Tuesday, January 10, 2017

MENYALAHKAN ORANG LAIN HARAM!


Oleh:
MUHAMMAD PLATO

Menyalahkan orang lain atau sesuatu di luar diri kita adalah ucapan sehari-hari yang sulit kita kontrol. Di keluarga, masyarakat, dan sebuah negara, silahkan amati, ucapan-ucapan dengan nada menyalahkan orang lain hampir setiap saat kita dengar.

Pelakunya dari semua umat beragama, kiyai, pendeta, biksu, dosen, guru, santri, abangan, preman, atheis, hampir setiap saat menjadi pelaku yang suka menyalahkan orang lain. Apalagi para politikus, pernyataannya selalu tendensius menyalahkan lawan politiknya.

Dalam percakapan sehari-hari, kita juga sering mendengar prilaku menyalahkan keadaan. Hal yang sering dipersalahkan adalah cuaca hujan. Kalau kita amati, segala kondisi selalu menjadi objek untuk disalahkan manusia.

Meyalahkan orang lain atau keadaan bukan termasuk karaktek mulia. Menyalahkan orang atau keadaan menjadi sebab munculnya pola-pola pikir negatif. Menyalahkan orang lain atau keadaan menjadi ciri manusia kualitas rendah, dan kurang diperhitungkan dalam segala bidang. Orang dengan karakter suka menyalahkan orang lain dan keadaan, cenderung tidak bisa bekerja sama, sulit kompak, miskin ide, dan memiliki hambatan dalam sosialisasi. Manusia yang memiliki karakter suka menyalahkan orang lain dan keadaan, termasuk orang-orang lemah, dan sakit pikir.

Orang-orang yang memiliki karakter suka menyalahkan orang lain dan keadaan, mereka tidak cocok usaha dalam segala bidang termasuk menjadi pekerja. Para pelaku bisnis, pemilik perusahaan, pejabat di lembaga negara, dapat menjadikan kriteria karakter menyalahkan orang lain dan keadaan, menjadi faktor tidak diterimanya seseorang sebagai partner bisnis, abdi negara atau karyawan. Secara psikologis, orang-orang dengan karakter suka menyalahkan orang lain dan keadaan tidak akan produktif mengembangkan perusahaan atau lembaga di mana dia bekerja, mereka cenderung menjadi krikil dalam sepatu.

Seorang pengusaha, bukan termasuk pengusaha tangguh jika masih menyalahkan orang lain atau situasi di luar dirinya sebagai sebab kegagalan. Seorang pengusaha, pekerja, pejabat, pemimpin, tangguh adalah mereka yang tidak mencari sebab kegagalan diluar dirinya. Kesalahan akan jadi alat untuk meningkatkan profesionalismenya dalam segala bidang.

LARANGAN MENYALAHKAN orang lain dan keadaan, tersembunyi namun cukup jelas jika kita pahami dengan sedikit logika berpikir sebab akibat. Ayat yang paling terkenal dan sering dikutif oleh para kiyai adalah surat Al Israa, (17:7). “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,”.

Secara tegas dijelaskan dalam surat Ali Imran, (3:165), “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Surat Ar Rahman menguatkan bahwa balasan baik tidak akan bercampur dengan balasan buruk. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)”. (55:60).

Berdasarkan keterangan ayat-ayat di atas, tidak ada rumus bahwa keburukan, kegagalan, datang dari luar diri manusia itu sendiri. Kesalahan, keburukan, kegagalan, datang dari dalam diri sendiri sudah menjadi sistem alam, sunatullah, dan baku sebagai takdir atau ketetapan Tuhan.

Sekalipun manusia merasa tidak pernah berbuat salah, rumusnya tetap tidak akan pernah menyimpang bahwa kesalahan sebabnya ada dalam diri manusia sendiri. Untuk itulah manusia-manusia bijaksana tidak akan menghakimi orang lain salah, tetapi akan membawa musyawarah, berdiskusi, saling menghargai, dengan tidak tendensi menyalahkan tetapi memberi penjelasan berdasarkan pendapat masing-masing, untuk mencari tahu mana yang lebih mudah dipahami, diaplikasikan, dan berdampak baik bagi kehidupan masyarakat banyak.   

Karakter yang tidak mudah menyalakan orang lain atau keadaan, akan lebih cenderung memilih damai dalam dalam perbadaan dari pada konflik. Sebab dalam kedamaian kekuatan, kesejahteraan hidup manusia dapat diwujudkan. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. (An Nisaa, 4:114).

ITULAH  sebab-sebab rasional mengapa menyalahkan orang lain HARAM, karena bertentangan dengan ketentuan dari Tuhan. Setiap yang bertentangan dengan ketentuan Tuhan maka termasuk perbuatan dosa.  Arti dari perbuatan dosa itu sendiri adalah karakter buruk, bencana, penyakit, dan kehancuran. Sekalipun pada ujungnya manusia akan menuju kehancuran dan kebinasaan, manusia-manusia berkarakter baik menginginkan mati dalam kebaikan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Friday, January 6, 2017

MANUSIA BAIK ADALAH YANG BERBUAT SALAH


Oleh
MUHAMMAD PLATO

Bagi kita, manusia baik adalah mereka yang 100 persen berkelakukan baik, bagi Tuhan manusia baik adalah mereka yang tidak luput dari perbuatan salah.  Persepsi kita tentang siapa manusia baik, sering menjadi sebab timbulnya sikap berlebihan terhadap manusia-manusia yang berbuat salah.

Anda mungkin pernah menyaksikan pencuri ayam di arak dipertontonkan keliling kampung. Pencuri kendaraan bermotor rame-rame dibakar hidup-hidup oleh warga. Pelaku jinah di telanjangi dan dipermalukan di muka umum. Seorang guru atau ustad yang khilaf di maki-maki sebagai pecundang hingga harga dirinya turun drastis.

Ada juga yang berkomitmen buruk dengan menjadi pembenci seumur hidup kepada manusia lainnya.Sumpah saya tidak akan memaafkan kesalahan orang itu seumur hidup! Tidak sadar orang yang bersumpah ini telah menjadi orang buruk seumur hidup.  

Sikap berlebihan manusia semacam ini lahir akibat persepsi keterlaluan bahwa orang-orang baik adalah mereka yang 100 baik. Padahal Tuhan melalui Nabi Muhammad telah mengajarkan kepada kita,

“Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat”. (HR. Addarami)

“Iblis berkata kepada Robbnya, "Dengan keagungan dan kebesaranMu, aku tidak akan berhenti menyesatkan bani Adam selama mereka masih bernyawa." Lalu Allah berfirman: "Dengan keagungan dan kebesaranKu, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka beristighfar". (HR. Ahmad)

“Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus”. (HR. Ath-Thabrani)

Sesungguhnya Allah menurunkan kepadaku dua keselamatan bagi umatku. Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang (mereka) beristighfar (minta ampun), bila aku (Nabi Saw) pergi (tiada) maka aku tinggalkan bagimu istighfar sampai hari kiamat. (HR. Tirmidzi)

SEMUA MANUSIA PEMBUAT SALAH. Sekuat tenaga manusia menghindari dosa, maka dia akan terperosok pula ke dalam dosa. Karena dosa adalah ketetapan yang harus dilalui oleh setiap manusia.

“Apabila kamu tidak pernah berbuat dosa maka Allah Tabaroka Wata'ala akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian Allah mengampuni mereka”. (HR. Muslim)

Bahasa logika yang bisa kita pahami dari seluruh hadis di atas adalah semua manusia pasti akan berbuat salah. Maka bagi siapa saja tidak bisa menyalahkan orang lain, karena kesalahan pasti ada pada setiap diri manusia. Pribadi yang harus dimiliki oleh setiap manusia adalah menjadi pemaaf kepada siapa saja yang berbuat salah. Itulah pribadi agung yang diajarkan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw.

Secara psikologis, bagi yang berbuat salah jangan terlalu merasa bersalah, bersikap wajar saja karena salah adalah bagian dari takdir manusia yang tidak bisa dihindari. Jangan putus asa ketika berbuat salah karena selama ada upaya memohon ampun, selama itu pula Tuhan selalu terbuka siang dan malam menerima tobat dan mengampuni dosa. Manusia salah adalah ketika mereka menghukum dirinya sebagai orang salah padahal Tuhan maha pengampun. Manusia salah adalah mereka yang tidak segera mengimbangi kesalahan dengan perbuatan baik.

Dihadapan Tuhan setiap manusia harus tetap optimis. Dihadapan manusia awam, tidak ada manusia sempurna karena semua manusia punya cela, tetapi di dalam pandangan Tuhan, semua manusia telah diciptakan sempurna tanpa cela. Maka manusia-manusia baik adalah manusia yang masih bisa berrasangka baik kepada Tuhan, karena Tuhan selalu membuka pintu ampunan sepanjang hayat dikandung badan.

Ilustrasi jalan lurus yang dilalui manusia
(Sumber Gambar, Billi P.S. Lim, 2013)

Bagi manusia biasa yang dimaksud jalan lurus adalah tanpa kelok, padahal bagi Tuhan jalan lurus adalah berkelok-kelok. Begitu terbatasnya pandangan manusia, dan begitu luasnya pandangan Allah swt. Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi agung yang bisa selalu bertindak baik atas petunjuk logika dari Tuhan. Amin. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan).

Sunday, January 1, 2017

CEK APAKAH ANDA SUDAH BERIMAN KEPADA TUHAN?

Oleh:
MUHAMMAD PLATO


“Tidak mungkin orang-orang percaya kepada rasul-rasul, sebelum ia beriman kepada Allah; sedangkan beriman kepada Allah melalui ucapan para rasul atau melalui kitab-kitab suci, tidak dibenarkan”. (Syed Muhammad Abduh). Pernyataan ini saya kutif dari Muhammad Abduh tahun 1999, saya jadikan kata-kata mutiara dalam skripsi saya.

Waktu ujian sidang, dosen penguji bertanya tentang maksud pernyataan yang saya kutif dari Muhammad Abduh. Waktu itu saya tidak berani mengemukakannya, karena takut menyinggung atau disangka menjadi penganut ajaran agama yang menyimpang.

Sekarang saya ingin mengemukakan apa maksud dari pernyataan Muhammad Abduh tersebut. Beliau ingin menyampaikan kepada kita bahwa pada akhirnya sumber pembenaran kita kepada rasul dan seluruh ajarannya harus berawal dari keimanan kepada Allah.

Sebaliknya beriman kepada Allah karena ucapan-ucapan para rasul, atau kitab suci tidak dibenarkan. Jika kita beriman kepada Allah karena ucapan para rasul dan kitab suci, kita telah menjadikan rasul dan kitab suci sebagai penyebab keimanan. Karena demikian, keimanan kita menjadi bukan karena Allah tetapi karena rasul dan kitab suci. Sedangkan para rasul dan kitab suci memerintahkan kita semua untuk beriman kepada Allah saja.

Kesimpulannya, pernyataan Muhammad Abduh, mengajarkan kepada kita untuk memurnikan keimanan hanya kepada Allah saja, tidak kepada selain-Nya, Maka dari itu, jika kita saat ini masih meihat kebenaran berdasarkan kepada siapa yang menyampaikannya, maka kita sedang menduakan Tuhan.

Fenomena apa yang dikemukakan Muhammad Abduh, masih terjadi di zaman sekarang. Fanatisme beragama tidak lagi murni kepada Tuhan, tetapi lebih mengatasnamakan tokoh, dan golongan. Kondisi masyarakat semacam ini sangat rentan diadu domba. Tuhan dikotak-kotakkan menjadi pemilik kelompok dan tokoh-tokoh tertentu.

Sering kita temukan, orang berkeyakinan melakukan sesuatu, bukan karena keimanan kepada Tuhan tetapi atas anjuran sebuah kelompok atau tokoh. Melaksanakan hari raya idul fitri pada hari tertentu karena ikut organisasi. Berani melakukan sedekah karena atas anjuran guru agama. Mau ikut pengajian karena penceramahnya selalu membuat hati senang. Rajin shalat berjamaah di masjid karena pengurus masjid termasuk kawan dekat.

Melihat kondisi masyarakat semacam ini, saya takut masyarakat tidak lagi beriman kepada Tuhan, tetapi kepada kelompok dan tokoh-tokoh yang diagungkannya. Keimanan semacam ini akan melahirkan perpecahan, karena setiap orang menjadi fanatisme kelompok dan orang-orang yang diidolakannya.

Padahal di dalam kitab suci telah dijelaskan bahwa keimanan itu hanya kepada Tuhan. Para rasul hanya perantara Tuhan dalam menyampaikan kebenaran. Jika para rasul sudah menyampaikan kepada kita bahwa keimanan kepada Tuhanlah yang membenarkan semua keyakinan. Maka keimanan kepada Tuhan harus menjadi sebab dari segala tindakan.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al Baqarah, 2:62).

Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (Al Baqarah, 2:285)

Kondisi yang sangat berbahaya ketika masyarakat beriman kepada selain Tuhan, masyarakat akan terus dibayang-bayangi oleh konflik sampai menjadi konflik terbuka. Negara-negara di Timur Tengah, terpecah belah, saling membunuh hanya karena keimanan kepada kebenaran yang dianut oleh kelompok-kelompok, dan tokoh-tokoh yang diikutinya.

Saya tutup tulisan ini dengan pernyataan saya sendiri, “JIKA ANDA BERIMAN KEPADA TUHAN, TAPI TERPECAH BELAH. BACALAH ATAS NAMA TUHAN, SAMPAI KALIAN TEMUKAN TUHAN ITU PEMERSATU. JIKA KALIAN MASIH MELIHAT KEBENARAN BERDASARKAN PADA SIAPA ORANG ATAU KELOMPOK YANG MENYAMPAIKANNYA, MAKA ANDA SEDANG MENDUAKAN TUHAN”.

Sesungguhnya kalian diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi umat yang satu, yaitu penyembah satu Tuhan. Jika kalian menemukan firman Tuhan disampaikan maka atas nama Tuhan lah kalian baca, bukan siapa yang menyampaikannya. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. Amin. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)