Monday, April 22, 2019

POST TRUTH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Penemuan kabel fiber optik telah mengubah dunia material menjadi dunia maya. Kabel optik yang dalam setiap kabel bisa membawa 8000 percakapan, telah menggantikan kabel tembaga yang hanya bisa menampung 42 percakapan. (Naisbitt, 1990). Inilah awal era globalisasi, dunia terhubung dengan fiber optik. Lalu berkembang semakin luas dan personal dengan pemanfaatanan internet. (internet of thing).

Pada masa ini, informasi menjadi barang murah dan melimpah ruah. Semua orang menjadi cerdas dengan berbagai pengetahuan yang diaksesnya dari internet. Kebenaran menjadi milik pribadi karena setiap orang bisa berargumentasi dengan pengetahuan yang diyakininya. Setiap orang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang diaksesnya.

Abad informasi menjadi pisau bermata dua. Di sisi lain bisa mencerdaskan setiap individu, di sisi lain bisa menyesatkan. Kekerasan verbal dan fisik bisa jadi pribadi manusia, jika akses pengetahuannya cenderung pada informasi yang mengaduk-ngaduk emosi. Kapitalis, hedonis, konsumtif, bisa jadi pribadi manusia jika pengetahuan yang diaksesnya cenderung materialis. Damai, sejahtera, jika pengetahuan yang diaksesnya dari agama yang mengajarkan kedamaian hati dan pikiran.

Inilah ciri dari masa post truth (pasca kebenaran) di mana kebenaran menjadi milik setiap pribadi. Kebenaran menjadi milik individu karena mudahnya akses informasi. Pasca kebenaran (post truth) adalah masa di mana kebenaran menjadi milik otoritas individu dan dijamin haknya untuk mengemukakan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Jaminan mengemukakan pendapat difasilitasi oleh media sosial. Melalui media sosial pendapat individu bisa menjadi pendapat publik. Pada akhirnya setiap orang memiliki kebenaran berdasarkan ukuran pribadinya masing-masing. Inilah masa post truth masa kebenaran relative, karena setiap informasi kejadian dipersepsi oleh banyak orang yang hak-haknya di lindungi undang-udang.

Di masa post truth, informasi tidak lagi dikendalikan oleh satu otoritas baik individu maupun lembaga. Televisi, lembaga survey, ahli, ahlinya ahli, tidak bisa lagi mengendalikan orang. Menurut John Naisbitt dan Aburdene. (1990, hlm. 13) , zaman sekarang ditandai dengan “the triumph of individual”. Semua orang bebas bicara tentang hal apa yang diketahuinya dan membenarkan apa yang diketahuinya.

Televisi, lembaga survey, lembaga fatwa, ustad kiyai, hanya sebatas sumber informasi. Keputusan akan sangat tergantung pada kepemilikian pengetahuan yang dimiliki oleh seorang individu. Pola-pola pikir ilmiah rasional-empiris yang telah memenuhi setiap relung memori otaknya, akan sangat sulit menerima pengetahuan-pengetahuan ghaib dari wahyu. Pola-pola pikir mistis, instan, tidak akan memandang semua informasi sama asal ada orang yang menuturkannya. Pola pikir religius, cenderung hanya menerima pengetahuan dari yang dijamin kebenarannya.

"Ajaran agama yang mendamaikan tidak memberi peluang kepada siapapun untuk menjadi tuhan selain Allah" (Muhammad Plato)
Memasuki masa post truth, pola pikir terpisah-pisah seperti pendekatan masyarakat sekuler tidak akan bisa menjawab keadaan zaman. Setiap kebenaran akan dipatahkan dan memiliki kelemahan. Hasil survey bisa kalah sama doa, dan doa kadang terlihat kalah sama kekuatan teknologi. Seperti mencari penyebab pertama, antara telur dan ayam. Tidak ada penyebab mutlak, akhirnya dunia menjadi relatif. Orang mulai kehilangan pegangan dan cenderung apatis tidak punya kepercayaan.

Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya ajaran agama lebih dibutuhkan untuk membangkitkan optimisme. Namun para pemeluk agama tidak bisa membedakan pola pikir agama dan hawa nafsu. Prilaku beragama dan tidak beragama menjadi tidak terlihat perbedaannya. Kelompok mengatasnanamakan agama menghujat keadaan sama dengan kelompok tidak beragama. Kelompok yang mengatasnamakan agama mencela sesama, sama dengan kelompok tidak beragama. Akhirnya muncul kesimpulan kelompok beragama sama berbahayanya dengan kelompok tidak beragama.

Peran agama yang diharapkan di zaman post truth adalah agama bisa mengajak damai dan mensejahterakan umat manusia. Agama tersebut memiliki ajaran tidak saling mengejek, mencemooh, dan saling menjatuhkan. Agama tersebut mampu membuat damai dalam perbedaan, dan memberikan rasa optimisme dalam segala kondisi.

Ajaran agama yang mendamaikan tidak memberi peluang kepada siapapun untuk menjadi tuhan. Pemegang ajaran agama yang mendamaikan, hanya bertugas menyampaikan kebenaran, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang sabar dalam menjaga silaturahmi dengan rasa damai. Kreativitasnya dalam menyampaikan dan mengupayakan hidup damai menjadi ciri dari para pemeluk agama di masa post truth. Kualitas beragama tidak dilihat dari mana asal kelompoknya tapi diperlihatkan dalam akhlaknya secara individu. Wallahu a’alam.


(Head Master Trainer)

Wednesday, April 17, 2019

KEMERDEKAAN

Oleh: Muhammad Plato

Semua orang merdeka, dalam setiap pengambilan keputusan setiap orang merdeka.

Faktor lingkungan bagaimanapun poisinya hanya memengaruhi. Keputusan adalah milik pribadi masing masing.

Keputusan pribadi belum merdeka karena masih dipengaruhi oleh akal, nafsu manusia sebagai insan. Keputusan atas nama Allah adalah kemerdekaan.

Dalam situasi politik saat ini, apapun pilihan setiap orang jika diatasnamkan karena petunjuk dari Allah maka dia merdeka.

Keputusan yang diniatkan karena Allah dia telah lepas dari kepentingan akal dan nafsu pribadi. Maka segala akibatnya sudah menjadi hak prerogatif Allah.

Maka bagi siapa saja yang merasa menentukan pilihan karena Allah, dia tidak lagi mengontrol apa yang harus terjadi kemudian. Maka, jika pilihan kita kalah atau menang itu kehendak Allah bukan karena pilihan kita. Maka tidak ada marah kesal dan gembira berlebihan sampai melukai.

Itulah makna kemerdekaan. Mengambil keputusan karena Allah dan menerima keputusan karena Allah. Jika ketentuan sudah ditetapkan-Nya, belalah sesuai hak-hak dari-Nya, atau bersabarlah karena-Nya.

Jika situasi sudah cenderung damai, maka cenderunglah damai, dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang bertawakal. Itulah kemerdekaan. Salam optimis tanpa batas.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, April 13, 2019

INTELEGENSI SPIRITUAL

Oleh: Muhammad Plato

Nataatmadja (2001) mengemukakan pada abad millenium ke tiga, lambat laun kita akan berhijrah dari intelegensi artifisial (rasional empiris) ke intelegensi spiritual. Sebagaimana Bertrand Russell berpendapat, “manusia paling rasional itu adalah manusia di daerah tropis, yang dengan sabar duduk di bawah pohon pisang menunggu buah jatuh ke mulutnya”.

Apakah yang dimaksud dengan Intelegensi spiritual? Kemampuan berpikir sesuai dengan petunjuk Tuhan YME. Intelegensi Spiritual adalah kemampuan berpikir yang bersumber pada pengetahuan dan logika sebab akibat dari kitab suci Al-Qur’an.

Prof. Fahmi Basya (2015) adalah salah satu ilmuwan (ulama) yang berhasil mengembangkan intelegensi spiritual dari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada mahasiswa dalam mata pelajaran matematika Islam dan diakui sebagai mata pelajaran internasional . Transformasi 19 adalah logika matematika spiritual yang rumit, ditemukan dalam konstruksi logika Al-Qur’an. Suharya (2017), memperkenalkan intelegensi spiritual dalam pola pikir sehari-hari di buku Sukses dengan Logika Tuhan. Digunakan sebagai bahan pendidikan karakter religius di sekolah.

Diperkenalkannya kembali Intelgensi Spiritual adalah awal kebangkitan manusia millennium ketiga. Gambaran Russell tentang manusia sabar menunggu buah jatuh ke mulut adalah rasionalitas yang sumbernya bukan pada intelegensi artifisial (alam), tetapi rasionalitas intelegensi spiritual.

Dalam sejarah, siapakah manusia-manusia yang hidup dengan intelegensi spiritual? Mereka adalah manusia biasa (basyar), tetapi pola berpikirnya mengikuti petunjuk wahyu dari Tuhan YME. Salah satunya dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad saw.

Bisakah intelegensi spiritual diajarkan di sekolah? Bukan hanya bisa, tetapi harus. Intelegensi Spiritual adalah pembentuk karakter-karakter tangguh, optimis, pantang mengeluh, tidak suka menyalahkan orang lain, cerdas, cinta damai dan berani berkorban. Karakter ini dapat dibentuk dengan mengajarkan Intelegensi Spiritual, Matematika Islam atau Logika Tuhan kepada siswa. Wallahu’alam.  

(Penulis Head Master Trainer)

REZEKI GHAIB

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Rezeki itu ghaib. Pendapat ini sering dikemukakan dalam ceramah-ceramah keagamaan. Pendapat ini tidak sederhana, karena di tafsir dari Al-Qur’an.

“…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (At Thalaq, 65:2-3).

Informasi di atas, menjadi dasar penfasiran bahwa rezeki ghaib. Tepatnya tafsir rezeki ghaib terletak pada kata “memberi rezeki dari arah tiada di sangka-sangka”. Dalam pemahaman kita, rezeki tidak disangka-sangka adalah tidak bisa ditentukan dari mana arah dan sumbernya, atau ghaib.

Bukti bahwa rezeki ghaib, kita tidak pernah melakukan akuntansi keuangan di dalam kehidupan rumah tangga, tetapi berapa banyak keluarga dengan penghasilan biasa-biasa, pas-pasan, bisa membiayai anak-anaknya sekolah sarjana, bahkan lulus dari universitas di luar negeri. Keluarga dengan penghasilan 2 juta per bulan hidup, 10 juta per bulan hidup, 68 juta perbulan hidup. Keluarga dengan penghasilan 2 juta kurang, 10 juta kurang, dan 68 juta ternyata masih kurang. Semua kurang, tetapi semua hidup, itulah fakta rezeki ghaib.

Rezeki adalah hak prerogatif Allah. Bisa dilihat dalam kalimat selanjutnya dalam ayat di atas. “sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. Kalimat ini memperkuat tafsir bahwa rezeki itu ghaib karena urusan Allah. Jika urusan Allah yang Allah yang tahu, kita hanya menerka-nerka.

Para ulama juga mengatakan, “rezeki seperti kematian selalu mengincar kita”. Artinya jangan takut tidak dapat rezeki, dan jangan terlalu serius mencari-cari rezeki. Sebagaimana kematian, jangan takut mati, dan jangan serius mencari-cari mati. Hidup harus diatas kewajaran, bermain di dalam aturan. Bekerjalah di jam kerja, waktu liburan manfaatkan untuk kepentingan keluarga dan bercengkrama dengan sesama warga. Waktu shalat, tinggalkan pekerjaan, shalat dulu, jangan takut rezeki hilang, karena Allah yang atur urusan rezeki.

Semua manusia pasti mencari rezeki, tetapi apakah semua tawakal (optimis, berharap) pada Allah? Semua pasti mencari rezeki, pergi pagi pulang sore atau malam, belum tentu semua pencari rezeki harapannya selalu bergantung pada Allah. Mungkin ada yang harapannya digantung pada hasil pekerjaan, penilaian atasan, follower, subscriber, atau perniagannya. Orang yang tidak tawakal, pasti dijajah oleh pekerjaan, atasan, follower, subscriber, dan perniagaannya.

Apa bedanya tawakal dan tidak tawakal? Dalam hidup pasti ada dua siklus bergantian, sempit kemudian lapang, sempit kemudian lapang, begitu seterusnya. Orang-orang tawakal dalam kondisi sempit tetap optimis, dalam kondisi lapang semakin optimis. Jadi orang-orang tawakal optimisnya tanpa batas berharap rezeki dari yang ghaib.

Tawakal itu obat anti putus asa! Pola pikir bertawakal harus diajarkan didunia pendidikan, agar bangsa kita dari zaman ke zaman melahirkan generasi-generasi tangguh pantang mengeluh tanpa batas!.  Wallahu allam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, March 23, 2019

FUNGSI AKHIRAT


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah memberi petunjuk berpikir yang benar dalam Al-Qur’an. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al Ankabuut, 29:64).

Mengapa kehidupan dunia hanya senda gurau dan main-main? Sebab ada kematian yang membatasi hidup manusia. Tertawalah terbahak-bahak, melihat yang sibuk mengumpulkan harta, berebut kedudukan, saling menghujat, bermusuhan tanpa ujung dan mencela untuk mendapat kesenangan di kehidupan dunia.

Hidup ini main-main jika tanpa tujuan hidup di akhirat. Setiap manusia yang punya tujuan akhirat, tidak akan main-main tentang urusan dunia. Kehidupan dunia menjadi main-main jika hidup dengan curang dan tipu daya. Meraih kesenangan dunia dengan mengabaikan perdamaian, memecah belah, menyebar permusuhan adalah main-main.

Fungsi Akhirat Menghentikan Hawa Nafsu Manusia Yang Destruktif

Akhirat adalah penjaga moral manusia. Fungsi akhirat menghentikan nafsu manusia yang destruktif untuk urusan dunia. Akhirat berfungsi mengendalikan nafsu manusia yang serakah. Kesadaran manusia dibatasi oleh adanya pengadilan di akhirat.

Belum ada ilmu pengetahuan yang bisa mendeskripsikan kehidupan akhirat. Ranah akhirat tidak akan terjangkau oleh penglihatan manusia. Pengetahuan akhirat bisa terlihat oleh pikiran dan imajinasi manusia. Pikiran dan imajinasi manusia tidak akan menjangkau adanya kehidupan akhirat tanpa bantuan pengetahuan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Di sinilah fungsi kitab suci Al-Qur’an sebagai petunjuk berpikir untuk manusia, isinya berupa segala pengetahuan tentang adanya kehidupan dunia dan akhirat.   

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya (berpikir)? (Al An’aam, 6:32).

Memahami dunia butuh panduan pengetahuan dari Sang Pencipta. Untuk itulah kitab suci adalah petunjuk bagi orang-orang yang mau berpikir. Meneliti dan memahami kitab suci, butuh ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi adalah sarana untuk mengenal dan meyakinkan adanya kebenaran yang dikabarkan dalam kitab suci tentang kehidupan dunia dan akhirat.  

Allah berfirman mendeskripsikan apa yang terjadi setelah kematian dalam kitab suci Al-Qur’an. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.   (Az Zalzalah, 99:7-8).

Cukuplah informasi ini menjadi penjaga moral bagi setiap manusia yang berpikir sampai akhirat. Seyogyanya setiap manusia mengukur kesejahteraan dunia dengan perhitungan akhirat. Setiap manusia pasti melakukan sesuatu untuk mempertahankan hidupnya di dunia. Namun, setiap kebaikan bukan diukur dari pekerjaan yang dilakukannya di dunia semata, di akhirat kebaikan diukur dari niat baiknya. Niat ada dalam tataran perasaan dan pikiran manusia. Hadis mengabarkan, “kelak manusia akan dibangkitkan dengan niat-niatnya”. Maka fungsi akhirat adalah mendorong setiap manusia untuk bertindak dan membangun harapan tanpa batas sampai kehidupan setelah mati. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

PESAN DARI NEW ZEALAND


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kami tersenyum, melihat manusia melalui live streaming menembaki kaum muslimin di New Zealand dengan darah dingin, tanpa alasan benar. Bagi manusia yang terperdaya pola pikir material, dan pengetahuannya sebatas materi,  mati adalah mengakhiri kehidupan dan sebuah kerugian besar. Bagi mereka yang pengetahuannya dibatasi materi, kematian adalah hal paling menakutkan karena kehidupan dunia, satu-satunya kehidupan yang harus dipertahankan.

Kita memahami pembunuhan masal yang dilakukan manusia di New Zealand adalah teror bagi kaum muslimin dunia. Pembunuh sengaja menyebarkan ketakutan bahwa umat Islam sedang terancam hidupnya di dunia. Namun kami tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan manusia yang meneror umat islam. Kamu bukan meneror umat Islam, tapi meneror Tuhan Yang Maha Esa. Kamu sendiri yang akan menderita kekalahan.

Kami tidak akan menjelaskan Islam kepada mereka yang sudah ditakdirkan bodoh oleh Tuhan. Namun kami harus menjelaskan pola pikir kami dalam menyikapi kematian. Umat Islam tidak bisa ditakuti-takuti dengan kematian. Pola pikir umat Islam berbeda dengan pola pikir manusia materialis, agnostik, atau atheis.

Seorang muslim tidak akan merasa rugi, bersedih hati, takut, fobia, kehilangan nyawa. Bagi seorang muslim kehidupan sebenarnya ada setelah mati. Bagi muslim kematian adalah pintu yang harus dimasuki untuk menuju kehidupan abadi. Bagi kami mati dalam kondisi apapun, dengan cara apapun adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dihindari. Dan bagi kami, jika dalam kondisi sangat dibutuhkan, mati di jalan Allah adalah sebuah cita-cita yang kami impikan. Itulah pola pikir kami sebagai muslim.

Pola pikir kami umat Islam dipandu oleh Al-Qur’an. Salah satu pola pikir umat Islam yang tidak takut mati, didasari oleh pola pikir ayat berikut, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al Ankabuut, 29:64).

Pola pikir kami tidak berhenti di dunia, tetapi tembus sampai masa depan yang kekal yaitu akhirat. Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan sistem hidup. Kehidupan dunia dan akhirat dibatasi oleh mati. Bagi kami akhirat bukan nun jauh di sana, tetapi esok lusa jika kami mati.

Bagi kaum muslimin, sekalipun kami hidup di dunia, tetapi kehidupan sesungguhnya ada di akhirat. Dunia bagi kami fatamorgana dan akhirat adalah realita.  Semua muslim merindukan kembali kepada kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Mati adalah pintu masuk kepada kehidupan abadi bersama Tuhan Yang Maha Esa.

Di dunia, Kami tidak mencari mati dan tidak juga menghindari kematian. Kematian bukan kami yang menentukan tetapi takdir Tuhan. Apapun yang kaum muslimin lakukan adalah usaha untuk menuju kehidupan akhirat. Kampung akhirat di isi oleh orang-orang yang berbuat kebajikan yang mensejahterakan semseta alam. Berbuat kebajikan adalah berusaha dan berkerja atas nama Tuhan untuk kebaikan manusia dan segala isinya.  

Apapun yang terjadi pada kaum muslimin di muka bumi, tidak ada kerugian sedikit pun bagi kami. Kerugian terbesar bagi kami adalah ketika mati dalam kekafiran (tertutup) dari petunjuk Tuhan Yang Maha Esa, Yang Tidak Beranak dan Tidak Beribu Bapak. Kewaspadaan kami bukan kepada para pengintai yang akan membunuh kami, tetapi kepada jiwa-jiwa kami yang kadang tidak terkendali keluar dari apa yang diperintahkan Tuhan dan merugikan orang lain. Kami khawatir jika kami mati sementara jiwa kami sedang cenderung pada keburukan. Kami semua ingin mati, di saat jiwa-jiwa kami sedang diberi ketenangan dan dijanjikan Tuhan menempati jannnah. Kematian kami di masjid sebagai orang teraniaya adalah kemenangan bagi kami, semoga Allah mentakdirkan kami mati dalam kebajikan dan tercatat sebagai syuhada.

Demikian kami sampaikan pesan ini kepada dunia, dari saudara kami di New Zealand. Kami semua menantikan kematian dengan akhir baik. Perlu kalian ketahui, saudara-saudara kami yang sudah tenang di akhirat, ingin kembali hidup hanya karena ingin kembali mati sebagai syuhada. Itulah kami, tidak ada yang kami takuti kecuali Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer @logika Tuhan).



Thursday, March 7, 2019

KEKUATAN DOKTRIN TENTARA IRAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO
Dengan search melalui keyword “tentara ngaji bareng”, di youtube anda bisa lihat dan dengarkan, ada sekelompok tentara berbaris rapi dan serempak, seirama, membaca dengan hafal ayat Al-Qur’an dan membacanya bersama-sama dalam sebuah upacara. Ayat Al-Qur’an yang mereka baca adalah surat Fushshilat (41) ayat 30-35. Mari kita cermati apa makna dari surat dan ayat tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

TENTARA DI DOKTRIN, sebagai orang yang sudah berkomitmen tinggi bahwa Tuhan adalah Allah, dalam melaksanakan tugas mereka harus jadi pemberani dan tidak perlu bersedih karena urusan duniawi, karena Allah telah menjanjikan mereka balasan terbaik yaitu surga.

“Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. “Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (41:31-32)

Tentara adalah mereka yang menginginkan mati dalam sabar dan berserah diri kepada Tuhan.

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas mereka telah dijamin dilindungi oleh Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan tantara adalah pelindung rakyat.  Selama menjadi pelindung rakyat, apa pun yang mereka inginkan Allah akan mengabulkannya sesuai dengan permintaan. Dan Itulah hidangan terbaik dari Allah swt.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?" (41:33)

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas hendaklah mereka awali dengan niat karena Allah, dan jadikanlah pekerjaan mereka sebagai perbuatan amal shaleh, pekerjaan terbaik di hadapan Allah. Dan jadilah orang-orang yang ikhlas. Orang-orang yang menerima dan berserah diri terhadap segala ketentuan Allah.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (41:34).

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan tugas harus bisa membedakan perbuatan baik dan jahat. Dalam kondisi apapun apa yang dilakukan harus diniatkan atas dasar kebaikan dihadapan Allah. Tidak niat penganiayaan, pemerkosaan, balas dendam, dan pemusnahan masal umat manusia. Sekalipun musuh berniat jahat, dan harus berperang melawan musuh, niatnya harus tetap baik, sampai akhirnya mereka mengerti bahwa kita orang baik dan bisa menjadi teman setia. Sesungguhnya tugas tentara bukan untuk berperang tetapi menyebarkan kebaikan dan mencari persaudaraan.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (41:35)

TENTARA DI DOKTRIN, dalam melaksanakan misi kebaikan, dibutuhkan kesabaran tinggi. Sekalipun dihujat, difitnah, diancam, disiksa, dalam kondisi sesulit apapun sebagai orang yang memiliki sifat baik harus tetap bersabar. Untuk menjaga tetap bersabar dan istiqomah menjadi orang yang bersifat baik,  ingat-ingatlah janji Allah, keberuntungan, kemenangan yang besar bagi orang-orang yang sabar di dunia maupun akhirat. Mati di jalan Allah dalam kesabaran adalah keberuntungan besar dari pada hidup di dunia menjadi pecundang di hadapan Allah.

Siapa tentara itu? Tantara itu adalah kamu yang sama-sama menyebut, “Tuhan kami adalah Allah”. Tentara adalah para pemberani dan tidak bersedih karena urusan duniawi. Tentara adalah mereka yang memiliki sifat-sifat baik dengan berserah diri kepada Allah. Tentara adalah mereka yang hidup dalam kesabaran, dan selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Tentara adalah mereka yang selalu condong kepada hidup damai dan menjaga persaudaraan. Tentara adalah mereka yang menginginkan mati dalam sabar dan berserah diri kepada Tuhan. Wallahu ‘alam.

Sunday, March 3, 2019

ORANG SUKSES ADALAH ORANG GAGAL

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Benarkah setelah kesulitan ada kemudahan? Apakah kalimat ini hanya sebatas pribahasa atau ketentuan? Membuktikan adalah cara manusia untuk mendapatkan kebenaran.  

Robert J. Stenberg penulis buku Seccessfull Intelegence, menyatakan, “saya adalah seorang professor di Yale. Saya telah memenangkan banyak penghargaan, mempublikasikan lebih dari enam ratus artikel dan buku, dan memperoleh dana hibah sebesar 10 juta dollar untuk penelitian. Saya termasuk anggota akademi seni dan sains Amerika, dan tercantum dalam daftar Who’s Who in Amerika. Namun siapa sangka bahwa keberuntungan terbesar saya dalam hidup justru awalnya merupakan sebuah kegagalan. Hasil tes IQ saat saya kecil sungguh mengerikan. Mengapa saya begitu beruntung? Karena saya menayadari sewaktu SD bahwa jika saya ingin sukses, maka itu bukan ditentukan oleh IQ saya. Nilai rendah pada tes kecerdasan tidak menghalangi tercapainya kesuksesan, maka nilai tinggi juga tidak menjamin tercapainya keuksesan. (Stanley, 2017 hlm. 109).

“Dua kali Jack Ma ikut seleksi masuk perguruan tinggi dan gagal, karena hasil tes matematikannya sangat rendah. Kemudian ia mencoba mengirimkan 11 lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan dan semuanya ditolak. Kemudian ia melamar ke menjadi karyawan rumah makan fast food terkenal dari Amerika, dari 24 orang hanya dia satu orang yang ditolak. Untuk ketiga kalinya Jack Ma mendaftar masuk perguruan tinggi, dan kini diterima. Hanya perguruan tinggi tersebut bukan perguruan tinggi prestisius. Kampus ini berkualitas kelas tiga atau empat di kota yang dia tempati. Jack sering mengatakan bahwa mengalami kegagalan dan kembali mencoba adalah keberanian." (Clark, 2017, hlm. 51-52)

Tn. Patrick sudah meraih gelar Ph.D dari sebuah universitas ternama. Waktu di sekolah dasar gurunya mengelompokkan kelas menjadi tiga, kelompok pintar, rata-rata, dan bodoh. Tn. Patrick berada di barisan kelompok bodoh. Ketika Beliau berhasil menjadi multimiliarder, beliau mengaku masih belum bisa mengeja. Tn. Patrick adalah orang pintar dari barisan anak bodoh. (Clark, 2017 hlm. 111-112).

Lim (2003, hlm. 87) seorang pengusaha sukses dari Malaysia mengatakan, “semua hasil karya teragung  di dunia telah dihasilkan oleh keberanian, dan semua kemenangan terbesar di dunia telah lahir dari kegagalan. Takut gagal sebenarnya berasal dari bagaimana masyarakat bereaksi terhadap orang yang gagal. Kita merasa takut gagal karena persepsi negatif orang lain terhadap orang gagal.” Lim terlahir di keluarga besar dengan 14 orang saudara. Lahir di gubuk dengan makanan seadanya. Kehidupan yang sangat miskin menjadikan hidupnya sangat terbatas dalam hal fasilitas belajar. Sewaktu SMA pernah tidak naik kelas karena nilai ujiannya tidak memadai.

Abraham Lincoln adalah presiden Amerika Serikat yang sukses dalam sejarah Amerika. Namun sebelum dilantik menjadi presdien Amerika tahun 1860, beliau telah mengalami 11 kali kegagalan dalam perjalanan karir bisnis dan politiknya. Su Yat Sen berhasil menjadi Bapak Modern China setelah usahanya mengalami kegagalan 10 kali. (Lim, 2003. hlm. 65, 94).

Orang-orang gagal adalah orang-orang sukses. Selama ini banyak orang melihat orang sukses dari kesuksesannya. Padahal kata Soichiro Honda, “yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya 1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan-kegagalan saya.”  (Lim, 2003, hlm. 284). Oleh karena itu kecerdasan pewirausaha, mereka  tidak takut dengan kesalahan, kemunduran, dan kegagalan.

Fakta-fakta di atas, adalah bukti bahwa keterangan Al-Qur’an adalah benar. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (Alam Nasyrah, 94:5). Kesulitan adalah cara Allah mengajarkan manusia untuk sampai pada apa yang diinginkannya.  Kesulitan adalah pendidikan agar manusia memiliki kecerdasan wirausaha.

KEGAGALAN ADALAH PENDIDIKAN AGAR MANUSIA JADI PEWIRAUSAHA
Paradigma pendidikan abad sekarang adalah tidak ada lagi anak bodoh, semua anak cerdas dan harus belajar dengan guru-guru terbaik. Dalam berbagai penelitian telah diungkap bahwa memprediksi kesuksesan anak-anak dengan tes akademik tidak bisa dijadikan lagi sebagai satu patokan baku. Kecerdasan wirausaha adalah kemampuan holistis yang melihat siswa dari seluruh aspek, harus dikembangkan pada murid-murid. 

Menurut Sadino, (2007, hlm. xviii), seorang pewirausaha harus memiliki kecerdasan holistis.Untuk itu murid-murid harus dikembangkan kecerdasannya antara lain; kemampuan melihat peluang yang tidak dilihat atau tidak dianggap peluang oleh kebanyakan masyarakat umum; Gemar mengambil resiko atas tindakan yang dilakukannya; Berpikir visioner (optimis); Inovatif yakni bisa menemukan hal-hal baru; Berjiwa pemimpin; Pemikir yang bebas; Pekerja keras. Kemampuan ini bukan diukur dari kecerdasan akademik, tetapi harus dikembangkan dengan mengunakan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran. Wallahu'alam. 

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Saturday, March 2, 2019

DALIL MENGELUARKAN PENDAPAT


Oleh: Muhammad Plato

Scott mengatakan, “fact are sacred, opinion free”. (Carr, 1961, hlm. 10). Beliau ingin mengatakan segala kejadian yang ada di muka bumi adalah suci (bebas dari kepentingan), namun setiap orang boleh memberikan pendapat atau pemikirannya. Manusia sebagai makhluk berpikir pasti akan selalu mengeluarkan opini (pendapat) terhadap segala kejadian oleh karena berpikir mengeluarkan pendapat adalah sifat dasar manusia.

Sekalipun mengeluarkan pendapat bebas dilakukan oleh setiap orang, apa jadinya bangsa ini, jika pikiran, opini, pendapat, atau omongan masyarakat hanya memuaskan keinginan hawa nafsu? Seperti yang terjadi di negara kita, semua orang berpendapat, mengikuti standar kebenaran berdasarkan latar belakang pengetahuan masing-masing tanpa merujuk pada dasar petunjuk berpikir.

Apa bedanya orang beragama dan tidak beragama dalam berpikir? Orang-orang beragama berpikir mengikuti pola rujukan dari sumber yang dianggap sumber kebenaran dari Tuhan yang diyakininya. Apakah selama ini kita telah menjadikan kitab suci sebagai rujukan dalam berpikir? Pada saat orang beragama mengeluarkan pendapat, dengan merujuk pada sumber dasar agama, sesungguhnya dialah orang beragama, karena dia menggunakan sumber kebenaran agamanya sebagai panduan mengeluarkan pendapat.

Apapun pendapatnya, sekalipun terjadi perbedaan pendapat, jika pendapat bersumber pada kebenaran agama yang dianutnya, pendapat itu patut dihargai. Namun harus dipahami, pendapat atau opini sekalipun menggunakan sumber rujukan yang dianggap benar dari kitab suci, namanya tetap pemikiran atau pendapat manusia, maka tidak berhak merasa atau memaksa sebagai satu-satunya pendapat yang benar, harus tetap mengakui sebagai salah satu pendapat yang mungkin bisa salah karena situasi atau ada pendapat lain yang lebih tepat.

Namun demikian jika merujuk pada kitab suci Al-Qur’an, panduan beropini atau berpendapat tidak boleh menyalahkan atau merendahkan pendapat orang lain. Kita hanya bisa menyampaikan opini, pendapat, kapasitasnya sebagai pemikiran pribadi. Menyalahkan atau menyepelekan orang lain sama dengan berprasangka buruk terhadap pendapat orang lain yang kita tidak tahu apa motivasi atau niat seseorang mengeluarkan opini atau pendapat tersebut. Sangkaan buruk, menyalahkan orang lain adalah termasuk pola pikir jahiliyah atau dzonnal jahiliyyah, (Ali Imran, 3:154). Perintah berpendapat baik, dan larangan mencari-cari kesalahan serta menyalah-nyalahkan pendapat orang lain ada dalam Al-Qur’an;

ALLAH BERSAMA ORANG YANG BERPENDAPAT BAIK DAN MEMBAWA KEDAMAIAN 
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (Al Hujurat, 49:12).

Penafsiran dari ayat di atas dijelaskan dalam hadis Qudsi, “Aku bersama dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, maka hendaklah ia BERPRASANGKA dengan apa yang DIINGINKAN, bukan yang ia risaukan dan khawatirkan”. (Hadis Qudsi).

Inilah dalil MENGELUARKAN PENDAPAT. Dalam berprasangka (berpendapat) dalam hadis Qudsi dijelaskan harus bersama Aku (Allah), artinya setiap prasangka harus sesuai dengan sifat Allah Yang Maha Baik serta Mutlak Pemilik Kebaikan. Jika pendapat sudah dibarengi Allah mana mungkin ada pendapat buruk, sementara Allah Mutlak Baik. Pendapat buruk, menyalahkan orang lain adalah pendapat yang tidak dibarengi Allah. Maka dari itu berpendapat dengan apa yang diinginkan bukan berarti bebas sesuai keinginan (nafs) kita, tetapi keinginan yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang yang punya pendapat baik, yaitu kesejahteraan dunia dan akhirat. Jadi berpendapat dengan apa yang diinginkan bukan keinginan yang dibawa oleh keinginan (nafsu) destruktif, tetapi keinginan (nafsu) mutm’ainnah (Al Fajr, 89:27), yaitu nafsu atau keinginan yang membawa manusia pada kedamaiaan dan kesejahteraan.

Pendapat-pendapat buruk, dikendalikan oleh nafsu-nafsu destruktif yang tujuannya ingin menyalahkan, mengalahkan, merendahkan, dan mempermalukan orang lain. Maka panduan berpikir bagi setiap muslim adalah tidak berpendapat buruk tentang segala kejadian, karena setiap pendapat harus dibarengi Allah, yang artinya segala pendapat harus baik dalam arti tidak membawa perpecahan, tetapi menenangkan dan mendamaikan umat manusia.

Pendapat yang akan membawa ketenangan yaitu pendapat yang tidak ditujukan untuk memaksakan sebagai satu pendapat yang paling benar atau pendapat yang tidak dibarengi rasa sebagai pemilik kebenaran. Jika rasa jadi pemilik kebenaran dimiliki, maka apa yang terjadi di masyarakat sekarang adalah bukti bahwa sebelum beperndapat kita harus belajar memahami etika dan tuntunan dalam berpendapat.

Tidak ada perbedaan pendapat dan pasti semua sepakat, setiap pendapat harus membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi manusia. Nafsu-nafsu manusia yang tidak dibarengi Allah akan membuat pendapat-pendapat merendahkan serta memecah belah umat. Jika tidak memahami etika dan petunjuk berpikir dari Tuhan Yang Maha Esa, sekalipun beragama sebenarnya manusia tidak beragama. Seandainya berpendapat perlu etika dan petunjuk dari agama lalu kita sepakati bersama, sebagai bangsa demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia, tidak menutup kemungkinan kita akan jadi bangsa religius rujukan dunia dalam berdemokrasi.

Sekalipun kita telah memahami panduan berpikir, manusia pada hakikatnya pembuat salah, maka kita akan selalu terjebak dalam kesalahan berpikir karena lupa. Berpikir gerakannya melebihi kecepatan cahaya, maka tidak menutup kemungkinan manusia selalu melalukan kesalahan berpikir dalam kecepatan cahaya. Untuk itu, Allah mengakhiri ayat berprasangka dengan kata, “sesunggunya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang (innalloha tawwaburrohim).  Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Saturday, February 16, 2019

AKBAR = FOKUS


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sebagian besar telah memahami kata Akbar dari Bahasa Arab, diterjemahkan dengan makna BESAR. Baru-baru ini Prof. Fahmi Basya, mengeluarkan tafsir berdasarkan keterangan Al-Qur’an memberikan penjelasan bahwa kata Akbar ditafsirkan dengan makna Fokus.

Beliau mengatakan setepat-tepatnya tafsir adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu Beliau berkesimpulan bahwa menafsirkan Al-Qur’an jika ingin akurat harus dengan Al-Qur’an.

Ayat ini ditafsirkan oleh Prof. KH. Fahmi Basya, "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil (perumpamaan), melainkan Kami datangkan kepadamu suatu (kamus yang lengkap) yang benar dan yang paling baik (lengkap) penjelasannya dan setepat-tepatnya tafsir. (Al-Furqon, 25:33)


Untuk menjelaskan kata Akbar, Prof. Fahmi Basya menafsirkan kata akbar berdasarkan pada kisah Nabi Yusuf.

“…Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum, terpesona, ‘fokus’, kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya…" (Yusuf, 12:31).

Kata Akbarnahu yang tertulis dalam ayat di atas ditafsirkan dengan makna fokus. Ada juga yang menfasirkan terpesona, dan kagum. Para wanita melukai tangannya karena ada konsentrasi tinggi yaitu fokus mengarahkan pandangannya kepada Yusuf. Menurut Prof. Fahmi Basya, menafsirkan kata Akbar dengan fokus lebih mudah dipahami dan dicerna, mengapa para wanita itu melukai tangannya.

Sedangkan menurut Prof. KH. Fahmi Basya, kata BESAR dalam Al-Qur’an dijelakan dalam kata lain. Beliau menjelaskan masih dalam kisah Nabi Yusuf.

"Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.". (Yusuf, 12:28).

Ketika koyak baju Yusuf di belakang, Raja (suami dari perempuan itu) memfitnah Nabi Yusuf, bahwa fakta itu adalah tipu daya Nabi Yusuf, dan itu tipu daya besar (‘Aⱬim).

Menurut Prof. Fahmi Basya, memahami kata per kata bisa dengan memahaminya dan menafsirkannya dari Al-Qur’an. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah setepat-tepatnya tafsir.

Kata Allahu Akbar bisa memiliki tafsir alternatif yaitu fokus kepada Allah. Dalam shalat kita selalu mengawali setiap gerakkan dengan kata Allahu Akbar. Dengan makna fokus kepada Allah, bisa dipahami bahwa kata Allahu akbar dalam shalat adalah cara Allah mengajarkan kita agar ketika shalat pikiran selalu fokus pada Allah. Ketika shalat, harus selalu fokus (khusyu, serius) minta tolong kepada Allah. Maka dari itu diingatkan, diperharui dengan kata Allahu Akbar dalam setiap ganti gerakan.

Dalam kehidupan sehari-hari di kantor, di jalan, di rumah, di manapun kita harus selalu fokus kepada Allah, sebagai implementasi dari kata Allahu Akbar. Fokus kepada Allah dalam arti lahiriah adalah fokus pada perintah-perintah  Allah, seperti membiasakan membaca, melaksanakan shalat, berbakti pada ibu bapak, berbuat baik pada sesama, menjaga kedamaian, menjaga silaturahmi, saling menutupi aib, berprasangka baik, tidak putu asa, tidak menyalahkan orang lain, tidak mecemooh, rela berkorban dan sebagainya.  

Dalam hitungan detik pikiran selalu gagal fokus kepada Allah. Pikiran lebih sering memperhatikan kesalahan orang lain, padahal Allah memerintahkan fokuslah pada apa yang kamu lakukan agar hari esok mu lebih baik. Demikian juga, pikiran lebih sering fokus untuk mencari pembenaran prilaku dihadapan manusia, padahal Allah memerintahkan fokuslah untuk memperbaiki diri karena manusia tempatnya salah. Allahu Akbar….fokus pada Allah…!!! Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

Tuesday, February 5, 2019

PENYEBAB PASTI KEMATIAN


OLEH : MUHAMMAD PLATO

Apakah penyebab kematian? Jika sakit adalah penyebab kematian, banyak orang sembuh dari sakit, dan meninggal bukan karena sakit. Jika kecelakaan penyebab orang mati, beberapa kesaksian ada yang berhasil selamat dari kematian sekalipun mengalami kecelakaan berat. Jika racun penyebab kematian, ada orang-orang keracunan berhasil selamat dari kematian.

Banyak macam sebab kematian di dunia ini, karena terlalu banyak sebab, kita tidak akan sanggup menyebutkannya. Itulah variasi sebab kematian dari sudut pandang duniawi. Kita tidak bisa menyebutkan secara tegas apa penyebab kematian. Kesimpulannya ada banyak penyebab kematian di muka bumi ini.

Ilmu tentang keduniawian memang rumit dan sulit dicari keajegannya. Jika sakit biasanya segera diobati, dan sebenarnya sembuh dan tidak setelah diobati tidak dapat dipastikan. Ada yang sembuh diobati, namun ada juga yang meninggal setelah diobati. Dunia ini sifatnya tidak pasti. Kepastian dunia hanya mitos, sebagai bentuk kesepakatan bersama dengan dukungan data-data, agar terlihat pasti.

Kepastian ada dalam kontinum waktu. Kehidupan dunia terlalu singkat untuk melihat kepastian. Guna melihat kepastian, kontinum waktu harus dibaca tembus sampai ke kehidupan setelah mati.

Masa lalu>>>masa sekarang>>>masa depan>>>setelah kematian (akhirat)

Kepastian hidup di dunia dapat kita pahami, jika hidup ini berkelanjutan tembus sampai kehidupan setelah mati. Untuk itu, penting meyakini adanya hidup setelah mati, agar kita punya kepastian dalam hidup. Oleh karena itu, keyakinan kepada adanya hari akhirat, adalah keyakinan sesungguhnya yang harus benar-benar diyakini oleh manusia.  Pola pikir ini dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (Al Mukmunuun, 23:74).

Surat ini menegaskan bahwa keyakinan kepada akhirat adalah kebenaran mutlak. Harus dimiliki oleh setiap orang agar punya kepastian dalam hidup.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabuut, 29:64).

Keterangan ini, menguatkan lagi bahwa kehidupan nyata ada di akhirat, dan manusia harus berusaha mengetahuinya sampai haqul yakin. Tanpa keyakinan pada kehidupan akhirat, tidak akan ada kepastian hidup di dunia ini.


Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh. (An Nahl, 16;122)

Orang-orang yang mendapat kebaikan di dunia, bukan karena terlihat kasat mata kebaikannya di dunia, tetapi karena dinilai baik oleh Allah di kehidupan akhirat kelak. Bagi penglihatan manusia di dunia, kebaikan harus menghasilkan kebaikan, namun di akhirat, apa yang dilihat kasat mata keburukan bisa jadi pembuat kebaikan seseorang. Maka kebaikan tidak dapat dinilai pada saat kebaikan dilakukan, tetapi kebaikan seseorang dinilai setelah kebaikan itu berlalu. Untuk itu agar kita dapat memahami kebaikan seseorang di dunia dibutuhkan waktu dan pengamatan. Maka dari itu, kita sering menemukan kebaikan-kebaikan seseorang setelah orang itu pergi dari sisi kita.

Kebaikan sifatnya ada dalam keyakinan pribadi seseorang dengan Tuhannya. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kebaikan seseorang dinilai dari niatnya. Niat hanya ada dalam hati dan pikiran seseorang. Maka kebaikan dna keburukan yang mutlak ada di kehidupan setelah mati (akhirat). Hati-hati menilai seseorang, jangan terlalu cepat mengambi kesimpulan, karena kebaikan tidak dapat dinilai pada saat kebaikan itu dilakukan, tetapi beberapa saat setelah kebaikan itu dilakukan. Maka untuk menilai sesuatu bernilai baik atau tidak, butuh waktu sampai akhirnya kebaikan di nilai di akhirat. Atas dasar itu, dilarang manusia berprasangka buruk terhadap prilaku seseorang, karena pandangan mata fisik tidak dapat dijadikan ukuran mutlak.

Allah lah penyebab segala kebaikan, demikian juga dengan kematian. Bukan sakit, kecelakaan, bencana, sebagai penyebab kematian manusia, tetapi semata-mata karena takdir Allah swt. Allah lah penyebab segala sebab, dan kepada Allah lah kita akan berakhir.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadid, 57:3)

Suatu kepastian adalah takdir Allah penyebab kematian seseorang, dan terjadi dalam berbagai cara secara kasat mata. Namun dari setiap kejadian yang beraneka ragam akan ada pelajaran dari Allah agar manusia belajar dari setiap kejadian alam termasuk kematian. Instrospeksi diri karena segala kejadian yang menimpa adalah hasil ulah diri sendiri, maka sucikan diri dengan selalu berprasangka baik pada segala takdir Allah, untuk persiapan kita kembali kepada Allah Yang Maha Suci, karena Allah lah tempat semuanya kembali. Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer logika Tuhan)