Thursday, January 30, 2020

SETELAH SEDEKAH ANAK MENINGGAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Tahun 2018, “setelah melaksanakan sedekah anak saya meniggal”. Kematian anak saya begitu mendadak. Hari kamis dan Jumat saya antar anak ke sekolah. Dua hari itu ternyata catatan terakhir dalam hidup saya mengantar anak ke sekolah. Sekitar 18 tahun sangat bisa dihitung jari antar anak ke sekolah, Allah memberi kesempatan saya mengantar anak sekolah di hari-hari terakhir kematiannya.

Hari-hari terakhir dia duduk di jok depaan. Hari jumat hari terakhir saya antar anak sekolah, selama diperjalanan anak terliam diam, tidak banyak bicara. Di benak saya bertanya, kenapa tidak biasanya? Saya godain dia dengan menancap gas, dan mobil kecepatan tinggi. Biasanya dia teriak histeris, dan tertawa-tawa. Kali itu hanya tersenyum. Mobil kembali melambat.

Setelah hampir sampai sekolah, dia turun 100 meter dari sekolah. Kemudian menyebrang jalan menuju sekolah. Ketika dia menyebrang saya menatap anak itu agak lama. Badannya yang gemuk, kulitnya yang sudah putih, terlihat saat itu sangat putih seolah bercahaya. Tidak ada pikiran apa-apa kecuali bangga punya anak sehat dan semakin tumbuh dewasa. Tidak disangka itu momen terakhir dengan buah hati saya.

Hari sabtu malam anak panas dan minggu jam 9.00 kondisinya kritis. Anak langsung di bawa ke klinik terdekat. Anak muntah darah kotor, sampai mengenai baju saya. Mulutnya kejang, dan giginya kuat mengigit. Takut mengigit lidahnya, segera dikasih alat pengganjal. Anak langsung dirujuk ke rumah sakit terbaik swasta di Bandung pakai ambulan bersama Istri. Saya cari mushola, ambil air wudhu. Shalat dhuha enam rakaat, memohon pertolongan Allah untuk diselamatkan disehatkan kembali dari penyakit. Setelah itu saya berangkat mengendarai mobil dengan harapan anak bisa ditangani dan sehat kembali.

Ditengah jalan menuju rumah sakit terjadi perubahan, anak di bawa ke rumah sakit pemerintah terbesar di Bandung. Masuk UGD dan ditangani sesuai prosedur, sebagai bukti pelayanan.

Dokter yang masih sangat muda, mereka bilang kondisi kritis, kesadarannya sudah semakin menurun. Saya belum sadar anak mau meninggal. Saya bacakan alfatihah, al Ikhlas, al Falaq, An Nas, al Baqarah ayat 1-5, ayat qursi, dan ayat terakhir al Baqarah. Terlihat keluar air mata dari matanya. Saya senang saya pikir dia akan kembali sadar, ternyata itu adalah salam perpisahan.

Anak dipindah ke ruang picu yang sempit, sangat pengap. Anak sedang dibuat napas buatan dengan pompa. Saya masih punya harapan dia akan kembali sehat, ternyata itu hanya prosedural agar usaha dikatakan maksimal.

Ketika sedang sakaratul maut menjemput, dengan keyakinan saya transfer sejumlah uang ke nomor rekening panti yang saya simpan di hand phone. Dengan harapan sehatkan kembali anak kami ya Allah. Dalam hati saya menjerit memohon pertolongan Allah. Ketika nada detak jantung berhenti, inilah rasa bagaimana hidup diruang hampa. Saya menyaksikannya sambil memeluk istri. Hanya kata, sabar yang terucap, dan tubuh yang masih hangat tapi tak bernyawa di bawa ke kamar mayat. Dalam hati berkata, maafkan papi de…tidak bisa merawat, menyayangi, membahagiakan ade!

Kegundahan setelah itu adalah kepada apa yang telah saya lakukan sebelum kematian anak. Kesimpulan pesimis muncul, shalat dan sedekah tak bisa memanjangkan umur. Saya hanya menilai pada saat itu, shalat dan sedekah harus membuat anak kembali sehat dan panjang umur. Saya berpikir, “seharusnya kebaikan dibalas Allah dengan kebaikan, tetapi saat itu Allah membalas dengan kesedihan yang sangat mendalam. Peristiwa kelam itu berlalu hingga menjelang dua tahun.

Di meja makan yang biasa saya jadikan tempat kerja, saya dan istri mengenang almarhum. Istri cerita, “almarhum selalu datang dalam mimpi, ketika istri dan saya tidak berjiarah ke makamnya. Dalam mimpi almarhum selalu berdua dengan anak perempuan. Kata istri, dia adalah kakaknya, karena dulu istri saya pernah keguguran ketika usia kandungan yang diprediksi sudah punya ruh”. Kata istri, “anak perempuan itu cantik, kulitnya putih. Mukanya persis seperti ibunya”. Kadang, ketika kami tidak ziarah kubur karena sibuk, ke dalam mimpi istri, almarhum datang dengan muka sedih, air matanya mengalir dan mukanya memerah. Lalu istri saya kirim doa alfatihah dan seolah dia bicara langsung. Istri saya berkata, “maaf ya de…, besok mami ziarah sama papi, dia pun pergi”.

Kegundahan saya terjawab. Ketika membaca sebuah buku saya menemukan hadis tentang sedekah. “Sedekah selain memanjangkan umur, ternyata mencegah dari kematian yang buruk”. Dengan hadis ini saya diskusi dengan istri mengenang proses kematian anak tercinta.



Masih kuat dalam ingatan saya, “di hari sabtu malam anak sakit panas. Pagi jam 9.00 kritis. Dibawa ke klinik, langsung rujuk ke rumah sakit. Menjelang Isa, anak tercinta menghembuskan nafas terakhir. Waktunya begitu singkat, dengan hasil pemeriksaan dokter terkena serangan virus meningitis. Sebelum kematian menjemput, ternyata ketika berada di klinik, istri sudah melakukan sedekah dengan transfer uang ke panti. Praktek sedekah ketika dalam kesulitan, memang sudah sering kami diskusikan dan lakukan, mengacu kepada surat At Thalaq ayat 7. “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”. Intinya dikala sulit Allah perintahkan bersedekah.

Dari hadis yang saya baca di buku, terjadilah diskusi. Lalu Istri berkesimpulan, “ade meninggal dengan mudah dan tidak menyulitkan. Dari pengalaman teman-temannya, meningitis adalah penyakit yang mematikan dan bisa berminggu-minggu perawatan di rumah sakit, dan ujungnya meninggal. Ada pun yang selamat dari kematian, kondisinya sulit dipulihkan. Lalu istri berkeyakinan, bahwa kematian Ade, bisa jadi jawaban Allah dengan memudahkan kematiannya.

Memang proses kematian itu berlangsung sangat cepat dan di luar dugaan. Tapi saat itu, kami berdua menghadapinya dengan tenang dan sabar. Tidak ada jerit tangis, dan ratapan, semuanya berjalan dengan penuh kepasrahan. Proses di kamar mayat pun tidak berlangsung lama, prosedur pengurusan administrasi dan keuangan, tak satu peser pun kami keluarkan, semuanya ada yang mengurus. Bantuan datang dari kakak, dan keluarga. Ambulan menjemput dengan lancar dan kami diantar bersama mayat ke rumah, lalu mayat dimandikan.  Istri merasa heran, kenapa saat itu bisa ikut memandikan dan tegar. Tiada lain ini adalah kebaikan dari Allah, bahwa sedekah menghindarkan dari kematian yang buruk.

Hal yang mengherankan, setelah beberapa bulan ade meninggal, teman-teman sekelasnya masih pada datang untuk berziarah ke makam. Saya sempat berpikir, “ini sebuah persahabatan yang luar biasa”. Sampai sekarang, sahabat, keluarga, istri dan saya, masih rutin menjiarahinya. Orang-orang yang pernah mengenalnya, merasa kehilangan karena selama hidup mereka mengatakan, “Ade anak yang supel dan menyenangkan”. Subhanalloh…apakah ini balasan dari shalat dan sedekah yang kami kerjakan? Sebaik-baiknya tafsir adalah berprasangka baik kepada Allah. Ya Allah beri kekuatan, kami akan shalat dan bersedekah sampai bertemu dengan kematian. Wallahu’alam.   

(Penulis Head Master Trainer dan Istri) 

Saturday, January 25, 2020

MENAKLUKKAN JIN

Oleh: Muhammad Plato

Melawan jin bukan dengan mantra-mantra atau sesaji-sesaji. Mungkin anda pernah menyaksikan, ketika jin merasuki otak manusia, kemudian dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, jin malah tertawa dan menantang dengan menirukan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah itu kita menjadi ragu pada ayat Al-Qur’an karena tidak bisa menaklukkan jin. Kelemahan iman dan keraguan kita kepada ayat Al-Qur’an itulah yang membuat jin terus bercokol dalam otak dan hati manusia.

Untuk itu menaklukkan jin bukan dengan mantra atau sesaji, tetapi dengan menjaga dan melatih diri membangun kesadaran kepada Tuhan. Mantra atau sesaji sifatnya seperti bacaan yang tidak dimengerti isinya. Bacaan-bacaan yang bersifat mantra kurang melindungi otak dari bisikan-bisikan jin. Kelemahan dari mantra atau sesaji adalah tidak menyediakan stok pengetahuan yang banyak didalam otak.

Al-Qur’an yang dibaca dan dihafal tanpa mengetahui maknanya, sangat miskin pengetahuan. Untuk itu bacaan-bacaan pendek Al-Qur’an yang hanya dihafal pengetahuannya tidak memenuhi seluruh ruangan otak, kecuali orang-orang penghafal Al-Qur’an. Mereka fokus pada bacaan Al-Qur’an 30 juz, dan otaknya terjaga oleh hafalannya yang banyak. Otaknya selalu terlatih menjaga hafalan Al-Qur’an, hingga jauh dari jin.



Manusia kedudukannya lebih unggul dari pada jin. Pengetahuan kita tentang sosiologi jin dapat membantu kesadaran manusia bahwa kita berada sebagai makhluk superior dari jin. Manusia harus percaya diri bahwa manusia lebih berkuasa dari jin. Manusialah yang harus mengendalikan dan menguasai  jin, bukan kita yang dikendalikan jin.

Arti kesadaran manusia adalah ingat Allah. Manusia dikatakan sadar jika ingat Allah. Untuk selalu mengingat Allah, manusia butuh banyak pengetahuan yang sumbernya dari Allah. Kitab suci Al-Qur’an harus dibaca dan dipahami, agar seluruh ruang otak manusia diisi oleh pengetahuan-pengetahuan dari Allah. Pengetahuan-pengetahuan dari Allah inilah yang akan menjaga otak manusia tetap sadar, dan sulit dimasuki atau dipengaruhi, diperdaya, atau ditipu setan.

Pengetahuan-pengetahuan dari Allah yang bersumber dari wahyu Al-Qur’an menjadi alat untuk memecahkan masalah ketika jin memberi solusi yang buruk pada pikiran manusia. Apapaun masalahnya, emosi manusia akan terkendali karena masalah selalu diolah oleh pengetahuan-pengetahuan yang sumbernya membuat manusia ingat pada Allah.

Untuk menaklukkan jin, manusia harus memperbanyak pengetahuan yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an. Memahami logika Al-Qur’an akan membantu manusia memahami hukum-hukum sebab akibat dari Allah, yang akan selalu memandu kita dalam memecahkan masalah.

Untuk bisa menaklukkan jin, diwajibkan membaca Al-Qur’an tidak sekedar membaca dalam bahasa Arabnya saja, karena cara demikian tidak memberi masukkan pengetahuan yang banyak ke dalam otak. Pengetahuan-pengetahuan hukum sebab akibat dari Al-Qur’an yang ada dalam otak akan menjadi imun bagi otak. Membaca Al-Qur’an dengan hanya memerhatikan tajwij saja, kalau dilakukan terus menerus, otak kita akan mengalami kekeringan pengetahuan Al-Qur’an.

Jika otak mengalami kekeringan pengetahuan Al-Qur’an maka emosi akan lebih aktif bekerja. Pada saat emosi lebih dominan bekerja maka jin akan memberikan masukkan-masukkan (bisikan) pengetahuan yang mendorong kerja emosi orang berlebihan. Pada posisi ini manusia dikendalikan setan. 

Kesadaran diri manusia akan mudah dimasuki pengaruh jin, ketika emosi meningkat dan berlebih. Ketika kita lupa pada Tuhan saat sedih, putus asa, benci, dendam, jengkel, jin akan lebih mudah masuk pada otak manusia. Selain itu ketika kita lupa kepada Tuhan saat bahagia, bangga, senang, sukses, jin akan masuk pada otak, maka kebanggan dan kebahagian kita akan berlebihan. 

Kesadaran dalam bentuk ingat Allah, bukan sekedar ingat saja, tetapi ingatan itu harus dibangun oleh pengetahuan tentang sebab-akibat dan berlakunya ketentuan-ketentuan Allah di dalam Al-Qur’an. Hukum-hukum Allah lah yang akan memnjaga otak manusia untuk selalu ingat Allah dan emosi manusia akan dalam kondisi terkendali. Manusia punya emosi yaitu suka dan benci, senang dan sedih. Emosi ini harus terkendali agar manusia bisa mengendalikan dirinya, melalui pengetahuan dari Tuhannya manusia bisa mengendalikan dirinya dan mengendalikan gangguan-gangguan dari jin dan lingkungannya.

Orang-orang yang sakit dan selalu di ganggu jin dalam hidupnya bisa diprediksi bahwa mereka memiliki kelemahan dalam mengendalikan emosi. Untuk memeprbaikinya mereka harus memperbanyak pengetahuan-pengetahuan tentang hukum sebab akibat dari Al-Qur’an agar otaknya terlindungi dari bisikan-bisikan pengetahuan dari Jin. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan).

SOSIOLOGI JIN

Oleh: MUHAMMAD PLATO

Tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah. Selain dari Allah, informasi tentang yang gaib adalah spekulasi atau praduga, jika salah dosa dan jika benar dosa. Jika salah dosa karena telah berprasangka salah, dan jika benar dosa karena telah beriman kepada selain Allah.

Jin adalah makhluk ghaib, maka tidak ada informasi yang benar tentang jin kecuali dari Allah. Sumber kebenaran yang kita imani dari Allah adalah Al-Qur’an. Segala informasi tentang gaib dari Al-Qur’an adalah benar. Jika kita membenarkan informasi yang gaib dari Al-Qur’an, kita dapat pahala kebaikan karena beriman kepada yang benar. Jika salah memahami yang ghaib dari Al-Qur’an tetap memiliki pahala karena kita telah mempelajari Al-Qur’an.

Sekalipun ada Al-Qur’an, banyak manusia disesatkan oleh jin karena menerima informasi gaib dari selain Allah. Agar manusia tidak tertipu oleh jin, maka harus tahu sosiologi (prilaku) jin. Manusia diciptakan oleh Tuhan lebih unggul dari jin. Berikut akan penulis informasikan tentang prilaku jin dari sumber Al-Qur’an.

JIN MENGETAHUI DENGAN MENDENGARKAN

“Katakanlah: "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan, lalu mereka berkata: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan”. (Al Jin, 72:1).

Jin tahu Al-Qur’an hanya berdasarkan pendengaran. Untuk mengetahui, jin hanya mengandalkan pendengaran. Jin selalu mencari informasi dengan mendengarkan. Apa yang mereka dengar itulah yang akan mereka katakan kembali.

JIN HANYA MELIHAT DAN TIDAK BISA BERPIKIR

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Al A’raaf, 7:179).


Jin sekalipun tahun tentang kebenaran dari Al-Qur’an, mereka tidak bisa memahaminya. Mereka tidak diberi kemampuan berpikir, dan hanya mengandalkan pengetahuan yang didengar. Perbendaharaan pengetahuan yang dimiliki jin terbatas pada apa yang didengar. Kualitas pengetahuan mereka sangat tergantung pada kualitas pengetahuan yang didengar

JIN TIDAK MENGETAHUI YANG GAIB

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba, 34:14).

Manusia harus tahu, sekalipun jin makhluk gaib, tetapi jin sendiri tidak mengetahui yang gaib. Manusia selalu terjebak, karena jin adalah makhluk gaib maka manusia berprasangka bahwa jin mengetahui hal-hal gaib padahal tidak. Kelebihan jin adalah dia bisa masuk ke dalam alam pikiran manusia. Jin mengganggu kepada manusia dengan membisikkan pengetahuan-pengetahuan buruk untuk membangkitkan berbagai niat atau nafsu yang buruk menjadi aktif. Hal inilah yang akan membuat manusia sakit, kerasukan, dan cenderung dikendalikan jin.

Itulah sekelumit tentang sosiologi jin dari Al-Qur’an. Pengetahuan ini tentu belum cukup, kita harus lebih banyak menambah perbendaharaan pengetahuan Al-Qur’an ke dalam otak kita, agar manusia selalu berada dekat dengan Allah, sehingga kesadarannya selalu terjaga dan tidak mudah dikendalikan setan. Wallahu’alam.

Sunday, January 19, 2020

KEUNGGULAN MANUSIA DARI JIN


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sudah menjadi ketetapan Tuhan, bahwa manusia lebih unggul dari Iblis. Tuhan memerintahkan kepada Iblis dan malaikat untuk tunduk kepada Adam (manusia). Apakah yang jadi sebab keunggulan manusia dari Malikat dan Iblis?

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (Al A’raaf, 7:12).

Sifat Iblis adalah makhluk yang tidak bisa mengakui kelebihan manusia. Iblis terjebak oleh materi. Dia hanya bisa melihat ciptaan Tuhan dari apa yang dilihat secara material dan apa yang dia dengar. Iblis mengganggap kebaikan dari sudut pandang material bahwa api lebih baik dari tanah. Inilah kelemahan Iblis, tidak bisa memahami kebaikan dibalik materi karena hanya mengandalkan pada apa yang dilihat dan didengar.

Manusia adalah makhluk yang bukan hanya bisa melihat dan mendengar. Manusia diberi kemampuan oleh Allah untuk berpikir, sehingga bisa memahami kejadian bukan hanya berdasar pada apa yang dilihat dan didengar. Bukti bahwa kelebihan manusia sebagai makhluk berpikir adalah ketika Tuhan memerintahkan menyebutkan nama-nama (konsep-konsep) kepada Adam.

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Al Baqarah, 2:33)



Adam adalah makhluk berpikir, maka dengan kemampuan berpikirnya Adam bisa menciptakan nama-nama benda yang terlihat maupun yang tersembunyi. Melalui kemampuan berpikirnya, kecerdasan manusia menjadi tidak tertandingi oleh malaikat dan Iblis. Untuk itu Allah memerintahkan Malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam. Kecerdasan manusia yang tidak tertandingi oleh golongan Jin, dikabarkan oleh Allah dalam kisah Nabi Sulaiman. Inilah cerita penuh misteri dari kejadian di Kerajaan Sulaeman.

Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (An Naml, 27:38)

Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". (An Naml, 27:39)

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (An Naml, 27:40)

Itulah bukti bahwa manusia lebih unggul dari Malaikat dan Jin. Kelebihan Jin dia bisa melihat dan mendengar, tetapi tidak bisa memproses pengetahuan untuk melahirkan nama-nama baru. Namun manusia selain bisa mengetahui dengan melihat dan mendengar, lalu dengan pikirannya dia bisa mengetahui apa yang terjadi di masa lalu sekalipun tidak terlihat terjadi di jutaan tahun lalu, mampu memahami apa yang terjadi dibalik kejadian sekarang, dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang.  

Sehebat-hebatnya ilmu jin, apa yang dia ketahui hanya terbatas pada apa yang diihat dan didengar. Untuk menghindari tipu daya jin, manusia harus mengaktifkan keunggulannya yaitu meningkatkan kemampuan otak dalam berpikir memahami logika dari ayat-ayat Tuhan. Saya menyaksikan bahwa Jin tidak mampu berpikir memahami dan menjelaskan ayat-ayat Allah. Apa yang mereka tahu bersumber dari melihat dan mendengar.  Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Thursday, January 2, 2020

ORANG SOMBONG ITU SIAPA?


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kita sering mengajarkan kepada anak-anak jangan sombong. Namun kadang-kadang lupa apa kriteria orang sombong. Orang sombong lebih sering digambarkan sebagai orang yang suka membangga-banggakan kelebihan yang dimilikinya. Kemudian orang sombong selalu dialamatkan kepada orang-orang yang berkedudukan tinggi, punya kekayaan dan berilmu. Dengan demikian orang-orang miskin tidak berpotensi sombong.

Padahal jika kita kaji dari konsep Al-Qur’an, setiap manusia dari kelas kaya, miskin, berilmu, bodoh, tidak berkedudukan dan berkedudukan, mereka sama-sama memiliki potensi sombong. Di dalam Al-Qur’an, melalui pendekatan hubungan konsep kita dapat menemukan beberapa ciri dari orang-orang sombong.

ORANG SOMBONG ITU PENDUSTA-PENDUSTA NIKMAT ALLAH
(MUHAMMAD PLATO)
Tulisan ini bertujuan untuk mengajarkan kepada semua orang untuk memahami dengan baik apa kriteria kesombongan, sehingga setiap orang bisa mengidentifikasi dirinya sendiri, berdasarkan standar konsep yang ada dalam Al-Qur’an. Perhatikan konsep konsep yang di cetak tebal. Konsep konsep tersebut adalah konsep pembentuk pengertian atau definisi sombong. Hal ini penulis lakukan sebagaimana teori membangun definisi yang dikembangkan oleh para pemikir muslim atau pun non muslim yang meyakini bahwa hidup itu merupakan satu kesatuan bukan terpisah-pisah. Tokoh-tokohnya antara lain, Ibn Sina, Ibn Arabi, Hegel, Imanuel Kant, Fritjop Capra, Sorokin, Kuntowijoyo, Haidar Bagir, dan Fahmi Basya. Konsep pemikiran ini sesuai dengan keterangan di dalam Al-Qur’an. Di bawah ini adalah beberapa kriteria kesombongan yang penulis temukan dari dalam Al-Qur’an.

PERTAMA

"Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. (Al Baqarah, 2:206). Ciri dari orang sombong adalah mereka yang bebuat dosa.

KEDUA

“Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (An Nisaa, 4:36). Ciri orang sombong adalah mereka yang punya kelebihan dalam hidup, tetapi tidak mau berbuat baik kepada ibu bapak, kerabat, anak yatim, orang miskin, tentangga, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya.

KETIGA

"Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu". (Al A’raaf, 7:48). Ciri orang sombong adalah mengumpul-ngumpulkan harta.

KEEMPAT
“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (An Nahl, 16:22). Ciri orang-orang sombong adalah mereka yang hatinya tidak meyakini adanya akhirat.

KELIMA
Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (An Nahl, 16:23) Ciri orang-orang sombong adalah mereka yang merasa segala sesuatu yang diketahuinya adalah miliknya.  

KEENAM
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." (Al Israa, 17:4). Ciri orang-orang yang berprilaku sombong adalah yang berbuat kerusakan di muka bumi.

KETUJUH
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Al Israa, 17:83). Ciri orang-orang sombong adalah mereka ketika senang membelakangi, ketika susah putus asa.

KEDELAPAN
“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri". (An Naml, 27:31). Ciri orang-orang sombong adalah mereka yang egois.

KESEMBILAN
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. (Fathir, 35:43). Ciri orang sombong adalah mereka yang berencana jahat.

KESEPULUH
Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shaad, 38:2). Ciri orang-orang sombong adalah mereka yang kafir dan yang selalu menimbulkan permusuhan.

KESEBELAS
“Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong". (Al Qamar, 54:25). Ciri orang sombong adalah pendusta.

KEDUABELAS
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al Hadiid, 57:23). Ciri orang sombong adalah mereka yang berduka cita terhadap apa yang luput, dan terlalu gembira atas apa yang didapat.

KETIGABELAS
Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? (Al Mulk, 67:21). Orang sombong adalah mereka yang merasa memberi rezeki, dan menahan rezeki orang.

Kesimpulan dari seluruh kriteria orang-orang sombong, mereka adalah yang tidak taat kepada apa-apa yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah swt. Mereka memalingkan diri, berdusta, dan merasa berkuasa, dengan tidak mengindahkan atas apa-apa yang sudah Allah tetapkan. Dengan demikian sifat sombong berpotensi terjadi pada semua lapisan masyarakat. Orang kaya, miskin, berilmu, tidak berilmu, berkedudukan atau tidak, semua berpotensi menjadi orang-orang sombong jika tidak taat pada aturan yang telah ditetapkan Allah. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Monday, December 30, 2019

CARA MELIHAT DENGAN HATI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj, 22:46). Penglihatan bukan hanya pekerjaan mata. Ada tiga perangkat yang harus selalu kita gunakan untuk melihat, diantaranya hati, akal, dan penglihatan (indera).

Pertama, perangkat yang paling menentukan adalah hati.  Fungsi hati di dalam Al-Qur’an dijelaskan sebagai perangkat yang memiliki tugas memberi sudut pandang kepada objek apakah objek dibenci atau cinta. Jadi fungsi hati itu hanya dua saja yaitu benci dan cinta. Setiap objek oleh hati akan dimaknai sebagai sesuatu yang dibenci atau dicinta. Jadi hati menjadi awal sebab dari sudut pandang seseorang dalam mengapresiasi sebuah benda atau kejadian.

Apa yang kita ucapkan dan lakukan semuanya bersumber dari hati. Jika hati mencintainya maka kita akan melakukannya, jika hati membenci maka kita tidak akan melakukannya. Demikianlah cara kerja sederhana hati dalam melihat kenyataan. Apakah hati bisa diandalkan? Bisa, tetapi hati tidak bisa bekerja sendirian. Hati butuh bantuan perangkat kedua yaitu akal.

"Hati memberi pengaruh pada persepsi, jika hati mu dengki maka bukan matamu yang buta" (Muhammad Plato)
Akal fungsinya berpikir. Kegiatan berpikir adalah mengolah pengetahuan salah satunya hasil dari penglihatan (pengideraan). Mengolah pengetahuan adalah berlogika. Arti sederhana dari berlogika adalah menghubung-hubungkan objek dengan pola sebab akibat.

Jadi posisi akal yang tugasnya berpikir atau mengolah pengetahuan, fungsinya adalah memberi tahu kepada hati. Akal itu pembisik hati. Ada kalanya sesuatu yang buruk belum tentu buruk, dan sesuatu yang baik belum tentu baik. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Albaqarah, 2;216).

Jadi jika hati difungsikan sendirian tanpa kolaborasi dengan akal, penglihatan, dan petunjuk dari Al-Qur’an, manusia bisa tersesat. Manusia diberi potensi baik, ada sisi-sisi yang tidak diketahui hati, akal, dan penglihatan, karena Yang Maha Mengetahui hanya Allah. Maka dari itu, Allah menurunkan wahyu kepada para rasul sebagai pedoman hidup.

Perangkat ketiga yaitu mata dalam arti luas indera, fungsinya hanya mengidentifikasi data sesuai dengan persepsi yang dibangun hati dan pikiran. Jika persepsinya hati benci, maka pikiran menginstruksikan mencari data negatif dan mata memenuhi tugasnya akan melihat-lihat sisi negatif yang harus dilihatnya. Jika hati cinta, maka pikiran akan kreatif memerintahkan mata mencari sisi-sisi positif.

Maka, jika mata cenderung melihat keburukan saja dari setiap kejadian bukan mata yang buta, tetapi hatinya yang buta plus pikiran. Hati yang buta yaitu hati yang sudah dihinggapi penyakit benci, iri, dengki, munafik, dan dusta. Bukankah kita pernah merasakan, jika kebencian sudah ada dalam hati maka pikiran dan mata kita akan sulit mendapat data kebaikan. Maka Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga hati tetap cinta kebaikan, dengan mengenali bahwa tidak semua kebaikan ada pada yang kita sukai, tetapi kebaikan ada dalam hal yang kita benci, jika hati kita tidak buta.

Untuk menjaga hati tidak buta manusia butuh petunjuk dari Tuhan. Allah menciptakan malaikat yang cinta kebaikan dan setan yang mencintai keburukan. Al-Qur’an memberi petunjuk Allah tidak semata-mata menciptakan jin dan manusia untuk mengenali kebaikan (ibadah). Maka Allah mengingatkan carilah kebaikan dibalik kebaikan, dan carilah kebaikan dibalik keburukan, karena Allah menciptakan seluruh makhluk dengan kebaikan. Wallahu’alam.

(Penulis Mater Trainer Logika Tuhan)

Thursday, December 26, 2019

MENCARI DALIL SELAMAT NATAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sebenarnya tidak perlu jadi masalah mau ngasih selamat atau tidak, mereka yang merayakan mendapat kebahagian sesuai dengan keyakinannya. Namun perbedaan pendapat antar ulama perihal memberi selamat natal kepada umat Kristen perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Artinya tidak perlu ada hujatan, hinaan, dan sangkaan buruk kepada mereka yang membolehkan atau tidak dalam mengucap selamat natal kepada umat Kristen.

Pesan saya adalah jangan menyikapi sesuatu yang tidak kalian sukai dengan sikap buruk, karena boleh jadi kalianlah yang berpilaku buruk karena terlihat jelas dari sikapnya yang buruk. Mari belajar dewasa dalam beragama dengan menjadikan kitab suci dan sunah yang kita imani sebagai tuntunan dalam menyikapi setiap kejadian.

Keburukan itu datang dari diri sendiri. Jangan-jangan kita telah gagal menjadi umat beragama karena gagal menyikapi kejadian yang tidak kita sukai dengan sikap yang buruk. Dunia ini hakikatnya adalah ilusi (fana). Untuk itu kita tidak akan menemukan kebenaran yang sepenuhnya benar, karena pasti ada ruang-ruang yang tidak kita ketahui. Kebenaran mutlak milik Allah, dan kita tidak bisa mengklaim diri kita seperti Allah pemilik kebenaran.

Perbedaan pendapat adalah takdir Allah yang tidak mungkin bisa diubah, sebagai bentuk dari keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran. Saling klaim kebenaran adalah sifat setan, sebagaimana Iblis mengaku merasa lebih mulia dihadapan Adam. Sifat merasa mulia ini telah mentakdirkan Iblis memiliki sifat-sifat setan seumur hidupnya.

Mereka yang melarang mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen, dilandasi oleh niat menjaga kemurnian akidah Islam. Seperti kita ketahui kelahiran Nabi Isa yang dirayakan oleh umat kristen tidak berlandaskan pada kitab suci, tetapi ditetapkan sebagai tradisi turun temurun umat Kristen. Umat Islam yang tidak mau mengucapkan selamat natal dilandasi oleh pengetahuan dan keimanan bahwa Nabi Isa yang diyakini umat Kristen, juga diyakini sebagai nabi umat Islam sebelum Nabi Muhammad saw. Berdasarkan informasi Al-Qur’an, Nabi Isa tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Untuk itu mengucapkan selamat natal sama dengan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Mengucapkan selamat natal sama dengan mengikuti agama mereka.  
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al Baqarah, 2:120).

Bagi mereka yang membolehkan mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen, dari sudut pandang penulis mereka tidak berniat mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Niat mereka adalah menjalankan perintah Allah dalam Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam yaitu menjaga hubungan baik sesama manusia, menciptakan kedamaian, saling menghormati, dan saling memberi ruang hidup sesuai dengan keyakinan masing-masing. Membumikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam adalah kewajiban setiap muslim.

JADILAH PRIBADI AGUNG, JANGAN MENILAI ORANG DARI PERBUATANNYA SAJA KARENA ALLAH YANG TAHU NIAT-NIATNYA (MUHAMMAD PLATO).
Mereka yang mengucapkan selamat natal kepada umat Kristen, bukan tidak tahu tentang kebenaran kelahiran Nabi Isa, namun karena umat Kristen sudah menjadikan tanggal 25 Desember sebagai tradisi turun-temurun diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Isa, maka selayaknya dipandang perayaan ini dipandang sebagai tradisi nenek moyang. Peringatan hari natal pada tanggal 25 Desember tidak berkaitan dengan akidah. Hal ini sebagaimana kita ketahui masih adanya tradisi-tradisi nenek moyang yang dilakukan pula oleh umat Islam di Indonesia. Dikarenakan sebagai tradisi maka menngucapkan selamat natal tidak berkaitan dengan akidah tetapi sebagai rasa hormat terhadap tradisi sekelompok masyarakat yang merayakannya dengan tujuan terciptanya hubungan sesama manusia yang rukun dan damai sebagaimana Islam sangat menganjurkan untuk hidup damai.

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfaal, 8:61).

Lalu bagaimana menyikapi perbedaan pendapat ini? Sebagaimana bunyi hadis Nabi Muhammad saw yang sangat terkenal di kalangan umat Islam, “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. (HR. Bukhari).

Jangan meleceh perbuatan orang karena kita tidak tahu isi niat dihati dan pikirannya. Kita hargai niat-niat baik setiap muslim dan jangan menilai prilaku dari perbuatannya saja. “niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya”. (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii').

Bukan urusan kita apakah mereka beriman  atau kafir. Tugas kita hanya menyampaikan kebenaran tanpa paksaan. Hindari prasangka buruk, apa lagi kepada sesama muslim karena itulah seburuk-buruknya prilaku. Setiap orang akan diadili oleh Allah sesuai dengan niatnya sebagaimana bunyi hadis, “Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka”. (HR.-Muslim). 

Marilah kita sikapi perbedaan dengan pribadi agung, dengan tidak menjadikan diri kita, kelompok kita, sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, karena kebenaran mutlak milik Allah. Islam adalah agama yang menyempurnakan sebaik-baiknya akhlak manusia, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw.

Demikian penjelasan saya sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Penulis berpesan dalam tulisan ini, imanilah dalilnya bukan pendapatnya. Silahkan memilih mana yang lebih diyakini dan semoga Allah mengampuni kita semua. Semoga kita semua hidup rukun dan damai, hingga tercatat sebagai pribadi-pribadi muslim yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan).

Wednesday, December 25, 2019

DIALEKTIKA SEJARAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Hegel mengatakan untuk memahami realitas bisa digambarkan dengan ilustrasi dialektika yang terdiri dari tesis, antitesis, dan sintesis. Keberadaan seorang paman adalah tesis, dan keberadaan kemenakan menyiratkan antitesis. Tidak akan ada seorang paman tanpa keberadaan kemenakan. Namun demikian tidak ada kepuasan jawaban, apakah keberadaan kemenakan yang menyebakan keberadaan paman, atau sebaliknya. Atas dasar itu Hegel bergerak untuk memahami reallitas yang tidak mungkin memisahkan keberadaan paman, kemenakan, ayah, ibu, suami, istri dan seterusnya sampai kita temukan Idea Yang Mutlak (Absolute Idea). Hegel berkesimpulan bahwa tidak ada yang nyata-nyata benar kecuali mengenai Realitas sebagai keseluruhan (the whole). (Russell, 2016, hlm.954).

Dalam hal ini, Hegel bukan rujukan saya dalam berpikir, tetapi saya ingin menyampaikan bahwa Hegel orang yang membuktikan pola pikir yang ada dalam Al-Qur’an. Rujukan berpikir saya adalah Al-Qur’an. Pemikiran Hegel bagi saya adalah bukti kebenaran Al-Qur’an, bahwa manusia bisa menemukan kebenaran dengan berpikir. Hanya dusta yang jadi sebab manusia tidak bisa mengakui kebenaran. Hegel memberi kesimpulan bahwa “tidak ada yang bisa cukup benar untuk dikatakan mengenai benda-benda pisahan, dan pada faktanya hanya Keseluruhan yang nyata”. (Russell, 2016, hlm. 955).

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa alam semesta diciptakan dalam keterpaduan yang kemudian dipisahkan. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu (The Whole), kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. 21:30).

Hegel mengawali argumen logikanya dengan asumsi bahwa Yang Mutlak adalah Yang Berada Murni (Pure Being), untuk menunjukkan kualitas-Nya, Dia menciptakan nothing, (Yang Mutlak Yang Tidak Berada). Kita bergerak dari tesis, antitesis, ke sintesisnya; penyatuan antara Yang Berada dan Yang Tidak Berada adalah Yang-Menjadi (Becoming), dan dengan demikian kita mengatakan Yang Mutlak adalah Yang Menjadi. Oleh karena itu, mustahil tercapai kebenaran, kecuali melalui seluruh tahap dialektika. Dengan demikian kesadaran diri merupakan bentuk pengetahuan tertinggi. Tidak ada yang sepenuhnya salah, dan tidak ada yang bisa kita ketahui sepenuhnya benar. Bagi filsafat, “kebenaran adalah keseluruhan” dan tidak ada bagian yang sepenuhnya benar. (Russell, 2016, hlm. 955-956).

Banyak diberitakan di dalam Al-Qur’an bahwa seluruh makhluk yang diciptakan Tuhan akan kembali kepada Tuhan.  Kesimpulannya, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah benda, dia membutuhkan hubungan untuk dipahami, kecuali yang mencipta yaitu Tuhan. Pandangan sekular adalah pemikiran yang belum selesai dipahami, karena tidak sampai pada pemahaman kembali kepada Ide Yang Mutlak.

Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (QS. 36:83).

Tuhan Yang Esa (tesis) pertama kali menciptakan akal, kemudian diciptakan manusia dan manusia berbadan besar yaitu alam semesta sebagai repsentasi dari akal (antitesis), dan semua akan kembali kepada Tuhannya (sintesis). Bagi Hegel sistesis adalah Idea Yang Mutlak, bagi saya sisntesis adalah kembali kepada Tuhan Yang Esa. Ide Hegel seperti konsep wahdatul al wujud karya Ibn Arabi.

Dasar pemikiran tauhid alwujud bersumber pada sebuah hadis, “sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya (HR. Muslim). Manusia yang dalam rupa Tuhan tidak bisa bertindak kecuali searah dengan tindakan Tuhan.  Memahami manusia sebagai rupa Tuhan, dapat dipahami dengan memahami manusia sebagai bayangan Tuhan.

“tidakkah engkau melihat Tuhanmu, bagaimana ia menggerakkan bayangan dan andai ia berkehendak niscaya ia menjadikan bayangan itu tidak bergerak. (Al-Furqan, 25:45).

Manusia adalah bayangan Tuhan, satu kesatuan wujud tetapi memiliki perbedaan. Inilah dasar paradigma logika Hegel yang menganggap bahwa realitas adalah keseluruhan (the whole). Spekulasi saya, Hegel bisa jadi membaca karya-karya ilmuwan muslim terdahulu, selanjutnya mengembangkan pemikirannya sesuai dengan kondisi zaman dimana dia hidup saat itu.

Berdasarkan pengetahuan di atas, saya menemukan dialektika sejarah kehidupan manusia berdasarkan petunjuk Al-Qur’an. Berawal dari Tuhan Yang Esa yang maha wujud (tesis), menciptakan segala sesuatu ciptaannya yang tidak berwujud (antitesis), dan kembali kepada pemilik keseluruhan wujud yaitu Tuhan Yang Esa. Dialektika sejarah diawali Dari Yang Ada (tesis), menciptakan yang tiada, dunia fana beserta isinya (antitesis), dan semua kembali Pada Yang Ada (sintesis).

Dr. Leli Yulifar mengatakan bahwa hidup manusia ditentukan oleh sejarah. Beliau mengutif dari Al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz). (QS. 36:12).

Apa yang Dr. Leli Yulifar kemukakan sebetulnya telah membuka peluang untuk menjadikan kitab suci sebagai bahan rujukan dalam pengembangan paradigma berpikir para sarjana Pendidikan Sejarah. Sejarah memang menentukan nasib seseorang bahkan sebuah bangsa, sebagai mana dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, …Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian". (QS. 74:38, 42-47).

Informasi ini menjadi dasar pola berpikir seorang sarjana pendidikan sejarah. Apakah sebenarnya tujuan pelajaran sejarah diajarkan kepada anak-anak di sekolah? Apakah untuk mengenalkan fakta-fakta sejarah atau makna dibalik fakta sejarah? Sementara, Taufik Abdullah sebagai ahli sejarah mengatakan, cerita kejadian sejarah yang sesungguhnya adalah cerita kejadian sejarah yang tidak terungkap. Ini artinya fakta-fakta sejarah tidak menjadi dasar kebenaran tetapi sebagai dasar untuk pembenaran, dan pemilik kebenaran mutlak adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Masa lalu adalah ghaib, masa sekarang ilusi dan masa depan adalah nyata. (Muhammad Plato)
Jika Tuhan mengabarkan bahwa segala tindakan prilaku manusia direkam jejaknya, dan kemudian diadili hingga setelah datang kematian, maka sejarah berfungsi menginformasikan kebenaran ini kepada manusia. Sejarah mengajarkan dialektika sejarah kehidupan manusia yaitu dari masa lalu (tesis), masa sekarang (antitesis), dan masa mendatang (sintesis). Masa lalu adalah kisah-kisah manusia di zaman dahulu, dan masa sekarang adalah kisah kehidupan yang dialami manusia saat ini semasa dia hidup, dan masa mendatang adalah kehidupan setelah kematian.

Konsep pemikiran diatas, memiliki kesamaan dengan konstruksi logika Hegel bahwa kehidupan diawali dari Pure Being (tesis), Nothing (antitesis), dan Becoming (sintesis). Absolute idea yang dikatakan Hegel bagi saya adalah pengetahuan tentang kehidupan manusia setelah kematian. Dunia yang benar-benar nyata tempat kehidupan manusia adalah dunia setelah kematian yaitu dunia yang dipahami sebagai the whole (keseluruhan) yang harus menjadi paradigma berpikir manusia sebelum menemui kematian.

Masa lalu diajarkan kepada manusia untuk membuktikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang di dunia setelah kematian, kemudian menjadikannya pedoman hidup di masa masa sekarang. Pembuktikan itu berkaitan dengan dialektika sejarah yang membuktikan bahwa manusia akan mendapati kualitas hidupnya berdasarkan apa yang telah dikerjakannya di masa lalu. Gerak sejarah berawal dari masa lalu yang ghaib, dialami pada masa sekarang sebagai ilusi, dan menuju masa mendatang yang nyata. Masa lalu ghaib karena manusia tidak bisa mengulang kejadian masa lalu, masa sekarang ilusi karena manusia tidak bisa menemukan kebenaran mutlak, dan masa mendatang nyata karena manusia akan mengalaminya.

Dialektika sejarah mengikuti pada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan atau Absolute Idea sebagaimana dikemukakan oleh Hegel. Ketetapan Tuhan tersebut adalah sebagaimana dikisahkan Tuhan yang tertuang dalam kitab suci yaitu kebaikan akan mengakibatkan kebaikan dan keburukan akan mengakibatkan keburukan. Keberadaan Absolute Idea tidak terikat waktu. Sepakat dengan Hegel, “waktu adalah sekedar ilusi yang muncul karena ketidakmampuan manusia untuk melihat Keseluruhan”. (Russell, 2016, hlm. 957).

Kebenaran sejarah bagi para Sarjana Pendidikan terletak pada penemuan Absolute Idea sebagai kebenaran sejarah yang harus dijadikan pedoman hidup manusia. Dari sejarah manusia harus belajar kebijaksanaan dan menciptakan hidup damai, sejahtera, dibawah bimbingan Tuhan. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer Logika Tuhan)

Saturday, December 21, 2019

MANUSIA PELAMPAU BATAS

Oleh: Muhammad Plato

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,” (Al Alaq, 96:6). Jika Allah sudah mengatakan kata “sesungguhnya” kata ini menegaskan bahwa itulah fakta atau realitas manusia sebenarnya dan tidak ada manusia yang bisa lepas dari ketentuan ini. Maka manusia adalah makhluk yang punya sifat atau punya potensi melampaui batas terhadap apa yang telah ditetapkan Allah.

Dalam hal apa saja manusia selalu berpotensi melampaui batas. Di dalam Al-Qur’an sedikitnya ada empat konsep yang menjelaskan tentang manusia pelampau batas. Empat konsep tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

·  Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas (mu’tadin), karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al Baqarah, 2:190).

MANUSIA PELAMPAU BATAS ITU MENDUSTAKAN ATURAN YANG TELAH DITETAPKAN TUHAN. (MUHAMMAD PLATO)
Berdasarkan keterangan ayat di atas, manusia melampaui batas dijelaskan dengan konsep “mu’tadin”. Manusia mu’tadin adalah mereka yang mendustakan aturan-aturan yang telah di tetapkan Allah. Prilaku mereka bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan Allah. Sebagai contoh, membalas keburukan dengan keburukan yang lebih buruk, padahal Allah menetapkan membalas keburukan setimpal. Dilarang mendekati zina, mereka mendekati dan melakukan zina. Dilarang berjudi, mereka melakukan judi, dilarang mabuk, mereka mabuk-mabukkan. Dilarang memakan daging babi, mereka makan daging babi. Dilarang menghina, mereka melakukan penghinaan dsb.

·     Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas". (Yasin, 36:19).
                                  
Selanjutnya berdasarkan ayat di atas, manusia melampaui batas dijelaskan dalam konsep “musripun”. Manusia musripun jika kita analisis dari ayat-ayat sebelumnya, mereka adalah yang cenderung mengada-ngadakan dalam hal aturan atau syariat. Mereka menolak ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh para utusan Allah. Mereka menolak ajaran Rasul dan membuat ajaran-ajaran sendiri yang menurutnya benar. Mereka mengatakan bahwa ajaran-ajaran yang di bawa Rasulullah adalah sihir, ajaran orang mabuk, ajaran orang gila dan ajaran pembawa sial. Di zaman sekarang mereka mengatakan bahwa ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah adalah ajaran klenik, tidak rasional, tidak bisa dijangkau akal, ajaran radikal, dan harus dipisahkan dari ajaran kehidupan dunia. Kaum musripun, mereka juga mengada-ngadakan syariat dan mengkultuskan seolah-olah syariat itu datang dari Allah, padahal syariat yang jelas datang dari Allah tidak lain hanya datang dari rujukan Al-Qur’an dan Sunnah. Segala tafsiran adalah prasangka yang bisa kemungkinan benar atau salah, sehingga tidak bisa dimutlakkan sebagai kebenaran dari Tuhan.


·      Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas". (Thaahaa, 20:24).

Berdasarkan ayat di atas, manusia melampaui batas berikutnya dijelaskan dalam konsep “togo”. Manusia togo adalah mereka yang menggunakan nafsunya, egonya, kekuasaannya, cenderung pada kehidupan dunia. Manusia-mausia ini adalah mereka yang menuhankan dirinya sebagaimana Fir’aun. Dengan egonya, kekuasannya mereka berlaku tidak adil, dalam setiap keputusan hidupnya sebagai individu maupun sebagai penguasa, mereka hanya mempertimbangkan keuntungan dunia, dan kelanggengan kekuasaannya. Keputusan-keputusannya selalu merugikan, menindas, dan membinasakan makhluk lain yang berpotensi mengurangi kesenangan hidupnya di dunia.

·    Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, (Al Jin, :72:4).

Berdasarkan ayat atas, manusia melampaui batas dijelaskan dalam konsep “satoto”. Manusia satoto adalah mereka yang menjadikan jin sebagai sesembahannya. Manusia ini digolongkan sebagai manusia kurang akal, karena menuhankan yang ghaib selain Tuhan Yang Esa. Mereka meminta pertolongan atau petunjuk kepada jin dan mengada-ngadakan tentang Allah di luar apa yang telah Allah kabarkan di dalam kitab suci Al-Qur’an. Hidupnya menjadi bertentangan dengan kehendak Allah, sehingga hidupnya penuh dengan dosa dan kesalahan.

Petunjuk Allah Yang Maha Rahman kepada manusia adalah mengajarkan Al-Qur’an untuk menjaga keseimbangan. “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. (Ar Rahman, 55:1-4).

Allah yang menciptakan manusia, maka Allah yang mengetahui bagaimana manusia harus hidup. Allah mengajarkannya kepada manusia dengan mengutus Rasul dan menurunkan Al-Qur’an.

Perintah Allah di dalam Al-Qur’an adalah janganlah melampaui batas. “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (Ar Rahman, 55: 7-9).

Tugas manusia yang sudah diberi akal dan amanah sebagai khalifah adalah menjaga neraca keseimbangan, agar tidak cenderung pada keburukan. Semoga Allah membimbing kita semua. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)


Saturday, December 14, 2019

SETIAP TAFSIR PUNYA POTENSI SALAH


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setiap tafsir manusia tentang isi kandungan Al-Qur’an punya potensi salah tafsir, karena setiap penafsir yaitu manusia ditetapkan Tuhan punya potensi salah. Maka tidak boleh meyakini kebenaran tafsir melebihi kebenaran pemilik-Nya. Tidak boleh memutlakkan seorang penafsir sebagai satu-satunya rujukkan tafsir, karena pikiran Allah tidak mungkin dipahami oleh satu, dua, atau sekelompok orang penfasir.

Allah memberikan peluang kepada setiap umatnya untuk mendapatkan pelajaran dari Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan yang telah diberikan kepada manusia. Kemampuan dasar manusia untuk mendapat pelajaran dari Al-Qur’an, Allah telah memberikan akal dan hati kepada setiap manusia.

(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran, 3:138).

Setiap orang bisa langsung berhubungan dengan Al-Qur’an atau melalui penjelasan dari orang-orang ahli tafsir. Sifat gotong royong, musyarawarah, adalah perintah Allah dalam segala hal termasuk dalam mempeajari, memahami, dan menafsir Al-Qur’an.

Syarat bagi orang-orang yang mau mempelajari Al-Qur’an adalah takwa. Konsep takwa di sini adalah orang-orang yang berharap kebaikan dari Allah. Siapapun orangnya, yang datang untuk mempelajari Al-Qur’an dia akan mendapat kebaikan. Maka itulah sebabnya setiap orang muslim maupun non muslim yang bersentuhan mempelajari Al-Qur’an selalu mendapat kebaikan, dan non muslim lambat laun memeluk Islam.

Setiap manusia tidak boleh memutlakkan kebenaran tafsirnya terhadap Al-Qur’an. Bukan karena Al-Qur’an kebenarannya tidak mutlak, tetapi penafsiran manusianya yang tidak mutlak, karena manusia menduduki sebagai makhluk tempatnya salah dan benar. Siapapun manusianya yang mempelajari dan memahami Al-Qur’an, dia harus memposisikan diri bukan sebagai pemilik kebenaran, dan harus selalu mengingatkan orang-orang untuk memutlakkan Allah sebagai pemilik kebenaran.

Barang siapa memosisikan dirinya, kelompoknya, sebagai satu-satunya yang paling berhak manafsirkan Al-Qur’an, dia telah menghadirkan tuhan selain Allah. Barang siapa mengkultuskan seseorang, kelompok, sebagai satu satunya ahli tafsir Al-Qur’an, dia telah menduakan Tuhan. Maka kondisi yang menghadirkan tuhan-tuhan selain Allah, adalah kondisi yang akan melahirkan perpecahan dan kehancuran umat manusia.

"semua harus sujud kepada satu Tuhan sebagai pemilik kebenaran"
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Al Anbiyaa, 21:22).

Kelemahan umat Islam adalah ketika umatnya merasa imferior, merendahkan dirinya dihadapan manusia lain sebagai alasan tidak mau mempelajari, memahami, dan menelaah isi Al-Qur’an. Kolektif memori ini telah menjadi sebab bertebarannya mitos-mitos dalam mengamalkan ajaran agama, lahirnya tuhan-tuhan selain Allah dan menjadi sebab rendahnya kualitas pendidikan. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)