Tuesday, April 13, 2021

HATI-HATI PADA ORANG YANG KAMU BANTU

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Hati-hati pada orang yang kamu bantu! Nasihat ini mengajak kita untuk berpikir. Pesan ini mengandung arti kehati-hatian tinggi bagi orang-orang beriman. Orang-orang yang kita bantu, menurut pemikiran kita semestinya mereka menjadi orang yang berprilaku baik pada kita. Apa jadinya jika orang-orang yang kita bantu mengkhianati kita sendiri? Pada saat orang-orang yang kita bantu berkhiatan, berprilaku buruk pada kita, di sinilah kehati-hatian kita untuk menyikapinya.

Pesan hati-hati pada yang yang kita bantu, mengandung pesan bersumber pada ayat Al-Qur’an. Perasaan sakit, kecewa, kesal, benci, dendam, mudah tumbuh pada diri seseorang ketika orang yang diberi bantuan berkhianat.  Pengkhiatan seseorang adalah pupuk penumbuh subur penyakit-penyakit hati. Pada saat ini emosi harus terkendali agar sikap atau reaksi terhadap pengkhiatan tidak menjadi keburukan sikap yang lebih buruk.

Kasus yang sering terjadi ketika pengkhianatan terjadi, emosi sering tidak terkendali dan membabi buta. Hal yang harus hati-hati untuk tidak dilakukan adalah mengungkap semua kebaikan yang telah diberikan kepada mereka yang mengkhinati. Mengungkap semua kebaikan yang pernah diberikan akan mengubah niat ikhlas seseorang dalam berbuat baik. Kebaikan yang pernah dilakukannya akan berubah menjadi kebaikan yang mengharuskan seseorang untuk membalas kebaikan.

Sebuah pemberian yang diiming-imingi dengan harapan seseorang untuk membalas kebaikan yang dilakukannya adalah bukan pekerjaan baik.  Ukuran kebaikan adalah ketika kebaikan yang dilakukan hanya diharapkan kepada Allah, ketika berharap kepada manusia maka tidak ada kebaikan karena kiblatnya atau tauhidnya kepada manusia.

Orang yang mengungkit kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain adalah alamat kebangkrutan bagi orang tersebut. Allah peringatkan kondisi orang seperti ini dalam sebuah perumpamaan.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al Baqarah, 2:264).

Secara psikologis manusia yang menerima pembalasan buruk dari orang yang pernah dibantunya akan membangkitkan seluruh sifat buruk yang dimilikinya. Sifat buruk tersebut adalah ketika mengungkap seluruh bantuan kebaikan yang pernah dilakukannya dengan sumpah serapah, kata-kata menyakitkan hingga melukai orang-orang yang menerimanya. Ketika ini terjadi maka terungkap, tujuannya berbuat baik ternyata bukan karena Allah tetapi karena ingin dibalas kebaikan oleh orang orang yang dibantunya. Hingga pada kondisi ini kiblat manusia bukan lagi kepada Allah tetapi kepada manusia. Maka orang-orang itulah yang dikategrikan orang-orang ria yaitu orang yang berkibat kepada manusia dalam berbuat baik. Tidak ada sedikitpun kebaikan bagi mereka yang mengungkap kebaikannya karena ingin dihargai dihormati oleh orang yang pernah dibantunya. Kebaikannya akan hilang seperti tanah di atas batus licin yang ditimpa hujan lebat.

Penjelasan lain, orang-orang yang mengungkap seluruh kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain dengan menyakiti, prilakunya bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah. “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al Baqarah, 2:263). Kualitas manusia terbaik adalah mereka yang berkata tetap baik, dan pemberi maaf sekalipun kebaikan mereka dibalas keburukan oleh manusia yang dibantunya.

Allah mengajari kepada manusia untuk berakhlak seperti Allah, yaitu pemberi maaf dan penyantun. Sekalipun tidak seluruh manusia bersyukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan-Nya, Allah masih tetap menyantuni dan membuka pintu maaf kepada semua manusia.  Umat Islam yang membaca Al-Qur’an sebagai kitab suci ilmu pengetahuan dari Allah, selayaknya memahami dan menghayati ayat-ayat Allah sampai bisa tampil menjadi manusia-manusia unggul dengan menjadi pribadi-pribadi agung seperti pribadi Rasullullah SAW. Berhati-hatilah pada orang yang kamu bantu! wallahu’alam.

Sunday, April 11, 2021

AGAMA ILMU DUNIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Pendapat mainstream dari sudut pandang sekuler ilmu alam dan sosial dianggap ilmu tentang dunia, dan ilmu agama dianggap ilmu akhirat. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, paradigma berpikir sekuler terus mendominasi pola pikir umat manusia termasuk pemikiran kelompok-kelompok umat beragama. Dengan susah payah para kelompok religius menncoba memasukkan pola pikir keberagamaannya agar cocok dengan paradigma sekuler. Kelompok pemikir ini mencoba mendamaikan agama dengan pemikiran sekuler, sekalipun cara berpikirnya berbelit-belit dan susah dimengerti oleh orang.

Ketika seorang filsuf ditanya bagaimana hubungan antara agama dengan nation building? Agama dianggap tidak bisa dijadikan sebagai faktor pembentuk pola pikir kebangsaan. Katanya, agama adalah urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya, bersifat personal dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar berpikir dalam kenegaraan. Ini pola pikir berisiko sebenarnya, karena dengan paradigma seperti ini ketika manusia bernegara maka seluruh warga negara refleksi otaknya tidak berTuhan. Otaknya berisi Tuhan ketika melakukan ritual ibadah. Di luar ritual ibadah Tuhannya kembali hilang dari ingatan. 

Cara pandang sekuler sebenarnya bisa diterapkan dalam bernegara, namun terlalu berbelit-belit cara berpikirnya. Sulit menjelaskannya, apalagi kepada orang-orang awam yang tidak suka belajar berpikir. Daripada memaksakan cara berpikir yang rumit untuk dipahami, sebagai manusia yang pasti dalam otaknya ada Tuhan, seharusnya mengambil cara-cara berpikir yang bersumber kepada ajaran agamanya.  Ajaran agama harus benar-benar berdasar dari kitab suci yang orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan masih bersumber dari Tuhan. Sangat tidak logis jika manusia menjadikan kitab suci sebagai sumber keberagamaan sementara di dalam kitab suci tersebut ada pemikiran-pemikiran manusia. Jadi ketika umat beragama berkiblat pada kitab suci sementara di dalamnya ada pemikiran-pemikiran manusia maka dia tidak sedang berkiblat pada pola pikir Tuhan tapi pada pola pikir manusia.


Al-Qur’an menawarkan cara berpikir yang mudah dipahami dan dapat dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari dala berbangsa dan bernegara. Lalu seorang filsuf berbicara, Al-Qur’an tidak bisa dijadikan langsung sebagai car akita berpikir dalam hidup bernegara. Filsuf ini sedang menjadi Tuhan, karena dia mengeluarkan kata larangan bagi seseorang untuk berpikir bersumber langsung kepada kitab suci Al-Qur’an padahal mereka sendiri yang mengusung kata kebebasan berpikir.

Agama adalah ilmu dunia plus akhirat. Dunia tidak dapat dipisah-pisah karena Tuhan menciptakan alam dalam sistem ketersalinghubungan. Benda-benda tidak berdiri sendiri-sendiri, semua benda memiliki eksistensi jika saling berhubungan.  

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiyaa’, 21:30)

Inilah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an langit dan bumi tidak terpisah. Artinya memahami kehidupan dunia ini tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Keterpaduan adalah cara berpikir yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an. Prakteknya adalah segala tindakan manusia secara nyata dikendalikan pikiran yang harus bersumber pada petunjuk sebagaimana Allah perintahkan.

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (Al Baqarah, 2:4)

inilah ilmu dunia yang diajarkan Allah, bahwa bagi manusia-manusia yang beriman kepada Tuhan mereka harus punya pemikiran bahwa hidup dunia akan terus berkesinambungan sampai pada kehidupan akhirat. Kehidupan dunia tidak terputus karena kematian. Tindakan-tindakan manusia di dunia akan mengalami kematian namun pikiran-pikiran akan terus berlangsung sampai akhirat. Untuk itulah yang diadili dikahirat adalah prilaku-prilaku pikiran manusia. Maka dari itu, Rasulullah saw menjelaskan bahwa semua manusia akan diadili berdasarkan niat-niatnya dalam arti pikiran-pikirannya. Semua manusia bertindak berdasarkan apa yang dipikirkannya.

Paradigma pemisahan ilmu umum dan ilmu agama adalah paradigma manusia. Buya Syakur berpendapat Nabi Muhammad saw ketika memerintahkan pada umat untuk mencari ilmu, tidak ada spesifik ilmu apa yang harus dipeajari. Pada saat itu para sahabat belajar ilmu dari Yunani, Parsi, China, karena pada saat itu memang adanya ilmu-ilmu tersebut. Jadi pemisahan ilmu agama dan umum hanya paradigma saja atas dugaan manusia yang tidak berdasar pada pengetahuan dari Al-Qur’an.

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (Al Baqarah, 2:201).

Begitulah panduan cara berparadigma berpikir sebagaimana Allah ajarkan kepada manusia. Maka dari itu agama yang sumbernya dari Al-Qur’an adalah ilmu dunia. Ilmu yang dapat memandu manusia agar bisa hidup sejahtera di dunia karena diakhirat orang-orang masuk neraka gegara tidak becus hidup di dunia. Wallahu’alam.

Monday, April 5, 2021

RASISME, BODY SHAMING, HARAM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Perbedaan ras, warna kulit, bentuk tubuh, adalah takdir Allah yang tidak bisa diubah. Sekalipun manusia berbeda-beda bentuk rupa dan warna kulit, Allah mengatakan semua manusia sudah diciptakan dengan bentuk rupa terbaik.

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At Tiin, 95;04)

Sekalipun pandangan manusia menemukan berupa-rupa wujud manusia, sesungguhnya manusia harus mengikuti pandangan Allah bahwa sesungguhnya manusia sudah diciptakan Allah dengan bentuk yang sebaik baiknya. Inilah pandangan yang mengikuti apa yang Allah kabarkan dalam ayat-ayat Nya.

Atas dasar itu, tidak ada alasan bagi manusia merasa lebih baik karena meihat bentuk. Tidak ada alasan bagi manusia merasa lebih baik karena melihat ras. Tidak ada alasan bagi manusia merasa superior karena keturunan. Juga tidak ada alasan merasa lebih indah karena melihat warna kulit, dan tidak ada alasan merasa lebih sempurna karena melihat bentuk rambut. Dalam ciptaan Allah pada seluruh tubuh manusia tidak ada yang buruk. Sesungguhnya pandangan manusia selalu tertipu oleh rupa dan bentuk, kecuali orang-orang yang berakal sehat.

Allah menentukan ukuran kemuliaan manusia bukan dari bentuk, ras, suku, atau keturunan. Allah adil mengukur kemulian manusia dari sesuatu yang semua manusia bisa melakukannya tanpa biaya, tanpa otot, dan aksesosris benda. Allah melihat kemuliaan manusia dari bagaimana manusia mengasihi kepada manusia lain, terutama kepada kedua orang tua, kepada tetangga, kerabat, orang-orang miskin, yatim piatu, tanpa memandang ras, suku, keturunan dan agama. Kemuliaan manusia dalam pandangan Tuhan adalah manusia yang paling baik karakternya dalam menjalin silaturahmi, dan komunikasi dengan sesama manusia.

Dalam kisah hidup Nabi Muhammad saw, Beliau mengajarkan agama kepada masyarakat Arab dengan kelemah lembutan. Kekerasan dalam menyebarkan agama yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad saw, sangat tidak beralasan jika melihat perang demi perang yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw jumlahnya selalu tidak seimbang, antar 1 berbanding 10.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat, 49:13).

Ayat di atas adalah argument dari Allah bahwa kemuliaan manusia bukan dari jabatan, rupa, keturunan, rasa, keilmuan, harta kekayaan, atau popularitas. Orang yang mulia dihadapan Allah bisa jadi dari orang berkedudukan, punya kekayaan, berketurunan bangsawan, cacat, tidak punya harta, tidak punya jabatan, pekerja rendah dan bukan dari golongan berilmu. Semua manusia memungkinkan menjadi manusia mulia dihadapan Allah dengan ukuran yang telah Allah tetapkan.

Oleh karena itu, sikap rasisme, merendahkan orang karena meihat bentuk, warna kulit, teknologi, pekerjaan dan kekayaan, adalah perbuatan haram karena sangat menentang kondrat yang Allah tetapkan yaitu semua manusia telah Allah ciptakan dengan bentuk sebaik-baiknya. Untuk itu Allah memerintahkan kepada manusia untuk berlaku lemah lembut, saling mengenal dan bersahabat untuk menjaga kehidupan damai.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisaa, 04:01).

Inilah ayat ayat pedoman hidup untuk manusia agar manusia hidup sejahtera di dunia dan akhirat. Bagi siapa yang taat kepada Allah, sesungguhnya Allah lah yang akan menjaga kesejahteraan hidupnya. Wallahu’alam.

Sunday, April 4, 2021

RAHASIA KETAMPANAN NABI YUSUF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setiap orang pasti terjebak karena selalu membayangkan bahwa ketampanan Nabi Yusuf dilihat dari wajahnya. Untuk itu tidak semua orang bisa tampan seperti Nabi Yusuf. Padahal ketampanan Nabi Yusuf yang hakiki bukan dari wajahnya tetapi dari kepribadiannya. Maka dari itu, semua orang bisa setampan Nabi Yusuf dengan meneladani kepribadian-kepribadian yang dimiliki oleh Nabi Yusuf.

Jika keutamaan Nabi Yusuf dari ketampanan, maka tidak semua orang tampan menarik hati para wanita. Maka dari itu, wanita-wanita baik hanya tertarik pada ketampanan akhlak dari para kaum lelaki. Seperti Khadijah tertarik pada Nabi Muhammad saw bukan karena ketampanan fisiknya sekaipun Nabi Muhammad tampan, namun karena ketampanan akhaknya yaitu kejujurannya.

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (yusuf, 12:23)

Ketampanan Nabi Yusuf yang dapat dimiiki oleh kita adalah kemampuan membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan sebagai mana Allah mengajarkan. Nabi Yusuf menolak ajakan mesum karena ingat kebaikan demi kebaikan yang telah dilakukan oleh majikannya.

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. (12:47). Ketampanan Nabi Yusuf adalah kemampuannya dalam mengelola investasi modal, aset, bahan pokok, miik negara untuk mempersiapkan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (12:53). Ketampanan Nabi yusuf terletak pada kemampuannya mengendalikan nafsu yang cenderung pada perbuatan buruk. Kemampuan Nabi Yusuf mengendalikan Nafsunya hingga Beliau tidak tergoda oleh bujuk rayu wanita.

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (12:55). Selanjutnya, ketampanan Nabi Yusuf teretak pada kepandaian dalam mengelola uang negara untuk kepentingan rakyatnya. Beliau pandai dalam mengadministrasikan, dan mengatur pengeluaran serta pemasukan dengan jelas.

Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? (12:59). Ketampanan Nabi Yusuf, Beliau mampu berbuat amanah, memberikan hak bantuan kepada rakyatnya tanpa melihat bagaimana rakyat memperlakukan baik atau buruk terhadap dirinya.

Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?" Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". (12;90). Ketampanan Nabi Yusuf adalah kesabaran dan ketakwaannya kepada Allah dalam menghadapi cobaan demi cobaan yang dialaminya.

Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang." (12:92). Terakhir, ketampanan Nabi Yusuf adalah ketika membalas keburukan dengan kabaikan sekalipun dia berkemampuan menghukum orang yang mencelakainya. Yusuf tidak memiliki dendam dan membebaskan serta memaafkan kesalahan orang lain dengan balasan yang lebih baik. Wallahu’aam.

Monday, March 29, 2021

MAU SUKSES? PENUHI JANJI!

OLEH: MUHAMMAD PLATO

“Jangan terlalu banyak berjanji, karena kebanyakan manusia berdusta”. (Muhammad Plato). Quote ini berangkat dari kenyataan bahwa janji adalah sesuatu yang berat. Mengapa demikian? Janji biasanya dinyatakan atas sesuatu yang akan kita lakukan di masa yang akan datang. Sedangkan masa yang akan datang kendalinya di luar kemampuan kita. Nabi Muhammad saw dalam hadis mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Ini artinya janji yang kita ucapkan sesungguhnya sesuatu yang tidak mampu kita lakukan. Untuk itu berjanji adalah tindakan yang sangat berisiko.

Janji pun termasuk sesuatu yang harus dipenuhi, tidak memenuhi janji termasuk perbuatan dosa dalam arti akan berdampak buruk pada pribadi seseorang. Orang-orang yang tidak punya komitmen pada janji cenderung kurang dipercaya, sehingga berdampak pada aspek kesejahteraan seseorang. Jabatan, pekerjaan, harta kekayaan, dititipkan kepada orang-orang terpercaya.

Menepati janji termasuk bagian dari shalatnya seseorang. Di dalam A-Qur’an (Al Maidah, 05:106) dijelaskan bahwa makna shalat adalah komitmen seseorang terhadap sesuatu yang akan dia tunaikan. Untuk itu, janji yang tidak ditunaikan sama dengan tidak menunaikan shalat.

Nabi Muhammad saw menyampaikan ajaran dari Allah apa bila hendak mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaklan memohon pertolongan kepada Allah, dengan mengucapkan insya Allah. “dan mereka tidak mengucapkan: "Insyaa Allah", (Al-Qalam, 68:18). Kata insya Allah adalah sebuah bentuk penyerahan diri, kerendahan diri, atau permohonan, agar Allah memberi kemampuan untuk menunaikan janji yang hendak dilakukan.

Ketika manusia berjanji ada kewajiban untuk memenuhinya. “Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (Al Baqarah, 2:40).

Sebenarnya peringatan untuk memenuhi janji bukan untuk kepentingan Allah. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa Allah punya ketetapan khusus, hanya kepada orang-orang yang memenuhi janji Allah akan memenuhi janjinya. Oleh karena itu, ketika manusia tidak memenuhi janjinya sebenarnya manusia telah menahan rezekinya, keberkahannya, dan kesuksesannya sendiri. Jadi bagi manusia-manusia berpikir, sebenarnya memenuhi janji bukan untuk kepentingan orang lain, tetapi untuk kepentingan dirinya sendiri. Allah tidak memaksa hanya memberi rambu-rambu kepada manusia untuk memenuhi janjinya. Bagi orang-orang berpikir tentu dapat memahaminya mengapa Allah menetapkan untuk memenuhi janji.  

Allah tidak akan menghukum orang yang tidak menepati janji, hanya konsekuensi logis orang-orang yang tidak menepati janji akan mendapat kesulitan demi kesulitan dalam hidup. Namun demikian bagi orang-orang yang berserah diri, memohon pertolongan, meminta kekuatan kepada Allah dengan ‘Insya Allah” agar bisa memenuhi janjinya, bagi dia tidak ada keburukan karena sebelumnya telah menetapkan diri sebagai makhuk lemah, tidak ada daya upaya dan mengakui semua atas kekuasaan Allah, maka orang-orang tersebut rezekinya sudah ada dalam tanggungan Allah.

 Sumpah jabatan, ikrar, fakta integritas, perjanjian, MOU, adalah janji-janji kita kepada Tuhan. Penuhilah janji-janji mu niscaya Aku memenuhi janji Ku kepadamu. Janji-janji Allah kepada orang yang taat kepada Nya adalah kesejahteran, karir, kesuksesan, kekayaan, kedamaian, ketenangan, ketentraman, kematian yang mudah, mati dalam kebaikan, alam kubur yang menyenangkan dan surga di sisi Tuhan. Bagi orang-orang berpikir, memenuhi janji bukan lagi menjadi beban tetapi menjadi target yang harus dicapai demi untuk mendapat kesejahteraan dari Tuhan YME. Semoga Allah memberi kemampuan kepada siapa saja untuk memenuhi janji-janjinya. Wallahu’alam.

Friday, March 26, 2021

BUMI TEMPAT IBADAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ketika orang menyebut bangunan masjid sebagai tempat ibadah, maka ajaran reduksionisme telah menjadi sudut pandang orang dalam beragama. Ketika bentuk ibadah hanya dikategorikan dengan shalat maka reduksionisme telah digunakan kembali oleh orang beragama dalam memahami kata ibadah.

Pandangan-pandangan reduksionisme ini telah menyempitkan konsep-konsep dalam ajaran agama yang hakikatnya bersifat menyeluruh karena ajaran agama datang dari Tuhan Yang Maha Luas Pengetahuannya tidak sama dengan cara pandang manusia. Ketika manusia sudah memosisikan diri menjadi pemiik-pemilik konsep maka agama menjadi ajaran kerdil yang kadang tidak disukai sesama manusia.  

Konsep ibadah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada Ku (liya’budun).” (Adz Dzaariyat, 51:56). Konsep ibadah sangat general tidak terbatas pada satu kegiatan tertentu. Kata ibadah menaungi seluruh perbuatan manusia yang dialamatkan sebagai bentuk ketaatan, ketundukan manusia atau jin kepada Tuhan.

Setiap shalat kita selalu membaca, “Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah (wanusuki), hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (Al An’aam, 6:162). Beribadah menjadi tujuan Tuhan menciptakan jin dan manusia. Ibadah menjadi ruang besar yang menaungi seluruh aktivitas manusia di muka bumi.

Shalat adalah bagian dari ibadah. Jika ibadah diidentikkan dengan kegiatan ritual shalat maka seluruh aktivitas manusia selain shalat menjadi bukan ibadah. Untuk itu mengkerucutkan makna ibadah ke dalam ritual shalat sama dengan mengkerdilkan ajaran agama, dan menghilangkan makna spiritual kehidupan. Mengkerdilkan makna ibadah hanya dalam bentuk ritual shalat sama dengan menyempitkan bumi yang suci hanya sebatas bangunan-bangunan masjid.

Pemahaman sempit dalam memberi makna ibadah sebatas ritual shalat telah menghilangkan kesucian hidup manusia dan menghilangkan sebagian besar bumi sebagai masjid untuk manusia. Pemahaman ibadah sebagai ritual shalat atau ritual keagamaan telah mengiring manusia menjadi setan-setan ketika berada di luar bangunan masjid. Laut, sungai, gunung, lembah, bukit, pasar, kantor, mall, dan tempat rekreasi menjadi tempat beredarnya suluh neraka. Laut menjadi tempat sampah, sungai tempat pembuangan limbah, gunung jadi tempat ekpoitasi sumber energi, kantor tempat korupsi, sekolah tempat jual beli, pasar tempat monopoli, dan mall tempat pemenuhan hasrat konsumsi. Sedikit sekali orang-orang yang beribadah di dalam bangunan masjid, dan banyak sekali orang-orang di pasar, mall dan tempat-tempat rekreasi.

Ibadah adalah narasi besar tujuan hidup manusia. Shalat hanya bagian kecil dari ibadah. Kita kembalikan kesucian hidup manusia menjadi sebuah peribadatan kepada Tuhan dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian bumi ini menjadi tempat ibadah. Pasar, mall, gunung, laut, sungai, pabrik, kantor, sekolah, di manapun berada jika kita mengingat Tuhan dan berbuat baik dengan jujur ketika di pasar, meindungi gunung, laut, dan sungati, bekerja untuk melayani orang di kantor, belajar mencari ilmu di sekoah, semua adalah ibadah.

Jika manusia berpendangan bahwa seluruh hidup manusia adalah untuk beribadah, maka peribadatan tidak akan hanya terbatas di dalam masjid-masjid, tetapi ketika berada di seluruh muka bumi ini. Jika tujuan manusia diciptakan untuk beribadah maka seluruh bumi ini adalah masjid. Di manapun berada kapan pun, kewajiban manusia adalah berbuat baik. Dengan pemahaman ini, sikap manusia akan menjadi ramah terhadap lingkungan alam dan manusia, karena kegiatan ibadah ada di mana-mana.

Untuk itulah pentingnya membedakan makna ibadah dengan shalat.  Ibadah adalah tujuan seluruh hidup manusia, dan shalat adalah partikel dari unsur ibadah. Jangan mengecilkan makna yang besar dan jangan membesarkan makna yang kecil. Kerusakan di muka bumi ini diawali dari kegagalan manusia dalam memahami hakikat kehidupan.

Jadi bumi ini adalah tempat beraktivitas manusia, dan tujuan hidup manusia adalah ibadah. Maka bumi ini adalah masjid. Sungai adalah masjid. Laut adalah masjid. Gunung adalah masjid. Kantor, sekolah, pasar, mall, jalanan, semua tempat adalah masjid. Untuk itu karena semua masjid, dimanapun kita harus tetap beribadah. Walahu’alam.

Saturday, March 13, 2021

KARAKTER CURANG

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah mengabarkan manusia memiliki karakter curang.  Ciri karakter curang dikategorinkan dalam sebuah tindakan dalam sebuah perniagaan. “orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Al mutaffifiin, 83:3-4).

Kesehariannya karakter ini bisa kita saksikan dalam aktivitas perdagangan. Ketika menjual ingin mengurangi, ketika membeli ingin dipenuhi. Dalam sebuah perjuangan, ketika berkorban ingin sekecil-kecilnya, ketika giliran keuntungan ingin sebesar-besarnya. Dalam dunia kerja, karakter ini juga sering terjadi ketika bekerja ingin seringan ringannya, tetapi ketika merima upah menuntut sebesar-besarnya.  Dalam berkomunikasi, orang selalu ingin mendapat apresiasi tetapi ketika giliran mendengar, orang sering abai pada pendapat orang lain. Dalam bersosialisasi di masyarakat orang selalu menilai prilaku orang lain terlihat salah matanya, tetapi ketika orang lain melihat dirinya tidak ingin dinilai buruk.

Untuk itulah mengapa gibah atau menceritakan keburukan-keburukan orang lain sangat dilarang. Gibah adalah karakter curang yang secara tidak sadar mengaktifkan karakter buruk yang ada dalam diri manusia. Gibah sama dengan karakter curang karena ketika menilai orang selalu salah, dan ketika orang lain menilai dirinya selalu ingin baik. Jika karakter curang ini tanpa sadar terus diaktifkan tanpa disadari kita telah mengukir karakter buruk pada diri kita sendiri.

Di sinilah kecerdasan akal manusia harus terus diasah untuk memehami ayat-ayat Al-Qur’an untuk sampai bisa diimplementasikan sehari-hari. Surat Al Mutaffifii, jarang diungkap secara general yang bisa memandu kita dalam setiap aspek kehidupan. Kebanyakan tafsir surat ini berkaitan dengan dengan perdagangan di pasar saja, padahal jika kita kaji dari ilmu pendidikan, ayat ini bercerita tentang unsur karakter curang yang terdapat dalam setiap pribadi manusia. 

Jadi apa yang dikabarkan Allah dalam Al-Qur’an itulah karakter manusia yang harus dipahami. Karakter curang tidak bisa dihilangkan namun perlu dikendalikan dan dijaga keseimbangannya. Karakter curang adalah perbuatan melampaui batas yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Orang-orang yang melampaui batas adalah yang prilakunya secara nyata curang dan berdampak hingga merugikan orang lain. 

Jadi, karakter curang tidak parsial terjadi pada aktivitas jual beli di pasar. Karakter curang terjadi pada semua aspek kehidupan. Karakter curang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Karakter curang adalah naluri setiap manusia. Karakter ini dikatakan sebagai prilaku puzur yang ada dalam setiap jiwa manusia sempurna. Secara psikologis setiap manusia memiliki potensi berpilaku curang. Sejujur-jujurnya orang pasti ada prilaku curangnya.

Prilaku curang yang sering dilakukan manusia setiap hari adalah menilai orang lain selalu salah dan menginginkan orang lain menilai dirinya benar. Prilaku ini terjadi ketika orang membicarakan keburukan orang lain, ketika orang mengungkap aib orang lain, ketika orang menyebarkan berita tentang keburukan orang lain, dan ketika orang mengampanyekan keburukan orang lain, sementara kita semua tidak ingin keburukan dan kekurangan kita diketahui orang lain. Inilah prilaku curang yang sulit dihindari dalam pergaulan sehari-hari, kecuali orang-orang yang diberi pengetahuan dan menyadarinya.

Para pengkritik jika tidak dibarengi dengan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya, akan bergerak menjadi orang-orang berkarater curang. Jika tidak dikendalikan, para pengkritik akan bergeser menjadi orang-orang yang berkarakter curang karena terlalu fokus pada keburukan orang lain, dan lupa pada kemampuan diri sendiri. Wallahu’alam.

Sunday, February 14, 2021

SELAMAT JALAN, IBU KU SANG ENTREPRENEUR SEJATI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Ibu ku meninggal di hari Jumat hari raya umat Islam yang dikabarkan hari tempat Allah memberi keberkahan kepada setiap doa dan perbuatan baik. Ibu meninggal dengan dua tarikan nafas menjelang waktu ashar tiba. Saat sakaratul maut tiba, semua berlomba memengaruhi pikiran ibu dengan kalimat lailahailallah. Semoga lailahailallah menjadi kalimat yang ibu ingat saat menghembuskan nafas terakhir menghadap Allah.

Mengenang sosok ibu dalam ingatan mata, sejak muda ibu sudah menjadi pekerja keras. Ibu seorang ibu rumah tangga plus entrepreneur. Banyak usaha pernah dijalani oleh ibu. Kreativitasnya dalam berdagang tidak pernah berhenti. Sebagaimana seorang pengusaha, usaha ibu mengalami pasang surut. Namun jiwa wirausaha ibu tidak pernah padam, sampai titik akhir nafasnya ibu tetap menjadi seorang pengusaha, walaupun hanya sekedar menjual beras untuk anak-anaknya. Jiwa wirasusahanya selalu mengundang beliau untuk tidak tergantung pada orang lain. Di hari tuanya ibu masih mengelola uang, pesan barang, dan masih punya mitra dagang yaitu tukang beras.

Pada masa puncak kejayaanya, ibu pernah berwirausaha menjadi penyedia alat dan bahan pertanian, rumah makan, peternak sapi dan ayam petelur, jualan kayu bakar, bandar pisang, petani sayuran, bekerja jadi pemanen padi milik tetangga, jualan sabun, jualan sprei dan sarung bantal, jualan batagor, buka pabrik kerupuk jengkol, dan penjual kupat tahu. Naluri bisnisnya sangat teruji, karena ibu dibesarkan dilingkungan pedagang. Naluri seorang entrepreneur sedikit mengalir di darah ku. Sampai saat ini aku termasuk pebisnis yang tidak pernah mendapat keuntungan dari hasil bisnis. Keberuntungan ku hanya bisa menghidupi dan mempekerjakan orang lain.

Ibu karakternya keras. Jika marah bisa membuat sakit hati orang. Jika menawar barang sampai penjual mati kutu. Namun aku tahu, ibu selalu memperhatikan tetangga, baik sama saudara-saudaranya. Ibu selalu hadir ketika diundang hajatan, ibu selalu nengok ketika ada keluarga yang sakit, dan ibu sosok yang berbakti pada orang tuanya.

Semasa muda aku adalah anak paling durhaka. Derai air mata selalu ibu keluarkan ketika kelakuan ku diluar batas keawajaran seorang anak. Namun ibu dan bapak ku selalu mengubah keadaan buruk menjadi baik. Sekalipun marah, dia selalu mendoakan nasib terbaik untuk anaknya. Akibat marahnya ibu kepadaku, ibu cerita sempat terlontar dari mulutnya dalam tahajud, “”semoga anak ku kelak menjadi guru”.

Akibat doa ibu sambil marah, aku tidak percaya pada diri ku sendiri, mengapa tiba-tiba perjalan hidup ku bisa menjadi guru begitu mudah. Setelah lulus kuliah selang beberapa bulan aku ditempatkan menjadi pegawai pemerintah, jadi guru 16 tahun di daerah selatan Jawa Barat. Sekolah yang baru tumbuh, tempat aku mengabdi menjadi guru dan menorehkan beberapa prestasi hingga membanggakan ibu.

Pendidikan ibu tidak didapat dari pendidikan formal. Ibu mendapat pendidikan dari kehidupan rumah tangga sederhana, istri dari seorang pegawai, dan kerasnya tantangan zaman. Ibu mengolah uang belanja dari ayah menjadi sebuah usaha hingga bisa membiayai anak-anaknya kuliah. Ibu tidak mau tinggal serumah dengan anak-anaknya, dengan alasan tidak mau merepotkan dan membuat sulit anak-anaknya.

Pesan terakhir ibu, aku harus kembali ke kampung tinggal dekat ibu. Sebelum niat ku kembali tinggal bersama ibu, ibu sudah pergi. Rupanya ibu sudah menyimpan pesan kepada ku, untuk mengurus ayah yang akan ibu tinggalkan. Ibu memang sosok yang keras dalam mendidik anak, tapi ibu sangat tahu bagaimana anak-anak nya harus hidup. Termakasih ibu atas pengabdiannya, diakrhir masa studi ku di strata tiga, aku akan persembahkan seluruh pengabdian dan ilmu yang aku dapatkan untuk kebaikann ibu dan ayah. Sebagai wujud pengabdian ku, aku bermohon kepada Allah agar aku selalu bisa mendoakan ibu dan ayah  dalam setiap sujud lima waktu, dhuha, dan tahajud ku. Sudah menjadi takdir Tuhan, setiap manusia terlahir untuk mengabdi pada ibu. Semoga Allah menempatkan ibu di tempat paling mulia. Selamat jalan ibu!

Monday, February 8, 2021

KERANCUAN DALAM BERFILSAFAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dimana letak kerancuan para filsuf? Bisa disimak dalam penjelasan di bawah. Harus dibaca tuntas agar bisa memahami isi tulisan ini. Berfilsafat itu sederhana jika sudah memahami kuncinya. Rahasianya akan saya jelaskan dalam tulisan ini.

Masyarakat awam cenderung membedakan secara kontradiktif antara filsafat dan agama. Para filsuf dipandang sebagai orang-orang sesat bagi mereka yang merasa telah memahami agama. Bagi para filsuf orang-orang beragama dianggap orang-orang bodoh yang hidupnya tertinggal dari kemajuan zaman. Dua pandangan ini sebenarnya mewakili orang-orang bodoh yang merasa dirinya benar. Kebodohan para filsuf mereka berpikir dengan menggunakan pengetahuan indera semata dari pengamatan alam dapat memahami rahasia kehidupan. Kebodohan para penganut agama yang bodoh adalah tidak mau memikirkan isi pengetahuan dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengungkap rahasia alam. Kitab suci Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah untuk umat manusia. Umat Islam bertugas untuk mempromosikan Al-Qur’an sebagai sumber informasi yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Al-Qur’an dapat jadi alat, pedoman, untuk menganalisis pemikiran seseorang.

Dasar dari berpikir adalah berlogika sebab akibat, sebagaimana pemikir dari kaum Stoa (stoa artinya ruang) berpendapat bahwa segala yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini dikuasai oleh hukum kausalita. Apa yang terjadi berlaku sebagai gerak. Tiap-tiap gerak ada yang menyebabkannya.  Kaum Stoa juga berpandangan bahwa semua yang terjadi di dalam dunia berlaku menurut hukum alam dan rasio, akal Tuhan untuk keselamatan manusia, sehingga kaum Stoa mempunyai pandangan hidup yang optimis. Kehidupan ini semua terjadi menurut kemestian dalam edaran yang tetap, terima itu dengan sabar dan gembira. (Hatta, 2006, hal. 152).

Bagi kaum Stoa manusia yang hidup sepenuhnya menurut kodrat alam adalah merdeka sepenuhnya sekalipun mereka tunduk kepada satu-satunya hukum yang menguasai semuanya. Manusia yang khilaf menyimpang dari semestinya akan sakit. Berbuat jahat dan berbuat salah dapatlah dipandang sebagai penyakit, sebagai penyelewengan terhadap norma alam. Manusia dihinggapi penyakit apabila ia mencita-citakan kekayaan, kehormatan dan tanda-tanda kebesaran diri yang tidak sesuai dengan keadaannya yang sebenarnya. (Hatta, 2016, hlm. 154).

Baik dari dua pernyataan kaum filsuf di atas, sebenarnya para filsuf memahami bahwa kehidupan ini diatur oleh sebuah sistem yang teratur dan tetap. Menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan berarti pertanda tidak baik buat manusia. Untuk itu diharapkan manusia hidup selaras dengan sistem hidup yang sudah ditentukan. Manusia harus merasa merdeka dalam sistem yang sudah ditetapkan.

Kerancuan dari berpikir mewakili kaum filsuf di atas adalah memfokuskan pada hukum alam sebagai sumber hukum. Keyakinan inilah yang pada akhirnya melahirkan kaum materialis, tidak percaya Tuhan yang tidak terlihat. Pemikiran bersumber pada alam materi terus berkembang berdampingan dengan berbagai bidang keilmuan, dan ditemukannya metodologi penelitian. Para ilmuwan membuat keyakinan baru dimana alam sebagai sistem hidup, bisa dipahami, diamati, dan dibuktikan kebenarannya. Lahirlah sebuah pemahaman rancu yaitu segala sesuatu yang benar harus bisa dibuktikan dalam bentuk materi.  Sejak saat itu, manusia menjadi makhluk kerdil karena hanya bisa fokus memahami dunia materi yang sempit. Kepercayaan kepada Tuhan Yang Ghaib mulia luntur, abai, tidak peduli, dan dianggap tidak ada.

Berfilsafat adalah kegiatan berpikir untuk mencari kebenaran hakiki, kebenaran yang tidak bisa dijawab lagi oleh manusia kecuali berserah diri kepada Tuhan. Berfilsafat tidak dilarang, karena sebagai aktivitas berpikir justru diperintahkan Allah sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Kerancuan para filsuf yang harus diwaspadai adalah menjadikan hukum alam sebagai sumber pengetahuan. Berfilsafat yang diajarkan oleh Tuhan adalah memahami, menganalisis, mengevaluasi, apa yang terjadi di alam sebagai bukti keagungan Tuhan Pecipta Semesta Alam. Kegiatan berfilsafat adalah sebuah proses pencarian bukti untuk meningkatkan keyakinan kepada ke-Esa-an Tuhan.

Doktrin mutlak dalam berfilsafat adalah segala sesuatu diciptakan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan berfilsafat adalah memurnikan ketauhidan manusia dari ketauhidan kepada tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa. Alam adalah karya Tuhan yang bisa dieksplorasi untuk kesejahteraan manusia dengan tetap menjaga ketaatan pada keseimbangan, dan keharmonisan hidup antara manusia dengan alam.  

Jadi kerancuan para filsuf itu hanya sedikit yaitu mejadikan alam sebagai sumber pengetahuan yang benar dia dinamai kelompok empirisme, dan menjadikan akal sebagai sumber kekuatan manusia dalam memahami kehidupan alam, dia dinamai kelompok rasionalisme. Sesungguhnya alam adalah objek ciptaan Tuhan, dan akal adalah alat yang diciptakan Tuhan. Memahami alam dengan akal tujuannya membauktikan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Maka, selama kita berfilsafat dan tetap meng-Esa-kan Tuhan, itulah tujuan berpikir yang diperintahkan Tuhan. Maka sumber pengetahuan itu dari Tuhan yaitu Al-Qur'an dan alam adalah ayat-ayat Tuhan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Wallahu’alam. 

Saturday, February 6, 2021

BIARKAN ALLAH MEMIKIRKAN KITA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Sebuah quot inspiratif dikemukakan oleh Simon Weil, “Bukan urusan saya memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan urusan-Nya lah untuk memikirkan saya”.  Beliau seorang filsuf mistikus beragama Kristen dan aktivis politik berasal dari Perancis. Sangat produktif menulis dan beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Di sinilah persinggungan pemikiran sekalipun berbeda agama. Ajaran agama-agama di dunia mengandung beberapa kesamaan dalam berpikir. Namun ada kalanya perbedaan pemikiran, karena ada agama yang hanya sebatas pemikiran manusia. Al-Qur’an bukan hasil pemikiran manusia. Al-Qur’an berisi pikiran-pikiran Allah Sang Pencipta Alam Semesta. Al-Qur’an adalah anugerah terbesar bagi umat manusia, sebab di dalamnya terdapat panduan-penduan Nya bagaimana manusia bisa hidup sejahtera. Al-Qur’an adalah alat untuk menganalisis pemikiran setiap orang dari golongan, budaya, dan ras manapun orang tersebut.  

Jika kita analisis berdasarkan Al-Qur’an quot Simon Weil mengandung kebenaran yang sumbernya dari Al-Qur’an. Penulis akan membahas quot tersebut dengan panduan Al-Qur’an.  Sumber ayatnya adalah “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (Al Baqarah, 2:152).

Kata kuncinya “ingatlah kepada Ku, maka Aku ingat kepadamu”. Jadi ketika kita ingat Allah, saat itu juga Allah sedang ingat kepada kita. Mengingat Allah salah satu cara manusia berterimakasih kepada Allah. Dalam setiap tarikan dan hembusan napas jika kita ingat kepada Allah maka itulah bentuk rasa bersyukur manusia kepada Tuhan Penciptanya. Ingat Allah substansinya bisa berterimakasih, mohon pertolongan, atau mohon ampun.  

Kegiatan shalat yang kita lakukan sebagai umat Islam adalah kegiatan mengingat Allah. Umat Islam punya kedisiplinan yang tinggi dalam mengingat Allah. Mengingat Allah adalah bagian dari aktivitas berpikir, aktivitas berpikir sama dengan doa. Ketika kita ingat Allah maka Allah ada dalam pemikiran kita, sebaliknya Allah memikirkan kita, karena dalam Al-Qur’an dijelaskan Allah memikirkan kita jika kita memikirkan Allah.

Jadi quot Simon Weil sebenarnya membahasa logikakan kalimat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 152. Jadi memikirkan tentang diri sendiri tidak begitu penting, karena Allah yang harus kita pikirkan sehingga Allah memikirkan tentang diri kita. Ketika kita memikirkan Allah dengan memohon pertolongan dari segala bencana, maka urusan Allah untuk memikirkan bagaimana memberi pertolongan kepada kita.

Jika kita selalu ingat, berpikir, memohon, meminta kesejahteraan hidup di dunia, maka Allah secara langsung telah bertanggung jawab untuk mensejahterakan hidup kita. Maka cukup dengan ingat atau memikirkan Allah Yang Maha Kuasa, maka setiap langkah kita, nafas kita, menjadi tanggung jawab Allah untuk mewujudkan dan menjaganya.

Untuk itu Allah Allah memperjelas lagi perintahnya, “ingatlah Allah banyak-banyak, maka kamu akan jadi orang beruntung”. (Al Jumu’ah, 62:10). Itulah penegasan jaminan Allah bagi orang-orang yang selalu memikirkan Allah. Jadi fokus pada Allah, selamat mecoba insya Allah sukses. Wallahu’alam.   

Sunday, January 10, 2021

BANGSA JANGKRIK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Salah satu bangsa Jangkrik adalah merasa bahwa penjajahan adalah akibat ulah manusia yang menjajah manusia lain. Bangsa jangkrik selalu merasa bahwa dirinya adalah korban dari bangsa lain. Mental inferior menjadi penyebab sebuah bangsa menjadi bangsa jangkrik selama-lamanya.

Jangkrik adalah binatang kecil yang nasibnya selalu menjadi mangsa dan hiburan makhluk lain. Jangkrik diternak dikembangbiakkan, kemudian dijual untuk jadi pakan atau umpan untuk makhluk lain. Jangkrik juga dipelihara, diberi makan, untuk kemudian diadukan dengan jangkrik lain untuk sekedar hiburan. Jangkrik malang selalu jadi objek untuk kepentingan makhluk lain.

Jangkrik bunyinya nyaring, berbunyi ketika malam hari. Bunyinya membuat senang dan mengundang makhluk lain untuk memangsa. Sekalipun nyaring bunyinya, Jangkrik tidak jadi pengendali makhluk lain. Kemampuan jangkrik hanya berbunyi dan berbunyi. Jangkrik terus berbunyi nyaring tanpa disadari bahwa dirinya sedang diincar mangsa. Semakin nyaring berbunyi semakin menarik para pemangsa untuk memilikinya. Jangkrik selalu berisik dan berhenti ketika ada yang menggertak.

Sekalipun bunyinya nyaring dan sering berbunyi jangkrik tidak membuat dihormati dan ditakuti dihadapan bangsa lain. Jangkrik tidak pernah menyadari bahwa karena sering berbunyi menyebabkan dirinya selalu diketahui posisi dan keberadaannya. Jangkrik tidak menyadari karena bunyinyalah dirinya selalu berhasil ditangkap.

Jangkrik tampil menjadi kesatria tetapi lupa dirinya sedang dalam arena gladiator. Jangkrik bertempur mati-matian tetapi tidak sadar dia sedang dalam adu taruhan makhluk lain. Jangkrik tidak sadar bahwa dia sedang betempur melawan bangsanya sendiri. Jangkrik teriakannya lantang merasa sedang membela kebenaran, tetapi tidak sadar sedang menyebar kengerian dan kesedihan di tengah malam. Teriakan jangkrik tidak membuat dirinya terhormat tetapi hanya mengundang decak kagum makhluk lain, bahwa Jangkrik miliknya mengalahkan suara jangkrik lainnya.

Jangkrik selalu berada di atas kendali pemiliknya. Setelah sengit bertempur dengan tujuan tidak jelas, Jangkrik kembali masuk kandang kecil atau jadi pakan ternak. Jangkrik hanya berusaha tampil memesona dihadapan makhluk lain dengan mengembang-ngembangkan sayapnya. Jangkrik tidak mengenal kondisi dan situasi, setiap ada keleluasaan dan kebebasan, Jangkrik gunakan kesempatan untuk berbunyi nyaring memecah sunyi. Sekalipun suaranya jelas tapi tidak mengubah dirinya, dia tetap saja Jangkrik.

Teriak-teriak di tengah kedamaian malam sunyi adalah tingkah laku Jangkrik. Bangsa Jangkrik hanya bisa teriak dari dekat sarang dan kelompoknya. Jangkrik hanya bisa meloncat ketika ada bahaya mengancam, dan loncatannya tidak membuat dirinya maju tapi mundur. Jangkrik meloncat mundur, dan selalu berpikir mundur ketika ada serangan dan tantangan.

Senyaring-nyaringnya Jangkrik berteriak, tetap saja hidup Jangkrik di bawah kendali makhluk lain. Teriakan Jangkrik hanya retorika yang tidak pernah berbuat dan menjadikan dirinya ksatria. Jangkrik adalah makhluk yang nasibnya selalu tragis karena adu jangkrik. Jangkrik selalu sibuk bertempur dengan sesama. Bangsa Jangkrik adalah bangsa inferior yang selalu termakan isu-isu rencana besar makhluk lain. Bangsa Jangkrik selalu larut di atas rencana besar bangsa lain, dan tidak pernah punya rencana besar untuk bangsanya.

Jangkrik yang baik adalah Jangkrik yang menyadari sekalipun dirinya kecil dia harus punya rencana besar untuk umat manusia bukan hanya untuk diri dan bangsanya. Logika jangkrik yang baik dipandu oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari”. (An Naml, 27:50).

Jangkrik yang baik adalah Jangkrik Superior, Jangkrik yang punya kekuatan mengalahkan kekuatan besar sekalipun dirinya kecil. Jangkrik yang baik adalah yang memiliki pasukan kecil namun bisa mengalahkan pasukan besar. Hidup Jangkrik! Wallahu’alam.  

SIAPA BERMENTAL INFERIOR?

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Keberhasilan pertama dari negara-negara Superior adalah merasa dirinya sebagai bangsa superior. Mentalitas ini sekalipun mereka miliki secara berlebihan tetapi dengan kolektif memori mereka sebagai superior dari waktu ke waktu mereka selalu menjadi pengendali dunia dan bahan perbincangan dunia. Mental superior telah membangun kepercayaan pada diri sendiri dan selalu memotivasi untuk menjadi bangsa terbaik di muka bumi.

Bagi siapapun membaca Al-Qur’an, Allah mengajarkan kepada umat manusia untuk menjadi umat Superior. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Ali Imran, 03:110).

Mental superior selalu membicarakan rencana-rencana bukan hanya untuk dirinya dan kelompok, tetapi untuk umat manusia. Mental superior selalu mengambil langkah-langkah kecil untuk mewujudkan mimpi besarnya. Mental superior selalu bertekad kuat apa yang direncanakannya harus bisa diwujudkan.

Sebaliknya, mental ninferior dimiliki oleh orang yang selalu membaca rencana besar orang lain, dan tidak pernah punya rencana besar.  Mental inferior dimiliki oleh bangsa yang selalu membaca rencana besar bangsa-bangsa lain. Mental inferior selalu merasa dirinya menjadi objek dari rencana besar orang lain. Pembicaraannya selalu terkait rencana-rencana besar orang atau bangsa lain.

Mental inferior selalu merasa menjadi objek rencana besar orang atau bangsa lain, hingga hidupnya menjadi tidak tenang karena merasa dikendalikan, dibyang-bayangi, dan terancam oleh rencana-rencana besar orang atau bangsa lain. Mental inferior menjadi sebab sebuah bangsa tumbuh menjadi bangsa busa yang mudah terhempas karena terpaan air selokan.

Bangsa-bangsa inferior selalu menulis dalam sejarahnya bahwa penyebab penjajahan adalah adu domba yang dilakukan oleh bangsa superior. Sejarah bangsa ditulis untuk mengutuk dan menghujat bangsa-bangsa superior yang telah menjajahnya. Sementara bangsa Superior menulis sejarah untuk membangun kebanggaan pada generasi penerusnya sebagai bangsa untuk melanjutkan superioritasnya di muka bumi. Bangsa Inferior sibuk mencari-cari kesalahan dan kelemahan bangsa lain sebagai dasar untuk dihina, dibenci, dan dicaci maki. Sementara bangsa Superior sibuk mencari kelemahan-kelemahan bangsa inferior untuk dikuasai, diduduki, dan dikendalikan.

Jika Allah memerintahkan kita untuk menjadi bangsa Superior, mengapa kita tidak membicarakan rencana-rencana besar kita dan bangsa ini untuk menguasai dunia? Mengapa kita harus larut dengan rencana-rencana besar orang lain atau bangsa lain? Jika bangsa lain berencana menguasai dunia, bangs akita harus punya rencana besar untuk menguasai dunia. Sikap dan mentar superior sebagai Allah ajarkan harus terpelihara dan menjadi kolektif memori bangsa. Rencana besar bangsa untuk dunia harus jadi obrolan masyarakat di warung kopi, kendaraan umum, diskusi ilmiah, pengembangan teknologi, dan penelitian-penelitian.

Tanda mental inferior pembicaraannya hanya membaca ancaman-ancaman besar dari luar seperti ancaman dajjal, elit global, zionisme, dan iluminati.  Hasil dari pembicaraannya adalah kecewa, rasa takut, curiga, permusuhan, rasa tak berdaya, dan putus asa. Pembicaraan tentang ancaman dajjal, elit global, zionisme, iluminati, terus disebar luaskan melalui media informasi dan dibahas oleh orang-orang mulai tukang beca sampai ilmuwan dan agamawan. Berita-berita horor ini terus disebarluaskan sampai masuk alam bawah sadar sebuah bangsa, hingga pikiran manusia-manusia yang ada dalam bangsa itu menjadi tawanan dan tertekan hingga masuk menjadi bangsa bermental inferior. Inilah penjajahan mental secara halus terus-menerus terjadi pada manusia-manusia yang sudah kadung bermental inferior.

Saatnya kita tampil sebagai manusia, bangsa dengan rencana-rencana besar untuk kehidupan manusia di dunia. Di bawah bimbingan Tuhan Yang Esa, rencana besar itu adalah mempersatukan seluruh dunia untuk menyembah satu Tuhan yaitu Allah swt. Rencana besar ini pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan konsep Bhineka Tunggal Ika. Konsep Bhineka Tunggal Ika bukan hanya untuk kehidupan berbangsa bernegara dalam suatu wilayah bangsa, tetapi untuk mempersatukan kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Sumpah Palapa bukan untuk mempersatukan manusia dalam satu negara, tetapi untuk mempersatukan negara-negara di dunia. Inilah dasar historis dan religius rencana besar bangsa Indonesia yang harus jadi kolektif memori bangsa untuk menjadi bangsa Superior. Dimana ini harus diajarkan? Di sekolah.

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat”.  (Huud, 11:118). Inilah usaha mental yang harus kita bangun dari bangsa ini. Jika kita beriman kepada Allah, kita harus bermental Superior. Wallahu’alam.

Saturday, January 2, 2021

TIDAK DIIMANI PUN, HUKUM TUHAN PASTI TERJADI

 OLEH: MUHAMMAD PLATO

Banyak orang mengatakan, bagi yang percaya dan beriman, “jika kita berbuat baik maka akan berbalas kebaikan dan jika berbuat kejahatan maka akan berbalas kejahatan”.  Awam berpandangan bahwa terjadinya ketentuan hukum di atas jika kita percaya atau beriman kepada ketetapan hukum di atas. Dengan pandangan seperti ini banyak orang mengabaikan berlakunya ketetapan hukum ini.

Penulis perlu menjelaskan bahwa yang menetapkan hukum bahwa kebaikan berbalas kebaikan dan keburukan berbalas keburukan adalah Tuhan. Mungkin pembaca bertanya kepada saya, “dari mana Anda tahu bahwa itu hukum Tuhan? Anda kan tidak komunikasi dengan Tuhan dan Anda juga bukan Tuhan.

Jawaban saya adalah “saya mengetahui bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan dan keburukan akan dibalas keburukan dari kitab suci Al-Qur’an”. Kitab suci Al-Qur’an adalah firman Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.  Tuhan melalui Jibril telah berkomunikasi dengan Nabi Muhammad SAW menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai lisan Tuhan. Jadi seluruh isi Al-Qur’an adalah lisan Tuhan, ketetapan Tuhan, Takdir-takdir Tuhan, hukum-hukum Tuhan, pola-pola pikir atau logika Tuhan.  

Mungkin ada pertanyaan selanjutnya dari pemirsa, “dari mana  bisa tahu bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan?” Untuk membenarkan Al-Qur’an sebagai firman Tuhan dibutuhkan akal sehat yang tidak terkungkung oleh egoisme dan prasangka buruk karena pengaruh lingkungan. Untuk menguji apakah Al-Qur’an firman Tuhan, posisi nalar harus dalam posisi nol dalam arti tidak memiliki kepentingan apa-apa kecuali ingin membuktikan apakah Al-Qur’an firman Tuhan atau bukan.

Kebenaran Al-Qur’an dapat diuji melalui filsafat, ilmu-ilmu logika, ilmu alam, ilmu tumbuhan atau hewan, dan ilmu sosial. Seluruh ayat Al-Qur’an mengandung kebenaran nyata. Namun karena keterbatasan akal manusia, ada ayat ayat yang sudah terbukti dan ada ayat-ayat yang belum terbukti karena keterbatasan akal dan pengetahuan manusia. Seiring dengan waktu, dan keuletan manusia dalam memahami dan mengembangkan ilmu, ayat-ayat Al-Qur’an akan terus membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan.

Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an firman Tuhan adalah Al-Qur’an mampu mengabarkan informasi di masa lalu dan mengabarkan informasi di masa mendatang padahal Nabi Muhammad SAW penerima wahyu yang tidak hidup di masa lalu sesuai informasi yang diungkap Al-Qur’an dan dan tidak hidup di masa depan sebagaimana informasi yang disampaikan Al-Qur’an.

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pada usia 40 tahuan. Nabi Muhammad SAW lahir tahun 570 M. Jika pada usia 40 tahun Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, maka diperkirakan tahun itu adalah tahun 610 M. “Nabi Musa diperkirakan hidup tahun 1527 SM”. (https://manado.tribunnews.com). Ini berarti jarak antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah 2097 tahun. Dalam rentang waktu 2097-an tahun Nabi Muhammad SAW yang dikabarkan tidak bisa membaca dan menulis, bisa mengetahui kejadian 2097 tahun yang lalu dari wahyu AL-Qur’an. Pada saat itu belum ada arkeolog atau sejarawan yang bisa menghitung atau meneliti tentang kisah Nabi Musa yang hidup 2097 tahun yang lalu. Padahal informasi yang disampai di dalam Al-Qur’an termasuk detail karena menyangkut prilaku dan situasi batin Ibunya Nabi Musa.

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul.” (Al Qashash, 84:7).

Selanjutnya Einstein lahir 1879 M. Jarak antara Nabi Muhammad SAW dengan Eisntein adalah 1269 tahun.  Einstein dianggap orang pertama yang mempopulerkan tentang teori relativitas waktu. Artinya waktu bisa mengalami perbedaan tergantung pada ruang dan tempat yang kita tempati. Waktu di puncak gunung bergerak lebih cepat dibanding gerak waktu di lembah. Teori ini diketahui setelah 1269 tahun setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.

“Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Hajj, 22:47).

Jika kita gunakan akal sehat , Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Al-Qur’an yang isinya mengetahui informasi dua ribuan tahun yang lalu dan mengetahui ribuan tahun yang akan datang. Fakta ini bisa jadi bukti bahwa apa yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah wahyu dari Tuhan, dan Nabi Muhammad SAW sendiri adalah utusan Tuhan.

Tidak perlu banyak bukti untuk meyakini Al-Qur’an sebagai lisan Tuhan, karena sedikit demi sedikit apa yang dikabarkan dalam Al-Qur’an akan terbukti kebenarannya. Juga diyakini atau tidak, kebaikan sudah pasti dibalas kebaikan dan keburukan dibalas keburukan. Itulah ketetapan Tuhan yang pasti. Orang percaya mau tidak, tidak akan mengubah hukum itu terjadi. Orang beriman akan mengalami hukum ini, dan orang tidak beriman akan menerima hukum ini. Jika ada orang membantahnya dan tidak percaya itu logika Tuhan,  bagi penulis itu kabar gembira karena kelak yang tidak menerima kebenaran Tuhan akan mendapat hukuman setimpal. Wallahu’alam.