Saturday, August 22, 2015

AL-QUR’AN PETUNJUK MEMBANGUNKAN GEN



Membaca penelitian Kazuo Murakami (2015) tentang DNA, seperti membaca kitab suci Al-Qur'an. Murakami berkesimpulan bahwa prilaku manusia dipengaruhi kuat oleh hereditas (gen) dan lingkungan. Kecerdasan manusia ditetapkan oleh gen, tetapi pengembangannya ditentukan oleh pembelajaran, pengalaman, dan usaha.

Pengaruh lingkungan yang bersifat pembelajaran sangatlah kuat. Jadi sekalipun gen unggul, jika tidak ada kesempatan untuk menggunakannya atau malas, maka gen unggul itu akan tetap tidur.

Hasil menarik dari penelitian Murakami tentang gen adalah pentingnya pola pikir optimis. Sikap santai dan optimis memungkinkan kita untuk hidup dengan gen menyala.

AGAR TETAP OPTIMIS, Murakami memberi nasihat kepada kita, jangan memasukkan keraguan atau kecurigaan ke dalam pikiran. Terus lakukan dengan pikiran sederhana tak peduli disebut bodoh atau tidak tahu adat. Orang yang berpikir positif tidak memberikan waktu pada dirinya untuk berpikir apakah negatif atau positif yang penting adalah “melakukan”. Dengan pola hidup optimis gen akan tetap menyala.

Penelitian di atas menjelaskan kepada kita mengapa Tuhan melarang putus asa. “...jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (yusuf:87). 

“Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat". (Al Hijr: 56).

Penemuan lainnya tentang gen adalah cara hidup mementingkan orang lain dapat menyalakan gen. Beliau berpendapat cara paling efektif menyalakan gen adalah dengan pola pikir “berguna bagi orang lain”.

Manusia selain memiliki oreintasi egois, juga memiliki orientasi hidup altruistis, keinginan untuk menolong orang lain atau melakukan sesuatu untuk orang lain. Hal ini merupakan keistimewaan bawaan lahir manusia yang ditetapkan oleh gen. Jadi pada tataran gen, diketahui bahwa manusia telah memiliki naluri untuk melakukan kebaikan demi orang lain.

Hasil riset ini memberi pemahaman rasional bahwa Tuhan adalah pemberi petunjuk kepada manusia tentang gen-gen mana yang harus dinyalakan. Petunjuk-petunjuk Tuhan itu tertuang dalam kitab suci. Sebagaimana dijelaskan “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (Al-Baqarah:2)

Sekarang bandingkan hasil penelitian Murakami dengan petunjuk dari Tuhan yang terdapat dalam kitab suci AL-Qur'an:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. (At Thalaaq:7).

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah:261)

Arti ayat di atas sama dengan, Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk mengaktifkan gen mementingkan kepentingan orang lain. Bahasanya adalah "hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya". 

Secara empiris dialami oleh Murakami, bahwa berbuat untuk orang lain, dapat mendatangkan kepuasan dan kegembiraan pribadi. Dijelaskan dalam AL-Qur’an bahwa setelah berbuat baik pada orang lain, Tuhan akan mendatangkan kemudahan sampai berlipat-lipat.

Alam semesta, tubuh manusia, adalah ayat-ayat Tuhan, dan Al-Qur’an adalah buku petunjuk yang akan membawa hidup manusia penuh dengan keyakinan dan optimisme. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, penulis buku hidup sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan)

Thursday, August 20, 2015

RUMUS BANGSA MAJU DARI AL-KAHFI



Dunia sedang mengalami krisis, karena sedang menuju tatanan dunia baru yaitu globalisasi. Di era global segalanya menjadi terhubung dan terbuka karena kemajuan teknologi informasi. Dalam situasi ini masyarakat terus mencari bentuk ekonomi apa yang harus dikuasai yang sesuai dengan tataan era global. 

Dalam konsep perubahan, terjadinya krisis adalah hal biasa, dan pasti dialami oleh masyarakat. Krisis adalah langkah yang harus dilalui masyarakat untuk menuju masyarakat ideal seperti yang dicitacitakan negara yaitu terwujudnya masyarakat sejahtera adil dan makmur.

Situasi krisis digambarkan persis seperti orang yang baru bangun dari tidur. Pada saat bangun terasa bingung tidak tahu waktu, kapan, di mana dan apa yang harus dikerjakan. Sesaat harus merenung untuk mengembalikan kesadaran. 

Kondisi Indonesia saat ini persis seperti orang baru bangun. Banyak yang tidak sadar apa yang terjadi sebenanrnya. Banyak yang tidak sadar, ekonomi apa yang harus dikembangkan untuk mewujudkan kesejahteraan negara.

MENGUASAI ILMU PERBANKAN

Menyimak berita dari salah satu ayat dalam surat Al-Kahfi, ”Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa UANG PERAKMU ini, (Al Kahfi:19)”.

Diceritakan setelah para pemuda tertidur selama 309 tahun, saat terbangun mereka tidak sadar ada di mana dan kapan. Lalu Tuhan menyuruh seorang pemuda diantara mereka untuk mencari tahu tentang uang perak yang dimilikinya. Tidak semata-mata Tuhan menyuruh pemuda itu mencari tahu tentang uang peraknya, kecuali ada rahasia yang harus kita ungkap.

Kondisi bangsa Indonesia saat ini persis seperti orang bangun tidur. Kita sedang bingung harus dari mana memulai agar bisa mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa maju. Mengikuti petunjuk Tuhan kepada pemuda di dalam gua,  kita harus meneliti, mengembangkan, dan menguasai ilmu keuaangan.

Sejak dulu, nilai mata uang dolar Amerika selalu menjadi ukuran perkembangan ekonomi sebuah negara. Angka kemiskinan, harga minyak dunia, ongkos naik haji, selalu diukur dengan dolar. Mata uang rupiah selalu dinilai melemah terhadap nilai tukar dolar, dan ini menjadi tanda kondisi ekonomi Indonesia perlu pembenahan.

Mengapa dolar Amerika selalu menjadi acuan ekonomi dunia, jawabannya bukan karena sepenuhnya ekonomi Amerika baik. Amerika sangat konsen dan memahami ilmu keuangan. Dalam ilmu keuangan berlaku persepsi. Angka-angka dalam keuangan pada dasarnya adalah persepsi. Angka-angka ini kemudian dijadikan gambaran bahwa negara ini kaya atau miskin. Amerika selalu berhasil membuat persepsi orang bahwa dolar adalah mata uang yang nilainya stabil.
Potensi keuangan bangsa Indonesia, jika dikelola dengan baik tidak diragukan bisa mensejahterakan berapa pun jumlah penduduk Indonesia. Masalah Indonesia bukan di berapa jumlah uangnya, tetapi masalahnya seberapa cerdas mengelola uang. Tingginya angka penyimpangan dalam hal keuangan adalah bukti bahwa kegagalan bangsa Indonesia adalah lemah dalam mengelola keuangan.

Potensi zakat dan sedekah saja yang dikeluarkan oleh kaum muslimin di Indonesia, bisa mencapai ratusan triliiun. Jika ini tiap tahun dikeluarkan dan dikelola dengan baik, setiap tahun akan ada pembangunan bendungan, kapal perang dan biaya sekolah gratis buat kaum miskin.

Jika saja infak harian, mingguan, yang ada di masjid-masjid dikelola dengan baik, masjid-masjid dapat menjadi basis ekonomi kerakayatan. Jika ada 1.000.000 masjid, setiap masjid menghasilkan dana infak harian Rp. 1.000.000,- per bulan, maka setiap bulan ada dana Rp. 1000.000.000.000.- (satu triliyun). Dana infak masjid ini jika dikumpulkan bisa membiaya pembangunan dua sampai tiga kabupaten.

Munculnya ide pengembangan perbankan syariah adalah pembenaran logis bahwa bangsa Indonesia yang pendudukya kurang lebih 250 juta harusnya bisa menguasai ekonomi dunia jika memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik.

Contoh sukses pengelolaan keuangan adalah pengelola salah satu biro jasa travel umroh dan haji terbesar di Indonesia dengan sistem multilevel syariah, mereka berhasil memberangkatkan ribuan jamaah umroh per bulan dengan sistem manajemen keuangan yang mereka ciptakan. Inilah kreativitas pengelolaan keuangan syariah yang harus terus diciptakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Muhammad Yunus pemenang Nobel tahun 2006 di bidang ekonomi dari Bangladesh, bisa mendirikan bangunan 14 lantai dengan uang receh dari nasabah orang-orang miskin. Arisan ibu-ibu Rp. 1000 rupiah per hari, dalam setahun bisa terkumpul uang satu milyar. 

INDUSTRI MAKANAN

Selain ilmu keuangan, bangsa Indonesia harus mulai konsentrasi mengembangkan industri-insdutri makanan. Berbisnis dalam bidang makanan tidak akan ada matinya. Selama manusia hidup dia pasti membutuhkan makanan.

Potensi makanan di Indonesia sangat beraneka ragam. Hampir setiap suku bangsa memiliki ciri khas makanan. Berbagai ciri khas makanan jika dikelola melalui industri modern, kita tidak akan kehabisan stok jenis-jenis makanan untuk terus dipasarkan ke seluruh dunia.

Suksesnya Amerika menjadi bangsa besar, tidak lepas dari ekspansi industri makanan mereka ke seluruh dunia. Selain menyebarkan industri makanan mereka sendiri, mereka juga menjadikan makanan-makanan lokal ke dalam bagian industri makanan mereka. Sebagai contoh, tempe dan beras yang kita makan setiap hari tidak lepas dari sistem perbankan dan perdagangan makanan yang mereka kuasai. Kita yang makan tempe dan beras, mereka yang mendapatkan keuntungan banyak dari perdagangannya.

Ketika harga tomat 100 rupiah per kilo, maka petani membiarkan buah tomat matang dan membusuk. Ketidakpandaian pengelolaan dan pengembangan industri makanan, tomat yang mereka tanam berbulan-bulan setelah panen dibuang karena tidak berharga. Padahal jika punya alat produksi dan sistem perdagangan, tidak akan ada makanan yang mubazir terbuang. Murah di daerah tertentu belum tentu murah di tempat lain. Murah di pasar tradisional belum tentu murah di pasar modern. Murah dengan kemasan seadanya, belum tentu murah dengan kemasan elegan. Murah dengan menjual ke pasar, belum tentu murah jika menjual di tempat-tempat wisata.

Label halal yang jadi syarat makanan untuk bisa dimakan, bisa menjadi potensi ekonomi. Selain dari produksi dan perdagangan makannya, labeling halal bisa menjadi industri tersendiri dan harus dikuasai negara untuk kepentingan masyarakat.    

Diperintah Tuhan atau tidak, manusia itu harus berpikir, karena berpikir adalah naluri dasar manusia. Berpikirlah bahwa industri uang dan makanan adalah dua hal yang harus dikuasai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan, Follow me @logika_Tuhan)

Sunday, July 5, 2015

SURAT TERBUKA UNTUK PROFESOR MUSLIM



Kening saya berkerut, ketika mengikuti sebuah rapat koordinasi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) tingkat Provinsi. Ada seorang Profesor bercerita bahwa dirinya sedang membimbing disertasi calon doktor. Kandidat doktor menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai landasan teori dalam risetnya. Pak Profesor menyuruh kandidat doktor beristigfar, karena tidak pantas Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar teori. Bagi Pak Profesor, menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai dasar teori adalah pelecehan terhadap Al-Qur’an sebagai kalam Tuhan. Pak Profesor segera merekomendasikan kepada si calon doktor untuk mengubah disertasinya dan mendelet Al-Qur’an dari dasar teorinya.

Pendapat Pak Profesor ini dikemukakan di sela-sela forum rapat ICMI tingkat Provinsi Jawa Barat. Saya lihat tidak ada yang menyanggah pendapat Pak Profesor. Saya tidak tahu, apakah semua diam karena setuju dengan pendapat Pak Profesor, atau seperti saya, menyimpan ketidaksetujuan di dalam benak. Sekarang, akan saya kemukakan ketidaksetujuan saya terhadap pendapat Pak Profesor dalam bentuk tulisan.

Bagi saya, apa yang dikatakan Pak Profesor bukan kebenaran akhir. Jikalau menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar teori dianggap melecehkan Al-Qur’an, pendapat ini dasarnya tidak kuat, dan masih dalam perdebatan. Menyikapi kasus ini tergantung pada sudut pandang dan filosofis masing-masing. Artinya. kepada kaum muslimin yang ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar teori dalam penelitiannya masih memungkinkan untuk diperjuangkan.

Menurut saya, profesor-profesor yang masih berpendapat seperti di atas, adalah mereka yang ketinggalan informasi tentang perubahan paradigma dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu wajar karena tidak semua profesor memiliki seluruh ilmu pengetahuan. Kelemahan para profesor adalah semakin tinggi ilmu yang dikuasai semakin fanatik dan tertutup terhadap kebenaran-kebenaran ilmu lainnya. Kalau saja Pak Profesor ini benar-benar membimbing kandidat calon doktor, tidak akan muncul kata-kata menyalahkan, karena tugas pembimbing adalah mengarahkan, mendorong, para calon doktor untuk bekerja keras mengemukakan pendapatnya dengan memperkaya teori, pendapat-pendapat ahli, hasil-hasil riset orang lain, yang mendasari pendapatnya agar bisa berdiri kokoh.

Pak Profesor! Menurut pendapat saya dalam tataran akademis, seseorang tidak bisa menyalahkan atau membenarkan pendapat orang lain, tetapi hanya sebatas menguji argumentasi-argumentasinya, apakah memenuhi kriteria berpikir ilmiah atau tidak? Selama pendapat-pendapat memenuhi syarat-syarat keilmiahan, kita harus membantu memperkayanya sekalipun kita tidak setuju. Sebab kebenaran yang kita miliki pada dasarnya bukan kebenaran akhir. Suatu saat akan ditemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru yang menyebabkan terjadinya perubahan persepsi terhadap kebenaran yang sebelumnya kita yakini.

Pendapat saya, didasari oleh perintah Tuhan dalam memberi kebebasan berpikir kepada manusia. Di dalam hadis dijelaskan bahwa jika seorang berpikir dan benar, maka dia mendapat pahala dua, dan jika dia berpikir salah, maka masih dapat pahala satu. Hadis ini menjelaskan bahwa tidak ada kesalahan dalam berpikir, karena perintah berpikir itu sendiri bagian dari perintah Tuhan. Maka dari itu, jika seseorang berpikir dan hasil pemikirannya dianggap salah, maka dia mendapat pahala dari melaksanakan perintah Tuhannya yaitu berpikir.

Tuhan tidak mempersalahkan orang-orang yang berpikir dan pemikirannya salah, karena para pemikir adalah orang-orang yang berada di jalan Tuhan dan terbuka terhadap segala pengetahuan. Para pemikir sejati tidak akan menutup informasi dari luar karena alasan bukan kelompok atau karena membencinya. Para pemikir sejati adalah orang-orang yang siap berubah pandangannya karena mendapat informasi tentang kebenaran yang dianggapnya lebih rasional.

Para pemikir yang diancam Tuhan masuk neraka adalah mereka yang menafikan pengetahuan-pengetahuan dari Tuhan, membatasi sumber pengetahuan hanya berdasarkan pada kebenaran rasional-empiris, dan mempertahankan hasil-hasil pemikirannya sekalipun pun cenderung atau terbukti secara rasional-empiris mengarah pada kehancuran umat manusia.

Pak Profesorlah yang harus beristigfar! karena bisa jadi apa yang dilakukannya termasuk menghalang-halangi kemajuan peradaban Islam. Apa yang dikemukakan Profesor bahwa menjadikan ayat Al-Qur’an sebagai teori berarti melecehkan Al-Qur’an (mengkerdikan makna Al-Qur’an), saya tidak sependapat, karena ini bisa jadi menghalang-halangi manusia yang ingin selalu dekat dengan Tuhan.

Ayat Al-Qur’an posisinya tetap adalah kalam Tuhan, namun ketika manusia mempersepsinya, Al-Qur’an itu sudah menjadi milik manusia berdasarkan persepsinya. Ayat Al-Qur’an yang sudah dipersepsi manusia sifatnya menjadi relatif. Demikian juga ketika manusia mempersepsi ayat Al-Qur’an menjadi dasar teori, maka kelemahan dan kerelatifannya bukan pada Al-Qur’an, tapi pada persepsi manusianya.

Pak Profesor harus memahami, kegagalan manusia dalam mengenal Tuhannya, disebabkan oleh putusnya mata rantai ilmu pengetahuan dengan Tuhan. Memutuskan hubungan antara ilmu dengan agama, sama dengan pelanggaran terhadap ketentuan Tuhan, yang menganjurkan kepada manusia untuk selalu menjaga silaturahmi. Konsep silaturahmi adalah ajaran universal yang tidak hanya dibaca dalam hubungan manusia antar manusia, tetapi hubungan seluruh komponen alam semesta, termasuk hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama.

Nah untuk sementara begitulah argumentasi saya Pak Profesor! Saya hanya tunduk kepada Tuhan, dan Pak Profesor adalah utusan Tuhan yang mengajari kami semua. Semoga kita semua mendapat bimbingan Tuhan, sebagaimana kita selalu berdoa ketika duduk diantara dua sujud. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, penulis buku hidup sukses dengan logika tuhan. Follow @logika_Tuhan)

Wednesday, July 1, 2015

FASE MENUJU KEJAYAAN DARI AL-QAHFI

oleh: Muhammad Plato

Mengikuti kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw, dari masa kerasulan hingga akhir hayatnya, kita dapat memahami fase-fase kehidupan dalam menuju kejayaan. Tuhan mengabarkan fase-fase ini dalam Al-Qur’an. Salah satu surat yang dapat kita gali untuk menjelaskan fase-fase tersebut adalah surat Al-Kahfi.
Di dalam surat Al-Kahfi terdapat empat kisah yang menjadi perumpamaan-perumpamaan bagi orang-orang taat pada Tuhan. Jika kita susun secara kronologis empat kisah tersebut akan menunjukkan empat fase menuju kejayaan. 

Empat fase tersebut dapat kita pahami dari urutan tema-tema cerita yang ada dalam surat Al-Kahfi. Ceirta pertama adalah kisah pemuda berlindung di dalam gua selama 309 tahun. Kedua, kisah dua orang antara orang miskin beriman dan orang kaya kafir. Ketiga, kisah perjalanan (hijrah) Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidr. Keempat, kisah tentang kekuasaan Zulkarnain yang membentang dari Barat ke Timur.
Empat tema kisah dalam surat Al-Kahfi jika dibandingkan dengan kisah hidup Rasulullah, menggambarkan fase-fase Rasulullah dalam mengamban misi kerasulannya, yaitu fase gua hira, fase Mekah/Penindasan dan kemiskinan kaum muslimin, fase Madinah, hiijrah menyebarkan dan mengajarkan Islam, fase penaklukkan Mekah (kejayaan kaum muslimin).


Empat fase ini bisa menjadi panduan bagi kita untuk memahami masa depan peradaban manusia, dan harapan besar (kabar baik), bagi orang-orang berkeyakinan kepada Tuhan. Empat fase di atas adalah ketentuan Tuhan bagi seluruh alam dalam menuju kejayaan dunia dan akhirat. Berikut adalah penjelasan fase-fase menuju kejayaan menurut surat Al-kahfi.

Fase Tidur (Meninggalkan Dunia/Gua Hira)

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (Al Kahfi:16)
Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (Al Kahfi:18)
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (Al Kahfi:25)

Sepeninggal Nabi Muhammad saw, khulafaur rasyidin, terjadilah perpecahan umat manusia. Kekuasaan Islam sedikit-demi sedikit berjatuhan. Seiring dengan itu umat Islam menutup diri terhadap kehidupan dunia, seperti masuk ke dalam gua. Sekian ratus tahun mengalami masa tidur menutup diri dari hiruk pikuk kehidupan dunia yang mulai kembali pada selain Allah. Umat Islam mengasingkan diri dan terasing dari kehidupan nyata. Masa ini diumpamakan seperti masa para pemuda tertidur di dalam gua selama 309 tahun, atau masa Nabi berkhalwat di gua Hira.

Sementara umat Islam berada di dalam gua, kehidupan dunia terus bergulir. Manusia kehilangan tujuan hidup. Berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta, menciptakan berbagai macam teknologi untuk meningkatkan harta kekayaan, memperebutkan kekuasaan, dan menentang kekuasaan Tuhan. Manusia saling membunuh dan berperang demi kekayaan dan kekuasaan semata.  

Fase ini diakhiri dengan peristiwa fitnah besar terhadap orang-ornag beriman, yang dianggap sebagai kelompok paling bertanggung jawab terhadap hancurnya sebuah gedung bertingkat yang menjadi lambang dan sumber kekayaan. Fitnah ini membangunkan kesadaran seluruh umat manusia untuk kekmbali kepada Tuhan Yang Esa. Semua orang mulai menggali dan bertanya tentang ajaran-ajaran Tuhan yang membawa rahmat untuk seluruh alam dan apa hakikat hidup sesungguhnya.

Fase Bangun (Memperdebatkan Keyakinan/Mekah)

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). (Al-Kahfi:19)
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang”. (Al Kahfi:32)
“dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat". (Al Kahfi:34)

Ayat di atas mengilhamkan bahwa fase setelah tidur adalah fase bangun. Dimana setelah sekian ratus tahun tidur, orang-orang saling berdebat tentang kebenaran. Ada orang yang berdebat dengan ilmu pengetahuan dari Tuhan ada yang berdebat dengan prasangka-prasangka nafsu mereka sendiri yang amat buruk.

Mereka yang menggunakan hawa nafsunya, merasa bahwa kekayaan dan kekuatan yang dimilikinya adalah hasil jerih payah, kerja keras mengolah, dan mengembangkannya sendiri bukan pemberian dari Tuhan. Mereka mengatakan orang-orang yang percaya Tuhan adalah orang bodoh, miskin, dan tidak berguna. Buktinya orang-orang beriman tidak banyak berbuat banyak menciptakan teknologi untuk mensejahterakan manusia, mereka malah tergantung kepada produk-produk ciptaan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan.

Fase ini adalah ujian bagi orang-orang beriman untuk mencari cara bagaimana membuktikan kepada seluruh dunia bahwa risalah-risalah yang dibawanya dari Tuhan melalui dari para Nabi (Muhammad saw) adalah raisalah yang membawa tujuan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi:28)

Untuk menghadapi dan menghindari perdebatan yang akan memicu pada konflik peperangan. Orang-orang beriman diberi petunjuk agar tidak berdebat tentang kebenaran yang sudah menjadi keyakinan orang. Pada fase ini orang-orang beriman harus fokus keyakinan yang dimiliki dan  rencana-rencana baik apa yang harus dilakukan, karena setiap keburukan sudah jelas balasannya adalah keburukan, tidak perlu memperdebatkannya.

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al Kahfi:29)

Fase Hijrah (Perubahan Mental/Medinah)

Cerita berikutnya yang disampaikan dalam surat Al-Kahfi adalah cerita tentang perjalan hijrah Nabi Musa dalam mencari ilmu kepada Nabi Khidr. Cerita ketiga ini menjadi fase ketiga dalam perjalan orang-orang beriman dalammenuju kejayaan.
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun" (Al Kahfi:60).         

Setelah melewati fase bangun dalam suasana linglung, tidak fokus, Tuhan memberi petunjuk agar orang-orang beriman mewujudkan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam aksi nyata dengan berjalan-jalan (berhijrah) untuk mencari ilmu, menambah wawasan, untuk membuktikan kebenaran-kebenaran yang telah diwahyukan Tuhan.

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (Al Kahfi:65-67)

Pada fase ini, Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah. Dari Madinah Nabi Muhammad saw, dan para sahabat membuktikan bahwa apa-apa yang telahdijanjikan Tuhan adalah benar. Dari Madinah, kenabian Nabi Muhammad saw menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Fasi Hijrah, menjadi fase penegakkan kedaulatan dengan berbagai macam strategi. Penegakkan kedaulatan dilakukan dengan melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk melakukan kerjasama-kerjasama dan ajakan untuk meyakini kekuasaan Tuhan.

Ilmu-ilmu keduniawian dikembangkan dibarengi dengan ketauhidan kepada Tuhan. Kerjasama di bidang politik, sosial, budaya, ekonomi dan militer terus dikembangkan melalui hubungan-hubungan diplomatik. Sikap perdamaian, keadilan, saling menghargai perbedaan, kejujuran, diajarkan kepada seluruh penjuru dunia.

Tuhan memberi petunjuk tentang ilmu keduniawian yang harus dipelajari agar ajaran agama bisa jadi rahmat seluruh alam. Petunjuk itu dapat kita lihat dalam cerita para pemuda di dalam gua ketika telah dibangunkan Tuhan. Hal pertama yang harus dilakukan para pemuda ketika sudah dibangunkan adalah berkaitan dengan ekonomi dan makanan.

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun. (Al Kahfi:19)

Konsep “membawa uang perak” bermakna bahwa Tuhan memberi petunjuk agar kita memahami tentang ekonomi terutama sistem moneter dan perbankan. Konsep “makanan” bermakna bahwa Tuhan memberi petunjuk untuk memahami tentang hal ihwal pengelolaan pangan. Konsep “lemah lembut” bermakna mengedepankan karakter lemah lembut agar bisa diterima seluruh kalangan masyarakat. Konsep “jangan sekali-kali menceritakan hal mu” bermakna inklusif dalam bersosialisasi dengan tidak memperlihatkan perbedaan yang membuat dicurigai dan diasingkan. Petunjuk ini adalah rahmat dari Tuhan agar orang-orang beriman hidup damai dalam menuju kejayaan. 

Fase Kejayaan (Penaklukkan Mekah)

Fase selanjutnya terdapat dalam cerita keempat yang terdapat dalam surat Al-Kahfi. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya". Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, (Al Kahfi:83-84).
Pada akhirnya, orang-orang beriman akan menyaksikan kebenaran Tuhan. Mereka yang mendustakan kebenaran dari Tuhan mendapatkan kehinaan. Kekuasaan dan kekuatan menjadi milik orang-orang beriman. Teknologi diciptakan dengan rahmat dari Tuhan.

Zulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, (Al-Kahfi:95)

Fase ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman dan bertakwa kepada Tuhan. Sebagaimana dijelaskan di awal surat Al-Kahfi bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan berita gembira. “sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,” (Al-Kahfi:2)

Demikianlah fase-fase menuju kejayaan yang sudah ditetapkan Tuhan dan pasti dilalui oleh setiap orang, dan setiap peradaban. Semoga kita semua diberi kesabaran. Wallahu ‘alam.

(Muhammad Plato, Penulis Buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan. Follow me@logika_Tuhan).