Sunday, September 1, 2019

SHALAT MINTA HUJAN DAN KESADARAN


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika kemarau panjang terjadi, tanah dan rumput-rumput mulai kering, mata air menghilang, dan hutan-hutan terbakar, hujan adalah rahmat Allah yang ditunggu-tunggu. Manusia membaca gejala alam, dan memprediksi siklus hujan terjadinya hujan. Namun sangat terbatas kemampuan manusia untuk menurunkan hujan.

Orang-orang beriman memohon pertolongan Allah dengan shalat minta hujan. Para ilmuwan meneliti dan berkesimpulan, diminta atau tidak hujan akan segera turun jika waktunya sudah tiba. Maka para ilmuwan merasa akan aman dari bencana kekeringan karena hujan akan segera turun dengan sendirinya sesuai siklus.

Lalu apa bedanya berdoa minta hujan dan tidak? Hujan pada akhirnya akan segera turun jika sudah tiba waktunya. Bagi para ilmuwan, shalat minta hujan seperti pekerjaan yang tidak perlu dilakukan, jika toh pada akhirnya hujan turun tanpa diminta kepada Tuhan. Sikap para ilmuwan, akan menjauhkan dan menyepelekan peran Tuhan dalam menurunkan hujan.

Untuk itulah para ilmuwan kadang terjebak dengan gejala alam yang berhasil dibacanya. Para ilmuwan merasa bahwa alam bisa menghidupinya tanpa ada intervensi Tuhan. Gejala ini akan melahirkan pola pikir materialis, agnostik, dan tidak percaya Tuhan karena merasa cukup dengan apa yang tersedia di siklus alam.

SHALAT MINTA HUJAN ADALAH MEMBANGUN KESADARAN BERSAMA UNTUK KEMBALI KE JALAN TUHAN (MUHAMMAD PLATO)
Shalat minta hujan pada hakikatnya bukan minta hujan, tetapi membangun kesadaran manusia sebagai individua atau kelompok sebagai makhluk Tuhan. Kesadaran individu adalah kemampuan memahami diri sebagai makhluk yang membutuhkan air untuk kesehatan dan kesejahteraan hidup. Kesadaran kolektif adalah kemampuan manusia untuk bekerja sama menjaga kelestarian sumber air agar terjamin kesejahteraan hidup bersama. Kesadaran spiritual adalah kemampuan mengingat dan memohon ampun kepada Tuhan bahwa segala keburukan yang menimpa manusia adalah hasil dari perbuatan manusia sendiri.

Kesadaran tertinggi manusia adalah ketika ingat dan mengakui kelemahan diri sebagai hamba Tuhan. Arti kesadaran ini dikisahkan ketika Nabi Musa pingsan setelah berprilaku lantang ingin melihat Tuhan. “Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A’raaf, 7:143).

Shalat minta hujan adalah upaya memobilisasi kesadaran masyarakat agar kembali bangun dari pingsan, dan mengakui bahwa Tuhanlah yang maha menggerakkan awan untuk menurunkan hujan, berhenti berbuat segala keburukan terhadap alam, dan bersama-sama kembali beriman dengan sepenuh hati kepada kekuasaan Tuhan sekalipun kita bisa berbuat sesuatu di alam.

Antara orang minta dan tidak minta hujan kepada Tuhan, terdapat perbedaan. Mereka yang tidak minta hujan kepada Tuhan, akan tetap pingsan (tidak sadar) dan merasa aman dari kekeringan dengan hanya membaca siklus alam. Bisa jadi, mereka seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an.“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al Baqarah, 2:12).

mengingat Allah dan patuh pada segala ketentuannya akan membangun kesadaran manusia untuk selalu berharap kepada Tuhan. Shalat minta huja adalah gerakan untuk menjaga ingatan manusia untuk selalu kembali kepada Tuhan dalam menghadapi segala permasalahan. 

Shalat minta hujan bisa jadi cara untuk mengajarkan anak-anak di sekolah, agar mereka  selalu menjadi hamba Tuhan, dan paham apapun permasalahan hidup di muka bumi ini, shalat adalah solusi untuk ingat kepada Allah dan membangunkan kesadaran bersama untuk berhenti berbuat keburukan sebagaiman perintah Tuhan. Bukan hujannya yang penting tetapi kesadaran kepada Tuhannya. Ketika kita sadar dan membangun harapan kepada Tuhan, maka kita termasuk hamba-hamba yang taat beribadah dan dijanjikan keberuntungan besar oleh Tuhan. Wallahu’alam.

(Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment