Friday, December 28, 2012

SETIAP ORANG MELALUI EMPAT KUADRAN SUKSES



Semua orang pasti berpikir kalau sudah usaha hasilnya sukses. Pola berpikir seperti ini baik-baik saja, namun mengandung kelemahan. Orang yang berpikir setelah saha hasilnya sukses, tidak siap menghadapi kegagalan. Kadang-kadang putus asa, dan ujung-ujung bisa bisa bunuh diri, mati dalam keputusasaan, atau mati dalam kekefiran. Semoga Tuhan menjadikan kita makhluk-makhluk optimis.

Saya akan ajari Anda manjadi makhluk optimis berdasarkan petunjuk Tuhan. Sekarang berpikirlah! Secara berurutan akan saya gabungkan dua surat dalam Al-Qur’an. Perhatikan kata-kata yang dicetak tebal dan pakai huruf besar dibawah ini, kemudian bacalah secara berurutan, dari kata dicetak tebal, ke kata dicetak tebal berikutnya. 

Sesungguhnya Allah tidak MENGUBAH KEADAAN sesuatu kaum sehingga mereka (berusaha) mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki KEBURUKAN (KEGAGALAN) terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Ar-Rad:11). “…sesungguhnya sesudah KESULITAN itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada KEMUDAHAN” (Alam Nasyrah : 5-6).

Apa Anda sudah dapatkan urutannya? Urutannya begini; Mengubah keadaan (USAHA), keburukan (GAGAL), kesulitan (DERITA), kemudahan (SUKSES). Inilah rumus sukses dari Tuhan mu. Apa bukti kebenaran rumus ini? Pertama, rumus ini dikembangkan dari firman Tuhan Yang Maha Benar, kedua, bisa diterima akal (logis), dan ketiga, bisa dibuktikan dalam kehidupan nyata (empiris). 

Selamat Anda sudah menemukan salah satu  mukjizat Al-Qur’an. Untuk lebih jelasnya saya akan susun empat kuadran sukses sebagai berikut; 



Empat kuadran sukses di atas akan membantu logika kita dalam meraih sukses.  Mari kita baca. Pertama, normalnya kesuksesan seseorang akan berlaku jigjag atau tangga naik dengan urutan sebagai berikut; USAHA-->GAGAL-->DERITA-->SUKSES. Sekarang buktikan di kehidupan nyata. Baca kisah-kisah orang sukses seperti Ir, Soekarno, Soeharto, B.J Habiebie, Megawati, Gus Dur, SBY, Cahirul Tanjung, Dahlan Iskan, Bob Sadino, dst, Anda pasti temukan rumus sukses empat kuadran.

Kedua, Anda lihat USAHA sejajar vertikal dengan kuadran DERITA. Artinya derita menunjukkan kualitas usaha Anda. Atau bisa juga dibaca usaha sama dengan penderitaan. Setiap usaha adalah penderitaan.  Untuk mempercepat kesuksesan, Anda bisa langsung loncat ke kuadran derita.

Ketiga, GAGAL sejajar vertikal dengan kuadran SUKSES. Artinya gagal merupakan hasil dari sebuah usaha, sama dengan sukses. Jadi tak ada alasan untuk sedih jika gagal, karena gagal sama dengan sukses. 

Jadi santai sajalah mau gagal mau sukses sama aja, dan tidak ada orang-orang sukses, tanpa gagal dan derita. Mau gagal, mau menderita, sama saja dan optimis terus.

Kesimpulan, orang-orang yang bisa hidup dengan logika Tuhan, tidak membedakan usaha dan derita, gagal dengan sukses. Menderita dan gagal semuanya berdampak positif karena punya kepastian ujungnya sukses di dunia dan akhirat. Inilah keunggulan dari orang-orang yang hidup dengan logika Tuhan. Salam Sukses Dengan Logika Tuhan.

Thursday, December 27, 2012

SEBELAS ALASAN SEPAK BOLA JADI AGAMA


Jika kita saksikan berjubelnya umat Islam berkumpul mengitari Ka’bah, itu karena keyakinan terhadap ajaran agama. Selanjutnya jika kita lihat berjubelnya orang-orang Katolik berkumpul di gereja Vatikan, itu juga karena keyakinan terhadap ajaran agama. Tujuan mereka adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Pada saat berlangsung pertandingan sepak bola, pernahkan anda berpikir? Atas dasar apa ribuan orang berjubel berkumpul di stadion? Dan untuk apa jutaan manusia tertuju pada pesawat televisi di rumahnya? Tujuannya memenuhi kesenangan hidup di dunia. Sedikit sekali rasanya, jika orang menonton sepak bola lantas menemukan ajaran moral di dalamnya. 

Berbicara sepak bola, “di Eropa khususnya di Inggris sepak bola sudah seperti agama, di mana-mana orang membicarakan sepak bola”. Demikian potongan dialog film sepak bola yang mengisahkan perjalanan sosok bernama Santiago Mones asal Argentina yang terobsesi  menjadi pemain klub sepak bola ternama di Inggris.  

Ada sebelas alasan mengapa sepak bola sudah seperti agama. Pertama, sepak bola mampu memotivasi para pengikutnya melakukan apa saja. Seseorang berani mengorbankan seluruh hartanya untuk agama, demikian juga dengan orang yang mencintai sepak bola, berani mengeluarkan ribuan dolar (triliunan rupiah) untuk membeli pemain terbaik demi membela klub sepak bola kesayangannya. 

Kedua, ajaran agama mampu mendorong orang rela bangun malam untuk melaksanakan ibadah (tahajud). Demikian juga demi sepak bola orang mampu meluangkan waktu, bangun malam bahkan berjamaah untuk menonton pertandingan sepak bola.  

Ketiga, karena dorongan ajaran agama orang bisa rela mati, demikian juga karena kecintaannya pada klub sepak bola, orang rela menuliskan kata-kata “berani mati” dalam kaus yang dipakainya, dan berkelahi demi membela kesebelasannya.  

Keempat, dalam ajaran agama kita sering saksikan pengikut-pengikut fanatik, demikian juga dalam sepak bola. Seperti pengikut fanatik agama yang mudah tersinggung, demikian juga pengikut fanatik sepak bola.  

Kelima, dalam agama kita sering lihat penggunaan pakaian tertentu dan simbo-simbol, dalam sepak bola pun sama. Lambang-lambang kesebelasan, bendera, pakaian, topi, kaus, dipakai para pengemar fanantik sepak bola. 

Keenam, dalam perbedaan agama kita sering saksikan konflik terbuka, demikian juga konflik terbuka sering terjadi antar pendukung klub sepak bola. Antar pendukung sepak bola sering terjadi saling serang dan ada yang terbentuk hubungan tradisi konflik semacam musuh bebuyutan.  

Ketujuh, penganut ajaran agama tersebar di seluruh penjuru dunia, itu pun terjadi pada “penganut” sepak bola. Pendukung-pendukung sepak bola tersebar lintas benua dan negara. Baik negara maju maupun negara miskin. 

Kedelapan, jika dibandingkan antara jumlah penganut agama dengan “penganut” sepak bola, mungkin jumlahnya sama bahkan mungkin lebih banyak “penganut” sepak bola. Pikirkan, perayaan hari-hari besar agama hanya dinikmati oleh penganutnya saja di seluruh dunia. Tidak semua orang merayakan idul fitri, idul adha, waisak, nyepi, imlek dan natal. Dalam penyambutan acara empat tahunan sepak bola piala dunia, semua negara, semua orang, semua lapisan masyarakat, semua agama, semua umur, ikut menyambut acara empat tahunan itu. Bisa dipastikan, dana penyambutan yang dikeluarkanpun jauh lebih besar dari penyambutan hari-hari raya keagamaan.  

Kesembilan, seluruh masyarakat larut menyambut sepak bola piala dunia dengan suka cita. Pesta-pesta kecil penyambutan acara piala dunia digelar, dari lingkungan masyarakat terendah sampai kepresidenan. Layaknya sebuah ajaran agama, sepak bola mampu menyedot para penganutnya untuk melakukan “ritual”. Selama satu bulan layaknya shalat taraweh di bulan Ramadhan, masyarakat melakukan acara nonton bareng setiap pertandingan digelar. Jadwal pertandingan pun seperti jadwal puasa di bulan Ramadhan, di pampang agar setiap pertandingan tidak terlewatkan. 

Kesepuluh, sepak bola sudah jauh memengaruhi prilaku masyarakat menyaingi ajaran agama. Pemain sepak bola  bersaing dengan para ulama, pendeta, dan biksu, ikut memengaruhi masyarakat. Gaya hidup pemain sepak bola dengan mudah diikuti masyarakat, terutama generasi muda.  

Kesebelas, setiap hari tak terlewatkan, berita-berita di media cetak atau elektronik merilis perkembangan sepak bola di dalam maupun luar negeri. Persis seperti ceramah keagamaan yang tampil setiap pagi. 

Perbedaannya, dalam sepak bola, tenaga, pikiran, dan dana, ribuan dolar digunakan untuk membiayai kesenangan semata dan sia-sia. Dalam agama pengorbanan yang dilakukan umatnya akan mendapat balasan dari Tuhan di dunia dan akhirat. Sungguh, sepak bola itu hanya kesenangan dunia dan sedikit sekali bermanfaat bagi akhirat.  

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Al-An’am:32). 

 Mungkin kah kita telah terperdaya oleh “agama-agama” yang menyesatkan? Apakah agama itu bernama sepak bola? Tak pernah ada fatwa bahwa sepak bola itu menyesatkan, sekalipun sudah banyak bukti sepak bola bikin rusuh, menimbulkan korban, fanatisme, penghamburan uang, dan memengaruhi prilaku masyarakat. Maka, perlu kearifan dan kebijaksanaan dalam menyikapinya. JANGAN TERLALU... Wallahu ‘alam.

Tuesday, December 25, 2012

MENYALAHKAH ORANG LAIN, HARAM LO!


Mengapa menyalahkan orang lain hukumnya haram? Bukan karena mengandung lemak babi, hehe...tapi bacalah tulisan di bawah ini atas nama Tuhan mu, bukan atas nama prasangka buruk mu. 
 
Siapa yang tidak pernah menyalahkan orang lain? Pasti semua orang pernah melakukannya baik sengaja maupun tidak sengaja. Mungkin hal itu manusiawi dilakukan manusia. Tapi kalau Anda belajar logika dari ajaran agama, sebenarnya menyalahkan orang lain bertentangan dengan logika agama.

Mengapa logika agama melarang menyalahkan orang lain? Mereka yang hidupnya biasa menyalahkan orang lain, akan menunjukkan kualitas rendah sebagai manusia. Kebiasaan menyalahkan orang lain akan menutup pemahaman tentang siapa dirinya. Kekurangan yang ada dalam dirinya tidak akan dikenali. Ekstrimnya orang-orang yang senang menyalahkan orang lain akan menjadi manusia narsis. Narsisme adalah sikap berlebihan yang selalu memandang orang lain salah dan kebenaran ada pada dirinya. Jika manusia narsis ini berkuasa, maka dia akan menjadi pemimpin yang sangat berbahaya bagi kehidupan dunia. Itulah rasionalnya mengapa agama melarang keras menyalahkan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, coba perhatikan orang-orang yang suka menyalahkan orang lain. Dia tidak pernah bisa berubah dari kebiasaan buruknya. Kesalahan yang dilakukannya merasa bukan perbuatannya dan selalu melihat sebabnya dari orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini, tidak akan pernah bisa diterima kehadirannya di masyarakat.
Sekarang dari mana logikanya, kalau agama melarang keras menyalahkan orang lain? Sumbernya harus kembali kepada Tuhan.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,... (Al-Isra:7).

Inilah hukum gravitasi manusia, seperti yang terjadi pada bumi. Hukum ini melandasi seluruh aktivitas kehidupan manusia di muka bumi. Dengan hukum ini, maka kita harus membaca bahwa setiap kejadian yang menimpa kita semuanya datang dari diri kita sendiri. Tidak ada perantara orang lain. Untuk itulah menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa kita, menjadi bertentangan dengan hukum ini. Segala sesuatu yang menentang ketentuan dari Tuhan adalah haram.

Banyak sekali orang yang tidak paham dan sadar berlakunya hukum ini, dan asyik dengan menyalahkan orang lain. Padahal keburukan, kegagalan, rasa sakit, pengkhianatan, santet, bencana yang diterima, semua bersumber pada diri kita sendiri.

Setiap keburukan yang kita lakukan pasti berbalas. Lupa terhadap apa yang kita lakukan adalah faktor yang membuat kita merasa tidak bersalah dan tidak menyadari bahwa keburukan yang kita terima bersumber dari keburukan diri kita sendiri.  Lupalah yang membuat kita bertanya, “mengapa saya menerima keburukan ini? Padahal saya sudah berbuat baik selama ini.”

Selain lupa, ada perbuatan buruk (dosa) yang tidak terasa kita lakukan. Contoh saja dalam ucapan yang kita keluarkan, kita tidak tahu bahwa diantara orang-orang yang mendengar ucapan kita, ada yang tersakiti, demikian juga dalam perbuatan. Kita tidak sadar dengan sampah yang kita buang ke sungai, bisa menyebabkan banjir bagi orang-orang di hilir. Berapa banyak ucapan-ucapan yang menyakiti orang lain kita lontarkan, berapa banyak perbuatan-perbuatan buruk kita yang menyebabkan orang lain sengsara? Tidak terasa dan lupa kan? Itulah yang membuat kita tidak sadar bahwa segala keburukan adalah datang dari diri kita sendiri. Begitulah hukum yang ditetapkan Tuhan.

Jika sudah menjadi ketetapan Tuhan, tak ada yang bisa mengubahnya. Kecuali kita memahami, menyadari, dan menjadikannya petunjuk dalam kehidupan, agar selamat dunia dan akhirat. Itulah sedikit alasan mengapa menyalahkan orang lain hukumnya haram. Selanjutnya tinggal kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah jika kita konsisten hidup di atas petunjuk Tuhan, maka Tuhan berjanji akan mengantarkan kita pada kehidupan sejahtera dunia dan akhirat. SALAM SUKSES DENGAN LOGIKA TUHAN.

Wednesday, December 19, 2012

ANAK-ANAK MODERN ABAD 21

Modern sepertinya menjadi kata positif bagi masyarakat. Tapi kalau tahu, ciri modern menurut Alex Inkeles adalah anak-anak terbebas dari otoritas orang tua, apakah ini modern? Dari sudut pandang budaya kita, ciri modern seperti ini tidak dapat kita terima. Dalam budaya kita, anak-anak harus tunduk dan patuh kepada ORANG TUA. Apa dasarnya? “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” (Al Israa:23).

Orang-orang modern versi Alex Inkeles pasti protes mendengar hujah seperti ini. Mungkin mereka bilang, itu namanya ortodox, tradisonal, atau ketinggalan zaman. Tapi coba baca selanjutnya penjelasan di bawah ini.

Percaya tidak? Tuhan menetapkan aturan bukan untuk menyulitkan manusia, tapi untuk kesejahteraan manusia. Jika anak-anak disuruh tunduk dan patuh kepada orang tua, itu sebenarnya untuk kesejahteraan anak-anak. Mengapa? Yang mensejahterakan kita semua adalah kemurahan Tuhan. Kemurahan Tuhan disyaratkan secara mutlak pada ketaatan anak-anak terhadap orang tuanya.

Mengapa Tuhan sampai memutlakkan anak harus tunduk pada orang tuanya? Mari kita telusuri dari proses penciptaan sampai lahirnya anak. Atas nama Tuhan, sperma dipancarkan oleh Ayah membuahi sel telur di rahim Ibu. “...sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,...” (al Hajj:5).

Berdasarkan proses di atas, siapa yang menyebabkan anak terlahir ke muka bumi? Faktanya Ibu dan Ayah. Mungkinkah anak bisa ada tanpa perantara ibu atau ayah? Tidak. Maka di dunia, Ibu dan Ayah mewakili Tuhan sebagai pencipta anak-anak (manusia). Itulah sebab, layaknya Sang Pencipta, Ibu dan Ayah diberi kedudukan oleh Tuhan sebagai orang yang harus ditaati dan dipatuhi oleh anak-anak. Tapi Tuhan selalu mengingatkan, janganlah menyekutukan Ku. Inilah argumen pertama mengapa anak-anak harus tunduk dan patuh pada orang Tuanya.

Argumen kedua, posisi anak sejak dalam kandungan dan masa belum dewasa, hidupnya sangat tergantung pada orang tua. Posisi ini menjadikan Ibu dan Ayah menjadi pengasih dan pemurah seperti Tuhan. Maka dari itu, Tuhan memutlakkan anak-anak untuk bersyukur kepada Ibu dan Bapaknya. Bersyukur dalam arti menggunakan harta yang dimilikinya untuk kebaikan Ibu dan Ayahnya.

Argumen ketiga, selama dalam pemeliharaan Ibu dan Ayah, anak-anak menyulitkan keduanya. Posisi yang menyulitkan Ibu dan Ayahnya, dari sudut pandang lain bisa dikatakan dosa. Perbuatan dosa akan mendatangkan balasan setimpal dari Tuhan. Maka kewajiban anak memelihara Ibu dan Bapaknya adalah konsekuensi hidup untuk membalas dosa-dosanya di waktu kecil. Jika ada pendapat posisi anak di waktu kecil terpaksa berdosa karena tidak berdaya apa-apa, justru hal inilah yang menjadikan kemutlakkan seorang anak untuk tunduk dan patuh pada Ibu dan Ayahnya.

Ketundukkan dan kepatuhan kepada Ibu dan Ayahnya, tidak akan menyulitkan atau menyengsarakan. Kepatuhan kepada Ibu dan Ayahnya, justru akan menjadi pembebas dari kesulitan dan kesengsaraan. Kepatuhan kepada Ibu dan Ayahnya akan menutup dosa-dosa anak di waktu kecil. Dosa-dosa di waktu kecil adalah penghambat kesuksesan (rezeki) anak ketika dewasa. Bisa diamati, anak yang tidak patuh kepada Ibu dan Ayahnya, kesejahteraanya cenderung terhambat karena telah melanggar hukum Tuhan yang mutlak sehingga hilang keberkahannya.

Lalu siapa anak modern itu? Ya, mereka yang bersyukur kepada Ibu Bapaknya dan tidak menyekutukan Tuhan. Dan Tuhan menetapkan hukum tersebut agar manusia sejahtera di dunia dan akhirat. Itu baru budaya kita yang dilandasi nilai-nilai ke-Tuhan-an. Inilah anak-anak modern abad 21. Sekarang Anda mau percaya Tuhan atau Alex Inkeles?

Tuesday, December 11, 2012

MAU TAHU FUNGSI HATI SEBENARNYA?

Kata orang bijak, “Tuhan itu tidak bisa dikenal dengan logika tapi dengan hati”. Pernyataan ini tidak salah, tapi jangan lupa! Sebelum hati berfungsi logika harus bekerja. Kayaknya tidak mungkin hati bisa bekerja optimal jika tidak kerjasama dengan logika.

Saya coba kasih pengertian sedikit tentang fungsi hati. Perhatikan bunyi ayat di bawah ini;

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (Al hajj [22] : 46)

Mukjizat Al-Qur’an kata demi kata punya keterkaitan. KARENA saya baca dalam buku yang bisa dipertanggung jawabkan salah satu arti kata dari Al-Qur’an itu sendiri adalah SALING KETERKAITAN. Maka saya yakin, dengan mencari keterkaitan kata dalam Al-Qur'an, kita bisa sedikit demi sedikit memahami sesuatu. Coba kita perhatikan ada berapa kata kerja dalam ayat di atas.
1)    Berjalan
2)    Memahami
3)    Mendengar
4)    Melihat
Empat kata kerja di atas menjelaskan fungsi hati. Artinya hati bisa berfungsi jika kita berjalan di muka bumi (dalam arti aktif mencari pengetahuan), lalu mencoba memahami, mendengar, dan melihat dengan teliti, dan penuh pertimbangan.

Memahami adalah cara kerja otak, mendengar cara kerja telinga, melihat cara kerja mata. Pada prakteknya memahami, mendengar, dan melihat dikendalikan oleh otak.

Jadi bagaimana hati itu berfungsi? Ya, kalau seluruh indera kita bisa bekerja dengan baik. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, dan otak memahami (logikanya berfungsi). Pemahaman, penglihatan, dan pendengaran bisa buta, jika tidak mendapat petunjuk dari Tuhan. Oleh karena itu Tuhan menurunkan kitab suci berisi petunjuk-petunjuk bagaimana kita memahami (berlogika), melihat dan mendengar agar hati kita berfungsi.

To the point aja deh! Fungsi hati itu bagaimana? Ya, mendengar (telinga), melihat (mata) dan memahami (logika) titik. Jadi berfungsinya hati adalah berfungsinya seluruh indera manusia. Berfungsinya seluruh indera tidak lepas dari berfungsi seluruh bagian otak yaitu otak kiri, kanan, dan tengah. Berfungsinya hati sama dengan berfungsinya otak. Begitu!!!

Jadi, orang-orang yang hatinya bekerja, sudah pasti otaknya (logikanya) cerdas bahkan seharusnya super cerdas. Tidak ada petunjuk dari Tuhan, jika mau memungsikan hati harus mematikan logika. Tidak percaya? Bacalah...  Al-Qur’annya!!!

Ciri-ciri orang-orang yang menggunakan hatinya, dia tidak berpikir parsial. Dia memahami kebenaran dari berbagai sudut pandang (holistis). Melihat permasalahan dari berbagai sisi,  memutuskan masalah dengan penuh pertimbangan, dan logikanya tidak lepas dari petunjuk Tuhan. So pasti, orang yang hatinya bekerja punya kepribadian agung. Contohlah Nabi Muhammad SAW. Salam Sukses Dengan Logika Tuhan. Wallahu ‘alam.

KALAU MAU SUKSES, JADILAH PECANDU SHALAT!

Oleh: Muhammad Plato


Dari hasil survey terhadap kurang lebih 70 orang anak sekolah, ketika ditanya tentang shalat mereka mengatakan bahwa shalat berhubungan dengan kewajiban, mendekatkan diri kepada Allah, berkomunikasi dengan Allah, tiang agama, dan meminta. 

Dari semua persepsi yang mereka kemukakan, ketika disuruh memilih salah satu, mayoritas mereka memilih bahwa shalat adalah kewajiban. Untuk itu penulis berkesimpulan bahwa persepsi mereka tentang shalat adalah kewajiban.

Persepsi ini bukan salah tapi mengandung sedikit kelemahan. Di dalam melaksanakan ibadah keagamaan, kita mengenal hukum wajib dan sunat. Ibadah-ibadah wajib tidak boleh ditinggalkan, dan ibadah yang sunat mendapat pahala jika dikerjakan, dan tidak berdosa jika tidak dikerjakan. 

Dari pemahaman ini muncul istilah kewajiban untuk melaksanakan ibadah-ibadah wajib, dan tidak begitu peduli pada yang sunah-sunah. Orang akan merasa telah memenuhi target jika telah melaksanakan yang wajib-wajib. Persepsi ini menjadi membatasi target ibadah dan merasa puas setelah melaksanakan ibadah wajib.


Semisal dalam melaksanakan shalat. Jika sholat sebagai kewajiban, maka persepsinya akan terbatas pada shalat-shalat wajib. Ketika ditawarkan sholat-sholat sunah, jadi kurang militan untuk melaksanakannya. 

Ketika shalat dhuha menjadi program sekolah, berubahlah shalat menjadi wajib bagi setiap siswa karena sudah jadi program. Namun ada saja yang protes, shalat dhuha itu sunah, jadi tidak bisa diwajibkan di sekolah. Nah, itulah akibatnya jika ibadah shalat dianggap kewajiban.

Maka dalam hal ini, penulis tawarkan alternatif konsep shalat yang lain. Konsep shalat tersebut terdapat dalam Al-Qur’an, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah:45).

Merujuk pada ayat di atas, penulis mengambil makna shalat sebagai kegiatan minta tolong kepada Allah. Lalu siapa orang-orang yang diwajibkan meminta tolong kepada Allah? Mereka yang punya masalah dalam kehidupan. 

Jadi kalau begitu, kita shalat kalau punya masalah? Ya iyalah. Lalu bagaimana kalau tidak punya masalah? Ya tidak shalat lah. Tapi penulis tanya, "adakah manusia yang tidak punya masalah?" Kayaknya semua sepakat, setiap manusia hidup dalam lautan masalah. Kalau ada, saya berani bilang dia bukan manusia. Nah, jadi kalau semua manusia pasti bermasalah ya semuanya pasti butuh dan minta dengan shalat.

Selain yang punya masalah, mereka yang diwajibkan shalat adalah yang hidupnya kekurangan. Jadi kalau sudah merasa tidak kekurangan tidak shalat? Ya iyalah. Tapi coba Anda pikir, adakah manusia yang sudah tidak kekurangan? Kalau ada saya berani bertaruh dia bukan manusia. 

Sekaya-kayanya manusia mereka masih tetap kekurangan. Buktinya apa? Tuh lihat orang-orang kaya punya uang milyaran rupiah sehari-harinya masih makan, karena isi perutnya kekurangan. Mereka juga pasti tiap hari kerja karena rezekinya ingin terus bertambah banyak. 

Bagi mereka yang punya cita-cita dalam hidupnya diwajibkan shalat. Jangan bertanya, "jadi kalau tidak punya cita-cita tidak shalat?". Itu pertanyaan konyol. Kalau Anda manusia pasti punya cita-cita. Gantungkan cita-cita Mu setinggi langit. Dan raihlah cita-cita mu dengan shalat.

Jadi, kalau Anda bermasalah solusinya minta tolong sama Allah (shalat), kalau Anda kekurangan, ya solusinya shalat, dan kalau Anda punya impian dalam hidup, itu juga solusinya shalat. Kalau begitu, shalat itu adalah solusi dalam hidup ini? Betul. Maka, karena orang-orang yang hidup pasti punya masalah, selalu kekurangan, dan punya cita-cita, selama hidupnya tidak akan pernah meninggalkan shalat, kalau dia memahami shalat sebagai kegiatan minta tolong kepada Allah.

Kesimpulannya, orang-orang yang menjadikan shalatnya sebagai kegiatan minta tolong pada Allah, pasti serius (khusyu) shalatnya. Anda coba perhatikan orang-orang yang sedang bermasalah ketika minta tolong pada seseorang, dia pasti serius karena sangat ingin mendapat pertolongan. 

Nah seperti itu seharusnya saat kita minta tolong pada Allah, harus serius (khusyu). Kalau mau shalat khusyu, berangkatlah dari masalah serius, dan cita-cita yang ingin ada wujudkan adalah masalah serius.

Jadikan shalat bukan kewajiban tapi kebutuhan, karena tidak ada yang bisa diwujudkan di muka bumi ini kecuali atas pertolongan Allah. Shalat adalah cara untuk mendapat pertolongan Allah. jadi KALAU MAU SUKSES JADILAH PECANDU SHALAT. 

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (Fushshilat, 41:49). Salam Sukses bagi para pecandu yang tak jemu-jemu shalat.

Wednesday, November 28, 2012

MANAJEMEN DOA

Raih Sukses Dengan Kekuatan Doa!

Sukses pasti menjadi dambaan setiap orang. Namun tidak sedikit, mereka yang kurang percaya diri untuk meraih kesuksesan. Mereka yang kurang percaya diri, kata-katanya tidak pernah bersemangat. Dari mulutnya selalu keluar keluhan dan pesimisme. Mereka yang kurang percaya diri, sering sibuk dengan alasan-alasan yang menjadikan dirinya terbatas. Optimisme orang lain sering dipatahkan dengan syarat-syarat yang memberatkan. Bagi mereka yang kurang percaya diri, dunia ini penuh dengan ketidakmungkinan.

Jika Anda adalah orang yang kurang percaya diri, sekarang penulis akan mengubah Anda menjadi orang yang penuh optimis. Kata kuncinya, pakai logika Tuhan. Dalam logika Tuhan tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin karena sebabnya adalah Tuhan. Apakah yang menyebabkan semuanya mungkin? Jawabannya adalah doa. Berdoalah kepada Tuhan. Doa adalah penyebab, yang dijadikan oleh Tuhan untuk mengubah takdir Anda, dari yang miskin menjadi kaya, dari yang bodoh menjadi cerdas, dari kekurangan menjadi kecukupan dan dari rendah menjadi tinggi.

Doa menurut ilmu bahasa adalah kata BENDA. Artinya bahan pembuat doa itu adalah benda, yaitu gelombang energi kuanta yang disebut PIKIRAN dan PERASAAN (Erbe Sentanu: 2007). Pendapat Erbe Sentanu diperjelas dengan bunyi hadis berikut, Do'a adalah SENJATA seorang mukmin dan TIANG (pilar) agama serta CAHAYA langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la). Doa adalah alat kesuksesan bagi semua orang. Tidak ada yang tidak bisa berdoa di muka bumi ini. Semuanya bisa. Maka semuanya bisa mewujudkan mimpi-mimpinya dengan manajemen doa.

Untuk meraih kesuksesan kekuatan doa bisa dioptimalkan. Kekuatan doa bisa dioptimalkan dengan collecting (mengumpulkan) doa. Kumpulkan doa dari orang-orang yang punya kedudukan spesial dihadapan Tuhan. Orang-orang yang punya kedudukan dihadapan Tuhan adalah orang tua (ibu dan ayah), istri/suami, guru, ulama, kiyai, ustad, pemimpin yang adil (jujur), orang-orang teraniaya, fakir miskin, anak-anak yatim, orang berpuasa, dan musafir. Sejahterakanlah mereka dan berdoalah kepada Tuhan, semoga hati mereka tergerak untuk mendoakan kesuksesan hidup kita di dunia dan akhirat.

Collecting doa sangat dianjurkan adalah dari kedua orang tua. Doa mereka tulus dan ikhlas. Itulah sebab kekuatan doa dari kedua orang tua. Agar mendapatkan doa yang banyak dari kedua orang tua, dan kekuatannya lebih dahsyat, maka peliharalah dan santuni mereka dengan harta yang kita miliki. Penuhi segala hajat kedua orang tua dengan penuh keikhlasan. Berjihadlah untuk mensejahterakan kedua orang tua.
Selain doa tulus dari orang tua, doa tulus bisa didapat dari seorang istri, atau suami bagi yang sudah berkeluarga. Dalam keluarga harmonis, seorang istri pasti doanya tulus untuk suami, dan sebaliknya doa seorang suami pasti tulus untuk istrinya. Suami dan istri ibarat pakaian, keduanya saling melengkapi. Suami berjihadlah untuk menafkahi istri agar mendapatkan kekuatan dahsyat dari doa seorang istri, dan seorang Istri dengan keshalehannya, tunduklah kepada suami, agar mendapatkan dahsyatnya doa sang suami.
Doa tulus bisa didapatkan juga dari seorang guru (kiyai, ustad, ulama). Guru adalah pekerjaan mulia. Kemuliaan seorang guru menjadikan mereka orang-orang spesial dihadapan Tuhan. Tidak ada guru yang menginginkan anak didiknya gagal. Setiap guru selalu mengupayakan kesuksesan anak didiknya. Untuk itulah guru punya ketulusan doa.

Mengapa orang-orang teraniaya, fakir miskin, yatim piatu, orang berpuasa, dan musafir, memiliki kedudukan spesial dihadapan Tuhan? Karena mereka berada pada posisi ektrem (kesulitan yang luar biasa). Dalam posisi ekstrem Tuhan sangat dekat dengan mereka. Tuhan sangat dekat dengan mereka. Kedekatan mereka dengan Tuhan menjadikan doanya menjadi langsung urusan Tuhan. Bersahabat baiklah dan jadilah pelindung mereka, agar mereka terbantu dan tulus mendoakan kita.
Selain collecting doa dari orang-orang spesial, manfaatkan waktu-waktu spesial dalam berdoa.  Waktu-waktu spesial dalam berdoa adalah sepertiga malam (shalat malam), sepertiga siang (shalat dhuha), sehabis shalat-shalat wajib, diantara adzan dan iqomah, diwaktu sujud, diperjalanan, dan diwaktu tahiyat akhir sebelum salam. Memohonlah kepada orang-orang spesial untuk mendoakan kesuksesan kita di waktu-waktu spesial.

Doa berwujud dalam perasaan, pikiran dan perbuatan. Dalam pikiran doa adalah prasangkat baik terhadap segala ketentuan Tuhan. Dalam perasaan doa adalah kesenangan dalam melaksanakan segala perintah Tuhan. Dalam perbuatan, doa adalah karakter-karakter baik yang dilakukan baik dalam kondisi sempit maupun lapang. Penulis doakan dengan tulus, semoga para pembaca menjadi orang-orang sukses dan kelak mampu berkurban dengan 100 ekor Jaguar (ini serius). Dengan manajemen, insya Allah doa akan menjadi kekuatan dahsyat dalam mendorong keberhasilan Anda. Dengan kekuatan doa tidak ada yang tidak mungkin, dan semua orang punya kesempatan untuk memanaj doanya agar menjadi kekuatan dahsyat dalam memperoleh kesuksesan. Salam sukse dengan logika Tuhan (SDLT).

Wednesday, November 21, 2012

Jangan Benci dan Suka Tanpa Pengetahuan


“Tuhan adalah Esa. Jika ada satu kata saja disandingkan langsung dengan Tuhan tanpa kata penghubung, maka dia bukanlah Tuhan melainkan makhluk.” (toto suharya)

    Kenyataan, kita bisa jatuh cinta pada seseorang tanpa harus mengenalnya terlebih dahulu. Kecantikan dan ketampanan bisa menarik hati seseorang tanpa harus mengenal siapa orangnya terlebih dahulu. Logika Tuhan, mungkin bagi Anda seperti perempuan berwajah buruk, atau laki-laki berpenampilan jelek. Untuk itu tidak sedikitpun menarik perhatian Anda untuk mengenalnya lebih dekat.
    Tapi ingatlah apa kata Allah, “...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al Baqarah:216). Menurut penulis, dari ayat inilah mungkin lahir sebuah pepatah, “tak kenal maka tak sayang”. Atau pesan langsungnya, “janganlah membenci atau menyukai sesuatu tanpa pengetahuan”.
    Kuncinya, membenci dan menyukai segala sesuatu harus didasari oleh pengetahuan. Menyukai sesuatu tanpa pengetahuan seperti Anda mencintai seseorang karena kecantikan atau ketampanan wajahnya saja. Sebaliknya membenci sesu
atu tanpa pengetahuan seperti Anda membenci seseorang karena buruk rupanya saja. Sesungguhnya orang-orang yang berpengetahuan akan selalu menemukan kebaikan dibalik kebaikan dan menemukan kebaikan dibalik keburukan. Untuk itulah orang-orang yang berpengetahuan selalu mendapatkan kebaikan dalam hidupnya.
    Untuk itu, agar kita bisa menemukan kebaikan dari logika Tuhan, penulis akan perkenalkan. Makhluk apakah logika Tuhan itu?  Logika Tuhan adalah pola berpikir sebab akibat yang mengacu atau merujuk pada pola sebab akibat (logika) yang terdapat dalam Al-Qur’an. Kalau rujukannya Al-Qur’an, mengapa tidak dikasih nama logika Al-Qur’an? Pertimbangan penulis, kalau diberi nama logika Al-Qur’an akan merujuk pada satu golongan yaitu umat Islam, maka dipilih nama logika Tuhan agar dapat diterima seluruh umat manusia (universal). Tujuannya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Lalu apakah inti dari logika Tuhan itu? Murthada Muthahhari (2012:156) menjelaskan ada tiga logika Al-Quran yang dipahami selama ini yaitu logika Jabr (keterpaksaan), Tafwidh (penyerahan total) dan Amrun Baina al-Amraini (satu hal diantara dua hal).
Logika Jabr mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu syarat bagi sesuatu. Jika Tuhan sudah menghendaki sesuatu, sesautu itu pasti terjadi tanpa memerlukan sebab. Logika Tafwidh menjelaskan bahwa sebagian sesuatu adalah kehendak Tuhan, dan sebagian lainnya adalah bukan kehendak Tuhan. Logika Amrun Baina al-Amraini mengatakan bahwa segala sesuatu adalah atas kehendak Tuhan dan di dalam alam ini, segala sesuatu memiliki syarat.
Selanjutnya Murtadha Muthahari menegaskan, jika kita benar-benar mengenal logika Al-Qur’an, kita akan melihat bahwa kita mesti memiliki keyakinan, bahwa segala sesuatu adalah atas kehendak Allah, dan segala sesuatu mempunyai syarat tertentu, dan dengan syarat-syarat itulah ia terwujud, dan tanpa syarat-syarat itu mustahil ia dapat terwujud.
Di mana posisi logika Tuhan? Tidak ada pada ketiganya. Sepakat dengan pendapat Murthada Muthahari, tapi dalam pandangan logika Tuhan segala sesuatu bisa terwujud karena kehendak Tuhan, dan keterwujudan sesuatu membutuhkan sebab-sebab. Sebab-sebab itu sendiri tidak berada diluar kehendak Tuhan. Kesimpulannya segala sesuatu terjadi memerlukan sebab, dan seluruh sebab yang ada dimuka bumi ini, itulah kehendak Tuhan.   
Apa manfaat kalau kita berpikir dengan logika Tuhan? Berpikir dengan logika Tuhan dapat membantu kita untuk selalu ingat Tuhan, karena berkeyakinan seluruh kejadian dimuka bumi ini terjadi atas kehendak Tuhan. Dapat juga, membantu kita untuk selalu berprasangka baik (positif thinking). Dalam logika Tuhan tidak berlaku hukum negatif dan positif, semuanya akan berlaku positif. Jika berpikir dengan logika Tuhan, hal-hal negatif yang ditakuti kedatangannya akan diubah menjadi harapan. Salam Sukses dengan Logika Tuhan.