Sunday, September 17, 2017

PENYEBAB ABSOLUT KEMISKINAN


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Pusing-pusing tujuh keliling sampai botak memikirkan apa penyebab kemiskinan. Para ahli saling berdebat mempertahankan hasil penelitiannya. Di sepakatilah untuk mensejahterakan masyarakat, pemerintah harus menyelesaikan tiga masalah fundamental di masyarakat yaitu masalah; pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Informasi dari situs kementerian keuangan RI, sejumlah 2.080,5 triliun rupiah anggaran APBN 2017 telah digelontorkan oleh pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan tiga masalah diatas.

Ribuan triliun dana APBN sangat berarti signifikan. Jalan-jalan ke pelosok mulai dirapihkan tambal sulam. Pembangunan sudah mulai bergerak di tingkat desa. Gang-gang jalan dilakukan pembetonan. Perbaikan jalan-jalan kebaupaten dilakukan sepotong-sepotong, berbulan-bulan, seperti proyek yang tak akan kunjung selesai. Inilah dampak dana APBN ribuan triliun.

Dunia pendidikan kebanjiran uang, namun hampir boleh dikatakan mengalami penurunan kualitas layanan karena sistem administrasi keuangan dibangun atas dasar kecurigaan. Pelaporan keuangan terlalu fokus pada tertib adminsitrasi. Aturan ini bertentangan dengan kebutuhan dunia pendidikan yang dinamis. Manajer-manajer pendidikan telah dilatih menyelesaikan masalah dengan cara-cara luar biasa, sementara pelaporan keuangan seolah-olah mengajarkan, kerja biasa-biasa saja, jika ingin selamat dari jeratan dan ancaman penegak hukum. Inilah dampak dari dana APBN ribuan triliun.

Layanan kesehatan mengalami peningkatan signifikan. Masyarakat miskin hampir semuanya dijamin mendapat layanan kesehatan di rumah sakit umum di tingkat kecamatan dan daerah. Namun pemandangan mengerikan di rumah-rumah sakit kelas ekonomi seperti melihat manusia di pengungsian. Orang-orang sakit dirawat di lorong-lorong rumah sakit yang pengap dan panas. Orang muda, tua renta, berobat jalan, gawat darurat, hampir mati, semuanya sama harus antri. Inilah layanan standar rumah sakit yang kebanjiran pelanggan. Semuanya terjadi gara-gara APBN ribuan triliun.

Sebenarnya kekayaan negara, keuangan negara, bukan faktor dominan penyebab kesejahteraan rakyat. Berapa pun anggaran APBN dikeluarkan untuk membiaya berbagai program kesejahteraan, hasilnya tidak akan maksimal karena pelakunya adalah orang.

Maka apakah penyebab dana ribuan triliun selalu tidak cukup membiaya pendidikan, pembangunan jalan, dan layani kesehatan? Karena di dalam sistem sosial kita masih ada manusia-manusia berkarakter lemah. Oleh para sosiolog mereka yang berkarakter lemah ini dikategorikan sebagai orang sakit karena terlalu tergantung pada tujuan materi. Mereka harus mendapat layanan klinis berupa rekondisi emosional.

Dalam pandangan agama orang-orang yang lemah karakternya ini adalah mereka yang tidak sadar telah menghambakan hidupnya pada materi. Dalam bahasa agama Islam, mereka adalah pelaku-pelaku syirik, karena telah hidupnya bukan lagi dikendalikan Tuhan, tapi dikendalikan oleh kebutuhan material.

Orang-orang inilah penyebab kemiskinan absolut. Berapa triliun pun APBN dikeluarkan oleh negara, visi dan misi pemerintah akan selalu tampak kontra produktif dengan kenyataan. Bagi pecinta harta, harta seisi dunia tidak akan memuaskan hawa nafsu materialnya. Dialah orang-orang serakah lagi kikir. Dia sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara.

Dana APBN ribuan triliun akan berubah jadi bencana jika dikelola oleh para pacinta harta. “Sesungguhnya uang dinar dan dirham ini telah membinasakan orang-orang sebelum kamu dan di masa yang akan datang pun akan membinasakan. (HR. Ath-Thabrani)

Maka penyebab kemiskinan absolut di muka bumi ini adalah manusia-manusia yang mencintai harta melebihi cintanya kepada Allah. “Cinta yang sangat terhadap harta dan kedudukan dapat mengikis agama seseorang. (HR. Aththusi).

Maka investasi terbesar yang harus dikorbankan oleh negara adalah mengalokasikan anggarannya adalah mendidik warga negaranya menjadi warga masyarakat yang punya karakter rela berkorban, dermawan  atau ahli sedekah.

Program-program pembangunan, pendidikan, harus diolah dan diarahkan agar warga masyarakat menjadi pribadi-pribadi rela berkorban. Pemimpin-pemimpin yang dermawan harus ditampilkan sebagai sosok pemimpin teladan yang harus diteladani.

Kisah-kisah para Nabi, cerita-cerita rakyat, dongeng sebelum tidur, obrolan santai, harus berisi tentang kedermawanan. Film-film, sinetron, iklan, talk show, berita harian, harus di dominasi oleh pesan-pesan kedermawanan.

Merajalelanya kemiskinan di muka bumi ini, bukan karena rezeki Allah berkurang untuk manusia. Tidak ada manusia yang tidak diberi rezeki oleh Allah. “Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya. (HR. Ath-Thabrani).

Memerangi kemiskinan sebenarnya bukan dengan mengeksploitasi alam untuk memperbanyak kekayaan, tetapi memerangi sifat-sifat serakah dan kikir yang mulai hinggap di hati warga negara. Inilah jihad paling akbar, melebihi jihad perang Badar, karena serakah dan kikir adalah bagian dari karakter manusia yang akan tumbuh subur pada manusia-manusia berkarakter lemah. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Sukses dengan Logika Tuhan)

Friday, September 15, 2017

TAUHID AL MANTYQ

Oleh:
Muhammad Plato

 “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,”. (Al-Baqarah, 2:3).

Firman di atas menetapkan bahwa di mana pun masyarakat berada selalu punya kepercayaan terhadap hal ghaib. Seharusnya kepercayaan kepada yang ghaib hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah swt

Kepercayaan-kepercayaan masyarakat kepada yang ghaib selian Allah swt. seperti gulma di sawah yang dapat mengganggu pertumbuhan padi. Dengan demikian, keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa sangat beresiko menyimpang (syirik). Budaya menghormati makhluk-makhluk gaib selain Allah swt  bisa mengendalikan prilaku masyarakat. Dalam ilmu tauhid tidak boleh ada yang mengendalikan prilaku manusia kecuali Allah swt.

Seperti kita kenal, dalam budaya Jawa, makhluk-makhluk gaib ikut mengendalikan prilaku masyarakat. Dalam bukunya berjudul Agama Jawa, Clifford Geertz (2017) menjelaskan bagaimana masyarakat Jawa melakukan upacara-upacara ritual (slametan) untuk mengusir atau menghibur makhluk gaib agar tidak mengganggu kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan masyarakat

Beberapa kepercayaan terhadap makhluk halus dikenal pada masyarakat Jawa. Percaya adanya Memedi laki-laki, dikenal genderewo dan memedi perempuan, dikenal we’we’. Ada juga lelembut yang bisa membuat orang sakit atau gila, dan tuyul makhluk halus anak-anak tukang mencuri uang. Sundel bolong adalah perempuan cantik yang telanjang, tetapi kecantikannya dicemari oleh adanya lubang di tengah punggungnya. Rambutnya hitam dan panjang sampai ke pantat, hingga menutupi lubang punggungnya.

Ada juga danyang, dia adalah makhluk halus roh dari para sesepuh desa yang telah meninggal. Sekalipun sudah meninggal mereka dipercaya masih aktif mengurus dan memelihara desa.

Makhluk-makhluk halus ini sangat umum dikenal masyarakat Jawa, dan menyebar ke masyarakat luar Jawa dari mulut ke mulut yang memercayainya. Kepercayaan ini telah mengendalikan prilaku masyarakat. Setiap anggota masyarakat Jawa melakukan slametan-slametan dengan ritual-ritual tertentu sesuai dengan keinginan demit. Mereka percaya bahwa demit-demit dapat mengabulkan permintaan manusia dan setelah itu manusia harus memenuhi permintaan demit 

Dalam kepercayaan ini, keyakinan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa telah mengalami penyimpangan, karena rasa takut dan taat masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa bergeser, bukan kepada Tuhan tetapi kepada demit, atau lelembut yang mereka percayai. Tindakan-tindakan ritual tidak lagi didasari oleh perintah Tuhan seperti dalam kitab suci, dan sunnah Nabi Muhammad, saw tetapi berdasar pada perintah demit yang mereka percayai.

Prilaku masyarakat Jawa ini, tidak dapat diterima oleh akal, jika kita kaitkan dengan perintah Tuhan, bahwa manusia hanya boleh takut, memohon, berharap, dan meminta, pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka kepercayaan-kepercayaan masyarakat kepada makhluk halus tidak dapat diterima oleh akal sehat dalam agama monotheis.

Komitmen ketauhidan keimanan kepada satu Tuhan diperintahkan dalam kitab suci. “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah, 1:5). Dan hanya kepada Allah saja tempat segala sesuatu bergantung. “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. (Al-Ikhlash, 112:2).

Tidak boleh ada yang mendominasi manusia kecuali Tuhan. Segala tindakan manusia, perbuatan manusia, rasa takut, harapan, semuanya harus digantungkan atas nama Tuhan saja. Yang ghaib yang boleh disembah, diminta pertolongan, dan ditakuti hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada makhluk ghaib selain Allah swt, yang perlu ditakuti.

Siapa yang meyakini bahwa sebab kejadian terjadi dari selain kehendak Tuhan, maka dia telah menyimpang dari kemurnian tauhidnya. Siapa yang melakukan sebuah tindakan didorong bukan atas dasar perintah Tuhan Yang Esa, maka dia telah menyimpang dari ketauhidan (kyakinannya kepada satu Tuhan). 


Inti dari Tauhid Al Mantiq adalah menjaga pikiran untuk tetap menjadikan Allah swt sebagai sebab utama dari segala kejadian. Sedangkan segala sebab yang terjadi di alam adalah rangkaian ketentuan yang diciptakan oleh Tuhan agar manusia bisa memahami kehidupan. Wallahu ‘alam

(Penulis Menulis Buku Sukses dengan Logika Tuhan JIlid 2)

Thursday, August 24, 2017

SEDEKAH TERHEBAT PARA PEMIMPIN


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

“Kamu akan berebut pemerintahan, dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat”. (HR. Bukhari)

Banyak orang mengamini, saat ini untuk jadi seorang pemimpin harus memiliki kapital besar. Dengan kapital besar calon pemimpin bisa memengaruhi, atau membeli suara untuk kemenangan pemilihan pemimpin. Fakta ini benar, untuk tingkatkan elektabilitas, kampanye, sosialisasi program, dibutuhkan kapital, tetapi jika kapital dijadikan sebab terpilihnya seorang pemimpin, makan pikiran kita sebagai masyarakat sedang tersesat karena pengaruh keadaan. Dan kita sudah jadi penganut filsafat materialis.

Dalam syarat sebagai calon pemimpin tidak ada dijelaskan harus memiliki kekayaan melimpah. Syarat penting bagi seorang pemimpin adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebebanrnya dari keimanan dan ketakwaan saja seorang pemimpin bisa mensejahterakan rakyat.

Setiap Hari Jembatan Cisomang Dilalui Ribuan Kendaraan. Sedekah Triliunan Pemimpin, Yang Akan Mengalir Sepanjang Masa.


Setelah menjadi pemimpin, seseorang tidak dituntut mengeluarkan dana pribadinya untuk mensejahterakan rakyat. Sebesar-besarnya dana pribadi yang dimiliki oleh seorang pemimpin, tidak akan melebihi harta kekayaan yang dimiliki oleh negara. Hal yang dituntut dari seorang pemimpin adalah belanjakan harta negara sebanyak-banyaknya dengan efektif dan efisien untuk kesejahteraan rakyat.

Untuk itu, modal yang dimiliki oleh seorang pemimpin bukan kekayaannya, tapi sikap dan karakternya yang bisa mensejahterakan rakyat, yaitu KEMAMPUAN mengelola harta negara untuk kepentingan RAKYAT BANYAK bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH. Abun Bunyamin Ruhiyat (Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung), para pemimpin bisa bersedekah melalui berbagai kebijakan. Siapa yang bisa bersedekah sampai 2000 triliun per tahun? Tidak ada orang yang bisa melakukannya kecuali seorang pemimpin. Dari mulai kepala daerah sampai presiden mereka bersedekah dengan kebijakannya. Sedikitnya, seorang kepala desa bisa bersedekah satu miliar per tahun dengan mengelola dana amanahnya dari negara. Seorang kepala sekolah bisa bersedekah dengan kebijakannya dari satu sampai tujuh miliar per tahun.

Mengapa kebijakan pemimpin bisa jadi sedekah? Inilah dalil pahala sedekah bagi seorang pemimpin. Dijelaskan dalam hadis Rosulullah saw. “Bendahara muslim yang diberi amanah ketika memberi sesuai yang diperintahkan untukya secara sempurna dan berniat baik lalu ia menyerahkan harta tersebut pada orang yang ia tunjuk menyerahkannya, (pemilik harta dan bendahara yang amanat tadi) termasuk dalam orang yang bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi saya ulang, kekayaan yang dimiliki pemimpin tidak akan sanggup mensejahterakan umat. Kekayaan negaralah yang akan mensejahterakan umat, jika dikelola pemimpin-pemimpin ahli sedekah. Pemimpin dengan karakter penyedekah, tidak lagi memiliki ambisi memiliki harta dengan cara mengambil, tapi dengan memperbanyak sedekah dari harta titipan rakyatnya dengan kebijakan-kebijkakan yang mensejahterakan rakyat banyak.

Maka karakter dasar seorang pemimpin yang harus dimiliki adalah penyedekah. Karakater ini dapat terwujud dalam diri seorang pemimpin jika pikiran dan hatinya dipandu, dikendalikan oleh kitab suci dari Tuhan (Al-Qur’an). Para pemimpin penyejahtera adalah mereka yang hati dan pikirannya selaras dengan tuntunan dari Tuhan.

Maka tidak penting seorang pemimpin memiliki harta atau tidak, karena faktor yang paling penting adalah pikiran dan jiwa pemimpin yang selalu berserah diri kepada Tuhan, dengan prinsip kekayaan terbesar yang akan dimilikinya adalah sedekah dengan harta milik negara melalui berbagai kebijakan untuk kebajikan.

Untuk itu, regulasi negara harus mengatur agar para calon pemimpin tidak dibebani syarat kekayaan pribadi yang dimiliki. Negara harus menjamin melalui konstitusi, bagi semua calon pemimpin yang telah memenuhi syarat seleksi, segala kebutuhan sosialisasi dan kampanyenya harus dibiayai oleh negara. Dana ini diatur oleh konstitusi untuk memberi peluang kepada semua kalangan bisa mempromosikan dirinya sebagai calon pemimpin dengan adil. Regulasi ini bertujuan untuk kepentingan masyarakat supaya para pemimpin benar-benar terlahir dari kompetensi yang dimiliki bukan dari kekayaannya.

Regulasi ini juga terlahir untuk menciptakan keadilan bagi masyarakat, agar setiap warga negara terjamin haknya untuk dipilih dan memilih tanpa melihat kekayaan yang dimilikinya. Para pemimpin yang memiliki harta kekayaan tidak menjamin bisa mensejahterakan rakyat, jika karakternya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya pemimpin-pemimpin dari rakyat biasa, bisa jadi mereka menjadi penyejahtera karena kecerdasan dan karakter penyedekah yang dimilikinya.

Sekalipun kekayaan para pemimpin melimpah, yang dibutuhkan adalah kebijakannya untuk mensejahterakan rakyat dari harta negara yang dikelolanya bukan dari sedekah harta pribadinya. Pemimpin-pemimpin penyedekah tidak lagi membutuhkan materi untuk kehidupan dunianya, tetapi harta negara yang dia belanjakan itulah untuk kepentingan akhiratnya. Inilah sedekah terhebat para pemimpin. Wallahu ‘alam.
 
(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan).

Saturday, August 12, 2017

ADAB JADI RAKYAT


OLEH:
MUHAMMAD PLATO

Diskusi serius, forum diskusi, debat di televisi, sampai obrolan di warung kopi,  terlalu fokus menyoroti, mengomentari, menghujati, mencelai, pemimpin. Padahal pemimpin yang dihujati, adalah hasil pilihannya sendiri dari sistem demokrasi. Terlalu asyik rakyat kita melihat ke luar dirinya. Bangsa ini telah terjebak menjadi bangsa buruk sangka, pendengki, pemarah,  dan suka saling menyalahkan.

Oleh karena terlalu sibuk melihat ke luar, prilaku masyarakat menjadi sangat keterlaluan. Prilaku buruk diapresiasi buruk, prilaku baik diapresiasi buruk. Padahal Tuhan mengajarkan manusia untuk berprasangka baik tanpa tergantung pada kondisi dan keadaan. Masyarakat sudah bergerak menjadi masyarakat yang melampaui batas kepatutan karena pikirannya dominan bercara pandang buruk.

Terlalu banyak tulisan-tulisan mengomentari buruknya prilaku pemimpin, tetapi sedikit sekali komentar tentang buruknya prilaku kerakyatan. Dari dunia luar, kita dipandang sebagai negara kacau yang tidak pernah bubar-bubar. Kekacauan ini dilihat dari prilaku kacau rakyat sehari hari yang tidak taat pada aturan.

Prilaku rakyat tidak jauh dari pemimpin yang dihasilkan. Jika pemimpin dipilih langsung oleh rakyat, maka kualitas pemimpin menunjukkan kualitas rakyatnya. Maka dari itu, dalam demokrasi langsung, untuk memperbaiki kualitas pemimpin harus dimulai dari peningkatan kualitas rakyatnya, karena rakyatlah yang menentukan.
Nabi Musa tidak memberontak kepada Firaun, tetapi membawa hijrah penduduk ke tempat dan jalan yang benar
Ibn Rusyd membagi jiwa manusia dalam tiga daya, yaitu daya pikir, amarah, dan syahwat. Maka untuk memperbaiki kuliatas rakyat, harus dioptimalkan kemampuan daya pikirnya. Meningkatkan daya pikir tiada lain dengan cara menambah wawasan pengetahuan ilmu dan hikmah dari berbagai macam sumber untuk mengendalikan amarah dan syahwatnya.

Buang sampah sembarang, pasang iklan sembarang, jualan sembarang, parkir sembarang, mungut sumbangan sembarang, adalah prilaku rakyat tidak beradab di lapangan. Menyuap petugas, menggunakan fasilitas umum untuk pribadi, menyerobot tanah negara, menghambat percepatan pembangunan, penambangan liar, penebangan liar, dan pencemaran air. Menghina, menghujat, membuka aib, memfitnah, dan merencanakan jahat terhadap pemimpin, itulah gejala-gejala rendahnya peradaban masyarakat.

Prilaku masyarakat seperti ini harus dikendalikan, karena termasuk faktor yang membuat negara semakin kacau. Hak rakyat mengeluarkan pendapat harus dijaga, tetapi tidak melanggar adab-adab sebagai rakyat. Dalam negara demokrasi, untuk membangun bangsa yang kuat, harus diawali dari rakyat yang sehat dan cerdas, karena kualitas pemimpin akan dilahirkan dari rakyat yang berkualitas.

Adab menjadi rakyat sangat minim diajarkan, padahal ilmunya tersebar dalam berita kitab suci dan dunia riset ilmu pengetahuan. Adab sebagai rakyat harus diajarkan agar kesalahan-kesalahan dalam organisasi, lembaga, atau negara, tidak terdistribusi ke seluruh sudut kehidupan.

Adab terpenting yang harus diajarkan kepada rakyat adalah adab terhadap pemimpin. Adab mentaati, menghormati, dan menghargai pemimpin. Di dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa taat kepada pemimpin disamakan dengan taat kepada Allah.

“Barangsiapa menaatiku, maka ia berarti menaati Allah. Barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barang siapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketaatan pada pimpinan tidak memiliki syarat keadaan. Ketaatan kepada pemimpin tidak dilihat dari usia, keturunan, kekayaan, dan agama. Ketaatan kepada pemimpin juga tidak melihat kebaikan dan keburukan prilaku pemimpin. Ketaatan kepada pemimpin adalah kemutlakkan dari Tuhan.

Rasulullah saw bersabda; “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjuk Ku, dan tidak pula melaksanakan sunnah Ku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. Aku Berkata wahai Rasulullah apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu? Beliau bersabda, dengarlah dan taatlah kepada pemimpin mu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada mereka. (HR. Muslim, No. 1847).

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat dzalim. Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kedzaliman yang mereka perbuat. Bersabar pada kedzaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah tidak membuat dzalim pemimpin selain karena kerusakan yang ada pada diri kita sendiri juga. (htttps/rumaysho.com).

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ada seseorang yang bertanya kepada Beliau, “kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi Muhammad saw tidak? Ali ra menjawab, “karena pada zaman Nabi Muhammad saw yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian. (htttps/rumaysho.com).

Oleh karena itu Allah menetapkan untuk mengubah keadaan kaum menjadi lebih baik, hendaklah mengubah diri sendiri bukan mengubah penguasa yang ada di luar dirinya. Sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar ra’d, 13:11).

Namun demikian, Rasulullah bersabda, “tidak ada ketaatan dalam rangka maksiat. Kataatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf. (HR. Bukhari, No. 7257). Jadi jelas, ketidaktaatan hanya boleh kepada kemaksiatan bukan pada pemimpin. Maka, pemimpin yang berprilaku buruk, dzalim, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan, sebagai rakyat terikat ketentuan taat kepada pemimpin.

Ketaatan kepada pemimpin sangat penting dipahami sebagai adab jadi rakyat agar kesalahan tertumpu pada satu titik yaitu pemimpin. Jika kesalahan tertumpu pada pemimpin, maka untuk memperbaikinya sangat mudah yaitu dengan mengganti pemimpin pada periode berikutnya. Itulah adab sebagai rakyat yang hampir terlupakan karena ajaran demokrasi yang tidak berpengetahuan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)