Friday, June 25, 2021

BUKTI ALLAH TIDAK TIDUR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus; tidak mengantuk dan tidak tidur.” (Al Baqarah, 2:255). “Allah, tidak ada Tuhan  melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”. (Ali Imran, 3:2).

Berangkat dari informasi Al-Qur’an di atas, kita buktikan bahwa Allah mengurus manusia secara terus menerus baik dikala kita tidur maupun bangun, untuk orang tidak percaya Tuhan maupun percaya. Mau kemana manusia? Seluruh semesta alam berdzikir taat kepada Allah, seluruh semesta alam berkehendak atas nama Allah. Tidak ada satu kedip pun manusia bisa lepas dari ikatan Allah.

Benarkah Allah terus menerus mengurus? Makanan yang kita makan, dipilah menjadi berbagai nutrisi kemudian diedarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada saat tidur, dalam tubuh ada petugas memperbaiki sel-sel yang rusak. Jantung, sekalipun kita dalam keadaan tidur, tetap bekerja memompa darah agar mengalir keseluruh bagian tubuh sesuai kebutuhan. Jika seluruh kerja organ tubuh bisa bekerja karena energi listrik, lalu sebelah mana sumber listrik itu ada dalam tubuh kita? Sirkuit robot begitu rumit didesain agar bisa merespon gerakan dan suara, tidak bisa mengimbangi gerakan reponsip seperti manusia ketika kulitnya terbakar.

Sel-sel ukuran mikro dalam tubuh manusia semua berfungsi megikuti kehendak Allah. Allah menciptakan makhluk-makluk super kecil dengan tugas mengikuti kehendak Allah sehingga gerakan-gerakan manusia sangat lentur. Untuk memproses makanan yang masuk dari mulut sampai keluar dari anus, banyak makhluk-makhluk superkecil terlibat untuk mengolah dan mengeluarkannya kembali. Aktivitas makhluk-makhuk kecil itu tanpa henti mengikuti kehendak Allah untuk mengurus manusia.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. (At Takwir, 81:29).    

Kesombongan manusia jika mengaku telah menyebuhkan orang-orang sakit. Kesombongan manusia jika mengaku telah mensejahterakan masyarakat. Kesombongan manusia jika mengaku telah membuat murid-muridnya sukses. Kesombongan manusia jika mengaku telah menciptakan teknologi. Kesombongan manusia jika mengaku telah membantu orang-orang miskin. Tidak sebutir debu pun manusia bisa berpikir, mengembangkan ilmu, menciptakan teknologi dengan kemampuannya sendiri.

Di saat manusia tidur, jantung tetap berdetak, paru-paru tetap bernafas, pikiran tetap bekerja, matahari terus beredar, bumi terus berputar, setelah malam kembali datang siang. Matahari tidak pernah berhenti hanya sekedar untuk isi bahan bakar, bumi tidak pernah istirahat untuk melepas lelah. Semua berfungsi atas kehendak Allah, maka Allah tidak tidur mengurus dan melayani manusia sepanjang masa. Kita lahir dengan fasilitas yang sudah tersedia. Terlalu banyak fasilitas gratis yang Allah berikan pada manusia.

Apapun yang manusia usahakan dan kerjakan semua berada di atas kehendak Allah. Setiap usaha dan kerja manusia berdasarkan fasilitas yang telah Allah sediakan. Manusia hanya menggunakan segala sesuatu yang telah Allah sediakan. Jika manusia bisa mengubah keadaan, maka semua yang diusahakan manusia bisa dilakukan, namun Allah menetapkan kegagalan dan kesuksesan. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mengubah keadaan, namun hasilnya sudah Allah tetapkan yaitu kegagalan dan kesuksesan. Allah menghendaki kepada siapa gagal dan sukses. Manusia hanya bisa berharap kepada Allah, semoga sukses selalu datang di masa mendatang. Harapan manusia tidak pernah putus karena Allah tidak pernah tidur, terus mendengar permohonan, terus mengurus makhluk,  dan berjanji mengabulkan semua harapan dengan catatan tetap bersabar.  Bagi orang-orang sabar Allah janjikan keberutungan besar tanpa batas.

Bagi orang-orang yang mengetahui dan sadar bahwa Allah tidak pernah tidur mengurus manusia, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak ingat, taat, dan bersyukur pada Allah setiap saat. Begitu besar jasa Allah kepada manusia karena terus menerus mengurus manusia dan tidak pernah tidur. Untuk itu kemanapun manusia pergi, Allah selalu dekat mengurus segala kebutuhan semua manusia. “maka kemanakah kamu akan pergi?” (At Takwir, 81:26).  Allah selalu mengurus kita semua. Wallahu’alam.  

BERTAUHID PADA MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan agama Islam dengan agama-agama lain adalah hanya di monotheis. Ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia agar tidak terjebak pada ketaatan, ketundukan, kepada selain Allah. Segala tindak tanduknya harus selalu mengatasnamakan Tuhan Yang Esa. Ketauhidan seseorang dinyatakan batal jika niat hati dan pikirannya bermotif tidak kepada Tuhan Yang Esa.

Jika seseorang bertindak atas dasar instruksi dukun maka ketauhidannya kepada dukun. Jika seseorang bertindak atas nama gurunya, maka ketauhidannya kepada guru. Jika seseorang bertindak atas nama teori yang ditemukan seseorang, maka ketauhidannya kepada orang si penemu teori. Berkiblat pada satu guru mursid dan menaatinya dalam segala hal, maka ketauhidannya kepada guru mursid. Menetapkan diri sebagai pengikut aliran menjadikan alirannya sebagai satu-satunya yang dijadikan patokan maka dia bertauhid pada aliran. Lalu memutuskan untuk tidak mengikuti pendapat guru, golongan, dan aliran manapun karena kemampuan yang dimilikinya, maka dia bertauhid pada dirinya.

Ketauhidan yang lurus hanya kepada Allah semata, dengan mengakui bahwa segala kehendak yang kita lakukan berada di atas kehendak  Allah swt. "bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki  kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (A Takwir, 81:28-29). Ketauhidan yang lurus apa bila seluruh tindakan selalu ingat berada di atas kehendak Allah.     

Dalam obrolan sehari-hari banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak mengatasnamakan Allah. Seseorang untuk mempersiapkan pesta pernikahan menghabiskan miliaran rupiah, alasan melakukan tindakan tersebut karena status sosial, tradisi masyarakat, dan demi pandangan masyarakat. Maka tindakan semacam itu ketauhidannya kepada status sosial, tradisi, dan opini masyarakat. Ketika bekerja untuk mencari uang maka ketauhidannya kepada uang, dst. Penyebab kehancuran dan kebodohan manusia disebabkan oleh ketauhidan pada selain Allah. Ilmu tauhid bisa dipelajari dengan ilmu logika. Logika mampu memperivikasi ketauhidan seseorang sampai tingkat nano, hingga kita dapat meluruskan dan menjaga ketauhidan murni kepada Allah.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagaimana berlogika (berpikir) agar manusia mampu menemukan ketauhidan murni kepada Allah sekalipun dalam kesibukan aktivitas sehari-hari. Keotentikan Al-Qur’an sebagai kitab suci dari Allah, dapat diuji bukan saja dari historis kenabian Nabi Muhammad SAW, tapi dari kebenaran-kebenaran informasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian substansi kebenaran kitab suci Al-Qur'an bukan dari pembuktian sejarah, atau saksi semata, tetapi kebenaran kandungan ayat-ayat kitab suci dengan pengujian sesuai kondisi zaman. Keotentikan Al-Qur’an dapat diuji bahwa orang-orang yang benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an kemurnian ketauhidannya dapat terjaga.

Kitab-kitab suci selain Al-Qur’an sudah banyak campur tangan manusia Kitab suci selain Al-Qur’an layaknya seperti karya akademik seorang ilmuwan. Jika kitab yang dianggap suci namun di dalamnya sudah ada campur tangan manusia, maka umat yang meyakini kitab suci tersebut sedang tidak bertauhid kepada Tuhan Yang Esa, melainkan kepada manusia-manusia penulis dan penafsir kitab suci tersebut. Fenomena ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At Taubah, 9:31)

Al-Qur’an kitab otentik berbahasa Arab, penuturnya masih ada dan sejak zaman kekhalifahan empat sahabat Nabi, ayat ayat A-Qur’an dikumpulkan dari sahabat-sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini ayat-ayat Al-Qur’an terus teruji kebenarannya. Abad informasi semakin mengungkap kebenaran kitab suci Al-Qur’an dengan publikasi kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an melalui pengujian sains.

Berkaitan dengan fenomena perpindahan agama atau keluar dari agama Islam (murtad), sejak zaman Nabi Muhammad SAW hal ini sudah terjadi. Bagi kami yang memahami ketauhidan kepada Allah, tidak ada sedikitpun kerugian bagi mereka-mereka yang memutuskan keluar dari agama Islam. Namun rasanya sedikit geli dan ingin tertawa, melihat orang-orang yang keluar dari agama Islam lalu berapi-api membela agama barunya dan menyerang ajaran Islam. Bagi kami, dia yang keluar dari agama Islam tidak sedang berurusan dengan umat Islam, dia sedang berurusan dengan Allah yang menciptakannya. Jika manusia benar-benar memahami Al-Qur’an, tidak sedikitpun orang-orang yang murtad dari agama Islam akan merugikan umat Islam, karena dia sedang berperang melawan Allah penciptanya bukan dengan umatnya.

Jadi dapat dipastikan umat beragama selain Islam kebanyakan dia sedang bertauhid kepada manusia penafsir kitab sucinya bukan kepada Tuhan Yang Esa. Kitab suci yang mereka baca bukan otentik dari utusan tetapi hasil kompilasi dari perkataan-perkataan yang diduga bahwa perkataan itu dari Tuhan. Mereka tidak sedang membaca firman Tuhan, mereka sedang menyampaikan karya pemikiran manusia, sebagaimana Allah mengabarkan.

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah, 9:30).

Mereka yang beriman kepada ucapan-ucapan orang terdahulu, tidak sedang beriman kepada Allah Tuhan Yang Esa, tapi beriman kepada manusia. Pendidikan kita cenderung menggiring manusia taat kepada manusia. Umat Islam yang beriman kepada Al-Qur’an dia beriman kepada Tuhan Yang Esa, karena Al-Qur’an kitab suci otentik lisannya Tuhan Yang Esa Allah swt. Wallahu ‘alam. 

Thursday, June 24, 2021

POLA PIKIR PRIMITIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Silaturahmi adalah sunatullah yang sampai kapanpun akan tetap berlaku dalam kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW menjelaskan manusia-manusia yang tidak mau bersilaturahmi akan menghadapi kesulitan hidup dengan tidak menemukan kesejahteraan di dunia maupun akhirat. Namun demikian ketika silaturahmi apa yang harus kita lakukan? Berbagi kebaikan adalah isi silaturahmi. Kualitas silaturahmi ditentukan dengan apa yang dilakukan berkomunikasi.

Zaman dulu gosip hanya terjadi antar keluarga dan tetangga. Zaman teknologi gosip berubah menjadi tingkat dunia. Pola pikir primitif semakin subur, gosip tingkat tetangga diubah menjadi gosip tingkat dunia untuk menghasilkan keuntungan material. Lelucon-lelucon murahan, prilaku menyimpang, dikemas oleh tim kreatif primitif agar menarik perhatian masyarakat hingga menghasilkan pundi pundi rupiah.

Pola pikir primitif adalah pola pikir materialistik. Orang-orang primitif melakukan transaksi dengan pola pikir barang ditukar menjadi barang. Barter yang dilakukan masyarakat terdahulu tidak termasuk primitif karena pola pikirnya adalah menegakkan keadilan. Namun orang yang berpola pikir benda harus selalu bertukar menjadi benda, itulah orang-orang primitif. Pola pikir primitif terpaku bahwa apa yang diakukannya harus berbalas dengan material dari orang per orang. Masyarakat primitif adalah mereka yang berpikir cenderung materialistik dan positivistik. Kata Nietzche dalam kehidupan masyarakat materialistik Tuhan dimatikan karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan dunia. Inilah gambaran masyarakat primitif yang terjebak kebenaran-kebenaran materialistik. 

Siklus kehidupan masyarakat yang diprediksi oleh Auguste Comte, ternyata masyarakat menuju modern bukan dari masyarakat teologis bergerak menjadi masyarakat positivistik, tetapi dari masyarakat positivistik berubah menjadi masyarakat religius. Menurut Wiliam F. Ogburn ada dua dasar budaya yaitu material dan non material. Jika perubahan berjalan siklus maka sekarang sedang terjadi perubahan dari masyarakat material ke masyarakat non material. Arnold Toynbee berpendapat masyarakat akan mengalami perubahan dari keseimbangan, transisi, kemudian terwujud keseimbangan baru.

Pemikiran yang tidak bersumber dari Allah, berputar-putar tidak ada akhirnya. Semua pendapat dianggap benar dan semua pendapat ada salahnya. Seperti orang sakit jiwa, pulang pergi tiap hari tanpa ada tujuan yang ingin dicapai. Berpikir bulak-balik, terbawa arus terombang-ambing mengikuti kemana arah angin bertiup. Masyarakat primitif tidak punya paradigma berpikir ajeg, tidak punya nilai-nilai baku, dan tidak punya prinsip-prinsip tegas. Masyrakat primitif hidup dalam polemik dan sangat tergantung pada kondisi sosial dan alam.

Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk membawa masyarakat pada peradaban, dari masyarakat bodoh ke masyarakat cerdas, dari masyarakat primitif ke masyarakat modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang tergantung pada non material. Gerak usaha dan kerja kerasnya semuanya berdasarkan pada yang non material yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Material sifat dasarnya adalah kaku dan terbatas, Tuhan yang non material sifatnya bebas dan tanpa batas. Sifat individualistis, tidak mau kalah, dan serakah adalah prilaku masyarakat primitif yang pola pikirnya material. Manusia-manusia modern bertransaksi dengan Tuhan non material, jiwanya hidup menjadi pekerja keras, tekun, tidak pernah putus asa, selalu optimis dan sabar menjalani hidup sesuai garis edarnya. Ruhnya kreatif dan penyejahtera.

Kegagalan umat Islam dalam mewujudkan kehidupan masyarakat ideal merupakan kegagalan umat Islam itu sendiri dalam memahami Al-Qur’an. Bukan substansi ajaran yang harus diubah, tetapi metode pengajarannya. Dulu para penyebar agama di Nusantara abad 7-13 tidak memaksa raja-raja masuk Islam, maka kuncinya ada di metode mengajar. Filsafat, sains, tradisi, budaya, ideologi, politik, ekonomi, mistik, semua bisa diperankan untuk mengajarkan substansi dari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan kondisi zaman, dan masyarakat yang dihadapinya.

Zaman sekarang, jika agama masih diajarkan dengan pendekatan tekstual, kaku, berguru hanya pada satu guru, fanatik pada aliran, sementara informasi pemahaman agama seperti banjir bandang telah masuk ke ruang-ruang pribadi, maka akan terjadi benturan-benturan ketika mendapat perbedaan pemahaman. Untuk itu, sekolah-sekolah di dunia sudah mulai mengubah tujuan pembelajaran menjadi melatih kemampuan bernalar mulai dari analisis, interpretasi, integrasi, dan menyimpulkan informasi. Kemampuan ini diprediksi dapat membantu masyarakat menyikapi banjirnya informasi dan masyarakat tidak tenggelam terbawa arus. Pendekatan pemahaman agama tekstual harus sedikit ditingkatkan dengan kemampuan pemahaman rasional tanpa meninggalkan teks. Berpikir bebas tidak berarti meninggalkan teks, tetapi mengelaborasi kebenaran-kebenaran teks Al-Qur’an melalui bantuan berbagai ilmu dan sudut pandang. Dengan cara-cara ini semoga kita bisa keluar dengan damai dari pola-pola pikir primitif yang sudah cenderung material, sombong, dan lancang berani membunuh Tuhan. Walahu’alam.

AL QUR’AN STANDAR BERPIKIR MODERN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Modern adalah teori yang dikembangkan para ilmuwan untuk membedakan manusia, bangsa, dan negara yang sudah berperadaban atau primitif. Ukuran modern dan  primitif didasari pada pola berpikir material. Tidak seluruh ukuran modern rasional-empirik yang cenderung material memiliki kesesuaian dengan sudut pandang pola pikir Al-Qur’an.  

Jika Al-Qur’an kita jadikan pedoman dalam paradigma berpikir, ukuran kemajuan sebuah bangsa dibedakan dengan konsep masyarakat kafir dan beriman. Masyarakat kafir mewakili ciri masyarakat primitif dan manusia beriman mewakili ciri masyarakat modern. Kafir dan modern dalam hal ini bukan person atau kelompok masyarakat melainkan sebuah pola pikir. Masyarakat kafir yaitu masyarakat yang menolak kebenaran-kebenaran pengetahuan dari Tuhan sekalipun sudah ada berbagai bukti kebenaran.  Masyarakat modern adalah masyarakat yang percaya pada pengetahuan yang dikabarkan Tuhan kepada utusan-utusan-Nya. Masyarakat modern menjadikan pengetahuan dari Tuhan sebagai alat ukur, pertimbangan, dalam memahami dan memaknai seluruh fenomena kehidupan.


Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam menjadikan Al-Qur’an benar-benar sebagai pedoman dalam seluruh aktivitas kehidupan, maka umat Islam akan menjadi masyarkat berperadaban sebagai ciri masyarakat modern yang diidam-idamkan. Contohnya dibuktikan dengan perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW mengubah masyarakat pola pikir kafir (jahiliyah) di Mekah menjadi masyarakat berperadaban seperti memuliakan perempuan, menegakkan hak dan perhargaan terhadap kemanusiaan, hidup berdampingan dengan alam, menghilangkan permusuhan, menjalankan kejujuran, menghilangkan diskriminasi berdasarkan ras dan agama, menciptakan keteraturan dan kedisiplinan dalam bernegara, dan mengutamakan perdamaian. Ciri-ciri hidup masyarakat berperadaban ini semua terkandung dalam ajaran-ajaran dari pengetahuan yang bersumber pada Al-Qur’an.

Ada pun fenomema konflik, kemiskinan, ketidakteraturan, ekspolitasi alam, diskriminasi terhadap kaum perempuan, permusuhan, pembunuhan yang faktanya hadir dalam masyarakat yang sudah mengaku menganut agama Islam, hal tersebut tidak mencerminkan ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an.  Kejahiliyahan yang terjadi pada masyarakat Islam ataupun seluruh umat manusia di muka bumi ini, semua bersumber pada ketidaktahuan, ketidaktaatan, keterbatasan manusia pada ajaran-ajaran yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW tidak diutus untuk masyarakat Arab, juga tidak diutus hanya untuk sekelompok manusia, tetapi diutus untuk membawa pengetahuan dari Tuhan untuk seluruh umat manusia yang diciptakan pada dasarnya sebagai pembawa amanah dari Tuhan. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa semua manusia diciptakan dari ruh Allah yang hidup dan kreatif.

Nabi Muhammad SAW adalah anugerah bagi bumi, langit, gunung, laut, hewan, tumbuhan, dan manusia. Sebagai pemikul amanah, Allah menurunkan Nabi Muhammad SAW yang memberi pedoman kepada manusia untuk menjadi manusia-manusia modern yang bisa menjaga keseimbangan dan keteraturan gerak sinergi antara alam, hewan, tumbuhan dan manusia. Nabi Muhammad SAW dengan pedoman hidup yang dibawanya yaitu Al-Qur’an menjadi model manusia modern yang diciptakan oleh Allah agar menjadi ukuran sebuah individu atau masyarakat berprilaku modern.  

Awal abad-ke 21 ini adalah  momentum 100 atau 1000 tahunan dimana manusia harus kembali melakukan refleksi diri atas pola pikir dan prilaku yang telah berlaku selama satu abad atau milinium. Bagi kaum beragama maupun tidak beragama, sebagaimana pendapat Thomas Khun awal abad ke 21 ini adalah masa refleksi diri untuk kembali memverifikasi dan meneliti ulang cara pandang, nilai-nilai, prinsip-prinsip yang selama satu abad atau millenium diyakini sebagai langkah-langkah yang harus diperjuangkan. Sikap-sikap arogan meremehkan Tuhan sebagai pemilik pengetahuan, dan menganggap kitab suci sebagai kitab tradisional dan isinya tertinggal dari pengetahuan yang dihasilkan penalaran murni pengetahuan alam, harus kembali direnungkan dan diredefinisi.

Seluruh manusia perlu kembali ke gua-gua perenungan sebagaimana Nabi Muhammad SAW bertahun-tahun melakukan perenungan di Gua Hira, seperi Nabi Musa merenung di gunung, seperti Nabi Ibrahim merenung di padang pasir, seperti Nabi Idris merenung di laut. Memikirkan kembali, memverifikasi, apakah pemikiran-pemikiran rasional empiris yang hanya mengandalkan pengetahuan alam telah menjamin keseimbangan dan kesejahteraan alam dan seluruh penghuninya. Pencemaran laut oleh plastik, pencemaran sungai oleh limbah pabrik dan domestik, eksploitasi air tanah, penjarahan hutan, pencemaran udara oleh gas buang mesin, dan pandemi penyakit menular yang menandai abad ini, direncanakan manusia atau tidak,  ini adalah fakta bahwa pola pikir yang dikembangkan 100 hingga 1000 tahun berujung dengan krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan alam.

Saatnya kita kembali pada Tuhan yang maha kuasa, yang maha mengatur, dan menggunakan pengetahuan dari Tuhan melalui kitab suci Al-Qur’an untuk membangun dan mengembangkan cara pandang, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip hidup modern dari yang maha mengetahui. Seluas ilmu yang dimiliki manusia, sedalam ilmu yang dikuasai, manusia tetap bodoh karena masih banyak yang tidak diketahuinya. Pengakuan manusia bahwa Allah maha tahu dan manusia tidak mengetahui, akan melahirkan manusia-manusia rendah hati dan bijaksana dalam mengembangkan teknologi dan bersahabat dengan sesama manusia dan semesta alam. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Hadiid, 57:3). Wallahu’alam.  

Sunday, June 20, 2021

PEMIKIRAN TUN MAHATIR

Oleh: Muhammad Plato

Menyimak wawancara Tun Mahatir oleh Nazwa Shihab dalam tayangan youtube dapat sedikit informasi tentang pandangan agama dari seorang Perdana Menteri Senior kelas dunia. Pandangan agama Tun Mahatir sangat modern karena mengacu kepada sumber otentik ajaran agama yaitu Al-Qur’an. Tun Mahatir dapat dikatakan sebagai sosok politisi dan negarawan muslim yang benar-benar telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan politik.

Tun Mahatir berpandangan bahwa saat ini para guru agama tidak benar-benar mengajarkan ajaran agama sesuai sunnah. Para guru agama hanya mengajarkan tentang shalat, zakat, puasa, ibadah haji, tanpa mengajarkan bagaimana agama diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu para guru agama kebanyakan mengajarkana tentang pemikiran-pemikiran para ulama sehingga dalam beragama menimbulkan perpecahan karena mengikuti pedoman pemikiran-pemikiran para ulama. Para guru agama jarang mengajarkan bagaimana tuntutan beragama sesuai dengan ajaran yang ada dalam Al-Qur’an. Hadis-hadis yang digunakan sesungguhnya tidak dapat menjamin sebagai ajaran agama yang benar karena dari 600-700 ribu hadis setelah melalui penelitian hanya 7000 hadis saja yang shahih.

Tun Mahatir mengatakan jika umat Islam benar-benar menerapkan ajaran agama dari Al-Qur’an, Islam itu akan mendorong sebuah negara menjadi negara berperadaban. Dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab yang pada zaman itu hidup jahiliyah, dengan tuntutan Al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad SAW, mampu menjadi sebuah masyarakat dengan peradaban tinggi menyebar sampai ke Afrika, Eropa, dan Asia.

Pandangan Tun Mahatir mirip dengan pendapat penulis yang menilai jika Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup, tidak akan ada pembunuhan dan perselisihan antar umat beragama dan bangsa. Jika Al-Qur’an menjadi pedoman tidak akan ada sekelompok manusia mendirikan negara Islam dengan membunuh orang-orang Islam atau non muslim. Pembunuhan dilarang jika kita berpedoman kepada Al-Qur’an. Jika beragama berdasarkan petunjuk pada Al-Qur’an tidak ada permusuhan berkepanjangan. Perselisihan hanya terjadi karena ada hal yang dirasakan tidak adil, setelah musyawarah ditempuh dan ditemukan keadilannya maka permusuhan selesai karena permasalahannya sudah terselesaikan.

Bagi penulis pemikiran dan pendapat orang bisa berbeda-beda. Jika beragama mengandalkan pedoman pada pemikiran-pemikiran seseorang maka sudah pasti akan terjadi perpecahan karena kebenaran telah menjadi milik seseorang bukan milik Allah. Jika kebenaran sudah ditempatkan pada pemikiran orang per orang, maka sudah tentu setiap orang menginginkan kebenaran menjadi miliknya. Dengan demikian akan terjadi perebutan siapa yang benar dan akan terjadi saling menjatuhkan. Apalagi perebutan kebenaran sudah melibatkan organisasi, kelompok, aliran,  maka perebutan siapa yang paling benar akan melibatkan banyak orang dan perselisihanpun melibatkan banyak orang, fatalnya akan memakan banyak korban.

Berpikir mencari kebenaran tujuannya bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling menghargai nyawa manusia, saling bekerjasama, mengutamakan perdamaian, dan rasa persaudaraan. Kebenaran sudah mutlak milik Allah, yang harus dipikirkan adalah bagaimana manusia bisa mentaati ajaran-ajaran berkehidupan dari Allah dengan hasil damai, sejahtera, dan mensejahterakan.

Berpedoman pada Al-Qur’an artinya menyerahkan diri bahwa hasil pemikiran siapapun orangnya  tidak ada yang dijamin kebenarannya, sekalipun Nabi Muhammad SAW, kecuali urusan wahyu yang diterimanya. Semua pemikiran manusia berpotensi salah karena manusia dibatasi oleh pengetahuan yang diinderanya. Penglihatan dibatasai oleh jarak yang bisa dilihat, dan cahaya yang tersedia. Pikiran dibatasi oleh pengetahuan yang dimiliki dan kemampuan  penalarannya, serta pengalaman yang pernah dialaminya. Berpedoman pada Al-Qur’an artinya tidak membajak kebenaran seolah-olah ketika berpikir merujuk pada ayat Al-Qur’an dirinya merasa paling benar. Berpedoman pada Al-Qur’an hanya berusaha menemukan kebenaran dengan keraguan-raguan hasil pemikirannya tidak benar karena Allah pemilik pengetahuan Al-Qur’an.

Tun Mahatir adalah fenomena gambaran model tokoh politik senior dunia yang telah berupaya hidup dengan panduan Al-Qur’an. Usianya diberkahi Allah dan karakternya dapat menjadi panutan para politisi. Beliau tidak menyimpan permusuhan atas dasar kekuasaan tetapi karena ketidakdilan yang harus ditegakkan. Semoga damai sejahtera untuk Tun Mahatir dan kita semua umat manusia. Wallahu’alam.  

Tuesday, June 15, 2021

KESADARAN MANUSIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika kita lupa, lalu kembali ingat, siapakah yang memberi tahu? Jawaban tergantung pada pengetahuan masing-masing. Untuk menjawabnya butuh pengetahuan, kemudian pengetahuan akan diolah dengan hubungan sebab akibat hingga sampai pada suatu pemahaman.

Jika pertanyaan di atas kita hubungkan dengan informasi dari Al-Qur’an, “Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al ‘Alaq, 96:5). Apa kira-kira jawaban Anda? Mungkin jawaban Anda sama dengan saya, yang memberi tahu ketika kita lupa adalah Allah, karena Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lupa adalah suatu kondisi dimana kita tidak mengetahui, maka ketika ingat, berdasarkan informasi ayat di atas Allah telah memberitahu.

Dari dialog di atas, kita sebenarnya hanya mendiskusikan suatu kejadian yang secara fisik tidak dapat kita saksikan. Lupa bentuk fisiknya tidak ada, dan Allah gaib, wujud Allah tidak bisa kita saksikan dengan kasat mata. Oleh karena itu, Allah ada dalam kesadaran ingatan manusia. Orang-orang beriman adalah orang yang ingat (sadar) bahwa dirinya diatur dan dikendalikan Allah. Tanpa kesadaran Allah akan tetap ada, tetapi manusia bisa ingat dan merasakan kehadiran Allah setiap saat dengan kesadaran. Jadi ukuran kesadaran manusia adalah ingat dan merasakan Allah mengatur segala kehidupan.

Ingat Allah adalah ukuran kesadaran manusia paling mendasar. Kesadaran manusia akan meningkat jika pengetahuan adanya ketentuan-ketentuan alam dan tujuan-tujuan hidup yang Allah tetapkan disaksikan dan dirasakan dalam kehidupan.  Kesadaran akan meningkat lagi dengan bentuk ketaatan kepada segala ketentuan hidup yang telah Allah tetapkan.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (Al A’raaf, 7:`43).

Kesadaran manusia bukan ketika dia mengenal siapa dirinya, tetapi ketika dia mengenal siapa Tuhannya. Kesadaran manusia diukur dari seberapa dekat manusia mengenal Tuhannya dan segala ketentuannya. Tuhan ada dalam kesadaran manusia yang selalu mengingat, menaati, dan merasa dekat dengan-Nya. Untuk itu, tujuan pendidikan mengajarkan kepada anak-anak agar mereka menjadi manusia sadar bahwa dirinya makhuk ciptaan Tuhan dan hidupnya telah ditetapkan dalam segala ketentuan-Nya.

Kesadaran manusia kepada Tuhan memiiki beberapa tingkatan. Beberapa ukuran kesadaran manusia ditentukan oleh seberapa banyak ingat Tuhan, seberapa taat kepada Tuhan, dan seberapa dekat dengan Tuhan. Maka Allah mengajarkan ayat-ayat bagaimana agar manusia sadar kepada Tuhannya. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Muzzammil, 73:9).  

Kesadran selanjutnya yang harus ditemukan dan dirasakan manusia adalah, “Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”. (Al Ahzab, 33:62).

Tingkat kesadaran manusia tertinggi adalah ketika seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan Allah. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaahaa, 20:14). Total surrender adalah kesadaran para Nabi terhadap Tuhannya. Seluruh laku hidupnya sudah merasa sebagai kehendak Allah. Inilah manusia-manusia dengan kelas kesadaran paling tinggi yang menjadi teladan bagi umat manusia. Wallahu’alam.

Tuesday, May 25, 2021

TAKDIR BANGSA YAHUDI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ada dua cara untuk meredakan ketagangan antara Israel dan Palestina. Dua cara itu seperti perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan yaitu konfrontasi dan diplomasi. Sepanjang perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dua langkah ini selalu mewarnai perjuangan kemerdekaan.

Terbelahnya negara-negara di dunia dalam menyikapi konfik Israel dan Palestina, tidak serta merta dibaca sebagai dukungan terhadap eksistensi Israel. Dalam politik dan bernegara menolak keberadaan suatu negara tidak berarti harus selalu dengan jalan konfrontasi. Jalan diplomasi sebenarnya lebih power full untuk melemahkan kedudukan sebuah negara. Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan ajaran Islam tidak mengirimkan pasukan, tetapi menyampaikan utusan untuk mengajak para raja hidup damai dengan mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang universal tanpa meruntuhkan kedudukannya.

Jalur konfrontasi yang ditempuh bangsa Palestina merupakan hak dan jalan mereka untuk mempertahankan kemerdekaannya, karena mereka sendiri yang merasakan kekerasan demi kekerasan dalam menghadapi agresi Israel. Ketika serangan rudal Israel, dengan pasukan dilengkapi sejata otomatis dan rudal meruntuhkan masjid, rumah sakit, rumah penduduk, sekolah, membunuh dan melukai anak-anak, perempuan, dan orang tua adalah suatu tindakan yang tidak dapat ditelolir sekalipun kondisinya dalam perang. Hak rakyat Palestina untuk membela dan mempertahankan dirinya dari agresi. Jiwa mana yang tidak terkoyak ketika anak-anak tidak berdosa menjadi hantaman rudal dan bom pesawat tempur. Rudal-rudal Israel tidak dapat mematikan jiwa, sebaliknya akan menghidupkan jiwa-jiwa yang mati untuk bangkit dan membela kehormatan negaranya. Sampai kapanpun konflik di Yerusalem tidak akan berakhir jika kekerasan demi kekerasan terus ditampilkan.

Selanjutnya, konfrontasi yang ditampilkan tidak murni perang, bisa jadi pamer kekuatan atau iklan perdagangan senjata. Konfrontasi bisa jadi cara Israel untuk mengukuhkan eksistensi negaranya dengan memperlihatkan kecanggihan senjata dan kekuatan militernya. Kecerdasan dan kemutakhiran teknologinya dipamerkan untuk meyakinkan penduduk dunia bahwa Israel semakin kuat dan tidak akan tertaklukkan. Kemutakhiran alat dan sistem senjata militer Israel diharapkan dapat menarik negara-negara dunia untuk mengadakan hubungan diplomatik sebagai bukti kedaulatan Israel.

Sikap negara-negara dunia yang sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tidak dapat dipandang  sebagai dukungan agresi Israel terhadap Palestina. Hubungan diplomatik adalah salah satu cara soft untuk mengendalikan atau melemahkan sebuah negara. Artinya perjuangan diplomasi tidak serta merta dipandang sebagai dukungan penuh pada pendudukan Israel. Diplomasi adalah tindakan politik tujuannya adalah untuk mengukuhkan kedaulatan negara ke dalam dan mengendalikan negara lain. Rencana Gus Dur untuk membuka diplomasi dengan Israel, adalah cara-cara soft untuk menekan dan mengendalikan Israel.

Diplomasi tidak lepas dari perang opini di media informasi. Israel dengan penguasaan teknologi informasi memainkan perannya untuk memenangkan opini publik tentang kedudukan Israel di Yerusalem. Propaganda keunggulan-keunggulan ras Yahudi dipertontonkan untuk menundukkan bangsa-bangsa di dunia bahwa dirinya merupakan ras unggul pilihan Tuhan. Doktrin agama yang menjadikan mereka sebagai umat pilihan disebar luaskan dengan dukungan fakta-fakta keunggulan yang dimilikinya dalam bidang sains dan teknologi. Dengan berbagai cara berita-berita diciptakan dan disebarluaskan untuk mengukuhkan eksistensinya di muka bumi.

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (Al Maa’idah, 5:41)

Jika semua peduli pada kemanusiaan antara Palestina dan Israel, jalur diplomasi melalui perjanjian adalah cara damai yang sangat baik untuk meminimalisir korban perang. Cara diplomasi jika dilihat kasat mata memang seperti mengukuhkan pendudukan Israel di Palestina, namun pada saat perjanjian dilakukan, Israel akan bermain peran sebagai negara di dunia yang tidak lepas dari bantuan dan kendali dari negara-negara lain. Dengan dipomasi kekuasaan Israel menjadi terbatas dan terkontrol.

Selain itu, Israel yang didirikan oleh bangsa Yahudi, tidak akan lepas dari takdir Tuhan. Bangsa Yahudi memang ditakdirkan memiliki kelebihan dari bangsa-bangsa lain, namun kelebihan inilah yang akan melemahkan kedaulatan Israel itu sendiri. Israel bisa jadi dapat mengukuhkan kembali eksistensi bangsa Yahudi dalam pentas politik dunia. Namun demikian, takdir telah menetapkan, jika bangsa Yahudi berkuasa, kekuasaannya tidak akan berumur panjang. Sekalipun fakta bangsa Yahudi ras unggul, mereka sudah ditetapkan Tuhan menjadi bangsa terusir.  

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al Hajj, 22:40).

Pengusiran sudah identik dengan takdir orang Yahudi sebagaimana sejarah mengabarkan, sekalipun sekarang mereka melakukan pengusiran untuk mendirikan kedaulatan negaranya. Maka atas dasar prilakunya itu bangsa-bangsa Yahudi akan kembali pada takdirnya menjadi bangsa terusir. Sekalipun ditakdirkan sebagai bangsa unggul, takdir-Nya pula tidak akan menjadi bangsa pengendali dunia. Wallahu’alam.

Tuesday, May 11, 2021

BAHAYA BERPIKIR NEGATIF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Berpikir negatif dalam bahasa Al-Qur’an adalah berprasangka buruk. Allah melarang manusia untuk berpikir negatif karena berpikir negatif masuk pada kategori dosa. Mengapa tidak boleh berprasangka buruk? Al-Qur’an (17:7) menjelaskan bahwa keburukan yang dilakukan seseorang akan menimpa pelakunya, sebaiknya kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali kepada pelakunya.

Ibrahim Elfiky (2014) mengatakan bahwa berpikir negatif adalah penyakit sangat berbahaya. Ia candu seperti narkoba dan minuman keras. Pikiran negatif menghasilkan perasaan, prilaku negatif dan dampak yang negatif. Selain itu, pikiran negatif membuat perasaan selalu khawatir. Para ilmuwan di Universitas Stanford melakukan penelitian tentang kekuatan pikiran negatif dan pengaruhnya terhadap organ tubuh. Hasilnya pikiran negatif membuat lambung mengeluarkan asam sangat kuat. Mereka mengambil asam lambung tersebut kemudian meletakkannya pada makanan tikus yang dijadikan objek penelitian. Hasilnya sungguh mencengangkan, tikus itu mati karena kuatnya kadar asam itu. Para ilmuwan terus mengulang penelitian dan hasilnya tetap sama: kematian.

Penelitian yang diakukan fakultas kedokteran San Francisco pada tahun 1985 menyimpulkan bahwa pikiran negatif penyebab 75% lebih penyakit organik seperti jantung, tekanan darah tinggi, vertigo, dan kanker. (Elfiky, 2014). Atas dasar itu, berpikir membutuhkan panduan, agar kondisi kesehatan bisa terjaga.

Berpikir ada yang dilakukan secara sadar dan ada yang di bawah alam sadar. Pikiran alam bawah sadar mengendalikan prilaku-prilaku spontan pada diri manusia. Hasil pemikiran dan yang kita lakukan dipengaruhi oleh persepsi.  Penelitian yang dilakukan Universitas George Town menyimpulkan bahwa lebih dari 90% sikap kita dilakukan secara spontan, tanpa dipikir panjang. (Elfiky, 2014). Hal-hal yang sudah menjadi rutinitas biasanya dilakukan secara spontan dikendalikan oleh pikiran alam bawah sadar.

Sangat berbahaya sekali jika alam bawah sadar memiliki kebiasaan berpikir negatif. Prilaku-prilaku spontannya akan bersifat negatif. Prilaku pikiran spontan dan negatif secara tidak sadar telah membahayakan diri sendiri setiap saat. Berpikir negatif adalah prilaku tidak kasat mata, sangat mudah terlintas dalam berbagai kondisi. Bisa dibayangkan bahwa orang-orang yang memiiki kebiasaan berpikir negatif jiwa sedang terancam setiap saat akibat keburukan prilaku berpikir yang dilakukannya. Hanya kesadaran yang bisa mengakhiri kebiasaan berpikir negatif.

Jika pikiran negatif dapat menghasilkan asam lambung yang racunnya dapat membunuh tikus, dapat dipahami jika orang-orang yang sulit sembuh dari penyakit bukan karena tidak ada obatnya, tetapi tidak bisa mengubah pola pikirnya yang selalu spontan negatif dan tidak disadari.

Faktor dominan dari penyebab lahirnya pikiran negatif adalah prasangka buruk pada setiap kejadian. Prasangka buruk akan berubah menjadi prilaku suka menyalahkan orang lain, atau menilai prilaku orang lain buruk, dan lupa pada diri sendiri sebagai manusia yang tidak lepas dari keburukan. Padahal Allah mengabarkan dunia ini diciptakan untuk kebaikan dan kemudahan. Persepsi prasangka baik harus dijaga dalam menyikapi berbagai kejadian agar setiap saat manusia diiputi kebaikan yang telah ditetapkan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain”.(A Hujurat, 49:12).

Orang yang akut selalu berpikir negatif adalah mereka yang selalu mencari sisi buruk ketika melihat objek, orang, atau kejadian. Pola pikir ini menular dan sangat berbahaya. Orang-orang sukses tidak pernah melihat keburukan sekalipun dari keburukan. 

Sangat dipahami oleh akal jika berpedoman pada Al-Qur’an bahwa orang yang paling berbahaya bagi manusia di muka bumi ini adalah manusia itu sendiri. Untuk memperbaikinya harus berawal dari mengubah atau membiasakan berpola pikir positif. Logika Tuhan adalah cara berpikir positif sebagaimana Allah telah memberi petunjuk di dalam Al-Qur’an. Wallahu’alam.

Friday, May 7, 2021

CARA MENJADI ORANG SABAR

OLEH: MUHAMMAD PLATO 

Tidak dapat dikatakan orang baik tanpa memiliki kesabaran. Sebaik-baiknya manusia dia belum menjadi orang baik, tanpa memiliki sifat dan prilaku sabar.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat, 41:35).

Kata sabar sering dinasehatkan kepada siapa saja yang sedang menghadapi ujian dari Allah. Namun demikian jarang orang memahami apa  arti sabar menurut Al-Qur’an. Sangkaan kita, sabar itu hanya sekedar diam, menerima apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Pandangan ini sangat pasif dan orang-orang sabar dianggap orang menderita, sehingga menjadi orang sabar dianggap menjadi orang dalam posisi tertindas. Pandangan ini sangat negatif dan membuat orang-orang sabar pesimis dan pada enggan menjadi orang sabar.

Jika kita belajar dari Al-Qur’an orang-orang sabar pasti optimis dan bahagia. Untuk memahaminya kita coba pahami konsep sabar dari penjelasan Al-Qur’an. Kabar gembira bagi orang yang memilih hidup berkarakter sabar. Orang-orang sabar teman dekatnya Allah. Siapa yang mengganggu orang sabar dia berurusan dengan teman dekatnya yaitu Allah. Dalam Al-Baqarah, 2:153), Allah berfirman, “sesungguhnya Allah bersama orang sabar”.

Betapa beruntungnya orang-orang yang menjadi teman dekat Allah. Lalu siapa orang-orang sabar ini? Al-Qur’an memberi kriteria siapa orang-orang sabar. Berikut kriteria orang-orang sabar menurut penjelasan Al-Qur’an.

1.      Shalat

Karakter yang dapat diihat sebagai orang sabar adalah shalat. Bagi orang-orang yang shalat Allah akan menganugerahkan kesabaran. Minimal kesabaran beliau dalam menjaga tetap melaksanakan shalat. Konsepsi shalat tentu bukan hanya ritual tetapi termasuk dalam tindakan-tindakan baik secara faktual. 

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Al Baqarah, 2:45).

2.      Pemberi Maaf

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Asy Syuura, 42:43).

3.      Menolak kejahatan dengan kabaikan.

Karakter orang sabar sudah tidak lagi terpengaruh oleh rangsangan-sangsangan berbuat baik yang datangnya dari luar. Apapun reaksi yang datang dari luar, sudah tidak berpengaruh karena respon yang dihasikan kepada setiap kejadian adalah respon yang baik. 

 "disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan", (Al Qashshas, 28:54).

4.      Taat dijalan benar

Kesabaran seseorang diuji dalam ketaatannya menjalani jalan yang benar. Tidak ada kesabaran pada orang-orang yang taat pada jalan salah. Orang-orang sabar memiliki prilaku konsisten dalam menjaga untuk tetap di jalan benar.

“orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur. (Ali Imran, 3:17).

Kesimpulan sementara sabar adalah prilaku agung orang-orang baik. Siapa memiliki karakter orang sabar maka dia telah diberi keberuntungan yang besar. Kesabaran adalah karakter yang dapat mendatangkan kesuksesan. Prilaku sabar wajib diajarkan kepada anak-anak agar keak mereka menjadi pemimpin-pemimpin sukses di negeri ini. Allah berjanji kepada orang-orang sabar.

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar, 39:10).

Untuk itulah sabar sangat perlu diajarkan di sekolah-sekolah sebagai karakter sukses yang akan mendampingi anak-anak ketika sukses di masa mendantang. Wallahu’alam.

Wednesday, May 5, 2021

FITNAH PADA AGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pesan Nabi Muhammad saw, agama itu awalnya asing dan akan kembali menjadi asing. Terorisme bukan untuk menyerang sekelompok agama, tetapi upaya sekelompok orang untuk mengkerdilkan peran agama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Pertarungan ini sudah terjadi sejak dahulu antara orang orang pola pikir materialis dengan religius.

Agama adalah ajaran moral agar manusia bisa hidup berdampingan dengan damai dan sejahtera. Damai dan sejahtera adalah puncak yang ingin dicapai oleh orang-orang beragama. Peran agama menjadi terasing dari kehidupan dengan pola-pola pikir sekuler yang positivistik. Agama menjadi symbol-simbol dan ritual-ritual. Kultus individu, gelar, penampilan, bangunan, seolah menjadi tampilan baku dari ciri orang beragama. Agama telah kehilangan nalar karena nalar dianggap k kekafiran.

Nietzsche, (1844-1900) telah mengemukakan pemikirannya bahwa kelak manusia akan membunuh Tuhannya. Seorang mahasiswa dari fakultas hukum yang giat belajar filsafat menemukan bahwa Nietzsche tidak mengajarkan orang menjadi Atheis. Dia membantu menjelaskan bahwa dengan menjamurnya pemikiran-pemikiran ilmiah materialistik, suatu saat akan sampai pada titik bahwa sebagian besar manusia sudah tidak lagi menganggap Tuhan ada. Sekalipun hidup, Tuhan akan terpenjara di masjid-masjid, biara-biara, dan sinagog. Tuhan tidak ada di lembaga poitik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pada akhirnya Tuhan tidak akan lagi hadir di rumah dan dunia pendidikan. Hubungan antar manusia menjadi transaksional karena berharap imbalan-imbalan material.

Penjelasan Nietzche bisa dipandang sebagai sebuah gambaran kekhawatiran melihat pesatnya pola-pola pikir manusia yang semakin materialistik. Pola pikir material yang dikampanyekan mealui sains dan teknologi informasi berhasil menjadi world view berpikir sebagian besar manusia. Agama yang mengajarkan keikhlasan, kejujuran, kedamaian antar umat manusia, difitnah sebagai penghambat kemajuan dan biang perpecahan.

Padahal menurut Ibn Khaldun dan Maududi (2000), “agama memiliki peranan besar dalam membentuk dan menegakkan sejarah kehidupan bangsa yang berperadaban”. Karen Amstrong mengatakan bahwa sejarah dunia semuanya tentang sejarah Tuhan sebagai pemilik alam semesta.

Penganut agama pun terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berebut kebenaran. Pandangan-pandangan agamanya terjerumus pada keegoisan yang haus kekuasaan, dan kehormatan. Sumber ajaran agama bergeser pada penafsir-penafsir agama yang saling bergesekkan karena ingin mendapat pengakuan sebagai pemilik kebenaran. Ayat-ayat Tuhan digunakan untuk melegitimasi kekuasan dan kehormatannya.

Agama harus dikembalikan pada fungsi sesungguhnya. Agama diajarkan untuk memberikan pedoman atau petunjuk arah bagi kehidupan di dunia secara aplikatif bukan hanya sebatas ritual-ritual, simbol-simbol. (Agustian, 2002:xliv). Nalar agama harus kembali kepada ajaran sesungguhnya yang bersifat universal untuk memberi petunjuk pada umat manusia agar hidup damai dan sejahtera di muka bumi sebagaimana diajarkan pada para utusan-Nya. Agama adalah pembangun peradaban umat manusia.  

Kehadiran nalar dalam memahami agama sangat dibutuhkan sebagaimana Tuhan mengancam kepada mereka yang tidak menggunakan nalar dalam beragama. Nalar materialis yang cenderung telah menguasai nalar manusia, membutuhkan nalar religius bersumber pada pengetahuan kitab suci ajaran agama yang mengajarkan keseimbangan dunia dan akhirat dalam berpikir. Agama mengajarkan bagaimana manusia bisa hidup damai sejahtera di dunia dan diakhirat. Ritual-ritual ajaran agama apa bila dipahami dengan nalar sebenarnya mengandung pesan simbol-simbol bagaimana keteraturan hidup manusia di dunia yang kelak menjadi sebab kesuksesan hidup di akhirat.

Dunia dan akhirat bukan ruang dan waktu terpisah, melainkan suatu kontinum berkelanjutan menuju cita-cita hidup yang luhur menuju kembali kepada Tuhan. Taufik Pasiaq mengatakan ada Tuhan yang maha kreatif dalam setiap otak manusia. Tuhan selalu hadir untuk mensejahterakan manusia di manapun berada. Manusia Pancasila adalah manusia yang di dalam otaknya ada Tuhan sebagai pengendali hidup di dunia. Manusia Pancasila adalah manusia berakal Tuhan yang mempersatukan umat manusia dalam damai, dan selalu tampil menjadi manusia-manusia sejahtera di manapun berada. Wallahu’alam.  

Monday, May 3, 2021

FITNAH PADA AKAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan formal maupun informal. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis dan menilai apakah sesuai, benar atau salah. Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama. (id.wikipedia.org/wiki/akal).

Berdasarkan definisi di atas, akal adalah sebuah benda, karena dikategorikan alat. Di organ tubuh manusia akal terletak di bagian otak. Jelas sekali cara kerja akal adalah berpikir antara lain menganalisis, menyimpulkan, dan menilai. Setiap otak manusia pasti dilengkapi akal karena setiap manusia berpikir seperti menganaisis, menyimpulkan dan menilai.

Dari sini bisa kita simpulkan siapapun orangnya yang melarang dan meremehkan kemampuan akal akan mengalami ketertinggalan dari kualitas kemanusiaannya. Allah merendahkan kualitas manusia yang tidak menggunakan akalnya. Manusia yang tidak taat pada Tuhan dikategorikan sebagai manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.

“Dan apabila kamu menyeru untuk shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (Al Maa ’idah, 5:58).

Lebih tegas lagi manusia yang tidak mau menggunakan akalnya, akan ditimpa segala keburukan dalam hidupnya. Atas kehendak Allah, kebodohan, kemiskinan, perselisihan, perpecahan, akan menimpa umat yang tidak mau menggunakan akalnya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (Yunus, 10:100).

Maka yang berdosa bukan mereka yang menggunakan akal, tapi mereka yang menghalang-halangi digunakannya akal untuk berpikir. Banyak pendidik, penceramah, pendakwah berkata, agama tidak bisa dipahami akal seolah-olah hendak menghalang-halangi manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami agama. Padahal para pendidik, penceramah, pendakwah, mereka semua punya akal dan menggunakan akalnya. Orang yang menghalang-halangi orang menggunakan akal dia telah menggunakan akal, dan sekaligus tidak berakal.

CARA KERJA AKAL   

Akal berfungsi untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, serta menjelakan apa-apa yang belum dimengerti, sebagai mana di dalam Al-Qur’an dijelaskan.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan  yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf, 12:111).

Ukuran kebenaran yang didapat oleh akal sangat tergantung pada sumber pengetahuan yang diperoleh. Secara garis besar ada dua sumber pengetahuan yang diciptakan Allah, yaitu pengetahuan alam dan pengetahuan yang diturunkan Allah kepada para utusan berupa wahyu. Dua sumber pengetahuan ini menghasilkan dua konsep kebenaran yaitu kebenaran empiris dan kebenaran wahyu. Akal akan menghasilkan perbedaan kesimpulan jika pengetahuan yang didapatnya berbeda sumber.

Akal bekerja dengan rasional menggunakan pola berpikir sebab akibat. Akal bisa bekerja  jika ada pengetahuan yang diolahnya. Jika akal mengolah pengetahuan alam akan menghasilkan kebenaran rasional empiris (alam). Jika akal mengolah pengetahuan alam yang ada dalam pengetahuannya maka akal akan menghasilkan kebenaran rasional. Cara berpikir akal tidak terpisah, dia bersifat holistik karena alam adalah wahyu Tuhan dalam bentuk fisik.

Jika akal mengolah pengetahuan wahyu akan menghasilkan kebenaran rasional religius. Jika akal mengolah pengetahuan wahyu yang ada dalam pengetahuannya akan menghasilkan kebenaran rasional mistik.

Jika akal bekerja menggunakan kekuatannya dalam mengolah pengetahuan tanpa menggunakan pengetahuan alam, akal hanya berimajinasi. Selanjutnya jika akal bekerja menggunakan kekuatannya mengolah pengetahuan tanpa pengetahuan wahyu, akal telah menciptakan takhayul.    

Pengetahuan sains jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan alam maka sains hanya menghasilkan imajinasi. Ajaran agama jika diolah akal tanpa bukti rasional dari pengetahuan wahyu, maka agama akan jadi takhayul.

Kebodohan akal kaum intelektual adalah menggunakan akal hanya untuk mengolah pengetahuan alam dan menafikan pengetahuan wahyu sebagai sumber petunjuk kebenaran. Sebaliknya kebodohan akal kaum agamawan adalah menafikan pengetahuan alam sebagai sumber pembuktian kebenaran-kebenaran wahyu peningkat keimanan.      

Untuk itu dimana letak salahnya akal? Kesalahannya ada pada kelemahan dalam memahami sumber pengetahuan. Akal dibiarkan bekerja tanpa petunjuk dari Tuhan. Akal dibiarkan bekerja tanpa ketaatan pada Tuhan. Seharusnya akal diajak bekerja untuk meng-Esa dengan Tuhan. Seharusnya akal diajak berserah diri menyatu dengan akal Tuhan Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi maupun yang lahir. Fitnah terbesar adalah ketika akal dibenci sebagai penyebab kemunkaran, sementara Allah memurkai orang-orang yang tidak menggunakan akal. Wallahu’alam.  

Friday, April 23, 2021

AL-QUR’AN BICARA EMANSIPASI WANITA

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Apakah kepemimpinan wanita menjadi pertanda bahwa di Indonesia telah terjadi emansipasi wanita? Apakah tampilnya pemimpin wanita dalam kepemimpinan sebagai kabar baik? Saya tidak akan mempermasalahkan kepemimpinan wanita dalam dunia politik dan aspek kehidupan lain, tetapi wanita dan laki-Laki memiliki perbedaan itu fakta.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An Nisaa, 4:34).

Ayat di atas menjadi kontroversi dan mengajak semua orang berpikir bagaimana menerapkan emansipasi wanita dalam kehidupan nyata. Ayat ini mengajak dan melahirkan banyak tafsir dan penafsir. Siapa yang berhak menafsir ayat ini? Semua orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi. Para lulusan sarjana dan pasca sarjana, dari berbagai bidang ilmu berhak menafsir dengan perbendaharaan pengetahuan yang dimilikinya. Allah tidak pernah membatasi siapa yang berhak memahami Al-Qur’an dan siapa yang tidak berhak. Al-Qur’an adalah berkah untuk manusia dan siapapun berhak untuk berhubungan langsung dengan Al-Qur’an sesuai dengan kapasitas intelektualnya.

Kiai Hendi Noor seorang sarjana Fisika yang rajin mengikuti kajian Al-Qur’an dari youtube, memiliki penafsiran yang dipahaminya sendiri. Konsep “arijalu” yang ditafsirkan sebagai kata laki-laki tidak dipahami secara lahiriah. Arijalu dalam kontek batiniah adalah ruh yang suci yang ditiupkan Allah ke dalam jasad manusia. Laki-laki dan wanita memiliki ruh yang harus jadi pemimpin dalam kehidupan dunia. Kelak yang akan di adili di akhirat laki-laki maupun perempuan adalah ruh. Sedangkan kata “nisaa” tidak dipahami sebagai wanita dalam arti gender, melainkan jasad.

Selanjutnya Kiai Hendi Noor menyimpulkan bahwa bukan laki-laki atau perempuannya yang harus memimpin tetapi baik laki-laki maupun perempuan harus dipimpin oleh Ruhaninya “jallu” bukan oleh naluri yang sudah dipengaruhi jasadnya “nisaa”.

Dalam kontek penafsiran di atas, Kiai Hendi Noor tidak mempermasalahkan jika ada seorang wanita menjadi pemimpin, karena di dalam diri wanita itu sendiri sesungguhnya ada ruh yang harus jadi pemimpin ketika wanita itu menjadi pemimpin. Tafsir kiai Hendi Noor masuk kategori lapis dua dengan tingkat abstraksi tinggi.

Dengan hadirnya penfasiran seperti Kiai Hendi Noor, apakah penafsiran bahwa laki-laki secara fisik ditakdirkan sebagai pemimpin salah? Faktanya secara statistik saat ini, pemimpin pemimpin negara lebih banyak dipegang oleh laki-laki. Secara kodrat fisik laki-laki lebih memungkinkan untuk jadi pemimpin. Berdasarkan struktur otak, laki-laki yang lebih dominan gunakan logika lebih memungkinkan untuk jadi pemimpin. Laki-laki selama hidupnya tidak ada masa-masa kritis dimana emosi tidak stabil, berbeda dengan wanita yang memiliki masa emosi tidak stabil karena datang bulan.

Secara fisik wanita pun memiliki tugas untuk hamil untuk menjaga eksistensi manusia. Untuk itu wanita dibatasi geraknya selama sembilan bulan mengandung. Setelah itu ada fase menyusui sampai usia anak dua tahun. Melihat kondisi fisik seperti ini, ada layaknya bahwa kata “arijalu” ditafsirkan dengan laki-laki dan “nisaa” adalah wanita. Realitasnya para Nabi yang diutus dikabarkan di dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai laki-laki.

Lalu tafsir mana yang akan digunakan? Kedua-duanya bersumber pada Al-Qur’an. Tidak perlu ada perselisihan tafsir mana yang benar, karena kebenaran mutlak milik Allah. Perseisihan, pertikaian, sudah jelas sebabnya karena masing-masing sudah jadi tuhan-tuhan selain Allah.

Perbedaan pendapat adalah realitas hidup dari Tuhan, tujuannya agar manusia tidak saling mengklaim kebenaran dan harus saling memberi kesempatan untuk mengekspresikan pemikirannya. Tujuan dari kehidupan adalah kondisi damai yang saling menghargai perbedaan dengan rujukan pola pikir Al-Qur’an. Budaya atau kebiasaan masyarakat tidak serta merta dapat disalahkan karena tafsir-tafsir Al-Qur’an bisa hidup dalam budaya masyarakat. Manusia hidup dalam lautan takdir Tuhan, dan Al-Qur’an akan membenarkan mana yang harus manusia terus lakukan atau hentikan.

Laki-laki jadi pemimpin memiliki dasar pemikiran dari Al-Qur’an, dan wanita menjadi pemimpin dilandasi pemikiran dari Al-Qur’an. Pemikiran mana yang mau dilakukan, takdir Tuhan yang akan menentukan. Al-Qur’an diturunkan untuk memudahkan tidak untuk menyulitkan manusia. Wallahu’alam.

Sunday, April 18, 2021

AGAMA ILMU BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama pada era disrupsi ini sering jadi perbincangan, bahkan perbincangannya kontra produktif, seolah-olah agama menjadi faktor penghambat perubahan dan persatuan bangsa. Pandangan ini sangat tendensius bukan datang dari kaum intelektual kelompok manapun, pandangan ini datang dari mereka yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan pribadi dan golongan untuk suatu kepentingan.

Jika manusia terdiri dari ruh dan jasad, maka ruh adalah inti dari manusia. Berpikir adalah bagian dari aktivitas yang dilakukan ruh. Pengetahuan adalah makanan ruh yang akan diolah dengan aktivitas berpikir dan menghasilkan kesimpulan demi kesimpulan sebagai dasar manusia dalam bertindak, berprilaku dan berkepribadian.

Agama berkaitan dengan kecerdasan intelektual seseorang. Keberagamaan seseorang akan berbanding lurus dengan kecerdasan intelektualnya. Edward Said tidak membedakan peran alim ulama dengan para intelektual, mereka sama-sama memiliki tugas menyebarkan ajaran-ajaran damai dan kebaikan dari Tuhan atau pewaris para Nabi.

Nabi Muhammad saw dalam hadis menjelaskan bahwa tujuan dari agama adalah memperbaiki akhak (kepribadian atau karakter) seseorang. Pembentukkan akhlak dalam ilmu pendidikan meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk itu agama dalam kacamata pendidikan adalah ilmu yang bertujuan membentuk pola pikir, perasaan, dan prilaku yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Ritual dan kepribadian yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kegiatan psikomotor sebagai pengikat pikiran dan perasaan.

Pembentuk perasaan dan psikomotor adalah kegiatan pola pikir yang ada di wilayah kognitif.  Berpikir adalah pekerjaan ruh sebagai inti dari kehidupan manusia. Ruh adalah daya berpikir kreatif yang ditiupkan langsung oleh Tuhan sebagai bagian unsur inti dalam diri manusia. Mahmud Thoha (1994) mengatakan bahwa ruh adalah daya entrepreneurship yang dimiliki oleh setiap manusia.  Pendidikan berkaitan erat dengan usaha sadar untuk menjadikan ruh manusia berpikir sehat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Nabi kepada umat manusia.

Perbedaan pola pikir terletak pada sumber pengetahuan, dominasi, dan egoisme. Perbedaan pengetahuan membuat perbedaan persepsi. Dominisasi dan propaganda, membangun persepsi publik hingga jadi pola pikir bersama. Egoisme membangun persepsi berdasar pada kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan. Sumber pengetahuan agama dari kitab suci Al-Qur’an  membebaskan manusia dari keterikatan manusia pada alam, dominasi tradisi nenek moyang, dan sifat-sifat berlebihan mementingkan diri sendiri yang dilakukan manusia.

Nabi Muhammad saw pertama kali berdakwah di Mekkah adalah mengajarkan berpikir Tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai dzat yang tidak berwujud dan tidak dapat dipersamakan dengan manusia. Cara berpikir seperti ini membutuhkan kecerdasan nalar dengan sumber pengetahuan dari Al-Qur’an. Sebagaimana Allah jelaskan di dalam Al-Qur’an orang-orang beriman melaksanakan shalat dan berbuat baik pada sesama sesungguhnya mereka yang memiiki pikiran sehat.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imran, 3:7)

Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan sebagai pijakan berpikir. Berpikir kepada selain sumber dari Al-Qur’an seperti berpijak pada batu mengambang. Diihatnya batu tetapi ketika dipijak akan tenggelam. Sumber pengetahuan dan berpikir adalah permasalahan manusia dalam berpikir. Manusia-manusia yang tidak mengenal Tuhan bukan karena tidak berpikir, tetapi bermasalah di sumber pengetahuan.

Hanya agama yang membawa sumber pengetahuan yang otentik yang layak dijadikan agama. Ajaran agama yang membawa kabar pengetahuan dari karangan manusia adalah penyebab kekacauan dalam berpikir. Manusia-manusia yang berpikir pada sumber dari Al-Qur’an tidak akan mengklaim kebenaran tetapi hanya menyampaikan kebenaran. Bagi orang-orang yang berpikir bersumber pada Al-Qur’an perbedaan akan jadi kenyataan yang tidak saling membahayakan. Kehidupan akan jadi harmoni dan menyejukkan hati. Hati damai hadir dari pikiran sehat yang dipandu dari pengetahuan agama yaitu Al-Qur’an. Wallahu’alam.