Sunday, February 10, 2013

MAU SUKSES? SHALAT YANG KHUSYUK!


Secara kebahasaan, kata khusyuk diartikan dengan tunduk, rendah hati, takluk, dan mendekat-- baik tunduk hati maupun tunduk badan. Khusyuk jika dikaitkan dengan suara berarti diam, dan jika dihubungkan dengan pandangan mata, berarti rendah. (Dr. Moch. Sholeh : 2012)

Imam Al-Ghazali (dalam Dr. Moh Sholeh:2012), menyimpulkan hakikat khusyuk antara lain mencakup; (1) kehadiran hati; (2) mengerti apa yang dibaca dan diperbuat; (3) mengagungkan Allah swt; (4) merasa gentar terhadap Allah swt; (5) merasa penuh harap kepada Allah swt; dan (6) merasa malu terhadap-Nya.

Untuk membantu pemirsa, dari pengertian khusyuk di atas penulis mengambil dua pengertian khusyuk, yaitu TUNDUK DAN PENUH HARAP. Artinya orang-orang khusyuk dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-harinya yang tunduk pada ketentuan-ketentuan Tuhan, dan Tuhan memenuhi hatinya dengan harapan. Itu!

Para ulama terdahulu sering membatasi pengertian khusyuk hanya terbatas pada aktivitas saat melaksanakan shalat. Bagi penulis, khusyuk dalam shalat memiliki kaitan erat dengan prilaku sehari-hari. Kaitan khusyuk dengan prilaku sehari-hari bisa dilihat dalam firman Allah Swt;

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (Al Ankabut [29]: 45).
           
Merujuk pada surat Al-Ankabut ayat 45, shalat merupakan satu paket atau memiliki efek akibat terhadap perbuatan tidak keji dan munkar dalam prilaku sehari-hari. Artinya antara shalat dengan perbuatan merupakan hal yang tidak terpisahkan. Shalat menjadi sebab lahirnya prilaku-prilaku baik di masyarakat. Sangat logis jika Allah swt berfirman,

“Sesungguhnya beruntunglah (SUKSESLAH) orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk di dalam shalatnya.” (QS. Al Mukminun [12]: 1-2).  

Orang-orang yang khusyuk dalam shalat jelas akan beruntung (sukses). Shalat akan mencegah seseorang dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Maka orang-orang yang tidak berbuat keji dan munkar adalah mereka yang dijamin keselamatannya oleh Allah swt di dunia dan dikahirat. Secara kasat mata, orang-orang yang baik prilaku sehari-harinya adalah orang-orang yang dimuliakan oleh sesama manusia. Inilah nilai keberuntungan yang dijanjikan Allah swt. bagi orang-orang yang khusyuk dalam shalat dan prilakunya. Hubungan erat antara khusyuk saat shalat dengan prilaku dijelaskan dalam hadis,

“di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, dia adalah hati”.

Hadis ini menegaskan bahwa hati berdampak pada seluruh tubuh, dan tubuh kita adalah pelaku segala perbuatan. Artinya jika hati khusyuk (tunduk dan penuh harap) ketika shalat, maka otomatis prilaku sehari-harinya pun harus khusyuk (tidak keji dan munkar).
Kesimpulan akhir, antara shalat dan berprilaku hendaknya tidak dipahami secara terpisah. Untuk itu khusyuknya shalat harus menjadi sebab baiknya prilaku kita sehari-hari di masyarakat. Maka, mengukur kekhusyukkan shalat tidak hanya ditekankan pada saat melaksanakan shalat, tetapi dapat dilihat akibatnya saat kita berprilaku di masyarakat.

Jadi ukuran seorang muslim yang khusyuk dalam shalatnya adalah mereka yang berakhlak baik ketika bergaul di masyarakat. Mereka yang shalat dan tidak berakhlak baik dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat dapat dikatakan tidak khusyuk dalam shalatnya.

Sesungguhnya Allah swt tidak menciptakan jiwa terpisah dari tubuhnya, tidak menciptakan bumi terpisah dari langitnya, semua diciptakan dalam keterpaduan. Tidak baik memandang shalat sebagai kegiatan terpisah dari prilaku sehari-hari di masyarakat. Inilah kunci sukses dari Tuhan mu.

Salam sukses dengan logika Tuhan! Follow me @ logika_Tuhan

Monday, February 4, 2013

INGIN SUKSES? YO BERJUDI DI JALAN TUHAN

Semua orang tahu bahwa memberi adalah pekerjaan mulia. Orang China percaya bahwa dengan banyak memberi usaha mereka akan berkembang lebih berkah lagi. Bill Gate mengatakan, “uang yang saya peroleh tergantung kepada berapa yang saya keluarkan”. Mario Teguh berpendapat, “jika kamu ingin sejahtera, banyak-banyaklah sejahterakanlah orang lain”. Hal senada dikatakan pula oleh Bob Sadino pengusaha sukses eksentrik dari Jakarta, “hidup itu adalah menghidupi orang lain”. Pendapat-pendapat yang mereka katakan di atas sesungguhnya telah dibingkai oleh Allah dalam Al-Qur’an, “Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. (At Thalaaq:7). Kemudian, semuanya dibingkai oleh Allah dalam satu konsep indah ajaran agama Islam yaitu sedekah.

Tapi permasalahnnya walaupun kebenaran teori ini sudah dikemukakan oleh manusia secara lintas agama dan budaya, hanya sedikit orang saja yang percaya terhadap teori hidup sukses ini. Dasarnya karena mereka tidak benar-benar yakin bahwa dengan menggunakan teori ini hidupnya bisa sukses bekelimpahan rezeki. Manusia lebih percaya kepada hal-hal nyata berdasarkan logika materialis.

Dalam realitanya setiap orang akan sulit percaya jika hidupnya hanya digunakan untuk memberi, sebab faktanya memberi adalah mengurangi. Walaupun memberi adalah dasar etika hidup yang sudah dikemukakan oleh banyak orang dan dikuatkan oleh Firman Tuhan, tetap saja banyak manusia tidak percaya. Mereka lebih banyak memilih kikir dan menumpuk-numpuk harta kekayaan karena takut kekurangan.

Hal yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita bisa meyakini kebenaran Tuhan dengan pasti? Caranya hanya dengan mulailah memberi (sedekah) dan memperhatikan apa yang terjadi. Tanpa melakukan dan memperhatikan apa yang terjadi, kita tidak akan pernah mendapatkan keyakinan bahwa dengan banyak memberi kita akan berkelimpahan rezeki.

Sebenarnya banyak orang pernah membuktikan bahwa dengan banyak memberi hidupnya menjadi lebih baik dan segala urusannya dipermudah. Tetapi untuk mengulangi kesekian kalinya mereka tidak berani, sebab apa yang pernah terjadi pada dirinya dianggap hanya kebetulan dan bukan sebuah kepastian.

Lantas persoalannya bagaimana cara agar seseorang memiliki kebiasaan memberi? Kita harus berguru ke tukang judi. Penjudi adalah orang-orang yang selalu memiliki harapan besar. Di dalam pikirannya penjudi tidak pernah putus asa. Sikap optimis dan harapan besarnya akan memenangkan sebuah perjudian menjadi pendorong mereka untuk bersikap konsisten. Mereka akan terus dan terus berjudi dengan harapan suatu saat hasil judinya akan mengangkat derajat hidupnya.

Optimisme dan harapan itu telah mengalahkan segalanya. Mereka menjadi rela berkorban demi mewujudkan harapannya. Mereka akan rela menggadaikan harta benda miliknya. Rumah, mobil, dan uang, semua mereka korbankan demi sebuah harapan besar dalam judi, hingga kegiatan judi menjadi sebuah keteraturan dalam hidupnya. Waktu-waktu judinya tidak bisa diganggu gugat bahkan menyita waktu-waktu pokoknya.

Mereka terus berjudi sampai lupa waktu. Padahal kita tahu para penjudi harapannya hampa, tapi kita salau sama mereka optimismenya yang tidak pernah mati. Inilah ilmu yang harus kita tiru dari para pecandu judi.
Oleh karena itu, dalam hal memberi (sedekah) kita harus punya optimisme dan harapan besar dan tidak pernah mati layaknya penjudi. Anggap saja kita sedang berjudi tetapi dengan keyakinan kepada Tuhan. Sebagaimana tukang judi, mari kita isi hari-hari kita dengan bertaruh. Setiap hari kita bertaruh (sedekah) dan bertaruh (sedekah) dengan harta yang kita miliki, dan terus berharap bahwa suatu saat Tuhan akan membalas dengan kelimpahan rezeki.

Seperti apa yang dilakukan para penjudi, jika judi hari ini gagal tak ada hasil,  esoknya akan judi diulang kembali, diulang kembali, diulang kembali sampai harta kekayaannya habis untuk judi. Demikian juga dalam hal bersedekah, jika hari ini sedekah belum memberikan keuntungan yang dijanjikan, esok harinya ulangi sedekah kembali,  sedekah kembali dan sedekah kembali sampai harta kekayaan hampir habis disedekahkan.

Jika saja para penjudi yang jelas dilarang agama mereka berani menaruhkan semua harta kekayaannya untuk berjudi, mengapa kita tidak berani menaruhkan semua harta kekayaan untuk bersedekah di jalan Tuhan?
Tuhan menjamin, akan membalas sedekah dengan kelimpahan rezeki 10 sampai 700 kali lipat. Mari berjudi dengan Tuhan! Dengan rumus 1-1 = 700 adalah kode buntut yang harus dipegang teguh oleh para penjudi. Inilah hakikat perjudian yang sesungguhnya, yaitu berjudi dengan rumus sedekah yang telah Tuhan tentukan.

Dengan meniru ilmu para penjudi, mudah-mudahan kita bisa diberi kesabaran. Untuk itu, kalau anda ingin sukses, yo kita berjudi saja di jalan Tuhan. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan! Follow me @logika_Tuhan

Thursday, January 31, 2013

CARA MENYUAP TAPI HALAL

Kasus suap menyuap sebetulnya bukan masalah baru di Indonesia. Sejak dinobatkan sebagai negara terkorup di dunia, sudah pasti bermacam-macam suap ada di Indonesia. Seorang Profesor Dosen kakak saya berbicara, suap tidak bisa hilang dengan mudah di bumi Indonesia. Bagaimana tidak, sejak dahulu nenek moyang kita selalu mengajarkan dan mempraktekkan suap.

Setiap malam selasa, malam jumat, nenek moyang kita melakukan ritual suap kepada para leluhurnya dengan menyajikan sesajian. Mereka punya keyakinan jika tidak melakukan acara ritual ini, akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Saking percayanya, kebiasaan ini bisa bertahan turun-temurun lo sampai sekarang.

Demi mempertahankan ritual suap dan proses adaptasi dengan zaman, ritual suap antara manusia dengan roh nenek moyang berubah menjadi suap diantara sesama manusia. Suap dilakukan untuk memuluskan proyek yang dinilai bisa menghasilkan uang banyak. Suap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tiada hari tanpa suap, itulah mungkin pepatah yang pas untuk menggambarkan kehidupan di Indonesia
Alang kepalang, masyarakat kita sudah biasa dengan suap, mau dibagaimanakan lagi, kita tidak bisa hidup tanpa suap. Satu-satunya jalan kita harus ikut-ikutan main suap. Kalau tidak ikut-ikutan suap jelaslah tidak akan kebagian tender, alias dapur tidak ngebul.

Tapi kita modifikasi sedikit lah cara suapnya. Kalau masyarakat dahulu melakukan suap terhadap nenek moyang, masyarakat sekarang main suap kepada sesama manusia. Kita lain! Kita main suap kepada Allah yang memiliki kekuasaan rezeki di dunia dan akhirat. Tentu saja menyuap Allah juga harus sembunyi-sembunyi karena itulah hakikat suap. Semakin tersembunyi semakin baik kan?
Jika selama ini orang-orang menginginkan kekayaan, jabatan, dengan cara suap, kita juga lakukan hal yang sama. Jika orang-orang melakukan suap kepada pejabat, atau atasan penentu kebijakan, kita juga lakukan suap kepada Penentu Keputusan yaitu Allah SWT.

Jika orang ingin jadi pegawai negeri (PNS), tentara, guru, dan polisi, berani keluarkan dana  30 sampai 150 juta, kita juga sama harus berani. Mengapa kita tidak sanggup keluarkan juga dana sebesar itu untuk Allah. Kalau Anda orang beriman suap saja Allah dengan dana sebesar itu. Caranya keluarkan dana sebesar itu untuk fakir miskin, panti asuhan, dan kaum dhuafa.

Suap kepada manusia hasilnya bisa kita saksikan, banyak yang tertipu oleh oknum-oknum yang menjanjikan pekerjaan dan jabatan. Para penyuap kehilangan uang dan akhirnya jatuh miskin. Sekarang anda pikirkan bahwa uang yang anda berikan kepada fakir miskin untuk menyuap Allah, akan dikembalikan 10 sampai 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 160 dan Albaqarah ayat 261. Bayangkan jika Anda menyuap Allah 30 juta saja, bukan hanya jabatan atau pekerjaan yang akan anda dapatkan, justru anda akan mendapatkan kelimpahan harta dari Allah SWT.

Berpikirlah para penyuap! Jika saja untuk memproleh keinginan Anda berani berbuat jahat dengan melakukan suap terhadap sesama manusia, mengapa juga Anda tidak berani berbuat baik, dengan cara menyuap Allah. Menyuap kepada manusia dan kepada Allah modalnya sama, KE-BE-RA-NI-AN. Berani buruk atau baik? Kata Mario Teguh, “pemberani itu ciri dari orang-orang beriman lo” Berpikirlah para penyuap!!!    

Salam sukses dengan logika Tuhan! Follow me @logika Tuhan

Tuesday, January 29, 2013

BALASLAH KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

oleh: Muhammad Plato

Apa yang akan kita lakukan, jika mendapatkan hinaan, fitnahan atau keburukan dari orang lain? Apakah anda akan membalas kejahatan itu dengan kejahatan atau membalas kejahatan itu dengan kebaikan? Manusia yang baik akan membalas keburukan dengan setimpal. Tapi ada manusia yang lebih baik yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Siapa orang itu? dialah orang-orang yang sabar!


Dalam Al-Qur’an Tuhan berfirman;
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)". (Ar ra’ad : 22).

Dalam ayat lain Tuhan berfirman:
"Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan". (Al-Qashshas :54)

Lebih terang dan jelas, Tuhan memberi petunjuk dalam firmannya:
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia". (Fushilat, : 34).

Lalu mengapa Tuhan menyuruh kita membalas kejahatan dengan keburukan? Pemahamannya dapat kita peroleh dari hukum yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan menetapkan hukum bahwa kebaikan yang kita lakukan akan berbuah kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan akan berbuah kejahatan.

Maka, jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kita akan mendapat balasan kejahatan. Jadi membalas kejahatan dengan kejahatan akan menjadikan kita terperangkap dalam lingkaran kejahatan. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah semakin bermasalah.

Membalas kajahatan dengan kebaikan memang selalu dianggap sebagai sikap selalu mengalah, terlalu mengalah, bahkan dianggap lemah. Pandangan itu bagi mereka yang tidak memahami logika Tuhan. Bagi yang mengerti logika Tuhan, membalas kejahatan dengan kebaikan adalah kemenangan,  sebab membalas kejahatan dengan kebaikan, akan menghasillkan kebaikan dan mengakhiri kejahatan. Pada kenyataannya kejahatan yang dibalas dengan kebaikan, akan menolak kejahatan berikutnya dan menjadikan kehidupan berada terus dalam lingkaran kebaikan. Pikirkan itu!

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Sunday, January 27, 2013

KETIKA ANJING BERPUISI


“Hai anak muda!!!”,  kata anjing.
"Berhentilah... menyalahkan ku", kata anjing.
"instrospeksi diri", kata anjing.

sejak kecil kalian biasa menyalahkan anjing
kenapa anjing selalu jadi sasaran kesalahan kalian
setiap hari anjing di maki-maki oleh kalian

“teu baleg anjing
dasar anjing
gara-gara elu anjing
gua gampar lu anjing
anjing siah

jika saja anjing bisa berkata-kata
stop....!
berhentilah!
Jangan selalu menyalahkan anjing!
aku tidak tahu menahu sedikit pun urusan kalian!

Hai manusia
Apakah kalian tidak membaca firman Tuhan?
Jangan menyalahkan orang lain.
Sekalipun sama anjing.

ttd
ANJING


Kang Master Mei 2008

Saturday, January 26, 2013

RAHASIA SUKSES MEMBINA KELUARGA

Saya tersadar untuk berbagi dengan kawan-kawan semua, setelah mendengar seorang ibu menangis terisak-isak, menangisi nasib anak perempuannya yang sudah sekian puluh tahun menikah ternyata harus berakhir dengan perceraian. Si ibu berkata, “jika saya yang disakiti, saya bisa bertahan, tetapi kalau anak yang disakiti, nelangsa rasanya hati ini”.

Lalu apa gerangan yang membuat pernikahan anak perempuan ibu itu kandas setelah 10 tahun bertahan? Diceritakan bahwa selama membina rumah tangga, anak perempuannya tidak pernah rukun dengan ibu mertua. Tidak disadari kondisi ini membuat suami duduk dalam persimpangan jalan (galau). Akhirnya cerai adalah cara suami untuk mengakhiri kegalauannya, dan lebih memilih kembali kepada pangkuan ibu yang telah melahirkan dan menyusuinya.    

Mari kita belajar dari kejadian ini, dan kita doakan semoga kawan-kawan yang sedang mengalami masalah ini diberikan hidayah oleh Allah swt untuk menyelesaikannya dengan damai dan sejahtera. Bismillah... kita analisa di mana sebab utama kegagalan rumah tangga anak perempuan ibu itu.

Rahasia sukses dalam membina keluarga bahagia dan sejahtera adalah menjaga silaturahmi antara menantu dengan mertua. Hubungan tidak harmonis antara menantu (istri) dan mertua (ibu), bukan kali pertama dan bukan hanya terjadi di masyarakat kita. Hal ini terjadi di masyarakat dunia, dan di negara-negara maju sekalipun.

Dosen saya waktu kuliah pernah cerita. Di masyarakat Barat, dalam sebuah iklan piring sosok mertua (ibu) digambarkan sebagai sosok yang menakutkan. Ketika sang menantu (istri) sedang mencuci piring, tiba-tiba mertua (ibu) datang. Sang menantu (istri) kaget, sampai piringnya terjatuh ke lantai tetapi piring itu tidak pecah.

Yang ingin disampaikan dalam iklan itu bukan mertuanya yang menakutkan tapi iklan produk piring anti pecah. Namun dari iklan itu, kita bisa membaca fenomena hubungan kurang harmonis antara menantu (istri) dengan mertua (ibu) merupakan gejala umum. Kasarnya kalau dianalogikan persis seperti film kartun Tom and Jerry.

Lalu bagaimana agar hubungan menantu (istri) dan mertua (ibu) harmonis. Mari kita kembali kepada ketentuan Tuhan. Sekuat apapun perkawinan dipertahankan, jika tanpa ketaatan pada ketentuan Tuhan, semuanya akan berakhir berantakan, seperti yang dialami anak perempuan ibu di atas.

Ketentuan pertama yang paling mendasar dan tidak boleh tidak, harus ditaati adalah ketaatan seorang anak kepada perintah Tuhan yaitu supaya berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...”. (Al Israa:23)


Selama kita hidup, kewajiban sebagai anak kepada orang tua tidak akan bisa dibatalkan, kecuali kita dilahirkan dari batu. Kewajiban anak berbuat baik pada orang tua, sudah jadi sunatullah (ketentuan Allah) yang tidak akan pernah bisa diubah.

Sekarang bagaimana jika kita sudah berkeluarga? Apakah kewajiban berbakti kepada orang tua masih berlaku? Tentu masih. Namun dalam sebuah keluarga terjadi lagi hirarki, sebagaimana dijelaskan dalam ketentuan Tuhan.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita”,... (An Nisaa:34)

Seorang perempuan (istri) sudah ditentukan berkewajiban untuk taat kepada suami yang dijadikan Allah sebagai pemimpin dalam keluarga. Dalam kehidupan keluarga, ketaatan istri harus sudah seperti tidak terpisahkan lagi dengan suami. Dalam keluarga, suami dan istri bukan lagi dua individu, melainkan satu kesatuan (manunggaling). Ketentuan manunggaling istri dan suami dijelaskan dalam keterangan berikut:

“...mereka itu (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun (suami) adalah pakaian bagi mereka...” (Al Baqarah:187)

Dengan demikian dalam kehidupan keluarga, kewajiban berbakti kepada orang tua sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami, sebab kekuasaan tertinggi dalam rumah tangga ada pada suami. Untuk itulah para ulama mewajibkan setiap laki-laki yang sudah menikah untuk menafkahi kedua orang tuanya.

Lalu bagaimana dengan orang tua dari istri? Siapa yang bertugas memeliharanya jika istri dalam rumah tangga sudah diikat harus taat pada suami. Tugas memelihara orang tua istri, sama-sama ada di pundak sang suami. Dalam rumah tangga, posisi suami bukan lagi anak dari ibu bapak kandungnya, melainkan juga anak dari ibu bapak istrinya, karena telah manunggalingnya istri dan suami.

Kedudukan suami sebagai anak dari orang tua istrinya dan sebaliknya dijelaskan dalam sebuah keterangan “Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Jadi, seorang suami harus menjadi pemimpin dalam keluarga, untuk mengajak seluruh anggota keluarga untuk hormat dan berbakti kepada orang tua, baik kepada orang tua kandungnya maupun pada orang tua dari istri.

Untuk itu seorang istri wajib tunduk pada ketetapan suami, bukan karena takut pada suami tapi karena ketetapan yang ditentukan suami adalah bagian dari ketentuan Tuhan. Untuk itulah ketaatan istri bukan ketaatan pada suami semata, tapi hakikatnya ketaatan karena suami menegakkan ketentuan Tuhan.

Maka, jika seorang istri kurang harmonis dengan ibu atau bapak dari suami, atau sebaliknya suami kurang harmonis dengan ibu atau bapak dari istri, sampai kapan pun cita-cita membina keluarga harmonis dan sejahtera akan sulit terwujud. Apa sebab? Karena keluarga tersebut dibentuk diluar atau bertentangan dengan ketentuan Tuhan.

Jadi, rahasia sukses membina keluarga sejahtera utamanya adalah suami dan istri harus memahami posisi masing-masing berdasarkan pada ketentuan Tuhan. Keharmonisan dan kesejahteraan dalam membina keluarga sangat tergantung pada ketaatan kita terhadap Tuhan. Berpikirlah wahai para suami dan istri. Hidup ini bukan hawa nafsu mu yang mengatur, tapi berdasar ketentuan Tuhan. Salam sukses dengan logika Tuhan.

Follow me @logika_Tuhan.

Wednesday, January 16, 2013

SUKSES LAKI-LAKI TERGANTUNG PEREMPUAN

Isu gender awalnya seperti membela kaum perempuan. Isu gender bertujuan membantu kaum perempuan “tertindas” dan meningkatkan peran perempuan dalam kehidupan masyarakat. Faktanya diberbagai belahan dunia, setiap masyarakat punya cara dan tradisi dalam mendudukan status perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Diberitakan banyak perempuan yang hidupnya tertindas tidak boleh mendapatkan pendidikan, menduduki posisi kelas dua, tidak punya kekuasaan, dan menjadi korban kekerasan di rumah tangga.

Kedudukan perempuan di masyarakat dipengaruhi oleh kebiasaan, budaya, dan agama. Di Indonesia, Ibu Kartini dianggap sebagai perempuan pemberontak terhadap tradisi masyarakat yang membatasi perempuan menjadi orang rumahan. Kartini dianggap sosok berjasa yang memperjuangkan kaum perempuan mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum laki-laki. Sampai di sini kami (laki-laki) setuju.

Selanjutnya isu gender mulai menyesatkan kaum perempuan ketika muncul tuntutan hak kaum perempuan dengan laki-laki sama. Tuntutan ini persis seperti propaganda kaum komunis yang menuntut persamaan kelas. Kaum komunis merampok kekayaan orang-orang kaya dan membagi-bagikannya kepada kaum miskin dengan tujuan mewujudkan masyarakat tanpa kelas (sama rasa sama rata). Maka terjadilah konflik sosial antara kelas atas (kaya) dan kelompok bawah (miskin).

Apa jadinya? Kaum komunis berakhir dalam kehancuran, karena menentang kehendak Tuhan. Hidup harus memiliki perbedaan tingkatan. Tanpa perbedaan tingkatan dunia akan mengalami stagnasi dan kehancuran.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)... (Al Israa:21)

Sekarang tuntutan persamaan hak perempuan bukan hanya di pendidikan, tapi di pekerjaan, dan kekuasaan. Di keluarga, antara istri dan suami konflik karena sama-sama ingin memiliki kekuasaan. Karena merasa punya hak, istri tidak mau diatur suami, sudah pasti suami tidak mau diatur istri. Jadi siapa yang jadi pemimpin? Sedangkan dalam sebuah kelompok (keluarga) harus ada pemimpin. Banyangkan apa jadinya jika dalam sebuah kelompok, keluarga, lembaga, negara, tanpa ada pemimpin? Hancuuurrr....

Lalu karena pendidikannya tinggi, sekarang perempuan menuntut ingin bekerja keluar rumah seperti laki-laki. Katanya, “ingin jadi wanita karir”. Jadilah banyak perempuan bekerja di luar rumah karena ingin disebut wanita karir. Sementara menjadi ibu rumah tangga dianggap kerjaan orang rendahan dan diremehkan.

Karena perempuan dan laki-laki sama-sama mencari kerja, lapangan pekerjaan di luar rumah menjadi terbatas untuk laki-laki. Pencari kerja bertambah dua kali lipat karena perempuan ikut mencari kerja di luar rumah. Karena jumlah pencari kerja banyak, besaran gaji yang ditawarkan kepada laki-laki menurun tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perempuan (istri) dan laki-laki (suami) menjadi harus sama-sama berada di luar rumah.

Lalu di rumah anak-anak sama siapa? Mereka tinggal sama pembantu dan baby sitter. Tugas menididik diserahkan kepada lembaga pendidikan. Fungsi pendidikan di keluarga tidak ada, karena ibu dan bapak sibuk di luar rumah. Sadarilah, isu gender sebenarnya telah berhasil mengacaukan sistem kehidupan keluarga, dan berdampak pada penurunan kualitas hidup di masyarakat dan negara.

Taatilah ketentuan dari Tuhan mu...ini ketentuan gender dari Tuhan.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), (An Nisaa:34). 

Sadarilah dirimu adalah wanita. Dibesarkan oleh adat dan kodrat dari Tuhan mu. Kalian tidak bisa menunut sama seperti kaum laki-laki. Kodrat mu berhak mendapat pendidikan yang terbaik untuk mendidik anak-anak agar menjadi pemimpin-pemimpin besar dan ibu-ibu yang baik untuk generasi kemudian. Sedangkan kami (laki-laki) diperintahkan oleh Tuhan untuk mencari penghidupan di luar rumah agar bisa memuliakan dan mensejahterakan kalian (perempuan)....

Kami (laki-laki) akan berusaha sekuat tenaga tetap taat pada perintah Tuhan.

Kemudian jika mereka (wanita) menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. (An Nisaa:34)

Permasalahan kalian ada pada kami yang kurang taat pada Tuhan. Doakan lah kami (laki-laki), menjadi pemimpin-pemimpin adil. Kunci keberhasilan kami (laki-laki) ada pada diri kalian (perempuan). Jangan didik kami,  jadi laki-laki pembangkang.

Dengan tuntutan persamaan hak, kami merasa kasihan, sekalipun kalian telah bekerja di luar rumah menjadi wanita karir, tetap saja kodrat memanggil kalian untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Itu harus kalian kerjakan saat pulang kerja di luar rumah. Dengan persamaan gender, pekerjaan kalian menjadi dua kali lipat (double job). Kalian harus hamil dan berkarir, menyusui dan berkarir, memasak dan berkarir, mencuci pakaian dan berkarir, mencuci piring dan berkarir, mendidik anak di rumah dan berkarir.

Sementara kodrat kami (laki-laki) adalah bekerja keras sekeras kerasnya di luar rumah dan istirahat di rumah. Mungkin kalian (perempuan) perlu lebih bijaksana atas tuntutan kalian. Mana yang kalian pilih, disejahterakan Tuhan atau mengikuti hawa nafsu mu? Surely...I love you. Percayalah kepada Tuhan mu, Dia tidak akan menyakitimu.

Yang akan menyakiti kalian (perempuan) adalah mereka yang kalian lahirkan dan kalian abaikan di rumah atas nama persamaan gender. Mohon ampun dan kembalilah kepada Tuhan mu. Salam sukses dengan logika Tuhan. Loving you...follow me @logika_Tuhan  

EVOLUSI MENUJU SUKSES

Teori Evolusi dikemukakan oleh Charles Darwin. Keismpulan Beliau, manusia dan kera punya nenek moyang yang sama yaitu sejenis sel primata. Dalam jangka waktu jutaan tahun sel ini terus berevolusi ada yang menjadi kera dan manusia. Menurut Beliau, antara manusia dan kera memiliki cabang keturunan berbeda. Tapi tetap saja kalau diambil kesimpulan akhir, manusia dan kera punya nenek moyang yang sama yaitu sel primata (sejenis kera). Jadi manusia dan kera ada hubungan saudara, hehehe....

Saya tidak begitu percaya pada teori evolusi Darwin yang menghubung-hubungkan kera dengan manusia. Kata orang Sunda, “aya-aya wae kang Darwin mah...”.  Tapi saya percaya dalam kehidupan ini ada evolusi, yaitu perubahan dalam bentuk tahapan yang berlangsung terus dalam jangka waktu lama. Tuhan pun mengisyaratkan keberadaan evolusi dalam kehidupan.

“...Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”. (QS. Nuh:14)

Kesalahan Darwin dalam teori evolusi adalah terlalu yakin bahwa eksistensi manusia dimulai dari satu sel sejenis primata. Maklum, Darwin adalah orang materialis yang tidak percaya Tuhan, jadi dia memaksakan diri untuk menjawab dengan logika, dari mana asal usul munculnya manusia di muka bumi ini.

Maka dari itu dia manfaatkan teori evolusi dengan mengait-ngaitkan manusia dengan sel primata. Lalu dia gunakan bukti-bukti makhluk purbakala untuk menjelaskan bagaimana proses terjadinya evolusi tersebut. Kelihatannya sih, evolusi dari sel primata menjadi manusia seperti nyata, namun baru-baru ini  diketahui teori evolusi yang mengaitkan manusia dengan sel primata penuh dengan rekayasa. Spekulasinya terlalu tinggi, sebagian besar hanya berdasarkan sangkaan dan mengundang kontroversi.

Namun demikian tidak berarti teori evolusi runtuh. Yang runtuh adalah teori evolusi yang mengaitkan penciptaan manusia dengan sel primata (kera), evolusinya sendiri (perubahan bertahap) adalah hukum dalam kehidupan. Semua ciptaan Tuhan akan mengalaminya.

Lihat saja bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari mulai air mani yang dipancarkan sampai menjadi manusia dilahirkan. Mata pencaharian manusia mulai dari berburu, mengumpulkan makanan, bercocok tanam, sampai mengenal industri dan teknologi. Semua berjalan melalui proses evolusi.

Ditemukannya pesawat terbang tidak ujug-ujug jadi pesawat air bus seperti sekarang. Awalnya ada orang yang uji coba berlari-lari dengan menggunakan sayap ditangannya. Mobil diciptakan berkaitan dengan penemuan roda. Mengolah besi menjadi perkakas berkaitan dengan penemuan api.

Evolusi juga berlaku bagi mereka yang ingin hidup sukses dan sejahtera.  Setiap orang pasti butuh proses (evolusi) untuk mewujudkan cita-citanya. Proses itu mulai dari 0,1,2,3,4,5.....

“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (Al Insyiqaaq:19).

Yo kita berevolusi menuju hidup sejahtera mulai dari sedekah sekemampuan, 2,5 persen, 10 persen, barang dicintai, dan berkorban..... Yo kita berevolusi menuju hidup sejahtera dengan sholat wajib plus dhuha, dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat, 12 rakaat setiap hari, seminggu, sebulan, setahun dan selamannya... Evolusi menuju sejahtera butuh komitmen, ketekunan, kesabaran. Dan Tuhan pasti mengabulkannya...Insya Allah.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.