Monday, January 23, 2023

SEJARAH MANUSIA TERPELAJAR

Oleh: Muhammad Plato

Dikisahkan dalam Al Quran, manusia diciptakan sebagai pemimpin, dan Allah memerintahkan malaikat dan iblis taat pada pemimpin. Malaikat dan iblis adalah dua sifat pembentuk ruh manusia. Sebagaimana Allah jelaskan bahwa di dalam ruh manusia ada dua sifat, yaitu fujur dan taqwa. Fujur adalah sifat sombong, dan taqwa adalah ketundukkan pada perintah Allah. 

"dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (Asy Syams, 91:10). 

Para pemimpin adalah pemegang kekuasaan, dan kepada para penguasa mereka harus tunduk. Ilmu Allah telah diberikan kepada pemimpin. Para pemimpin diberi pengetahuan yang tampak dan yang tersembunyi. 

Pendidikan adalah upaya Adam menghidup sifat-sifat malaikat yang terpelajar

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al Baqarah, 2:34). 

Manusia tercipta dari tiga unsur yaitu Adam, Malaikat, dan Iblis. Adam adalah makhluk pembelajaran, diajari ilmu oleh Allah, dan diberi kedudukan sehingga malaikat dan iblis harus tunduk pada Adam. Kesempurnaan Adam karena punya dua sifat yaitu iblis yang mendorong hawa nafsu hingga terjadi pertumpahan darah, dan malaikat yang berilmu maka selalu taat pada Allah.  

Pertumpahan darah terjadi setiap hari dalam jiwa manusia. Pertumpahan darah dalam jiwa manusia terjadi antara iblis dan malaikat. Iblis senantiasa sombong, merasa diri lebih baik dari orang lain, dan merasa punya kekuasaan. Malaikat senantiasa lemah lembut, sabar, berserah diri tunduk dan patuh pada perintah Tuhan. 

Para pemimpin adalah Adam yang bisa mengendalikan iblis. Para pemimpin adalah Adam yang cenderung memiliki sifat-sifat malaikat yang selalu tunduk pada perintah Allah. Kekuatan ilmu para pemimpin adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang merusak, dan lebih cenderung pada ketundukkan pada Tuhan. 

Kepemimpinan akan tegak selama Adam menjaga kecedenderungan sifat-sifat malaikat ada dalam dirinya. Kepemimpinan akan dicabut ketika Adam cenderung pada sifat-sifat sombong, malas, merasa benar, otoriter, dan diskriminatif. 

Konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara adalah refresentasi dari konflik yang terjadi dalam jiwa Adam. Pemimpin-pemimpin yang membawa damai adalah Adam yang bisa mengendalikan sifat-sifat iblis dengan menghidupkan sifat-sifat malaikat yang pembelajar.

Rasulullah mengatakan, "perang yang besar adalah perang melawan hawa nafsu". Perang ini tidak berkesudahan karena perang ini selalu ada dalam diri Adam. "Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsu yang ada di antara lambungmu, anakmu yang keluar dari tulang rusukmu, istrimu yang kamu gauli, dan sesuatu yang kamu miliki (HR. Al Baihaqi).

Pendidikan adalah upaya sadar Adam untuk menghidupkan sifat-sifat malaikat yang terpelajar. Upaya pendidikan setiap saat adalah menghidupkan bakat pembelajar sepanjang hayat yang ada dalam jiwa Adam. Jiwa malaikat, ditandai dengan semangat pembelajar karena cinta ilmu pengetahuan, dan menghidupkan budaya membaca. Adam membutuhkan banyak pengetahuan untuk mengalahkan sifat-sfita iblis yang malas dan sombong. 

Saturday, January 21, 2023

LOGIKA TUHAN DAN LOGIKA ALAM

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Penjelasan kali ini, akan membantu para pembaca memahami perbedaan logika alam dengan logika Tuhan. Di lapangan banyak terjadi miskomunikasi, logika Tuhan disangkanya akan menjadikan manusia jadi Tuhan. Padahal pendapat itu hanya prasangka orang yang tidak memahami terminologi logika Tuhan. Logika Tuhan adalah produk pemikiran, sebuah karya intelektual dan ada penemunya. 

Oleh karena itu, orang tidak bisa memberi pandangan tentang logika Tuhan, tanpa mendengar penjelasan dari penemunya. Mereka yang menghakimi logika Tuhan tanpa mendengar penjelasan dari penemunya adalah perbuatan main hakim sendiri, yang akan berujung pada fitnah. 

Terminologi logika Tuhan adalah ilmu berpikir yang dilandasi oleh petunjuk Tuhan bersumber dari Al Quran. Berbicara logika Tuhan, bukan hanya bicara kemampuan bernalar yang harus dimiliki, tetapi harus punya kemampuan menjelaskan dari mana sumber pemikiran dikembangkan. Berpikir dengan logika Tuhan, bisa jadi terdapat kesamaan dengan orang yang berpikir dari logika alam. 

Di dalam Al Quran dijelaskan, alam adalah Al Quran. "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui" (Al An'aam, 6:97). 

Belajar berlogika dari alam hasilnya bisa sama dengan belajar logika dari Al Quran yang tertulis dalam kertas. Namun demikian dari sudut pandang sejarah, belajar logika dari alam informasinya didapat dengan penafsiran manusia dalam membahasakan apa yang terjadi di alam benda. Informasi yang dihasilkan sangat mengandalkan imajinasi tingkat tinggi, karena alam tidak bisa bicara seperti komunikasi manusia dengan manusia. Untuk menguji kebenaran hasil pemikiran di alam membutuhkan metodologi cukup panjang dan harus diuji berulang-ulang.   

Alam bisa berkomunikasi dengan manusia melalui simbol- simbol dan bunyi. Orang yang belajar logika dari alam seperti manusia purba yang belajar bertahan hidup tanpa tulisan. Kemampuan manusia purba yang tidak kenal tulisan hanya dibesarkan dengan belajar dari alam mengalami keterlambatan dalam berpikir. 

Bahasa alam dapat dipahami jika orang konsentrasi dalam jangka waktu lama melakukan penelitian. Bahasa alam berdasarkan teori komunikasi cenderung bersifat high context, bisa dipahami dan dijelaskan oleh orang-orang yang memang ahli berpikir. Untuk memahami logika alam, mereka harus punya kemampuan dan kapasitas sebagai ilmuwan tertentu. Filsuf-filsuf hadir sebagai ahli logika dari alam. Hasil pemikiran-pemikiran para filsuf bisa jadi pola pikir yang dikehendaki oleh Tuhan, bisa jadi pemikiran mereka berlebihan sehingga tidak dikehendaki Tuhan.

Memahami logika Tuhan, keunggulannya adalah orang-orang diajak mengenal paragraf, kalimat, kata, dan tanda baca, yang teruji dan diyakini dikabarkan langsung kepada manusia utusan Tuhan melalui bahasa yang dipahami manusia. Memahami kitab suci dalam kalimat, informasi lebih cepat dicerna, dibanding dengan bahasa alam. Kitab suci dalam kalimat dan kata, mengandung bahasa low context dan high context.  

Terminologi logika Tuhan adalah berpikir dengan petunjuk Tuhan

Ada orang berpendapat bahwa semua kebaikan sudah pasti dari Tuhan, pendapat itu tidak salah, tetapi dia harus membuktikan apakah perkataan itu dari Tuhan atau hanya dari pengalaman. Jika pendapat itu diklaim dari Tuhan, maka orang tersebut harus mampu memberikan sumber rujukan spesifik pada kitab suci Al Quran. Perbedaan mendasar dari orang yang berlogika Tuhan dan alam terletak pada sumber logika yang dikembangkan. 

Apabila terjadi perbedaan sudut pandang, dalam logika Tuhan tidak ada klaim kebenaran dari sebuah pemikiran. Perbedaan pemikiran akan jadi khazanah ilmu yang akan terus diuji dalam dialog tak berkesudahan. Al Quran yang disampaikan dalam kalimat dan kata, manusia bisa lebih cepat menangkap pesan-pesan dari Tuhan, dan alam menjadi sarana untuk pembuktikan dari apa-apa yang dijelaskan oleh Tuhan. Wallahu'alam.

TUHAN MU DAN TUHAN KU SAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Seorang guru agama di sekolah, berdiskusi lama tentang upaya meningkatkan pendidikan agama bagi para siswa. Disimpulkan bahwa pelajaran agama harus lebih banyak praktek dari pada teori. Praktek pelajaran agama yang harus banyak dilakukan adalah berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Di akhir diskusi, guru agama bercerita bahwa sahabatnya yang non muslim suka berdiskusi. Ada pertanyaan terlontar dari temannya yang non muslim, "apakah Tuhan di agama mu dengan Tuhan di agama ku berbeda atau sama? Jawaban dari guru agama adalah "sama, jika berbeda maka Tuhan akan bertengkar". Tuhan akan berebut kekuasaan dan antar umat beragama akan terjadi konflik.

Mendengar diskusi guru agama dengan sahabatnya yang non muslim, penulis jadi ingat pada bunyi ayat Al Qur'an. "Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang mereka sifatkan" (Al Anbiyaa', 21:22).

Penyebab konflik adalah terjadinya perbedaan tuhan yang disembah manusia. Hadirnya tuhan-tuhan yang berbeda adalah akibat dari persepsi manusia. Untuk itulah manusia butuh Nabi pembawa risalah kebenaran. Manusia butuh kitab suci yang teruji kebenarannya sebagai petunjuk hidup. 

Ilmu tauhid atau ilmu mengesakan Tuhan adalah ilmu yang akan membawa perdamaain dan persatuan antar umat beragama dan seluruh umat manusia di dunia. Inilah kiranya terminologi ilmu tauhid yang membumi. Islam dikenal sebagai agama tauhid, agama yang menjaga manusia untuk mengesakan Tuhan. Maka dari itu, agama Islam sebenarnya agama yang membawa pesan-pesan damai dan sejahtera untuk umat manusia dengan mengajak manusia tidak membeda-bedakan Tuhan yang disembah. Tuhan esa yaitu Tuhan Yang Ghaib, yang tidak dapat menyerupai atau diserupai, tidak berbentuk dan tidak berwujud, tetapi ada. 

"Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku" (Al Anbiyaa', 21:92).

Terlalu berisiko bagi kita semua jika menganggap ada tuhan-tuhan yang berbeda yang kita sembah, karena kita akan dianggap menduakan Tuhan. Sementara Tuhan maha pencemburu, karena tidak ingin diduakan. Ketika ada manusia sedang memperbincangkan tentang perbedaan Tuhan yang disembah, maka dia sedang berdebat dengan pikiran dan dibawa oleh hawa nafsunya sendiri. Wallahu'alam. 

Monday, January 2, 2023

HUBUNGAN MENDENGAR DENGAN KEKAFIRAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Mendengar adalah kompetensi dasar yang dimiliki manusia-manusia berkualitas tinggi. Budaya mendengar dikenal sebagai budaya orang Jepang. Di Jepang, anak-anak mereka diajari mendengar sejak usia dini. Hasilnya hingga dewasa budaya mendengar terpelihara dengan baik di masyarakat Jepang.

Dari hasil penelitian, "komunikasi efektif, menjadi permasalahan orang Indonesia. Mereka masih awam terhadap budaya komunikasi efektif dan kurang keterampilan mendengar dalam berkomunikasi, sehingga mengakibatkan mereka lebih banyak “berpendapat untuk mengemukakan masalah” daripada “berpendapat untuk memecahkan masalah” (Sari, 2016).

Budaya mendengar dibutuhkan oleh masyarakat, karena budaya mendengar menjadi awal dari terbentuknya masyarakat berperadaban. Mendengar saat musyawarah, rapat, webinar, seminar, workshop, kuliah, adalah kompetensi penting dimiliki. Dalam ilmu komunikasi mendengar adalah bagian penting jika ingin terjalin komunikasi baik. Kesepahaman antar kelompok akan terjadi jika kedua kelompok mau saling mendengar. Kegiatan mendengar akan menuntut orang berpikir karena dengan mendengar informasi diserap dan disimpan dalam otak, kemudian diolah menjadi pemikiran. Orang-orang yang rajin mendengar otaknya dinamis dan kreatif. 

  

Jika kita telusuri dari penjelasan Al Quran, ternyata mendengar berkaitan dengan keimanan dan kekafiran. Mendengar adalah kompetensi manusia berkualitas tinggi. Manusia-manusia yang mau mendengar dikategorikan sebagai orang-orang beriman, dan manusia yang tidak mendengar dikategorikan sebagai manusia kafir (tertutup dari kebenaran).

Secara psikologis, otak bisa menerima informasi karena mendengar. Melalui pendengaran informasi bisa masuk ke dalam memori di otak. Informasi itu kemudian diproses dan tersimpan. Pendengaran adalah pintu masuknya pengetahuan ke otak. Menjadi pendengar yang baik, adalah tindakan positif karena otak akan banyak menginput pengetahuan. Semakin banyak input pengetahuan ke otak, maka semakin tinggi kualitas pemikiran seseorang. 

Budaya mendengar merupakan budaya manusia berkelas tinggi, yang digambarkan oleh Allah di dalam Al Quran sebagai orang-orang beriman. Manusia-manusia pendengar termasuk orang-orang yang berkualitas tinggi, karena meniru sifat Allah yaitu maha mendengar. Dunia pendidikan merupakan upaya terencana agar manusia memiliki sifat-sifat dasar sebagai pembentuk karakter unggul. Melatih para siswa untuk membiasakan mendengar adalah kompetensi dasar dalam membentuk manusia-manusia unggul. 

Orang-orang yang tidak mau mendengar dikategorikan sebagai manusia kelas rendah. Manusia kafir dikatergorikan sebagai manusia yang tidak punya kompetensi mendengar dengan baik. Sedangkan manusia bertakwa adalah mereka yang mau mendengar dan mau memikirkan informasi yang diprolehnya. 

Kadang sering kita saksikan, ketika kita menjadi pendengar diuji, berapa lama kita bisa menjadi pendengar? Kalau hanya bertahan lima menit saja untuk mendengar, betapa rendahnya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang masuk ke dalam otak kita. Maka orang-orang yang tidak bisa bertahan lama untuk mendengar, otaknya akan kekurangan asupan pengetahuan. Orang yang tidak punya kompetensi mendengar, bukan seorang pembaca yang baik. Kualitas orang yang tidak punya kompetensi mendengar, dia akan terus mengalami penurunan kualitas mental dan bukan saja membahayakan dirinya sendiri tetapi membahayakan kehidupan orang lain. 

Tingginya budaya jujur, disiplin, teratur, dan kerja keras masyarakat Jepang, berbanding lurus dengan budaya mendengar yang dimiliki masyarakat Jepang. Karakter masyarakat berperadaban tinggi, memiliki kemampuan mendengar dalam waktu lama. Semakin lama kemampuan mendengar sebuah  masyarakat, semakin tinggi peradaban masyarakat tersebut. Demikian juga, semakin lama kemampuan mendengar seseorang, semakin tinggi kualitas intelektual seseorang.  

Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. (Albaqarah, 2:171).

Kebiasaan sebagai pendengar yang efektif akan menghasilkan beberapa hal yang positif, antara lain: Pendengar yang baik akan disukai orang lain karena mereka dapat memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk didengarkan. Kinerja atau prestasi kerja seseorang meningkat ketika pesan yang diterima tersebut dapat dimengerti dengan baik. Umpan balik (feedback) yang akurat dari bawahan (karyawan) akan berdampak positif pada prestasi kerjanya. (Sari, 2016).

Keterampilan mendengar jadi kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang konselor, pendidik, dan siswa. Konsoler dapat memanfaatkan kemampuan mendengarnya untuk meringankan stres yang dialami seseorang. Hasil riset menjelaskan orang-orang yang merasa stres mengalami penurunan tingkat stres karena curhatannya ada yang mendengarkan (Fitriana dan Rosyidi, 2021). 

Manajer dan karyawan akan terhindar dari munculnya kesalahpahaman dalam penyampaian suatu pesan. Pendengar yang baik akan dapat memisahkan mana fakta dan mana yang sekedar gosip. Pendengar yang baik memiliki kecenderungan membuka ide-ide baru dari pihak lain, sehingga hal ini mendorong berkembangnya kreativitas. Pendengar yang efektif juga akan dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik dan peningkatan kepuasan kerja. Kepuasan kerja meningkat karena mereka tahu apa yang terjadi, kapan mereka mendengar, dan kapan mereka berpartisipasi di dalamnya, tumbuh dari komunikasi yang baik (Sari, 2016). 

Kualitas mendengar terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu mendengar isi, kritis, dan empatik. Mendengar isi artinya memahami apa yang disampaikan orang lain. Mendengar kritis artinya menyimak secara logis, menilai kualitas argumen, validitas, kesimpulan yang dihasilkan, dll. Mendengar empatik, artinya aktivitas memahami karena menghargai terlepas dari perbedaan sudut pandangnya. Orang-orang yang tidak punya kompetensi mendengar Allah sebut sebagai orang-orang yang tidak mengerti, bodoh, dungu, atau kafir. Jangan-jangan kita kafir hanya karena gagal untuk mendengar.***



Sunday, January 1, 2023

PERSEPSI AGAMA DARI KELAS BAWAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Agama tidak lepas dari cara manusia mempersepsinya. Salah satu persepsi terhadap agama selalu dilihat dari penampilan penganutnya. Penganut agama Islam sering dipersepsi sebagai agama orang miskin. Persepsi ini dibangun karena sebagian besar penganut agama Islam ada di negara-negara miskin. Padahal semua penganut agama dari kelas ekonomi miskin sampai dengan kelas ekonomi kaya, mereka akan menampilkan dirinya sebagaimana mereka berada di kelasnya. Manusia kodratnya sangat terikat dengan geografi dan budaya dimana mereka tinggal. Ajaran agama digunakan sebagai cara manusia bertahan hidup berdasarkan kondisi geografi, sosial, dan budaya di mana mereka berada. 

Masyarakat Afrika dengan kondisi geografi di tanah gurun, dengan kondisi ekonomi terbatas, mereka akan tampil sesuai dengan kondisi realitas mereka.  Orang Afganistan yang tinggal di tengah gurun, mereka tampil dengan kesederhanaan infrastruktur dan kesederhanaan gaya hidup. Apapun agama yang dianut sebuah masyarakat akan tampil dipengaruhi oleh kondisi geografi, sosial, dan ekonomi mereka. 

Sebaliknya masyarakat yang menganut agama Islam di Selandia Baru, Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya, mereka akan tampil dengan pola hidup tertib, teratur, bersih, dan disiplin sesuai dengan geografi, sosial, dan budaya dimana mereka tinggal. Agama menjadi pedoman bagaimana mereka harus tinggal dengan kondisi geografi, sosial, dan budaya di mana mereka berada.

Dengan kemajuan teknologi informasi, pengetahuan tentang kondisi geografi, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat bisa kita saksikan dengan latar belakang agama berbeda-beda. Semua penganut agama mereka tampil sesuai dengan kondisi mereka masing-masing. Jadi cap penganut agama Islam cenderung miskin hanya sebatas persepsi manusia terhadap sekelompok penganut agama yang mereka saksikan secara kasat mata berada di daerah-daerah miskin. 

Persepsi agama Islam sebagai agama orang miskin adalah murni persepsi berdasar pandangan manusia berdasarkan fakta empiris. Hal ini disebabkan penganut agama Islam berada di daerah-daerah yang tergolong kondisi geografi, sosial, ekonomi dan budayanya miskin secara materi. Persepsi ini secara tidak sadar telah membentuk pola pikir mayoritas penganut agama Islam, persepsinya dibentuk dari sudut pandang orang-orang kalangan ekonomi lemah. Agama dipersepsi dari kalangan ekonomi lemah, lebih cenderung pada ilmu kebatinan, karena agama dijadikan alat untuk mempertahankan hidup dalam keterbatasan dan penderitaan hidup yang dialaminya. 

Sebaliknya jika agama Islam dipandang dari sudut orang-orang dengan kecukupan fasilitas hidup, mereka akan memandang agama sebagai cara mereka hidup bermanfaat bagi orang lain, disiplin, teratur, berpendidikan, dan berperadaban tinggi. Jadi, keberadaan agama bukan penghambat kemajuan, tapi agama sebagai alat bagi seseorang untuk survive dan beradaftasi dengan situasi dan kondisi di mana mereka tinggal. 

Persepsi seseorang sangat dipengaruhi oleh budaya dimana mereka tinggal. Penganut agama Islam di Arab, India, China, Israel, Indonesia, Singapura, Autralia, Amerika Serikat, Jepang, sescara sosiologis akan menampilkan budaya yang berbeda-beda. Orang Islam di Indonesia yang ada di ekonomi kelas atas, akan tampil dengan kelas ekonomi mereka sekalipun budaya-budayanya masih dipengaruhi oleh kebanyakan budaya masyarakat Indonesia yang dari kalangan ekonomi lemah. 

Sebaliknya, penganut agama Islam di Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, mereka tampil menjadi orang-orang intelek dengan disiplin tinggi karena pengaruh dari geografi dan dimana mereka tinggal. Muslim di Jepang mereka hidup dengan jujur, tertib, teratur, dan bersih. Muslim Jepang tampil sebagaimana budaya-budaya orang Jepang yang jujur, disiplin, dan dengan kualitas intelektual tinggi. 

Namun jika kita kaji ajaran agama Islam dari sumber teks tertulis dari Al Quran sesungguhnya ajaran agama Islam sangat berkualitas tinggi. Karakter orang Islam sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran adalah manusia-manusia berintelektual tinggi dan pembawa berkah bagi kehidupan dunia. Pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh orang Islam jika berpedoman pada Al Quran, mereka dapat digolongkan manusia-manusia berkualitas tinggi, tanpa melihat geografi, sosial, ekonomi, dan budaya dimana mereka tinggal. 

Pandangan-pandangan orang Islam yang berpedoman pada Al Quran selalu mengandung kebenaran, meyakinkan, dan argumentatif. Pemaksaan, penjajahan, tidak dibenarkan di dalam ajaran Islam. Penganut agama Islam dituntut untuk memberi penjelasan, pengajaran, dengan pendekatan-pendekatan argumentatif bersumber pada Al Quran. 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung" (At Taubah, 9:128-129). 

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Al Baqarah:212).

Orang-orang kafir adalah mereka yang menganggap ayat-ayat Al Quran sebagai cerita nenek moyang belaka. Sudah jelas bahwa pandangan-pandangan yang merendahkan agama Islam sebagai agama orang miskin, adalah pandangan dari kelas bawah yang menghina, tidak objektif, dan bersifat material. Wallaahu'alam.***


  

Tuesday, December 13, 2022

KEBENARAN BERPIKIR

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebenaran berpikir bukan pada pemikirannya tapi pada sumber pemikirannya. Berpikir ilmiah adalah kemampuan berargumen dengan fakta. Gelar ilmuwan diberikan pada mereka yang berhasil membuktikan hipotesis melalui pembuktian. Dalam proses pembuktian ilmuwan harus mengikuti prosedur baku yang disepakati. Kebenaran berpikir ilmiah tergantung pada kualitas fakta yang dijadikan dasar argumen.   

Jadi derajat kebenaran berpikir ilmiah sangat tergantung pada kualitas kebenaran fakta. Dengan demikian kebenaran berpikir ilmiah yang rasional sangat tergantung pada kualitas fakta yang digunakannya. Berpikir rasional adalah kemampuan akal menguji hubungan kohesi antara dua fakta yang dianggap saling berhubungan. Sumber kebenaran ilmiah yang biasa digunakan para ilmuwan adalah fakta yang ditemukan dari hasil penelitian. 

Metodologi penelitian adalah alat untuk penemuan fakta yang benar. Fakta yang yang benar sangat tergantung pada metode yang teruji, dan kejujuran para peneliti. Namun demikian karena metode yang digunakan dalam penelitian sangat beragam, maka ujung dari kebenaran fakta adalah terbukti dalam kenyataan dan rasional. Itulah ukuran dari apa yang dimaksud berpikir ilmiah. 

Jadi kualitas pemikiran sangat tergantung pada fakta yang ditafsir. Kebenaran tidak terletak pada hasil pemikirannya, tetapi pada validitas data yang ditafsirnya. Beruntung orang-orang yang beragama, karena memiliki fakta yang sudah dijamin kebenarannya. Fakta-fakta yang sudah dijamin kualitas kebenarannya adalah kitab suci yang diturunkan kepada para Nabi. 

Sumber kebenaran agama adalah kitab suci, bagi muslim sumber fakta yang sudah dijamin kebenarannya adalah Al Quran. Kitab suci Al Quran, beberapa ahli yang telah meneliti mengatakan masih terjaga keasliannya. Kitab suci Al Quran sangat dapat diandalkan, karena informasi yang dikandungnya mengandung kebenaran dimensi rasional, empiris, dan suprarasional. Al Quran juga dalam pembenarannya tidak memerlukan dukungan eksternal, karena Al Quran menjadi saksi bagi dirinya sendiri sebagai perkataan Allah. Berbagai temuan hukum-hukum di alam, telah banyak membuktikan bahwa apa yang diberitakan dalam Al Quran mengandung kebenaran di alam. Sehingga tidak diragukan Al Quran mengandung berita-berita benar tentang kehidupan setelah kematian. 

Dari sudut pandang ilmu berpikir, Al Quran adalah sumber atau pijakan untuk berpikir. Kebenaran berpikir terletak pada pijakan berpikirnya. Maka orang-orang yang berpikir dengan menggunakan pijakan berpikir pada Al Quran dia memiliki dua peluang. Pertama, kemungkinan pemikirannya salah. Kesalahan terjadi bisa karena pemikirannya bertentangan dengan ayat-ayat Al Quran lain, tidak diterima oleh pemikir lain, bertentangan dengan hadist. Kedua, kemungkinan pemikirannya benar. Beberapa kriteria pemikirannya benar bisa karena tidak bertentangan dengan ayat ayat lain dalam Al Quran, terdapat persamaan pendapat dengan pemikiran lain, tidak bertentangan dengan hadis, dsb. Inti dari ilmu berpikir adalah menjaga ketauhidan pemikiran seseorang. 

Namun demikian jika pemikiran seseorang bersumber pada Al Quran sebagai fakta yang benar, maka ketika pemikirannya salah dia masih dapat pahala satu dari Allah, dan jika pemikirannya benar maka dia dapat pahala dua dari Allah. Mengapa kesalahan berpikir dari Al Quran dapat pahala satu? Karena berpikir untuk memahami Al Quran dia sudah dalam posisi melaksanakan perintah Allah untuk berpikir. Lalu mengapa orang yang berpikir bersumber pada Al Quran dapat pahala dua? Karena dia telah melakukan dua kegiatan perintah Allah yaitu, membaca ayat-ayat Al Quran dan memikirkannya. Dua-duanya adalah perintah Allah.

Apakah bentuk pola pikir orang-orang yang menggunakan Al Quran sebagai sumber berpikir? Jika kita kaji secara utuh, pemikiran yang bersumber pada Al Qur'an meliputi dunia dimensi yaitu lahir dan batin. Orang yang sumber pemikirannya dari Al Quran dia tidak meninggalkan dunia, dia juga tidak akan mengabaikan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia dipandang linier dengan kehidupan akhirat sebagai gerak sejarah. Kehidupan akhirat tidak terpisahkan dengan dunia dalam pikirannya. Orang-orang yang dalam pikirannya ada alam akhirat, moralnya akan terjaga karena semua tindak-tanduknya di dunia akan jadi perhitungan di akhirat.

Kehidupan akhirat adalah akhir dari perjalanan sejarah, dan sangat ditentukan oleh kehidupan dunianya. Inilah keunggulan orang-orang yang berpikir bersumber pada Al Quran. Orang yang berpikir dengan sumber Al Quran tidak akan memutlakkan hasil pemikirannya sebagai kebenaran, karena tetap kebenaran mutlak miliknya Allah. Cara berpikir inilah yang akan membuat pemikir Al Quran rendah hati dan selalu membuka peluang perbedaan pemikiran. Pemikiran-pemikiran yang bersumber pada Al Quran dipandang sebagai upaya mendekati kebenaran dari Allah. Orang-orang yang berusaha dekat kepada Allah inilah yang akan mendapat keberuntungan. 

Orang yang berusaha dekat dengan Allah adalah mereka yang pikirannya menggunakan ayat-ayat Allah sehingga pikirannya selalu ingat Allah. "...maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (Al Anfaal, 8:45). Orang yang berpikir bersumber dari Al Quran ingatannya akan selalu terjaga ingat Allah. Wallahu'alam.***

Monday, December 12, 2022

MASUK SURGA KARENA LALAT

OLEH: MUHAMMAD PLATO

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Al Hajj, 22:73).

Segala sesuatu yang diminta pertolongan selain Allah adalah penyebab kelemahan manusia. Dia yang disembah selain Allah dan yang menyembah kepada selain Allah sama-sama makhluk lemah. Allah adalah kekuatan, dan manusia yang memohon pertolongan Allah adalah manusia yang memiliki kekuatan. Melatih dan mengajarkan peserta didik untuk membiasakan diri memohon pertolongan pada Allah setiap pagi adalah upaya dunia pendidikan untuk membangun manusia-manusia kuat berkarakter unggul. 

Manusia yang menyembah pada selain Allah kekuatannya lebih lemah dari seekor lalat. Ketika lalat hinggap di atas makanan kita, lalu lalat itu terbang sesunguhnya lalat sudah mengambil sebagian makanan kita. Jika disadari,  kita memang tidak berdaya mengambil kembali makanan yang telah diambil seekor lalat. Betapa lemahnya kita, kalah hanya dengan seekor lalat. Itulah perumpamaan bagi manusia yang memohon pertolongan kepada selain Allah. 

Ayat di atas bisa jadi menjadi dasar Nabi Muhammad memberikan sebuah logika perumpamaan dari cerita seekor lalat. Hadis riwayat Thariq bin Syihab, Nabi Muhammad pernah bersabda, "ada seorang lelai yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki yang masuk neraka gara-gara lalat". 

Mereka (para sahabat bertanya), "bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "ada dua orang lelaki yang melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, "berkorbanlah." Ia pun menjawab, "aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan"." Mereka mengatakan, "berkorbanlah, walaupun dengan seekor lalat." Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada orang yang satunya, "berkorbanlah." Ia menjawab, "tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah. "Akhirnya mereka pun memenggal lehernya. Karena itulah ia masuk surga. (Hadis Mauquf dikeluarkan oleh Ahmad dalam Az Zuhud dari Thoriq bin Syihab dari sahabat Salman Al Farisi).

Apa pesan di kisah lalat ini? Al Quran dan hadis berbicara tentang lalat. Bisa jadi inspirasi Nabi Muhammad membuat cerita lalat ini dengan menafsir dari Al Quran.

Jika kita analisis pesan dari Al Quran dan cerita Nabi Muhammad sangat dalam, berkaitan dengan menjaga keyakinan niat hati dan pikiran seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah memudahkan jalan orang untuk masuk neraka, dan Allah menyulitkan jalan seseorang untuk masuk surga. Bisa jadi jalan yang mudah di muka bumi ini, penyebab orang masuk neraka, dan bisa jadi jalan sulit yang dipilih orang adalah jalan menuju surga. Jalan sulit dan jalan mudah menuju surga tergantung kepada di atas tujuan orang melakukan sesuatu. Bisa jadi kematian seseorang adalah akhir jalan hidup dia masuk surga, bisa jadi keselamatan dari maut seseorang adalah jalan singkat menuju neraka. 

Pengorbanan seseorang yang bisa membuat dia masuk surga bukan diukur dari besar atau kecilnya pengorbanan. Demikian juga keselamatan seseorang tidak bisa diukur dari selamatnya dia dari kematian. Sesungguhnya penyelamat kehidupan seseorang adalah komitmennya dalam menjaga keimanan kepada satu Tuhan, yaitu Tuhan Yang Ghaib. Inilah pesan filosofis yang dalam dari perumpamaan seekor lalat. Hanya orang berakal yang bisa mengambil pelajaran dari cerita lalat ini.

Jangan meremehkan pekerjaan kecil dan jangan berbangga dengan pekerjaan besar. Jaminan surganya seseorang bukan dari seberapa besar pekerjaan yang orang lakukan, tapi seberapa lurus hati dan pikiran seseorang dalam menjaga iman tauhid orang kepada Allah. Untuk itulah orang Islam selalu meminta jalan yang lurus dalam setiap shalatnya. Wallahu'alam. 


 


Wednesday, November 30, 2022

MENDOAKAN PARA PEMIMPIN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Keberadaan pemimpin dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Ajaran Islam sangat menganjurkan adanya pemimpin. Pemimpin dijelaskan dalam Al Quran sebagai pemegang amanah untuk mengelola memakmurkan bumi. 

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad, 38:26).

Pemimpin adalah pemberi keputusan, untuk menciptakan keadilan. Kesejahteraan hidup manusia di muka bumi sangat berkaitan erat dengan kehadiran pemimpin yang adil. Pemimpin adalah sosok manusia berkualitas yang bisa membawa manusia pada jalan hidup sejahtera. Kehadiran pemimpin sangat vital dalam sebuah masyarakat. Kehancuran sebuah masyarakat dapat diidentifikasi dari eksistensi pemimpin. Dapat kita saksikan, negara yang tidak berhasil melahirkan seorang pemimpin, negara tersebut mengalami kehancuran dilanda kekacauan. 

Negara-negara di Timur Tengah terlihat mengalami kehancuran karena gagal hadirkan pemimpin. Perang saudara dan kerusakan sistem bernegara, membuat masyarakat hadapi krisis dan mengalami kemunduran. Kepemimpinan yang berdaulat menjadi kunci dari terciptanya negara berdaulat. Negara-negara yang sudah dianugerahi pemimpin berdaulat, adalah karunia Tuhan yang tidak ternilai harganya. 

Pola pikir religius, integralis, holistis, layak jadi paradigma berpikir masyarakat dunia

Demokrasi hanyalah cara bagaimana masyarakat melahirkan sebuah pemimpin berdaulat. Sistem demokrasi memang terbukti melahirkan pemimpin-pemimpin berdaulat. Keuntungan dari negara demokrasi adalah memberi ruang pada masyarakat untuk terlibat dalam suksesi kepemimpinan. Dengan sistem demokrasi, diharapkan setiap suksesi kepemimpinan berjalan dengan damai dan alamiah. Seiring dengan waktu, sistem pemerintahan demokrasi akan terus menggiring masyarakat menjadi masyarakat cerdas. Masyarakat cerdas akan melahirkan pemimpin yang cerdas. 

Di negara religius seperti Indonesia, masyarakat cerdas adalah mereka yang punya pola pikir religius. Pola pikir religius sebenarnya lebih cerdas dari pola pikir materialis dan liberal. Pola pikir religius tidak menapikan kehidupan material, dan tidak juga mengekang kebebasan. Pola pikir religius seperti pola pikir integralis, inklusif, dan holistis. 

Ideologi Pancasila menawarkan pada dunia sebuah pemikiran religius atau integralis dalam menghadapi era globalisasi. Demokrasi Pancasila adalah model demokrasi di dunia yang mengusung pola pikir religius sebagai model pengelolaan negara di tengah-tengah krisis pemikiran di awal abad 21. Agama yang semula dianggap sebagai penyebab kemandegan dalam berpikir, melalui pola pikir religius integralis dan holistis, agama bisa jadi sumber kedaulatan bangsa dan negara.

Indonesia sebagai negara religius, dalam perjalanan demokrasinya telah mengalami beberapa kali ujian. Namun berkat keyakinan masyarakat kepada Tuhan yang terjaga, Indonesia berhasil keluar dari berbagai krisis yang melanda. Dibalik kedaulatan rakyat Indonesia, ada invisible hand yang melindungi keutuhan bangsa Indonesia. Invisible hand adalah kakuasaan Tuhan yang ikut terlibat memberi kekuatan atas dasar keyakinan yang dianut masyarakat. 

Sekalipun bangsa Indonesia masih memperlihatkan berbagai kekurangan dalam berdemokrasi, tetapi seiring dengan waktu, Indonesia telah tumbuh menjadi negara kuat dengan kedaulatan rakyat yang berkeyakinan pada Tuhan. Keterlibatan Tuhan dalam mengelola negara, adalah kekuatan laten yang secara tidak sadar telah ikut terlibat memberi keselamatan dan kedamaian pada masyarakat Indonesia. 

Masyarakat Indonesia sekalipun sering dipersepsi oleh dunia sebagai negara kacau, namun harus diakui bangsa Indonesia terus tumbuh memperbaiki diri menuju masyarakat teratur, adil dan sejahtera. Doa-doa masyarakat Indonesia yang multi agama, telah menjadi kekuatan bangsa Indonesia tetap optimis untuk terus berusaha mewujudkan negara berdaulat dan sejahtera.

Ritual doa yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia adalah kekuatan intagible bangsa Indonesia. Doa adalah pikiran dan perasaan positif yang dapat menghadirkan optimisme masyarakat dalam bernegara. Masyarakat beragama adalah kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi situasi krisis di era global saat ini. 

Doa-doa terbaik masyarakat Indonesia untuk para pemimpin, akan terus menyeleksi para pemimpin di Indonesia tampil menjadi pemimpin-pemimpin kelas dunia. Doa-doa masyarakat Indonesia yang tidak pernah berhenti dan putus asa dilantunkan, akan menjatuhkan pemimpin-pemimpin yang tidak berkualitas dari pentas politik Indonesia. Doa-doa untuk para pemimpin yang dilantunkan bangsa Indonesia, akan terus menjaga bangsa Indonesia dari hadirnya pemimpin-pemimpin tidak berkualitas. 

Tangan Tuhan ikut terlibat dalam skenario kehidupan bangsa Indonesia dalam menjaga kualitas kepemimpinan. Kasus-kasus yang menimpa dan menjatuhkan kekuasaan para pemimpin, adalah skenario Tuhan dalam menjaga kualitas kepemimpinan di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa agama selalu hadir membawa dampak positif bagi kedaulatan sebuah bangsa. Tidak selayaknya lagi agama dihadapkan antagonis dengan kehidupan demokrasi. 

Agama di abad 21 ini, sudah saatnya dijadikan sebagai instrumen untuk membangun kedaulatan bangsa. Pola pikir religius, integralis, dan holistis, layak menjadi paradigma dunia dalam membangun kesejahteraan dunia. Para sejarawan telah mencatat bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak lepas dari keterlibatan agama didalamnya. Abad 21 bisa jadi abadnya agama terlibat kembali menjadi paradigma dalam mengelola negara, dengan persepsi agama yang inklusif, integralis, dan holistis.*** 


      

 


 


ALLAH MU BAPERAN, ALLAH KU PEMAAF

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Allah tidak bisa dipersepsi secara sempurna oleh pikiran manusia. Namun setiap manusia diberi kemampuan untuk mengenal Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Siapa Allah? Al Quran memperkenalkan banyak konsep untuk mengenal lebih dekat siapa Allah. 

Berdasarkan informasi dari Al Quran para pemikir muslim mengembangkan nama-nama yang diberi label sebagai sifat Allah. Sifat Allah pengasih, penyayang, pemberi, pemelihara, dan sifat-sifat lainnya diperkenalkan hingga 99 nama. 

“Tidak ada Tuhan Melainkan Allah. Dialah Allah yang memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang terbaik.” (QS. Thaha ayat 8).


Allah memperkenalkan dirinya dengan nama-nama terbaik. Asmaul Husna adalah patokan bagi orang-orang yang ingin mengenal Allah, maka Allah ingin dipersepsi dengan sifat-sifat yang baik. 

Allah sudah mengenalkan diri dengan nama-nama terbaik. Mana yang akan kita kenali dari sifat Allah? Setiap orang punya kebebasan untuk mengenal Allah dari sifat yang mana. Manusia sangat terbatas dengan ruang dan waktu, maka manusia akan mengenal Allah berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Orang yang sedang mengalami kesulitan, hatinya akan merasa senang ketika mengenal Allah sebagai sebagai pemberi kemudahan. Bagi orang berdosa hatinya akan merasa senang jika Allah maha pengampun. Namun ada orang yang fokus mengenal Allah dengan sifat-sifat baper. 

Allah tidak tergantung pada situasi dan kondisi. Allah bisa hadir dalam setiap aktivitas kehidupan manusia sesuai dengan apa yang manusia butuhkan. Allah bisa hadir sebagai teman, penyemangat, penyelamat, penjamin kehidupan, dan sebagainya. Maka dari itu manusia-manusia yang mengenal Allah akan menjadi manusia tangguh karena selalu optimis.

Manusia yang mempersepsi Allah dengan sifat baper akan jadi manusia-manusia baperan. Allah jadi baper jika dipsersepsi dengan sifat-sifat antagonis. Allah dipersepsi membalas hinaan, membalas tipu daya, membalas olok-olokkan, membalas dosa dengan balasan yang pedih, dsb. Persepsi antagonis pada Allah, menjadi sebab Allah di mata orang itu jadi Allah yang sensitif, mudah tersinggung, ekslusif, dan kaku. Allah yang dipersepsi baper, bisa jadi sebab lahirnya manusia-manusia yang tidak toleran, ektrim, dan main hakim sendiri.   

Allah pengendali sifat manusia. Bagaimana cara orang mempersepsi Allah, maka akan menjadi karakter orang tersebut. Jika Allah dipersepsi dari sifat-sifat yang lembut, pemurah, pemelihara, pengampun, maka karakter orang akan jadi seperti mereka mempersepsi sifat-sifat Allah. Sebaliknya jika Allah terlalu dipersepsi orang dengan sifat baper, maka orang itu akan jadi baperan, mudah tersinggung dan sulit bergaul.***

Sunday, November 20, 2022

BEDAH AKAL ORANG BERAGAMA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Belum tentu orang beragama, isi akalnya beragama. Dalam sebuah riwayat mengatakan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk memeriksa akalnya, ketika para sahabat membicarakan orang-orang saleh hanya melihat dari aktivitas fisik. Ada indikasi bahwa aktivitas fisik bisa jadi tidak merepresentasikan dari aktivitas akalnya. 

Nilai dari sebuah aktivitas adalah tujuannya. Aktivitas akal bisa terbagi menjadi dua tujuan. Ada aktivitas akal untuk tujuan fisik, material, dunia, dan ada juga aktivitas akal untuk tujuan ketaatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang mendasari Nabi Muhammad memerintahkan memeriksa akal orang, sekalipun aktivitas fisiknya sudah memperlihatkan prilaku-prilaku baik. 

Tujuan akal dalam beraktivitas diketahui sangat personal. Allah mengadili isi tujuan dari akal setiap orang, bukan aktivitas fisiknya. Sangat mungkin terjadi ada orang beraktivitas fisik menebar kebaikan untuk sesama manusia, tetapi akalnya tidak bertujuan atas dasar taat pada Tuhan. Dapat disimpulkan prilaku ini dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Masuk akal jika kelak di hadapan Tuhan, orang-orang ini tidak mendapat kebaikan atas apa-apa yang dikerjakannya.

Memeriksa tujuan sebagai aktivitas akal tidak dapat dinilai langsung oleh orang lain. Memeriksa tujuan akal dalam beraktivitas adalah aktivitas refleksi diri tiap orang. Orang yang taat pada Tuhan, akan selalu menjaga tujuan aktivitas akalnya sebagai wujud ketaatan pada Tuhan. Tujuan akal dalam beraktivitas berdasarkan isi pengetahuan yang ada dalam akalnya. 

Al Quran sebagai kitab pengetahuan, berisi pengetahuan dari Allah tentang petunjuk-petunjuk. Isi Al Quran berupa pengetahuan tertulis yang mengandung konsep berupa, subjek, objek, predikat, keterangan, masa lalu, masa depan, perintah dan larangan, yang jika dibaca akan mengisi akal seseorang. Semua karakter manusia sudah tertulis di dalam Al Quran. Kadang terjadi pergeseran, otak orang beragama bukan lagi berisi pengetahuan hasil analisis dari Al Quran, tapi berisi pengetahuan Al Quran yang bermuatan kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, kekuasaan, dan sebagainya. 

Hemat penulis, pengajaran agama adalah membebaskan manusia dari segala keterikatan terhadap selain Allah. Orang beragama terbebas dari kepentingan seseorang, keturunan, kelompok, dan apapun yang dapat menyimpangkan ketergantungan, kecuali kepada Allah. Kebersamaan hanya terjadi karena sama-sama taat kepada Allah yang hanya diketahui antara pribadinya dengan Allah. Ketaatannya kepada Allah senantiasa berusaha hidup dalam harmoni kemanusiaan yang tidak saling menghujat, mencela, dan menjatuhkan. 

Akal orang beragama berisi kemerdekaan karena sangat tergantung pada Allah. Jika orang-orang beragama berpecah belah, saling menghujat, saling mengkafirkan, dan menjadi biang kerok permusuhan, bisa jadi isi akalnya bukan berisi ketaatan kepada Allah, tapi kepada manusia atau kelompoknya. 

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka". (Al Mukminun, 23:53). 

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (Al Qashash, 28:4). 

Fir'aun adalah orang-orang. Mereka menghidupkan perempuan melebihi kodratnya sebagai perempuan. Mereka menjungkirbalikkan kodrat manusia hingga manusia terjerumus pada jurang kebinasaan. Fir'aun adalah karakter manusia yang isi akalnya dipenuhi dengan pengetahuan hasil dari pemikiran sekehendaknya. Mereka tidak memiliki akal yang punya ketundukkan kepada pengetahuan-pengetahuan yang diberikan Tuhan.***


Monday, November 14, 2022

MENGHINA NABI URUSANNYA DENGAN ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Islam melarang manusia meleceh sesama manusia, apa lagi melecehkan nabi Nya. Ketika manusia melecehkan manusia lain sesungguhnya dia melecehkan sang Pencipta. Baru-baru ini beredar komedian menampilkan sosok yang menyudutkan kelompok yang mengarah pada identitas etnis dan agama tertentu.  Komedian di dampingi boneka ciptaannya, dengan aksesoris negatif tentang kelompok dan agama tertentu. Nampak sang komedian berhasil menghibut penonton dengan gelak tawa, namun di luar sana ada sekelompok etnis, dan agama yang sedang disudutkan. 

Komedian dan para penonton sebagian besar dari kelompok masyarakat yang getol menyuarakan anti pelecehan, anti intoleran, dan sangat menghargai perbedaan. Namun mereka tidak sadar bahwa boneka, nama boneka, dan identitas boneka, mengerucut pelecehan pada satu kelompok masyarakat. Tertawa mereka adalah hiburan, namun mereka tidak sadar bahwa tertawa mereka adalah pelecehan pada sebuah bangsa yang identitik dengan masyarakat penganut agama yang taat.

Bangsa itu sangat menghargai kebebasan berekspresi, namun mereka tidak berhasil memahami bahwa kebebasan ekspresi yang dijaganya bisa jadi bumerang bagi bangsanya sendiri. Dari kehidupan dunia, diakuii bangsa mereka sudah mapan. Ilmu dan teknologi berhasil mereka kembangkan. Namun kemegahan dan kekayaan dunia telah melumpuhkan hati mereka untuk mengidentifikasi kehadiran Tuhan dalam seluruh relung kehidupan. 

Urusan kita dengan Allah, bagaimana kita hidup tidak menghina Orang

Sayang, komedi yang mereka ciptakan dengan dalil kebebasan berekspresi tidak berhasil membuat mereka jadi bangsa beradab. Komedi yang mereka ciptakan berhasil menggeneralisir etnis, agama, dan nabi yang dihormati di kelompok masyarakat tertentu dilcecehkan. Jika saja melecehkan etnis, agama, dianggap melecehkan Tuhan, apalagi mengarah pada pelecehan nama seorang nabi. 

Terimakasih Tuhan, agama dan nabi yang diyakini sebagai agama paling rasional, dan nabi yang paling fenomenal di dunia telah diperkenalkan melalui berbagai macam cara. Di timur nabi ini dikenal sebagai pembawa perubahan peradaban masyarakat, sebaliknya di barat nabi ini dipopulerkan dengan cara-cara keji dan kejam. 

Hampir 1400 tahun nabi ini dikampanyekan negatif oleh belahan barat, dan di belahan timur dikampanyekan positif. Umat manusia di seluruh dunia menyaksikan, bahwa upaya-upaya manusia tidak akan mengubah yang baik jadi buruk, sebaliknya yang buruk jadi baik. Pemilik skenario kehidupan manusia di bumi ini bukan para kapitalis bukan juga para spiritualis. Skenario kehidupan manusia di bumi ini mutlak milik Tuhan. 

Penulis mengingatkan pada seluruh umat manusia di belahan bumi manapun, menghina agama dan melecehkan nabi bukan sedang berurusan dengan umat manusia. Mereka yang melecehkan agama dan nabi, dia sedang berurusan dengan Tuhan pemilik skenario kehidupan. Manusia tidak mampu melenyapkan keburukan dan kebaikan di muka bumi ini. Namun manusia-manusia yang sedang berusaha mematikan kebaikan, dia sedang menghidupkan keburukan untuk dirinya sendiri. 

Skenario Allah akan tetap berjalan, di sadari atau tidak disadari. Dikabarkan di dalam Al Quran mereka yang menertawakan kebaikan, pada suatu saat akan jadi bahan tertawaan. 

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman". (Al Mutaffifiin, 83:29). "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir," (Al Mutaffifiin, 83:34). 

Apa yang dilakukan manusia di muka bumi ini, telah dituliskan Tuhan dalam catatan Nya. Apa yang telah ditetapkan Tuhan itulah yang akan kelak terjadi. Bagi manusia yang yakin mendapati kebenaran dari Tuhan, seluruh kejadian menjadi harapan baik dikehidupan yang akan datang. Pada saat mereka menertawakan kebenaran dari Tuhan dengan senang, sebenarnya kami juga menertawakan mereka karena mengetahui apa yang terjadi di masa depan.  

Sebagai umat beragama, kita tidak diajarkan Tuhan untuk mengutuk manusia. Umat beragama diajarkan untuk mendoakan seluruh umat manusia bisa hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Mereka yang menentang kebenaran dari Tuhan, tidak sedang berperang dengan sekelompok manusia. Dia sedang menentang kehendak Tuhan Yang Esa. Bagi kami, para penentang kebenaran agama adalah manusia-manusia yang kelak bisa jadi orang-orang yang dicintai Tuhan. Tidak ada sedikit kekhawatiran bagi umat beragama karena semuanya sudah diberi tahu Tuhan, apa kelak yang akan terjadi. Semoga para penentang Tuhan, kelak menjadi orang-orang yang dicintai Tuhan***


 

Wednesday, November 9, 2022

MAKNA USAHA DAN KERJA DALAM AL QURAN

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setiap manusia dilahirkan untuk usaha dan bekerja. Konsep usaha dan bekerja di dalam Al Quran tertulis dua hal yang berbeda. Allah akan membalas setiap usaha dan kerja manusia. Apakah perbedaan usaha dan kerja. Dua konsep ini, penting untuk kita pahami agar kita punya pedoman apa yang harus dilakukan apabila kita disuruh usaha dan kerja. 

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan (Al Baqarah, 2: 141).

Usaha dan kerja dua hal yang berbeda. Usaha adalah upaya manusia mencari ide atau gagasan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Usaha berkaitan dengan membaca, mencari ide-ide yang berpeluang untuk menyelesaikan masalah. Untuk itulah ayat pertama turun adalah perintah membaca. Perintah membaca memiliki makna agar manusia selalu kreatif mencari ide atau gagasan dalam menghadapi segala tantangan hidup yang dialaminya.  

Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif dalam menggali pengetahuan. Maka Allah mengabarkan bahwa Dia tidak membebani suatu kaum, dan dia harus berusaha atau kreatif mencari peluang-peluang yang memungkinkan mereka untuk melakukan perintah Tuhan. Usaha adalah kegiatan ruh yang memiliki sifat kreatif dan membutuhkan asupan pengetahuan. Membaca adalah kegiatan ruhani manusia yang wajib dilakukan. Tanpa kemampuan membaca ruh akan kehilangan daya kreatif. Literasi dalam dunia pendidikan menjadi kompetensi dasar yang harus selalu diajarkan dalam setiap level pendidikan. 

Kerja adalah segala perbuatan manusia yang berwujud fisik. Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap apa yang dikerjakan manusia. Sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang sesuai dengan apa yang mereka usahakan dengan niat baik. Allah akan meminta pertanggungjawaban pada setiap pekerjaan bukan pada tindakannya tetapi pada niat yang diusahakannya. Hal ini sesuai dengan bunyi hadis Rasulullah bahwa kelak manusia akan dibangkitkan dengan niat-niat yang diusahakannya. 

Jika usaha adalah sebuah kegiatan berpikir kreatif, maka kerja adalah keberanian untuk melakukan. Orang-orang yang tidak punya keberanian adalah mereka yang tidak punya kemampuan usaha atau berpikir kreatif menemukan peluang dalam hidupnya. Para penakut adalah mereka yang tidak suka membaca, kekurangan pengetahuan, dan tidak punya kemampuan berpikir kreatif. Allah memberi rahmat kepada mereka yang selalu berusaha dengan tidak meminta pertanggungan jawab pada kegiatan usaha. Rasulullah bersabda, "setiap usaha benar dinilai satu, dan usaha salah tidak dinilai". Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif merupakan kegiatan akal. 

Usaha adalah kegiatan berpikir kreatif mencari peluang yang akan jadi niat-niat seseorang untuk melakukan sesuatu. Niat selalu mendahului apa yang dikerjakan manusia.

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa  berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahiih mereka] Referensi : https://almanhaj.or.id/12399-niat-untuk-berbuat-baik-mendapat-pahala-2.html

Maka, Allah memerintahkan kepada manusia berulang-ulang untuk berpikir, karena berpikir adalah kegiatan akal yang bernilai baik dan diampuni Allah jika ada kesalahan. Artinya Allah sangat mendorong manusia untuk berusaha berpikir kreatif, mencari ide atau gagasan sebagaimana Allah pada banyak ayat memerintahkan agar manusia selalu berpikir. 

Usaha atau kegiatan berpikir yang baik adalah usaha yang selalu berusaha mencari jalan untuk menuju kepada hal-hal baik. Adapun kesalahan dalam usaha atau berpikir, selama tidak berwujud menjadi sebuah tindakan fisik, Allah tidak menghitungnya sebagai kesalahan tetapi tetap sebagai kebaikan. Hal ini menandakan betapa Allah sangat mendorong manusia untuk selalu berusaha atau berpikir, membaca, mencari ide, kreatif, di dalam menjalani dan menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya.  

Pesan untuk dunia pendidikan, mengajarkan keterampilan berpikir merupakan kompetensi dasar yang sangat dianjurkan, dan selaras dengan pengajaran Allah dalam Al Qur'an. Pada pendidikan, pengajar harus terus berusaha mencari cara, metode, pendekatan dalam pengajaran, untuk melatih kemampuan berpikir siswa dengan berbagai cara. Wallahu'alam

KEKUATAN RELIGIUS BANGSA INDONESIA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Kebesaran bangsa Indonesia bukan hanya di jumlah manusia, tetapi dari ideologi yang memadukan antara kehidupan religius dengan duniawi. Ideologi Pancasila adalah berkah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Lima sila dari dasar negara yang berbeda dari ideologi di dunia adalah menjadikan sila ketuhanan yang maha esa sebagai dasar leterlek sebagai cara hidup bangsa Indonesia. Keanekaragaman etnis, budaya, dan agama menjadi harmoni dalam kehidupan bangsa Indonesia. 

Dalam sejarah bangsa Indonesia, mereka sudah mengalami berbagai macam ujian hidup yang panjang. Penjajahan ratusan tahun, masa revolusi kemerdekaan, tragedi 30 September 1965, dan krisis multidimensi tahun 1998. Religiusitas telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran. Pada tahun 1998 banyak pengamat politik memprediksi Indonesia akan hilang dari peta mengalami nasib yang sama seperti USSR. Fakta-fakta keselamatan bangsa Indonesia dari krisis merupakan berkah dari Tuhan karena bangsa Indonesia pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bangsa Indonesia terlahir sebagai berkah dari rahmat Tuhan Yang Maha Esa. 

Atas Berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Terlahir Indonesia Merdeka

Cepat atau lambat sejarah akan berulang, religiusitas bangsa Indonesia akan terus mengalami ujian dan membuat bangsa Indonesia tampil menjadi kekuatan dunia. Negara-negara dengan yang hanya mengadalkan kekuatan materi, sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. Humanisme yang menjadi sandaran berpikir tidak mampu memprediksi akan seperti apa yang terjadi di masa mendatang. Seperti kata Fritjop Capra, siklus dunia secara alamiah akan terjadi. Pola pikir yang cenderung mengandalkan kekuatan hukum-hukum alam, akan digantikan dengan pola pikir idealistik. Pemikiran religius yang menggabungkan pengetahuan intuitif dengan rasional. 

Pola pikir ajaran Islam di dalam Al Quran, tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia yang sejahtera dan kehidupan akhirat sejahtera menjadi satu tujuan yang tidak terpisahkan. Kegagalan di dunia, bagi bangsa Indonesia tidak jadi alasan untuk berputus asa, karena ada harapan kedua yang tetap harus dicapai yaitu kehidupan sejahtera di akhirat. Bangsa Indonesia memiliki harapan dinamis seperti yang dijelaskan Erich Fromm. Inilah kekuatan bangsa Indonesia yang tidak akan terkalahkan.   

Religiusitas adalah bukti keunggulan bangsa Indonesia. Bangsa religius indentik dengan bangsa yang punya ikatan kuat dengan Tuhan. Religius dalam agama Islam adalah kelompok masyarakat yang percaya, tunduk, dan patuh, kepada Tuhan Yang Esa. Ketundukkan dan kepatuhan kepada Tuhan tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat ekslusif, tetapi masyarakat yang bercita-cita menjadi pemberi berkah dan penjaga perdamaian dunia. Pandangan-pandangan bangsa religiusitas mendorong mansyarakat menjadi ekslusif adalah bukti dari ketidaktuntasan manusia dalam membaca dan memahami ajaran-ajaran agama Islam dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad. 

Di abad teknologi informasi semua orang di dunia bisa belajar dari bangsa Indonesia. Agama yang sering difitnah sebagai buah kemandegan berpikir, ternyata bukan karena ajaran agamanya, tetapi karena keterbatasan manusia dalam memahaminya. Agama Islam yang sering dikampanyekan oleh kelompok tertentu sebagai agama intoleran adalah kesalahpahaman. Ajaran agama Islam sangat inklusif dan melindungi hak-hak hidup seluruh umat manusia. 

Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad merupakan sumber primer dari ajaran Islam. Micahael H. Hart, mengidentifiksi dari 100 tokoh berpengaruh di dunia, nomor satu adalah Nabi Muhammad. Tokoh Nabi Muhammad sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran adalah manusia yang layak jadi contoh teladan umat manusia. Nabi Muhammad menjadi sosok multitalenta, beliau bukan hanya pemimpin dalam urusan agama, tetapi pemimpin dalam kehidupan dunia. Salah satu keagungan Nabi Muhammad yang wajib dicontoh oleh seluruh umat manusia adalah kemampuannya dalam bersabar dengan membalas keburukan dengan kebaikan. 

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)" (Ar'rad, 13:22). 

Nasionalisme bangsa Indonesia yang dilandasi dengan pola pikir idealistik, nasionalisme dengan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang menyembah dan berharap kepada Nya. Nasionalisme bangsa Indonesia adalah harga mati dengan komitmen keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa. Pola pikir religius menjadi kolektif memori bangsa Indonesia. Bangsa-bangsa manapun yang berhadan dengan bangsa Indonesia mereka akan berhadapan dengan manusia-manusia yang selalu optimis berharap pada Tuhan Pelindung Bangsa Indonesia. Faktanya sudah teruji dan dapat dibuktikan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia yang tidak pernah menyerah untuk menjadi negara merdeka dan berdaulat.***