan mengendalikan informasi hasil indera untuk ditindaklajuti.

Argumentasi, anilisis, sintesa, imajinasi, adalah kerja akal untuk mengembangkan informasi dari hasil indera atas dorongan hati. Kemana hati cenderung maka informasi akan terus dikembangkan oleh pikiran. Jika hati cenderung cinta maka pikiran akan mengembangkannya menjadi jalan yang akan terus ditempuh. Jika hati cenderung benci maka pikiran akan mengembangkannya menjadi jalan yang akan terus ditempuh.  Hati dan pikiran letaknya satu sirkuit yang tidak terpisahkan. Di dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW berkata, maka mata saya melihat, telinga saya mendengar, dan hati saya berpikir.“ (HR. Ad Dzarimi).  Jadi antara hati dan akal sama-sama bekerja dalam berpikir.

Ketauhidan adalah kecenderungan hati dan akal untuk menjadikan Allah satu-satunya Tuhan yang ditaati. Ada tuhan-tuhan yang selalu menggangu hati dan akal untuk mengganggu ketauhidan, yaitu alam dengan syihir, dan manusia dengan bisikan.  

Pertama, “katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh (Al Falaq, 113:1). Allah mengisyaratkan bahwa “subuh” adalah alam yang senantiasa mengganggu ketauhidan manusia kepada Allah. Refresentasi alam adalah segala hal yang bersifat materi. Manusia hidupnya sangat terikat dengan materi. Prilaku manusia tanpa disadari banyak dikendalikan oleh keadaan materi. Subuh, siang, malam, gelap, terang, panas, dingin, lapang, sempit, lapar, haus, memengaruhi setiap tindakan manusia. Ketauhidan manusia kepada Tuhannya, tidak boleh menyimpang karena kondisi alam. Manusia harus tetap menyembah Tuhan Esa dalam kondisi sempit dan lapang itulah ketauhidan. Menyembah patung, pohon, batu, hewan, adalah keterjebakkan manusia karena alam materi.

“dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” (Al Falaq, 113:4). Sihir adalah dunia ghaib yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Sihir adalah ilmu pemikiran manusia yang ghaib yang tidak memiliki dasar penjelasan dari kitab suci. Ilmu sihir merupakan spekulasi manusia terhadap kejadian dengan bukti empiris. Banyak manusia meyakini ilmu sihir, ilmu buatan manusia di alam untuk mencapai tujuan-tujuan hidup di dunia. Orang-orang ini cenderung dikendalikan oleh alam dan ilmu buatannya.  Alam dan ilmu buatannya menjelma menjadi Tuhan yang ditaatinya. Penampakkan-penampakkan adalah fenomena alam yang bisa mengganggu ketauhidan.  

Kedua, “Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” Allah mengisyaratkan bahwa manusia adalah pengganggu ketauidan manusia dalam menyembah Tuhan. Manusia-manusia pengganggu ketauhidan adalah manusia seperti Fir’aun, manusia egois, berkecukupan, berkedudukan, dihormati, dan ditakuti  Manusia Fir’aun sangat mendominasi kehidupan manusia, dan menjelma memaksa menjadi tuhan manusia yang ditaati.

“dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,” (An Naas, 114:4). Selain wujud manusianya, pemikiran, ideologi, gagasan, yang diciptakan manusia dapat menjadi tuhan yang ditaati manusia. Berbagai pemikiran manusia dipelajari dan dijadikan pedoman dalam hidup manusia.

Jadi dua hal yang dapat menggangu ketahuidan manusia adalah alam dengan sihirnya dan manusia dengan pemikirannya. Manusia kadang hidup di luar kesadarannya, yaitu ketika melakukan sesuatu tanpa ingat kepada Tuhannya. Manusia-manusia bertahuid adalah manusia yang punya kesadaran bahwa setiap tindakannya selalu di atas takdir Tuhan, atau manusia yang sadar setiap tindakannya di atas perintah Tuhan. Manusia-manusia yang tidak bertahuid kepada Tuhan adalah manusia yang segala tindakannya dikendalikan karena merespon alam dan hukumnya atau manusia dan ideologi-ideologi yang diciptakanya.

Alam, hukum alam, manusia, dan pemikirannya, bisa menjadi penyakit ketauhidan manusia. Inilah gulma ketauhidan. Manusia-manusia bertauhid kepada Tuhan YME, mereka bertindak atas perintah Tuhan untuk menjalani segala kehidupan di alam dan sesama manusia dengan mengikuti segala petunjuk-Nya. Segala sesuatunya diawali dengan nama Allah yaitu bismillahirohmanirrohiim.  Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment