Saturday, April 4, 2015

LOGIKA INDAH DI ANTARA DUA SUJUD (2)

oleh: Muhammad Plato

Ada orang terlalu tergesa-gesa, terlalu berapi-api, menyalahkan bahwa siapa yang memahami Al-Qur’an dengan logikanya dia salah, sekalipun benar tetap salah. Saya tersenyum saja, sebab ketika mereka bicara seperti itu, dia sendiri sudah menggunakan logika. Tidak mungkin dia berbicara seperti itu tanpa sebab yang mendasarinya. Saya tahu sebab Dia ngomong seperti itu karena hadis yang Dia baca secara leterlek.



Al-Qur’an itu milik umat, bukan milik segelintir orang. Jika ada orang mau memahami dengan kemampuan yang dimilikinya, biarkan saja nanti Allah yang membimbingnya, toh yang di baca dan dipahami Al-Qur’an. Mohon diingat juga, jangan terlalu bernafsu menyalahkan orang, sebab ketika mati nanti semua akan bertanggung jawab atas perbuatan masing-masing.Saya akan bertanggung jawab atas hasil pemikiran, perkataan, dan perbuatan saya sendiri.

Baiklah kali ini akan saya jelaskan logika indah diatara dua sujud yang kedua. Silahkan perhatikan doa diantara dua sujud di bawah ini:
1.      Ya Tuhan ampunilah kami, dan kasihinilah kami.
2.      Tutuplah segala keburukan kami dan tinggikanlah kedudukan kami.
3.      Limpahkan rezeki kepada kami dan bimbinglah kami.
4.      Sehatkanlah kami dan maafkanlah kami.

Doa kesatu dan kedua memiliki pola yang sama yaitu, doa tersebut menjelaskan bahwa kebaikan yang diterima manusia karena ampunan Tuhan. Wujud ampunan Tuhan itu adalah ditutupnya manusia dari segala keburukan. Salah satu kebaikan dari Tuhan adalah ditinggikan kedudukan.

Jika logika dalam doa di atas dipakai dalam kehidupan sehar-hari, maka kita akan terhindar dari segala kesombongan karena apapun kebaikan yang kita dapatkan rumusnya karena ampunan dan ditutupnya segala keburukan oleh Tuhan.

Doa ketiga dan keempat, menjelaskan logika sebaliknya dari doa kesatu dan kedua bahwa kebaikan yang kita miliki bisa jadi penyebab keburukan. Salah satu kebaikan itu adalah rezeki dan kesehatan. Pada kenyataannya banyak orang-orang menjadi lalai kepada Tuhan karena rezeki dan kesehatan yang milikinya.

Untuk itulah sangat logis jika permohonan yang kita minta kepada Tuhan adalah bimbingan dan maaf, atas rezeki dan kesehatan yang kita miliki. Logika yang disusun dalam doa ketiga dan keempat, adalah menganjurkan manusia untuk membangun kesederhaaan dalam bersikap dan berpilaku pada saat memperoleh kebaikan dari Tuhan.

Pada doa ketiga dan keempat terdapat pula logika lain. Logika ini menjadi petunjuk berpikir sehari-hari bagi orang-orang yang mau mendapat rezeki dari Allah swt. sebagai berikut;
·         Jika ingin sehat perbanyak minta maaf kepada Tuhan,
·         Jika ingin diberi rezeki mintalah selalu bimbingan Tuhan.

Sekian dulu penjelasan saya. Kebenaran milik Allah swt, saya hanya mencari bimbingan dan maaf dari Tuhan atas segala ketidaktahuan saya. Ampunilah kami ya Allah, tutuplah keburukan kami ya Allah swt. jika kami terlalu lancang memahami ayat-ayat Mu dengan logika yang telah Engkau berikan kepada kami. Billahi taufik walhidayah. Sdlt.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan)

Wednesday, March 25, 2015

LOGIKA INDAH DI ANTARA DUA SUJUD (1)

oleh: Muhammad Plato

Sampai saat ini saya masih berpendapat bahwa logika adalah alat untuk memahami. Belum ada penjelasan yang bisa meyakinkan saya bahwa ada alat lain dalam tubuh kita ini sebagai alat memahami. Jikalau kemudian ada penjelasan yang lebih meyakinkan saya akan dengan mudah meninggalkan pendapat saya ini.

Tapi saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa jika seseorang memahami Al-Qur’an dengan logikanya maka hasilnya salah sekalipun benar. Hal ini sesuai dengan keterangan Allah swt di dalam Al-Qur’an bahwa “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.  (Albaqarah:216) . Artinya sekalipun saya merasa tahu kebenaran, sebenaranya saya tidak tahu, maka jika ada orang mengaku-ngaku menemukan kebenaran hakiki sebenarnya dia salah. Mengapa demikian karena kebenaran yang diketahuinya bukan kebenaran sesungguhnya, karena kebenaran itu kepunyaan Allah Yang Maha Tahu. 
Semoga Allah swt memberi hidayah kepada kita semua. 

Baiklah kita simpan dulu diskusi di atas, lain kali kita sambung lagi dalam diskusi khusus. Kali ini saya akan berbagi dengan para sahabat tentang logika-logika yang sangat Indah yang ada di antara dua sujud, dalam shalat yang sering kita lakukan setiap hari.  

Di antara dua sujud ada doa yang sering kita bacakan berulang-ulang. Jika kita pahami, doa diantara dua sujud ini mengandung  logika indah. Doa tersebut berbunyi, “Ya Tuhan ampunilah kami, dan kasihinilah kami. Tutuplah segala keburukan dan tinggikanlah kedudukan kami. Limpahkan rezeki kepada kami dan bimbinglah kami. Sehatkanlah kami dan maafkanlah kami.” 


Jika kita pahami, untaian doa di atas disusun dengan indah, karena doa tersebut tersusun secara berpasangan.  Berikut adalah pasangan doa tersebut;
  • Ya Tuhan ampunilah kami, dan kasihinilah kami.
  • Tutuplah segala keburukan kami dan tinggikanlah kedudukan kami. 
  • Limpahkan rezeki kepada kami dan bimbinglah kami. 
  • Sehatkanlah kami dan maafkanlah kami.
Mari kita pahami lebih dalam. Jika kita perhatikan doa berpasangan itu mengandung logika sebab akibat, yang akan membantu kita menemukan salah satu rahasia kemurahan Allah swt.

Logika pertama menunjukkan bahwa ampunan Allah adalah sebab datangnya kasih sayang Allah. Maka panduannya bagi kita, jika ingin mendapat kasih sayang Allah, banyak-banyaklah mohon ampun kepanda-Nya. Logika ini bisa kita temukan di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan sifat Allah dengan cara berurutan yaitu; “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Albaqarah:173). Jika di baca dengan logika, ampunan Allah adalah sebab datangnya pahala, nikmat, dan karunia besar dari Allah swt. Itulah makna dari kasih sayang Allah swt. Lebih jelas lagi perhatikan ayat-ayat di bawah ini;
  • “untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al maidah:9) 
  • “dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfaal:4) 
  • “dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al Anfaal:29).
Konstruksi logika dari ayat di atas menegaskan bahwa ampunan menjadi penyebab pahala besar, rezeki mulia, dan karunia besar. Pantas saja Nabi Muhammad saw, dan para sahabat, serta ulama-ulama besar sangat berharap dan menganjurkan kepada umatnya untuk selalu mohon ampunan kepada Allah swt. Dibalik ampunan Allah swt. terdapat kehidupan mulia baik di dunia maupun akhirat. 

Nabi Muhammad saw, bersabda, "sungguh aku beristigfar dan bertobat kepada Allah swt. tujuh puluh kali seharinya. (Bukhari dari Abu Huarirah). Sabdanya lagi, "Adakalanya hatiku tergoda oleh sesuatu, sehingga aku beristigfar kepada Allah swt. sebanyak seratus kali seharinya." 

Dengan keterangan-keterangan atas, mudah-mudahan kita semua menjadi lebih yakin, dan semangat untuk memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada Allah swt, karena Allah swt. menjanjikan penghidupan terbaik di dunia dan akhirat, melalui ampunan-Nya. Sesungguhnya Allah swt. maha menepati janji. Ya Allah ampunilah kami yang bodoh ini.

Sekian dulu penjelasan saya. Apa yang saya jelaskan sekalipun benar, hakikatnya salah, karena kebenaran hanya milik Allah swt. Jadi silahkan anda mencari lagi pengetahuan berdasarkan cara-cara yang anggap Anda benar. Apa yang saya tuliskan hanyalah upaya makhluk untuk memahami kemurahan Allah swt. dengan apa yang telah diberikan-Nya kepada semua manusia yaitu akal dan pikiran. Wallahu’alam. Sdlt.

(Toto Suharya, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan)

Wednesday, March 4, 2015

CINTAILAH YANG KAMU BENCI

Oleh: Muhammad Plato

Mengapa kita harus mencintai yang kita benci? Logikanya sedikit akan saya jelaskan. Jika tidak memuaskan, silahkan Anda berdiskusi lebih lanjut dengan kawan-kawan atau orang-orang yang Anda anggap lebih berilmu dalam hal ini.

Tapi saya titip, jika ada perbedaan pendapat, perbedaan metode pemahaman, jangan main kafir-kafiran dan salah menyalahkan satu sama lain. Saya tidak suka dengan cara-cara jahiliyah seperti itu, karena melanggar ketentuan Tuhan. Harus diingat perbedaan pendapat itu rahmat. Jika kita kukuh dengan pendapat kita, reaksinya jangan membenci kepada yang beda pendapat tetapi buktikan saja bahwa pendapat kita benar dengan menampilkan akhlak-akhlak terbaik sebagai wujud dari kebenaran yang kita yakini.


Biasanya kita lebih cepat membenci kepada yang beda dengan kelompok kita. Maka “Cintailah yang Anda benci”, logikanya saya turunkan dari kitab suci Al-Qur’an. Saya ingatkan, kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu yang di dalamnya berisi petunjuk, termasuk di dalamnya petunjuk berpikir. Petunjuk ini berlaku bukan hanya untuk kaum muslimin tetapi untuk seluruh alam.

Keterangan-Nya, bisa kita baca langsung sebagai berikut:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al-Baqarah:216)

Ayat di atas mengandung logika sebagai petunjuk berpikir bagi kita semua. Petunjuknya adalah jika kita urutkan konsep BENCI diikuti KONSEP BAIK dan KONSEP SUKA diikuti konsep BURUK. Dari urutan konsep di atas ada rahasia Allah yang tersembunyi. Bisa kita ketahui jika kita sedikit memahaminya dengan menggunakan logika yang telah Allah swt berikan kepada setiap manusia.

Harus diakui, kita sering terjebak dengan sesuatu yang kita cintai, juga kita sering terjebak dengan sesuatu yang kita benci.

Contoh konkrit adalah mereka para pecinta narkoba, seks, alkohol, harta, perempuan, judi, koleksi barang antik, binatang peliharaan, dan lain-lain. Secara tidak sadar mereka telah mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu amat buruk bagi kehidupannya. Secara psikologis, hawa nafsu kita selalu mudah jatuh cinta terhadap hal-hal yang akan berdampak buruk.

Contoh lainnya adalah perasaan yang sering muncul pada setiap diri manusia adalah lebih suka ngobrol dari pada membaca, lebih suka berlibur dari pada bekerja, lebih suka bermain dari pada kuliah atau sekolah, lebih suka pacaran dari pada menikah, lebih mudah berbohong dari pada jujur, dan sebagainya.

Kesimpulannya manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mencintai sesuatu yang buruk. Inilah sifat alamiah manusia. Dan ini suatu pemahaman bagi kita mengapa manusia ditepkan oleh Tuhan sebagai tempatnya salah.

Sebaliknya kita sering terjebak, membenci (tidak mau melakukan) sesuatu yang harus kita cintai. Bisa kita rasakan bahwa untuk membaca, menulis, berpikir, betapa sulitnya kita lakukan. Rata-rata diantara kita banyak yang tidak menyukainya. Padahal membaca, menulis, berpikir, adalah perintah langsung dari Tuhan.

Kita juga sering terjebak kurang suka melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Contohnya, kita sering tidak menyukai berdoa (shalat), tahajud, dhuha, bersedekah, berpuasa, umroh, ibadah haji, membalas keburukan dengan kebaikan, berdagang dengan jujur, tepati janji, taat pada pimpinan, amanah, istri taat pada suami, anak berbakti pada orang tua, bersabar, bersyukur, dsb.

Sifat mecintai yang buruk sudah diketahui oleh setiap manusia, dengan munculnya ungkapan bahwa, “rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput yang kita miliki”. Perempuan atau laki-laki lain selalu lebih menarik dibanding dengan istri atau suami sendiri. Ngaku aja!  

Kesimpulannya, kecenderungannya manusia memiliki tabiat membenci sesuatu yang seharusnya dicintai. Untuk itulah muncul peringatan dari Tuhan bahwa sesuatu yang kamu benci bisa jadi baik, dan sesuatu yang kamu cintai bisa jadi keburukan.

Kasusnya pernah terjadi pada saat kaum musyrikin masih memerangi kaum muslimin, kaum muslimin pada saat itu ada yang tidak mau atau ogah-ogahan ketika ada perintah berperang. Padahal Tuhan menjanjikan sesuatu yang baik dibalik peperangan itu. Perang adalah hal yang dibutuhkan jika eksistensi kita berada dalam ancaman musuh.    

Kesimpulan akhirnya adalah kita harus berhati-hati, artinya gunakan pikiran dan ikuti petunjuk berpikir dari Tuhan. Pahamilah Tuhan selalu menyimpan kebaikan dibalik sesuatu yang Anda benci. Wallahu “alam.

(Toto Suharya, Penulis Buku Sukses Dengan Logika Tuhan. Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me@logika_Tuhan).

Wednesday, February 4, 2015

MAU KAYA RAYA BERGURU PADA NABI SULAIMAN

Oleh: Muhammad Plato

Coba perhatikan, banyak orang berpandangan kaya adalah banyak harta. Padahal untuk jadi kaya tidak cukup hanya banyak harta. Syarat penting jadi orang kaya adalah jangan cinta harta. Orang-orang yang tidak cinta harta adalah mereka yang hidup dipandu dengan logika Tuhan bersumber pada Al-Qur’an.

Hal yang dikhawatirkan ketika jadi orang kaya adalah cinta pada harta melebihi dari segalanya. Lebih parah harta menjadi tuhan selain Allah. Jika kita perhatikan Al-Qur’an, Allah memberi contoh siapa orang kaya sesungguhnya. 

Nabi Sulaiman digambarkan sebagai sosok manusia dengan kekayaan luar biasa. Ada karakter yang dimiliki Nabi Sulaiman sebagai pelajaran bagi orang-orang berkelimpahan harta. 


“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat. Ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (Shad,  38: 30-35).

Jika kita perhatikan isi ayat di atas, kita bisa temukan karakter orang kaya. Nabi Sulaiman dijelaskan sebagai orang yang amat taat pada Allah. Nabi Sulaiman adalah manusia sebaik-baiknya manusia. Ketaatan pada Allah adalah karakter dasar orang kaya. Semakin tinggi ketaatan manusia kepada Allah, semakin banyak kekayaannya.  

Waspada karakter buruk orang kaya. Karakter buruk orang kaya adalah cinta harta. Kondisi ini pernah terjadi pada Nabi Sulaiman yang terlalu mencintai kuda-kuda terbaiknya. Kuda-kuda terbaik melalaikan ketaatan Nabi Sulaiman pada Allah. Nabi Sulaiman pun tergeletak di atas kursinya.

Di zaman sekarang kuda-kuda ini adalah kendaraan-kendaraan mewah. Karena kecintaannya terhadap kuda peliharaannya, Nabi Sulaiman mengakui, dia lalai mengingat Tuhan-nya. Kuda-kudanya membuat asyik dalam kehidupan dunia dan lupa kehidupan akhirat. 

Nabi Sulaiman mendapat ujian berat dari Allah dan tergeletak lemah karena sakit, akibat terlalu cinta pada harta. Nabi Sulaiman bertaubat menyadari apa yang terjadi pada dirinya akibat dari terlalu cinta pada harta. 

Untuk mengembalikan ketaatannya kepada Allah, Nabi Sulaiman mengorbankan kuda-kuda terbaiknya (memotong kaki dan lehernya). Memotong kaki dan lehernya sebagai bentuk pengukuhan bahwa Nabi Sulaiman tidak mencintai harta, sekalipun harta itu yang sangat dicintainya. Karakter orang kaya, semakin banyak harta semakin tidak mencintai harta. 

Nabi Sulaiman melewati ujian dengan bertobat dan mendapat balasan sebuah kerajaan yang tidak pernah dimiliki oleh siapa pun kecuali dia. Ujian atau kesulitan akan menimpa orang kaya, ketika mereka berhasil melewatinya dengan taat dan berkorban untuk Allah, mereka tetap dalam berkelimpahan harta dan kekuasaan. 

Belajar dari Nabi Sulaiman, kita dapat memahami penyebab kekayaan adalah ketaatan pada Allah. Pelajaran penting agar jadi orang kaya adalah melatih diri untuk tidak cinta harta dengan sering berkorban harta yang dicintai. 

Baiklah kawan-kawan yang kaya raya, sering seringlah berkorban dengan harta yang paling dicintai agar kawan-kawan tambah kaya raya. Berani berkorban dengan harta paling dicintai adalah ciri orang kaya tidak cinta harta. Inilah cara berpikir yang harus dimiliki orang kaya, cara berpikir yang dibimbing Tuhan. 

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.