Tuesday, May 14, 2019

AGAMA MENCERDASKAN SEMUA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Brahmana adalah kasta tertinggi dalam agama Hindu. Fungsi Brahmana adalah membaca dan mengajarkan kitab suci. Selain kasta Brahmana dalam agama Hindu tidak boleh membaca atau mempelajari kitab suci. Paus adalah pemimpin organisasi tertinggi dalam agama Kristen. Paus punya otoritas dalam manfasir kitab suci.

Di dalam agama Islam, ulama, ustad, kiayi, tidak menempati struktur kasta dan organisasi kaku seperti pada agama Hindu dan Kristen. Untuk itu, ulama, ustad, kiyai, tidak memiliki otoritas mutlak dalam memelajari dan menafsir kitab suci. Namun mereka mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pengungkap, dan penyingkap tabir kebenaran. Tetapi mereka tetap manusia yang tidak mutlak sebagai pemegang kebenaran karena Allah pemilik kebenaran.

Di dalam ajaran Islam tidak ada kultus individu, semua manusia diperlakukan dengan wajar. Kadang salah dan kadang benar. Keyakinan mutlak dan ketergantungan umat hanya kepada Allah swt. Gelar ustad, kiyai, habib, bukan dilihat pada kedudukan dalam strata atau organisasi, tetapi karena nilai keulamaannya yang sangat takut kepada Allah. 

Menerima dan menolak kebenaran atas dasar pemikiran seseorang di dalam Islam tidak dibenarkan. Pertimbangan untuk menerima dan menolak kebenaran mengacu kepada sumber kebenaran yang dijadikan rujukan dalam berpikir. Rujukan berpikir orang Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Islam tidak menempatkan orang sebagai sumber kebenaran, melainkan pembawa kebenaran. Sumber kebenaran ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, dan semua umat Islam harus menjadi pembawa kebenaran.

Mengikuti kelompok-kelompok dalam beragama hanyalah realitas empiris usaha manusia dalam mencari kebenaran, esensinya semua kelompok manusia harus beribadah, taat, dan tidak mempersekutukan Allah. Orang-orang yang benar taat kepada Allah, menjaga peperpecahan dan cenderung damai sebagai wujud kepasrahan dirinya bahwa segala kebenaran milik Allah.    

Zaman telah mengalami perubahan. Kepemilikan pengetahuan bukan lagi otoritas segelintir orang. Tugas menyampaikan kebenaran tidak dibebankan pada satu dua orang. Berbeda dengan zaman dahulu sebelum teknologi informasi berkembang, otoritas kepemilikan pengetahuan hanya ada di kelompok-kelompok tertentu. Brahmana, Paus, Pendeta, Wali, Kiyai, ilmuwan, dosen, guru, memiliki pengetahuan lebih dari manusia lainnya. Mereka menjadi satu-satunya rujukan dalam menggali ilmu pengetahuan.

Di abad informasi, posisi brahmana, paus, pendeta, wali, kiyai, ilmuwan, dosen, guru, tidak memiliki fungsi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Status mereka di abad informasi menjadi pembimbing umat, sebagai pemberi alternatif pengetahuan. Seperti di pasar, mereka hanya menyajikan berbagai macam pengetahuan tentang pemahaman dan penfsiran dan pilihannya ada pada masyarakat yang memahami berdasarkan kemampuan pemikiran dan kepemilikan pengetahuan masing-masing.

“tidak ada paksaan dan kultus individu dalam kebenaran”. Inilah kata-kata yang mendorong semua manusia untuk saling menginspirasi dan menjadi manusia cerdas. Kecerdasan manusia terletak pada kemampuan menganalisis, dan memverifikasi pengetahuan bukan hanya kepada siapa pembawanya tetapi sampai kepada substansinya. Untuk memverifikasi kebenaran, tidak melihat siapa orang yang mengemukakannya tetapi dari mana sumber kebenarannya.

Hal yang harus diperhatikan dari pendapat atau pemikiran seseorang adalah dari mana sumber rujukannya. Jika rujukannya adalah penfsiran-penafsiran orang, maka tetap harus dilihat orang itu sumber pemikirannya dari mana. Jika ditemukan orang itu sudah merujuk kepada sumber kebenaran yang dipercaya semua orang (kitab suci), maka ada kewajiban untuk saling menghormati perbedaan pemikiran.

TIDAK ADA PAKSAAN DAN KULTUS INDIVIDU DALAM AGAMA (MUHAMMAD PLATO)
Setelah itu, manusia tidak akan diam. Zaman akan berubah, variasi hidup juga akan berubah. Pemikiran pun akan mengalami perubahan dan kembali saling menguji dan menyesuaikan. Sumber kebenarannya tetap sama dari kitab suci Al-Qur’an, namun penafsiran untuk menjawab variasi hidup akan mengalami perubahan.

Di zaman banjir pengetahuan saat ini, semua orang diajak cerdas memahami setiap pengetahuan yang diterima untuk dipahami dan dimaknai oleh akalnya sendiri. Kitab suci menyediakan pengetahuan dengan 700 lapis penafsiran. Agama mengajak cerdas umat, untuk itu Allah memerintahkan manusia berpikir. Pengetahuan sudah tersebar luas di media informasi dan menjadi milik pribadi-pribadi, tinggal kita memilih bedakan mana yang dicintai dan mana yang dibenci Allah. Berpikir tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kematian menjemput.

Allah sudah memberi petunjuk jalan yang lurus dalam berpikir, yaitu berpikir hanya untuk selalu menyembah dan meminta pertolongan Allah, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”, (Alfatihan, 1:5).


Berpikir adalah ibadah, karena berpikir adalah perintah Allah kepada manusia. “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21). Agama mencerdaskan semua bukan segelintir orang. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

No comments:

Post a Comment