Tuesday, October 29, 2013

MAU TAHU PEMBENTUK PRIBADI PENYEJAHTERA?



Kata Hertati, dkk. (2012) Kepribadian seseorang secara umum dipengaruhi oleh tiga unsur. Pertama adalah pengetahuan. Untuk itu saya berani ambil kesimpulan umum, semakin sedikit pengetahuan semakin buruk kepribadian seseorang. Tidak percaya? Silahkan saja buktikan. Secara umum orang-orang yang punya kebiasaan membaca (banyak pengetahuan), akan memancarkan pribadi-pribadi anggun.

Ini adalah contoh pribadi-pribadi anggun penyejahtera yang dibentuk oleh pengetahuan. Orang-orang yang tahunya hanya 1-1=0, pengetahuan ini akan membentuk pribadi-pribadi kikir. Sebaliknya orang-orang yang tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, pengetahuan ini akan membentuk pribadi-pribadi penyejahtera (dermawan).

Unsur kedua pembentuk kepribadian adalah perasaan. Perasaan dibentuk oleh pengetahuan yang dinilai secara subjektif. Setiap pengetahuan akan dinilai, dan dari hasil penilaian akan muncul baik dan buruk. Penilaian baik akan menghasilkan perasaan senang, dan penilaian buruk akan menghasilkan ketidaksenangan.

Bagi yang pengetahuannya 1-1=0, memberi, membantu, menyejahterakan orang dinilai suatu hal buruk, karena akan mengurangi sesuatu yang sudah dimiliki. Sebaliknya bagi yang mengetahui dari Tuhan 1-1=700, memberi, membantu, menyejahterakan, orang lain dinilai suatu hal yang baik, karena akan menambah sesuatu yang telah dimilikinya. Mereka yang banyak tahu dari Tuhan dan membutkikan bahwa 1-1=700, akan merasa senang jika sudah menyejahterakan orang lain.

Unsur ketiga pembentuk kepribadian adalah naluri. Setiap manusia dilahirkan dengan berbagai macam naluri. Para ahli psikologi menjelaskan naluri adalah dorongan (drive) untuk melakukan sesuatu yang secara umum telah dimiliki manusia. Naluri ini terkandung dalam gen (aliran darah/keturunan).

Salah satu naluri yang terkandung dalam gen manusia adalah naluri untuk memeperbanyak harta kekayaan (gold) demi kekuasaan (glory). Naluri pada dasarnya bersifat netral. Tindakan yang bersumber dari naluri akan terlihat baik dan buruk, setelah dipraktekkan. Baik dan buruknya tindakan naluriah seseorang bergantung pada pengetahuan orang tersebut.

Jika tahunya 1-1=0, adalah cara bertindak naluriah dalam mencari kekayaan, maka tindakan naluriahnya akan cenderung buruk karena kekayaannya akan diperbanyak dengan cara-cara merugikan orang lain (memperkecil pengeluaran) dengan cara eksploitasi, penjajahan, dan korupsi.  Sebaliknya jika tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, naluriah memperbanyak kekayaannya akan dilakukan dengan cara memperbanyak pengeluaran di jalan Tuhan, membantu, menolong, membebaskan penderitaan orang lain.

Sekalipun setiap orang punya banyak naluri, harus ada satu naluri yang dominan menjadi ciri khas seseorang. Naluri dominan ini dipengaruhi oleh gen (ketuturunan/herediter), yang pembentukannya terjadi sejak dalam kandungan.

Untuk itu para peneliti gen berkesimpulan bahwa kepribadian pelit (kikir) dipengaruhi oleh gen. Jika pembentukan gen terjadi saat dalam kandungan, saya memutlakkan bahwa ibu-ibu yang hamil wajib memiliki banyak pengetahuan tentang cara-cara pembentukan kepribadian.

Kembali kepada pengetahuan, ibu-ibu hamil yang tahunya bahwa 1-1=0, akan sangat mungkin berpotensi melahirkan keturunan-keturunan pelit, eksploitatif, dan koruptif.  Sebaliknya bagi ibu-ibu yang tahu dari Tuhan bahwa 1-1=700, akan sangat mungkin melahirkan keturunan dengan pribadi penyejahtera.

Fir’aun, Hitler, lahir dari perut seorang Ibu, demikian juga Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw penutup para Nabi, lahir dari perut seorang Ibu. Maka dari itu, kaum yang harus paling banyak pengetahuannya adalah para Ibu (kaum perempuan), karena dari perut mereka akan lahir benih pribadi-pribadi penyejahtera.  Untuk itulah diberitahukan oleh Tuhan kepada kaum laki-laki untuk memuliakan kaum perempuan tiga kali lipat dari kaum laki-laki.

Pada akhirnya, dari ketiga unsur pembentukan kepribadian, hal yang paling dominan berpengaruh terhadap kepribadian seseorang adalah pengetahuan. Untuk itulah sangat-sangat logis, jika Tuhan menurunkan wahyu pertamanya kepada Rasulullullah saw dengan kata bacalah (Iqra). Sangat logis juga jika ada kata-kata ambisius mengatakan knowledge is power.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan. 

Sunday, October 20, 2013

LOGIKA TUHAN KUNCI BANGUN RUMAH TANGGA SEJAHTERA (2)


Dalam tulisan saya waktu lalu, sudah dijelaskan bahwa kunci pertama dalam membina rumah tangga sejahtera adalah laki-laki mutlak menjadi pemimpin (pengambil keputusan) dalam keluarga. Semua harus hormat tunduk dan patuh. Kepatuhan istri (perempuan) pada suami (laki-laki) bukan karena laki-lakinya tetapi karena hormat pada ketentuan Tuhan.

Dalam rumah tangga, selain ada istri yang tidak hormat pada suami, ada juga yang kurang akur dengan orang tua (baik dari pihak suami atau istri). Mendengar dari obrolan teman-teman, rata-rata keluarganya dibina dengan petentangan antara istri dengan mertua atau suami dengan mertua. Bahkan ada juga suami dan istri bersekongkol berseberangan dengan orang tuanya sendiri. Suami istri kompak dalam keburukan. Hehehe...

Biasanya yang diributkan adalah masalah manajemen keluarga. Ada yang beralasan orang tuanya terlalu ikut campur urusan keluarga, atau orang tuanya masih menggantungkan ekonomi kepada keluarganya. Maaf-maaf ya, pernah denger sih ada mantu yang bersyukur ketika dengar mertuanya meninggal. Astagfirullah....

Sekarang akan saya jelaskan kunci kedua yang berkaitan erat dengan kunci pertama. Di dalam rumah tangga (istri atau suami) sekalipun sudah menjadi keluarga otonom, statusnya sebagai anak masih tetap berlaku dan masih berkewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua. Baik orang tua pihak laki-laki maupun orang tua pihak perempuan.  Karena ketentuannya dalam hadis Nabi Muhammad saw dijelaskan bahwa mertua termasuk orang tua (baik dari suami maupun istri).

iNI KETENTUAN yang harus diperhatikan setelah kita berumah tangga adalah; “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Al Israa:23)

Ketentuan yang dicetak tebal MERAH di atas, berlaku selama manusia merasa hidup dan dilahirkan dari rahim seorang ibu, kecuali mereka yang terlahir dari batu atau tumbuhan. Ketentuan ini tidak batal sekalipun seorang anak perempuan atau laki-laki sudah menikah. Ketentuan ini juga berlaku sekalipun orang tua kita sudah meninggal. Ketentuan ini juga berlaku sekalipun kita sudah menjadi tua renta. Pikirkan...

Persepsi yang sering terjadi, ketika anak (laki-laki atau perempuan) sudah menikah, ada anggapan bahwa kewajiban anak berbuat baik kepada ibu bapak sudah terlepas. Secara otomatis persepsi ini melahirkan pembangkangan seorang anak kepada orang tua, dan jelas itu bertentangan dengan kehendak Tuhan (Khususnya, Al-Israa:23). Jika rumah tangga dibina dengan penentangan terhadap ketentuan Tuhan, dijamin akan jauh dari kondisi harmonis dan sejahtera.

Lebih parah lagi, ada keluarga yang menjadikan orang tua sebagai kambing hitam atau penyebab kegagalan dalam membina rumah tangga. Astagfirullah...manusia macam apa itu? Sungguh sebuah fitnah besar (dosa besar) dimana orang tua dideskreditkan sebagai biang kerok kegagalan rumah tangga, padahal seharusnya orang tua dijadikan sebagai penyebab kelancaran ekonomi keluarga. Mesti ingat bahwa kedudukan orang tua sangat spesial dihadapan Tuhan, jadi sebagai anak sekalipun sudah menikah, harus berhati-hati memperlakukan orang tua. Ini prilaku dasar lo, tidak bisa tidak. Kalau tidak percaya ya silahkan saja buktikan, rumah tangga Anda pasti tidak akan tentram (awet rajet kaya orang Sunda mah).  Kondisi parahnya hancur berkeping-keping (perceraian). Ampunn...ya Allah...

Bagaimana strateginya, agar keluarga (suami/istri) bisa tetap berbakti kepada kedua orang tua. Peran sentralnya ada di pemimpin keluarga (laki-laki). 

Strukturnya begini, dalam keluarga, kunci pertama (sudah saya jelaskan) keharmonisan dan kesejahteraan ada di ketaatan anggota keluarga (terutama istri) kepada pemimpin (suami). Umumnya, semua anggota keluarga harus hormat dan patuh pada ketentuan pemimpin keluarga.

Selanjutnya pemimpin keluarga harus berperan memobilisasi  seluruh anggota keluarga (terutama istri), untuk taat kepada aturan Allah bahwa sebagai anak-anak yang lahir dari orang tua harus berbakti kepada kedua orang tua (baik orang tua dari pihak istri maupun suami). Seorang pemimpin harus paling pertama sadar dan menyadarkan istri, beserta anak-anak,  bahwa berbakti kepada orang tua bukan atas dasar mereka telah berjasa membesarkan anak-anaknya, atau balas jasa kepada kedua orang tua, tetapi sebagai bentuk ketaatan seluruh anggota keluarga kepada ketentuan Tuhan.

Seorang istri sekalipun memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua yang melahirkannya, dalam tindakannya harus sepengetahuan pemimpin. Bagi pemimpin yang menganjurkan seluruh anggota keluarga berbakti kepada kedua orang tua, tentu tidak akan jadi halangan jika seorang istri ingin berbakti kepada kedua orang tuanya termasuk mertua karena itu kewajiban. Hirarki seperti ini, tidak bermaksud merendahkan posisi perempuan tetapi sebagai bentuk tatanan keteraturan yang harus diciptakan dalam sebuah kelompok bernama keluarga.

Rumah tangga yang berujung bangkrut (cerai), sering diawali dari lemahnya kepemimpinan (suami) dalam menyadarkan seluruh anggota keluarga untuk berbakti kepada kedua orang tua. Lemahnya kepemimpinan (suami) melahirkan kepemimpinan (istri), sayangnya kepemimpinan istri sering tidak berlandaskan pada penegakkan hukum yang sudah ditetapkan Tuhan, tetapi mengambil kesimpulan sendiri (membalikkan hukum Tuhan), yaitu memposisikan diri sebagai pemimpin dengan merendahkan posisi suami.  Akhirnya kepemimpinan istri menjadi bentuk pembangkangan terhadap suami, sekaligus terhadap ketentuan Tuhan.

Dominasi istri dalam keluarga adalah hal unik dan tidak bermasalah, jika dalam dominasinya, istri tetap memposisikan diri sebagai orang yang tetap hormat pada suami, dan memobilisasi seluruh anggota keluarga untuk hormat pada pemimpin keluarga dan berbakti kepada kedua orang tua. Dalam dominasinya perempuan hadir bukan untuk merendahkan suami tetapi untuk mendorong seluruh anggota keluarga  agar selalu taat pada ketentuan Tuhan. Sebaliknya, dominasi istri harus bertujuan mendorong suami tetap jadi pemimpin dan menjadi teladan seluruh anggota keluarga untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Jika dua kunci sukses membina rumah tangga sejahtera terus dipertahankan, maka urusan kesejahteraan keluarga bukan lagi urusan hubungan antar manusia, tetapi menjadi urusan Tuhan. Keluarga-keluarga yang berusaha menegakkan aturan-aturan  Tuhan akan dijaga dari kehancuran. Apakah Anda yakin pada kekuasaan Tuhan?  Tuhanlah yang mensejahterakan, dan menyempitkan rejeki dalam keluarga. Silahkan buktikan dengan nalar dan bacalah pengalaman-pengalaman orang terdahulu. Kami sudah merasakan kesejahteraan itu datangnya dari Tuhan.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Wednesday, October 16, 2013

LOGIKA TUHAN KUNCI BANGUN RUMAH TANGGA SEJAHTERA (1)

oleh Muhammad Plato

Setelah bertahun-tahun membina rumah tangga, akhirnya bubar juga. Itulah yang sering dihadapi kisah anak-anak Adam dalam membangun keluarga sejahtera.

Sekalipun Tuhan sudah memperingatkan bahwa perceraian adalah hal yang dibenci, tapi pilihan ini sering dipilih. Mengapa Tuhan benci perceraian, karena perceraian bukan hanya berdampak pada perpecahan dalam hubungan kekelurgaan. Perpecahan hubungan antara individu dengan individu (suami-istri), hubungan individu dengan kelompok (suami atau istri dengan keluarga besar), dan hubungan individu dengan orang tua (anak dengan ayah atau ibu). Itulah yang ditakutkan dari sebuah perceraian.
Setelah perceraian terjadi dan dibenci Tuhan, tidak sedikit berlanjut pada putusnya silaturahmi dalam hubungan kekeluargaan. Terputusnya silaturahmi menjadi pelanggaran terhadap ketentuan Tuhan bahwa;

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa:1)
Membina rumah tangga seperti membangun sebuah perusahaan. Dibutuhkan pemimpin, manajer, dan aturan-aturan baku agar perusahaan berkembang menjadi besar dan mensejahterakan. Sebelum membangun perusahaan dibutuhkan pengetahuan (ilmu), dan perencanaan, demikian juga dalam membangun rumah tangga.

Ini kunci atau ketentuan baku yang harus dipahami sebelum bersepakat untuk membangun rumah tangga. Ketentuan ini tidak akan mengalami perubahan karena sudah jadi ketetapan Tuhan. Ketentuan mendasar pertama adalah “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (An Nisaa:34)
Banyak tafsir tentang ketetentuan ini. Tapi pahamilah dulu, dalam setiap kelompok sekecil keluarga pemimpin harus ada. Ketentuan ini berlaku dalam kajian ilmu sosiologi, yang menjelaskan bahwa keberadaan pemimpin dalam sebuah kelompok mutlak harus ada. Dalam hadis Nabi saw, dan pepatah Cina, persis mengemukakan keharusan adanya seorang  pemimpin jika seorang manusia bepergian lebih dari satu orang.

Kemutlakan adanya pemimpin dalam sebuah kelompok dapat kita pahami dari fungsi seorang pemimpin sebagai pengambil keputusan. Bisa dibayangkan jika dalam sebuah kelompok tanpa pemimpin, sudah pasti akan terjadi kekacauan. Setiap orang akan mengambil keputusan masing-masing. Jika hal ini terjadi visi, misi, tujuan dalam sebuah kelompok sudah barang tentu tidak bisa disatukan. Akhirnya kehidupan kelompok akan jauh dari tujuan, dan bisa berakhir dalam perpecahan.

Untuk itulah dalam kehidupan keluarga, Tuhan menentukan laki-laki adalah pemimpin (pengambil keputusan). Seorang istri (perempuan), harus menaruh rasa hormat kepada sang pemimpin. Kepemimpinan laki-laki dalam keluarga tidak diukur dari besar penghasilan, jabatan, jenis pekerjaan atau jumlah kekayaan. Kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga adalah sistem yang sudah ditentukan Tuhan.
Kita harus bersyukur bahwa Tuhan telah menentukan laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika dalam keluarga tidak ada ketentuan siapa pemimpinnya. Suami, istri dan anak akan berseteru untuk menentukan siapa pemimpinnya. Mungkin akan ada pemilu dan kampanye dalam pemilihan pemimpin di keluarga seperti kampanye pemilihan RT, RW dan Kepala desa. Dengan adanya ketetapan Tuhan, kehidupan keluarga bisa lebih cepat harmonis karena sudah ada kesepakatan tentang kepemimpinan. Struktur ini sudah sedemikian rupa diatur Tuhan dalam keluarga, agar sistem berjalan sebagaimana mestinya.
Hal yang harus dipahami, ketaatan Istri (perempuan) pada suami (laki-laki) sebagai pemimpin, jangan dibaca sebagai ketaatan laki-laki kepada kepemimpinannya laki-laki, tapi harus dibaca sebagai bentuk ketaatan perempuan pada ketentuan Tuhan. Sebagaimana difirmankan Tuhan bahwa wanita shaleh bukanlah yang taat pada suami sebagai pemimpin tetapi taat pada ketentuan Allah bahwa suami sebagai pemimpin yang harus ditaati dan dihormati. Maka pembangkangan kepada kepemimpinan suami bukan pembangkangan biasa tetapi sebagai pelanggaran terhadap ketentuan Tuhan.

Juga, ketaatan perempuan terhadap laki-laki sebagai pemimpin keluarga, tidak bertepuk sebelah tangan. Suami sebagai pemimpin memiliki tanggung jawab besar, yaitu menjadi pengambil keputusan, bekerja keras banting tulang untuk mencukupi seluruh kebutuhan keluarga, dan memperlakukan perempuan dengan penuh kemuliaan jika didapati perempuan tersebut sudah taat pada ketentuan Tuhan.
Kemutlakkan kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, bukan merendahkan perempuan, tapi demi tercapainya tujuan dan berjalannya fungsi-fungsi kehidupan keluarga. Keretakan dan perpecahan dalam keluarga, biasanya terjadi jika antara laki-laki dan perempuan saling mendominasi atas ego-ego (pikiran-pikiran rasional) pribadinya, tanpa mengancu pada ketentuan Tuhan.

Jika dalam faktanya, ada perempuan yang mendominasi laki-laki karena itu tanda bahwa kaum perempuan harus banyak belajar, dan membuktikan tentang kebenaran-kebenaran  dibalik logika Tuhan. Dan jika ada laki-laki yang dinilai kurang layak jadi pemimpin, itu tanda laki-laki harus lebih memperdalam ilmu tentang kepemimpinan dari Tuhan.
Sudah barang tentu jika ada ajaran yang ingin menyamakan peran (status) laki-laki dan perempuan perlu diwaspadai. Bukan karena laki-laki ingin tetap menjadi pemimpin dalam kehidupan keluarga, tapi ajaran itu berpotensi menentang pada ketentuan Tuhan. Dan Tuhan sudah mengancam dengan ketentuan bahwa mereka yang hidup dengan cara menentang dari ketentuan Tuhan akan berakhir dengan perpecahan (perceraian), kehancuran. Semoga Tuhan mengampuni kita semua.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan  

IBU RUMAH TANGGA LEBIH CERDAS

Oleh: Muhammad Plato

Tulisan ini sengaja penulis angkat karena tidak banyak orang meyakininya bahwa menjadi ibu tangga membutuhkan multitalenta. Untuk mengeola rumah tangga dibutuhkan orang-orang berilmu setingkat sarjana. Di dalam mengelola rumah tangga dibutuhkan tenaga profesional dengan latar belakang keilmuan yang memadai.

Bidang-bidang ilmu yang dibutuhkan dalam mengelola rumah tangga minimalnya adalah ekonomi, manajemen, matematika, psikologi, pendidikan, sosiologi, dan agama. Sangat salah jika wanita-wanita lulusan sarjana dan kelak setelah menikah tidak bekerja di luar rumah dikatakan ilmunya mubajir karena tidak digunakan. Pendapat itu datang dari kalangan yang tidak memahami pentingnya ilmu dalam pengelolaan rumah tangga.

Residu feminisme telah menutup kebenaran yang sebelumnya telah benar dari Tuhan. Kaum feminis menganggap bahwa mejadi ibu rumah tangga adalah musibah bagi kaum perempuan. Dihembuskan ke seluruh penjuru dunia bahwa menjadi ibu dari seorang anak, kemudian merawatnya di rumah dapat berakibat menurunnya tingkat kecerdasan kaum wanita (mommy braind). Menurut kaum feminis, wanita-wanita yang melahirkan anak dan sibuk dengan kegiatan rumah tangganya mereka menjadi pelupa dan stres.

Kaum feminis berhasil menakut-nakuti kaum wanita dan berhasil menggiring semua wanita untuk bekerja di luar rumah. Sampai-sampai ada wanita yang fobia, takut hamil dan melahirkan anak, karena ada anggapan ketika melahirkan anak sebagian kecerdasannya akan tersedot, dan akibatnya kaum wanita menjadi kehilangan kecerdasan.

Gerakan feminisme sudah masuk ke seluruh dunia. Melalui media televisi, internet, politik, dan dunia pendidikan, gerakan feminisme menyebar dan diakses oleh wanita di seluruh dunia. Feminisme seperti hantu gentayangan yang menakut-nakuti kaum wanita yang masih tinggal di dalam rumah. Dengan isu gender atau pertukaran peran laki-laki dan wanita, kaum wanita di provokasi untuk menuntut haknya dan kalau perlu melakukan pemberontakan.

Benturan budaya terjadi di negara-negara yang memegang teguh nilai-nilai ajaran agama. Gerakan feminisme mendapat penentangan hebat di negara-negara yang berbasis agama. Terutama di negara-negara sekitar Arab, di mana negara menjadi penegak ajaran agama, gerakan feminisme hanya sedikit memengaruhi kaum wanita. Aturan agama masih kuat dipertahankan dengan bantuan dari kebijakan negara.


Lain halnya di negara-negara yang sudah menganut sistem demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan. Negara dijadikan alat untuk menyebarluaskan ajaran feminisme. Di Indonesia gerakan feminisme mendapat sambutan masyarakat. Gerakan feminisme di fasilitasi oleh negara dengan membuat kementerian khusus pemberdayaan perempuan. Di dalam sistem politik pun,  negara mengeluarkan regulasi khusus berupa 30% minimal keterwakilan kaum perempuan di parlemen. Kata minimal 30% berarti tidak ada batasan jika lebih dari 30%. Di dunia kerja pun, sudah mulai keluar kebijakan yang ditunggangi gerakan feminisme, walaupun tidak secara eksplisit dikemukakan dalam brosur penerimaan tenaga kerja, secara lisan mereka meminta just only female yang dapat diterima kerja. Dalam dunia pendidikan pun, isu gender mulai di dorong untuk masuk ke dalam konten kurikulum.

Propaganda gerakan feminisme memang cukup baik karena isunya membela hak-hak perempuan yang menurut mereka tertindas oleh kaum laki-laki karena mereka masih bekerja sebagai ibu rumah tangga di dalam rumah. Lalu kaum feminis mempublikasikan hasil penelitian yang mendeskreditkan kaum wanita yang bekerja di dalam rumah. Penelitian itu sengaja disebarluaskan bahwa wanita yang bekerja di dalam rumah menjadi wanita bodoh dan harus segera ke luar rumah agar tidak bodoh. Sebagian kaum wanita mengamini kebenaran riset ini, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia tanpa batas melalui globalisasi teknologi informasi.

Namun, dari hasil penelitian terbaru, kini anggapan bekerja di dalam rumah, bahwa menjadi ibu, merawat anak, mengatur keuangan keluarga, dapat mengurangi kecerdasan kaum wanita mulai terbantahkan. Faktanya tidak sedramatis sebagaimana yang dipropagandakan kaum feminis.

Dari hasil penelitian dua orang ahli syaraf, Craig Kinsley, dan Kelly Lambert (1999), mereka telah membandingkan prestasi tikus yang telah dan belum menjadi ibu pada suatu tes belajar dan mengingat. Mereka mendapati bahwa tikus yang sudah menjadi ibu mereka memiliki daya ingat yang lebih baik dari pada tikus yang belum menjadi ibu. Pembelajaran dan ingatan yang dimiliki tikus yang sudah menjadi ibu bertahan cukup lama sampai para tikus tersebut menjadi tua. (Elison Khaterin:2011).

Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kaum wanita yang menjadi ibu, merawat anak, mengurus rumah tangga, ternyata lebih cerdas di banding wanita-wanita yang belum menjadi ibu. Penelitian ini membantah bahwa menjadi ibu dapat mengurangi kecerdasan kaum wanita.

Faktanya ibu-ibu yang bekerja di rumah tangga, memiliki tingkat kreativitas luar biasa. Mereka bisa mengerjakan berbagai profesi pekerjaan dalam satu profesi yaitu ibu rumah tangga. Dalam satu profesi, seorang ibu rumah tangga mengerjakan pekerjaan secara bersamaan sebagai seorang pendidik (guru, dosen), peneliti, psikolog, manajer, akuntan, dan agamawan. Multi profesi inilah yang membuat kaum wanita bisa lebih cerdas dengan menjadi seorang ibu rumah tangga.  Wallahu‘alam.

Salam Sukses dengan logika Tuhan.

Wednesday, September 18, 2013

LOGIKA PUASA

MENGENANG SETIAP BULAN RAMADAN. Dihimbau tidak dihimbau, konsumsi masyarakat terhadap sandang dan pangan di bulan Ramadhan tetap saja meningkat. Daging sapi yang harganya selangit tetap diburu dibeli masyakat. Pasar-pasar tradisional, minimarket, super market, hypertmarket, pendapatannya selalu surplus melebihi hari-hari di luar bulan Ramadan.

Dari tahun ke tahun, dalam kondisi krisis ekonomi atau tidak, setiap masuk bulan Ramadan, konsumsi sandang dan pangan selalu meningkat. Apakah ini fakta bahwa bulan Ramadan bulan berkah?  Lalu mengapa bulan Ramadan menjadi bulan penuh berkah?


Sekalipun keterangan keberkahan bulan Ramadan kita dapatkan dari Al-Qur’an dan hadis, tidak ada salahnya jika kita sedikit memperdalam pengetahuan dengan penggunaan akal (logika) kita, agar keyakinan kita kepada kebenaran Al-Qur’an dan hadis lebih mantap dan kita bisa tunduk pada segala ketentuan Allah swt .

Meningkatnya konsumsi sandang dan pangan di bulan Ramadan bisa kita lihat dari dua sisi. Satu sisi, ada yang mengatakan tingginya tingkat konsumsi sandang dan pangan di bulan Ramadan  disebabkan oleh pola pemahaman puasa Ramadan awam yang kurang mendalam. Pandangan ini mengandung pembenaran akal (logika), jika fakta puasa mengurangi konsumsi pangan (ngemil, makan, minum) di siang hari, maka seharusnya tingkat konsumsi pangan masyarakat akan menurun.

Dari sisi kedua, peningkatan konsumsi sandang dan pangan di bulan Ramadan, fenomena ini bisa jadi bukti bahwa benar bulan Ramadan diberkahkan Allah swt. Dalam kondisi sesulit apapun, konsumsi sandang dan pangan masyarakat, setiap masuk bulan Ramadan selalu mengalami peningkatan. Dari sudut pandang ekonomi, ibadah puasa di bulan Ramadan persis seperti motor penggerak ekonomi masyarakat.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Mari kita baca atas nama logika (kebenaran sebab akibat) dari petunjuk Allah swt. Puasa dalam kenyataannya merupakan ibadah dengan tingkat kesulitan tinggi. Bulan Ramadan adalah bulan paling sulit dijalani umat Islam diantara bulan-bulan lainnya.

Pada bulan Ramadan, aktivitas makan dan minum yang biasanya tidak terbatas di siang hari, distop. Malam hari yang biasanya diisi dengan istirahat (tidur) panjang, harus diisi dengan kegiatan ibadah yang menyita waktu tidur. Belum cukup waktu tidur malam, jam tiga subuh harus bangun untuk persiapan makan sahur. Esok harinya, kita dituntut tetap bekerja tanpa makan, dan dalam kondisi kurang tidur. Sungguh bulan Ramadan adalah bulan yang sangat melelahkan untuk dijalani.

Mengapa Allah swt menetapkan manusia bersusah payah menahan lapar dan haus (berpuasa) di bulan Ramadan? Sesungguhnya bacalah atas nama Tuhan mu. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al Balad:4).

Bahwa telah ditetapkan Allah swt, manusia harus menempuh susah payah dalam hidupnya. Puasa di bulan Ramadan adalah wujud ketetapan Allah swt bahwa manusia harus berada dalam susah payah.
Maka dari itu, orang-orang yang mengeluh karena kesulitan hidup, sesungguhnya dia tidak paham dengan ketentuan Allah swt. Demikian juga, orang yang tidak mau meraih sukses dengan susah payah, selalu menghindar dari kesulitan, lari dari masalah, dan tidak punya rasa tanggung jawab, mereka semua adalah orang-orang yang ingkar terhadap ketentuan Allah swt. Bagi siapa saja yang ingkar terhadap ketentuan Allah, maka keberkahan, kesejahteraan hidup tidak akan didapatkannya.

Ketahuilah, mengapa Allah swt mengharuskan manusia hidup berada dalam susah payah? Apakah Allah swt hendak membinasakan manusia? Tidak, sesungguhnya Allah telah menyimpan keberkahan, kesejahteraan hidup di balik kesulitan (susah payah). Sebagaimana Allah swt berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah:5-6).

Maka inilah petunjuk dari Allah swt, puasa di bulan Ramadan adalah perintah Allah swt agar manusia membiasakan diri menghadapi kesulitan. Bukan hanya kesulitan yang biasa-biasa, tapi kesulitan yang luar biasa. Mengapa Allah swt mangajarkan manusia untuk menghadapi kesulitan yang luar biasa? Karena dalam ketentuan Allah swt dibalik kesulitan yang besar ada keberkahan yang lebih besar lagi.

Mungkin itulah logika dibalik fenomena puasa Ramadan yang bisa kita pahami. Kesulitan  (sahur, puasa, itikap, tadarus, sedekah) yang dilakukan umat Islam di bulan Ramadan, pasti  dibalas Allah swt dengan keberkahan rezeki berlipat ganda. Mudah-mudahan meningkatknya konsumsi pangan dan sandang di bulan Ramadan bukanlah prilaku konsumtif masyarakat, tapi semata-mata karena Allah swt memberi keberkahan kepada manusia karena ketaatannya  pada ketentuan Allah swt. Tidak heran jika Nabi Muhammad saw merasa sedih ketika bulan Ramadan akan berakhir, karena tidak ada lagi bulan berkah selain bulan Ramadan. Wallahu ‘alam.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan

Sunday, September 15, 2013

KEMUNDURAN UMAT HANYA KARENA DUA KATA

Seumur hidup menganut ajaran agama, baru tahun ini mendapat pencerahan dari seorang dosen di UIN Jakarta, Fahmi Basya. Sebelumnya agama dipelajari dengan mendengarkan ceramah-ceramah ajaran moral yang diulang-ulang dari bunyi hadis dan kitab suci (Al-Qur’an).

Pada akhirnya, banyak penulis saksikan orang-orang berhenti belajar agama ketika sudah menginjak pendidikan menengah, apalagi sesudah menginjakkan kakinya di pendidikan tinggi. Salah satu orang itu tidak lain adalah penulis.

Maka tidak aneh jika di masyarakat ada gejala anomali, dimana dibeberapa negara ditemukan semakin tinggi pendidikan kaum perempuan semakin tinggi terkena resiko penyakit mematikan HIV/AIDS. Dalam bahasa awam semakin tinggi pendidikan kaum perempuan semakin bebas aktivitas seksnya. Ini artinya, semakin tinggi pendidikan tidak berbanding lurus dengan tingkat keimanan seseorang.

Demikian juga dalam kasus korupsi, sempat diutarakan bahwa para pelaku korupsi hampir rata-rata dilakukan oleh mereka yang berpendidikan sarjana. Bahkan perguruan tinggi yang melahirkan sarjana, di kritik pedas sebagai lembaga yang melahirkan generasi korup.

Pertanyaan besarnya, mengapa ajaran-ajaran moral agama yang diceramahkan sejak pendidikan dasar tidak bisa menjadi benteng dikala seseorang sudah menginjak pendidikan tinggi? Seperti penulis rasakan, pelajaran agama yang hanya diajarkan dua jam di sekolah atau dua sks di perguruan tinggi, tidak lagi menarik untuk dipelajari.

Penyebab agama tidak diminati oleh mereka yang berpendidikan menengah dan tinggi adalah bersumber pada dua kata, yaitu ra’yu dan qalam. Kata ra’yu diartikan sebagai pikiran. Kata ra’yu yang diartikan pikiran telah menjauhkan agama dari kaum intelektual. Akibat arti dari satu kata ini, Tuhan dianggap telah melarang orang-orang untuk berpikir dalam memahami agama. Larangan ini sering dikaitkan dengan bunyi hadits yang mengatakan bahwa “siapa menyelesaikan agamanya dengan ra’yu-nya siap-siap masuk neraka”. Karena ra’yu diartikan pikiran, maka matilah dorongan berpikir dalam memahami agama karena takut masuk neraka. Padahal di dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat 63 ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir.

Menurut Fahmi Basya (2013), yang tepat arti kata ra’yu bukan pikiran, tapi penglihatan bahkan sebagai penglihatan di dalam mimpi. Fahmi Basya menjelaskan, di dalam beberapa ayat Al-Qur’an kata ra’yu sering diartikan sebagai penglihatan atau pandangan. “Dan tidak Kami jadikan penglihatan yang Kami lihatkan kepadamu itu melainkan ujian untuk manusia”. (Al-Israa:60).

Selanjutnya menurut Fahmi Basya, kata berpikir di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan kata yatafakkarun. “sesungguhnya di dalam itu ada ayat-ayat untuk kaum yang berpikir (yatafakarun)”. (Arra’d:3).
Penyebab kedua adalah kata qalam diartikan sebagai perkataan Tuhan, kalam, atau pena. Dari ketiga tafsir tersebut sangat jauh sekali bersentuhan dengan aktivitas berpikir. Menurut Fahmi Basya, kata QALAM bisa ditafsirkan LOGIKA.  “yang mengajarkan (manusia) dengan kalam (LOGIKA). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq:4-5).

 

Kata logika ditafsirkan dari peristiwa pembunuhan Habil oleh Kabil. “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al maa ‘idah:31)

Menurut Fahmi Basya, proses peniruan Kabil cara menguburkan mayit Habil dari sesekor burung gagak adalah Alqalam (cara Allah mengajarkan manusia). Proses PENIRUAN adalah LOGIKA. Dengan logika Allah mengajar kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Tanpa logika manusia tidak akan pernah mengetahui ayat-ayat Allah.

Para ulama, ahli fiqih, Mutakalim, tidak mempermasalahkan penggunaan logika dalam memahami ayat-ayat Allah. Hal yang dipermasalahkan adalah menggunakan logika untuk menentang kebenaran wahyu. Seharunya logika digunakan untuk meneliti, menelaah, membuktikan kebenaran-kebenaran wahyu, untuk menemukan hakikat Tuhan sampai menemukan keyakinan tinggi (haqul yakin) kepada kekuasaan kebenaran ayat-ayat Tuhan.

Hanya gara-gara dua kata di atas, berabad-abad manusia mengalami kemunduran kualitas hidup. Selamat sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

MAU JADI MANUSIA MERDEKA?

Mari kita belajar pengertian merdeka dari Tuhan. Selama ini kita terlalu fokus pada pengertian-pengertian merdeka yang terkait dengan kehidupan dunia semata. Makna kemerdekaan yang dikaitkan dengan kenyataan duniawi sangat dinamis, sangat tergantung pada sudut pandang.

Contoh pemahaman kata merdeka bagi orang Indonesia adalah terbebas dari penjajahan Belanda, bagi orang Amerika Serikat, kemerdekaan adalah kebebasan berpikir, berwujud dalam bebas dalam tindakan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Bisa jadi karena perbedaan pandangan dalam konsep kemerdekaan, maka terjadilah konflik kepentingan. Di satu sisi bangsa Amerika Serikat merasa sedang melaksanakan kebebasannya dalam berpikir dan bertindak, di sisi lain ada bangsa yang merasa terjajah.

Penulis akan sodorkan konsep kemerdekaan dari petunjuk Tuhan. Konsep merdeka dari Tuhan, penulis kembangkan dari kitab suci. Setiap agama punya kitab suci. Saya yakin setiap kitab suci dari agama manapun diakui oleh penganutnya untuk semua manusia.

Kitab suci Al-qur’an yang diimani oleh umat Islam, ditujukan untuk mengatur kehidupan umat manusia. Betul, kebenaran kitab suci diterima berdasarkan keimanan masing-masing. Umat Kristen, Hindu, Buddha,  tidak akan menerima kebenaran kitab suci Al-Qur’an karena tidak mengimaninya.

Tetapi keimanan itu tidak terbebas dari penggunaan akal (logika). Untuk mengimani sesuatu perlu campur tangan akal, tanpa kemampuan akal keimanan bisa membutakan hati. Untuk itulah Tuhan selalu bertanya kepada manusia, “apakah kamu tidak menggunakan akal, berpikir?”

Untuk menguji, apakah kitab suci itu benar-benar dari Tuhan, diperlukan akal. Setiap manusia telah diberi akal oleh Tuhan. Guna akal adalah untuk membenarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Jika semua manusia menggunakan akalnya, menguji kebenaran-kebenaran wahyu Tuhan (Al-Qur’an), maka sangat tidak mungkin tidak mengenal Tuhan. 

Kembali ke masalah konsep merdeka. Mengapa perlu mengembangkan konsep merdeka dari petunjuk Tuhan (kitab suci)? Bari bertanya ke diri sendiri, ujung-ujungnya hidup ini mau ke mana? Semuanya akan kembali ke alam akhirat untuk bertemu Tuhan. Jika ada orang-orang Atheis yang tidak percaya alam akhirat, jangan percaya, mereka adalah the real stupid, dan sudah pasti, setiap mereka mengaku saya Atheis, dia telah melakukan kebohongan besar. Masih mau dengerin pembual seperti orang-orang Atheis?

Ini petunjuk dari Tuhan, dunia ini tidak terpisah-pisah seperti kata orang-orang sekuler dan atheis. Dunia ini sebuah rangkaian hidup yang terus berkelanjutan menuju akhirat. Alam dunia dan alam akhirat merupakan satu kesatuan utuh. Cita-cita sejahtera di kehidupan akhirat, harus diupayakan sejak kehidupan dunia. Logika yang harus berlaku adalah kesejahteraan di dunia itu menjadi sebab kesejahteraan di akhirat. Atau merdeka di dunia menjadi sebab merdekanya di akhirat.

Jadi merdeka itu apa? Ayat di bawah ini mengandung logika penjelasan konsep merdeka.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, INGATLAH NIKMAT ALLAH ATASMU ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan DIJADIKAN-NYA KAMU ORANG-ORANG MERDEKA, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain". (Al maa”dah:20).

Ini kunci untuk menjadi orang merdeka. Tolong baca, MENGINGAT NIKMAT ALLAH adalah sebab, DIJADIKAN-NYA KAMU ORANG-ORANG MERDEKA adalah akibat.

Pertanyaannya, mengapa dengan mengingat nikmat Tuhan kita bisa menjadi orang-orang merdeka? Dengan mengingat nikmat Tuhan berarti kita telah mengiyakan bahwa Tuhanlah yang memenuhi segala kebutuhan hidup kita. 

Setiap yang diingat pasti sudah dialami, maka untuk bisa ingat nikmat Tuhan, terlebih dahulu kita harus mengalami. Untuk bisa mengalami (pernah), merasakan nikmat Tuhan, harus membuktikan sendiri.

Proses pembuktian nikmat-nikmat Tuhan inilah yang rata-rata jarang dilalui umat beragama. Padahal proses pembuktian ini sama dengan perintah membaca (iqra), yang menjadi awal turunnya wahyu Al-Qur’an. Proses pembuktian ini cara kerjanya sama dengan cara kerja para ilmuwan dalam membuktikan teori.

Sebagai contoh sudah saya ulang-ulang, “jika setiap sedekah (KEBAIKAN) yang kita LAKUKAN akan berbalas 10 kali lipat” (lihat: Al An’aam:160). Tahap selanjutnya, buktikan apakah benar hukumnya BERLAKU demikian? Tanpa proses pembuktian, setiap manusia berpotensi mendustakan nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Maka dari itu Tuhan selalu bertanya kepada manusia dalam firmannya, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar Rahmaan:13). Banyak orang mendustakan nikmat Tuhan karena enggan membuktikan, atau menganggap Tuhan tidak bisa menjangkau kehidupan rasional. Karena enggan membuktikan, akibatnya sulit mengingat nikmat Tuhan yang telah kita terima.

Jadi mengingat-ingat nikmat Tuhan adalah bentuk latihan otak (Braind Training), agar mindset, pola pikir, logika, kita selalu tergantung pada Tuhan sebagai satu-satunya sebab pemberi nikmat. Maka sebagai braind training, Tuhan memerintahkan manusia untuk mengingat-ingat nikmat Tuhan sebanyak-banyaknya. Firman Tuhan, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (mengingat-ingatnya). (Adh Dhuha:11)

Jika mindset, pola pikir, logika, sudah mantap menjadikan Tuhan sebagai sebab, maka merdekalah orang itu. Sebesar apapun keinginan dan kebutuhan, dia yakin akan dipenuhi oleh Tuhan. Maka akan sampailah orang itu pada kesimpulan, bahwa semua makhluk selain Tuhan bukan penyebab, dia tunduk pada kehendak Tuhan.

Jika seseorang sudah membuktikan dan terus mengingat-ingat seluruh nikmat Tuhan, akan sampailah dia pada derajat haqul yakin. Merdeka adalah kebebasan mewujudkan segala keinginan hidup dengan mengandalkan pada kekuasaan Tuhan. Apakah ada yang tidak bisa diwujudkan Tuhan? Semuanya bisa.

Sekali lagi, merdekalah orang-orang yang selalu mengingat-ingat nikmat Tuhan, karena mereka mencapai tingkat keyakinan tertinggi bahwa semua cita-cita hidupnya bisa diwujudkan oleh Tuhan. Mereka pasti merdeka di dunia dan akhirat.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Wednesday, September 4, 2013

PEDOMAN HIDUP SUKSES DARI LOGIKA AL ’ASHR

Oleh: Muhammad Plato

Kalau Anda pernah belajar sejarah, pasti akan ingat bahwa inti dari sejarah adalah masa lampau. Intisari dari masa lampau adalah waktu. Berkaitan dengan waktu, yang dimaksud dengan masa lalu itu kapan? Dalam ilmu sejarah suatu kejadian dikatakan sejarah jika sudah berlalu minimal 40 tahun. Namun kalau kita pikirkan sedetikpun kejadian yang telah berlalu adalah sejarah.

Sejarah sesungguhnya mengajarkan kepada kita tentang keharusan manusia menghargai waktu, agar manusia bisa hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Saya sudah belajar sejarah kurang lebih 29 tahun, baru tahun ini (2013) saya baru menemukan pedoman bagaimana cara hidup sukses belajar dari sejarah.
Berkaitan dengan waktu, Tuhan mengingatkan kepada manusia agar waspada dan hargai waktu. Allah swt berfirman;

“Demi masa (waktu). Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”. (Al ‘Ashr:1-3)

Saya coba tafsir ayat di atas dengan ilmu sejarah yang saya geluti. Begini, jika hidup ini adalah bentangan waktu dari masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang, sampai akhirat. Maka siapakah orang-orang yang rugi yang dijelaskan dalam surat Al ‘Ashr di atas?


Untuk menjawabnya kita gunakan logika sejarah. Dalam logika sejarah, masa lalu adalah penyebab masa sekarang dan yang akan datang (AKHIRAT). Maka, jika masa lalu seseorang buruk akan berakibat pada masa depan yang buruk. Sudah dapat dipastikan orang-orang yang selalu mengisi waktu (masa lalunya) dengan keburukan, selamanya dia akan dapat keburukan di masa mendatang sampai akhirat.  Inilah yang dikatakan orang-orang merugi.

Sebaliknya siapa orang-orang yang sukses? Dia adalah orang-orang yang selalu mengisi waktu (masa lalunya) dengan kebaikan. Masa lalunya yang baik akan menjadi sebab bagi masa depannya yang baik. Orang yang paling baik adalah mereka yang SABAR dalam arti mengisi waktu demi waktunya (masa lalu, demi masa lalunya) tetap dalam kebaikan. Sehingga masa depannya akan terus baik sampai menjangkau waktu akhirat. 

Masa lalu penyebab kebaikan di masa depan adalah hukum mutlak dari Tuhan. Faktanya, seiring berjalannya waktu, kebaikan yang anda lakukan selalu di balas di depan. Buktikan saja, ketika anda berbuat baik waktu sekarang maka balasannya akan datang esok, lusa, seminggu, sebulan, setahun kemudian dan seterusnya. Ini membuktikan bahwa kebaikan yang anda lakukan menjadi sebab kebaikan di esok hari dan masa depan. Jika tidak berbuat kebaikan sebelumnya sangat tidak mungkin ada balasan kebaikan di masa depan.

Perihal balasan kebaikan dan keburukan, saya sudah sampaikan beberapa kali, bahwa Tuhan akan membalas (memberi imbalan) kepada kita atas apa-apa yang telah kita kerjakan. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri,” (Al Israa’:7).

Balasan atas kebaikan dan keburukan yang kita lakukan itu adalah janji Tuhan. Dalam prosesnya Tuhan membalas kebaikan setelah kita melakukannya. Maka dari itulah, masa lalu kita yang baik akan menjadi sebab kebaikan kita di masa mendatang.

Untuk membangun masa depan yang baik, mutlak dibutuhkan KESABARAN. Apa itu kesabaran? Saya tegaskan lagi, sabar adalah menentapkan diri untuk mengisi waktu demi waktu dengan kebaikan agar masa depan kita selama tetap baik sampai batas waktu yang ditentukan Tuhan.

Dengan demikian kita selalu berdoa kepada Allah swt, “tetapkanlah kami di jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai bukan jalan orang-orang yang tidak Engkau ridhai”. Siapa orang-orang yang di jalan lurus ini? Dia adalah orang-orang yang sabar membangun masa lalunya dengan kebaikan demi kebaikan agar masa depannya abadi dalam kebaikan (sejahtera dunia dan akhirat).

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan. 

Monday, September 2, 2013

KALAU MAU KAYA, KENAPA HARUS BACA AL WAAQI’AH?

“Siapa yang sering membaca surat Al Waaqi’ah, maka Allah akan memudahkan rejekinya”, begitulah ustad-ustad mengajarkan kepada kita. Para ustad juga menetapkan waktu-waktu tebaik membaca surat Waaqi’ah. Misalnya, dibaca setiap habis shalat lima waktu satu kali, khusus sehabis shalat ashar tiga kali. Tidak lupa dibaca juga pada saat habis melaksanakan shalat tahajud.

Pertanyaannya, mengapa para ulama mengaitkan surat Al Waaqi’ah dengan KEKAYAAN? Mengapa tidak surat Al Fatihah, Al Baqarah, At Thalaaq, atau An Nisaa? Untuk sekedar menjawab kepenasaran, kita harus melihat isi surat Waaqi’ah?

Kenyataannya banyak orang (sebelumnya termasuk penulis) yang tidak mengerti, mengapa harus baca surat Al Waaqi’ah ketika mau jadi orang kaya. Padahal setelah dibaca artinya, surat Al Waaqi’ah sebagian besar berbicara tentang kejadian kiamat dan kehidupan akhirat. 

Secara harfiah arti Waaqi’ah adalah kiamat. Substansi dari surat Al Waaqi’ah berbicara tentang kepastian dan dahsyatnya terjadi kiamat. Kemudian manusia terbagi menjadi tiga golongan. Sebelum terbentuk tiga golongan, dipisah dulu menjadi dua golongan yaitu golongan kanan dan kiri. Lalu golongan kanan terbagi menjadi tiga golongan yaitu sebagian besar golongan awal, sebagian kecil golongan akhir, dan sebagian besar golongan paling akhir.

Golongan kanan adalah orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Segala yang dikerjakan golongan kanan akan dibalas dengan kebahagiaan. Sedangkan golongan kiri adalah mereka yang di dunia hidup bermewah-mewahan dan terus menerus melakukan dosa besar. Kehidupan mereka tidak akan menemukan kesejukan dan tidak menyenangkan sama sekali.

Lalu Tuhan memerintahkan para calon orang kaya untuk berpikir dan membuktikan, siapakah yang menurunkan air hujan? siapakah yang menumbuhkan tanaman? terangkan bagaimana nutfah dipancarkan? Siapakah yang menciptakan manusia? Orang-orang yang didekatkan kepada Tuhan, akan menjawab semuanya berada di atas kekuasaan Tuhan.

Esensinya, mengapa para ustad atau ulama menyuruh para calon orang kaya untuk membaca, dan  memahami, surat Al-Waaqi’ah. Belajar dari isi surat Al Waaqi’ah, ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh para calon orang kaya.

Pertama; para calon orang kaya harus yakin bahwa di masa depan ada kehidupan akhirat. Di masa depan (akhirat), hidup manusia pasti ditentukan masa lalunya yaitu semasa hidup di dunia. Apa-apa yang dikerjakannya di masa lalu (dunia) akan diperoleh akibatnya di masa depan (akhirat).

Kedua; para calon orang kaya, harus menghindari sikap berlebihan dan menyekutukan Tuhan (dosa besar). Banyak bukti (di negara-negara maju), kekayaan bisa mengalihkan ketaatan manusia kepada Tuhan (Atheis), dan bermewah-mewahan (hidup serakah melebihi batas dari kebutuhan).

Ketiga; para calon orang kaya, harus punya keyakinan kuat, bahwa semua kemungkinan yang terjadi ada dalam kehendak dan kekuasaan Tuhan. Jangan mencari kekayaan di luar jalan yang telah ditentukan Tuhan seperti pesugihan (persekutuan dengan selain Tuhan).

Tuhan sangat tegas, agar manusia yakin terhadap kekuasaan-Nya. Bentuk ketegasan itu dikemukakan dalam bentuk sumpah Tuhan dengan tempat beredarnya bintang-bintang.

Keempat; para calon orang kaya, jangan anggap remeh apa yang telah diwahyukan Tuhan dalam Al-Qur’an. Semua yang ditetapkan Tuhan itulah kenyataannya.

Dari keempat syarat para calon orang kaya di atas, hal yang paling esensi untuk dimiliki para calon orang kaya adalah benar-benar berkeyakinan dengan memastikan (absolut) datangnya hari kiamat dan adanya alam akhirat di masa mendatang. Keyakinan terhadap datangnya kiamat dan alam akhirat, akan memanjangkan harapan hidup orang-orang kaya yang bukan hanya sekedar berorientasi pada kehidupan dunia semata, tetapi lebih visioner ke depan yaitu akhirat.

Maka orang-orang kaya yang visi hidupnya menjangkau akhirat tidak akan berbuat berlebihan di dunia dan akan terhindar dari perbuatan dosa besar (menyepelekan Tuhan). Dengan demikian, orang kaya yang visi hidupnya sampai akhirat akan berani berkorban dengan kehidupan dunianya demi mempertahankan visi hidupnya di akhirat. Bagi orang-orang kaya yang punya visi akhirat, urusan-urusan yang oreintasinya dunia semata menjadi sepele. Sedangkan urusan dunianya yang bervisi akhirat menjadi urusan-urusan besar. Orang-orang kaya seperti ini akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan dengan harta kekayaan yang dimilikinya untuk sebuah visi akhiratnya.

Inilah moralitas para calon orang kaya yang akan didekatkan kepada Tuhan. Sesungguhnya kekayaan itu adalah salah satu alat untuk mencapai kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Siapa yang menjadikan kekayaan sebagai alat kebahagiaan di dunia, maka dialah orang-orang rugi di masa mendatang (akhirat).

Bacalah kekayaan yang kamu miliki atas nama Tuhan Mu, siapakah yang menciptakan kamu dari setetes mani? Tuhanlah yang melapangkan rezeki dan menyempitkannya. Bersyukurlah dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada mu. Berusaha keraslah supaya kamu yakin adanya akhirat.

Semoga Anda sekalian menjadi orang-orang kaya, dan jadikan kekayaan Anda untuk menggapai visi Anda di akhirat bukan di dunia.  Dengan demikian Isnya Allah dunia mu sejahtera.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Monday, August 26, 2013

OBATI STRES DENGAN LOGIKA TUHAN

Bagi yang belum paham logika Tuhan, penulis ulangi lagi. Logika Tuhan adalah cara berpikir sebab akibat mengikuti pola-pola yang terdapat dalam Al-Qur’an. Sederhananya logika Tuhan adalah berpikir sesuai dengan petunjuk Tuhan yang bersumber dari Al-Qur’an.

Salah satu manfaat berpikir dengan logika Tuhan adalah membantu kita tetap berpikir positif, agar hidup kita lebih sehat dan sejahtera di dunia dan akhirat. Baru-baru ini penulis menemukan hal baru bahwa kalau bisa mempraktekkannya berlogika Tuhan dapat membantu menyembuhkan penyakit stres.

Penjelasannya penulis kemukakan sebagai berikut. Dalam teori gate control menyatakan bahwa masukkan rangsangan stres, tidak hanya dapat dikendalikan dengan cara biokimiawi, tetapi bisa juga dengan motivasi dan proses kognisi. (Sholeh:168). Artinya, selain dengan obat-obatan, stres bisa diobati dengan menyehatkan pikiran (berpikir positif) melalui proses kognisi.

Menurut para ahli, salah satu faktor utama yang menentukan apakah suatu rangsangan atau kondisi yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan reaksi stres atau tidak, sangat dipengaruhi oleh beberapa kemampuan individu dalam mengendalikan kondisi tersebut. Kemampuan individu dalam mengendalikan kondisi sangat dipengaruhi oleh faktor kognisi yang berisi cara pandang seseorang terhadap suatu kondisi yang dihadapinya. Proses kognisi adalah cara seseorang mengolah informasi yang diterima untuk menentukan sikap terhadap kondisi yang dihadapi.

Dalam penelitian shalat tahajud yang dilakukan Dr. Moh. Sholeh (2012), Beliau mengambil kesimpulan Jika seseorang dapat menghayati makna kata-kata dalam shalat, orang tersebut dimungkinkan dapat mengendalikan berbagai kondisi yang ia hadapi, termasuk musibah yang menimpa dirinya. Artinya, shalat tahajud  dapat mengefektifkan coping. Coping didefinisikan sebagai upaya kognitif maupun perubahan sikap untuk mengatasi dan mengendalikan kondisi yang dimiliki sebagai stressor. (Sholeh, 2012:160). Coping inilah yang dimaksud dengan proses kognisi.

Coping adalah kemampuan intelektual dalam mempersespi situasi atau kondisi yang dihadapi. Coping tergantung pada kebiasaan seseorang dalam berpikir logis. Kemampuan berpikir logis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki seseorang sebelumnya. Pola pikir akan menjadi cara pandang atau reflek seseorang ketika sebuah kondisi atau situasi dihadapi. 

Sebagai contoh, apa yang dipersepsi orang ketika menghadapi kesulitan? Rata-rata ketika bertemu dengan kondisi sulit, akibat pengetahuan yang muncul dalam kognisi seseorang adalah derita, sedih, lelah, malas menghadapinya, atau hindari kesulitan sebisa mungkin. Akibat pengetahuan itu, perasaan yang muncul adalah negatif. Dampaknya banyak orang merasa pesimis, putus asa, marah, sakit, dan mencoba bunuh diri ketika ketemu kesulitan.

Logika Tuhan akan membantu Anda untuk coping, mengubah atau mengendalikan kesulitan (kondisi stressor) menjadi positif. Jika mengikuti logika dari petunjuk Tuhan, ketika seseorang ketemu kondisi sulit maka Tuhan memberi pengetahuan bahwa akibat yang muncul adalah kemudahan, kebahagian, rejeki, kesehatan, kesejahteraan. Akibat pengetahuan itu, perasaan yang muncul adalah positif.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (Alam Nasyrah:5)

Banyak orang tidak percaya kalau kesulitan itu berkaitan langsung dengan kebahagian. Kebiasaan ini disebabkan oleh pola pikir seseorang yang selalu melihat kebenaran berdasar fakta apa yang terjadi saat itu saja bukan dalam proses berkelanjutan. Pola ini dialami karena sumber informasi kebenarannya terbatas pada apa yang dilihat.

Jika kita saksikan orang-orang yang tukang gagal dalam berbisnis, pada saat itu kita lihat mereka adalah orang-orang bangkrut, terhina, terpuruk, karena dihadapkan pada masalah besar. Tapi kalau dilihat dalam proses berkelanjutan, orang-orang tukang gagal dalam bisnis itu selalu menguasai bisnis di bidangnya dengan menjadi pengusaha sukses.

Jika kita baca berdasarkan petunjuk logika dari Tuhan, kesulitan itu adalah penyebab orang-orang bisa sukses dalam berbagai hal. Petunjuk berlogika dari Tuhan ini, bisa menjadi coping atau  kemampuan kognisi seseorang dalam mengendalikan situasi sulit yang selama ini ditakuti oleh seseorang menjadi hal yang disenangi, berani menghadapi, digauli, sehingga kesulitan menjadi sumber optimisme hidup. 

Jika dalam mengarungi hidup ini, seseorang sudah tidak lagi menjadikan kesulitan sebagai sebab derita, sedih, lelah dan putus asa, maka apa lagi yang ditakuti? Sudah pasti orang-orang yang menjadikan kesulitan sebagai sebab sukses akan lebih tangguh dan terhindar dari stres berat dan selalu sehat karena pikirannya selalu positif.

Jika kejadian buruk saja sudah dijadikan positif dalam pikiran, maka tidak ada lagi pikiran negatif yang akan masuk dalam pikiran.  Untuk itulah logika Tuhan bisa jadi obat anti stres karena dalam logika Tuhan berlaku hukum, “semakin besar kesulitan makan semakin besar kesuksesan”.

Salam sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan.

Wednesday, August 21, 2013

FEMINISME SAMA DENGAN NEO KOMUNISME

Isu persamaan gender tidak ubahnya seperti upaya kaum komunis yang ingin meniadakan pelapisan masyarakat dalam negara menjadi satu kelas yaitu kelas proletar. Kaum komunis menginginkan sebuah kehidupan masyarakat tanpa kelas dengan memaksa kelas atas untuk membagi-bagikan hartanya kepada kelas bawah agar semuanya hidup dalam satu kelas.

Gerakan komunis sangat menguntungkan kelas bawah tapi merugikan kelas atas. Maka dari itu gerakan komunis pengikutnya lebih banyak dari masyarakat kelas bawah. 

Apa yang dilakukan kaum feminis, sama persis dengan apa yang dilakukan oleh kaum komunis. Kaum Feminis ingin melihat tidak ada perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Kaum feminis tidak ingin melihat peran laki-laki lebih superior dari perempuan. Selama ini DIANGGAP peran laki-laki lebih dominan dari pada peran perempuan. Menurut kaum feminis kondisi seperti ini tidak adil dan cenderung merendahkan kaum perempuan. Kondisi ini harus diakhiri dengan mendudukan perempuan sama perannya dengan kaum laki-laki.

Ide kaum feminis memang sama menariknya dengan ide kaum komunis. Ide kaum feminis banyak menarik simpati kaum perempuan karena idenya dinilai akan membela kaum perempuan dari keterpurukan. Banyak juga kaum laki-laki yang mengamini ide kaum feminisme ini. Padahal ide kaum feminis sama merusaknya dengan ide kaum komunis. Sama halnya gerakan komunis, gerakan feminis telah menimbulkan konflik berkepanjangan di dalam masyarakat terkecil yaitu keluarga.

Gerakan komunis yang menginginkan kehidupan tanpa kelas telah menimbulkan konflik antara kelas bawah dan kelas atas. Konflik inilah yang telah menjadi penyebab negara tidak pernah damai. Di Indonesia gerakan komunis telah menimbulkan konflik-konflik berdarah antara lain pemberontakan PKI Madiun 1948, dan Pemberontakan G 30 S/PKI 1965. Penyerobotan tanah milik  haji tuan tanah, pembunuhan terhadap birokrat, menjadi konflik berkepanjangan antara kelas atas dan bawah di bawah gerakan komunis.

Jika gerakan kaum komunis akan menimbulkan konflik antara masyarakat kelas atas dengan kelas bawah, sama halnya dengan gerakan kaum feminis yang akan menimbulkan konflik antara ibu (istri) dan ayah (suami) dalam kehidupan keluarga. Maka, gerakan feminis sedang menciptakan konflik berkepanjangan dalam kehidupan keluarga, agar kesejahteraan, kedamianan keluarga hilang. Dari keluarga-keluarga konflik inilah akan lahir generasi-generasi tidak berkualitas karena dibesarkan dalam konflik. Maka dari itu gerakan feminisme jauh lebih berbahaya dari gerakan kaum komunis, karena kaum feminis sedang merendahkan kualitas umat manusia melalui lembaga primer yaitu keluarga.

Penulis memandang, isu persamaan gender yang diusung kaum feminis sama dengan isu gerakan persamaan kelas yang diusung oleh kaum komunis. Dalam teori sosiologi kedudukan dan peran tidak dapat dipisahkan. Setiap kedudukan pasti memiliki peran, dan setiap peran akan berkaitan dengan kedudukan, dan setiap kedudukan pasti memiliki tingkatan. Fakta umum (hukum) bahwa setiap kelompok pasti akan memiliki tingkatan, kedudukan, dan peran. Berlakunya tingkatan dalam kehidupan bukan untuk merendahkan kedudukan satu dan kedudukan yang lain tetapi sebagai alat untuk berbagi peran.

Talcot Parson seorang sosiolog sekuler, setuju bahwa dalam setiap kelompok masyarakat dibutuhkan kepemimpinan, yang konsekuensi logisnya akan melahirkan tingkatan dan peran. Ajaran Islam pun mengajarkan, jika ada tiga orang bepergian hendaknya diangkat satu orang pemimpin. Kesamaan teori sosiologi sekuler dengan ajaran agama bukan kebetulan, tapi begitulah ketentuan sesungguhnya, bahwa dalam setiap kelompok masyarakat harus ada pemimpin yang konsekuensinya akan menjadikan perbedaan kedudukan.

Pemimpin, selain berada di kedudukan tertinggi, juga memiliki peran yaitu sebagai pengambil keputusan. Bisa dibayangkan sebuah kelompok tanpa pemimpin, akan terjadi kekacauan. Semua orang akan berjalan masing-masing karena memiliki peran sebagai pengambil keputusan. Kondisi seperti inilah yang sedang mengancam kehidupan keluarga kita, suami (laki-laki) dan istri (perempuan) tidak akan ada lagi kekompakkan dalam membina keluarga harmonis dan sejahtera. 

Hal yang paling berbahaya dari gerakan kaum feminisme adalah gerakan ini telah mengajak kaum perempuan untuk menjadi pembangkang kepada ketetapan Tuhan. Dan inilah firman Tuhan yang pasti, bacalah dengan logika mu.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),..” (An nisaa:34)
Jika kita lihat kebanyakan kaum perempuan lebih banyak bekerja di dalam rumah mengurus anak, dan mengeola rumah tangga, bukan berarti kedudukan perempuan lebih rendah, tetapi sebagai bentuk pembagian peran. Dan perempuan itu bukan di sama tinggikan kedudukannya dengan laki-laki tapi dimuliakan.

Salam sukses dengan logika Tuhan, follow me @logika_Tuhan

Monday, August 19, 2013

DOSA PENGHAMBAT REJEKI ANDA

Oleh: Muhammad Plato

Dalam tulisan yang telah lalu, saya sudah jelaskan bahwa dengan banyak beristigfar kita akan mendapatkan minimal tiga manfaat yaitu dilepaskan dari rasa duka, keluar dari kesempitan dengan diberi solusi dan rejeki tak diduga-duga.

Saat ini saya akan menejelaskan mengapa dengan memperbanyak istigfar kita akan mendapatkan tiga manfaat sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad saw. Bismillahirrohmanirrhohim.... ya Allah limpahkanlah ilmu Mu kepada kami.


Tidak ada manusia yang tidak berbuat dosa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, “Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat”. (HR. Addarami).

Oleh karena itu, manusia tidak mungkin lepas dari dosa, maka Tuhan memberikan kemurahan dengan selalu menerima taubat manusia setiap saat. Salah satu bentuk pertobatan yang paling sederhana jika melakukan dosa adalah dengan membaca istigfar (mohon ampun kepada Allah) di saat melakukan dosa.

Kaitannya dengan rejeki, secara umum dapat disimpulkan bahwa hal yang menghalangi datangnya rejeki adalah dosa-dosa yang kita lakukan. Sebagaimana dijelaskan dalam teori gravitasi manusia (lih: Al Isra ayat 7), Dosa-dosa yang kita lakukan akan menarik balasan dosa dalam bentuk hal-hal yang tidak kita inginkan (keburukan). Untuk itulah semakin banyak dosa, semakin sulit mendapatkan apa yang kita inginkan, sebaliknya semakin sedikit dosa, semakin mudah mendapatkan apa-apa yang kita inginkan.

Maka dari itu kalau mau berhasil dan hidup sejahtera jangan anggap enteng dosa, sebab semakin banyak dosa maka Anda akan jatuh miskin. Dan orang-orang miskin itu adalah orang-orang yang banyak dosa. Dosa orang miskin adalah dia tidak bermanfaat bagi orang lain. Padahal sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat bagi banyak orang. Coba saja dia bermanfaat bagi orang lain, tentu tidak akan miskin.

Dosa bisa kita lakukan secara sengaja (sadar) dan tidak sengaja (tidak sadar). Dosa yang sadar kita lakukan bisa kita insyafi, dengan beristigfar, tetapi dosa yang tidak sadar kita lakukan jarang kita insyafi. Dosa besar maupun kecil jika tidak terinsyafi sama-sama berbahaya bagi kesejahteraan hidup kita.

Saya ambil umpama, dosa besar yang kita lakukan, ibarat gunung yang menjulang tinggi sedang menghalangi rejeki-rejeki besar yang akan kita dapatkan. Dan dosa kecil yang kita lakukan ibarat kerikil dalam sepatu yang mengahalangi datangnya kesejahteraan hidup kepada kita. Kerikil itu kecil tapi menjengkelkan dan bisa berakibat fatal.

Jangan anggap enteng dosa kecil, sebab jika dosa itu dilakukan terus menerus akan menjadi dosa besar. “Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus.” (HR. Ath-Thabrani)

Kawan-kawan ini teori hidup sejahtera dari Nabi Muhammad saw, dan sumbernya dari Tuhan. Teori-teori hidup yang tidak mendekatkan diri kepada Tuhan, sebetulnya mubazir kita lakukan. Marilah kita sama-sama buktikan teori-teori hidup dari Tuhan agar kita bisa lebih yakin terhadap kekuasaan dan kehendak Tuhan.

Untuk menghapus dosa besar dan kecil, disengaja maupun tidak disengaja, perbanyaklah istigfar. Orang-orang yang bertaubat dengan memperbanyak istigfar akan terbebas dari dosanya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, “Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa.” (HR. Ath-Thabrani).

Jika sudah tidak menyandang dosa, maka rejeki, cita-cita, kesejahteraan, akan mudah kita dapatkan. Dengan istigfar dosa besar yang umpama gunung, dan dosa kecil yang seperti kerikil akan disingkirkan, dan rejeki Anda dengan mulus datang menghampiri. Buktikan saja AGAR KAMU MENJADI ORANG-ORANG YANG YAKIN.

Selamat sukses dengan logika Tuhan. Follow me @logika_Tuhan