Sunday, July 16, 2023

KISAH SEJARAH YANG WAJIB DIKETAHUI UMAT MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Cerita Kabil dan Habil dikenal sebagai kisah Qabil dan Habil atau Kisah Cain dan Abel. Cerita ini terdapat dalam Al Quran dan Al Kitab. Kisah ini menceritakan tentang dua putra Nabi Adam dan Hawa, yaitu Kabil (Cain) dan Habil (Abel). 

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maa'idah, 5:27).

Informasi dari Al Quran ini menjadi sebab betapa pentingnya kisah dua anak Nabi Adam ini untuk dikisahkan pada seluruh umat manusia. Kisah sejarah yang ditulis dalam Al Quran ini sanngat mengandung pesan ketauhidan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, hidup kita tidak lepas dari pengorbanan, karena berkorban adalah takdir Tuhan yang tidak dapat dihindari jika manusia ingin mendapat kesejahteraan hidup di dunia maupun akhirat. Dengan berani berkorban hidup manusia akan terbebas dari sifat-sifat buruk. 

Dalam berbagai kasus dalam kehidupan di muka bumi ini, semua kenikmatan yang diinginkan manusia harus dilalui melalui pengorbanan. Namun demikian, tidak semua pengorbanan yang dilakukan manusia dapat menjadi sebab keberkahan hidup, karena ada pengorbanan yang diterima oleh Allah dan ada yang tidak. 

Sebagaimana kisah Kabil, sekarang ada orang yang berani berkorban demi untuk mendapat cinta kasih dari seseorang. Ada kisah orang berani berkorban demi untuk mendapatkan pekerjaan. Ada juga orang yang berani berkorban untuk mendapat pujian dari orang lain. Ada juga orang yang habis-habisan berkorban demi untuk mendapatkan kekuasaan. Orang-orang seperti inilah yang tidak diterima pengorbanannya oleh Allah, karena pengorbanannya fokus kepada apa yang diinginkannya di dunia. 

Ada juga orang-orang seperti Habil, orang-orang ini melakukan pengorbanan dengan berharap pada cintanya Allah, kesejahteraan dari Allah, kekuasaan dari Allah, pujian dari Allah dan surga dari Allah. Semua pengorbanannya difokuskan kepada Allah, dan inilah orang-orang yang ikhlas dengan berserah diri pada Allah sebagai pemilik segala akibat dari pengorbanan yang dilakukannya.

Kisah Kabil dan Habil adalah dua kisah perjalanan umat manusia yang berusaha keras berkorban berada di jalan lurus yaitu jalan yang fokus kepada Allah, dan orang yang berusaha keras berkorban namun harapannya bukan kepada Allah. 

Kisah sejarah ini, Allah perintahkan kepada umat manusia, sebagai bahan refleksi diri. Apakah pengorbanan-pengorbanan yang selama ini dilakukan fokus kepada Allah atau untuk fokus untuk mendapatkan keinginan-keinginan nafsu semata, yang mengabaikan ketentuan dari Allah? Orang-orang yang fokus kepada Allah, akan melakukan pengorbanan demi mendapatkan apa-apa yang telah dijanjikan Allah, bukan untuk keinginan hawa nafsu semata.

Allah mengatakan hanya orang-orang berakal sehatlah yang akan mendapat pelajaran dari kisah Kabil dan Habil. "Allah menganugrahkan al hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Al Baqarah, 2:269).***

Wednesday, July 12, 2023

SUKSES VERSI LOGIKA TUHAN

Oleh: Muhammad Plato

"dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. (Al Baqarah, 2:4). Inilah dasar pembentuk konsep sukses.

Sukses memiliki banyak perspektif. Secara garis besar kesuksesan dapat dilihat dari dua dunia yaitu dunia materi dan dunia non materi (akhirat). Orang-orang atheis yang tidak percaya akhirat, kesuksesan hidupnya hanya diukur dari dunia materi.

Perbedaan cara pandang terhadap kesukses disebabkan oleh keyakinan manusia diantara dua dunia. Manusia-manusia yang tidak percaya pada kehidupan setelah kematian akan memandang bahwa kesuksesan merupakan sesuatu yang harus terjadi di dunia dan ukurannya sangat material.

Manusia-manusia yang percaya pada akhirat memandang bahwa kesuksesan hanya akan terjadi di akhirat. Sebab segala perbuatan di dunia akan diadili di akhirat. Bagi mereka yang berpilaku buruk di dunia maka mereka akan jadi orang gagal selamanya di akhirat. 

Bagi orang-orang yang tidak percaya akhirat, kesuksesan itu diukur berdasar materi, misalnya kendaraan, kedudukan, rumah, kebun, perusahaan, uang, dll. Kesuksesan yang dipandang sangat material menimbulkan kecemburuan sosial dari lapisan masyarakat yang tidak punya materi.

Sementara, bagi orang-orang yang percaya pada kehidupan setelah kematian kesuksesan tidak tergantung pada materi, tetapi tergantung pada keimanan kepada Tuhan Yang Esa, dan kemampuan berprilaku baik sesuai ketentuan Tuhan selama hidup di dunia. Ukuran kesuksesan ini tidak akan menimbulkan iri dari manusia lain, karena orang-orang sukses yang orientasinya ke akhirat tidak akan menonjolkan hal-hal yang bersifat materi. 

Orang-orang yang terlalu berorientasi sukses kepada akhirat, cenderung tidak mengedepankan kehidupan materi, mereka akan hidup sederhana, bahkan tampil sesederhana mungkin. Orang-orang tasawuf, memiliki pandangan keakhiratan yang tinggi. Sehingga kesuksesan hidup bagi mereka adalah menyatu dengan Tuhan dengan meninggalkan kehidupan gemerlap dunia karena bersatu dengan Tuhan tidak butuh materi. Para ahli tasawuf tampil seperti orang miskin. 

Kesuksesan di dalam Al Quran mengandung dua konsep di dunia dan akhirat. Kesuksesan di dalam Al Quran tidak menafikan kehidupan dunia juga tidak terlalu menonjolkan akhirat. Di dalam konsep Al Quran, perbuatan dosa yang dilakukan oleh seseorang karena orang tersebut melakukan sesuatu secara berlebihan atau melampaui batas. 

Keimanan seseorang tercermin dalam kehidupan yang sejahtera di dunia dan akhirat. Nabi Muhammad SAW tidak mengasingkan diri dari kehidupan dunia, tetapi dia juga tidak mementingkan dunia. Kesederhanaan hidup menjadi konsep hidup dalam ajaran agama Islam. Hidup sederhana untuk kepentingan pribadi dan berlomba-lomba untuk mensejahterakan sesama. 

Sukses adalah ketika seseorang bisa mempertahankan keimanan kepada Tuhan. Ukuran berimannya seseorang tidak dilihat dari punya harta dan tidak. Seseorang dikatakan sukses jika dia tetap beriman kepada Allah, dalam situasi tidak punya harta atau punya harta. Itulah kesuksesan yang dibutuhkan oleh setiap orang, di manapun berada. Oleh karena itu setiap orang mungkin sukses, karena keimanan tidak membutuhkan pra syarat yang memberatkan setiap orang.***


Wednesday, July 5, 2023

Kurban dan Klenik??

Oleh: Muhammad Plato

Kurban bukan sekedar ibadah ritual, tetapi ibadah yang diyakini dapat mendatangkan rezeki banyak. Tidak sedikit orang dapat membuktikan kebenarannya. Setiap tahun jumlah hewan kurban mengalami peningkatan. Berdasar data kementerian pertanian tahun 2021, jumlah hewan kurban di Indonesia 1.767.522 ekor (indonesiabaik.id). Ibadah kurban setiap tahun pasti dilakukan oleh umat Islam, karena dilandasi oleh keyakinan yang kuat dalam ajaran agama Islam dan mentradisi.

Klenik adalah cara berpikir yang dibangun oleh logika-logika material pada level kuantum. Makhluk-makhluk yang tidak terlihat adalah benda material di level kuantum. Dukun-dukun mereka memanfaatkan ilmu alam untuk membuat keyakinan. Logika-logika material yang dibangun di level kuantum tanpa teknologi menjadi klenik murni. Keberadaan klenik dibangun karena ada kepercayaan dan diperkuat dengan tindakan-tindakan ritual. 

Pekerjaan-pekerjaan yang dulu dianggap klenik, tidak mungkin dilakukan seseorang, setelah ditemukan teknologinya kini menjadi rasional dan memungkinkan. Dulu tidak mungkin ada orang bekerja dari rumah, tetapi menghasilkan dana ratusan juta per bulan. Jika hal ini terjadi dulu sebelum ada teknologi informasi, maka orang itu dianggap telah melakukan klenik dan hidupnya menyimpang. 

Klenik adalah berpikir loncat tanpa melalui proses metodologi ilmiah. Kekuatan klenik hanya ada di keyakinan pada suatu perbuatan yang kita lakukan. Adapun metode berpikir klenik murni dengan melakukan tindakan-tindakan ritual. Ritual-ritual dilakukan untuk memberi efek pada pikiran dan hati semakin yakin. 

Ketika kita melakukan prosesi kurban, diyakini dapat meningkatkan kemampuan ekonomi pelakunya, karena kurban dapat mengundang banyak rezeki. Ketika melakukan sedekah, akan berbalas dengan 10 kali sampai 700 kali lipat. Dengan melakukan shalat dhuha 12 rakaat, kehidupan kita di jamin rezeki lancar di dunia dan di surga mendapat surga.

Banyak orang mengkritik bahwa cara-cara beragama seperti di atas adalah agama klenik. Seorang ilmuwan yang sudah terkondisikan dan cenderung berpikir ilmiah dengan pembuktian material, sangat menentang keras beragama dengan cara seperti ini. Ketika sebuah riset ditawarkan oleh mahasiswa untuk mendeskripsikan hubungan shalat dengan kecerdasan intelektual, seorang dosen memberi nasihat untuk menghindarkan kajian ilmiah dengan hal-hal klenik. 

Padahal kalau kita kaji lebih dalam, semua ilmu alam itu klenik. Semua yang terjadi di alam dan dapat dibuktikan hanya sebatas ilusi, karena semuanya tidak akan ada artinya ketika sudah meninggal. Namun demikian bukan berarti harus meremehkan ilmu yang dikembangkan di alam sebagaimana ilmuwan meremehkan ilmu agama. 

Ilmu agama tidak seperti yang disangkakan para ilmuwan, bahwa ilmu agama hanya mengandung hal-hal yang sulit dijangkau oleh akal atau klenik. Ilmu agama sudah banyak terbukti mengandung kebenaran-kebenaran di alam. Ilmu fisika, kimia, kedokteran, ekonomi, budaya, banyak terbukti memiliki hubungan dengan informasi ajaran dari agama. 

Penemuan fisika kuantum telah mengubah paradigma, bahwa cara pandang sekuler tidak memberikan pemahaman utuh tentang kehidupan manusia. Pandangan sekuler telah menggiring manusia menjadi manusia rakus yang tidak mengindahkan etika-etika hidup yang diajarkan Tuhan dalam bermasyarakat dan bernegara. 

Dalam dunia kuantum tidak ada lagi batas antara ilmu adan agama. Dalam dunia kuantum agama dan ilmu adalah satu kesatuan yang harus saling menguatkan dan berkolaborasi membangun kehidupan yang dicita-citakan manusia yang hidup damai dan sejahtera secara berkelanjutan, sampai pada kehidupan setelah kematian. Cara pandang integralis dipandang dapat mengerem dan mengendalikan cara-cara hidup manusia yang cenderung hedon dan memuliakan kehidupan dunia dan menafikan kehidupan akhirat. 

Kegiatan ritual kurban dalam ajaran Islam, jangan hanya dipandang sebatas fakta penyembelihan hewan kurban, tetapi harus dipahami secara filosofis adalah pesan-pesan mendalam yang harus dipahami dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan kesejahteraan hidup manusia. Keimanan manusia kepada Tuhan, dapat diriset karena bisa berdampak pada kesehatan mental dan kemampuan bertahan hidup dari kerasnya tekanan-tekanan kebutuhan ekonomi. 

Integrasi pendidikan agama ke dalam kurikulum di sekolah menjadi kekuatan baru dalam membentuk karakter siswa yang tangguh dan berdaya saing. Kekuatan pola pikir agama dan penjelasan rasional dari hasil-hasil riset ilmiah bisa menjadi kekuatan baru bagi para generasi abad 21 dalam melangsungkan kehidupan umat manusia.***

Thursday, June 29, 2023

PERBEDAAN FAKIR DAN MISKIN

Oleh: Muhammad Plato

Di dalam Al Quran, konsep fakir dan miskin adalah dua konsep yang berbeda. Untuk menjelaskan konsep fakir dan miskin yang paling akurat kita harus gunakan informasi di dalam Al Quran. Untuk menjelaskan sebuah konsep, kita bisa menggunakan metode hubungan konsep. Kita bisa coba identifikasi kata-kata yang paling dekat dengan kata fakir dan kata-kata yang paling dekat dengan miskin. 

Melalui metode hubungan konsep yang sederhana ini, akan berkembang pengertian-pengertian yang luar biasa, jika hubungan terus dikaitkan dengan kalimat dan surat yang lainnya. Metode hubungan konsep bisa jadi anugerah untuk umat Islam dalam memperdalam ilmu pengetahuan dari Al Quran. 

Baik kita identifikasi ayat-ayat yang berkaitan dengan kata miskin. Kita cek kata miskin yang ada dalam ayat-ayat Al Quran.  (miskin) "walmasaakiini" (Albaqarah, 2:83).  "walmasaakiina" (Al Baqarah, 2:177). "memberi makan seorang "miskiinin" (Al Baqarah, 2:184). orang miskin (Al Balad, 90:16). 

Kata-kata fakir dijelaskan dalam Al Quran. "fuqoro" (Al Baqarah, 2:271, 273). "faqir" (Al Hajj, 22:28). (Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hasyr, 59:8).

Di dalam Al Quran, kita sudah membuktikan kata fakir dan miskin jelas dua konsep yang berbeda. Selanjutnya apa definisi fakir dan miskin jika kita merujuk pada keterkaitan konsep-konsep yang ada dalam setiap kalimat atau ayat yang terdapat kata faqir dan miskin. 

Kita perhatikan penjelasan ayat Al Quran tentang orang fakir dari ayat di bawah ini:

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir (lilfuqoro) yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (Al Baqarah, 2:273). 

Berdasarkan ayat di atas, dipahami orang fakir adalah orang yang berprinsip hidup di jalan Allah, dia hidup terbatas karena pekerjaan yang dilakukan tidak memenuhi kebutuhan pokoknya, namun demi menjaga nama baiknya dia tidak meminta-minta, dan tidak pernah memaksa jika terpaksa harus minta bantuan pada orang lain. Orang fakir adalah gambaran orang miskin yang tetap menjaga harga dirinya dengan tidak menghamba kepada makhluk.

Jika tidak sependapat dengan pendapat ini, kembali saja pada ayatnya, dan silahkan pahami sendiri, karena manusia sudah diberi kelebihan yaitu akalnya. 

Selanjutnya kita lihat penjelasan Al Quran tentang orang miskin dari ayat di bawah ini:

"Dan juga dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin" (Al Haqqah, 69:34). 

"dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin," (Al Fajr, 89:18). 

"atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat". (Al Balad, 90:14-16). 

Berdasarkan ayat-ayat di atas, konsep orang miskin dikaitkan dengan pemberian makan. Hal ini bisa digambarkan bahwa orang miskin adalah mereka yang tidak punya pekerjaan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Orang-orang miskin, adalah mereka yang punya hak untuk mendapat bantuan makan, karena benar-benar tidak punya kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya.****




 



Sumber:

https://www.orami.co.id/magazine/fakir-dan-miskin


Wednesday, June 28, 2023

Bolehkah Menyesatkan Keyakinan Orang Lain?

Oleh: Muhammad Plato

Bolehkan kita menyesatkan keyakinan orang lain? Saya akan membahasnya dari berbagai sisi, dan yang lebih utama saya gunakan sumber primer ajaran Islam yaitu Al Quran. Melalui pendekatan hubungan antar teks, kita coba pahami, siapa yang sesat dan berhak menyesatkan keyakinan seseorang.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran, 3:7).

Berdasarkan informasi ayat di atas, kebenaran sudah Allah jelaskan dalam ayat-ayat muhkhamaat dan orang-orang sesat adalah mereka yang hatinya condong pada kesesatan, dan mereka mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Kesesatan yang dapat dilihat adalah ketika seseorang meninggalkan pokok-pokok isi Al Quran. Pokok-pokok kebenaran yang dijelaskan di dalam Al Quran dan hadis adalah shalat, zakat, sedekah, puasa, ibadah, haji, berbakti pada ibu bapak, musyawarah, menyantuni anak yatim, fakir miskin, larangan berzina dan mencuri, berlaku jujur, bersikap lemah lembut dan sabar, taat pada Allah, rasul, dan pemimpin, dll.

Hal yang paling pokok dalam beragama Islam adalah meyakini bahwa Allah Tuhan Yang Maha Tunggal, dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Selama orang Islam punya keimanan kepada yang pokok ini, kedudukan harus dihormati dan dihargai. Diperlakukan dengan lemah lembut, dan harus diajak lebih banyak musyawarah. 

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (An Nisaa, 4:114)

Lalu siapa yang paling berhak dan mengetahui kesesatan seseorang? Allah berkehendak atas apa yang terjadi pada setiap niat, pemikiran, dan prilaku manusia.

Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An'aam, 6:125).

Dalam etika berdiskusi, tidak boleh kita menyalahkan pendapat orang lain. Ketika kita menyalahkan orang lain, kita sudah pada posisi yang tidak boleh kita berada di situ yaitu posisi Allah sebagai pemilik kebenaran. Dalam berdiskusi yang boleh kita lakukan adalah memberi bantahan dengan hikmah, atau penjelasan yang bisa dipahami akal bersumber pada Al Quran, hadis, dan lebih baik dilengkapi penjelasan dari hasil kajian ilmiah agar semakin meyakinkan. 

Untuk itu, orang-orang yang layak berdiskusi adalah mereka yang sudah memiliki kapasitas keilmuan, dan memahami betul tentang etika berdiskusi, yang tidak boleh mencemooh, menyerang kekurangan, kelainan fisik, keturunan, dll. 

Sekalipun kita berada dalam kebenaran, namun ketika kita menyesatkan orang lain, kita masih terjebak pada sifat-sifat setan yaitu sombong, merasa benar, merasa lebih pintar, dll. Maka, tugas kita di muka bumi, agar lebih banyak orang-orang mengenal jalan Tuhan, sebanyak-banyaknya kita harus menarasikan kebenaran dari Allah dengan membuktikan bahwa kebenaran-kebenaran dari Allah akan membawa manusia kejalan damai dan hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Wallahu'alam. 


Thursday, June 15, 2023

DEKLARASI KEMERDEKAAN MENURUT MUHAMMAD IMADUDDIN ABDULRAHIM

Oleh: Muhammad Plato

Definisi Tuhan menurut Muhammad Imaduddin Abdulrahim (Bang Imad) adalah segala sesuatu yang mendominasi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari dominasi terhadap kehidupan manusia bermacam-macam termasuk dirinya sendiri. Di dalam Al Quran dijelaskan ada manusia yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan, yaitu yang menjadikan hawa nafsunya tuhan. 

Jika seseorang orientasi hidupnya sudah pada uang maka uang telah menjadi tuhannya. Jika prilaku orang sudah dikendalikan oleh orang yang dikaguminya, maka tuhannya adalah orang. Jika manusia prilakunya dikendalikan oleh keinginan hawa nafsunya, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai tuhan. Maka tuhan-tuhan selain Allah di muka bumi ini banyak ragamnya.

Orang-orang yang menjadikan tuhan selain Allah sesungguhnya dia tidak memiliki kemerdekaan. Dia sudah terbelenggu oleh tuhan yang sebenarnya tidak berkuasa dan tidak bisa membebaskan dirinya dari segala kesulitan. Maka kemerdekaan adalah ketika manusia mengatakan bahwa tidak ada tuhan yang ditaati kecuali Allah (lailahaillallah). Kemerdekaan adalah ketergantungan manusia kepada Allah, kepasrahan manusia kepada Allah, atau keikhlasan manusia diatur oleh segala ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah. Orang-orang yang pasrah kepada Allah maka dia akan dibebaskan hidupnya dari segala keterbatasan hidup atas dasar kasih sayang Allah.

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jaatsiah, 45:23).

Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, hidupnya didominasi oleh keinginan hawa nafsunya. Dia terlepas dari petunjuk Allah dalam Al Quran. Dia tidak mengikuti segala ketentuan yang telah dibatasi oleh Allah. 

Namun demikian bukan berarti orang yang beriman kepada Allah dia tidak mengikuti hawa nafsu. Sebab hawa nafsu terbagi menjadi dua sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran. Ada hawa nafsu yang cenderung pada kerusakkan dan ada hawa nafsu yang dirahmati Allah. 

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yusuf, 12:53).

Manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan adalah mereka yang mengikuti hawa nafsu yang menyuruh pada kejahatan. Hawa nafsu yang menyuruh pada kejahatan adalah hawa nafsu yang melepaskan diri dari petunjuk Allah. Sedangkan hawa nafsu yang dirahmati Allah adalah hawa nafsu yang selalu berusaha taat dan berserah diri pada ketentuan-ketentuan yang sudah Allah tetapkan. 

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (Muhammad, 47:14).

Ciri dari manusia yang berkeyakinan pada Allah adalah mereka yang berusaha memahami, mempelajari, dan melaksanakan kitab suci Al Quran sebagai petunjuk hidup. Petunjuk hidup dari Al Quran digunakan untuk membersihkan hati dan pikiran dari ketergantungan kepada selain Allah. Sangat tidak mungkin orang dikatakan bertuhan kepada Allah, jika dia tidak mempelajari petunjuk hidup berdasarkan apa yang telah Allah turunkan pada para nabi dan utusannya yang terakhir Nabi Muhammad SAW yang membawa wahyu Al Quran. 

Deklarasi kemerdekaan manusia adalah hidup merdeka berserah diri pada Allah dan terbebas dari tuhan-tuhan selain Allah. Mereka yang berserah diri pada Allah, mereka akan merdeka terbebas dari segala ikatan yang bersifat materi. Inilah kemerdekaan sejati yang harus dicapai oleh seluruh umat manusia jika ingin hidup sejahtera. Wallahu'alam.


Referensi:

Logika Tuhan dalam Al Quran | Bang Imad. https://www.youtube.com/@wakdudulz, https://youtu.be/gDi86CXh80E

Thursday, June 1, 2023

UNTUK APA SHALAT??

Oleh: Muhammad Plato

Aktivitas pikiran dan hati yang harus dilakukan pada saat shalat harus mengikuti apa yang telah dijelaskan di dalam Al Quran. Kondisi paling berat ketika shalat adalah mengendalikan pikiran supaya diam, tunduk, dan taat pada Allah. Mengkonsentrasikan otak agar hati fokus pada Allah adalah aktivitas pikiran dalam shalat. 

Shalat adalah kegiatan ritual ibadah umat Islam, bacaan standar dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui catatan-catatan hadis shahih. Umat Islam di Indonesia sebagian besar belum memahami isi bacaan-bacaan doa di dalam shalat. Mereka membacakan doa-doa ketika shalat dengan keyakinan bahwa apa yang dibacakannya adalah doa-doa untuk kebaikan. Mereka juga yakin bahwa doa yang dibacakannya dalam shalat sama persis seperti doa yang dibacakan ketika Nabi Muhammad shalat.

Cara berpikir meniru seperti bacaan-bacaan shalat yang dibacakan Nabi Muhammad berhasil menertibkan bacaan-bacaan shalat umat Islam yang ada di Indonesia. Cara berpikir seperti ini membantu umat Islam di Indonesia menjadi umat yang satu. Namun di abad teknologi dimana informasi banjir mudah diakses oleh semua orang, terkadang umat Islam di Indonesia tidak siap menerima perbedaan. 

Kelompok-kelompok yang sudah kokoh memiliki pengikut kadang-kadang berusaha mempertahankan status quo. Mereka tidak ingin tersaingi, sehingga sikap-sikap terhadap perbedaan pendapat kadang disikapi dengan emosional dan kasar. Namun seiring waktu, informasi-informasi tentang keberagamaan terus bermunculan di media informasi, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai tersadarkan. 

Dalam situasi banjir informasi saat ini, masyarakat Islam di Indonesia mulai sadar bahwa sumber keberagaam yang otentik diyakini bersama adalah bersumber pada Al Quran dan hadis-hadis shahih. Perbedaan pendapat hanya sebatas perbedaan penafsiran pada sumber ajaran agama yang sama yaitu Al Quran adan hadis. 

Umat Islam di Indonesia sudah beranjak dewasa dengan memahami bahwa kebenaran dalam ajaran agama jika pendapat itu bersumber pada Al Quran dan hadis. Jika terjadi perbedaan maka kebenaran dikembalikan pada teks Al Quran dan hadis, sementara kebenaran yang diyakini akan diadili kemudian yaitu di hari pengadilan setelah kematian. 

Kebenaran menjadi milik pribadi masing-masing, dan aliran-aliran terjadi hanya kebetulan saja diantara penganut kelompok-kelompok tersebut memiliki kesamaan persepsi. Kekerasan terjadi jika kelompok tersebut memiliki ego berlebihan, merasa sebagai kelompok terbesar, atau merasa kelompok paling benar, sehingga menistakan kelompok-kelompok lain yang berbeda pandangan. 

Namun demikian ada kesamaan dari semua kelompok Islam yang ada di Indonesia, ketika ritual shalat dilaksanakan mereka sedang membangun harapan kepada Allah untuk kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Aktivitas shalat adalah aktivitas hati dan pikiran dalam membangun harapan pada Tuhan, juga aktivitas yang merefresentasikan rasa takut manusia kepada Tuhan. 

Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah", (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (At Taubah, 9:5). 

Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (Al Baqarah, 2:239). 

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (Faathir, 35:29).



 


SIAPA MANUSIA YANG SADAR??

Oleh: MUHAMMAD PLATO

Penulis berpendapat kesadaran tertinggi manusia adalah ketika manusia sadar bahwa dirinya adalah hamba Tuhan. Dia punya tanggung jawab kepada Tuhannya untuk hidup menjadi orang baik dihadapan Tuhan, dan bermanfaat untuk umat manusia. 

Dalam penjelasan ilmiah, kesadaran adalah kemampuan mental atau keadaran pikiran yang memungkinkan seseorang untuk menyadari dan memahami dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya dan pengalaman yang sedang dialaminya. Kesadaran melibatkan kesadaran akan hal-hal seperti pikiran, emosi, persepsi, sensasi, dan keadaan fisik. 

Dalam konteks ilmiah, kesadaran masih menjadi topik yang kompleks dan tidak sepenuhnya dipahami. Ada banyak teori dan pendekatan yang berbeda dalam studi kesadaran, termasuk bidang seperti neurosains, psikologis, dan filsafat. Artinya, teori apa yang dimaksud dengan kesadaran masih terbuka untuk didiskusikan. Masalah mana yang benar terkait pengertian kesadaran, tidak ada legitimasi meyakinkan mana yang benar terkait dengan definisi kesadaran. 

Untuk itu semua orang memiliki peluang untuk berpikir mengembangkan konsep kesadaran yang dianggap benar menurut pendapatnya. Selanjutnya setiap orang akan mengamini sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan kesamaan visi yang dimilikinya. 

Hemat penulis kesadaran adalah kesadaran manusia terbagi menjadi dua, kesadaran diri tentang keberadaan diri dan lingkungannya, dan kesadaran keberadaan diri sebagai abdi Tuhan. Kesadaran yang dibangun atas dasar kesadaran diri di lingkungannya. Dalam situasi dikotomi pemikiran sekuler, kesadaran manusia sebagai abdi Tuhan, tidak dijadikan sebagai dasar pembentuk kesadaran manusia. Kesadaran manusia sebagai abdi Tuhan dianggap sebagai cara pemikiran yang tidak rasional dan cenderung dianggap pemikiran sebagai produk doktrin. 

Padahal diakui atau tidak, kehidupan manusia di dunia dari dulu hingga sekarang masih misteri. Orang-orang yang berpendapat setelah kehidupan tidak ada kehidupan, dan yang berpendapat setelah kehidupan ada kehidupan, dua pendapat ini tidak dapat membuktikan kebenarannya saat ini. Maka keputusan kembali kepada pribadi masing-masing. 

Saya punya sudut pandang, jika saya berpendapat tidak ada kehidupan setelah kematian secara material tidak ada yang dirugikan. Demikian juga jika saya berpendapat setelah kematian ada kehidupan juga tidak ada yang dirugikan secara material. Jadi kalau berpendapat setelah kematian ada kehidupan atau setelah kematian tidak ada kehidupan, tidak ada efek secara material pada kehidupan kita saat itu. 

Namun demikian, jika kita ajukan pertanyaan apa bedanya antara manusia yang percaya Tuhan dengan manusia yang tidak percaya Tuhan? Untuk menjawabnya kita harus punya ukuran yang membedakannya, misalnya ukuran perbedaannya terkait dengan kehidupan moral di masyarakat.

Asumsi sementara, orang-orang yang percaya Tuhan, dalam kehidupan masyarakat akan memiliki kualitas moral tinggi. Serendah-rendahnya, orang-orang yang punya kepercayaan pada Tuhan hidupnya punya moralitas. Ukuran moralitas orang yang sadar sebagai hamba Tuhan, dia punya rasa takut, punya perhitungan, bahwa setelah kematian perbuatan selama hidupnya akan diadili kelak diakhirat dihadapan Tuhan. Sejelek-jeleknya prilaku orang yang percaya Tuhan, dia masih punya pertimbangan moral, karena perhitungan hidupnya sampai ke akhirat. Cara berpikir seperti ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan atau mereka yang sekuler yang hanya melihat kebenaran dari pembuktian secara fisik.

Dari sudut pandang ilmu logika tuhan, kesadaran manusia bukan hanya sebatas sadar tentang keberadaan diri dan lingkungannya, tetapi kesadaran tentang dirinya sebagai hamba Tuhan. Manusia-manusia yang sadar bahwa dirinya hamba Tuhan, akan berusaha hidup sebagai Tuhan perintahkan yaitu untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.***

Wednesday, May 24, 2023

MENURUNNYA KUALITAS MANUSIA

Oleh: Muhammad Plato

Proses kehancuran umat manusia sedang berlangsung, seiring dengan pemanfaatan teknologi dalam berbagai bidang. Perkembangan teknologi informasi ikut andil menurunkan kualitas manusia berkaitan dengan keterbukaan informasi dan meledaknya jumlah informasi yang bisa diakses oleh umat manusia. 

Penurunan kualitas manusia seiring dengan kemudahan akses manusia terhadap berbagai macam informasi yang diinginkannya. Dengan perkembangan teknologi informasi, setiap orang telah menjadi produsen informasi dan konsumen informasi. 

Sebagai produsen informasi tidak semua orang paham tentang kaidah jurnalitsik, dan sebagai konsumen informasi tidak semua paham tentang manfaat dan bahaya informasi. Keinginan akses informasi tidak diimbangi dengan kebutuhan dan tujuan pada yang ingin dicapai. Kemampuan literasi dan bernalar yang rendah akan berakibat pada penurunan kualitas manusia, karena terlalu banyak akses pada informasi-informasi kualitas rendah.

Kemampuan literasi rendah sebab ternjadinya penurunan daya pikir dan kemampuan fokus akibat sajian-sajian informasi singkat dalam bentuk video. Dibandingkan dengan membaca teks, manusia cenderung lebih tertarik menonton video-video singkat. Kita bisa scrol-scrol video singkat sampai berjam-jam sambil bersandar di sofa. Apakah video-video singkat dibuat oleh orang yang punya tujuan pendidikan? Tidak semua pembuat video-video singkat adalah orang yang mengerti tentang fungsi pengetahuan dan pendidikan. 

Menurunnya kemampuan manusia dalam berkonsentrasi membaca teks adalah gejala penurunan kualitas manusia. Kualitas materi video-video short yang diunggah di internet yang bernuansa pendidikan, jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan yang bernuansa hiburan dan main-main. Jumlah kualitas informasi di video short yang berupa hiburan dan main-main merupakan ancaman bagi umat manusia. Kualitas informasi rendah yang disajikan dalam video short akan menjadi sebagian besar isi otak manusia di abad 21. 

Kualitas informasi yang sering diakses oleh seseorang akan menentukan kualitas pribadi seseorang. Informasi kualitas rendah yang diakses dari media sosial dapat menurunkan kualitas manusia. Hidup manusia akan terjebak pada tujuan-tujuan hedonis karena akses informasi di media sosial lebih banyak dilatarbelakangi kebutuhan hiburan dari pada edukasi. Kehancuran peradaban umat manusia diawali dengan menurunkan kualitas informasi yang dikonsumsi manusia. 

Jumlah manusia terdidik pada faktanya selalu banyak manusia yang tidak terdidik. Puluhan juta informasi di internet, jumlah pengakses konten-konten tidak berpendidikan selalu lebih banyak diakses dibandingkan dengan konten-konten pendidikan. Fakta ini akan menjadi faktor pendorong terjadinya penurunan kualitas manusia. 

Jika dulu manusia-manusia tidak berkualitas banyak diam karena tidak punya panggung untuk berekspresi, sekarang manusia-manusia tidak berkualitas bisa punya panggung memasarkan ketidakberkualitasannya. Para guru, dosen, profesor, budayawan, ulama, kiai, ustad, harus keluar kandang. Para cerdik pandai harus tampil di media-media sosial untuk berkolaborasi saling mengisi dan menginspirasi untuk menjaga umat manusia tetap waras.***

Wednesday, May 3, 2023

Mengapa Orang Islam Shalat?

Oleh: Muhammad Plato

Shalat secara fisik dimaknai sebagai gerakan ruku dan sujud dengan bacaan-bacaan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Orang shalat bisa dilihat dari ritual dengan gerakan-gerakan ruku dan sujud. 

Kualitas shalat seseorang tidak dapat diukur dari gerakan ruku dan sujud. Kualitas shalat seorang muslim diukur berdasarkan kualitas komunikasi orang itu dengan Allah pada saat shalat.

Inti dari shalat adalah doa, maka seluruh gerakan shalat berisi bacaan-bacaan doa kepada Allah. Doa pada saat shalat dilakukan dengan cara membangun komunikasi dengan Allah. Setiap perpindahan gerak dalam shalat selalu diikuti oleh takbir yaitu Allahu Akbar. 

Sebagian besar orang memahami Allahu Akbar dengan arti Allah maha besar. Ulama lain ada yang berpendapat bahwa Allahu Akbar artinya adalah fokus pada Allah. 

Pengertian Allahu Akbar dalam arti fokus pada Allah dirasa dapat dipahami. Kalimat Allahu Akbar pada setiap pergantian gerakan shalat adalah komando kepada hati dan pikiran agar dalam setiap gerakan shalat harus fokus kepada Allah. 

Jika dalam shalat orang tidak fokus kepada Allah, maka shalatnya kurang berkualitas. Hati dan pikiran sifatnya sensitif dan mudah sekali terpengaruh oleh beribu-ribu pengetahuan yang masuk ke dalam hati dan pikiran. Oleh karena itu dalam shalat, setiap perpidahan gerak diingat oleh kata-kata Allahu Akbar atau fokus pada Allah.  

Menjaga hati dan pikiran tetap fokus pada Allah ketika shalat, sangatlah penting. Fokus kepada Allah dalam shalat menjadi inti dalam kegiatan shalat yang dapat dikatakan khusyuk. 

Di dalam Al Quran Allah mememberi keterangan bahwa isi dari shalat adalah upaya memohon pertolongan pada Allah. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45). 

Pertolongan dalam hal apa? Tentu saja memohon pertolongan dalam segala hal permasalahan yang sedang dihadapi manusia. Sudah jadi kodrat hidup manusia di dunia pasti punya masalah. Maka shalat adalah karunia dari Allah agar manusia selalu punya solusi dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Jadi shalat itu adalah solusi dalam usaha menyelesaikan masalah. 

Maka dari itu, pemahaman dan pengertian shalat harus dipahami oleh orang Islam. Shalat bukan sekedar pengabdian manusia pada Allah, tapi shalat adalah tindakan beribadah orang Islam yang sebenarnya bermanfaat bagi orang yang melaksanakannya bukan untuk menyenangkan Allah. 

Jika shalat tujuannya untuk menyenangkan Allah, sebenarnya Allah tidak butuh apa-apa dari manusia, tetapi manusia yang butuh kepada Allah. Maka dari itu, shalat bagi seorang muslim adalah kebutuhan bagi muslim sebagai cara untuk mendapat pertolongan dari Allah yang maha penolong. 

Inti dari shalat adalah doa, dan doa dalam konteks berpikir adalah upaya membangun harapan baik pada Allah. Harapan-harapan yang dibangun pada Allah akan menghasilkan optimisme. Dan optimisme yang dibangun dengan harapan pada Allah tidak akan mati, karena Allah sebagai pemberi harapan tidak akan pernah mati. 

Maka dari itu, bagi seorang muslim shalat itu penting dalam kontek sebagai pembangun harapan. Bagi seorang muslim, shalat menjadi energi hidup yang tidak akan pernah mati, maka di syariatkan dilakukan minimal lima kali dalam sehari. Maka selama seorang muslim melaksanakan shalat dia adalah manusia-manusia tangguh yang tidak akan pernah mati harapannya.***


Tuesday, April 25, 2023

BAGAIMANA AMAL ORANG TIDAK PERCAYA TUHAN?

Oleh: Muhammad Plato 

Bagaimana amal orang yang tidak percaya Allah? Apakah perbuatan baiknya selama di dunia akan bermanfaat di akhirat. Pertanyaan ini sering diajukan oleh banyak orang, kadang membuat orang yang beragama dituding sebagai so suci atau merasa paling benar. 

Kali ini saya akan menjawab dari versi logika tuhan. Kebenaran berpikir bukan pada pemikirannya tetapi bergantung pada sumber yang digunakannya untuk berpikir. Maka logika Tuhan selalu menggunakan ayat Al Quran sebagai sumber berpikir. 

Untuk menjawab pertanyaan, apakah orang yang tidak percaya Tuhan Yang Esa amalnya sia-sia? Berdasarkan sumber dari Al Quran, saya mengambil kesimpulan, amal yang tidak percaya Tuhan Yang Esa tidak akan diterima. Ayat Al Quran di bawah ini bisa anda pikirkan. 

"... Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" (Al Baqarah, 2:217).

Setiap perbuatan yang kita lakukan tidak akan lepas dari niat atau tujuan. Niat dan tujuan itulah yang kelak akan diadili. Jika niat orang berbuat sesuatu kebaikan karena kasihan sedang dirinya menolak adanya Tuhan, maka perbuatannya kelak diadili bukan karena taat pada Tuhan. Orang-orang atheis dia menuhankan dirinya sendiri, maka dia akan kembali pada tuhannya. 

Menolak adanya Tuhan adalah kesombongan seperti iblis yang menolak perintah sujud pada Adam. Allah telah menetapkan iblis sebagai makhluk yang sesat dan akan menempati tempat terburuk dalam kehidupan. Orang yang menolak adanya Tuhan, dia terjebak karena menuhankan dirinya sendiri. 

Kontrak antara manusia dengan Tuhan sudah terjadi sejak sebelum manusia dilahirkan. Kontrak ini diberitakan dalam kitab suci Al Quran. Kontrak ini menjadi takdir setiap manusia sudah diberi potensi untuk mengenal siapa Tuhannya. Untuk mengenal siapa Tuhannya, Allah menurunkan utusan dan kitab suci sebagai panduan. Dalam kitab suci Al Quran, Allah perintahkan manusia membaca seluruh tanda-tanda adanya Tuhan di alam dan dirinya. 

"Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul, kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al A'raaf, 7:172).

Keberhasilan hidup manusia di dunia adalah ketika mereka menemukan siapa Tuhannya. Ujian-ujian hidup yang dialami manusia akan memalingkan manusia dari kesaksiannya dalam mengadakan Tuhan. Keberhasilan dari ujian hidup manusia ialah ketika mereka masih mengakui adanya Tuhan dalam kondisi sempit maupun lapang. 

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Al Baqarah, 2:28).

Hidup manusia adalah siklus silih berganti antara mati, hidup, mati, dan hidup. Akhir dari kehidupan ini adalah hidup. Jadi kepada siapa kelak orang-orang tidak percaya Tuhan akan kembali?  Mereka tertolak dan tempat mereka kembali adalah tempat yang buruk, tempat yang tidak nyaman, dan sangat menyakitkan. Inilah argumen-argumen saya dari Al Quran, mengapa orang-orang tidak percaya Tuhan amalnya sia-sia. Wallahu'alam*** 



Friday, April 21, 2023

SUNATULLOH MUDIK

Oleh: Muhammad Plato

Sejak kapan tradisi mudik ada di Indonesia? Sulit untuk ditelusuri. Jelasnya, fenomena mudik sudah terjadi secara turun temurun dan menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Jika kita lihat asal usulnya, dalam buku kumpulan tulisan Nurcholish Madjid (2009) berjudul Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat, dikatakan bahwa tradisi mudik (kembali ke asal) sudah menjadi sifat dasar (sunatullah) manusia sejak proses penciptaannya.

Naluri kembali ke asal (mudik) sudah jadi ketentuan Tuhan sejak manusia dalam alam ruhani. Sebelum lahir ke dunia, manusia sudah melakukan perjanjian dengan Tuhan. Di alam ruhani manusia berjanji akan hidup berbakti kepada Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Perjanjian itu diberitakan dalam Alqur’an, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi" (Al’araf:172).


Setelah bersaksi siapa Tuhannya, manusia juga berkomitmen untuk kembali kepada Tuhan yang menciptakannya, "Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat
kembali" (Al Baqarah:285). Nurcholis Madjid berkesimpulan, berdasarkan persaksian dan komitmen manusia untuk menyembah dan kembali kepada Tuhannya, maka kembali ke asal (mudik) adalah sunatullah kehidupan manusia. Dalam arti spiritual, kembali ke asal (mudik) untuk menyembah atau menuju Tuhan.

Kembali ke asal (mudik), bukan hanya sunatullah yang terjadi pada manusia, tetapi sudah menjadi sistem kehidupan yang mengatur jagat raya. Dalam kenyataan semua makhuk yang diciptakan-Nya akan kembali kepada pencipta-Nya. Dari mulai binatang melata sampai binatang terbang, dari mulai langit, gunung, laut, dan semesta alam, akan mengalami kehancuran dalam arti kembali (mudik) kepada sang Pencipta.

Manifestasi pola kembali ke asal (mudik) dapat kita temukan dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia. Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw. dikisahkan setelah Beliau berhijrah dari Mekkah dan menetap selama kurang lebih 13 tahun  di Medinah, Nabi Muhammad saw beserta kaum muslimin akhirnya dengan izin Allah kembali (mudik) ke Mekkah. Perasaan senang, cucuran air mata bahagia kaum muslimin, mewarnai peristiwa itu. Mereka bahagia karena bisa bertemu kembali dengan sanak famili yang sudah sekian lama terpisah, menyambung tali silaturahmi dan mengakhiri permusuhan. Itulah peristiwa “mudik” besar-besaran umat Islam yang tercatat dalam sejarah Nabi Muhammad saw. sebagai peristiwa penaklukan Mekkah.

Dalam sejarah dunia, kita bisa temukan bagaimana orang-orang Eropa secara besar-besaran bermigrasi ke wilayah Timur, berkuasa menjajah ratusan tahun, dan setelah negara jajahannya merdeka, mereka kembali ke tempat asalnya (mudik) ke Eropa. Demikian juga, pola kembali ke asal (mudik) dapat kita temukan dalam kehidupan binatang. Kita lihat bagaimana ribuan burung, kuda, bison, bermigrasi sejauh ribuan kilo meter mencari tempat penghidupan dan pada suatu saat yang telah ditentukan mereka akan kembali ke tempat asalnya.

Kembali ke asal (mudik) dapat juga kita saksikan dalam siklus kehidupan manusia. Manusia diciptakan dari tanah dan kembali ke tanah. Manusia tumbuh dari anak-anak, dewasa, dan kembali seperti anak-anak. Manusia lahir tidak memiliki apa-apa dan kembali tidak membawa apa-apa. Manusia lahir dari perut ibunya dan di manapun berada ibu selalu menjadi magnet yang menarik setiap orang untuk kembali. Manusia lahir di suatu tempat dan tempat kelahiran selalu menjadi daya tarik untuk kembali. Itulah beberapa manifestasi sunatullah kembali ke asal (mudik) yang selalu terjadi pada kehidupan manusia.

Tradisi mudik besar-besaran pada hari raya idul fitri adalah bentuk lain dari manifestasi sunatullah kembali ke asal. Karena sudah menjadi sunatullah (naluri dasar manusia), tradisi mudik pada hari raya idul fitri sulit dihilangkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya juga mudik lebaran seperti sudah menjadi bagian ritual keagamaan masyarakat Indonesia di hari raya Idul Fitri. Suatu kebiasaan jika sudah menyatu dengan sistem kepercayaan (believe system) sebuah masyarakat, tradisi ini akan semakin sulit dipudarkan sekeras apapun perubahan zaman menerpanya.

Walaupun mudik dikatakan sebagai sunatullah, secara syariah tidak ada keterangan yang menganjurkan manusia untuk mudik dan tidak ada juga keterangan yang melarangnya. Tetapi karena mudik dalam arti kembali ke asal sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan manusia, maka kita hanya bisa mempersiapkan dan mengarahkan agar kegiatan mudik dalam berbagai manifestasinya bisa membawa hikmah dan berkah bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Untuk itu kita harus ingat, sesungguh-sungguhnya mudik adalah jika ajal telah menjemput kita. Maka dari itu sebaik-baiknya bekal mudik, bersiap siagalah selalu dengan bekal takwa. Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?" (Yunus:31).

Maka, berbagi rezeki dengan sesama, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua (jika masih ada), itulah tujuan alternatif mudik sesungguhnya. Selamat lebaran dan selamat mudik semoga kebahagian menyertai kaum muslimin dan seluruh alam, semoga Allah menjadikan kita orang-orang takwa.***

Thursday, April 20, 2023

PENYEBAB ATHEIS

Oleh: Muhammad Plato

Kita harus banyak mendengar apa yang dialami hidup orang lain. Dari jumlah 7 miliar lebih umat manusia, kita pasti masih termasuk orang yang beruntung. Hal yang tidak dapat dipungkiri dari keberuntungan kita saat ini adalah hidup dalam suasana damai. Alam Indonesia yang subur telah menyediakan air, udara, buah, sayuran, dan lingkungan yang nyaman.

Namun di tengah kenikmatan hidup yang kita rasakan, ada orang-orang yang sedang berjuang mencari jati diri, dan mempertahankan hidup keluarganya. Di saat kantung perut kita penuh, ternyata masih ada orang-orang di luar sana yang sedang berjuang mencari makan. Dalam kondisi terdesak dengan terpaksa mengais rezeki dengan cara-cara curang, bahkan dengan kekerasan. 

Di saat kita menikmati keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, di luar sana ada orang yang mulai muak kepada Tuhan dan pengikutnya, karena pengikutnya tidak pernah mengerti keadaan, sekalipun sudah jujur bahwa dirinya lapar. Sedikit demi sedikit kepercayaannya kepada Tuhan mulai luntur. 

Akhirnya orang itu terlunta-lunta mencari kebenaran sekemampuannya. Mentor-mentor yang pernah di datanngi, rata-rata menghakimi dan menyalah-nyalahkan dengan mengeluarkan ancaman atas nama Tuhan. Kejadian ini semakin tegas bahwa keyakinan kepada Tuhan yang dipeliharanya tidak memberi efek pada kehidupan. Di luar sana ada orang yang merasa kesulitan bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Apakah hukum-hukum Tuhan itu ada, faktanya mereka belum mendapatkan keyakinan.

Gejala Atheis terjadi karena akumulasi pengetahuan dan pengalaman hidupnya yang tidak pernah bertemu damai dengan Tuhan. Gejala Atheis dirasakan karena orang-orang cepat menyerah pada keadaan. Ketidaksabaran menanti datangnya pertolongan Tuhan menjadi faktor kekecewaan seseorang pada Tuhan. Mereka yang Atheis juga gagal melihat ajaran Tuhan, karena melihat agama dari para pelakunya yang selalu memperlihatkan cangkang. 

Pengajaran agama yang kurang logika, menjadi gejala fisik yang terkadang terlihat norak. Gejala fisik seperti wanita-wanita kampus yang gagal menempuh ujian intelektual, sehingga mereka fokus pada penampilan fisik dengan modal dempul berjuta-juta. Ajaran agama yang kurang logika, kadang penuh tebal dengan dempul padahal dalamnya penuh karat. 

Bagi kita yang sudah beragama dengan angkuh, memakai pakaian khas dan disanjung-sanjung, rasa-rasanya tidak seperti itu yang di ajarkan Nabi Muhammad. Dalam imajinasi sejarah kisah Nabi, Beliau hidup dengan penuh kesederhanaan, menjaga kondisi tetap miskin, dan meninggal dalam kondisi miskin padahal pengaruhnya terus menyebar ke seluruh dunia.  

Jelas sekali kesejahteraan hidup bukan dari kepemilikan tetapi kedermawanan. Ramadan adalah peringatan agar setiap orang tidak larut dengan makan-makan. Ramadan jangan identik dengan makan balas dendam karena seharian tidak makan. Acara Ramadan bukan buka bersama, bisa jadi harusnya nyepi atau itikap hati. 

Kasian mereka yang berjuang mencari jati diri, berusaha mencari guru-guru yang bisa mengerti keadaan diri dan keluarganya. Ilmu klenik, mistik, yang diajarkan guru-gurunya menambah beban murid-muridnya hingga jadi gila. Sampai kapan agama jadi lawakan, cerita aib, menghina golongan, dan sumpah serapah karena menganggap diri benar?

Kisah sejarah Nabi Muhammad akhirnya bukan peperangan. Kisah Nabi Muhammad pada akhirnya adalah membebaskan Mekah dari kepercayaan bodoh, digantikan dengan kepercayaan suci dari benda-benda, dan penuh dengan ampunan. Itulah ujung cita-cita Nabi Muhammad dalam misi kerasulannya sebelum ajal menjemputnya.***