Thursday, May 21, 2020

BAHASA QUR'AN

OLEH: MUHAMMAD PLATO
(Master Trainer Logika Tuhan)

Menarik kalimat yang disampaikan oleh Koh Steven, “dakwahkan Islam dengan bahasa Qur’an, bukan dengan ayat Al-Qura’annya”. Jangan salah tafsir, pernyataan Koh Steven ini bagian dari startegi dakwah. Saya akan membantu menjelaskan apa yang dimaksud dengan bahasa Qur’an seperti yang dijelaskan Koh Steven.

Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci, tapi sadarkah bahwa banyak orang di luar sana mereka tidak percaya dan mengolok-ngolok Al-Qur’an. Kata Koh Steven untuk mendakwahkan Qur’an jangan pakai Al-Qur’an langsung, tapi harus menggunakan bahasa Al-Qur’an. Jika dakwah dengan langsung membacakan Al-Qur’an maka yang tidak percaya Al-Qur’an akan mengolok-olok dan melecehkan.

Saya baru sadar dari cerita Koh Steven, di dunia luar sana Al-Qur’an dikenal sebagai kitab yang memuat tentang cara merakit bom, petunjuk ritual paganisme, prilaku pedofil, membunuh orang kafir, dan semua berita buruk tentang umat Islam. Informasi negatif ini membuat mereka tidak mau membaca Al-Qur’an. Saya tersadar bahwa informasi-informasi negatif tentang Islam adalah hambatan bagi orang-orang untuk mengenal kebenaran dari Tuhan. Sudah saatnya mengajarkan Al-Qur’an dengan bahasa-bahasa Al-Qur’an dalam berbagai aktivitas kehidupan.


Apa yang dikatakan Koh Steven sangat benar sekali, jangankan orang-orang yang tidak percaya Al-Qur’an, yang sudah percaya saja kadang mengolok-ngolok jika ada orang bicara ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka akan bilang so suci, jangan bawa bawa agama, jangan sembarang mengutip Al-Qur’an, banyak syarat yang harus dipenuhi untuk pelajari Al-Qur’an, berbagai alasan dikeluarkan untuk merendahkan orang-orang yang banyak bicara dan mengutif Al-Qur’an. Bagitulah tantangan besar kepada penyebar kebenaran, karena Iblis yang berkomitmen menggelincirkan manusia tidak akan tinggal diam.

Saya setuju dengan Koh Steven untuk mengajarkan Al-Qur’an harus mengaktualkan Al-Qur’an dengan bahasa yang mudah dipahami, bisa disaksikan, dan dirasakan. Berikut adalah contoh membahasakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Koh Steven ketika mendapat kekerasan dari seseorang hingga giginya rontok dan rahangnya bergeser, dia tidak memperkarakan ke pihak berwajib dan menganggap masalah selesai. Itulah bahasa Al-Qur’an dalam prilaku sosial. Prilaku yang dilakukan Koh Steven seperti Nabi Muhammad yang tidak membalas olokan dengan olokan, tetapi dengan mendoakan.

Bahasa Qur’an lainnya yang dilakukan oleh Koh Steven adalah ketika membagikan 500.000 paket sembako saat pandemi virus corona dari uang pribadinya. Selanjutnya membiayai petani untuk menanam bahan pangan untuk persiapan masa puncak darurat corona. Bahasa Al-Qur’an lainnya adalah mengukuhkan diri untuk tidak meminta-minta sekalipun untuk membantu orang lain. Bahasa Qur’an lainnya yang disampiakan Koh Steven adalah jangan banyak bicara masalah, tapi bicaralah banyak tentang solusi sebagai wujud rasa syukur. Hampir 80 persen orang bicara tentang masalah, dunia jadi bermasalah. Jika saja 80 persen manusia berbicara solusi maka akan banyak masalah diatasi.

Bahasa Qur’an lainnya dari Koh Steven adalah menjauhkan diri dari pikiran negatif dengan memperbanyak husnudzon. Ide-ide akan banyak seperti hujan masuk dalam pikiran. Inilah bahasa-bahasa Qur’an yang dicontohkan oleh Koh Steven.


Intinya dakwah dengan bahasa Qur’an adalah dengan mengaktualisasikan ajaran Qur’an dalam bentuk pemikiran, perkataan, tindakan, kebiasaan, dan prilaku. Lebih banyak melakukan ajaran Al-Qur’an dari pada menceramahkan.  Membalas keburukan dengan kebaikan, membebaskan kesulitan orang lain agar dibebaskan dari kesulitan oleh Tuhan, bersedekah dikala sempit dan lapang, mengalah demi tercipta perdamaian, berbakti pada ibu bapak, memberi makan anak-anak yatim dan pakir miskin, taat pada pemimpin, dan lain sebagainya adalah bahasa Qur'an. Intinya berdakwah tidak terbatas pada ceramah menjelaskan dalil tetapi harus diimbangi dengan dakwah yang membahasakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment