Sunday, September 8, 2019

DUA ALAM BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Alam berpikir terbagi menjadi dua, sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci bahwa alam ini terdiri dari alam nyata terlihat kasat mata (empiris) dan ghaib. Berdasarkan dua sifat alam ini, berpikir memiliki dua pola yaitu berpikir empiris (artifisial) dan berpikir ghaib (original).

BERPIKIR ARTIFISIAL

Berpikir artifisial dikembangkan dengan metode pengamatan dan pembuktian di alam, sedangkan berpikir original dikembangkan dengan mengikuti pola-pola baku yang dijelaskan dalam kitab suci. Ilmu-ilmu alam dan sosial yang dikembangkan melalui metode penelitian kuantitatif dan kualitatif melahirkan pola berpikir artifisial. Kebenarannya bersifat relatif karena mengandalkan kebenaran berdasar pembuktian visual.

Kebenaran ilmu berdasarkan kajian statistik yang melahirkan generalisasi dan teori pada prinsipnya adalah kebenaran yang diada-adakan atas dasar pengamatan. Kebenaran buatan ini untuk sementara dibenarkan karena mengacu kepada metode dan bukti nyata yang dihasilkan.

Artifisial intelegen pada dasarnya mesin (teknologi) berpikir yang dibuat berdasarkan pola berpikir yang dikembangkan dari pengamatan terhadap alam. Sumber dasar dari artifisial intelegent adalah berpikir dengan sumber kebenaran di alam nyata.

Pola berpikir artifisial dibutuhkan untuk mengelola dan mengendalikan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kelemahan dari pola berpikir artifisial adalah cenderung pada kecerdasan manusia dalam mengelola dan mensejahterakan alam nyata. Sementara pola berpikir ghaib (original) tidak tersentuh oleh pola pikir artifisial karena manusia tidak memiliki waktu yang cukup untuk membuktikannya. Keberadaan kehidupan setelah mati (akhirat), sulit dibuktikan karena waktu yang tidak cukup dimiliki manusia untuk membuktikannya, mengingat masa waktu hidup manusia di alam nyata sangat singkat dan harus memasuki dimensi waktu yang tidak dimasuki jasad manusia.

Andai manusia bisa hidup 10.000 tahun, mungkin manusia bisa menyaksikan bagaimana jatuh bangunnya peradaban manusia di bumi sebagaimana dijelaskan kitab suci. Manusia bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana hilangnya peradaban Mesir, Yunani, dan Romawi, dan menyaksikan bagaimana lahirnya manusia peradaban baru. Melalui ilmu sejarah, manusia melakukan rekonstruksi (membuat cerita buatan) untuk bisa sedikit memahami bagaimana jatuh bangunnya sebuah peradaban, dan lahirnya peradaban baru.

BERPIKIR ORIGINAL

Berpikir original adalah pola berpikir dengan mengikuti pola berpikir ghaib. Sumber pola pikir ghaib adalah kitab suci. Pola pikir ghaib bersifat baku tidak mengalami perubahan. Di alam nyata kebenaran alam ghaib bersifat kontroversi karena sifat alam nyata. Kebakuan pola pikir ghaib ada dikarenakan ada alam setelah kematian yaitu akhirat.

Pembuktian kebenaran pola pikir ghaib di alam nyata tidak akan lepas dari kontroversi karena sifat alam nyata yang relatif. Iman adalah pembakuan pola pikir. Pembakuan berpikir dipengaruhi oleh ketidaktahuan, ketidakmampuan manusia untuk membuktikan kebenaran adanya hidup setelah kematian.

Untuk itu pola pikir ghaib kebenaranya milik Tuhan Yang Maha Mengetahui bagaimana kejadian-kejadian hidup setelah mati. Kasih sayang Tuhan kepada manusia diwujudkan dengan turunnya petunjuk berpikir dalam bentuk kitab suci yang diturunkan kepada utusan-Nya.

Alam nyata dengan segala kejadiannya, mengikuti pola-pola pikir baku sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci. Keterikatan manusia pada ruang dan waktu dan keterbatasan penglihatan, menjadi sebab lahirnya keraguan. Untuk itulah Tuhan menurunkan kitab suci sebagai sumber pengetahuan yang bisa menghilangkan keraguan dengan memberikan petunjuk-petunjuk baku dalam berpikir. Pembakuan berpikir ditetapkan dalam konsep iman isinya pola-pola berpikir baku yang bisa digali dari sumber pengetahuan langsung dari Tuhan.

Dalam tulisan terdahulu, penulis sudah menjelaskan contoh-contoh pola pikir baku (iman), yang digali dari sumber kitab suci. Jika terjadi kontroversi itulah sifat dunia yang begitu luas dan tidak bisa dipersepsi utuh oleh manusia yang terbatas. Kebakuan berpikir tidak akan terjadi jika manusia tidak menempatkan pola pikir itu sampai ke kehidupan setelah mati. Kebakuan berpikir manusia tidak akan terjadi jika tidak mengetahui ada ketentuan-ketentuan hidup yang baku setelah mati. Dibutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi untuk mengetahui dan membuktikan pola-pola bikir baku di akhirat berlaku dalam kehidupan alam dunia. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment