Saturday, February 2, 2019

LOGIKA SUPRA RASIONAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sedikit-sedikit para pemikir Qur’ani sudah bermunculan, antara lain, Dr. Moh Sholeh membuktikan secara empiris hadis Nabi Muhammad saw, tentang efek tahajud kepada kesehatan.  Dr. Hidayat Nataadmadja, menemukan intelegensi spiritual, software berpikir yang bersumber dari kitab suci Al-qur’an. Prof. Dr. KH. Fahmi Basya, menemukan rumus matematika Islam, yang berhasil menemukan konstruktsi pesawat luar angkasa dan rumus kecepatan cahaya. Prof. Dr. Taufiq Pasiak, M.Pd. M.Kes, menemukan konstruksi otak manusia dengan rujukan hadis dan Al-Qur’an. Toto Suharya, menemukan konstruksi berpikir logika tuhan, logika sebab akibat dengan panduan Al-Qur’an.

Nataatmadja (2001, hlm. xxxiv-xxxv) menjelaskan sebentar lagi Anda akan melihat “cahaya yang terang benderang”. Ya. Itulah Al-Qur’an yang menerangi Anda dalam suatu kehidupan yang sama sekali baru, sebagaimana matahari menerangi bumi. Di awali dengan hijrah dari logika Aristoteles sebagai ilmu berpikir ke ilmu berpikir Qur’ani, dari intelegeni sekuler ke intelegensi ukhrawi, dan dari intelegensi digital, intelegensi artifisial, intelegensi rasional, ke intelegensi Fithriah, intelegensi spiritual. Inilah yang disebut dengan revolusi cara berpikir, membangun “the grand theory of science” yang baru, yang bukan lagi berpijak pada “Philosopiae Naturalis Principia Mathematica Newton” melainkan berpijak pada “Philosophiae Supra Naturalis Principia Meta Mathematica”.

Pada intinya cahaya terang benderang Al-Qur’an itu akan dirasakan oleh umat manusia manakala Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber dasar pengembangan paradigma berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Revolusi menuju paradigma berpikir Qur’ani bukan semata untuk sekelompok manusia dalam hal ini umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia bahkan alam semesta.

Tokoh-tokoh ilmuwan Barat, mulai merasakan kerancuan berpikir rasionalisme dan sekulerisme yang sudah mendominasi pola pikir masyarakat. Fritjop Capra dalam bukunya The Turning Point, sudah menemukan paradigma baru bahwa benda-benda bermakna jika saling berhubungan bukan terpisah-pisah. Setiap benda sebenarnya saling berhubungan. Bagi penulis proses saling berhubungan inilah yang menghasilkan kreativitas alam tanpa batas. Proses saling berhubungan ini, bisa kita amati di alam dan bisa kita temukan dalam buku panduan alam untuk memahami alam semesta kitab suci AL-Qur’an.

Renungan Bertrand Russell,  “manusia yang paling rasional itu adalah manusia di daerah tropis, yang dengan sabar duduk di bawah pohon pisang menunggu buah jatuh ke mulutnya”. Renungan Edward De Bono, “saya ragu, apakah teknologi roda diketemukan melalui jalur logika”. (Nataatmadja, 2001, hlm. 4). Kedua filsuf ini sudah mendeteksi adanya kekuatan di luar kekuatan rasional yaitu kekuatan supra rasional. Pola berpikir supra rasional berlaku sesuai dengan ketentuan Tuhan, dengan bermilyaran variasi sesuai dengan kemampuan seseorang dalam memahaminya.   
Sederhananya kemampuan berpikir supra rasional adalah kemampuan berpikir yang tidak mengandalkan kemampuan logika material, tetapi mengandalkan pada logika spiritual. Logika ini telah dipraktekkan oleh para Nabi, dan pengikutnya. Mereka hidup dengan mengandalkan pada logika supra rasional yang diajarkan oleh Tuhan.

Logika supra rasional bersifat baku, dapat diamati dalam dalam kehidupan semesta, dan berlaku dalam berbagai macam variasi kehidupan. Logika supra rasional yang baku, bisa dipahami dalam kejadian sederhana sampai pada tingkat kejadian kompleks. Hukum-hukumnya baku, tidak mengalami perubahan, yang berubah hanya objek atau kondisinya.

LOGIKA SUPRA RASIONAL BERSUMBER PADA PETUNJUK TUHAN 
Logika supra rasional adalah pola berpikir para nabi yang menerahkan segala ketentuan kepada penentu kehidupan. Berpikir mengikuti panduan Tuhan, mengembangkan dan mengolahnya tidak keluar dari ketentuan Tuhan. Pola berpikir supra rasional dirancang oleh Tuhan untuk membawa manusia pada kehidupan damai, sejahteran dunia sampai tembus akhirat.

Contoh pola pikir supra rasional bisa dilihat dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Kita harus berterimakasih pada ulama-ulama besar dahulu yang telah melakukan penelitian dan seleksi ketat, dan mengumpulkan sunnah Nabi Muhammad dalam berbagai aspek kehidupan. Sekian dulu pejelasan saya, semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer logika Tuhan).

Sunday, January 13, 2019

SEJARAH SPIRITUAL GUNUNG

OLEH: MUHAMMAD PLATO


Sejarah adalah pekerjaan mental manusia, tidak satu orang pun pernah kembali ke masa lalu dan menulis sejarah. Kejadian yang terjadi di masa lalu diungkap melalui penfasiran para sejarawan. Menulis sejarah merupakan kegiatan intelektual. (Veyne, 1971:71; Tosh, 1985:94, Sjamsuddin, 2012:99). Atas dasar itulah sejarah ada dalam alam pikiran manusia. Sekalipun sejarah diungkap berdasarkan fakta, tidak akan ada satu tafsir pun yang dapat membuktikan kembali bahwa kejadian itu benar-benar seperti apa terjadi. Taufik Abdullah mengatakan, “sejarah yang benar-benar terjadi adalah sejarah yang tak pernah terungkap”.

Melalui ketetapan-Nya manusia sebagai makhluk penafsir, diberi ruang untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam setiap kejadian. Penafsiran spiritual telah mewarnai penulisan sejarah, berangkat dari manusia sebagai makhluk spiritual ciptaan Tuhan. Bagi Hegel (1770-1831) sejarah adalah ungkapan kesadaran diri yang merdeka dalam jiwa manusia. Beliau magambil contoh orang-orang Jerman setelah reformasi, diciptakan Tuhan dengan tugas suci membawakan kemerdekaan kepada kemanusiaan. 
PERMINTAAN MELIHAT TUHAN DI DUNIA ADALAH PERBUATAN DOSA
Seyogyanya fenomena gunung meletus bisa dipahami melalui sejarah dengan tafsir spiritual melalui fakta sejarah yang ada dalam kitab suci. Tujuannya sebagai wahana dalam memaknai kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia. Siddiqi (1975:4) berpendapat kitab suci (Al-Qur’an) di dalamnya terdapat kisah-kisah, yang menjelaskan nilai-nilai hidup untuk umat manusia.

“…berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al Araaf, 7:143)

Dari kisah Musa as. dalam Al-Qur’an, dikabarkan bagaimana gunung hancur (meletus). Gunung meletus digambarkan sebagai akibat penampakkan Tuhan terhadap gunung. Pesannya adalah ketika gunung telah hancur, Musa as. jatuh pingsan, tersadar kembali dan bertobat.

Mengapa Nabi Musa bertobat? Jika Musa as. bertobat, maka sebelumnya Musa as. telah melakukan kesalahan. Tapi, apakah sebenarnya keselahatan Nabi Musa? Dari mana kita bisa menemukan jawabannya?  Dari pemikiran para ulama, Al-Qur’an saling menjelaskan ayat, dengan ayat, surat dengan surat, kalimat dengan kalimat. (Aziz, 2012: 107-109). Untuk memahami apa kesalahan Nabi Musa as, bisa kita lihat keterkaitannya dengan ayat lain yang berbicara fakta tentang Nabi Musa as.

Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta". (Al Qashshas, 28:38).

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kedzaliman. (Al Furqan, 25:21).

Dari dua ayat di atas, bisa ditemukan bahwa kesalahan Musa as. berkaitan dengan keinginan untuk melihat Tuhan. Musa as. telah terbawa alam pikiran para penyembah berhala, yang bisa melihat tuhannya. Orang-orang yang ingin melihat Tuhan, adalah mereka yang sudah terjebak kehidupan duniawi (material), seperti Fir’aun dan kaum musyrikin. Mereka sombong karena memandang dirinya penguasa, sehingga menyepelekan keberadaan Tuhan. Mereka sulit percaya adanya Tuhan jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Inilah kesesatan, kerendahan, dan kesalahan nyata dari manusia yang merasa dirinya berkuasa. Maka, setelah sadar atas kekhilafannya bahwa melihat Tuhan adalah perbuatan Fir’aun dan kaum tersesat, Musa as. bertobat.

Kejadian hancurnya gunung pada kisah Nabi Musa, jika dikaitkan dengan peristiwa gunung meletus saat ini, apakah fenomenanya sama? Manusia memang tidak minta melihat Tuhan seperti Musa as, dan Fir’aun serta kaum kafir. Tetapi tidak kah kita berpikir, bahwa dalam kehidupan kita, seolah-olah kita menantang Tuhan untuk menampakkan diri? Sudah diperintahkan jangan berpecah belah dan saling cemooh, kita bertengkar dan saling merendahkan. Sudah diperintahkan jauhi zina, kita ciptakan fasilitas-fasilitas mendekati zina. Suburkanlah sedekah dan jauhi riba, kita beraktivitas terus dengan riba. Makanlah makanan halal, kita makan dari hasil kegiatan haram.

Hakikinya, kejadian gunung meletus adalah tanda kita harus bertobat sepeti Nabi Musa as. karena Tuhan telah menampakkan diri kepada gunung, dan memberi pesan kepada kita untuk segera memperbaiki akhlak. Kita sudah tersesat dan melampaui batas, tidak percaya Tuhan Yang Esa hanya karena Tuhan tidak terlihat. Kita telah kafir kepada Tuhan, mengabaikan perintah-perintah-Nya.

Begitulah tafsir sejarah spiritual gunung untuk kehidupan manusia. Betapa indahnya Tuhan mengemas kejadian-kejadian dengan pesan-pesan agung dibelakangnya. Sungguh kita termasuk orang-orang yang diberi nikmat jika kita bisa belajar mengenal Tuhan lebih dekat dari segala kejadian. Wallahu ‘alam
PENULIS MASTER LOGIKA TUHAN

DUA MASA DI DUNIA

Oleh : Muhammad Plato

Manusia akan mengalami dua masa, sulit-sukar, sedih-senang, gelap-terang, binasa-teguh, malam-siang, sempit-lapang, benci-cinta, yin-yang, mati-hidup, aku-kamu. Inilah dua gelombang hidup yang akan terus bergantian variasi nama pasangan sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an.

Dua kutub kehidupan, bergerak dinamis mengalami pergantian membentuk keseimbangan. Romantika perjalanan hidup manusia sederhana, tidak akan lepas dari dua kutub atau romantika kehidupan seperti yang telah ditetapkan. Manusia kadang lucu, kadang berlebihan. Ada yang sekuat tenaga menolak keburukan, dengan membangun pertahanan lahir dan batin, padahal keburukan tidak akan absen menimpa jalan hidupnya. Ada juga manusia yang mengejar-ngejar kesenangan sekuat tenaga gunakan kekuatan lahir batin, padahal kesenangan akan menimpa setiap manusia.

Dalam sebuah negara, setiap manusia akan mengalami dua masa, ada kalanya orang-orang yang mengingkari kebenaran merasa berkuasa, dan ada kalanya orang-orang yang ada di atas kebenaran diberi kekuasaan.  Dua gerak gelombang yang dialami manusia seperti gerak pergantian masa  di  Mekkah dan Madinah yang dialami oleh Rasulullah saw. 

ADA MASANYA TANAH ITU KERING DAN ADA MASANYA TANAH ITU HIJAU. DEMIKIAN HIDUP MANUSIA TIDAK AKAN LEBIH. SANTAI SAJA BEKERJA SEWAJARNYA BERANGKAT PAGI PULANG YA SORE.
Masa Mekkah yaitu masa pengakuan diri sebagai penegak kebenaran, “Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah” (Al Kafirun, 109:2). Pada masa ini orang-orang yang ada di atas kebenaran berada di bawah hegemoni orang-orang yang mengingkari kebenaran. Pada masa ini orang-orang yang ada di atas kebenaran, mendapat tekanan, diskriminasi dan penganiayaan. Masa peneguhan diri adalah masa berbahaya dan sangat mengancam keberadaan jiwa para pembawa kebenaran. Masa ini berada di bawah kontrol kekuasaan orang-orang yang mengingkari kebenaran. Masa kekuasaan orang-orang yang mengingkari kebenaran ditandai dengan angka genap pada nomor ayat. Genap adalah kode untuk kehidupan dunia ciptaan Tuhan.

Kekuasaan orang-orang yang mengingkari kebenaran, ditandai dengan kekejaman, ancaman, kejahiliyahan,  dan pelanggaran-pelanggaran terhadap hak kemanusiaan. Kekuasaan ditegakkan dengan kekuatan fisik dan menciptakan teror. Kesenangan dan kebenaran dikamuflase melalui kegiatan-kegiatan material yang indah di pandang mata.   

Setelah sekian masa, Allah Yang Masa Penggerak, mengubah keadaan dari masa pengakuan  diri, menjadi masa peneguhan. “Dan kamu tidak akan menyembah Tuhan yang aku sembah”. (Al Kafirun, 109:3). Pada masa ini orang-orang yang berada di atas kebenaran diberi kedudukan dan menguasai orang-orang yang ingkar terhadap kebenaran. Kekuasaan ditegakkan dengan dasar keadilan seperti matahari menyinari semua isi bumi tanpa melihat perbedaan. Hak semua makhluk hidup, tanpa melihat jenis, ras, suku, bangsa, negara, warna, dan agama, maka hak itu harus dijamin oleh kekuasaan. Di bawah kekuasaan para penegak kebenaran, semua hak makhluk hidup yang dijamin Allah, akan dijamin di bawah aturan kekuasaannya. Rasa damai dan sejahtera adalah kondisi yang harus terlebih dahulu diciptakan dalam kekuasaan para penegak kebenaran.

Masa kekuasaan penegak kebenaran ditandai dengan suka cita dari semua kalangan. Kekuasaannya tidak menjadi ancaman dan teror bagi siapapun. Persis seperti Nabi pertama kali menaklukkan Mekkah. Komitmen yang di bangun adalah tidak ada darah setetes pun yang ditumpahkan, dan semua yang ada dibalik pintu diampuni dan dilindungi keamanannya oleh kekuasaan. Hadirnya kekuasaan para penegak kebenaran disambut dengan suka cita dan derai air mata bahagia.

Kemudian, Allah Yang Masa Penggerak akan kembali mendatangkan kembali penguasa dari orang-orang yang mengingkari kebenaran. “Dan aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah” (Al Kafirun, 109:4). Kode angkanya ayatnya genap. Para penegak kebenaran akan kembali mengalami masa-masa pahit dalam menegakkan kebenaran.

Maha Penggerak Allah, mengubah kembali keadaan dengan meneguhkan kembali kekuasaan para pembawa kebenaran. “Dan kamu tidak akan menyembah Tuhan yang aku sembah”. (Al Kafirun, 109:5). Kode angkanya ganjil. Dunia kembali dihiasi dengan kedamaian.

Allah telah memberikan petunjuk agar orang-orang yang berkomitmen membawa kebenaran di dunia, harus berada di jalan yang lurus. Jalan lurus itu adalah “untuk kamu agama mu, dan untuk ku agama ku” (Al-kafirun, 109:6). Kode angkanya genap. Kekuasaan akan berakhir berada di tangan para penegak kebenaran. Kekuasaan di bangun dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan, semua orang dijamin hak-hak hidupnya di bawah kekuasaan orang-orang pembawa kebenaran dengan prinsip negara menjamin apa yang kamu lakukan dengan damai dan sejahtera. Inilah kondisi ideal kehidupan dunia.

Setelah itu, yang dinanti manusia pembawa kebenaran adalah kiamat, masa pengadilan Tuhan yang akan mengadili setiap perbuatan manusia. Pada masa pengadilan Tuhan, tidak ada lagi toleransi untuk mu agama mu, dan untuk ku agama ku. Para pengingkar kebanaran akan mendapat teror, dan siksaan pedih. Para pembawa kebenaran akan bersenang-senang sepuasnya menikamati keberhasilan. Masa pengadilan Tuhan akan terjadi setelah manusia mati dan dibangkitkan kembali untuk diadili.

Salam sejahtera untuk kalian semua. Sekarang kita ada di masa yang mana? Semua terserah kepada Anda. Setiap orang berhak menentukan sekarang ada di masa yang mana. Saya tidak mau berargmuentasi sedang berada di masa yang  mana sekarang. Hanya saja, saya berusaha mengutarakan pemikiran tentang  gerak dua masa dalam hidup manusia. Penulis hanya bisa memastikan bahwa kekuasaan di dunia akan berakhir di tangan para penegak kebenaran. Perihal kelompok dan orangnya silhkan beri kesimpulan masing-masing. Saya tidak tahu dan Allah Maha Mengetahui. Dua masa dialami oleh kehidupan saya pribadi, dan pasti juga anda.

(penulis master @logika tuhan)


Wednesday, December 26, 2018

PENAMPAKKAN DI GUNUNG KRAKATAU

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejarah mencatat bahwa tahun 2010, gunung Merapi sebagai gunung teraktif di dunia memuntahkan isi perutnya ke bagian wilayah Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Awan panas (wedhus gembel) membakar ladang-ladang dan rumah-rumah warga. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri, takdir hidupnya berakhir oleh sengatan awan panas ribuan derajat celcius. Abu ledakan Gunung Merapi berterbangan menjangkau radius 500 KM ke bagian barat pula Jawa.

Baru saja lepas dari bencana gunung Merapi, di akhir penghujung tahun 2010, gunung Bromo di Jawa Timur menunjukkan aktivitasnya menyemburkan abu vulkanik. Walaupun letusannya tidak sedahsyat letusan gunung Merapi, abu vulaknik yang disemburkan gunung Bromo merubuhkan rumah dan menutupi tanaman-tanaman milik para petani hingga tidak bias produksi. Abu yang dihasilkan dari letusan gunung Bromo merugikan para petani karena gagal panen dan pasokan kebutuhan bahan pokok menjadi terhambat, harga-harga barang melambung tinggi.

GUNUNG KRAKATAU MELETUS KARENA TUHAN MENAMPAKKAN DIRI KEPADA GUNUNG
Sejarah telah mencatat, tahun 1883 telah terjadi letusan dahsyat gunung Krakatau, yang menyebabkan ribuan orang jatuh korban. Akibat bencana meletusnya gunung Kratakatau, masyarakat Banten sangat terkena dampakanya. Sawah-sawah mereka hilang menjadi gersang akibat letusan abu vulkanik gunung Krakatau. Hampir 200.000 nyawa melayang, wabah penyakit, dan hewan-hewan mati terserang penyakit. Kondisi ini membuat masyarakat Banten hidup dalam kesengsaraan. (Kartodirdjo, 2015).

Sejarah gunung krakatau berulang, akhir tahun 2018, anak gunung Krakatau meletus menyebabkan tsunami dan memakan korban ratusan orang. Tsunami terjadi tiba-tiba, disaat orang-orang sedang lengah. Tsunami akibat letusan gunung Krakatau bergerak tidak terdeteksi.

Dalam sejarah spiritual, gunung membawa  pesan untuk manusia. Pesan itu bisa kita tangkap dari fakta sejarah di dalam kitab suci Al-Qur’an, “Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan”. (Al A’raaf:143). Dari fakta ini, kita pahami bahwa letusan gunung disebabkan oleh penampakkan Tuhan kepada gunung, lalu gunung hancur (meletus) meluluhlantakkan segala apa yang ada di permukaan bumi. Manusia yang menyaksikan dan merasakan dahsyatnya letusan gunung, meratap memohon ampun kepada Tuhan. 

Lalu apa sebab Tuhan menampakkan diri kepada gunung? Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”. (Ibrahim:46). Makar-makar manusia menyebabkan gunung hancur, dan memberi pesan kepada manusia agar kembali ke jalan benar dan tinggalkan segala perbuatan buruk.

Gunung punya ikatan kuat dengan kehidupan masyarakat. Dalam adat Jawa dan Sunda, gunung selalu dikaitkan dengan tempat-tempat suci. Pada kenyataannya banyak gunung yang dijadikan tempat suci. Di lingkungan masyarakat Jawa banyak dikenal tempat-tempat suci berkaitan dengan gunung seperti Gunung Kawi, Gunung Kemukus, dan Gunung Merapi. Walaupun berbau mitos dan kadang ada perbuatan syirik di dalamnya, dibalik penyucian gunung sebenarnya ada pesan spiritual yang sering tidak tersampaikan. Pesannya adalah gunung mewakili dari seluruh alam semesta yang harus kita rawat dan jaga kelestariannya untuk kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia. Gunung makhluk suci berfungsi sebagai pertanda, tempat atau media komunikasi antara manusia dengan Tuhan.

Untuk kelangsungan hidup manusia, gunung memiliki fungsi sebagai rumah tempat berlindung, (Al Araaf:74); sumber penghidupan, (Ar ra’d:3); sumber air, (An naml:61), pertahanan kemanan, (Thaahaa:80); menahan goncangan dan tempat berkembang biaknya segala jenis binatang (Lukman:10).

Meletusnya Gunung dapat kita renungi sebagai tanda manusia telah melampaui batas, dan harus kembali memperbaiki diri. Meletusnya Gunung adalah tanda bahwa Tuhan itu ada, menyaksikan dan memiliki ketentuan pasti. Tuhan telah menampakkan diri kepada gunung, untuk menyampaikan pesan, kembalilah kepada Tuhan mu agar hidup mu sejahtera. 

Lalu mengapa Tuhan menampakkan diri kepada gunung? Budaya hedonis, gila kekuasaan, pergaulan bebas, peredaran narkoba, prostitusi kekuasaan, pencemaran dan kerusakan lingkungan, telah menjadi kebiasaan. Kita telah bertindak sekehendak hati dan telah mengabaikan eksistensi Tuhan. Prilaku ini telah membuat gunung bereaksi takut kepada Tuhan.

Para leluhur  menyucikan gunung, bukanlah akal-akalan agar manusia berlindung kepada gunung. Penyucian gunung adalah cara orang-orang terdahulu, agar manusia menghargai dan menjaga keseimbangan alam untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan umat manusia. Terpeliharanya gunung dapat menjadi pertanda terpeliharanya kesejahteraan hidup manusia. Memperbaiki diri, dengan berikap jujur, adil, amanah, adalah cara manusia memelihara gunung dari kehancuran.

Nabi Muhammad SAW, diutus untuk menyempurnakan agama, agar ajaran-ajaran yang dibawa turun temurun dari para leluhur tidak jadi sumber penyimpangan. Untuk itu, sesuai dengan kemampuan berpikir manusia, Nabi Muhammad SAW diberi mukjizat Al-Qur’an sebagai al-Furqon, untuk membedakan mana yang benar dan salah.

Mitos adalah cara orang-orang terdahulu menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia. Kini, zaman sudah berubah, ajaran-ajaran berbau mitos telah digeser dengan ajaran-ajaran yang bisa dijangkau oleh akal. Untuk itu, kitab suci Al-Qur’an diturunkan supaya dibaca, dipahami dengan akal dan pikiran manusia. Jika tidak, akan banyak manusia berpaling dari ajaran-ajaran Tuhan terjebak di dunia mitos, berbuat makar dan mengabaikan eksistensi Tuhan.  Mari, bertobatlah seperti Nabi Musa as. dan akhiri perbuatan makar itu. Wallahu ‘alam.

Master Trainer logika tuhan

Saturday, December 22, 2018

ILMU NAFSIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Salah satu bukti manusia berpikir adalah setiap hari manusia menafsir, setiap apa yang diindera. Ketika panca indera berfungsi, maka pengetahuan akan masuk ke memori dan diolah oleh otak untuk kemudian menghasilkan pengetahuan baru sebagai hasil sintesa. Proses sintesa pengetahuan adalah kegiatan otak berpikir, mengolah pengetahuan yang masuk ke memori.

Praktek pengolahan pengetahuan dalam otak, dilakukan oleh setiap orang. Praktek pengolahan pengetahuan (berpikir) ini ada yang disadari ada yang tidak. Hasil dari proses berpikir yang bisa diamati dari luar adalah penafsiran yang dikemukakan dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika demikian, pembicaraan yang kita utarakan, setiap kali bicara adalah hasil berpikir berupa penafsiran. Tafsiran dalam bentuk obrolan sehari-hari adalah hasil pemikiran reflek yang tidak dalam kontrol kesadaran. Bisa ditarik kesimpulan bahwa obrolan sehari-hari manusia adalah tafsir tingkat rendah yang tidak mengeluarkan seluruh energi kesadaran sebagai bukti nyata manusia berpikir. 

Manusia adalah Makhluk Penafsir. Ilmu Dasar Manafsir adalah Berprasangka Baik.

Tafsir tingkat tinggi adalah hasil pemikiran yang direncanakan untuk mendapat pengetahuan bermanfaat bagi kehidupan. Pembicaraan berkualitas di bawah kontrol kesadaran dilandasi oleh ilmu pengetahuan didukung oleh data dan fakta yang benar. Plato menegaskan bahwa hasil pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena sifatnya berubah-ubah. Sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang memberikan kebenaran kokoh, ia mesti bersumber pada hasil pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang tidak berubah-ubah, hanya bisa datang dari alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut oleh Aristoteles sebagai “alam ide” suatu alam di mana manusia sebelum lahir telah mendapatkan ide bawaan. Bagi Plato alam ide inilah alam realitas, sedangkan alam inderawi bukanlah alam sesungguhnya. (Siraj, 2012, hlm. 24).

Namun demikian tidak semua orang bisa jadi peneliti dan senang meneliti. Sebagaimana statistik masyarakat kita menunjukkan tidak suka membaca, dan minat terhadap ilmu pengetahuan rendah. Budaya ngobrol yang lebih diminati, masyarakat sangat rentan terjebak pada pembicaraan tidak produktif karena sumber pembicaraannya diambil dari data dan fakta yang rendah derajat kebenarannya.

Menghindari pembicaraan kurang produktif, berkaitan dengan memahami ilmu dasar menafsir. Sebagaimana dalam pembelajaran sejarah, menafsir adalah proses pemberian makna pada data atau fakta sejarah. Etika dalam menafsir sekalipun hasilnya bisa baik dan buruk tujuannya tetap harus positif. Kebenaran tafsir salah satunya ditentukan oleh kebenaran data atau fakta yang ditafsir. Jika tafsir dinilai kurang tepat tidak akan bermakna buruk karena kembali kepada data. Tafsir yang baik selain diukur dari kebenaran data atau fakta, juga bias diukur dari tujuan atau niat menafsir. 

Untuk menghindari hal-hal kontroversi dalam penafsiran, dibutuhkan kesepaktan bersama bahwa sebaik-baiknya tafsiran harus membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, bagaimanapun kondisi data dan fakta yang kita miliki. Sebagaimana dalam etika agama, sebaik baik tafsir adalah tafsiran baik terhadap segala kejadian. Setiap tafsir tidak memiliki derajat mutlak sebagai kebenaran. Untuk itulah agar terhindar dari tafsir yang salah, setiap tafsir harus bertujuan dan diupayakan bernilai baik. Maka dari itu, tidak pernah ada tafsir yang salah, jika setiap tafsir selalu di jaga untuk kebaikan umat manusia.

Jika manusia adalah makhluk tukang tafsir, maka ilmu menafsir yang paling dasar, yang harus dipahami semua manusia adalah menafsir untuk tujuan baik. Ilmu dasar dalam menafsir adalah PRASANGKA BAIK, sebagai mana dijelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujuraat, 49:12).

Jauhi prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Jika sebagian prasangka adalah dosa, maka ada sebagian prasangka yang berpahala. Oleh karena itu, “Aku bersama dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia BERPRASANGKA dengan apa yang DIINGINKAN, bukan yang ia risaukan dan khawatirkan”. (Hadis Qudsi). 

Allah absolut pemilik kebaikan, maka Allah bersama orang-orang yang berprasangka baik. Dari dasar inilah lahir dasar ilmu tafsir yang bisa digunakan semua manusia sebagai makhluk tukang tafsir. Maka untuk menghindari kebinasaan, menciptakan kedamaian, tafsirlah semua kejadian menjadi baik, dengan tujuan baik, dan niat baik. Oleh karena kebaikan milik Allah, tidak ada tafsir manusia yang mutlak baik, kecuali setelah diadili oleh Allah di hari pengadilan. Wallahu “alam.

#Master logika tuhan

Friday, December 21, 2018

BATAS BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebebasan adalah kata fantasi dengan abstraksi tinggi, yang sering dikemukakan kepada semua orang tanpa memperhatikan tingkat pendidikan. Padahal kata kebebasan, hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah memiliki kedewasaan dalam berpikir. Kebebasan harus diajarkan kepada anak-anak mengikuti level kemampuan berpikirnya.

Kata kebebasan tidak memiliki arti sebenarnya bebas tanpa batas, kebebasan memiliki arti dalam batasan tanggung jawab seorang individu. Batasan kebebasan Individu memiliki perbedaan, tergantung kepada nilai yang disepakati. Setiap latar belakang suku, bangsa, budaya, agama, memiliki nilai-nilai yang membatasi kebebasan manusia. 

KEBEBASAN BERPIKIR ADALAH MITOS, KARENA MANUSIA TERBATAS
Dewasa ini dominasi nilai-nilai budaya dunia dibatasi oleh budaya rasional, ilmiah, yang bersumber dari pengetahuan alam. Dominasi budaya rasional yang bersumber pada alam disebarkan ke seluruh dunia melalui gelombang teknologi informasi. Kebebasan pemahamannya dimonopoli oleh budaya rasional empiris, dan arti kebebasan adalah kehendak manusia dalam melakukan apa saja di muka bumi ini.

Al-Gazhali menggolongkan manusia menjadi tiga dalam memahami arti nur, yaitu kalangan umum, kalangan khusus, dan kalangan lebih khusus. Nur bagi kalangan awam adalah indera penglihatan, sehingga pengetahuan tidak bisa diketahui oleh orang buta. Namun demikian, tanpa indera penglihatan orang masih bisa mengetahui dengan bantuan akal, sehingga akal lebih pantas untuk disebut nur. Ini adalah definisi nur untuk kalangan khusus. Mata memiliki keterbatasan, tidak bisa melihat dibalik tirai, yang besar terlihat kecil, yang jauh terlihat dekat, yang diam terlihat bergerak, yang bergerak terlihat diam. Oleh karena itu akal lebih layak disebut sebagai nur. Akal tidak memiliki kekurangan seperti mata. Al-Ghazali mengakui bahwa pengakuan akal sebagai sesuatu yang dapat dipercaya dalam mencari kebenaran.

Namun Al-Ghazali mempertanyakan kembali dimana datangnya kepercayaan terhadap akal sebagai sesuatu yang dapat dipercaya. Jika ada dasarnya sesungguhnya itulah yang sesungguhnya yang harus dipercaya, dan Al-Ghazali tidak menemukan dasar itu secara faktual. Ternyata akal bisa keliru. Kekeliruan akal karena ada penutup. Penutup itu adalah khayalan, praduga, dan keyakinan. Manusia sangat sulit keluar dari penutup itu, kecuali setelah mati.

Al-Gazhali tetapi mempercayai akal, akan tetapi kebenaran akal bukan melalui kata-kata dialektis dan logis melainkan melalui nur yang diberikan oleh Allah. Nur itu adalah kunci pengetahuan yang didapat dengan mengosongkan jiwa dari selain Tuhan dan mengisi jiwa dengan ingatan totalitas kepada Allah. Hal inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kesadaran totalitas kepada Allah. Pada tahap inilah kemampuan jiwa meningkat kepada menangkap gambar-gambar dan tanda-tanda pemisalan-pemisalan sampai ke tingkat yang sama sekali tidak dapat digambarkan oleh kata-kata.

Mata menurut Al-Gazhali adalah sarana untuk dapat mengetahui sesuatu. Mata terbagi menjadi dua, yaitu mata inderawi dan mata batin. Mata inderawi melihat zahir yang jangkauannya adalah alam fisik, sedangkan mata batin melihat alam metafisik. Kedua alam ini memiliki hubungan erat seperti kulit dan daging. Untuk melihat alam fisik dibutuhkan cahaya, dan untuk memperoleh cahaya yang lebih tajam harus melakukan berbagai macam usaha atau latihan. Al Gazhali menyimpulkan cahaya adalah sumber pengetahuan, dimana pengetahuan diperoleh melalui indera, akal, dan kalbu. (Siraj, 2012, hlm. 26-27).

Penulis menyimpulkan, cahaya yang dimaksud sebagai sumber pengetahuan adalah kitab suci Al-Qur’an. Sebagaimana kita ketahui pengetahuan yang terdapat dalam Al-Qur’an menyangkut alam fisik dan metafisik. Fakta-fakta dalam Al-Qur’an bisa ditangkap oleh mata, akal, dan kalbu. Sampai saat ini, belum ada persamaan persepsi bahwa Al-Qur’an sebagai cahaya, sumber pengetahuan bagi manusia. Al-Qur’an terlalu disakralkan sehingga manusia terjebak oleh penutup yaitu khayalan, praduga dan keyakinan. Inilah pembatas pikiran manusia, sehingga manusia tidak mampu memahami hakikat kebenaran.

Bagi Calne (2004, hlm. 16), menjelaskan bahwa kekuatan nalar betul-betul merupakan kemampuan manusia yang nyata, jelas, dan tidak boleh tidak bekerja dalam setiap hampir bidang kehidupannya, tetapi nalar tidak bisa memberi tujuan-tujuan yang terkait dengannya. Nalar harus dibela sekuat tenaga terhadap serangan-serangan yang makin keras dewasa ini dari pihak tak nalar, dan sikap mengadalkan nalar untuk menentukan motivasi dan tujuan hidup manusia harus dihindari.

Al-Gazhali dan Calne sama-sama mengakui bahwa nalar ada batasnya. Al-Ghazali mengatakan batas nalar, karena danya penutup berupa khayalan, praduga, dan keyakinan. Sedangkan Calne batasan dari nalar adalah ketidak mampuan menemukan motivasi dan tujuan hidup manusia. Sekalipun pemikir ini berlatar belakang berbeda, tetapi jika kita cermati, sama-sama mengakui bahwa akal punya keterbatasan. Maka dari itu, kebebasan berpikir adalah mitos yang menyihir golongan awam, yang membuat mereka bersikap mengandalkan nalar tanpa batasan. WALLAHU 'ALAM

Master @logika_Tuhan

Thursday, December 6, 2018

PENGETAHUAN ADALAH EKSISTENSI


OLEH: MUHAMMAD PLATO

            Kawan-kawan saya coba jelaskan pemikiran Plato, yang dijelaskan oleh Bertrand Russell. Sebenarnya apa yang dikatakan mereka tentang eksistensi Tuhan, dalam bentuk particular. Filsafat Barat kalau kita pahami bersumber pada Tuhan yang absolut, hanya saja mereka jarang menyebutkan kata Tuhan, karena lebih senang bermain dalam tataran partikular (duniawi). Itu opini saya. Coba kita lihat saja penjelasannya di bawah. Insya Allah tidak akan musyrik, justru kita akan belajar untuk lebih mengenal Tuhan.

Plato berpendapat, “Mereka yang bisa melihat yang absolut, abadi, dan tak berubah bisa dikatakan mengetahui”. Orang yang memiliki pengetahuan berarti memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang eksis, sebab sesuatu yang tidak eksis berarti tidak ada. Jadi pengetahuan tak mungkin salah, sebab secara logis tidak mungkin keliru. Sedangkan opini bisa keliru. Opini tidak mungkin tentang yang tak eksis, sebab itu mustahil; tidak mungkin pula tentang apa yang eksis, sebab ini adalah pengetahuan. (Russell, 2016, hlm.164).

Mungkin sedikit pusing juga memahami makna filosofis penejelasan di atas. Baik saya akan sedikit memberi pemahaman tentang apa beda pengetahuan dengan opini. Eksistensi alam semesta hakikatnya adalah pengetahuan. Muasal dari semua pengetahuan adalah Tuhan. Pengetahuan bersama pemeliharanya yaitu Tuhan. Manusia bukan pemilik pengetahuan, tetapi dia pencari pengetahuan. Manusia-manusia pencinta pengetahuan pada akhirnya akan bermuara kepada Tuhan.

  Setiap opini manusia adalah pasti didasari pengetahuan, tetapi manusia tidak mungkin memahami pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan tidak mungkin keliru, maka yang keliru adalah opini manusia. Pengetahuan dalam opini manusia menjadi objek partikular, karena manusia hidup dalam ruang dan waktu. Sesuatu yang partikular senantiasa mengandung sifat berlawanan.

Analogi lain yang menjelaskan pengetahuan adalah eksitensi, dijelaskan dalam kisah gua dan liang. Mereka yang tidak memiliki pengetahuan diibartakan seorang narapidana (manusia terbatas) berada dalma liang gua. Mereka melihat ke dalam gua, samping kiri kanan dinding gua. Sementara di belakang mereka ada api yang menyala. Mereka hanya bisa melihat bayang bayang dirinya sendiri, serta bayangan benda-benda di belakang mereka, yang dipantulkan pada dinding gua oleh cahaya api.  Mereka menganggap bayang-bayang itu adalah kenyataan, dan dan tak punya pengertian benda-benda yang menjadi sumber bayang-bayang. Pada akhirnya dia akan lolos keluar dari gua menuju dunia terang, dan untuk pertama kalinya dia melihat yang nyata dan sadar bahwa sebelumnya dia tertipu oleh bayang-bayang. Ketika kembali kepada teman-temannya yang masih terjebak dalam gua, kemudian menjelaskan tentang kebenaran, di mata teman-temannya ia akan tampak menjadi lebih bodoh dari sebelum ia bebas. (Russell, 2016, hlm, 170).

Manusia yang hidup di muka bumi, seperti narapidana yang ada dalam gua. Mereka hidup diliang sempit yang gelap gulita. Atas cahaya-Nya mereka bisa melihat benda-benda. Mereka tidak sadar bahwa benda-benda yang dilihat adalah bayang-bayang Nya. Mereka tidak bisa mengenali cahaya dan siapa pemilik bayang-bayang. Mereka akan keluar dari gua ketika mengenali cahaya dan pemilik-Nya. Orang-orang yang sudah mendapat pencerahan (Pemimpin) akan berusaha memperkenalkan siapa pemilik cahaya sebenarnya  kepada mereka yang masih tinggal di dalam gua, tapi yang di dalam gua, mereka kesulitan untuk memahaminya karena pandangan mereka yang kaku. Mereka hanya bisa melihat ke depan akibat rantai yang membelenggunya. Rantai yang membelenggu itu adalah pandangan keduniawian akibat terlalu lama dirantai dalam gua.

Inti dari pemikiran Plato adalah manusia harus cinta pengetahuan. Artinya, Tuhan yang absolut bisa eksis dalam jiwa manusia yang berpengetahuan. Plato ingin menyampaikan kepada manusia bahwa mengetahui yang absolut adalah visi tertinggi bagi perjalanan hidup manusia. Tuhan sebagai pemilik pengetahuan absolut bisa ditemukan oleh manusia yang bisa keluar dari liang gua, dan menyadarinya bahwa manusia tidak bisa menemukan kebenaran tanpa bantuan dari Sang Pemilik Pengetahuan. Untuk itulah, Tuhan menurunkan manusia yang telah memiliki pencerahan, berjiwa pemimpin, untuk membimbing manusia ke pada cahaya Tuhan.

Sayang manusia-manusia sudah banyak terjebak di lubang gua dan lehernya sudah terbelenggu oleh rantai sehingga pandangannya tidak fleksibel dan hanya melihat satu arah ke arah bayang-bayang mereka sendiri dan benda-benda yang ada di belakangnya. Para pemimpin (yaitu Nabi), yang membawa pengetahuan (pencerahan) dari Tuhan, dianggap orang-orang bodoh dan lebih bodoh dari mereka. Maka dari itu pesan dari Tuhan, Para Nabi, dan Plato, manusia harus bisa melihat yang absolut dan abadi dengan terus menggali pengetahuan. Wallahu’alam.  
(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Friday, November 9, 2018

NABI MUHAMMAD PATAH HATI?

OLEH: MUHAMMAD PLATO
Menyimak diskusi lintas agama, ternyata hal yang menjadi permasalahan dari non muslim, adalah mereka tidak yakin bahwa kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu. Dengan demikian mereka tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad saw sebagai Nabi. Padahal jika mereka membaca sejarah, hanya Nabi Muhammad saw yang sampai sekarang jejak-jejak kenabiannya masih terekam dalam catatan sejarah. Bukti-bukti peninggalan, tempat, waktu, Kenabian Nabi Muhammad saw sampai sekarang masih terekam.

Untuk itulah, saya memohon kepada pemerintah Arab Saudi, untuk mempertahankan situs-situs sejarah kenabian Nabi Muhammad saw. biarkan tempat, benda itu ikut menjadi saksi kenabian Nabi Muhammad saw. Kita harus kasihan, karena ada orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi, mereka sulit percaya jika tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri. Siapa tahu, dengan menjaga situs-situs dan benda-benda bersejarah itu, orang-orang yang sudah terjebak dengan kebenaran materi bisa mengenal Nabi Muhammad saw dan mendapat hidayah. Kita harus menolong mereka dengan memperkenalkan Islam dan siapa Tuhannya.

Dari 25 Nabi yang pernah diutus Allah, didalamnya termasuk Nabi yang diutus kepada orang Yahudi dan Nasrani. Cerita kehidupan Nabi Muhammad sejak lahir sampai meninggal, dibanding dengan nabi-nabi sebelumnya, ceritanya  tergolong sangat lengkap masih terekam. Untuk itulah untuk kehidupan pada abad sekarang kisah Nabi Muhammad saw, jika kita teliti banyak menginspirasi dan menjadi contoh teladan untuk umat manusia di zaman sekarang.
Diceritakan dalam kisah Nabi Muhammad sebelum kenabiannya, diceritakan dalam sejarah hidupnya berdasarkan hadis dan fakta-fakta silsilah kekeluargaannya, Nabi Muhammad saw menjalani hidup seperti manusia biasa. Beliau bekerja, mengembal kambing, berdagang, layaknya seperti manusia seperti kita menjalani hidup. Beliau kehilanagan ayah, ibu, kakek, paman, dan merasakan kesedihan yang mendalam akibat ditinggalkan orang-orang tercintanya.

Untuk mejaga eksistensinya sebagai pemuda dewasa, Nabi Muhammad saw. mengadu nasib dengan menjadi seorang pedagang. Modal kejujuran yang disandangnya sebagai al-amin, Beliau berhasil menjadi seorang pedagang  sukses dan terpercaya. Kesuksesannya dalam berdagang dan kejujurannya, telah memikat seorang perempuan terhormat dan kaya yaitu Siti Khadijah. Pada usia 25 tahun beliau menikah dengan Siti Khadijah.
Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak, semua anaknya meninggal mendahuluinya. Dua anak laki-lakinya meninggal di saat usianya masih balita. Bisa kita bayangkan bagaimana Nabi Muhammad kehilangan anak laki-laki tercinta, yang pada saat itu dalam budaya Arab, anak laki-laki adalah penjaga eksistensi keluarga. Inilah kisah hidup Nabi Muhammad saw yang betul-betul realistis menyentuh bumi dan kisah hidupnya dapat dialami oleh manusia-manusia biasa yang hidup di zaman sekarang. Untuk itulah Nabi Muhammad saw contoh teladan untuk kehidupan kita sekarang.

Bagi anak-anak muda yang merasakan pernah ditolak lamarannya kepada seorang pasangan wanita, ternyata bisa belajar kepada Nabi Muhammad saw. Jangankan Anda sebagai manusia biasa yang tidak tahu akan jadi apa, Nabi Muhammad saw pernah merasakan bagaimana lamarannya ditolak karena sudah wanita yang dilamarnya sudah mendapatkan jodoh seorang pemuda kaya.
Dalam kisah hidup Nabi Muhammad saw, karya seorang mualaf yang menjadi penyair sufi modern kelahiran Amerika Serikat, pernah tinggal di Inggris, lama belajar Islam di Kairo, Martin Lings (2008, hlm.40)  dikenal dengan nama Abu Bakr Siraj Al-Din, dari sumber-sumber kisah klasik, menceritakan;

“Abu Thalib memiliki beberapa putri. Diantara yang ada yang telah mencapai usia nikah, namanya adalah Fakhitah, namun kemudian ia dipanggil dengan Umm Hani dan senantiasa dikenal dengan nama itu. Rasa cinta tumbuh antara dia dan Muhammad (belum mendapat wahyu sebagai Nabi). Kemudian Muhammad memohon kepad apamannya agar diizinkan menikahi putrinya. Namun Abu Thalib memiliki rencana lain. Hubayrah putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum, juga telah melamar Umm Hani. Hubayrah bukan saja seorang pria kaya raya, tetapi seorang penyair berbakat, seperti halnya Abu Thalib sendiri. Terlebih lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekah demikian meningkat seiring dengan semakin merosotnya kekuasaan Bani Hasyim. Kepada Hubayrahlah Abu Thalib menikahkan putrinya, Umm Hanni. Ketika kemenakannya kembali mendekati dengan lembut, Abu Thalib hanya menjawab “mereka te;ah menyerahkan putri mereka untuk kita kawini (artinya Abu Thalib mengawini perempuan yang jadi istrinya dari Bani Makhzum), maka kita haruslah membalas kebaikan mereka. Muhammad menerima keputusan pamannya. Dengan sopan, ramah, dan lapang dada, ia mengakui bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Itulah yang diputuskan untuk dirinya”.

Sebuah empati bisa kita rasakan bagaimana Muhammad sebelum menjadi Nabi mendapat ujian dari Allah ditolak lamarannya. Namun sikap dan kesannya sungguh anggun dan bijaksana. Semua mozaik kehidupan manusia dialami masa demi masa, secara fisik dan psikologis, oleh Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Demikianlah mengapa Nabi Muhammad saw layak menjadi contoh teladan bagi seluruh umat manusia hingga sekarang.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab, 33:21).  

Demikianlah kisah Nabi Muhammad saw, sebagai teladan bagi anak-anak muda. Jangan putus asa dari rahmat Allah. Masa remaja Nabi saja tidak berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Padahal kalau Allah menghendaki, sebelum dan sesudah kenabian Muhammad, bagi Allah mudah memberikan segala kebaikan yang diinginkan manusia. Nabi saja mendapat ujian apalagi kita. Wallahu ‘alam.
(Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, November 1, 2018

MENYUAP DI JALAN TUHAN!

Oleh: Muhammad Plato

            Kasus suap menyuap sebetulnya bukan masalah baru di Indonesia. Sejak dinobatkan sebagai negara terkorup di dunia, sudah pasti bermacam-macam suap ada di Indonesia. Seorang Profesor Dosen Kakak saya di sebuah Universitas swasta ternama di Bandung berbicara, suap tidak bisa hilang dengan mudah di bumi Indonesia. Bagaimana tidak, sejak dahulu nenek moyang kita selalu mengajarkan dan mempraktekkan suap.
            Setiap malam selasa, malam jumat, nenek moyang kita melakukan ritual suap kepada para leluhurnya dengan menyajikan sesajian. Mereka punya keyakinan jika tidak melakukan acara ritual ini, akan kehilangan berkah dalam hidupnya. Saking percayanya, kebiasaan ini bisa bertahan turun-temurun mungkin sampai sekarang.
            Demi mempertahankan ritual suap dan proses adaptasi dengan zaman, ritual suap antara manusia dengan roh nenek moyang berubah menjadi suap diantara sesama manusia. Suap dilakukan untuk memuluskan proyek yang dinilai bisa menghasilkan uang banyak. Suap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tiada hari tanpa suap, itulah mungkin pepatah yang pas untuk menggambarkan kehidupan di Indonesia.

BERPIKIRLAH ADA SUAP YANG HALAL YAITU MENYUAP TUHAN
            Alang kepalang, masyarakat kita sudah biasa dengan suap, mau dibagaimanakan lagi, kita tidak bisa hidup tanpa suap. Satu-satunya jalan kita harus ikut-ikutan main suap. Kalau tidak ikut-ikutan suap jelaslah tidak akan kebagian tender, alias dapur tidak ngebul.
            Tapi kita modifikasi sedikit cara suapnya. Kalau masyarakat dahulu melakukan suap terhadap nenek moyang sebagai perbuatan syirik, dan masyarakat sekarang main suap kepada sesama manusia itu juga dosa besar karena berprilaku curang, yang halal main suap kepada Allah yang memiliki kekuasaan rezeki di dunia dan akhirat. Tentu saja menyuap Allah juga harus sembunyi-sembunyi karena itulah hakikat suap. Semakin tersembunyi, suap semakin baik.
            Jika selama ini orang-orang menginginkan kekayaan, jabatan, dengan cara suap, kita juga lakukan hal yang sama. Jika orang-orang melakukan suap kepada pejabat, atau atasan penentu kebijakan, kita juga harus lakukan suap kepada Penentu Keputusan yaitu Allah SWT.
            Jika ingin jadi pegawai negeri (PNS), tentara, guru, dan polisi, berani keluarkan dana  30 sampai 150 juta, kita juga harus berani. Mengapa kita tidak sanggup keluarkan juga dana sebesar itu untuk Allah. Kalau Anda orang beriman suap saja Allah dengan dana sebesar itu. Caranya keluarkan dana sebesar itu untuk fakir miskin, panti asuhan, dan kaum dhuafa.
            Suap kepada manusia hasilnya bisa kita saksikan, banyak yang tertipu oleh oknum-oknum yang menjanjikan pekerjaan dan jabatan. Para penyuap kehilangan uang dan akhirnya jatuh miskin. Sekarang anda pikirkan bahwa uang yang anda berikan kepada fakir miskin untuk menyuap Allah, akan dikembalikan 10 sampai 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 160 dan Albaqarah ayat 261. Bayangkan jika Anda menyuap Allah 30 juta saja, bukan hanya jabatan atau pekerjaan yang akan anda dapatkan, justru anda akan mendapatkan kelimpahan harta dari Allah SWT.
            Berpikirlah para penyuap! Jika saja untuk memperoleh keinginan Anda berani berbuat jahat dengan melakukan suap terhadap sesama manusia, mengapa juga Anda tidak berani berbuat baik, dengan cara menyuap Allah. Menyuap kepada manusia dan kepada Allah modalnya sama, KE-BE-RA-NI-AN. Berani buruk atau baik? Kata Mario Teguh, “pemberani itu ciri dari orang-orang beriman” Berpikirlah para penyuap!!!

(Penulis Master Trainer @logika_Tuhan)

Thursday, October 4, 2018

DERITA BATIN NABI MUHAMMAD SAW

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sejarah itu pasti dongeng, namun dongeng belum tentu sejarah. Sejarah itu bersumber pada fakta, dan diceritakan dalam bentuk dongeng. Inilah dongeng fakta penderitaan Nabi Muhammad saw semasa Beliau sebelum dan sesudah menjadi Nabi. Saya susun dari sudut pandang sejarah.

Tujuan tulisan ini adalah memberikan hiburan kepada orang-orang yang dilanda sedih karena penderitaan yang dihadapinya. Bandingkanlah penderitaan mu dengan penderitaan Nabi Muhammad saw. Semasa hidupnya Nabi Muhammad ternyata sama seperti kita sebagai manusia biasa, merasa sedih dan gembira.

Biasanya jika manusia dilanda derita, dia selalu melihat derita orang lain. Ketika deritanya sama dengan derita orang lain, agak sedikit terobati deritanya karena yang lain pun sama menderita. Itulah sifat manusia, apa yang dirasakannya harus dirasakan orang lain. Derita batin Nabi Muhammad bisa jadi penghibur hati manusia, karena sepangkat Nabi pun tidak lepas dari derita apa lagi kita.

Sebelum menerima wahyu, pada usia 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan seorang janda kaya raya dan terhormat, berusia 40 tahun. Dua puluh ekor unta betina menjadi mas kawin. Dari pernikahannya dengan khadijah Nabi dikaruniai dua putra dan empat putri.


DERITA BATIN KEMATIAN ANAK

“Putra pertama adalah Al-Qasim. Kemudian lahir berturut turut Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fathimah, dan Abdullah yang diberi julukan at Thayyib dan at-Thahir. Al-Qasim wafat dalam usia satu tahun, sudah bisa didudukkan di atas punggung unta, dan sudah bisa bertatih-tatih. Sedangkan Abdullah wafat dalam keadaan masih bayi. Semua putri beliau wafat semasa beliau masih hidup, kecuali Fatimah ia wafat menyusul ayahandanya enam bulan kemudian.” (al-Ghazali, 2005:80-81).

“kehidupan rumah tangga Nabi tidak ada yang meresahkan hati Siti Khadijah selain kematian putra-putranya, apalagi mengingat kedudukan anak laki-laki dikalangan suatu bangsa yang punya tradisi menanam hidup-hidup anak perempuan, dan para ayah bermuka kecut bila mendengar anaknya yang baru lahir itu perempuan. (al-Ghazali, 2005:81).

“Setelah Nabi Muhammad diangkat Allah swt jadi nabi dan rasul, kaum Quraisy mengejek Nabi karena putra-putra beliau semuanya meninggal dunia. Secara terang-terangan mereka menyatakan, bagaimanapun juga Muhammad tidak mempunyai keturunan, dan namanya pun tidak akan disebut orang lagi setelah wafat.” (al-Ghazali, 2005:81).

Kematian anak-anak laki-laki Nabi Muhammad di usia anak-anak, jelas sangat membebani. Rasa cinta kasih seorang ayah kepada anak, stigma rendah terhadap keluarga yang tidak punya keturunan laki-laki, jelas bukan perkara mudah dalam menghadapinya. Setelah menjadi Nabi pun, ejekan seorang ayah yang tidak punya keturunan anak laki-laki pun masih menjadi objek ejekkan menyakitkan bagi orang-orang Arab pada masa itu.

Kesedihan Muhammad dan Khadijah dijelaskan dalam cerita-cerita sejarah hidup Nabi Muhammad. Muhammad Husain Haekal (2003:72) menuturkan, al-Qasim dan Abdullah tidak banyak diketahui, kecuali disebutkan mereka meninggal waktu kecil zaman jahiliyah dan tak ada meninggalkan sesuatu yang patut dicatat.  Tetapi yang pasti kematian itu meninggalkan bekas yang dalam pada orang tua mereka. Demikian juga pada diri Khadijah terasa sangat menyedihkan hatinya. Kematian dua anak laki-lakinya membuat khadijah merasa sangat sedih karena ditimpa sedih berulang-ulang. Rasa sedih itu dirsakan pula oleh suaminya (Muhammad). Rasa sedih ini selalu melecut hatinya, yang hidup terbayang pada istrinya, terlihat setiap ia pulang ke rumah duduk-duduk disampingnya.

Tidak begitu sulit bagi kita menduga betapa mendalamnya rasa sedih yang diderita oleh Muhammad dan istrinya Khadijah. Ditengah-tengah masyarakat yang sangat mengagung-agungkan anak laki-laki, dan mengubur hidup-hidup anak perempuan, mereka mendapati kedua anak laki-lakinya meninggal dalam usia anak-anak.  Untuk mengobati rasa sedihnya Muhammad membeli Zaid dan memerdekakannya hingga zaid dikenal sebagai Zaid bin Muhammad. Sudah tentu malapetaka yang menimpa Muhammad dengan kematian kedua anaknya berpengaruh juga dalam kehidupan dan pemikirannya. Sudah tentu pula pikiran dan perhatiannya tertuju pada kemalangan yang datang satu demi satu menimpa. Ibrahim pun putri Nabi bukan dari khadijah meninggal, setelah Islam mengharamkan menguburkan anak-anak perempuan hidup-hidup, dan sesudah menentukan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Muhammad Sameh Said (2016:49), menggambarkan kesedihan mendalam Nabi Muhammad saat meninggal dua anak laki-lakinya. “anak laki-laki beliau meninggal ketika masih kecil. Tentunya kejadian ini meninggalkan kesedihan di hati Muhammad dan Khadijah, sampai beliau mengangkat seorang anak laki-laki bernama Zaid bin Muhammad.”

Seberapa berat derita batin anda? bersyukurlah karena masih ada sahabat kita yang sama-sama menderita dengan luka batin menganga, bahkan sahabat kita lebih menderita. Sahabat kita adalah kekasih Allah yaitu Nabi Muhammad saw. Sebagaimana Nabi adalah manusia biasa, maka bergembiralah karena derita batin anda sama dengan luka batin kekasih Allah. Kini anda bisa merasakan bagaimana beratnya penderitaan batin Nabi Muhammad saw dalam memperjuangkan kebenaran untuk umat manusia. Keselamatn dan kesejahteraan untuk Anda! Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Wednesday, October 3, 2018

ILMU KOSONG

Oleh : MUHAMMAD PLATO

Sebuah nasehat diberikan oleh guru saya Dr. Erlina, “saya merasakan bagaimana beratnya kehilangan orang yang dicintai. Satu tahun lebih perasaan itu terus membawa suasana sedih. Belajar dari pengalaman itu, saya berhasil keluar dari perasaan itu dengan tidak mengikuti kata emosi, tetapi mengikuti kata logika. Jika kita mengikuti emosi maka perasaan sedih, merasa kehilangan selamanya tidak akan pernah hilang”.

Selanjutnya Beliau berkata, “kamu harus belajar ilmu kosong. Kita terlahir ke bumi ini, tidak sebutir debu pun memiliki harta, semuanya adalah titipan. Jiwa kita, tubuh kita, semua milik Allah. Sekehendak Pemilik lah bagaimana Dia mau memperlakukan kita. Tidak ada kejadian yang menimpa kita, semuanya akan kembali kepada pemiliknya. Kita ini sesungguhnya kosong, jika semuanya dikembalikan kepada pemiliknya”.

Ilmu kosong yang dimaksud guru saya adalah ilmu pemahaman bahwa kita bukan pemilik. Sehingga jika kita bukan pemilik, maka apapun yang menimpa kita akan menimpa kepada pemiliknya yaitu Tuhan. Karena kita bukan pemilik, maka hinaan orang, cacian, makian, bencana, tidak akan menimpa kita, tetapi akan langsung kepada Pemiliknya. Hinaan, cacian, makian, seperti melewati lingkaran kosong, tidak menyentuh apa-apa kecuali sampai kepada Tuhan. Maka keburukan akan kembali kepada pelaku keburukan. 

Pemahaman tentang ilmu kosong, perlu bantuan argumen logika, yang kemudian akan menuntun perasaan untuk mengikuti apa yang dikatakan logika. Di sini kita dapat pelajaran, antar hati dan logika posisinya saling membutuhkan. Dua-duanya akan menyelamatkan kita dan akan hadir sesuai dengan kebutuhan.

Tuhan sudah mencitakan hati dan logika. Sangat tidak mungkin jika kedua ciptaan Tuhan ini kita matikan sebelah. Kedua-duanya harus hidup. Menghidupkan hati bukan mematikan logika, dan sebaliknya menghidupkan logika bukan mematikan hati.

Demikian guru saya, Dr. Erlina mengajarkan bagaimana cara keluar dari situasi buruk yang bisa menggiring kita menjadi manusia kurang produktif. Kuncinya adalah disaat kita dihantui perasaan yang tidak kita inginkan, maka saatnya gunakan logika.

ILMU KOSONG ADALAH KEMAMPUAN LOGIKA DALAM MEMPERSEPSI BAHWA KITA BUKAN PEMILIK, MAKA SEGALA KEJADIAN ADALAH KEMBALI PEMILIKNYA
  
Saya setuju dengan guru saya yang kedua, Prof. Rochiati, beliau menulis dalam bukunya dari sudut pandang sejarah, “jatuhnya bangsa Indonesia ke dalam kolonialisme Belanda, berbarengan dengan menyebarluasnya himbauan ulama besar yang melarang penggunaan akal (reason) dalam kerangka kajian pemahaman agama”. Pemikiran ulama ini telah mereduksi potensi manusia yang memiliki potensi ke arah agama/keyakinan/tauhid dan potensi akal/reason. Sekalipun para ulama terbelah dua dalam menyikapi himbauan ulama besar ini. Umat Islam kita terlanjur mengikuti himbauan ulama besar ini.

Logika (reason) akan membawa kita kepada pikiran-pikiran rasional untung rugi baik dunia maupun akhirat.  Sebagai contoh, kematian adalah kejadian yang tidak bisa dihindari. Orang-orang yang mati tidak lagi membutuhkan ratapan penyesalan dari orang yang hidup. Jiwa orang yang sudah mati lebih membutuhkan doa-doa dari pada ratapan orang yang masih hidup.

Untuk memahami kejadian demi kejadian dibutuhkan kemampuan akal. Perintah Tuhan untuk berprasangka baik kepada setiap kejadian secara tidak langsung merupakan perintah untuk menggunakan reason (logika) agar bisa menemukan kebaikan dari segala kejadian.

Untuk melakukan persepsi baik terhadap segala kejadian, dibutuhkan ilmu kosong, dan untuk mendapatkan ilmu ini dibutuhkan reason (logika), agar hati bisa terjaga tetap baik. Wallahu ‘alam.

(Master Trainer @logika_Tuhan)