Monday, November 18, 2013

KALAU MAU KAYA, CEPAT NIKAH SANA...!!!

Oleh: Muhammad Plato

Bedakan, antara ajaran agama dengan mitos, takhayul, tradisi, dan kebiasaan. Di masyarakat kita masih bercampur aduk antara ajaran agama dan mitos. Seharusnya kalau yakin 1000% terhadap aturan agama, harusnya yang mitos, tradisi, takhayul, dan kebiasaan, harus disingkirkan.

Contoh; teman sejawat saya, sudah memasuki usia 30 tahun saat itu masih belum menikah. Ternyata alasan dia menunda pernikahan secara tidak sadar telah bersandar pada mitos. Di dalam keluarga besarnya berlaku mitos, dan secara turun-temurun tidak boleh melanggar mitos ini. Mereka yang berusia muda, tidak boleh menikah sebelum saudara-saudaranya yang berusia tua menikah. Mitosnya, jika hal itu dilanggar akan terjadi hal-hal yang buruk dalam keluarga yang dibinanya. Hemm..... inilah adalah logika berpikir yang bertentangan dengan ajaran agama, karena nikah dikaitkan dengan sesuatu yang buruk. Wajib dikikis nih.


Kasus lain, dalam satu keluarga ada seorang gadis yang terpaksa menunda perkawinan karena alasan kemampuan ekonomi. Saya pikir alasan itu karena Dia belum bekerja, ternyata Dia terganjal oleh uang pelangkah yang jumlahnya besar dan tidak sanggup dia bayar.  Dalam keluarga gadis tersebut, berlaku denda material. Jika seorang adik menikah lebih dahulu, maka sang adik harus mengeluarkan uang pelanggkah yang jumlahnya ditentukan sang kakak. Aturan lainnya, jika tidak sanggup membayar tunai, bisa ngutang, yang harus dibayarkan pada saat dia sudah menikah.  Ckckck....harus dibasmi ini...

Mitos dan peraturan dalam keluarga di atas, keduanya tidak diatur dalam ajaran agama. Bahkan mitos di atas bisa dikatakan haram, karena satu keluarga sudah menjadi penghambat bagi keluarga mereka sendiri dalam melaksanakan ibadahnya kepada Allah yaitu menikah. Syarat pernikahan cukup sederhana, jika pasangan sudah cukup umur (dewasa), punya kemampuan, lebih cepat menikah lebih baik, untuk menghindari jinah.

Logika berpikir yang aneh dalam keluarga tersebut adalah mereka lebih takut kakak-kakaknya didahului menikah oleh adiknya, dari pada takut anak-anaknya yang sudah siap menikah melakukan jinah. 

Patut dijadikan contoh adalah, ada seorang ibu berstatus janda, usianya sekarang sudah mendekati 80 tahun. Sejak usia  muda 35 tahun, dia sudah menjadi janda karena suaminya meninggal. Dia membesarkan anak-anaknya sendirian. Jumlah anak yang harus dibesarkannya tak tanggung-tanggung berjumlah 10 orang. Dia harus banting tulang menghidupi keluarga sampai harus menjadi supir truk. 

Ada kiat yang Dia kemukakan dalam membesarkan anak-anaknya. Dia tidak pernah melarang-larang anaknya menikah. Setelah lulus SMA, anak-anaknya yang mau menikah Dia nikahkan. Dengan catatan pendidikan harus tetap dilanjutkan, sekalipun sudah menikah. Alhasil kesepuluh anaknya semuanya berhasil menjadi sarjana. Sekarang anaknya ada yang tinggal di Amerika dan Austraslia, dengan standar hidup sangat mapan.

Hal menarik dari alasan Dia menikahkan anaknya selulus SMA, karena alasan ekonomi dan keberkahan. Pertama alasan anak-anak dinikahkan demi pendidikan. Dengan menikah anak-anaknya bisa hidup mandiri, karena sudah punya tanggung jawab kepada keluarga. Sang istri yang punya visi sama, bisa saling membantu untuk membiaya pendidikan suami demi kesejahteraan hidup yang lebih baik setelah berpendidikan tinggi.

Alasan kedua, menikah menjadi solusi terbaik agar anak-anaknya tidak terhindar dari dosa besar (perjinahan). Dengan menikah hubungan percintaan menjadi halal, menjadi pembuka rejeki berkah karena menikah adalah ibadah yang sesuai dengan sunah Nabi Muhammad saw. Dengan menikah rejeki jadi ganda, rejeki suami plus rejeki istri.

Menurut beliau, salah jika orang tua melarang-larang, menghalang-halangi anaknya menikah. Karena hal tersebut justru akan beresiko menjerumuskan anak-anak ke dalam dosa. Sesungguhnya dosa itu adalah penghalang bagi rejeki anak-anak.

Kesalahan juga terjadi dalam budaya masyarakat kita. Masyarakat cenderung mendeskreditkan seseorang yang menikah dalam usia muda dengan alasan belum berpendidikan tinggi atau belum memiliki pekerjaan sebagai ukuran kemapanan dalam membina rumah tangga. Padahal, jika niatnya benar dan ada kesepahaman bersama antara anak-anak yang akan menikah dengan orang tua, menikah karena menghindar dari dosa besar (jinah), itu harus cepat dilakukan.

Stigma negatif nikah sebagai penghambat pendidikan juga termasuk salah besar. Niat orang untuk melanjutkan pendidikan tidak harus merasa dibatasi dengan pernikahan. Buktinya, janda 10 anak ini bisa sukses mendidik anak-anaknya, tanpa harus melarang-larang anaknya untuk menikah dalam usia muda. Justru janda 10 anak ini berkesimpulan, bahwa keberhasilan Dia mendidik anak karena anak-anaknya menikah dalam usia muda dan tidak berhenti melanjutkan pendidikan. Dengan menikah muda, rejeki anak-anaknya lebih berkah seperti yang dia nikmati sekarang.  

Kesimpulannya, menikah sejak muda sama dengan merencanakan sukses sejak muda. Logikanya bisa kita pahami dalam hadis berikut;  ”Perzinahaan mengakibatkan kemiskinan. (HR. Al-Baihaqi dan Asysyihaab). Artinya menikah sama dengan penyebab keberkahan rezeki. Buat apa lagi tunda-tunda pernikahan. Nikah dulu sana......!!!

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Thursday, November 7, 2013

AL-QUR’AN MANUAL BOOK LOGIKA TUHAN



Pikiran positif dan negatif, semuanya dipengaruhi oleh pengetahuan yang masuk ke dalam otak. Menurut Erbe Sentanu, setiap hari 60.000 pengetahuan baik maupun buruk masuk ke dalam otak. Setiap hari otak bertugas mengolah, apakah pengetahuan itu menjadi baik atau buruk.

Tuhan memerintahkan kepada otak, agar berpikir dan mengubah semua yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik. Jika tidak mendapat petunjuk dari Tuhan, tugas otak sangatlah berat, 60.000 pengetahuan harus dia positifkan.  Otak yang kelebihan beban, dia bisa mogok, muntah-muntah, kejang-kejang, yang berdampak pada seluruh anggota Tubuh.

Ciri orang-orang yang mempekerjakan otaknya sendirian adalah pusaran botak di kepalanya melebar. Semakin botak kepala, semakin keras otaknya dipekerjakan. Kasihan otak tuh...

Seluruh anggota tubuh ada cara kerjanya. Sebagai pencipta, Tuhan sudah memberi petunjuk bagaimana cara menggunakannya. Wahyu adalah manual book dari Tuhan yang harus kita baca sebelum seluruh anggota tubuh ini bisa kita gunakan dengan baik.

Bagian utama tubuh yang sering kita gunakan adalah otak. Bersumber dari otak semua anggota tubuh digerakkan. Banyak yang tidak menyadari bahwa berpikir menggunakan otak ada manual book nya dari Tuhan. Mereka yang tidak tahu cara berpikir dari petunjuk Tuhan, mengeksploitasi otaknya agar semua pengetahuan yang diterimanya menjadi positif.  

Eksploitasi terhadap otak bisa berdampak pada kondisi kesehatan yang memburuk. Dan hal ini akan berdampak pula pada rendahnya kualitas hidup, menurunnya kesejahteraan, dan pendeknya angka harapan hidup. Walaupun hidup di dunia ini sebentar, tidak ada yang mau hidup menderita seumur-umur.

Akibat dari ekploitasi otak adalah sakit kepala, kejang otak, pecah pembuluh darah, kangker otak. Tentu inilah yang dimaksud dengan rendahnya kualitas hidup dan kesejahteraan. Siapa yang mau hidup seumur-umur menanggung kualitas hidup dengan kondisi otak tidak sehat. Untuk itu kita butuh petunjuk Tuhan, bagaimana menggunakan otak, agar otak tidak menanggung beban yang berlebihan.

Sebetulnya sudah ada contoh orang-orang  yang berpikir dengan petunjuk Tuhan.  Nabi Ibrahim, dan Muhammad saw adalah contoh terbaik dari manusia yang berpikir dengan petunjuk Tuhan. Namun tidak ada yang menyadari bahwa berpikir memiliki petunjuk dari Nya.

Pengetahuan yang di dapat dari Al-Qur’an atau hadist, yang menjadi inti ajaran agama Islam tidak pernah dikembangkan menjadi petunjuk berpikir dari Tuhan. Padahal perintah berpikir selalu diulang-ulang sampai 63 kali. Sangat tidak mungkin jika memerintahkan berpikir, Tuhan tidak menyertai  dengan petunjuk-Nya.

Ayat pertama turun yang diterjemahkan sebagai bacalah, jika ditelaah sesungguhnya punya kaitan erat dengan perintah berpikir. Pada prakteknya, ketika kita membaca kitab suci, buku, gejala sosial, fenomena alam, sesungguhnya kita sedang menggunakan otak untuk pikiran. Pada prakteknya membaca, yang diartikan sama dengan meneliti, menelaah, mengamati, semuanya berkaitan dengan pekerjaan otak yaitu berpikir.

Maka dari itu makna luas tafsir pada awal surat yang pertama turun bisa dikaitkan sebagai perintah berpikir dari Tuhan.

Bacalah (berpikirlah) dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah (berpikirlah), dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (logika). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq:1-5).


Dengan berpikirlah semua ciptaan Tuhan bisa kita pahami. Dengan berpikirlah kemurahan Tuhan dapat kita pahami.  Dengan berpikirlah semua yang tidak kita ketahui dapat kita ketahui. Logika adalah perantara atau metode atau cara berpikir yang diajarkan Tuhan kepada manusia.

Manual berpikir, petunjuk berlogika itu tertulis dalam Al-Qur’an. Berpikirlah atas nama Tuhan mu! Artinya berpikirlah menurut pentunjuk-petunjuk yang telah Tuhan berikan kepada mu. Sesungguhnya orang-orang yang berpikir di atas petunjuk Tuhan, dunia ini hanya dipandang sebagai kebaikan (positif).  

Salam sukses dengan logika Tuhan.  Follow me @logika_Tuhan

Wednesday, October 30, 2013

SUPAYA UNTUNG, SELURUH HIDUP INI IBADAH

Oleh: Muhammad Plato

Pembodohan umat ini sudah terjadi 1500 tahun lebih. Pembodohan itu dimulai saat doktrin agama dianggap tidak mampu lagi membuktikan kebenarannya secara ilmiah. Untuk mencari jalan damai diluncurkanlah sebuah pola berpikir parsial (sekuler) yang memisahkan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Dengan pola pikir sekuler, agama dan ilmu berjalan berdampingan tanpa bersinggungan.

Akibat pola pikir sekuler, dibelahan Barat, Tuhan di bunuh oleh para ilmuwan. Tuhan diabaikan dan merana di atas langit, bahkan dilecehkan sebagai ilusi, mistis, dan mitos. Di dunia Timur, Tuhan tetap hidup tapi hanya di rumah-rumah ibadah. Rumah-rumah ibadah dibangun dengan megah, tapi pikiran dan hati mereka tidak pernah menjadi rumah bagi Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan dianggap tidak mengerti apa-apa dan dilarang ikut campur.

Baik Barat maupun Timur sedang tidak sehat, dua-duanya sedang demam tinggi dan penyakit gila menyebar di mana-mana. Sangat tidak masuk akal, ada orang di pagi hari berdoa dan berjanji pada Tuhan tidak akan berbuat dusta, tetapi ketika masuk dunia nyata semua pekerjaannya dipenuhi dengan dusta.

Media informasi adalah alat pendusta, memutarbalikkan fakta dengan membuat opini. Kendali kekuasaan ada di para pemilik modal dan media. Jika para pemilik modal dan media taat pada Tuhan, dia akan jadi Musa (pembawa kebaikan), tetapi jika pemilik modal dan media termasuk kelompok yang membunuh Tuhan, dia akan jadi Fir’aun (pendusta) abad 21.

Semua ini biang keroknya adalah pola pikir sekuler. Alam dunia dan akhirat yang seharusnya menjadi sebuah kesinambungan kehidupan manusia menjadi terputus. Alam akhirat yang seharusnya menjadi akibat kehidupan setelah dunia, kini menjadi kampung sepi penghuni.

Sudahlah, kita akhiri pemikiran bodoh itu. Mau sampai kapan, dibohongi dengan pola-pola pikir yang membuat kerdil dan picik itu. Selama ini kita telah under estimate kepada Tuhan, karena mengaggap wahyu Tuhan tidak mengandung kebenaran ilmiah. Kita juga telah disesatkan bahwa selamanya Tuhan harus tetap misterius, padahal Tuhan punya sisi-sisi logis dan bisa dicerna dengan akal sehat.

Saya berpikir, siapapun orangnya yang menghalang-halangi umat manusia untuk berpikir (berlogika), menggunakan otaknya untuk memahami ayat-ayat Tuhan, dia telah melarang sesuatu yang telah diperintahkan oleh Tuhan. Jangan-jangan orang-orang yang melarang memikirkan ayat-ayat Tuhan adalah orang yang tidak dirahmati Tuhan, karena melarang yang sudah sangat jelas dan berulang-ulang diperintahkan oleh Tuhan.

Kesalahan fatal yang diakibatkan oleh pola pikir sekuler adalah terjadi pemisahan antara kegiatan ibadah dan bukan ibadah. Kegiatan ibadah direduksi menjadi ritual-ritual keagamaan tanpa ada kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Peribadatan dibatasi oleh waktu-waktu tertentu saja, 5-10 menit di pagi, siang, sore, dan malam hari. Setelah itu seluruh aktivitasnya dianggap bukan kegiatan ibadah.

Padahal grand theory nya, seluruh aktivitas manusia harus menjadi bentuk peribadatan (penyembahan) kepada Tuhan. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Add dzariyaat:56). Kegiatan ritual (sholat), dan kehidupan sehari-hari harus jadi satu kesatuan yang bernilai ibadah. Ritual dan kehidupan sehari-hari bukan hal yang terputus dari kehidupan sehari-hari tapi harus  berhubungan sebagai sebuah sistem.

Dalam kehidupan sehari-hari ibadah ritual, diumpamakan sebagai kegiatan isi bensin, atau recharge energi agar seluruh aktivitas hidup bisa terus berjalan di jalur yang benar, dan tidak merugikan orang lain. Secara psikologis, ibadah ritual adalah sebuah upaya membangun harapan (motivasi), agar kehidupan berjalan lurus dalam kebaikan.     

Ibadah yang ditentukan waktu-waktunya hanya standar minimal, pengingat agar manusia tidak larut dalam kehidupan dunia yang fana. Tuhan berfirman, manusia yang paling beruntung adalah mereka yang dalam kehidupan sehari-harinya banyak mengingat Tuhan. “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Al Jumu’ah:10).

Atas dasar itu, keberuntungan hidup di muka bumi ini, tidak mungkin kita dapat kecuali dengan menjadikan seluruh aktivitas hidup sebagai ibadah, agar kita bisa mengingat Tuhan lebih banyak. Kecenderungannya, orang-orang yang selalu ingat Tuhan lebih banyak, prilakunya akan membaik seiring dengan kebaikan rezekinya di dunia dan akhirat.

Memisah-misah kehidupan dunia-akhirat, agama-ilmu sudah bukan zamannya lagi. Dunia sudah berubah, dan Tuhan sudah kembali mengukuhkan di atas segala kekuasaan bahwa diri-Nya-lah Yang Maha Kuasa. Semoga kalian dapat keuntungan besar.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Tuesday, October 29, 2013

MAU TAHU PEMBENTUK PRIBADI PENYEJAHTERA?



Kata Hertati, dkk. (2012) Kepribadian seseorang secara umum dipengaruhi oleh tiga unsur. Pertama adalah pengetahuan. Untuk itu saya berani ambil kesimpulan umum, semakin sedikit pengetahuan semakin buruk kepribadian seseorang. Tidak percaya? Silahkan saja buktikan. Secara umum orang-orang yang punya kebiasaan membaca (banyak pengetahuan), akan memancarkan pribadi-pribadi anggun.

Ini adalah contoh pribadi-pribadi anggun penyejahtera yang dibentuk oleh pengetahuan. Orang-orang yang tahunya hanya 1-1=0, pengetahuan ini akan membentuk pribadi-pribadi kikir. Sebaliknya orang-orang yang tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, pengetahuan ini akan membentuk pribadi-pribadi penyejahtera (dermawan).

Unsur kedua pembentuk kepribadian adalah perasaan. Perasaan dibentuk oleh pengetahuan yang dinilai secara subjektif. Setiap pengetahuan akan dinilai, dan dari hasil penilaian akan muncul baik dan buruk. Penilaian baik akan menghasilkan perasaan senang, dan penilaian buruk akan menghasilkan ketidaksenangan.

Bagi yang pengetahuannya 1-1=0, memberi, membantu, menyejahterakan orang dinilai suatu hal buruk, karena akan mengurangi sesuatu yang sudah dimiliki. Sebaliknya bagi yang mengetahui dari Tuhan 1-1=700, memberi, membantu, menyejahterakan, orang lain dinilai suatu hal yang baik, karena akan menambah sesuatu yang telah dimilikinya. Mereka yang banyak tahu dari Tuhan dan membutkikan bahwa 1-1=700, akan merasa senang jika sudah menyejahterakan orang lain.

Unsur ketiga pembentuk kepribadian adalah naluri. Setiap manusia dilahirkan dengan berbagai macam naluri. Para ahli psikologi menjelaskan naluri adalah dorongan (drive) untuk melakukan sesuatu yang secara umum telah dimiliki manusia. Naluri ini terkandung dalam gen (aliran darah/keturunan).

Salah satu naluri yang terkandung dalam gen manusia adalah naluri untuk memeperbanyak harta kekayaan (gold) demi kekuasaan (glory). Naluri pada dasarnya bersifat netral. Tindakan yang bersumber dari naluri akan terlihat baik dan buruk, setelah dipraktekkan. Baik dan buruknya tindakan naluriah seseorang bergantung pada pengetahuan orang tersebut.

Jika tahunya 1-1=0, adalah cara bertindak naluriah dalam mencari kekayaan, maka tindakan naluriahnya akan cenderung buruk karena kekayaannya akan diperbanyak dengan cara-cara merugikan orang lain (memperkecil pengeluaran) dengan cara eksploitasi, penjajahan, dan korupsi.  Sebaliknya jika tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, naluriah memperbanyak kekayaannya akan dilakukan dengan cara memperbanyak pengeluaran di jalan Tuhan, membantu, menolong, membebaskan penderitaan orang lain.

Sekalipun setiap orang punya banyak naluri, harus ada satu naluri yang dominan menjadi ciri khas seseorang. Naluri dominan ini dipengaruhi oleh gen (ketuturunan/herediter), yang pembentukannya terjadi sejak dalam kandungan.

Untuk itu para peneliti gen berkesimpulan bahwa kepribadian pelit (kikir) dipengaruhi oleh gen. Jika pembentukan gen terjadi saat dalam kandungan, saya memutlakkan bahwa ibu-ibu yang hamil wajib memiliki banyak pengetahuan tentang cara-cara pembentukan kepribadian.

Kembali kepada pengetahuan, ibu-ibu hamil yang tahunya bahwa 1-1=0, akan sangat mungkin berpotensi melahirkan keturunan-keturunan pelit, eksploitatif, dan koruptif.  Sebaliknya bagi ibu-ibu yang tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, akan sangat mungkin melahirkan keturunan dengan pribadi penyejahtera.

Fir’aun, Hitler, lahir dari perut seorang Ibu, demikian juga Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw penutup para Nabi, lahir dari perut seorang Ibu. Maka dari itu, kaum yang harus paling banyak pengetahuannya adalah para Ibu (kaum perempuan), karena dari perut mereka akan lahir benih pribadi-pribadi penyejahtera.  Untuk itulah diberitahukan oleh Tuhan kepada kaum laki-laki untuk memuliakan kaum perempuan tiga kali lipat dari kaum laki-laki.

Pada akhirnya, dari ketiga unsur pembentukan kepribadian, hal yang paling dominan berpengaruh terhadap kepribadian seseorang adalah pengetahuan. Untuk itulah sangat-sangat logis, jika Tuhan menurunkan wahyu pertamanya kepada Rasulullullah saw dengan kata bacalah (Iqra). Sangat logis juga jika ada kata-kata ambisius mengatakan knowledge is power.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan. 

Sunday, October 20, 2013

LOGIKA TUHAN KUNCI BANGUN RUMAH TANGGA SEJAHTERA (2)


Dalam tulisan saya waktu lalu, sudah dijelaskan bahwa kunci pertama dalam membina rumah tangga sejahtera adalah laki-laki mutlak menjadi pemimpin (pengambil keputusan) dalam keluarga. Semua harus hormat tunduk dan patuh. Kepatuhan istri (perempuan) pada suami (laki-laki) bukan karena laki-lakinya tetapi karena hormat pada ketentuan Tuhan.

Dalam rumah tangga, selain ada istri yang tidak hormat pada suami, ada juga yang kurang akur dengan orang tua (baik dari pihak suami atau istri). Mendengar dari obrolan teman-teman, rata-rata keluarganya dibina dengan petentangan antara istri dengan mertua atau suami dengan mertua. Bahkan ada juga suami dan istri bersekongkol berseberangan dengan orang tuanya sendiri. Suami istri kompak dalam keburukan. Hehehe...

Biasanya yang diributkan adalah masalah manajemen keluarga. Ada yang beralasan orang tuanya terlalu ikut campur urusan keluarga, atau orang tuanya masih menggantungkan ekonomi kepada keluarganya. Maaf-maaf ya, pernah denger sih ada mantu yang bersyukur ketika dengar mertuanya meninggal. Astagfirullah....

Sekarang akan saya jelaskan kunci kedua yang berkaitan erat dengan kunci pertama. Di dalam rumah tangga (istri atau suami) sekalipun sudah menjadi keluarga otonom, statusnya sebagai anak masih tetap berlaku dan masih berkewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua. Baik orang tua pihak laki-laki maupun orang tua pihak perempuan.  Karena ketentuannya dalam hadis Nabi Muhammad saw dijelaskan bahwa mertua termasuk orang tua (baik dari suami maupun istri).

iNI KETENTUAN yang harus diperhatikan setelah kita berumah tangga adalah; “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Al Israa:23)

Ketentuan yang dicetak tebal MERAH di atas, berlaku selama manusia merasa hidup dan dilahirkan dari rahim seorang ibu, kecuali mereka yang terlahir dari batu atau tumbuhan. Ketentuan ini tidak batal sekalipun seorang anak perempuan atau laki-laki sudah menikah. Ketentuan ini juga berlaku sekalipun orang tua kita sudah meninggal. Ketentuan ini juga berlaku sekalipun kita sudah menjadi tua renta. Pikirkan...

Persepsi yang sering terjadi, ketika anak (laki-laki atau perempuan) sudah menikah, ada anggapan bahwa kewajiban anak berbuat baik kepada ibu bapak sudah terlepas. Secara otomatis persepsi ini melahirkan pembangkangan seorang anak kepada orang tua, dan jelas itu bertentangan dengan kehendak Tuhan (Khususnya, Al-Israa:23). Jika rumah tangga dibina dengan penentangan terhadap ketentuan Tuhan, dijamin akan jauh dari kondisi harmonis dan sejahtera.

Lebih parah lagi, ada keluarga yang menjadikan orang tua sebagai kambing hitam atau penyebab kegagalan dalam membina rumah tangga. Astagfirullah...manusia macam apa itu? Sungguh sebuah fitnah besar (dosa besar) dimana orang tua dideskreditkan sebagai biang kerok kegagalan rumah tangga, padahal seharusnya orang tua dijadikan sebagai penyebab kelancaran ekonomi keluarga. Mesti ingat bahwa kedudukan orang tua sangat spesial dihadapan Tuhan, jadi sebagai anak sekalipun sudah menikah, harus berhati-hati memperlakukan orang tua. Ini prilaku dasar lo, tidak bisa tidak. Kalau tidak percaya ya silahkan saja buktikan, rumah tangga Anda pasti tidak akan tentram (awet rajet kaya orang Sunda mah).  Kondisi parahnya hancur berkeping-keping (perceraian). Ampunn...ya Allah...

Bagaimana strateginya, agar keluarga (suami/istri) bisa tetap berbakti kepada kedua orang tua. Peran sentralnya ada di pemimpin keluarga (laki-laki). 

Strukturnya begini, dalam keluarga, kunci pertama (sudah saya jelaskan) keharmonisan dan kesejahteraan ada di ketaatan anggota keluarga (terutama istri) kepada pemimpin (suami). Umumnya, semua anggota keluarga harus hormat dan patuh pada ketentuan pemimpin keluarga.

Selanjutnya pemimpin keluarga harus berperan memobilisasi  seluruh anggota keluarga (terutama istri), untuk taat kepada aturan Allah bahwa sebagai anak-anak yang lahir dari orang tua harus berbakti kepada kedua orang tua (baik orang tua dari pihak istri maupun suami). Seorang pemimpin harus paling pertama sadar dan menyadarkan istri, beserta anak-anak,  bahwa berbakti kepada orang tua bukan atas dasar mereka telah berjasa membesarkan anak-anaknya, atau balas jasa kepada kedua orang tua, tetapi sebagai bentuk ketaatan seluruh anggota keluarga kepada ketentuan Tuhan.

Seorang istri sekalipun memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua yang melahirkannya, dalam tindakannya harus sepengetahuan pemimpin. Bagi pemimpin yang menganjurkan seluruh anggota keluarga berbakti kepada kedua orang tua, tentu tidak akan jadi halangan jika seorang istri ingin berbakti kepada kedua orang tuanya termasuk mertua karena itu kewajiban. Hirarki seperti ini, tidak bermaksud merendahkan posisi perempuan tetapi sebagai bentuk tatanan keteraturan yang harus diciptakan dalam sebuah kelompok bernama keluarga.

Rumah tangga yang berujung bangkrut (cerai), sering diawali dari lemahnya kepemimpinan (suami) dalam menyadarkan seluruh anggota keluarga untuk berbakti kepada kedua orang tua. Lemahnya kepemimpinan (suami) melahirkan kepemimpinan (istri), sayangnya kepemimpinan istri sering tidak berlandaskan pada penegakkan hukum yang sudah ditetapkan Tuhan, tetapi mengambil kesimpulan sendiri (membalikkan hukum Tuhan), yaitu memposisikan diri sebagai pemimpin dengan merendahkan posisi suami.  Akhirnya kepemimpinan istri menjadi bentuk pembangkangan terhadap suami, sekaligus terhadap ketentuan Tuhan.

Dominasi istri dalam keluarga adalah hal unik dan tidak bermasalah, jika dalam dominasinya, istri tetap memposisikan diri sebagai orang yang tetap hormat pada suami, dan memobilisasi seluruh anggota keluarga untuk hormat pada pemimpin keluarga dan berbakti kepada kedua orang tua. Dalam dominasinya perempuan hadir bukan untuk merendahkan suami tetapi untuk mendorong seluruh anggota keluarga  agar selalu taat pada ketentuan Tuhan. Sebaliknya, dominasi istri harus bertujuan mendorong suami tetap jadi pemimpin dan menjadi teladan seluruh anggota keluarga untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Jika dua kunci sukses membina rumah tangga sejahtera terus dipertahankan, maka urusan kesejahteraan keluarga bukan lagi urusan hubungan antar manusia, tetapi menjadi urusan Tuhan. Keluarga-keluarga yang berusaha menegakkan aturan-aturan  Tuhan akan dijaga dari kehancuran. Apakah Anda yakin pada kekuasaan Tuhan?  Tuhanlah yang mensejahterakan, dan menyempitkan rejeki dalam keluarga. Silahkan buktikan dengan nalar dan bacalah pengalaman-pengalaman orang terdahulu. Kami sudah merasakan kesejahteraan itu datangnya dari Tuhan.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan