Oleh: Muhammad Plato
Untuk memahami ilmu logika Tuhan perhatikan kata kata ini. Manusia adalah bayang-bayang Tuhan. Tuhan pemilik bayang-bayang, Dia bisa mematikan bayang-bayang. Maka bayang-bayang bukan Tuhan. Bayang-bayang dan Pemilik bayang-bayang tidak terpisah. Bayang-bayang mengikuti kehendak Pemilik bayang-bayang. Bayang-bayang sangat tergantung pada Pemilik bayang-bayang.
Hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (Ar ra'd, 13"15).
Kisah bayang-bayang ini menjadi sumber pemikiran Ibn Arabi dalam menjelaskan apa itu kesatuan wujud. Kesatuan wujud dipahami dalam bentuk hubungan antara bayang-bayang dengan pemilik bayang-bayang. Pemikiran Ibn Arabi dapat dipahami jika kita membaca sumber pemikiran beliau dari Al Quran. Tuhan dan manusia kedekatannya seperti "manusia dengan bayang-bayangnya".
Untuk memahami logika Tuhan, kedudukan manusia sebagai bayang-bayang bukan pemilik kehendak, tetapi diberi sedikit kehendak oleh Tuhan. Manusia bisa mengubah dirinya menjadi apa yang diinginkan melalui segala sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar r'ad, 13:11).
Mempelajari ilmu logika Tuhan sama dengan mempelajari diri manusia sebagai ciptaan Tuhan menggunakan seluruh potensi yang telah diberikan Tuhan. Memahami ilmu logika Tuhan, memahami hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan.
Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan. (Al Furqan, 25:45-46).
Bayang-bayang bukan pemilik kehidupan, bayang-bayang hanya bisa tunduk dan patuh pada pemilik bayang-bayang. Pemilik bayang bayang dan bayang-bayang sangat dekat. Kemampuan bayang-bayang pergi pemilik bayang-bayang bergerak mengikutinnya. Hubungan Pemilik bayang bayang dengan bayang-bayang sangat dekat.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah, 2:186).
Mengapa Allah begitu dekat dengan manusia? Faktanya ada dijelaskan di dalam Al Quran, tentang siapa manusia, dan mengapa manusia bisa hidup?
"Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya"." (Shaad, 38:72).
Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam jiwa manusia menjadikan manusia bisa hidup. Ketika masanya berakhir ruh akan kembali kepada Allah. Ketika Ruh Allah masih ada dalam jiwa manusia, manusia tetap hidup dan Allah ada di dalam jiwa manusia dan manusia jadi bayang-bayang Allah.***

No comments:
Post a Comment