Monday, June 1, 2020

SEMUA SEJARAH TENTANG TUHAN

OLEH: MUHMMAD PLATO
(Master Trainer logika Tuhan)

Prof. Moshe Sharon dari Hebrew University of Jerusalem mengatakan dalam sebuah tayangan di media sosial bahwa, “keseluruhan sejarah adalah sejarah Islam. Tokoh-tokoh besar terkemuka adalah muslim”. Sejarah Islam adalah tentang ketauhidan manusia kepada satu Tuhan. Karen Amstrong (2013, 27) menjelaskan pada mulanya manusia meyakini satu Tuhan penyebab pertama bagi segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Perlahan-lahan dia memudar dari kesadaran umatnya. Pada akhirnya menghilang dari keadaran manusia.

Sejak manusia lahir ke bumi, kisah manusia diawali dengan perjuangan manusia dalam mempertahankan keyakinannya kepada satu Tuhan. Alam kadang jadi tuhan-tuhan selain Allah yang selalu menampakkan diri dalam berbagai macam cara. Nabi-nabi utusan dari Tuhan ditugaskan untuk mengembalikan keyakinan manusia kepada satu Tuhan. Setelah Nabi meninggal manusia kembali menyembah selain tuhan yang hadir dalam persepsi manusia berwujud manusia, benda, dan kekuatan alam.

Peperangan terjadi dilandasi oleh kebencian karena perbedaan persepsi tentang Tuhan. Para penyembah tuhan selain Tuhan selalu bernafsu mengalahkan para penyembah satu Tuhan Ghaib yang jumlahnya selalu lebih sedikit dari pada penyembah selain Tuhan. Para penyembah selain Tuhan pada akhirnya selalu berhasil dikelahkan oleh para penyembah Satu Tuhan Ghaib sekalipun jumlahnya sedikit.  

Tergelincirnya Adam pada perbuatan dosa karena hadirnya tuhan selain Tuhan dalam persepsi Adam. Adam telah menuhankan hawa nafsunya hingga melanggar larangan Tuhan. Pertumpahan darah pertama di antara anak Adam terjadi karena hadirnya tuhan selain Tuhan pada salah satu anak Adam.  Sejak saat itu pertempuran demi pertempuran antar sesama manusia tidak lepas dari ketaatan manusia pada selain Tuhan. Dalam catatan sejarah tuhan selain Tuhan hadir dalam nafsu, ego, dan super ego manusia.


Sejarah manusia di muka bumi secara garis besar terbagi menjadi dua, pertama; kisah tentang pemimpin dzalim yang dikisahkan dalam sistem pemerintahan absolut. Sistem pemerintahan ini ditandai dengan kekuasan absolut seorang pemimpin yang mentakdirkan dirinya sebagai tuhan. Kejadian ini lazim terjadi dalam sistem pemerintahan kerajaan, kekaisaran, militeristik, chauvinistik dan feodal.  Kekuasan pemimpin yang terlalu dominan menggiring para pemimpin menjadi penguasa mutlak seperti Tuhan dan bahkan mengukuhkan diri seperti Tuhan. Inilah yang diberitakan Allah sebagai pemipin-pemimpin melampaui batas dan pembuat kerusakan.

Sejarah para pemimpin tidak lepas dari kedzaliman para pemimpin yang merasa dirinya tuhan. Fir’aun Ramses II dikisahkan sebagai contoh pemimpin berlebihan karena telah menjadikan dirinya seperti Tuhan. Kebijakannya merusak tatanan kehidupan manusia dengan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Hukum dan keadilan dikendalikan di bawah kekuasaannya. Tuhan YME diganti dengan menjadikan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah. Masyarakat tidak berdaya atas kekuasaan para penguasa dzalim.

“Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".  (As Syu’araaa, 26:29)

“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka". (Al ‘Araaf, 7:127)

Kisah sejarah Fir’aun adalah sepenggal kisah tentang kedzaliman-kedzaliman para pemimpin di muka bumi dan akan selalu terjadi. Tidak ada sistem pemerintahan yang paling baik apapaun namanya di muka bumi ini. Tujuan dari kepemimpinan adalah menjaga kehidupan masyarakat tetap berkeyakinan kepada Tuhan Ghaib dan merasakan hidup sejahtera dengan taat kepada Tuhan.

Kisah sejarah kedua, tentang kisah masyarakat dzalim. Kehancuran masyarakat dalam sebuah bangsa disebabkan oleh penyimpangan sosial yang dilakukan masyarakat dan bertentangan dengan aturan-aturan dari Tuhan YME. Kedzaliman dilakukan oleh masyarakat bukan oleh pemimpin. Kedzaliman memasyarakat di mana-aman dan menjadi ciri khas sebuah bangsa atau negara. Masyarakat dikuasai oleh tuhan-tuhan yaitu hawa (keinginan) dan nafsunya (naluri) yang terus berusaha mencari kesenangan dunia menurut aturan yang ditetapkan oleh keinginan dan nalurinya.

Kisah ini dijelaskan di sebuah negeri dan dikisahkan di dalam Al-Qur’an. “Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang dzalim". (Al ‘Ankabuut, 31)

Pemimpin tidak berdaya karena penyimpangan sosial seperti menjadi budaya masyarakat. Kekuasaan dikendalikan oleh rakyat yang memiliki kekuatan dan kekayaan melebihi kekuatan negara. Kondisi ini bisa kita saksikan di negeri-negeri yang rakyatnya diberi kebebasan dan kebebasan itu diatur oleh undang-undang. Negara menjadi tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dan menghakimi rakyatnya. Kondisi ini terjadi pada pemerintahan yang menganut demokrasi liberal, demokrasi konstitusi yang menjamin kebebasan rakyat berdasar undang-undang namun lemah dalam penegakkan.

“dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling daripadanya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi,”. (Al hijr, 15:81-83).

Nabi-nabi diutus Tuhan kadang untuk memeringatkan pemimpin yang dzalim kadang untuk memperingatkan masyarakat yang dzalim. Kondisi kita di bumi saat ini mungkin saja sedang berada pada masyarakat dzalim. Para penguasa tidak lagi mengontrol dan mengendalikan masyarakat, tetapi masyarakat lebih dominan mengontrol para penguasa. Terjadilan kedzaliman di mana mana baik level penguasa maupun masyarakat.

Para pendidik adalah penerus para utusan untuk menyampaikan kebenaran demi kebenaran. Pelajaran sejarah bukan ilmu tentang cerita yang disusun berdasar fakta-fakta sejarah belaka, tetapi pelajaran yang harus jadi pedoman masyarakat untuk tetap taat dan patuh kepada Tuhan Yang Satu, Tuhan maha pengasih penyayang, yang mencintai manusia, dan yang mensejahterakan manusia. Semua mata pelajaran tema besarnya adalah tentang kekuasaan Tuhan YME. Tugas semua pendidik adalah mengajarkan keykinan kepada tuhan YME, lebih khusus mata pelajaran sejarah. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment