Tuesday, June 2, 2020

MENGINTERNASIONALKAN PANCASILA

OLEH: Muhammad Plato

Pancasila adalah karya budaya luhur bangsa Indnonesia. Pancasila adalah ideologi negara yang bisa mempersatukan bukan saja negara tapi dunia. Pancasila memiliki semua cita-cita yang ada di dalam setiap ideologi negara. Liberalisme, komunisme, dan khilafah memiliki kekurangan.

Seperti kita ketahui, ideologi besar yang berpengaruh di dunia saat ini diwakili oleh negara super power yaitu, China mewakili ideologi komunis, dan Amerika Serikat mewakili ideologi liberal.  Menurut Ahmad Basara (2017) dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Cianjur Jawa Barat, ideologi-ideologi yang ditaiwarkan di dunia masih memiliki kekurangan. Ideologi liberal dia tidak punya keadilan sosial, komunis tidak punya Tuhan, dan khilafah yang kemudian muncul tidak punya persatuan.(https://www.logika-tuhan.com/2017/12/dunia-akan-dipersatukan-oleh-cia.html).

Pancasila lahir dari sebuah pergerakan yang melibatkan agama di dalamnya. Menurut Emerson (1960) dalam pengalaman Eropa, munculnya nasionalisme berbarengan dengan pudarnya agama. Namun, dibagian dunia lain, seperti Asia, ketika nasionalisme bergerak dan menyelimuti daerah-daerah ini isu agama juga bergerak maju. Indonesia mengalami fenomena yang emerson katakan. K.H. Agus Salim mengkritik keras nasionalisme Eropa yang menyingkirkan Tuhan. Menurut Beliau nasionalisme harus berangkat dari nalar religius. Demikian juga, Sukarno dan Soepomo mereka sepakat bahwa nasionalisme Indonesia harus berlandaskan pada spirit ketuhanan. (Arifin, 2017:217-219).


Sila-sila dalam Pancasila memiliki cita-cita paripurna yang diinginkan oleh umat manusia di dunia. Ketuhanan Yang Maha Esa, keadilan sosial, persatuan, damai dalam musyawarah mufakat, dan keadilan sosial, menjadi inti-inti dari tujuan hidup manusia. Keunggulan Pancasila dari ideologi lain adalah keberpihakkan ideologi negara ini terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa. Sekalipun kita hidup dalam dunia teknologi tetapi kita tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan. Dunia telah diatur oleh ketentuan Tuhan, sungguh congkak manusia yang eksistensinya tidak sebutir debu di padang pasir jika ingin mengatur tatanan hidup bernegara di dunia  tanpa melibatkan Tuhan.

Sekalipun negara dilandasi keyakinan kepada Tuhan, ideologi Pancasila tidak menjadikan agama sebagai alat untuk mengekspolitasi kekuasaan untuk kepentingan golongan atau bangsa, tetapi untuk kepentingan umat manusia. Agama memiliki tujuan universal yaitu menciptakan rasa damai dan kesejahteraan umat manusia dan tidak bisa direduksi hanya untuk kepentingan suatu negara.

Islam bukan agama diskriminatif. Islam adalah agama kemanusiaan bersifat universal. Sebagaimana gagasan Sukarno (Arifin, 2017: 33) spirit Islam adalah internasionalisme karena Islam menaungi seluruh negara di bawah ketuhanan Allah swt. Salah satu bukti ajaran universal Islam dijelaskan Sukarno dengan mengutif ayat Surat Al Hujurat (49:13) dalam sidang PBB 30 September 1960, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  

Pancasila menjadi simbol betapa kuatnya spirit ketuhanan yang menapasi seluruh dimensi kebangsaan Indonesia. Pancasila lahir dari hasil berpikir ilmiah-filosofis yang menunjukkan adanya kesatuan sistem pemikiran. Founding fathers Pancasila adalah para philosopher king berkelas dunia. (Arifin, 2017:221). Ulama-ulama pencetus Pancasila adalah kelompok pembuka Ijtihad. Sukarno (2009:41) berpendapat, “ajaran pokok agama tidak berubah, firman Allah dan sunah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal keberagamaanlah yang berubah. Inilah yang pada hakekatnya adalah ijtihad”. Sukarno sangat ingin menjadikan ajaran Islam dikenal oleh dunia dengan pendekatan pengetahuan umum agar membawa kemajuan dalam berperadaban.

Pancasila adalah ideologi kelas dunia yang lahir dari spirit ketuhanan, inspirasinya dari ajaran Islam yang universal. Maka dari itu, Pancasila dengan sila satu sampai lima, merupakan manipestasi ajaran agama yang bisa diterima oleh bangsa Indonesia dan dunia yang beraneka ragam budaya dan agama. Sudah saatnya bangsa Indonesia berbicara di kelas internasional untuk memengaruhi pola pikir dunia dalam bernegara dengan memperkenalkan ideologi Pancasila sebagai dasar nasionalisme religius.

Dalam perjalanan sejarahnya, ideologi Pancasila sudah dua kali mendapat ujian terpaan badai topan yang sangat dahsyat dari Tuhan yaitu ketika tragedi tahun 1965 dan 1998. Pada saat itu tatanan bangsa Indonesia hampir runtuh, namun atas kesadaran nasionalisme religius berdasar sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia mampu bertahan dan bisa keluar dari terpaan badai. Untuk ketigakalinya tahun 2020 sekarang ideologi Pancasil mendapat ujian berat dari Tuhan. Sebagai bangsa nasional religius Berketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia selalu optimis atas pertolongan Tuhan YME,  kita bersama akan berhasil keluar dari badai kemudian menjemput kesejahteraan dunia dan akhirat. Indonesia di bawah Pancasila dan ridha Allah swt dipentas dunia pasti jaya sepanjang masa.  Wallahu’alam.  

No comments:

Post a Comment