Saturday, April 6, 2013

NABI MUHAMMAD SAW MAHA GURU LOGIKA TUHAN (1)


Bagi kaum muslimin, ada dua sumber hukum yang dijadikan rujukan beragama. Pertama adalah Al-Quranul karim. Kedua Al Hadis berisi pemikiran, perkataan, yang mencerminkan segala prilaku Nabi Muhammad saw. Kaum muslimin meyakini 100% bahwa kedua sumber hukum tersebut saling menjelaskan. Namun kedudukan Al-Qur’an menjadi sumber utama dan Al Hadis menjelaskan lebih praktis tentang kandungan Al-Qur’an. Bahkan umat Islam yakin bahwa tafsir Al Qur’an yang paling mendekati kebenaran adalah tafsir yang menggunakan hadis-hadis Nabi Muhammad saw.

Jika di cermati dengan seksama tidak ada manusia cerdas seperti Rasulullah saw. Bahkan penulis berani berpendapat Nabi Muhammad adalah manusia paling cerdas di muka bumi ini. Dibanding dengan siapa pun IQ Nabi Muhammad saw adalah yang terbaik dan pasti memiliki skor paling tinggi. Untuk itu, Beliau mampu mengaplikasikan logika Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an ke dalam bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh umat manusia.

Coba cermati dari beberapa contoh hadis Nabi Muhammad saw, di dalamnnya mengandung logika Tuhan yang bersumber dari Al-Qur’an. Perhatikan beberapa hadis Nabi Muhammad saw di bawah ini;

Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya... (HR. Muslim)

Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya. (HR. Bukhari).

Janganlah kamu menjadi orang yang "ikut-ikutan" dengan mengatakan "Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim". Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi)

Ketiga hadis di atas mengandung logika dari Tuhan sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dasar logikanya adalah jika berbuat kebaikan maka akan berbalas kebaikan dan jika berbuat kejahatan maka akan berbalas kejahatan. Sumber logika yang digunakan dalam hadis di atas terdapat dalam Al-Qur’an sebagai berikut;

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,... (Al Israa:7)

Barang siapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al Qashash:84)

Maka, bersumber dari logika dari Tuhan (Al-Qur’an) di atas, bunyi hadis Nabi Muhammad saw dapat dipahami secara logis. Konstruksi logisnya bisa kita pahami sebagai berikut;

Jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), maka;

barangsiapa melapangkan kesusahan, kesempitan seorang mukmin di dunia (KEBAIKAN)...
maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan (KEBAIKAN)... (HR. Muslim).

Anda saksikan, kontrsuksi bunyi hadis yang dikemukan Nabi Muhammad saw, mengikuti konstruksi logika yang terdapat dalam Al-Qur’an. 


sumber photo: pixabay

Kontruksi hadis berikutnya, jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), maka

orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan (KEBAIKAN)
sama pahalanya seperti orang yang melakukannya (KEBAIKAN) (HR. Bukhari).

Konstruksi hadis berikutnya, jika kebaikan akan berbalas kebaikan, dan keburukan akan berbalas keburukan (baca: Al Israa:7, Al Qashash:84), Maka,

...teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, "Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula  dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya". (HR. Tirmidzi)

Mengapa Nabi Muhammad saw, mengajarkan agar kita berprinsip tetap baik ketika orang lain berbuat kejahatan? Karena logikanya sudah jelas bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan untuk kebaikan kita, dan kejahatan yang kita lakukan juga untuk kita. Maka kita harus berprinsip tetap berbuat baik sekalipun orang berbuat jahat karena apapun yang kita lakukan semuanya akan kembali pada diri kita. Jadi prinsipnya harus tetap berbuat baik, agar hidup kita selalu mendapat kebaikan.

Sudah jelas bukan? Maka kalau Anda mau menjadi manusia super cerdas seperti Nabi Muhammad saw, marilah kita belajar logika Tuhan dari sumbernya yaitu Al-Qur’an. Sesungguhnya Nabi Muhammad saw adalah contoh teladan bagi seluruh umat manusia dalam berlogika. Semua kesesatan bersumber dari logika yang salah yaitu logika-logika yang tidak bersumber dari Tuhan. Nabi Muhammad saw adalah Maha Guru Besar kita dalam berlogika Tuhan. 

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @ logika_Tuhan.

Wednesday, March 20, 2013

ORANG BERIMAN MESTINYA SUPER CERDAS

Entah dari mana sebabnya banyak yang mengejek bahwa orang-orang beriman kelihatan bodoh, gagap teknologi, dibanding orang-orang yang tidak mengatasnamakan orang-orang beriman. Mungkinkah karena orang-orang beriman cenderung memahami ajaran Tuhan dengan dogma? Memang ajaran yang hanya diajarkan dengan dogma, cenderung tidak memberi peluang kepada otak manusia untuk berpikir. Ajaran yang diajarkan dengan dogma, kurang bisa memecahkan masalah ketika zaman mengalami perubahan.

Kemungkinan besar, kelihatan tidak cerdasnya orang-orang beriman bukan terletak pada substansi ajaran agama, tapi pada cara-cara mengajarkannya. Dogma adalah salah satu metode pembelajaran. Dalam penggunaannya sebuah metode harus memperhatikan perkembangan psikolgis, dan budaya masyarakat. Mengajarkan agama hanya dengan dogma di zaman sekarang, dirasa kurang tepat, karena hampir seluruh umat manusia di muka bumi ini, diajari tentang berpikir rasional di sekolah-sekolah. Maka kondisi ini akan berdampak pada cara pemahaman rasional dalam memahami agama.

Dogma-dogma yang mereka dapatkan akan dikritisi dengan pikiran rasional yang diajarkan di sekolah-sekolah.  Tak terelakkan lagi, ajaran agama dikaitkan dengan masalah-masalah hidup yang dihadapi dan cita-cita hidup yang diinginkan. Bagi mereka, ajaran agama harus bisa menjadi solusi dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan, bisa mensejahterakan dan mengantarkan pada cita-cita hidup yang diinginkan.

Sayang, jika semua ajaran agama diajarkan secara dogmatis. Bukan hanya substansi ajaran agama yang menjadi terbatas, tapi juga umat menjadi kurang pengetahuan dalam memahami agama. Metode dogma telah membatasi seseorang untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang ajaran agama. Pembatasan ini mengakibatkan ajaran agama kurang bermakna dan dianggap tidak bisa lagi  memecahkan masalah kehidupan. Misalnya, agama dianggap tidak bisa lagi mengantarkan pada cita-cata manusia yang ingin hidup sejahtera dengan memiliki kekayaan, ilmu pengetahuan, dan apalagi mengantarkan pada kekuasaan. Sementara itu, ketika agama dipersepsi dari sudut pandang lain, para penjaga metode dogma akan berbicara keras sampai angkat senjata.

Oleh karena itulah, manusia-manusia mencari alternatif lain untuk menyelesaikan masalah hidup di luar ajaran agama. Kebebasan berpikir yang diajarkan di sekolah-sekolah akhirnya melahirkan tuhan-tuhan baru. Mereka menjadikan hasil pemikiran (ideologi), orang tua (manusia), alam (materi), roh-roh halus (makhluk ghaib selain Tuhan), menjadi alternatif tumpuan dalam memecahkan masalah hidup.

Manusia telah lari menjauh dari Tuhannya dan manusia bukan semakin cerdas malah semakin bodoh. Sepertinya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin cerdas. Mungkin anda setuju, manusia bisa menciptakan berbagai macam teknologi, dan itu bukti kecerdasan manusia. Padahal kenyataannya tidak, sebelum teknologi-teknologi yang mereka ciptakan bisa mengantarkan mereka pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sekarang, kita berada di dua sisi yang bersebrangan. Di satu sisi dogma agama membatasi kemampuan manusia dalam berpikir, di sisi lain manusia-manusia bebas berpikir  dan memiliki teknologi telah membunuh Tuhannya. Orang-orang di kedua sisi ini menjadi sama-sama tidak cerdas. Di kedua sisi, akhirnya sama-sama hidup tidak berlandaskan pada ajaran-ajaran Tuhan. Agama menjadi kedok dan ilmu menjadi alat untuk menentang ajaran-ajaran Tuhan.

Semestinya orang-orang yang beriman kepada Tuhan YME, adalah orang-orang yang super cerdas. Kecerdasannya dua kali lipat dari orang yang tidak beriman. Kecerdasan orang beriman terletak pada kemampaun mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bisa menemukan Tuhan. Bagi orang beriman, semakin tinggi ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan semakin tunduk kepada Tuhan, karena semua ilmu pengetahuan berada di bawah hukum-hukum Tuhan. Kita semua adalah penemu dan Tuhan yang menciptakan. Inilah manusia-manusia masa depan yang sangat diharapkan oleh Tuhan.

Sudah semestinya orang-orang beriman menjadi orang-orang cerdas. Sebuah hasil penelitian membuktikan bahwa manusia beriman seharusnya lebih cerdas. Seseorang yang belajar sesuatu melalui cara praktek (pyshycal practice) terbukti otaknya cerdas. Mereka adalah yang belajar dengan cara meneliti, mempraktekkan gejala-gejala alam dan sosial dalam sebuah percobaan. Sebaliknya mereka yang belajar dengan cara mengimajinasikan (memikirkan apa yang mereka lakukan) atau (mental practice) terbukti juga otaknya cerdas. (Taufik Pasiak:2010).

Orang beriman adalah mereka yang selalu praktek dan berimajinasi. Ketika beribadah (shalat), kaum muslimin melakukan gerak (praktek) dan berusaha mengimajinasikan (hadir, komunikasi) dengan Tuhan. Ibadah haji penuh dengan praktek gerak, dan seolah-olah (mengimajinisakan) sedang memenuhi penggilan Tuhan.

Untuk itulah orang-orang beriman mestinya lebih cerdas. Orang-orang beriman setiap hari melatih otaknya dengan gerak (praktek) dan mengimajinasikan kehadiran Tuhan. Oleh kaum muslimin dilakukan minimal sehari lima kali dalam shalat wajib.

Bagaimana sebaiknya, agar manusia bisa beriman dan lebih cerdas. Tuhan mengajarkan, berpikirlah atas nama Tuhan. Dan Tuhan Berfirman;

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” (Al ‘Alaq:1).

Luasnya hamparan bumi dan tingginya langit adalah Tuhan yang menciptakan. Semuanya berjalan diatas kehendak Tuhan.

Orang-orang beriman harus membaca (memikirkan) alam dan gejala-gejala sosial di dalamnnya. Maka orang-orang beriman akan menemukan hukum-hukum yang diciptakan Tuhan di alam dan gejala sosial. Teknologi-teknologi terciptakan karena manusia berhasil mengungkap hukum-hukum Tuhan di alam. Maka siapa yang Maha Cerdas? Maka orang-orang beriman akan menjadikan teknologi sebagai alat untuk menunjukkan kebesaran Tuhannya. Inilah kecerdasan super dari orang-orang beriman yang tidak dimiliki oleh orang-orang tidak beriman. Wallahu ‘alam.

Thursday, March 14, 2013

ORANG BESAR DAN KECIL

ORANG BESAR
ADALAH MEREKA
YANG BISA MENGUBAH DIRINYA DARI HAL KECIL

ORANG BESAR
TIDAK BERMAIN
DENGAN HAL-HAL YANG BERESIKO KECIL

ORANG BESAR
TIDAK MEREMEHKAN HAL-HAL KECIL

ORANG BESAR
SELALU MENEKAN DIRINYA
AGAR TETAP KECIL

ORANG-ORANG BESAR
MENGAIS REJEKI
DARI ORANG-ORANG KECIL

ORANG-ORANG BESAR
BERSAHABAT KENTAL
DENGAN ORANG-ORANG KECIL

ORANG-ORANG BESAR
MAKAN DENGAN PORSI KECIL

ORANG BESAR
MULAI DARI HATI,
PIKIRAN,
TANGAN,
DAN KAKINYA UNTUK ORANG KECIL

ORANG-ORANG BESAR
TIDAK BERANI
MENANTANG YANG MAHA KECIL

ORANG-ORANG BESAR
SELAMANYA
TUNDUK DAN PATUH PADA YANG MAHA KECIL

SESUNGGUHNYA
HIDUP DAN MATINYA ORANG-ORANG BESAR
UNTUK YANG MAHA KECIL


KANG MASTER,
SENIN 23 MEI 2011

Tuesday, March 12, 2013

BEKERJA BUKAN CARI UANG, BANTU ORANG!

Oleh: Muhammad Plato

Tidak semua orang paham kalau kerja itu bantu orang. Boleh dicek, dari 100 orang coba tanya, untuk apa dia bekerja? Kalau ada yang jawab, paling 10% jawabnya bantu orang, itu jawaban paling bagus. Perkiraan saya paling hanya satu dua orang. Saya tidak berprasangka buruk. Mengapa begitu? Ya, kapan dia belajar logika Tuhan? Kalau tidak belajar logika Tuhan tidak mungkin dapat kesimpulan bahwa niat bekerja itu harus bantu orang.

Ini ilmu buat para pekerja di mana saja dan di bidang apa saja Anda bekerja. Itupun kalau mau sukses, kalau tidak ya silahkan cari uang sampai bongkok. Segala sesuatu tergantung niat. Sebaik-baiknya niat harus ada di jalan Tuhan. Kalau kerja cari uang ada perintahnya tidak dari Tuhan? Memang Tuhan suruh kita berusaha cari nafkah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup, tapi tahu tidak? Tuhan juga mengajarkan cara mencarinya.


Dapat uang dari bekerja itu hanya efek bukan tujuan. Orang yang niat kerja cari uang, pasti kinerjanya tergantung uang. Jika uangnya gede, pekerjaan digarap, sebaliknya jika uangnya kecil malas-malasan. Atau dia pilih-pilih pekerjaan yang selalu ada imbalan uangnya sekalipun sudah digaji bulanan. Jika ada uangnya dikerjakan, dan jika tidak ada uangnya ditinggalin. Orang seperti ini tidak cocok kerja di kantor swasta atau pemerintah. Juga orang ini tidak cocok menduduki jabatan penting atau pimpinan perusahaan, dia cocoknya jadi tukang kuli panggul di pelabuhan atau pasar tradisional, atau tukang gali tanah proyek galian kabel, alias pekerja kasar.

Maka, agar pekerjaan kita bisa melipatgandakan uang, niatnya harus bantu orang dulu. Coba saja cek, dimuka bumi ini tidak ada pekerjaan yang tidak bantu orang. Semua pekerjaan bantu orang. Jangan mendebat ya, sudah jelas ko itu ketentuan Tuhan.

Bisnis apa yang tidak bantu orang? Wiraswasta apa yang tidak bantu orang? Pabrik mobil, motor, komputer, semuanya berusaha bantu orang agar hidupnya lebih mudah. Pekerja di toko, adalah bantu pemilik toko dan pelanggan yang membutuhkan barang. Bekerja di rumah tangga adalah bantu majikan mengasuh anaknya, memasak, mencuci dan membereskan rumah.

Di Cina, India Amerika Serikat, Rusia, Indonesia, Jerman, Korea, Saudi Arabia, Emirat  Arab, Singapupra, Malaysia, Philipina, Jepang, semua orang yang bekerja, berbisnis adalah membantu orang. Mengapa begitu? Ini ketentuan dari Tuhan-nya, bacalah dengan logika mu;

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(An Nisaa:1)

Konsep “saling meminta satu sama lain” artinya bisa tolong menolong, saling memberi, atau jual beli (trade). Coba anda perhatikan dua orang yang sedang jual beli di pasar. Mereka melakukan praktek saling meminta. Ketika pembeli meminta barang yang dibutuhkannya, penjual akan memberikan barangnya, selanjutnya penjual akan meminta uangnya, dan pembeli memberikan uangnya. Inilah yang dimaksud praktek saling meminta.

Seorang majikan akan meminta seseorang bekerja membantu pekerjaannya, pekerja akan memberikan tenaganya, selanjutnya pekerja akan meminta bayarannya dan majikan memberikan upahnya. Sama aja ya kaya jual beli.

Transaksi yang aman adalah kerja dulu, berikan upahnya, sediakan barang baru berikan uangnya. Isitilahnya ada barang ada uang itu tepat, atau dalam hadis Nabi, bayarlah upah sebelum keringat kering. Artinya kerjakan sampai selesai, bayaran jangan dinanti-nanti.

Kesimpulannya, agar bisnis dan pekerjaan Anda diberkahi Tuhan, niatkan dulu bantu orang. Sebab dalam hidup ini, orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi bermanfaat bagi banyak orang dia adalah orang yang paling sukses. Kalau Anda berniat bantu orang, apapun yang Anda lakukan akan menjadi proses saling mensedekahi, dan itu dijalan Tuhan.

Pekerja bersedekah dengan tenaganya, pedagang bersedekah dengan jasa layanan  kebutuhan hidup orang lain. Dengan begitu Tuhan akan memberikan balasan berlipat ganda (keberkahan) kepada orang-orang yang bekerja, berbisnis, dengan tujuan bantu orang. Membantu orang sama dengan sedekah dan sedekah akan mendapat balasan dari Tuhan berlipat ganda. Semakin bermanfaat bagi orang banyak, rezeki Anda akan terus berlipat ganda. Ingat rumus sedekah dalam Al-Baqarah:261 yaitu 1-1=700.

Salam sukses dengan logika Tuhan! Follow me @logika_Tuhan.

Saturday, March 9, 2013

MENGAPA ORANG TUA JADI PENYEJAHTERA HIDUP ANDA?

Oleh: Muhammad Plato

Kawan-kawan sekalian tentu pernah belajar tentang sejarah perkembangan manusia. Terlepas dari kontroversi, kita menyaksikan bahwa kehidupan manusia berkembang dari tingkat sederhana sampai pada tingkat kehidupan komplek sekarang.
 
Namun ada hal yang dapat kita jadikan pelajaran dari masyarakat dulu dalam kehidupan sekarang, yaitu tentang penghormatan masyarakat zaman dahulu terhadap orang tua. Bentuk penghormatan itu diwujudkan dalam bentuk kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau yang kita kenal dengan kepercayaan animisme.

Kepercayaan animisme, terlahir dari rasa hormat masyarakat pada orang tua yang menjadi tokoh masyarakat semasa masih hidup. Para orang tua yang menjadi tokoh masyarakat semasa hidupnya dihormati dan diyakini dapat menyembuhkan penyakit, membawa berkah, menolak bencana, bisa mewujudkan segala impian dan dapat menjadi sumber kekuatan. 

Dahulu, para orang tua yang ditokohkan layaknya dokter di zaman modern, yang bisa menyembuhkan penyakit, atau layaknya motivator yang bisa tetap membangkitkan semangat hidup. Keberadaan mereka sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Setelah meninggal para orang tua yang ditokohkan itu, diyakini arwahnya masih hidup dan masih tetap bisa berkomunikasi dengan manusia sebagai pembawa rejeki. Atas dasar kepercayaan itu, ritual-ritual penghormatan kepada arwah orang tua bergeser menjadi ritual penyembahan dan melahirkan berhala-berhala sesembahan selain Tuhan.  

Tuhan membenarkan bahwa para orang tua adalah pembawa rezeki bagi kehidupan manusia. Sebab itu Tuhan menjadikan orang tua sebagai jembatan untuk kesejahteraan hidup manusia. Tuhan memposisikan orang tua sebagai sosok keramat agar setiap manusia yang dilahirkan berbuat baik kepada orang tua. Orang tua seperti pencipta, mereka memelihara, merawat dan mendidik menjadi manusia dewasa. Maka masuk logika kalau Tuhan memposisikan orang tua sebagai broker (perantara) ciptaan Tuhan yang dapat memberikan kelancaran dan kesejahteraan hidup manusia di muka bumi.

Namun ada yang perlu diluruskan dari prilaku manusia tempo dulu yang menjadikan orang tua mereka sebagai sesembahan. Prilaku masyarakat zaman dahulu yang menyembah ibu bapaknya sebagai sumber rejeki, dibatalkan oleh Tuhan dalam Al-Qur’an. Namun pembatalan itu tidak mengurangi kesakralan posisi ibu bapak sebagai pembawa berkah rejeki.

“...janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka;...” (Al An’aam:151)

Tuhan menganjurkan kepada anak-anak Adam untuk berbuat baik, dengan sebaik-baiknya kepada ibu dan bapak, sampai ibu bapak mereka ikhlas berdoa kepada Tuhan demi keberkahan hidup anak-anaknya.

Maka dari itu, berbuat baik kepada ibu bapak adalah syarat mutlak keberkahan hidup. Syarat keberkahan usaha, perdagangan, bisnis, karir dan kesehatan yang kita cita-citakan. Berbuat baik berbeda dengan menyembah. Berbuat baik menjadikan posisi orang tua kita sebagai sosok yang perlu pertolongan, sebaliknya menyembah menjadikan ibu bapak sebagai penolong. Berbuat baiklah kepada ibu bapak mu wahai manusia! ini ketetapan Tuhan mu yang tak terbantahkan.

salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

LOGIKA ADALAH SOFTWARE UNTUK MEYAKINI TUHAN


Semua orang (baik/buruk) hidup dalam logika Tuhan termasuk setan. Manusia baik atau jahat, setan baik atau jahat, hanya menggunakan ketentuan-kententuan Tuhan dalam meraih tujuan hidupnya. Tidak ada manusia, setan, malaikat yang menciptakan ketentuan.

Semua yang ditemukan manusia, sudah ada sebelumnya, manusia hanya menjelaskan kronologis bagaimana ketentuan-ketentuan tersebut bisa dipahami dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Segala jenis teknologi merupakan pemanfaatan dari ketentuan-ketentuan Tuhan yang berhasil dipahami manusia.

Dari hal terumit sampai yang sederhana semua berada dalam ketentuan Tuhan. Pada abad ke-20 para ilmuwan memahami bahwa realitas kehidupan adalah yang terpisah-pisah seperti yang kita lihat sekarang. Manusia dengan manusia lainnya terpisah, laut dengan daratan, bumi dengan langit, semuanya dipersepsi sebagai benda yang terpisah-pisah.

Dari pandangan semacam itu lahirlah pemikiran reduksioneisme (memisah-misahkan) benda menjadi bagian-bagian terkecil. Setiap bagian berdiri sendiri tanpa harus berhubungan dengan bagian lain. Pandangan ini dianggap sebagai kebanaran hakiki.

Lahirlah pula ajaran pemisahan yang sering kita sebut sekularisme. Lahir lagi ajaran yang sering kita sebut individualisme. Lahir pula pemikiran bahwa setiap individu dengan individu lain harus bersaing bukan bekerjasama. Pemikiran-pemikiran ini memang ada dalam ketentuan Tuhan. Tidak salah manusia mempersepesinya, namun kesalahannya dia menapikan ketentuan hidup yang lainnya. Seolah-olah sekularisme, individualisme, dan kompetisi sebagai satu-satunya jalan hidup yang harus diperjuangkan.

Maka memasuki abad ke-21, ditemukan sebuah realitas bahwa hidup ini bukan keterpisahan, tapi keterpaduan. Benda-benda yang terlihat terpisah-pisah itu ternyata berada dalam satu kesatuan. Inilah yang disebut dengan dunia kuantum, diambil dari nama benda terkecil dalam dunia fisika yaitu quanta.
Quanta ini adalah benda namun tidak berwujud, gerakannya acak, dan merupakan esensi dari seluruh benda. Quanta diibaratkan seperti udara yang berada dalam satu ruangan yang tidak terpisah-pisah. Hal ini menjelaskan bahwa dalam kenyataan hidup ini memiliki dua dimensi, yaitu dunia nyata yang terpisah-pisah dan dunia hakikat yang terpadu.

Bagi Tuhan dunia kuantum bukan hal baru, sejak penciptaan manusia, Tuhan sudah memberitahukan kepada manusia. Bahwa alam raya diciptakan dalam keterpaduan. Manusia diciptakan dari diri yang satu, lalu menciptakan Istri (terpisah), mengembang biakkan laki-laki dan perempuan (terpisah-pisah), saling meminta satu sama lain dengan memelihara silaturahmi (saling berhubungan/kuantum). Demikianlah Tuhan menjelaskan tentang dua dunia yaitu dunia terpadu dan terpisah-pisah.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa:1).

Dalam kitab suci Al-Qur’an Tuhan menjelaskan tentang keberadaan dua dunia yang disebut dunia gaib dan dunia nyata. Dunia gaib adalah dunia kuantum (quanta) yang terpadu, dan dunia nyata adalah dunia empiris yang terpisah-pisah. 

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Al Hasyr:22)

Kebenaran mana lagi yang hendak engkau dustakan? Tuhan maha mengetahui, dan manusia tidak mengetahui. Manusia diberi akal untuk memahami hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan, agar manusia semakin yakin kepada Tuhan. Logika adalah sofware yang diberikan kepada manusia agar mereka bisa semakin yakin kepada Tuhan. 

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Friday, March 8, 2013

TUHAN MEMBERI HADIAH KEPADA YANG GAGAL


Kawan-kawan, saya buat tulisan ini agar kawan-kawan bisa memahami sedikit demi sedikit apa itu logika Tuhan. Sebab selama ini saya merasa sulit menjelaskan logika Tuhan kepada khalayak umum. Belum lagi ada orang-orang yang fobia terhadap kata logika. Termasuk lagi, ada yang tidak berkenan kata logika dikaitkan dengan Tuhan. Mungkin sebagian orang ada yang bilang bahwa saya pembual atau mau mengacaukan ajaran agama. Padahal tidak sedikit pun ada niat buruk seperti itu. Niat saya, membantu kawan-kawan agar bisa berkomunikasi dan merasa dekat dengan Tuhan.
 
Baik akan saya jelaskan, satu logika bertentangan antara logika manusia pada umumnya dengan logika Tuhan yang saya kembangkan. Dalam kasus kehidupan mungkin sudah biasa, “Manusia biasanya memberi hadiah kepada orang-orang yang telah sukses meraih cita-citanya”. Seorang anak mendapatkan hadiah karena menjadi juara kelas, seorang manajer mendapatkan hadiah promosi jabatan karena bisa meningkatkan produktivitas kerja karyawan, seorang tentara mendapat kenaikan pangkat karena berhasil melaksanakan misi, seorang guru mendapat penghargaan karena berhasil membimbing siswanya menjadi juara di tingkat internasional. Itulah logika-logika berpikir manusia pada umumnya.

Dan inilah perbedaan logika manusia pada umumnya dengan logika Tuhan yang penulis kembangkan dari kitab suci Al-Qur’an. “KALAU MANUSIA MEMBERI HADIAH KEPADA ORANG-ORANG SUKSES, SEBALIKNYA TUHAN MEMBERI HADIAH KEPADA ORANG-ORANG GAGAL”.

Logika ini bisa kita pahami dari keterangan yang sudah sering kita baca setiap hari. Namun sedikit orang memahami karena bacaan-bacaan dari kitab suci kadang-kadang dibuat tidak ubahnya seperti mantra-mantra. Bacaan yang mengandung logika Tuhan itu adalah;

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,  sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah:5-6).

Mari kita baca ayat di atas dengan pola logika sebab akibat, maka; KESULITAN ADALAH PENYEBAB KEMUDAHAN. Kalau kita terjemahkan lagi dengan sinonimnya, berarti PENDERITAAN ADALAH PENYEBAB KESUKSESAN. Dapat juga berarti, KEGAGALAN ADALAH PENYEBAB KESUKSESAN.

Dalam bahasa logis lainnya adalah, Tuhan memberi kesuksesan, kebahagiaan, kepada orang-orang yang hidupnya menderita dalam kegagalan. Arti penderitaan, kegagalan adalah kondisi sulit, kekurangan, terhina, direndahkan,  karena konsisten dijelan Tuhan. 

Orang-orang jujur biasanya hidup terhina, kesulitan, direndahkan, diasingkan, dan kekurangan. Selama orang itu konsisten dalam kejujuran, maka kesulitannya akan berbuah hadiah kesuksesan, kelapangan, dan kesejahteraan dari Tuhan, baik di dunia maupun akhirat.  

Sebaliknya orang-orang yang hidup dari uang korupsi, dia juga akan mendapatkan penderitaan, seperti menjadi tersangka, divonis hukuman penjara, dan hartanya disita. Selama dalam penderitaannya dia bisa mengakui kesalahan dan kembali kepada jalan Tuhan, dia akan merasakan bahwa Tuhan akan memberikan kesejahteraan hidup yang lebih baik dari sekedar hidup dengan uang hasil korupsi.

Setiap penderitaan, atau kegagalan sebenarnya akan berbuah hadiah dari Tuhan. Namun sebaik-baiknya hadiah yang dirasakan seseorang adalah hadiah yang dia dapatkan karena penderitaan, dan kegagalan-kegagalan yang dia alami dalam rangka mempertahakan hidup konsisten di jalan Tuhan. 

Lalu apakah salah jika manusia memberi hadiah kepada orang-orang sukses? Bisa ya, bisa tidak? Salah jika memberi hadiah kepada orang-orang sukses tanpa menderita. Benar, jika manusia memberi hadiah kepada orang-orang sukses, bukan karena suksesnya tapi menghargai perjuangan, penderitaan, dia dalam meraih kesuksesannya.

Yang ingin saya tegaskan di sini adalah jangan takut menderita! Jangan bersedih karena menderita, tapi beranilah menderita, dan optimislah karena menderita, sebab Tuhan menjanjikan hadiah bagi mereka yang menderita. 

Demikian kawan-kawan, kalau ada kekurangan bisa berdiskusi lebih lanjut. Di akun saya @logika_Tuhan. Salam sukses dengan logika Tuhan.