Sunday, November 10, 2019

PASSIVE INCOME

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sahabat sekalian, pernah terpikir tidak untuk hidup dengan passive income? Saya juga berpikir begitu, ingin rasanya hidup dengan kondisi keuangan passive income. Jika saya pada posisi itu, saya berimajinasi, akan saya dunakan uang yang saya miliki untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat. Ketika ada orang yang sedang bangun masjid, tak perlu ngencleng di pinggir jalan. Saya akan panggil panitia pembangunan masjid dan ditanya berapa dana yang dibutuhkan. Saya akan segera penuhi sampai selesai. Ketika ada anak jalanan, saya tanya apakah mereka mau hidup layak? Lalu saya siapkan sekolah dan pekerjaan untuk mereka. Ketika ada orang-orang sulit cari pekerjaan, saya ajak mereka untuk mengembangkan bisnis bersama-sama. Bahagia rasanya jika hidup ini bisa menyelesaikan masalah-masalah kehidupan masyarakat.

Namun bagaimana caranya supaya hidup ini bisa ada pada posisi passive income? Alternatif pertama; kita harus memulai bisnis dan mengembangkan bisnis hingga beromset miliaran. Kita harus berani mengawali bisnis-bisnis dari hal kecil. Rumus memulai bisnis adalah kunfayakun! Artinya kerjakan, action, dan berproseslah dari satu, dua, tiga, dst. Ketika kita memulai bisnis sekalipun kecil, kita harus melakukannya. Tanpa melakukan kita tidak akan pernah punya kesempatan sukses. Ternyata, sudah beberapa tahun mencoba bisnis, saya belum menemukan bisnis yang bisa mememberi dan menambah penghasilan sampai passive income.

BEKERJA ADALAH MELAKSANAKAN PERINTAH TUHAN, UNTUK MELAYANI, MEMENUHI KEBUTUHAN ORANG LAIN. (MUHAMMAD PLATO) 

Namun saya tidak pernah putus asa untuk bisnis, karena niat bisnis saya yang utama bukan cari untung dulu, tapi cari rugi alias cari pengalaman, percobaan, atau ilmu bisnis. Dan tujuan bisnis paling dasar sekali adalah membantu orang. Alhamdullillah, sampai sekarang beberapa bisnis sudah memberi keuntungan dalam bentuk membuka lapangan pekerjaan, sekalipun saya tidak dapat untung material sepeser pun setiap bulan. Setiap bulan bisnis saya secara material rugi, tetapi karena niatnya bantu orang, setiap bulan saya keluarkan uang dari kantong sendiri yang penting bisnis tetap jalan dan orang tetap punya pekerjaan. Saya serahkan urusan rezeki kepada Tuhan.

Alternatif kedua, agar bisa sampai pada posisi passive income adalah dengan menyederhanakan hidup dan total berserah diri kepada Tuhan.  Setelah saya amati ternyata hidup ini hanya apa yang kita makan dan pakai setiap hari. Baju tidak lebih dari tujuh potong sesuai jumlah hari, dan makanan tidak lebih dari tiga piring yang kita makan sehari. Baju yang numpuk di lemari tidak bisa saya pakai semua, karena setiap hari pakai baju kerja yang sudah dijadwal pemakaiannya dan baju bebas ketika libur. Banyak baju yang tidak bisa saya pakai. Baju yang tidak bisa saya pakai adalah passive income yang bisa saya dermakan untuk bantu orang. Makanan pun tidak lebih dari tiga piring sehari, dan bisa saya penuhi dengan sedikit nasi, ikan, dan sayuran dengan harga 2000 satu ikat yang bisa digunakan beberapa kali makan.

Saya berkesimpulan kondisi passive income yang mungkin disa dialami oleh setiap orang adalah dengan menyederhanakan hidup, dengan memilih waktu makan ketika lapar, membeli pakaian ketika butuh, membeli kendaraan berdasarkan fungsinya dan meminimalisir aksesoris hidup. Hindari utang dengan cara riba, dan berutang hanya untuk investasi.

Untuk mendukung hidup sederhana bisa dibangun pola pikir total surrender, menyerahkan segala urusan rezeki kepada yang mengurus semua makhluk yaitu Tuhan. Tota surrender adalah bekerja dengan niat membantu kesulitan orang, disiplin, full power, dan membiarkan urusan rezeki dijamin Tuhan yang punya ketentuan pasti. Passive income adalah suatu keadaan ketika pada posisi, wamaa umiruu illaa liya’budulloha mushlisiina lahuddin. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyin, 98:5). Orang-orang yang berkarakter passive income adalah mereka yang dalam segala kondisi tetap shalat (teguh berkeyakinan dan berharap pada Tuhan), dan zakat (tetap komitmen untuk membantu sesama).

Pada posisi “kemurniaan ketaatan”, seseorang sudah mencapai derajat merasakan rezeki banyak tetapi kebutuhan material untuk pribadi harmpir tidak ada. Artinya, posisi passive income seseorang akan terjadi jika seseorang berhasil menekan seminimal mungkin kebutuhan pribadi.  Aktivitas sehari-harinya menjadi aktivitas kemurnian ketaatan kepada Tuhan, pada posisi ini rezeki orang akan diangkat dan dijamin oleh Allah kehidupannya hingga sempurna rezekinya di dunia dan akhirat. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, November 9, 2019

MENGUBAH DUNIA DARI SEKOLAH

OLEH: Muhammad Plato

Belajar sukses dari negeri Barat berbeda dengan negeri Mekah. Jika belajar dari Barat hidup kita harus disiplin ke kantor, jika belajar dari Arab kita harus disiplin shalat. Belajar dari Barat hidup kita mengejar-ngejar dunia, dan akhirat tertinggal. Belajar dari Mekah kita mengejar-ngejar akhirat, dunia mengikuti.

Penduduk Mekah semuanya bekerja, karena mereka tidak mau disuruh-suruh orang. Dari pada mereka hidup meminta-minta, pilihan mereka lebih baik jadi pengembala ternak. Dan seorang pengembala ternak pun, iman dan takwanya kepada Tuhan jangan di tanya. Begitu informasi dari vlog kang Yana Mulyana dari Arab (Mekah).

Ketika saya diberi kesempatan umroh tahun 2015, di Madinah dan Mekkah, saya menyaksikan sendiri bagaimana irama jutaan orang bergerak masuk dan keluar masjid, seperti gelombang di pantai yang tidak pernah berhenti. Setiap menjelang shalat gelombang orang bergerak memasuki masjid, dan setelah selesai terlihat lagi gelombang orang keluar masjid. Menjelang shalat berikutnya, gelombang jutaan orang bergerak lagi masuk masjid, dan setelah selesai bergelombang keluar lagi. Masya Allah inilah gerakan gelombang kehidupan yang digerakkan karena kehendak Allah. Gerakan itu tidak akan berhenti kecuali kiamat terjadi.

JIKA SELURUH WARGA SEKOLAH MENJAGA DISIPLIN SHALAT, MAKA DIBUKA BERKAH REZEKI DARI LANGIT DAN BUMI (MUHAMMAD PLATO)
Barakallah, sesungguhnya belajar dari Mekah dan Madinah, mengelola dan mensejahterakan negeri pondasi dasarnya bukan dengan menyediakan lapangan pekerjaan atau memberi makan masyarakat, tetapi menanamkan iman dan takwa seluruh masyarakat. Menanamkan iman dan takwa kepada masyarakat adalah dengan melatih disiplin kepada seluruh masyarakat untuk menjaga iman dan takwanya dengan disiplin shalat.

Gelombang jutaan orang masuk dan keluar masjid setiap jadwal shalat, harus terjadi di setiap negeri muslim, jika ingin rezeki seluruh masyarakat dijamin oleh Allah. Kesejahteraan Mekah dan Madinah adalah bukti dari ayat-ayat Allah yang menjamin penduduk negeri jika beriman dan bertakwa.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al A’raaf, 7:96).

Mari renungi, tafakuri ayat ini. Bacalah dengan akal, gunakan logika sebab akibat yang biasa kita lakukan ketika merasa lapar kita makan, dan ketika haus kita minum. Allah menjelaskan, JIKA BERIMAN DAN BERTAKWA, MAKA DIBUKA BERKAH REZEKI DARI LANGIT DAN BUMI. Ukuran beriman dan bertakwa setiap warga negara bagi umat Islam adalah terlihat disiplin shalat berjamaah di masjid dalam situasi kerja. Budaya disiplin shalat harus diprogram menjadi agenda baku bagi seluruh pekerja, pelajar, dimana pun berada dalam situasi apapun. Inilah target setiap pemimpin jika hendak mensejahterakan warga negaranya. Target ini adalah pekerjaan berat harus mengerahkan seluruh kekuatan baik jiwa maupun raga.

Alangkah berkahnya sebuah lembaga pendidikan jika bisa menjadikan waktu-waktu shalat sebagai patokan dalam penegakkan disiplin. Kuncinya harus ada keberanian pemimpin, dan bermufakat bahwa JIKA SELURUH WARGA SEKOLAH ATAU KAMPUS BERIMAN DAN BERTAKWA, MAKA BERKAH ILMU DARI LANGIT DAN BUMI AKAN DIBUKA. Satu tahun setengah menegakkan shalat baru mencapai 31 persen disiplin. Setan sangat paham, jika kunci kesejahteraan ini dipahami oleh umat manusia, maka setan akan jadi makhluk paling hina karena akan selalu gagal menjerumuskan manusia.

Ayat mana lagi yang harus dijelaskan? Jika saja semua orang dengan mudah beriman dan bertakwa atas apa yang dikabarkan dalam Al-Qur’an, maka tidak ada lagi alasan untuk tidak berjihad mewujudkannya. JIka kita tidak bisa mengubah dunia, ubahlah negeri sendiri. Jika tidak bisa mengubah negeri sendiri, ubahlah lembaga pendidikan kita kuasai. Jika lembaga pendidikan tidak bisa dikuasai, ubahlah dari keluarga. Jika dari keluarga tidak bisa diubah, maka untuk mengubah dunia ini ubahlah diri kita sendiri.

Mengubah dunia harus dimulai dari pendidikan. Sekolah adalah lembaga pendidikan tempat mengubah diri-diri manusia. Mengubah diri-diri manusia dari dunia pendidikan adalah dengan menciptakan gelombang manusia keluar masuk masjid mengikuti setiap suara adzan berkumandang. Dengan penuh keyakinan gelombang ini harus diciptakan sampai melihat fakta dengan yakin bahwa Tuhan membuka pintu rezeki dari langit dan bumi, jika seluruh warga sekolah beriman dan bertakwa. Wallahu’alam.   

(Penulis Master Trainer)

Sunday, November 3, 2019

PENDIDIKAN UNTUK MANUSIA SEMPURNA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“jika anda mengatakan bahwa tak ada manusia sempurna, maka dipastikan belum membaca kitab suci Al-Qur’an”. (Muhammad Plato). Perkataan ini pasti berdasarkan pada penglihatan, pengalaman, bukan keterangan dari Al-Qur’an dengan melihat proses penciptaan Adam. “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Al Hijr, 15:29). Penjelasan tentang ayat ini berkaitan dengan Hadis, “sesungguhnya, Allah menciptakan Adam sesuai dengan citra-Nya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Keterangan di dalam Al-Qur’an, setiap manusia (Adam) diciptakan dengan ruh Tuhan. Berarti di dalam diri manusia sesungguhnya ada ruh Tuhan, untuk itu potensi-potensi ketuhanan ada dalam diri manusia. Berdasar keterangan ini, Sulaiman al-Kumayi Direktur Studi Islam dan Perdamaian, menggagas ide 99Q (kecerdasan 99) yang diilhami dari 99 nama Allah yang mulia. Jika di dalam Al-Qur’an Allah telah mengajarkan nama-nama maka hal ini menjelaskan bahwa manusia sudah memiliki bekal pengetahuan sebelum mereka lahir ke dunia. (Amin, 2008, hlm. 24).

Manusia adalah makhluk dengan multitalenta. Jika ahli-ahli pendidikan mengatakan tidak ada manusia bodoh, pernyataan ini bisa dikatakan 1000 persen benar. Perkataan ini berdalil, atau didukung oleh keterangan dari Al-Qur’an. Dijelaskan dalam proses penciptaan manusia, sudah ditiupkan ruh Allah (segala potensi) ke dalam diri manusia. Menurut Sulaiman dengan potensi ilahiah yang diberikan Tuhan, sebenarnya manusia memiliki segala kemampuan. (Amin, 2008, hlm 24).

INVESTASI CERDAS ADALAH INVESTASI UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT (MUHAMMAD PLATO)
Adapun hal-hal yang membuat manusia tidak bisa memunculkan segala potensi yang ada pada dirinya dikarenakan oleh faktor lingkungan. Lingkungan yang memengaruhinya dimulai sejak dalam proses di dalam kandungan. Apa yang dimakan, dilakukan, dilihat, didengar, dipikirkan, dan dirasakan, oleh ibunya itulah pengaruh lingkungan. Setelah dilhahirkan pola asuh orang tua, dan apa yang dilakukan oleh anak itu sendiri adalah bagian dari lingkungan yang memengaruhinya.

Lingkungan akan memberi pengaruh kepada manusia sejak di dalam kandungan sampai dia hidup setelah dilahirkan. “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”, (Asy Syams, 91:8). Kefasikan (pengaruh buruk) dibentuk oleh lingkungan-lingkungan buruk, dan ketakwaan (kebaikan) dibentuk oleh lingkungan yang baik. Manusia beruntung adalah mereka yang bisa menjaga dirinya dari pengaruh buruk, dan menjaganya dengan memelihara lingkungannya tetap baik. “sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy Syams, 91:9-10).

Manusia diciptakan dengan sempurna, namun setelah penciptaannya yang sempurna, Allah memberi kemampuan akal kepada manusia yang bisa menerima, memilih, menemukan, dan memberi kemampuan untuk memutuskan apakah menerima hal-hal yang buruk yang mengotorinya atau menyucikannya.   

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (Huud, 11:15). Manusia akan diberi kehidupan dunia dengan sempurna jika dia mengerjakan keinginannya dengan sempurna.  Demikian juga pada hari akhir, manusia akan mendapat pekerjaannya dengan sempurna tanpa dirugikan. “Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan)”. (Ali Imran, 3:25).

Kehidupan dunia adalah lingkungan yang berpotensi memengaruhi kehidupan manusia. Hendaknya manusia menyempurnakan usahanya dalam menjaga akhlaknya tetap baik sebagaimana Allah berikan petunjukkanya kepada Nabi-Nabi yang membimbing setiap umat. Wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah adalah petunjuk bagi manusia agar bisa menjaga lingkungannya (pikiran, perasaan, prilaku) tetap baik. Nabi Muhammad saw memerintah untuk meniru akhlak Allah. “takhallaqu bi Akhlak Allah. (Amin, 2008, hlm. 23).

Berdasarkan keterangan ayat-ayat di atas, kita tidak menapikan usaha-usaha para pemikir pendidikan terdahulu bahwa untuk menjaga dan memelihara potensi-potensi yang ada dalam diri manusia diperlukan sebuah proses pendidikan. Namun, dada dasarnya usaha sadar pendidikan adalah menjaga atau memengaruhi ruh-ruh manusia yang sempurna dari lingkungan-lingkungan yang dapat mengilhaminya keburukan.

Usaha pendidikan ini tidak dapat lepas dari bantuan petunjuk dari Allah dengan diturunkannya para Nabi dan Rasul yang diberi wahyu. Ketika para Nabi dan Rasul sudah meninggalkan dunia, maka manusia membutuhkan ajaran-ajaran Tuhan dari wahyu-wahyu yang masih ada sekarang yang pernah diturunkan kepada Rasul Allah.

Ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia dari hasil pemikiran dan pengamatan alam berfungsi menjelaskan petunjuk-petunjuk dari Allah secara rasional dengan mengacu kepada wahyu Allah. Melepaskan keterkaitan pengetahuan wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan adalah ketidaksempurnaan para  filsuf, atau ilmuwan dalam menjaga lingkungan hidup manusia agar tetap baik.

Memasuki awal abad 21 ini, dibutuhkan paradigma ilmu baru, yaitu paradigma yang mengembalikan kajian ilmu kepada keterpaduan (integrasi). Menurut teori strukturalisme bahwa setiap unsur hanya bisa dipahami melalui keterkaitan antar unsur. (Kuntowidjoyo, 2006, hlm. 32). Unsur keterkaitan ini sangat ditekankan di dalam Islam. Konsep keterkaitan ini dijelaskan di dalam surat Al Ma’un, disebutkan termasuk mendustakan agama jika orang-orang shalat tidak memiliki kepedulian kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. (Kuntowidjoyo, 2006, hlm. 32-33).

Konsep-konsep pendidikan perlu ditinjau ulang. Teori-teori pendidikan yang dikembangkan oleh para pemikir sekuler perlu ditinjau ulang, dengan melihat keterkaitannya dengan konsep-konsep pendidikan yang dikehendaki dalam kitab suci. Al-Qur’an bisa menjadi salah satu rujukan untuk mengkritisi kembali konsep-konsep pendidikan melalui pendekatan integrasi.

Pendidikan yang integralistik tidak merendahkan teori-teori yang telah dikembangkan oleh pemikir sekuler. Ilmu pendidikan integralistik mengembalikan kembali paradigma ilmu kepada wahyu sebagai sumber pengembangan konsep, dan mencari keterpaduan dengan konsep-konsep pendidikan yang telah dikembangkan oleh ahli-ahli pendidikan sekuler. Dalam pandangan pendidikan integralistik, tidak menafikan atau merendahkan ilmu-ilmu yang telah dikembangkan hanya memverifikasi kebenaran ilmu menurut pandangan integralistik.

Sekularisme tidak lagi sesuai dengan jiwa zaman. Dediferensiasi (rujuk kembali) adalah kehendak zaman yang mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi informasi. Dunia barat dan timur tidak lagi terpisah oleh batas-batas negara. Teknologi informasi telah menyatukan dunia dalam satu kawasan yaitu bumi manusia. Pergaulan manusia tidak lagi dibatasi oleh suku, ras, agama, dan bangsa. Setiap manusia bisa berkomunikasi, saling bertukar pikiran, jual beli dengan manusia di belahan bumi manapun dengan bantuan teknologi informasi. Manusia ditakdirkan untuk saling tolong menolong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tanpa melihat latar belakangnya.

Musuh bersama saat ini adalah manusia-manusia yang tidak mau hidup damai dalam satu bumi, yaitu manusia-manusia yang membawa pengaruh-pengaruh negatif pada ruh manusia yang sempurna. Perang pada pengaruh-pengeruah negatif pada ruh manusia yang sempurna bukan hanya tanggung jawab kelompok-kelompok tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab manusia yang mengingikan kehidupan terbaik di dunia dan kehidupan terbaik di akhirat. Semua manusia yang mengakui adanya Tuhan atau tidak, menginginkan kehidupan terbaik di dunia.

Tujuan-tujuan pendidikan menurut pandangan integralistik tidak lagi bersifat parsial tetapi untuk kesejahteraan umat manusia. Manusia-manusia integralistik adalah manusia yang berkeyakinan kepada Tuhan dan punya komitmen tinggi pada kemanusiaan. Sekalipun dia beragama menurut keyakinan masing-masing, tetapi misinya adalah membawa kesejahteraan untuk seluruh penghuni alam. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (manusia), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.  (Al Anbiya, 21:107). Inilah gambaran manusia integralistik, yaitu manusia sempurna yang ruhnya selalu terjaga dari pengaruh-pengaruh lingkungan (pemikiran, perasaan) negatif yang selalu mementingkan diri dan kelompoknya. Agama tidak akan menjadi sekat-sekat yang menghalangi manusia untuk berbuat baik pada sesama, jika benar-benar memahami petunjuk dari Tuhannya. Wallahu ‘alam.

(Head Master Trainer)

Sunday, October 20, 2019

AL-GHAZALI, IMANUEL KANT, LOGIKA TUHAN

Etika adalah salah satu dari cabang ilmu filsafat. “Etika terkait erat dengan “cara berpikir” (way of thought) manusia pada umumnya. Jika cara berpikir seseorang berbeda, keseluruhan pengalaman hidupya akan berbeda. Ia tidak saja akan berprilaku berbeda tetapi memiliki pikiran, perasaan, sikap, dan keinginan berbeda. Oleh karena itu, tindakan etis manusia tidak dapat dipisahka dari “cara berpikir”nya”. (Abdullah, 2002, hlm. 38).

Al Ghazali adalah tokoh pemikir muslim yang sangat mendasari pemikirannya dengan agama, demikian juga dengan Imanuel Kant. Kedua tokoh ini tidak dikategorikan sebagai tokoh positivisme modern, tetapi keduanya sama-sama mengkritik terhadap doktrin metafisika, dogmatis, spekulatif, dan mengakui pentingnya etika rasio praktis diatas rasio teoritis.  Etika mistik Al-Ghazali, terkenal di di mayoritas masyarakat muslim, dan etika rasional Kant masih didiskusikan di dunia Barat. (Abdullah, 2002, hlm. 36, 39).

Al Gazhali memandang keliru terhadap kelompok yang menggeluti teologi dengan metafisika., untuk itu Al Ghazali memilih mistisisme. Menurut W.R. Inge, mistisisme adalah pikiran yang menjalin hubungan batin dengan Tuhan. Al Gazhali menolak rasio sebagai “prinsip pengarah” dalam tindakan etis manusia. Al-Gazhali memilih “wahyu” melalui intervensi ketat dari syaikh atau “pembimbing moral” sebagai pengarah utama bagi orang-orang pilihan dalam mencapai keutamaan mistik. (Abdullah, 2002, hlm. 41).

Imanuel Kant dalam penolakannya terhadap metafisika, memperkenalkan konsep tentang konstitutif akal budi (constitutive use of mind). Melalui konsepsi ini, Kant menegakkan keabsahan kebenaran pengetahuan dan prosedur untuk memperolehnya. Gagasan Kant tentang constitutive use of mind, berkaitan erat dengan pemahaman kausalitas beliau terhadap kausalitas alam maupun moral. (Abdullah, 2002, hlm. 42-43)

logika tuhan adalah way of thought or constitutive use of mind (Muhammad Plato)  
Al Ghazali dan Kant sama-sama menolak metafisika-dogmatik. Al Gahzali pada akhirnya menemukan etika mistik ketika melihat Tuhan diakhirat sebagai perhatian utama. Kant dalam pemikirannya sampai pada poin adanya etika rasional dan mengakui Tuhan sebagai jaminan utama bagi postulat praktisnya. Kant dalam rasionalitasnya memberi ruang keimanan dan keabadian menjadi kerangka umum dalam pemikiran Kant. Berdasarkan etika rasionalnya, Kant memberi kemungkinan adanya hukum universal (universal law) jika motif  pengungkapannya pantas menurut kehendak setiap makhluk rasional.

Menurut kedua pemikir kausalitas dalam alam dan dalam moralitas manusia saling berhubungan erat. Al-Gazhali menggarisbawahi ide tentang hukum yakni hukum religius, tetapi tidak pernah membolehkan intervensi hukum rasional. (Abdullah, 2002, hlm. 84).

Bagi Al Ghazali saran utama manusia menuju kebahagiaan ada dua, amal baik lahiriah dan amal baik batiniah. Amal baik lahiriah berupa ketaatan kepada aturan-aturan tingkah laku yang diwahyukan dalam kitab suci. Kondisi hati secara batiniah lebih penting dalam pandangan Tuhan dari pada amal baik lahiriah dan lebih mendatangkan pahala. Hal ini menjadi ciri khas logika mistik Al Ghazali. (Abdullah, 2002, hlm. 70).

Sisi paling penting dari Al Ghazali dalam menolak metafisika rasional adalah penekanannya pada ketidakmampuan rasio manusia untuk menangkap secara akurat penyelesaian secara memuaskan perosalan-persoalan metafisika dan teologi. Al Ghazali lebih menekankan pada realitas Tuhan sebagai yang berkehendak, Tuhan sebagai pelaku yang berkehendak. Al Gazhali hanya bersandar pada wahyu untuk memperoleh pengetahuan metafisikanya. Al Ghazali sangat menjaga hadirnya keabadian di alam karena akan melanggar prinsip monotheisme. (Abdullah, 2002, hlm. 62-65)

Al Ghazali dan Kant sama-sama menjadikan wahyu (kitab suci) sebagai sumber pemikiran. Al-Ghazali menjadikan wahyu dengan bimbiangan ketat dari syaikh atau “pembimbing moral” sebagai pengaruh utama bagi orang-orang pilihan dalam mencapai keutamaan mistik. Logika yang dikembangkan Al Ghazali dikategorikan sebagai logika tertutup karena dipengaruhi bayang-bayang pembimbing moral. Kehadiran pembimbing moral inilah yang menyebabkan sulit lahirnya pemikir-pemikir baru dikalangan umat Islam. Pembimbing moral ini bermutasi ke dalam kitab-kitab yang ditulisnya, sehingga pemikir-pemikir baru di dunia muslim banyak yang gugur karena bertentangan dengan pembimbing moral mereka yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab yang ditulisnya. (Abdullah, 2002, hlm. 41)

Sementara Kant  dengan konsep constitutive use of mind, Kant telah membuka pemahaman tentang prosedur dalam menemukan dan mengabsahkan kebenaran. Kant masih memberi peluang peran “subjek” manusia dalam memperoleh pengetahuan pada posisi yang tepat. (Abdullah, 2002, hlm. 42). Imanuel Kant  bukan pemikir rasional murni, karena beliau berpendapat membuktikan wujud Tuhan melalui rasio adalah tidak mungkin, tetapi menurut Kant, menolak juga tidak mungkin. Hanya saja Kant mengusulkan untuk memisahkan secara total pengetahuan dan agama, dengan membatasi keduanya menjadi wilayah-wilayah yang berbeda. (Abdullah, 2002, hlm. 55-56). Logika yang dikembangkan Kant dikategorikan logika terbuka karena memberi peluang subjek manusia untuk memahami dan mengetahui kebenaran melalui rasionya.

LOGIKA TUHAN adalah ilmu berpikir (etika) yang mengacu kepada petunjuk Tuhan, bersumber pada wahyu. Sumber pemikiran ini sama dengan pandangan Al Ghazali maupun Imanuel Kant. Logika Tuhan sebagai petunjuk berpikir, konsepnya sama dengan way of thought yang dikemukakan oleh Amin Abdullah. Sebagaimana Kant, logika Tuhan dikembangkan dengan memberi peluang kepada subjek untuk memahami kebenaran, tetapi tidak mengabaikan para pembimbing moral sebagai penyeimbang. Pembimbing moral ini dimulai dari hadis shahih Nabi Muhammad saw dan para pemikir terdahulu. Dalam konsep logika Tuhan, mengakui adanya fungsi konstitutif akal budi (constitutive use of mind) sebagaimana dikemukakan oleh Kant, dan tidak menutup kemungkinan adanya hukum-hukum universal yang bisa dibenarkan oleh rasio setiap manusia.  Kausalitas adalah metode akal untuk memahami kebenaran dengan merujuk pada Tuhan sebagai causa prima, dan mengatur kausalitas di alam. Logika tuhan tidak membatasi pengetahuan dengan agama, keduanya digunakan untuk membantu rasio dalam menemukan kebenaran. Logika tuhan tidak membatasi keterikatan antara pengetahuan dan keimanan. Keimanan harus dilandasi pengetahuan baik yang diketahui ataupun yang tidak diketahui karena milik Tuhan. Wallahu’alam.

(Head master Trainer)

Saturday, October 19, 2019

TIDAK ADA YANG MELEBIHI ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Manusia adalah makhluk doollin (pelupa). Demikian Prof. Fahmi Basya menjelaskan makna Doollin dalam surah Al-Fatihah dengan arti kata lupa. Memang benar pada kenyataannya manusia sering lupa. Pada saat berdoa, shalat sekalipun kesadaran kita kepada Allah sering lupa dari pada ingatnya. Di hutan kita bisa tersesat karena lupa jalan pulang. Lupa adalah penyebab manusia tersesat.

Dalam surah Al-Fatihah, sudah dijelaskan bahwa kita adalah orang yang telah berada di jalan lurus, namun sering lupa. Oleh karena itu kita diajarkan berulang-ulang minta tolong agar tidak dijadikan orang-orang lupa kepada Allah.

Saya,  mungkin juga Anda, pada saat menghadapi masalah besar sering lupa bahwa Allah pemberi pertolongan. Pikiran refleks kita dalam situasi panik selalu mencari pertolongan pada makhluk, dan merasa khawatir, putus asa, jika tidak ada sosok makhluk yang bisa dijadikan penolong. Kebiasaan ini terbangun karena pola pikir yang tidak mengarusutamakan Allah sebagai Dzat Maha Kuasa atas segala kejadian.

Daniel (dalam Hendarman, 2019, hlm. 7) menjelaskan bahwa langkah revolusi mental terdiri tiga tahap yaitu; satu, menemukan permasalahan hidup dan memunculkan harapan hidup lebih baik.  Dua, menghilangkan segala perbuatan jelek dari alam pikiran. Terakhir berserah diri dan memohon pertolongan dari Tuhan. Penjelasan ini membuktikan bahwa Tuhan sebagai Dzat Maha Kuasa, disimpan pada posisi terakhir dalam menyelesaikan masalah. Seharusnya disimpan pada awal akan dilakukan penyelesaian salah, sebab Tuhanlah yang akan memberi petujuk kepada kita dalam menyelesaikan masalah apapun di muka bumi ini.

Pola pikir menyimpan Tuhan di posisi terakhir, yang menjadi kebiasaan awam ini lama kelamaan akan menggeser eksistensi Tuhan menjadi tidak bermakna dalam kehidupan. Tuhan hanya berfungsi sebagai pembangun harapan semata, bukan sebagai penyelesai masalah. Tuhan seharusnya ditempatkan pada posisi pertama, agar Tuhan bisa kita rasakan dalam setiap langkah sebagai penyelesai solusi plus pembangun harapan tanpa batas.

Pola pikir yang terbangun dalam setiap masyarakat religius, seharusnya menjadikan Tuhan sebagai penolong utama, pemberi ide, penyemangat, pemberi harapan, dan penggerak dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia. Pola pikir ini harus dipelihara dalam setiap pikiran manusia, sampai menjadi bagian reflek alam bawah sadar masyarakat.

Ketika saya berbicara, membaca kisah orang-orang sukses dari berbagai lapisan masyarakat, tidak sedikit yang menjelaskan bagaimana pengalaman pribadi-pribadi mereka mendapat sukses kehidupan dunia dengan intervensi ghaib (Tuhan) menjadi sebab kelancaran dan kesuksesan hidupnya. Sayang kejadian-kejadian ini hanya dianggap sebagai kejadian kasuistis orang per orang. Belum ada kesadaran untuk meneliti bahwa fakta-fakta ini bisa dijelaskan dalam bentuk generalisasi menjadi sebuah teori atau hukum. Selanjutnya dikembangkan mejadi pola pikir baku bagaimana manusia-manusia berkualitas bisa tetap hidup di muka bumi dalam kehendak Tuhan.

Mayoritas filsuf di seluruh dunia tidak pernah menyangkal dan berdebat jika dikatakan bahwa Tuhan sebagai causa prima. Pola pikir ini harus ditanam, dipupuk, mengakar kuat, dan terus tumbuh sampai berbunga dan berbuah menjadi karakter berpikir sehat setiap manusia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (Ulil Albab).” (Ali Imran, 3:190).

Ulil Albab yang diterjemahkan sebagai orang-orang berpikir atau berakal sehat, adalah mereka yang bisa memahami tanda-tanda (sebab-sebab), di setiap kejadian atau fenomena bahwa di dalamnya terdapat kekuasaan dan berlakunya hukum-hukum Tuhan. Bagi mereka yang berhasil menjadi Ulil Albab (berpikir sehat), mereka akan berubah menjadi karakter-karakter unggul.

Bagi mereka yang telah berhasil membiasakan berpikir sehat, masalah sebesar apapun yang dihadapi manusia di muka bumi ini, akan selalu dihadapi dan selalu optimis ada jalan keluarnya. Logika ini bisa terjadi jika Allah dijadikan sebagai causa prima dalam setiap kejadian. Jika Allah menjadi causa prima dalam setiap kejadian, maka Allah juga harus menjadi causa prima dari segala solusi kehidupan manusia.

Jika Allah sudah menjadi causa prima, maka siapa lagi yang bisa melebihi kekuasaan Allah. Maka siapa orang-orang berpengaruh di dunia ini dan harus kita waspadai? Bukan mereka yang memiliki keuasaan, kekayaan, dan teknologi, tetapi mereka yang menjadikan Tuhan sebagai penolong utama dan selalu bergerak menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Siapa manusia ini, siapa bangsa ini? Kemungkinan bisa hadir dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.

Bagi manusia-manusia unggul, manusia berakal sehat, jika masalah sudah diadukan kepada Tuhan untuk diselesaikan, maka siapa lagi yang bisa melebihi Tuhan? Pola pikir sombong manusia telah meremehkan intervensi Tuhan di alam semesta, dengan menjadikan ilmu dan teknologi sebagai Tuhan.

Jika Allah sudah menjadi causa prima, maka siapa lagi yang bisa melebihi kekuasaan Allah? (Muhammad Plato)
 Hampir di seluruh penjuru dunia, manusia pernah mengalami pengalaman-pengalaman kejadian di luar kendali kesadaran. Bagi manusia-manusia berakal sehat, pengalaman itu adalah tanda-tanda intervensi Tuhan dalam kausalitas kejadian di dunia. Kausalitas kejadian di dunia ini meliputi kejadian yang bisa diapahami langsung dan tidak langsung oleh akal manusia. Kejadian yang bisa dipahami langsung akal amnusia adalah karunia pengetahuan dari Tuhan, dan kejadian yang tidak bisa dipahami langsung adalah Tuhan langsung penyebabnya dan Tuhan adalah dzat yang berkehendak baik dalam setiap kejadian.

Inilah pola berpikir seluruh manusia di muka bumi,  harus terus disosialisasikan agar manusia belajar terus mencari dan mengembangkan pemikirannya atas nama Tuhan, dan Tuhan adalah Yang Maha Berkehendak baik atas segala kejadian di muka bumi ini. Wallahu’alam

(Head Master Trainer)

Friday, October 11, 2019

HARAM CINTAI SUAMI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Untuk anak-anak muda mungkin cinta dimaknai sebagai kehendak rasa kepada lawan jenis. Mayoritas anak-anak memahami cinta adalah urusan sekitar asmara. Lalu cinta ini dikemas dalam bahasa-bahasa asmara yang puitis. Seolah-olah bahasa puitis itu sebagai ekspresi dari bahasa cinta. Sampai akhirnya orang-orang berkesimpulan bahwa cinta adalah sesuatu yang sulit diungkapkan. Pengertian cinta juga tereduksi menjadi sesuatu yang bersifat hubungan pribadi dan personal yang jangan sembarang diungkapkan.

Saya mencoba mengungkap menggali makna cinta dari Al-Qur’an, agar punya pemahaman lain dan merasa dekat dengan Allah. Saya berpendapat Al-Qur’an berisi petunjuk, maka dalam memahami sebuah konsep, Tuhan pasti memberi petunjuk dalam kitab-Nya. Informasi dari Al-Qur’an harus digali untuk mengungkap rahasia kehidupan.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran, 3:31).


HARAM CINTAI ISTRI KARENA CINTA ITU HANYA TAAT KEPADA ALLAH (MUHAMMAD PLATO)
Berdasarkan ayat di atas ada beberapa kata kerja yang berkaitan dengan kata “cinta”. Secara berurutan yaitu,  “ikuti aku, mengaisihi, dan mengampuni”. Saya berpendapat bahwa kata-kata kerja ini menjadi petunjuk untuk memahami cinta.

Memahami arti cinta sangat penting, karena ekpresi cinta bisa dalam bentuk kemunkaran, yaitu jika cintanya bukan kepada Tuhan yaitu kepada makhluk. Cinta kepada makhluk bisa menjadi sebab timbulnya ekspresi-ekpresi buruk. Seseorang yang mencintai pasangannya bisa mendatangkan cemburu dan pembunuhan. Untuk itu, cinta harus kita pahami berdasarkan petunjuk dari Allah.

Kesalahan memahami dan mengekpresikan cinta bisa menyebabkan sifat-sifat buruk (bakhil). Sebagaimana Allah jelaskan, wa innahu lihubbil khoiri lasadiid (sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta). (Al ‘Aadiyaat, 100:80).

Konsep cinta harus dipahami dua sisi yaitu vertikal dan horizontal. Maka dari keterangan surat Ali Imran, cinta adalah taat kepada Allah (vertical) yang diimplementasikan dalam sikap mengasihi dan mengampuni kepada seluruh makhluk (horizontal).

Cinta itu hanya kepada Allah, sedangkan kepada makhluk hanyalah ekpresi cinta kepada Allah dalam wujud ketaatan. Ekpresi ketaatan kepada Allah dimplementasikan kepada makhluk dengan  mengasihi dan mengampuni. Setiap makhluk tidak layak dicintai, tetapi hanya berhak mendapat ekpresi cinta kita kepada Allah.

Hubungan sesama makhluk hanya sebatas saling mengekpresikan sifat Allah. Menikah adalah ekpresi manusia dalam mewujudkan cintanya kepada Allah. Menikah dengan lawan jenis adalah hubungan saling mengasihi bukan saling mencintai. Terjadinya rasa saling mengasihi bukan karena cinta, tetapi didasari oleh rasa saling mengampuni (memaklumi) kekurangan.

Setiap orang diciptakan sebagai makhluk pembuat salah. Orang-orang yang diliputi cinta dalam arti ketaatan kepada Allah tampil menjadi pribadi-pribadi yang selalu memberi ampunan atas kesalahan-kesalahan makhluk lain. Mengasihi dan mengampuni adalah sifat-sifat Allah yang dimiliki oleh orang-orang yang diliputi rasa cinta kepada Allah.

Pendengki, pemarah, penganiaya adalah ekpresi dari cinta kepada selain Allah, sehingga ekpresinya tidak dilandasi oleh ketaatan kepada Allah melainkan taat kepada selain Allah. Jangan mencintai Istri atau suami, karena cinta kepada makhluk sama dengan menduakan Allah. Jadi sudah dipastikan bahwa kata-kata atau ungkapan  cinta dari makhluk kepada makhluk adalah gombal, dan mengundang cemburu Allah.

Cinta adalah taat kepada Allah. Siapa yang cinta kepada selain Allah berarti dia taat kepada makhluk dan telah menduakan Allah, maka dia telah bersekutu dengan setan. Menduakan Allah adalah dosa tidak terampuni. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer Logika Tuhan)

Friday, October 4, 2019

DJI SJAM SOE RUMUS SUKSES DARI ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dari 10 tujuan pendidikan nasional, point pertama adalah mencetak generasi beriman. Kesulitan bagi pengelola pendidikan mewujudkan tujuan ini adalah tidak memiliki program dan alat ukur baku yang membuktikan bahwa anak-anak memiliki keimanan. Di bangku kuliah kita tidak diajarkan bagaimana mengukur keimanan. Bagi muslim, informasi tentang keimanan ada dalam kitab suci Al-Qur’an.

Bagi yang sudah belajar ilmu sekuler, bisa jadi berpendapat keimanan seseorang tidak bisa diukur, karena hanya Allah yang tahu. Secara konsep, keimanan bisa jadi perdebatan dan mungkin akan terjadi perbedaan pendapat. Namun karakter-karakter orang beriman bisa kita ketahui karena itu bersifat faktual. Kitab suci Al-Qur’an berisi konsep-konsep yang bisa didiskusikan dan fakta-fakta alamiah yang bisa kita amati.

Di dalam Al-Qur’an iman dijelaskan dalam bentuk konsep dan fakta. Pada tulisan ini saya tidak hendak beradu pendapat tentang apa itu konsep iman, tetapi akan menjelaskan apa ciri-ciri dari orang-orang beriman berdasarkan pengetahuan yang saya pahami dari Al-Qur’an. Ciri orang beriman itu dijelaskan dalam surat Al Anfaal ayat 2,3,4 atau Dji Sjam Soe.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (Al Anfaal, 8:2).

DJI = GEMETAR HATI DISEBUT NAMA ALLAH

Ciri orang beriman adalah “gemetar hati” apabila disebut nama Allah. Gemetar adalah kata kerja. Gemetar hati adalah sebuah respon hati terhadap nama Allah. Respon hati ini adalah sebuah drive (dorongan) hati berkehendak (jatuh cinta atau takut) kepada Allah.

DJI SJAM SOE ADALAH GEMETAR HATI, LAKSANAKAN SHALAT DAN INFAK, MAKA KEDUDUKAN TINGGI, AMPUNAN DAN REJEKI MULIA DARI ALLAH (MUHAMMAD PLATO)
Gemetar hati ada informasi dari Allah siapa itu orang-orang beriman. Namun kita tidak dapat mengetahui hati orang beriman gemetar atau tidak jika disebut nama Allah. Maka Allah memberikan fakta orang beriman yang gemetar hati jika disebut nama Allah.

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Al Anfaal, 8:3).

SJAM = SHALAT + INFAK

Dari informasi ayat ini, kita bisa mengetahui bahwa gemetar adalah sebuah gerakan hati, pikiran, ucapan, dan tindakan. Sumber segala tindakan kita adalah getaran hati. Sesunguhnya orang ayang benar-benar beriman adalah yang gemetar hatinya, dan wujud kasat mata dari getaran hati orang beriman adalah tindakan. Dua ukuran tindakan getaran hati orang beriman yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an adalah melaksanakan shalat dan sedekah.

Untuk memantapkan keimanan Allah memerintahkan untuk membaca ayat-ayat Allah dengan membuktikan kebenaran janji-janji pahala dari Allah secara nyata. Janji Allah bagi yang gemetar hatinya dengan mendirikan shalat dan sedekah dijelaskan dalam ayat berikutnya.

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal, 8:4).

SOE = KEDUDUKAN TINGGI, AMPUNAN, REZEKI TERBAIK

Tiga point yang harus dirasakan, dibuktikan bagi orang-orang beriman yang shalat dan sedekah adalah kedudukan tinggi, ampunan, dan rezeki terbaik sebagai balasan pahala dari Allah. Tiga janji pahala ini bersifat faktual, bisa diamati dan dirasakan. Tiga pahala yang dijanjikan Allah harus diamati, diteliti, dengan demikian orang-orang beriman akan tambah imannya.

Demikianlah panduan dari Allah dalam memahami dan melihat keimanan seseorang. Konsep penerapan ini bisa diaplikasikan di lingkungan pendidikan dengan membuat program dan pemantauan terhadap pelaksanaan shalat dhuha, lima waktu, infak, serta qurban yang dilakukan anak-anak. Wallahu’alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)

THE POWER OF REPETITION


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Mengulang-ngulang kebaikan adalah cara pembelajaran yang harus dilakukan di sekolah. Shalat dhuha 12 rakaat harus dilakukan secara terus menerus. Mengulang-ngulang kebaikan adalah perintah dari Allah. Shalat adalah kebaikan yang harus diulang-ulang tiap hari.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Al Jumu’ah, 62:10).

Menurut Prof. Fahmi Basya, mengingat Allah banyak-banyak adalah mengulang-ngulang perbuatan baik sesering mungkin. Shalat dhuha 12 rakaat setiap hari dilandasi dengan perintah Allah, dalam rangka mengingat Allah banyak-banyak.

MENGULANG-NGULANG KEBAIKAN ADALAH PERINTAH ALLAH YAITU BANYAK-BANYAK MENGINGAT ALLAH. (MUHAMMAD PLATO)
Kesuksesan akan tercapai jika seseorang melakukan kebaikan berulang-ulang. Praktek pendidikan di sekolah adalah mengulang-ngulang perbuatan baik. Semakin sering kebaikan diulang-ulang maka dia akan jadi karakter. Semakin sering seseorang melakukan perbuatan baik maka dia akan dikenal sebagai orang berkarakter baik. Dapat dipahami bahwa sukses itu sama dengan karakter baik (akhlak mulia), prilaku baik yang diulang-ulang.

Dari pengulangan harus mulai merasakan dampak yang terjadi. Dari perasaan tersebut timbul berbagai macam pengetahuan dan pemahaman. Rasa dari prilaku baik yang diulang-ulang bisa diketahui dengan mengunakan pola pikir ilmiah seperti seorang ilmuwan ketika melakukan penelitian. Penelitian itu dilakukan dengan merasakan akibat-kaibat apa yang terjadi setelah melakukan kebaikan berulang-ulang.

Semakin sering rasa itu dirasakan, dinikmati dan mejadi sebuah kenyamanan, maka 
akan timbul akumulasi pengetahuan. Dari akumulasi pengetahuan yang banyak itu, maka didapatlah sebuah keyakinan berdasarkan penglihatan dan keabsolutan terhadap kebenaran dengan dukungan bukti dan rasa yang tidak diragukan.

Jika kita melakukan pengulangan shalat tanpa dibarengi dengan penelitian atas akibat yang terjadi pada diri kita berdasar petunjuk Allah, maka motivasi untuk melakukan shalat tiap hari akan mengalami penurunan. Lama-lama shalat akan ditinggalkan.

Untuk itu ketika melaksanakan shalat dibutuhkan akal untuk melakukan pengamatan kejadian-kejadian apa yang terjadi setelah shalat, tetnu berdasar petunjuk Tuhan. Akal di sini berfungsi sebagai pembentuk kesadaran bahwa apa yang diberitakan Allah sehabis shalat benar-benar terjadi.
Pengulangan (repetition) bukan saja bertujuan membentuk karakter tetapi membuka kesempatan pikiran untuk memahami apa yang terjadi. Sehingga kegiatan shalat ataupun kebaikan bisa dirasakan manfaatnya dan menjadi sebuah kebenaran ainul (dilihat)  dan haqqul (kokoh) yakin. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Logika Tuhan)

FUNGSI BALASAN ALLAH


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agus Mutofa seorang penulis buku Tasawuf Modern mengatakan bahwa “untuk memahami agama Islam sumber mutlaknya adalah Al-Qur’an dan sumber kedua adalah hadis”. Objek yang kita pikirkan adalah pengetahuan dari kitab suci Al-Qur’an. Sebelum meneliti informasi dari Al-Qur’an jangan menggunakan dulu sumber-sumber lain. Pembelajaran yang harus diutamakan di dalam memahami ajaran agama Islam adalah memahami isi Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an, Allah selalu mengemukakan balasan-balasan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an adalah kitab pembawa kabar gembira bagi orang-orang beriman. Nabi Muhammad saw adalah pembawa kabar gembira bagi umat manusia yang mau menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sesuai dengan karakteristik Al-Qur’an, seorang guru adalah pembawa kabar gembira bagi murid-muridnya.

Di bawah ini saya buat matrik agar mudah memahami apa fungsi balasan Allah terhadap kebaikan. Pola pikir sebab akibatnya saya gambarkan sebagai berikut;

BALASAN PRILAKU BURUK

PRILAKU DI DUNIA
BALASAN DUNIA/AKHIRAT
PSIKOLOGIS
Membunuh Mukmin dengan Sengaja (An Nisaa, 4:93)
Jahanam dan adab yang besar
Putus Asa/Sedih
Berbuat Jahat (An Nisaa, 4:123)
Kejahatan
Putus Asa/Sedih
Berbuat Dosa (Al Maa’idah, 5:29)
Penghuni Neraka
Putus Asa/Sedih
Memerangi Allah dan Rasul Nya (Al Maa’idah, 5:330
Siksaan yang Besar
Putus Asa/Sedih

Demikian beberapa gambaran bagaimana balasan buruk bagi orang-orang yang berprilaku buruk di dunia. Balasan itu berlaku di dunia dan akhirat. Balasan ini bersifat pasti baik secara fisik maupun fsikis. Selanjutkan saya gambarkan balasan terhadap perbuatan baik
.
BALASAN PRILAKU BAIK

PRILAKU DI DUNIA
BALASAN DUNIA/AKHIRAT
PSIKOLOGIS
Amal baik (An An’aam, 6:160)
Tidak dianiaya
Optimis/Gembira
Mohon ampun dan bertobat (Huud, 11:3)
Kenikmatan yang baik
Optimis/Gembira
Sabar (An Nahl, 16:96)
Pahala lebih baik
Optimis/Gembira
Beramal Saleh (An Nahl, 16:97)
Kehidupan yang baik
Optimis/gembira

Berdasarkan perbandingan balasan perbuatan baik dan buruk di atas, kita bisa pahami untuk apa fungsi informasi balasan-balasan keburukan dan kebaikan menjadi jelas. Balasan terhadap keburukan fungsinya adalah untuk memutuskan harapan orang agar berhenti berbuat jahat. Sebaliknya balasan baik memiliki fungsi membangun harapan (optimisme) atau kabar gembira bagi orang-orang yang telah berbuat baik tetap istiqomah dalam kebaikan. Sekalipun para pembuat kebaikan mendapat ancaman, cemoohan, dan lecehan, mereka akan tetap optimis karena ada balasan baik dari Allah. Pola berpikir inilah yang akan membuat orang-orang beriman selalu bertawakal kepada Allah.

JANJI BALASAN DARI ALLAH ADALAH PEMBENTUK OPTIMISME ORANG-ORANG BERIMAN DALAM BERBUAT BAIK. (MUHAMMAD PLATO)
Pertanyaannya apakah boleh kita berbuat baik karena ingin balasan baik dari Allah? Menurut pendapat penulis selama itu diinformasikan Allah di dalam Al-Qur’an, maka informasi itu bisa kita gunakan untuk menjaga semangat dan kesabaran kita dalam berbuat baik di dunia. Apa saja yang dijanjikan Allah untuk kita, maka hal itu bisa kita jadikan sebagai pembangun optimisme dan penggembira bagi bagi orang-orang baik. Pola pikir ini tidak bertentangan dengan keterangan dan sesuai dengan anjuran Allah.

Hal yang tidak boleh adalah berharap balasan kepada sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Balasan kebaikan selain dari Allah hanyalah angan-angan.

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (An Nisaa, 4:123).

Balasan yang bersifat angan-angan itu adalah balasan-balasan yang dibuat-buat atas dasar dusta, bukan dari keterangan kitab suci. Balasan angan-angan dilakukan orang-orang yang mengajarkan kemunkaran, seolah-olah kebaikan dari Tuhan. Kemunkaran itu mereka ajarkan dari sebuah kitab buatan manusia, lalu dikatakan bahwa kitab itu seolah-olah datang dari Tuhan. Sesungguhnya janji-janji balasan kebaikan di dalamnya adalah angan-angan mereka.

Jadi, selama manusia berbuat baik, dan berharap balasan kebaikan sebagaimana dijanjikan Allah dalam kitab suci Al-Qur’an, maka dia berada di jalan lurus. Dia telah bertahuid kepada Tuhan dengan beriman kepada kitab dan berharap balasan baik dari Tuhan.  Wallahu ‘alam.

(Penulis Master Trainer Logika Tuhan)