Wednesday, June 12, 2019

PESAN DARI HATI GUBERNUR


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menyaksikan diskusi Gubernur Jawa Barat degan Ustad Rahmat Baequni di akun youtube Atalia Kamil publikasi tanggal 10 juni 2019, berjalan dengan beberapa audien yang tidak mengikuti etika musyawarah. Musyawarah adalah forum adu argumentasi logis, adu data, fakta, berteori, berdalil, dan menafsir, bukan teriakan-teriakan seperti nonton sepak bola atau demontrasi. Musyawarah perlu suasana tenang, agar bisa konsentrasi dan menyimak paparan pembicara. setelah itu, audien memahami, menerapkan, menaganalisis, mensintesa, dan menilai pengetahuan yang diterimanya, selanjutnya memutuskan. Apakah mau jadi orang baik atau tetap berburuk sangka? 

Saya mengamati, apa yang dilakukan Ustad Baequni murni adalah menafsir bentuk bangunan masjid, dan menghubungkan dengan dalil-dalil tentang akan munculnya dajjal. Sebatas ini apa yang dilakukan Ustad tidak mengundang permasalahan, namun ketika tafsir ini mengundang reaksi berupa cemoohan, ejekan, dan fitnah, dan merendahkan kepada orang dibalik perancang masjid, inilah prilaku yang bertentangan dengan agama.

Setelah mengamati penjelasan Gubernur Ridwan Kamil, menjadi jelas bahwa bentuk bangunan masjid tidak ada ketentuan khusus dalam penggunaan bidang. Lingkaran, segitiga, bujursangkar, persegi panjang, jajaran genjang, travesium, limas adalah kenyataan alam. Semua masjid ternyata memiliki unsur-unsur bidang tersebut, dan menjadi jelas bahwa kita tidak bisa konsisten mengatakan satu bidang milik kelompok kelompok tertentu.

"Sebuah keberuntungan bagi para ibu kandung, ketika anak-anaknya dihujat dan direndahkan, karena penderitaan ibu kandung adalah kedudukan tinggi anak-anaknya dihadapan Allah". (Muhammad Plato)
Kesimpulannya, tafsiran Ustad Baequni tentang Dajjal adalah peringatan kepada umat untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan, untuk hidup lebih baik berada di jalan Tuhan. Penjelasan Gubernur Ridwal Kamil mengajarkan agar umat Islam berpengetahuan luas, agar niat baik tidak dikotori dengan prilaku buruk. Menghina, mencemooh, merendahkan, adalah prilaku sangat dilarang dalam agama, apalagi dilakukan kepada seorang pemimpin.

Namun dalam diskusi itu ada pesan mendalam dari hati Gubernur Ridwan Kamil, pertama; resiko terberat seorang pemimpin harus kuat menerima hujatan dan fitnahan yang tidak akan pernah ada hentinya. Pesan ini beliau sampaikan dengan bersumpah dan menghadirkan Ibu kandung dalam diskusi tersebut. Tindak tanduk seorang pemimpin tidak lepas dari tafsir masyarakat, yang kadang lebih cepat beredar tafsir negatif.

Kedua; kehadiran ibu kandung dalam diskusi adalah pesan mendalam dari hati Gubernur Ridwan Kamil kepada masyarakat, ketika seorang manusia dihujat dan direndahkan, kita harus merasakan apa yang dirasakan oleh ibu-ibu yang mengandung dan melahirkannya. Kehadiran ibu kandung Gubernur dalam diskusi sesungguhnya Beliau ingin mengingatkan bahwa ibu-ibu kandung kita menginginkan anak-anaknya hidup sejarahtera, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan jadi manusia-manusia penghujat yang menentang ajaran agama.

Sebenarnya sebuah keberuntungan bagi para ibu kandung, ketika anak-anaknya dihujat dan direndahkan, karena penderitaan ibu kandung adalah kedudukan tinggi anak-anaknya dihadapan Allah. Sebaliknya sebuah kerugian besar bagi ibu kandung, ketika anak-anaknya jadi penghujat dan pencemooh, sebab penderitaan ibu kandung melihat anaknya jadi pencemooh adalah kedudukan rendah anak-anaknya dihadapan Allah.

“Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”. (At Tahrim, 66:7). Niat adalah prilaku yang melandasi setiap tindakan. Hadis menjelaskan, niat baik sudah terhitung satu kebaikan, dan niat buruk tidak dihitung keburuhkan sebalum dilakukan. Gubernur Ridwan Kamil sudah menjelaskan tidak ada niat untuk hal-hal buruk dalam setiap bangunan masjid yang Beliau rancang. Semuanya diniatkan untuk kebaikan.

Saya pikir, dari kejadian ini semua orang harus banyak membaca agar berwawasan luas apa lagi umat Islam. Setiap manusia dibekali dengan kemampuan untuk menafsir setiap benda atau kejadian. Saya ingatkan kembali, ilmu dasar menafsir adalah tafsirlah semua benda dan kejadian dengan positif, jika tafsir itu negatif cari efek positifnya. Alam raya diciptakan Allah dengan kebaikan, maka semua benda dan kejadian harus jadi kebaikan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)  

Saturday, June 8, 2019

MENGHIDUPKAN PIKIRAN


OLEH: MUHAMMAD PLATO

“supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (pikirannya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir.” (Yasin, 36:70)

Berpola pikir akhirat dengan berpola pikir duniawi memiliki perbedaan signifikan. Dari dulu hingga sekarang, pola pikir manusia hanya berkutat pada dua kemungkinan, yaitu berpola pikir dengan keterikatan duniawi dan berpola pikir keterikatan akhirat. Penulis coba jelaskan beberapa karakteristik dari kedua pola pikir tersebut.

Pertama, orang berpola pikir duniawi menganut keyakinan Atheis atau Agnostik. Ciri khas mereka adalah menghilangkan pola pikir akhirat. Menghilangkan pola pikir akhirat, sama dengan menghilangkan kemutlakkan dalam berpikir. Sifat dari pola pikir duniawi adalah relatif, tidak punya ketentuan pasti dan pesimis.

Kedua, dalam pola pikir duniawi, kejadian baik tidak selalu berakibat baik, sebaliknya kejadian buruk tidak selalu berakibat buruk. Dari sudut pandang duniawi, orang-orang jujur bisa masuk penjara, dan orang-orang jahat bisa masuk istana. Jadi cara baik dan buruk bisa dilakukan untuk mencapai tujuan, tanpa ikatan moral ketuhanan.

Ketiga, pola pikir duniawi, melihat sebab kejadian berada diluar dirinya dan bersifat material. Kejadian buruk penyebabnya sangat tergantung pada benda-benda (manusia) yang ada disekelilingnya. Maka, berprasangka buruk adalah karakter pola pikir duniawi.

Keempat, pola pikir duniawi melihat dunia sebagai benda-benda terpisah. Perbedaan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Berkuasa dalam pola pikir duniawi adalah mendominasi dan mengendalikan dengan kekuatan fisik. 

"Sesunguhnya orang-orang yang tidak meyakini adanya akhirat, dia telah mematikan pikirannya". (Muhammad Plato)
Selanjutnya, pola pikir akhirat ditandai dengan berlakunya kemutlakkan, kebaikkan akan berdampak kebaikan yang lebih baik untuk pelakunya. Ada beberapa ciri yang bisa kita amati dalam berpola pikir akhirat.

Pertama; Dalam pola pikir akhirat, orang-orang yang masuk penjara (menderita) sudah pasti dengan ketidakjujurannya, dan mereka yang masuk istana (bahagia) pasti memiliki kemuliaan. Pengetahuan ketidakjujuran yang masuk penjara, dan kemulian yang masuk Istana bukan diukur dari penglihatan manusia, tapi dari ketentuan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti.

Kedua; Kemutlakkan dalam pola pikir akhirat, dapat membantu manusia tetap optimis, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Pilihan hidup dalam pola pikir akhirat yaitu antara baik dan lebih baik. Kesabaran bagi orang-orang yang berpola pikir akhirat adalah berbuat konsisten dalam kebaikan.

Ketiga; Pola pikir akhirat selalu berprasangka baik kepada Tuhan. Setiap kejadian buruk datang dari diri sendiri, dan setiap kejadian baik adalah dari Tuhan Yang Maha Baik. Kesalahan datang dari kebodohan dirinya, bukan dari kesalahan orang lain. Maka, menyalahkan orang lain adalah perbuatan salah.

Keempat; dalam pola pikir akhirat, kebaikan tidak ada dikepala setiap manusia, tapi ada dalam pikiran Tuhan yang dipersepsi manusia. Manusia tidak bisa memaksakan kebenaran atas nama Tuhan, namun harus saling mengingatkan. Sedangkan menerima dan menolak kebenaran seorang manusia adalah hak prerogatif Tuhan.  

Panduan berpikir duniawi adalah alam dan panduan berpikir akhirat adalah kitab suci. Secerdas-cerdasnya manusia tidak mengenal akhirat dia bodoh, sebodoh-bodohnya manusia mengenal akhirat, dia cerdas. Mengenal pola pikir kehidupan akhirat adalah kemutlakkan dalam berpikir. Tanpa keyakinan Akhirat, manusia telah tersesat di jalan sesat.

Maka siapakah orang-orang yang berada di jalan lurus? “orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.” (Lukman, 31:4). “Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat benar-benar menyimpang dari jalan (yang lurus). (Al Mukminuun, 23;74).

Sesunguhnya orang-orang yang tidak meyakini adanya akhirat, dia telah mematikan pikirannya. Semoga kita semua mendapat ampunan dari Allah swt. Wallahu’alam.

(Penulis Head master Trainer)

Friday, June 7, 2019

TEOLOGI MUDIK

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Menyaksikan berjuta-juta kendaraan roda empat dan roda dua dijalanan, seperti melihat migrasi besar-besaran burung dan Bison. Jika melihat fenomena ini dan melepaskan egoisme kita sebagai manusia, memang benar pada hal-hal seperti yang dikatakan oleh Ibnu Arabi, pada manusia ada prilaku yang sama dengan kebinatangan. Memang kita, pada dasarnya mewakili berbagai sifat-sifat yang ada pada binatang.

MUDIK ADALAH TARIAN KOLOSAL REPRESENTASI MANUSIA KEMBALI KE ASAL
Pulang kampung atau mudik bukan hanya di Indonesia, di negara negara lain pun sama. Di Malaysia, Tiongkok, Bangladesh, Korea, India, Turki, Arab Saudi, punya tradisi mudik, mereka juga manusia punya rasa rindu kampung halaman dan orang tua. Namun mudik di negara-negara lain tidak seheboh budaya mudik di Indonesia karena kita termasuk negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia.

Mudik adalah reprentasi kembali ke asal. Konsep kembali ke asal di dalam kitab suci Al-Qur’an dijelaskan dalam berbagai ayat. “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan”. (Yasin, 36:83). Mudik bisa jadi adalah gambaran ruhaniah bagaimana berbondong-bondongnya jiwa-jiwa manusia kembali kepada Tuhannya. “kemudian kepada Allah-lah kamu kembali,” (Al An’aam, 6:60). Asalnya dari Allah kita akan kembali kepada Allah.

Ada tempat tiga tempat kembali di dunia yang jadi representasi kembali ke asal.  Pertama tanah kelahiran. Tanah kelahiran selalu menjadi ikatan untuk kembali karena bagian dari asal. Kedua, orang tua (ibu). Rahim ibu sebagai tempat asal, untuk itu ibu jadi daya pikat untuk kembali. Ketiga, tanah kuburan. Siapapun manusianya, akan kembali ke tanah.

Mudik adalah fenomena sosial sebagai tarian kolosal manusia, tarian spiritual tahunan untuk mengingatkan manusia, kita semua akan kembali kepada sang Pencipta. Sebagaimana tarian sufi  yang berputar-putar sebagai bentuk ketundukkan alam semesta kepada ketentuan Tuhan.
Selamat mudik salam buat semua keluarga dikampung. Jangan lupa berbagi dengan tetangga dikampung, harta terbaikmu yang dibagikan bukan dipamerkan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Monday, June 3, 2019

PEMIKIR BARAT PENJAGA AYAT QURAN


OLEH : MUHAMMAD PLATO

Boeree (dalam Supardan, 2015, hlm. 212), menjelaskan  Sigmund Freud mempostulatkan kehendak terhadap kesenangan sebagai sumber segala sumber segala dorongan dalam diri manusia, sementara Alfred Adler mempostulatkan kehendak untuk berkuasa. Sedangkan Victor Emil Frankl (logoterapi) mempostulatkan “kehendak untuk makna” sebagai sumber utama motivasi manusia.

Para pemikir Barat, jika kita kaji dari Al-Qur’an mereka mengemukakan pemikiran-pemikiran bersifat parsial. Ini sesuai sesuai dengan karakteristik alam yang nampak terpisah-pisah. Pola pikir ini dikenal sebagai kelompok Newtonian.

Jika kita menggunakan Al-Qur’an sebagai sudut pandang, maka sifatnya menjadi saling keterkaitan. Pola pikir Al-Qur’an sama dengan kaum Fisika Quantum yang memandang alam sebagai sistem saling keterkaitan (interconection). Hidup manusia saling ketergantungan, dalam keseimbangan seperti gerak yin dan yang yang dijelaskan oleh Fritjop Capra.

Sigmund Freud melalui pengamatannya, Beliau hanya bisa memahami bahwa manusia bertindak atas dasar kehendak terhadap kesenangan. Melalui kemampuan akalnya Beliau melakukan anlisis, dalam berbagai karakteristik tindakan manusia didasari oleh kehendak terhadap kesenangan. Apa yang dikatakan Freud tidak salah, karena pada dasarnya manusia memiliki kehendak pada kesenangan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran, 3:14).

Alfred Adler memfostulatkan kehendak berkuasa sebagai seluruh aktivitas manusia. Pendapatnya memiliki kesamaan dengan Nietsche, bahwa seluruh aktivitas manusia bertujuan mencari dan mempertahankan kekuasaan. Kedua pemikir ini sama-sama mengatakan bahwa dalam diri manusia ada kehendak berkuasa. “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah, 2: 340). Perintah sujudlah kamu kepada Adam, ditafsir oleh Muthahari sebagai tanda bahwa pada diri manusia ada potensi atau naluri berkuasa. Potensi ini berhasil dibaca oleh Adler dan Nietsche dan dikembangkan menjadi teoiri psikologi dan politik.

Jangan terlalu percaya kepada manusia-manusia yang berbicara ingin memelihara kesucian kitab suci Al-Qur’an, sementara ucapannya menghalang-halangi manusia dari hidayah Tuhan. (Muhammad Plato)
Victor Emil Frankl motivasi manusia dilandasi oleh kehendak untuk makna. Manusia berhasil memberi nama-nama pada seluruh benda karena mampu menemukan makna dibalik benda. Motivasi seseorang dilandasi oleh makna terhadap benda atau kejadian. Tuhan tidak akan ditaati jika tidak memiliki makna bagi kehidupan manusia. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (Al-Baqarah, 2:31). Jika makna Tuhan bagi seseorang baik, maka dia akan taat kepada Tuhan. Sebalik jika Tuhan dimaknai sebagai sesuatu yang tidak berdaya ketika terjadi pembantaian, maka Tuhan akan diabaikan. Manusia bertindak dan diam karena didorong oleh kebermaknaan.

Penulis tidak mau mengklaim bahwa seluruh ilmu pengetahuan milik orang Islam hanya karena ada dalam Al-Qur’an. Tetapi ingin memberi kesadaran bahwa Tuhan Yang Maha Tahu menurunkan kitab suci, memberi kabar tentang kejadian pada setiap makhluk. Al-Qur’an bukan untuk orang Islam, tapi untuk dunia dan orang Islam diberi amanah untuk menyampaikannya.

Para pemikir Barat adalah para penjaga ayat Allah, mereka meyakini secara parsial dengan bahasa logika mereka sendiri. Mereka tidak mengabaikan Tuhan sebagai pencipta dan merasa mereka sendiri penciptanya. Al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan belum kita uji keagungannya. Bukan manusia yang akan memelihara kesucian Al-Qur'an, tapi Tuhan sendiri yang memeliharanya.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. Inna nahnu najjalnadzdzikra, wa innaalahu lahaapidiin. (Al Hijr, 15:9). Penulis tidak terlalu percaya kepada manusia-manusia yang berbicara ingin memelihara kesucian kitab suci Al-Qur’an, sementara upcapannya menghalang-halangi manusia dari hidayah Tuhan. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, June 1, 2019

SOFTWARE OTAK TERCANGGIH


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Setelah usai jam kerja, kita tidak pernah langsung pulang, kadang diisi dengan diskusi tentang banyak hal berkaitan dengan pendidikan atau agama. Diskusi tidak terasa sampai dua jam hingga pulang kemalaman. Suatu ketika, pertanyaan ini dikemukakan oleh kawan yang ingin memahami logika Tuhan, yang penulis kembangkan dari Al-Qur’an.

Pertanyaannya adalah, “dari mana asal ide bahwa Al-Qur’an sebagai sumber logika Tuhan?” Pertanyaan mendasar ini butuh penjelasan tidak sederhana. Penulis harus berpikir dan memilah milah dari mana memulai menjawab pertanyaan ini agar mudah dipahami. Jawaban harus terstruktur mengandung penjelasan sebab akibat (logis) agar bisa dipahami dan dipelajari sendiri.

SEBAGIAN KECIL SEBAB AKIBAT KEHENDAK TUHAN DAPAT KITA LIHAT DAN PAHAMI, SEBAGIAN BESAR KITA TIDAK MENGETAHUINYA (MUHAMMAD PLATO)
Awal lahirnya ide logika Tuhan berangkat dari perintah berpikir yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an sebanyak kurang lebih 63 kali (TH. Muhammad, 1983) . Perintah berpikir pasti ada kaitan dengan akal (rasio) atau logika, karena hati identik dengan rasa.  Taslaman (2010) menjelaskan bahwa tanpa logika (bernalar) akal manusia tidak akan berfungsi. Perintah 63 kali berulang-ulang bukan perkara biasa, pasti ada kepentingan luar biasa yang harus dilakukan manusia.

Menurut Al-Ghazali (2004) akal (rasio) adalah perdana menteri. Tugas perdana menteri berbeda dengan raja. Perdana menteri memiliki wewenang mengatur segala urusan untuk kesejahteraan rakyat. Akal dituntut memiliki kemampuan berpikir cerdas dan kreatif untuk memberikan kedamaian dan kesejahteraan rakyat. Itulah gambaran begitu pentingnya rasio dalam diri kita. Maka dapat dipahami jika Allah memerintahkan berpikir sampai 63 kali dalam Al-Qur’an.

Perintah berpikir ditujukan kepada akal, sedangkan aktivitas berpikir adalah BERLOGIKA. Definisi berlogika penulis sederhanakan sebagai beripikir sebab akibat. Setiap akal pasti berlogika. Antara akal dan logika diumpamakan seperti HARDWARE dengan SOFTWARE. Akal adalah hardware dan logika adalah softwarePerumpamaan itu berlaku pula di alam semesta. Alam adalah hardware dan Al-Qur’an adalah software. Dalam tubuh manusia, seluruh tubuh adalah hardware dan logika adalah software.

Manusia adalah hardware tercanggih yang tidak akan pernah ada tandingannya di muka bumi ini. Penciptanya adalah Allah swt. Hal yang membedakan kualitas manusia adalah isi software. Manusia kualitas nomor 3 menggunakan software logika alam empiris, manusia kualitas nomor 2 menggunakan logika kehendak akal semata, dan manusia kualitas nomor 1 menggunakan logika kehendak Tuhan.

Logika (kehendak) Tuhan adalah software tercanggih untuk akal manusia. Tidak semata-mata Allah menciptakan hardware jika tidak dengan software-nya. Maka software itu adalah dalam Al-Qur’an, berupa pola-pola berlogika menurut petunjuk dan kehendak tuhan Allah swt.

Dasar berlogika menurut petunjuk tuhan Allah swt. adalah menjadikan Allah sebagai sebab sekaligus sebagai akibat. Informasinya bisa kita dapat dari Al-Qur’an. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Hadiid, 57:3). Sebab-akibat kejadian alam selalu mengikuti kehendak Allah dengan berbagai bentuk variasi sebab dan akibat kejadian. Apa pun yang terjadi di alam adalah bagian dari kehendak Allah dan sebab awalnya selalu dari Allah dan akibat akhirnya kepada Allah.

Sebab akibat kejadian alam di atas kehendak Allah sebagian kecil bisa didilihat dan dipikirkan, namun sebagian besar manusia tidak mengetahuinya. Apa yang kita lihat dan pikirkan hanyalah sebagian kecil dari sebab akibat kehendak Allah. 

Contoh-contoh logika (menurut petunjuk) Tuhan  atau disingkat logika Tuhan, dapat di search dalam blog SUKSES DENGAN LOGIKA TUHAN. Sudah ada 300 lebih artikel tentang pejelasan logika Tuhan. Jadi logika Tuhan adalah berpikir sebab akibat mengikuti petunjuk Allah swt, bersumber dari kitab suci Al-Qur’an.

Logika tuhan adalah software berpikir tercanggih untuk otak manusia, dikembangkan dari kitab suci Al-Qur’an.  Manusia-manusia pengguna software berpikir ini, akan jadi manusia-manusia berkarakter tangguh, berakhlak mulia, berpribadi agung, dan menjadi khalifah di muka bumi.

Demikian penjelasan saya kawan, semoga mendapat pencerahan dari Allah. Kesalahan milik pribadi penulis, dan kebenaran mutlak milik Allah. Penulis hanya melaksanakan tugas sebagai mana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “wa maa ‘alainaa illal balaagul mubiin”. "dan kewjaiban kami tidak lain adalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. (Yasin, 36:17). Wallahu ‘alam.

 (Penulis Head Master Trainer)

Monday, May 20, 2019

BUKAN SOAL MENANG KALAH


OLEH: MUHAMMAD PLATO

Aku sedikit tertawa melihat dunia. Setelah kehilangan anak ku karena terlalu gila kemenangan. Akhirnya aku sadar di dunia ini bukan soal menang atau kalah. Tapi jujur atau dusta? Menang dengan jujur tidak terlalu gembira karena masih ada tugas yang lebih berat. Menang karena dusta apalagi, setelah menang akan ada ajab.

Ketika aku bernafsu menang, jujur aku terlalu condong melihat dunia. Sehingga lupa berpikir bahwa selama-lamanya di dunia usia manusia sekarang hanya mencapai 125 tahun. Itupun sangat-sangat jarang, karena harus tinggal di puncak gunung, makanan makanan organik dan harus menghirup oksigen murni setiap hari.

Dan itu pun kondisi tubuh tidak akan segagah ketika aku usia 20 sampai 40 tahun. Saat Aku menginjak usia 40 tahun ke atas, kualitas tubuh ku mulai rentan sehingga harus mulai mengurangi takaran nasi dan memperbanyak sayuran dan buah.  Plus istirahat cukup dan jangan marah serta khawatir dengan dunia.

"Hidup ini bukan soal menang dan kalah, tapi jujur dan dusta". (Muhammad Plato)
Aku sedikit tertawa dan bangga melihat orang-orang usia di atas 40 masih semangat dan bahagia mendapat kemenangan. Namun harus ingat permainan belum usai. Peluit panjang belum dibunyikan.

Setelah menjaga keseimbangan dunia dan akhirat,  hatiku terasa tenang. Keseimbangan dunia dan akhirat bukan 50:50, melainkan 30:70. Arti dari 30:70 adalah bekerja sesuai jam kerja, jangan bolos, jangan banyak izin, gunakan waktu liburan untuk libur, dan banyak-banyak berdoa.

Berusaha jujur, tidak dusta, hati benar-benar berasa tenang. Kalau ditakdirkan mati masih ada harapan jadi pemenang karena niat jujur dan tidak dusta. Jikalau ketemu ujian berat, ikuti saja karena yakin apa yang diujikan Tuhan materinya pernah diajarkan. Tidak mungkin 
Tuhan menguji sedangkan materinya belum pernah diajarkan. Tuhan pasti professional.

Jikalau tidak sanggup hadapi ujian Tuhan, jangan takut! Resiko tertinggi hidup adalah mati. Kematian bukan hal buruk kalau kita berusaha menjawab soal ujian dari Tuhan dengan jujur dan tidak menjawab dengan dusta. Jika kita terpaksa dusta, minimal niatnya masih ingin jujur. Lumayan masih ada harapan jadi pemenang di akhirat.

Hidup ini bukan soal menang dan kalah, tapi jujur dan dusta. Menurut penglihatan, orang jujur bisa kalah sebaliknya, yang dusta menang. Tapi coba pikir apakah kita bisa bersembunyi dari penglihatan Tuhan. Jika kalah marah-marah sambil sebar fitnah, jika dusta pura-pura jujur supaya menang. Marah-marah, pura-pura jujur, sama-sama tidak disenangi Tuhan.

Sikap terbaik menyikapi segala kejadian adalah merasa bagian dari kesalahan dan berusaha menjaga hidup damai. Anak-anak Syiria dan Palestina, tidak pernah bosan mengingatkan kita hidup damai itu sejahtera.  Atouna…  toufouli… Atouna… Atouna… Atouna… salam…”

“Jika realitas adalah apa yang kamu pikirkan”, Imanuel Kant ingin mengatakan bahwa kehidupan yang nyata itu akhirat yang ada dalam imajinasi. Dunia, “laksana fatamorgana di tanah datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya dia tidak mendapati sesuatu apapun”. (An Nuur, 24:39). Itulah kemenangan dan kekalahan di dunia. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)   

Sunday, May 19, 2019

MEMBELA ALLAH

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Dalam situasi politik terbelah dua saat ini dibutuhkan masyarakat cerdas. Apapun masalah yang menimpa elit politik saat ini, korban terbanyaknya pasti ada di masyarakat. Kecerdasan masyarakat harus dimulai, dari meluruskan tauhid dalam berpolitik dengan berniat membela Allah, bukan membela manusia, kepentingan, kekuasaan, keturunan, kelompok, suku, atau bangsa.

Allah memberi peluang kepada siapa saja untuk menegakkan kebenaran dengan tidak melampaui batas, yaitu dengan tidak mencampur adukkan kebenaran dengan fitnah. Kecurangan-kecurangan boleh diungkap berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi dan bisa dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.  

Jika masyarakat membela Allah, semua harus sepakat segala kecurangan harus diselesaikan melalui musyawarah, diperadilan resmi pemerintah. Hal ini sebagaimana Allah perintahkan, “bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran, 3:159).

"SEMUA MANUSIA BERPRILAKU CURANG DIHADAPAN ALLAH" (MUHAMMAD PLATO)

Jika masyarakat benar-benar membela Allah, akan menerima hasil keputusan musyawarah dengan bertawakal kepada Allah. Kepentingan kita sebagai anggota masyarakat bukan saya menang dia kalah, tetapi ingin hidup damai seperti ratapan anak-anak di Syiria dan Palestina yang hampir tidak didengar dunia. “apabila kamu telah membulatkan tekad (ada keputusan), maka bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran, 3:159).

Jika masyarakat benar-benar membela Allah, akan cenderung menciptakan situasi damai daripada konflik. Hanya orang-orang berjiwa damai yang akan jadi hamba-hamba Allah dan diperkenankan masuk surga. “jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (Al Anfaal, 8:61).

Jika masyarakat benar-benar membela Allah, kita sebagai masyarakat sesungguhnya tidak memiliki pengetahuan cukup tentang siapa yang benar dan salah. Jangan terjebak membela ego, kepentingan, kekuasaan, atau golongan. Tidak ada yang luput dari kecurangan dihadapan Allah. Semua manusia, berpangkat, berilmu, berketurunan, atau rakyat biasa, semua pelaku curang dihadapan Allah. “Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat”. (HR. Addarami)

Jika masyarakat benar-benar membela Allah, akan berpikir tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan damai. Hati manusia pembela Allah tidak takut dengan kecurangan-kecurangan yang dilakukan manusia, karena setiap pelaku kecurangan pasti menerima hukuman setimpal dari Allah. Cukup Allah yang akan menghakimi setiap kecurangan manusia, bukan kita. “Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya,” (An Nuur, 24:25).

Jika masyarakat benar-benar membela Allah, tidak membabi buta membela yang kamu anggap benar. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah, 2:216). Allahu Akbar! Fokus pada Allah, abaikan tuhan selain Allah. Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Saturday, May 18, 2019

LOGIKA TUHAN DAN AL-GHAZALI

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Jika Al-Ghazali sering digunakan oleh orang-orang untuk menyerang logika (akal), mari kita buktikan apakah Al-Ghazali begitu membenci logika? Dalam bukunya, “Kimiya As-Sa’adah” (Kimia Kebahagiaan), Al-Ghazali berbicara tentang siapa manusia?

Ketahuilah bahwa kunci mengenal Allah adalah mengenal diri sendiri sebagaimana firman Allah: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar”. (QS. Fushilat:53). Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Barangsiapa mengenal diri sendiri makai a sungguh telah mengenal Tuhannya”.  Ruh adalah diri kita.

Ruh adalah esensi yang harus kita kenal agar kita bisa mengenal siapa diri kita. “dan mereka bertanya kepada mu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku,” (QS. Al-Isra’:85). Karena ruh adalah urusan Allah, maka mari kita lihat apa saja urusan Allah? “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah,” (QS. Al-A’raf: 54).

Jika diri kita adalah Ruh, dan ruh adalah urusan Allah, kita bisa memahami bahwa urusan Allah adalah menciptakan dan memerintah. Ruh juga ada kaitan dengan tentara Allah, “dan tidak ada yang mengetahui tantara Tuhan mu melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir, 31).

Menurut al-Ghazali ruh adalah hati yaitu sebuah wadah yang berasal dari substansi malaikat. Di dalam diri manusia ada dua pasukan: pertama pasukkan lahir berupa syahwat (nafsu, emosi) dan ghadhab (amarah, ambisi). Tempat pasukan itu adalah tangan, kaki, mata, telinga, dan anggota tubuh lainnya. Kedua, pasukan batin. Mereka bertempat di otak yang memiliki kemampuan imajinasi, merenung, menghafal, mengingat, dan menduga. Kedua pasukan tersebut di bawah kekuasaan hati. Semua anggota tubuh patuh kepada hati, sebagaimana malaikat patuh kepada Tuhannya.  (al-Ghazali, 2004, hlm. 24).

Jiwa (Nafs) ibarat sebuah kota, tangan dan kaki adalah rakyat, nafsu sebagai penguasa, amarah sebagai polisi, hati sebagai raja, sementara akal sebagai menterinya. Hati sebagai raja akan mengedalikan pemerintahan hingga kerajaan dan wilayah sekitarnya menjadi aman. Sang raja butuh bertukar pendapat dengan para menteri  dan menjadikan penguasa lokal (nafsu) berada di bawah kewenangan menteri. Seandainya akal (menteri) berada di bawah kekuasaan nafsu (polisi) niscaya jiwa akan binasa dan hati akan merugi dikehidupan akhirat. (al-Gazhali, 2004, hlm. 27-28).

Hati adalah pengontrol akal, akal pengontrol indera, indera pengontrol jiwa. Sebaliknya jiwa pelayan indera, indera pelayan akal, akal pelayan hati. Al-Ghazali tidak menafikan akal (logika) dalam mengelola jiwa. Menurut al-Ghazali sekalipun akal tunduk kepada hati, dalam posisinya sebagai raja, hati perlu sering bertukar pendapat dengan akal, dan raja memberikan wewenang kepada akal untuk mengendalikan indera.

Al-Ghazali melarang berlogika murni mengandalkan indera, sementara hati memiliki kehendak dan punya logika. Laranga berlogiak dari Al-Ghazali tidak mematikan logika tetapi lebih membela logika hati sebagai bentuk ketundukkan akal kepada hati sebagai raja. Pernyataan al-Gazhali yang melarang berlogika indera, dalam rangka menjaga kedudukan hati sebagai raja. Akal diberi wewenang untuk mengontrol indera sebagai perintah hati, sementara indera melayani akal yang bekerja di bawah kendali hati.

Hati sebagai substansi malaikat mewakili malaikat Jibril sebagai penyampai wahyu. Hati adalah segala ketetapan yang terdapat dalam wahyu kitab suci Al-Qur’an. Memahami logika hati sama dengan memahami seluk beluk karakteristik Al-Qur’an dengan menggunakan akal (logika).

Akal bekerja dengan ketentuan berfikir sebab akibat. Pola pikir sebab akibat kemudian dikenal dengan ilmu logika. Sejak saat itu logika memahami hati (Al-Qur’an) dan logika memahami alam menjadi dua hal berbeda kadang bersebarangan kadang saling menguatkan. Al-Ghazali ingin menjaga keteraturan sebagaimana struktur ruh dalam jiwa bahwa hati adalah raja, maka tidak mungkin raja tunduk kepada logika indera, sudah seharusnya indera tunduk kepada logika hati dan indera harus melayaninya.

Logika Tuhan adalah logika yang digali dari Al-Qur’an sebagai sumber logika hati. Bertujuan seperti Al-Ghazali menjadikan hati sebagai raja dan indera harus taat kepada raja dengan melayani akal (logika) untuk melayani raja. (Muhammad Plato)
Logika tuhan adalah logika yang digali dari Al-Qur’an sebagai sumber logika hati. Bertujuan seperti Al-Ghazali menjadikan hati sebagai raja dan indera harus taat kepada raja dengan melayani akal (logika) untuk melayani raja. Logika tuhan memperkuat pemikiran Al-Ghazali, yaitu menjadikan hati sebagai raja dengan memberikan wewenang kepada akal untuk mengendalikan indera. Sebagai mana pemerintahan dalam kota, raja tidak aktif mengatur penguasa lokal dan mengawasi polisi. Raja cukup memberi wewenang kepada perdana menteri (akal) yang taat kepada logika hati untuk mengendalikan penguasa-penguasa lokal dan polisi. Akal bekerja dengan logika tuhan yang menyuarakan suara-suara hati sebagai raja. Sesungguhnya hati sebagai raja, dan akal sebagai perdana menteri, keduanya pembawa kebenaran dari Tuhan yang mengajarkan logika-logika Tuhan kepada manusia dalam kitab suci. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer) 

Tuesday, May 14, 2019

AGAMA MENCERDASKAN SEMUA

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Brahmana adalah kasta tertinggi dalam agama Hindu. Fungsi Brahmana adalah membaca dan mengajarkan kitab suci. Selain kasta Brahmana dalam agama Hindu tidak boleh membaca atau mempelajari kitab suci. Paus adalah pemimpin organisasi tertinggi dalam agama Kristen. Paus punya otoritas dalam manfasir kitab suci.

Di dalam agama Islam, ulama, ustad, kiayi, tidak menempati struktur kasta dan organisasi kaku seperti pada agama Hindu dan Kristen. Untuk itu, ulama, ustad, kiyai, tidak memiliki otoritas mutlak dalam memelajari dan menafsir kitab suci. Namun mereka mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pengungkap, dan penyingkap tabir kebenaran. Tetapi mereka tetap manusia yang tidak mutlak sebagai pemegang kebenaran karena Allah pemilik kebenaran.

Di dalam ajaran Islam tidak ada kultus individu, semua manusia diperlakukan dengan wajar. Kadang salah dan kadang benar. Keyakinan mutlak dan ketergantungan umat hanya kepada Allah swt. Gelar ustad, kiyai, habib, bukan dilihat pada kedudukan dalam strata atau organisasi, tetapi karena nilai keulamaannya yang sangat takut kepada Allah. 

Menerima dan menolak kebenaran atas dasar pemikiran seseorang di dalam Islam tidak dibenarkan. Pertimbangan untuk menerima dan menolak kebenaran mengacu kepada sumber kebenaran yang dijadikan rujukan dalam berpikir. Rujukan berpikir orang Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Islam tidak menempatkan orang sebagai sumber kebenaran, melainkan pembawa kebenaran. Sumber kebenaran ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, dan semua umat Islam harus menjadi pembawa kebenaran.

Mengikuti kelompok-kelompok dalam beragama hanyalah realitas empiris usaha manusia dalam mencari kebenaran, esensinya semua kelompok manusia harus beribadah, taat, dan tidak mempersekutukan Allah. Orang-orang yang benar taat kepada Allah, menjaga peperpecahan dan cenderung damai sebagai wujud kepasrahan dirinya bahwa segala kebenaran milik Allah.    

Zaman telah mengalami perubahan. Kepemilikan pengetahuan bukan lagi otoritas segelintir orang. Tugas menyampaikan kebenaran tidak dibebankan pada satu dua orang. Berbeda dengan zaman dahulu sebelum teknologi informasi berkembang, otoritas kepemilikan pengetahuan hanya ada di kelompok-kelompok tertentu. Brahmana, Paus, Pendeta, Wali, Kiyai, ilmuwan, dosen, guru, memiliki pengetahuan lebih dari manusia lainnya. Mereka menjadi satu-satunya rujukan dalam menggali ilmu pengetahuan.

Di abad informasi, posisi brahmana, paus, pendeta, wali, kiyai, ilmuwan, dosen, guru, tidak memiliki fungsi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Status mereka di abad informasi menjadi pembimbing umat, sebagai pemberi alternatif pengetahuan. Seperti di pasar, mereka hanya menyajikan berbagai macam pengetahuan tentang pemahaman dan penfsiran dan pilihannya ada pada masyarakat yang memahami berdasarkan kemampuan pemikiran dan kepemilikan pengetahuan masing-masing.

“tidak ada paksaan dan kultus individu dalam kebenaran”. Inilah kata-kata yang mendorong semua manusia untuk saling menginspirasi dan menjadi manusia cerdas. Kecerdasan manusia terletak pada kemampuan menganalisis, dan memverifikasi pengetahuan bukan hanya kepada siapa pembawanya tetapi sampai kepada substansinya. Untuk memverifikasi kebenaran, tidak melihat siapa orang yang mengemukakannya tetapi dari mana sumber kebenarannya.

Hal yang harus diperhatikan dari pendapat atau pemikiran seseorang adalah dari mana sumber rujukannya. Jika rujukannya adalah penfsiran-penafsiran orang, maka tetap harus dilihat orang itu sumber pemikirannya dari mana. Jika ditemukan orang itu sudah merujuk kepada sumber kebenaran yang dipercaya semua orang (kitab suci), maka ada kewajiban untuk saling menghormati perbedaan pemikiran.

TIDAK ADA PAKSAAN DAN KULTUS INDIVIDU DALAM AGAMA (MUHAMMAD PLATO)
Setelah itu, manusia tidak akan diam. Zaman akan berubah, variasi hidup juga akan berubah. Pemikiran pun akan mengalami perubahan dan kembali saling menguji dan menyesuaikan. Sumber kebenarannya tetap sama dari kitab suci Al-Qur’an, namun penafsiran untuk menjawab variasi hidup akan mengalami perubahan.

Di zaman banjir pengetahuan saat ini, semua orang diajak cerdas memahami setiap pengetahuan yang diterima untuk dipahami dan dimaknai oleh akalnya sendiri. Kitab suci menyediakan pengetahuan dengan 700 lapis penafsiran. Agama mengajak cerdas umat, untuk itu Allah memerintahkan manusia berpikir. Pengetahuan sudah tersebar luas di media informasi dan menjadi milik pribadi-pribadi, tinggal kita memilih bedakan mana yang dicintai dan mana yang dibenci Allah. Berpikir tidak akan pernah berakhir kecuali setelah kematian menjemput.

Allah sudah memberi petunjuk jalan yang lurus dalam berpikir, yaitu berpikir hanya untuk selalu menyembah dan meminta pertolongan Allah, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”, (Alfatihan, 1:5).


Berpikir adalah ibadah, karena berpikir adalah perintah Allah kepada manusia. “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al Hasyr, 59:21). Agama mencerdaskan semua bukan segelintir orang. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Sunday, May 12, 2019

ILMU KITAB

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Konsep ilmu sudah dikenal di dalam Al-Qur’an. “Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ILMU yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’" (Al Kahfi, 18:66). Bahkan secara khusus Al-Qur’an mengatakan ada konsep ilmu al kitab. “Berkatalah orang-orang kafir: "Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul". Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ILMU AL KITAB ". (Ar ra’ad, 13;43).

Dalam pandangan sekuler, ilmu memiliki definisi tersendiri. Dalam tulisan ini, saya tidak merendahkan pemikiran sekuler, tetapi hanya ingin membandingkan sebuah perbedaan berpikir antara sekuler dan integralis. Pandangan integralis diwakili oleh Kuntowijoyo (2006) dalam bukunya Islam sebagai Ilmu.

Salah satu perbedaan konsep dalam pendekatan sekuler dan integralis terjadi pada pengertian ilmu. Menurut pandangan sekuler, ilmu adalah pengetahuan yang telah digali melalui metode penelitian. Pengetahuan yang belum diverifikasi melalui metode penelitian, tidak layak dikatakan ilmu. Jika konsep ilmu semacam ini diterapkan pada kitab suci maka isi pengetahuan yang ada dalam kitab suci harus diverifikasi untuk layak dikatakan ilmu.

Dapat dipahami, tindakan memverifikasi kitab suci seolah-olah meragukan kebenaran kitab suci, maka memverifikasi pengetahuan yang ada dalam kitab suci dapat dianggap sebagai salah satu tindakan merendahkan kitab suci.

Di dalam penelitian ada dua kemungkinan terjadi yaitu hipotesis diterima atau hipotesis ditolak. Jika hipotesis dari kitab suci di tolak, maka kitab suci salah. Jika kitab suci salah, maka sangat tidak mungkin kitab suci salah.  Jika kasus ini terjadi, maka status kitab suci menjadi rendah dan tidak suci.

Inilah dasar pemikiran yang mengatakan bahwa kitab suci adalah kitab suci tidak perlu masuk pada ranah ilmu. Jika dipaksakan masuk pada ranah ilmu, khawatir kitab suci akan jadi bahan lecehan dan direndahkan karena ada kemungkinan apa yang dikatakan dalam kitab suci tidak sesuai kenyataan atau salah.  

Namun demikian, pengertian ilmu dari kitab suci sangat berbeda dengan padangan sekuler. Jika kita telusuri, di dalam Al-Qur’an kita bisa temui beberapa definisi. “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya (‘ilman).” (Thaahaa, 20:110). Berdasarkan keterangan ini, ilmu adalah pengetahuan masa lalu dan masa yang akan datang.

“Dan orang-orang yang diberi (uutul’ilma) ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”. (Saba, 34:6). Ilmu adalah pengetahuan yang diturunkan Allah kepada manusia sebagai petunjuk jalan menuju kembali kepada Tuhan. Jadi seluruh pengetahuan yang terdapat dalam kitab suci adalah ilmu.

Prof. Fahmi Basya mengatakan ilmu adalah segala ketentuan yang berlaku pasti dan tidak mengalami perubahan. Di dalam Al-Qur’an kita bisa menemukan ketentuan-ketentuan yang berlaku pasti. Maka dari itu, kitab suci Al-Qur’an adalah kitab ilmu pengetahuan.

Jika seluruh isi Al-Qur’an adalah ilmu, maka tugas para ilmuwan adalah melakukan penelitian bagaimana aplikasi seluruh ketentuan yang ada di dalam Al-Qur’an dalam kehidupan. Penelitian dilakukan bukan untuk memverifikasi kebenaran seperti konsep penelitian positivistik pada penelitian ilmu sekuler, tetapi untuk menemukan penerapan yang tepat dalam kehidupan. Pola berpikir penelitian deduktif.

Atau sebaliknya penelitian dilakukan untuk memverifikasi temuan-temuan ilmiah sekuler di lapangan untuk diketahui kesesuain atau keterkaitannya dengan ketentuan yang ada dalam Al-Qur’an. Pola berpikir penelitian induktif. 

"Seluruh pengetahuan yang terdapat dalam kitab suci adalah ilmu" (Muhammad Plato)
Paradigma ini sesuai dengan fungsi kitab suci, yaitu “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (Al-Baqarah, 2:2). Lalu bagaimana dengan pengakuan dunia luar tentang paradigma ini? Hal terpenting dalam ilmu pengetahuan bukan pengakuan, tetapi bagaimana dampak bagi kesejahteraan masyarakat. Lain ladang lain belalang. Hidup orang Amerika, China, Jepang, berbeda, tetapi semua manusia diciptakan Tuhan dengan ketentuan yang sama. Meminjam istilah Imanuel Kant, perbedaan hanya  terjadi pada fenomena, sementara noumenanya pasti sama.

Sepengetahuan penulis kita sudah memiliki para ahli ilmu kitab. Prof. Fahmi Basya menemukan Matematika Islam, Dr. Nataatmadja menemukan Intelegensi Spiritual, Ary Ginanjar dengan ESQ, dan Aa Gym dengan konsep Manajemen Qolbu,  logika tuhan adalah pola berpikir sebab akibat yang dikembangkan merujuk pada Al-Qur’an. Dikembangkan melalui metode hubungan konsep, dan dikembangkan untuk tujuan menjadi panduan dalam berpikir sehari-hari, untuk selalu menghasilkan cara pandang berbeda dari biasanya dan selalu membawa ke arah optimis tanpa batas. Logika tuhan adalah ilmu kitab, dikembangkan untuk memandu kita menjadi manusia dengan intelegensi spiritual, punya kemampuan fleksibel intelegent, bisa hidup damai, sejahtera dunia dan akhirat.

Sebagai ilmu kitab, logika tuhan harus diajarkan kepada anak-anak, dewasa, dan tua. Baik di lingkungan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Wallahu’alam.

(Penulis Head Master Trainer) 

MEMPERKECIL MASALAH?

OLEH: MUHAMMAD PLATO

Masalah adalah takdir Allah yang tidak bisa kita hindari. Tapi masalah adalah bagian kecil dari takdir Allah. Ada takdir Allah lain yaitu manusia cenderung ingin damai dan sejahtera. Dari dua takdir ini, silahkan memilih, mau bermasalah atau  damai sejahtera?

Jika ingin memilih damai, kita harus belajar dari Al-Qur’an, apa sebenarnya masalah? Sebab terjadinya masalah berasal dari persepsi manusia tentang kejadian. Persepsi manusia tentang kejadian selalu terjebak dimensi ruang dan waktu. Pengaruh ruang dan waktu yang terbatas, menimbulkan persepsi manusia kadang buruk dan kadang baik.

Seharusnya setiap persepsi selalu baik. Setiap kejadian bisa kita persepsi baik, jika kita ketahui sebabnya baik, atau akibatnya baik. Sebaliknya, kejadian buruk terjadi jika kita ketahui sebabnya buruk, atau akibatnya buruk. Keterjebakan manusia melihat kejadian karena melakukan persepsi langsung berdasar apa yang dilihat tanpa pikir panjang. (short time thingking).

Contoh, Nabi Musa menganggap perbuatan Nabi Khidr keji, ketika membunuh anak kecil yang suci. Persepsi Nabi Musa terbatas ruang dan waktu, hanya melihat kejadian pada saat itu. Nabi Khidr sebagai orang berilmu, persepsinya sudah mampu membuka ruang dan waktunya sampai 18 tahun ke depan (anak dewasa), sehingga berkesimpulan anak itu harus diselamatkan (long time thingking). Kejadian antara Nabi Musa dan Nabi Khidr dalam Al-Qur’an, bukan sebagai kejadian faktual belaka, tetapi sebagai kejadian yang penuh dengan hikmah dan ilmu.

PERKECIL MASALAH DENGAN MENGAKUI BAHWA SEMUA MASALAH BERSUMBER DARI DIRI SENDIRI (MUHAMMAD PLATO)
Belajar dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr, manusia akan selalu bermasalah karena kesalahan persepsi. Kesalahan persepsi terjadi karena terlalu cepat mengambil kesimpulan, dan tidak sempat membuka ruang dan waktu yang lebih luas dan panjang. Membuka ruang artinya mencari dan menambah wawasan ilmu, dan membuka waktu artinya berpikir melakukan penelitian terhadap kejadian masa lalu dan akibatnya sampai masa yang akan datang.

Hakikatnya, masalah bukan apa yang dilakukan orang, tetapi apa yang kita katakan terhadap kelakuan orang. Bila kita mengatakan kelakuan orang itu buruk, persepsi kelakuan buruk sebenarnya ada dalam pikiran kita. Maka menyalahkan orang lain adalah perbuatan salah, kenapa? Karena mengaku diri benar, sementara kebenaran mutlak milik Allah. Untuk itu, masalah ada dalam hati, pikiran, dan perkataan diri kita masing-masing, bukan ada di luar sana.

Dapat dipahami mengapa Allah tetapkan, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa (prilaku buruk). (QS, Al-Hujurat, 49:12). Ini dali perintah untuk selalu berpositif thingking, agar kita menjadi orang-orang yang konsisten berprilaku baik.

Setiap manusia tidak akan lepas dari masalah. Lalu bagaimana prilaku kita? Perkecil masalah, dengan mengakui bahwa segala masalah di dunia ini datang dari diri sendiri dan haram menyalahkan orang lain”. Masalah menjadi besar karena kita memperbanyak keterlibatan orang dengan menyalahkan orang lain.

Ini sumber pola pikirnya, “Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri". (Yasin, 36:19). Ini ketetapan Allah bahwa apapun kejadiannya, bagaimanapun kejadiannya, tahu sebab atau tidak tahu sebabnya, masalah pasti sumbernya dari diri sendiri.

Demikianlah, “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas". (Yasin, 36:17). Pola pikir ini harus diajarkan kepada anak-anak didik kita, agar mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin besar yang membawa kedamaian dan kesejahteraan rakyat.  Semoga hidayah untuk kita semua! Wallahu ‘alam.

(Penulis Head Master Trainer)

Monday, May 6, 2019

FLEKSIBEL INTELEGENT

OLEH: MUHAMMAD PLATO


Inilah masa “triump of  the  Individual”, (Nasibitt & Aburdene, 1990, hlm. 13). Setiap orang memilih dan memiliki kebenaran berdasarkan pengetahuan yang ada dalam memorinya. Tidak ada lagi yang bisa melarang, kecuali mereka melanggar batas-batas kepatutan yang jelas dilarang berdasarkan kesepakatan bersama di dalam undang-undang. Setiap individu harus bisa saling menghargai, hidup damai berdampingan dalam perbedaan pendapat tentang kebenaran. Dirinya sendirilah yang akan memutuskan sesuatu itu benar, atau salah, sama atau berbeda.

Banyaknya sudut pandang tentang kejadian pada abad ini, kita butuh kemampuan fleksibel dalam memahami sebuah kejadian. Kemampuan ini dibutuhkan untuk menjaga bumi tetap damai dan sejahtera. Tujuan-tujuan berkuasa tidak lagi bisa dilakukan dengan kekerasan atau pemaksaan tetapi dengan kekuatan saling mempengaruhi dengan menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengendalikan opini. Kepemilikan media informasi menjadi alat utama untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan.

Kemampuan berpikir fleksibel adalah kemampuan memahami dan menerima pendapat orang lain berdasarkan kepemilikan pengetahuan yang ada dalam memorinya, dan mengembalikan segala kebenaran kepada pemiliknya yang mutlak yaitu Tuhan. Pengetahuan kita sebagai manusia terbatas, tidak bisa memahami segala kejadian secara komprehensif. Karakter manusia fleksibel intelegent cenderung berdialog saling menguji pola pikir dengan pendekatan logika, dan menghindari untuk saling mengklaim kebenaran yang mengarah pada permusuhan. Kebenaran di bumi bersifat sementara dan kebenaran mutlak ada di kehidupan setelah mati. Berpikir fleksibel akan membawa setiap orang kepada sikap-sikap sabar, santun, dan rendah hati. Sekalipun mengklaim kebenaran, upayanya akan dilakukan dengan cara-cara yang tidak menyakiti dan menghindari konflik melalui curah pendapat dengan memanfaatkan media informasi.

Teori Mnemohistory membenarkan siapa saja untuk memahami kejadian dari pengetahuan yang dimilikinya termasuk dari latar belakang agama yang dianut. Di dalam memahami agama pun, kemampuan fleksibel intelegen sangat dibutuhkan karena kemampuan ini akan membawa para pemeluk agama bisa hidup berdampingan dengan damai. Tuhan menciptakan alam semesta dengan takdir-takdirnya yang tak hingga.

Wahyu yang diturunkan sebagai maha karya Tuhan, memiliki variasi pengetahuan tak hingga (beyond). Ueberweg mengatakan bahwa, menurut para mistik, setiap teks dari Al-Qur’an mempunyai tujuh atau 70 atau 700 lapis penafsiran, arti harfiahnya hanya untuk kaum awam. Dari sana maka bisa dikatakan bahwa ajaran filosofis tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an, karena dari 700 penafsiran paling tidak pasti ada satu yang cocok dengan apa yang dikatakan oleh filosof. Namun demikian, di dalam dunia Islam, kaum awam nampaknya keberatan dengan semua ajaran yang keluar dari pengetahuan kitab suci. Pngetahuan semacam ini berbahaya, sekalipun tidak bisa ditunjukkan mana pengetahuan yang dianggap menyimpang. Pandangan kaum mistik, bahwa orang awam seharusnya memahami al-Qur’an secara harfiah tetapi orang-orang bijaksana (dalam pengetahuannya) mestinya tidak melakukan hal yang sama, nampaknya kurang bisa diterima oleh kaum muslim pada umumnya. Al-Ghazali termasuk salah satu tokoh yang menolak semua filsafat yang menulis buku berjudul kerancuan para filosof, yang mengatakan bahwa semua kebenaran yang dicari ada dalam Al-Qur’an, maka pemikiran spekulatif yang terlepas dari wahyu tidak diperlukan.  Filsafat Muslim di Spanyol berakhir dengan Ibnu Rushd; dan di wilayah lain dunia Islam ortodoksi yang kaku mengkahiri pemikiran spekulatif. (Russell, 2016, hlm. 566).

Fleksibel intelegent adalah kemampuan memahami suatu kejadian dari berbagai sudut pandang. (Muhammad Plato)
Fleksibel intelegent dibutuhkan oleh umat beragama khususnya Islam, mengingat kata Al-Qur’an memiliki makna katerkaitan, sebagai tanda bahwa  kebermaknaan lahir dari keterkaitan antar objek atau kejadian. Bencana dari sudut pandang invidivu berkultur memori agama Islam dapat menghasilkan berbagai macam mnemohistory.

TABEL. 1
FLEKSIBEL INTELEGENT MEMAHAMI BENCANA

PERISTIWA
SUDUT PANDANG (MEMORI)
PEMAHAMAN
BENCANA
"Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri”. (Yasin, 36:19).
Bencana dari kesalahan diri sendiri
“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran, 3:146)
Bencana melatih sabar
Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Ali Imran, 3: 174)
Bencana adalah nikmat dan karunia Allah.
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. (An Nisaa, 3;79)
Keburukan dari Bencana adalah persepsi manusia terhadap kejadian
Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya." (Al An ’aam, 6:64)
Bencana adalah cara Allah menyelamatkan manusia dari kesulitan
“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri, (Ar Ra’ad, 13:31).
Bencana adalah akibat dari perbuatan kafir
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut, 92:2)
Bencana adalah ujian keimanan

Tabel di atas hanya sebagian contoh kecil bagaimana memori kita memahami sebuah kejadian. Memori (ingatan) kita akan mengemukakan pemahaman berdasarkan pengetahuan yang berhasil kita ingat. Jika pengetahuan-pengetahun dari kitab suci di atas tidak ada dalam memori, tidak mungkin manusia dapat memahami sebuah kejadian dengan banyak sudut pandang seperti pada table di atas. Persepsi kita tergantung pada pengetahuan yang diingat oleh memori kita.

Fleksibel intelegent adalah kemampuan memahami suatu kejadian dari berbagai sudut pandang. Fleksibel intelgent adalah keterampilan berpikir yang harus diajarkan kepada peserta didik. Kemampuan berpikir fleksibel akan membawa dampak kepada siswa selalu siap menerima perbedaan dan siap hidup damai saling menghargai dalam perbedaan.

Allah telah mengajarkan kepada manusia agar memiliki kemampuan berpikir fleksibel. Tujuannya agar manusia tetap optimis, selalu punya alternatif pemecahan masalah, kreatif, dan tetap dalam sabar. Kemudian dalam segala kondisi tetap mengingat dan menyembah Allah. Ilmu-ilmu alam, sosial, tujuannya tidak lain adalah melatih manusia untuk memiliki banyak sudut pandang terhadap kejadian, agar manusia bisa bertahan hidup dan tetap optimis menjalani kehidupan.

Bencana adalah noumena atau kehendak Allah yang transenden. Jika Kant mengatakan neoumena atau kehendak (menurut Schopenhauer) tidak dapat kita ketahui realitasnya, tidak salah karena kehendak Allah tidak mungkin kita ketahui sesungguhnya, Namun jika Schopenhauer mengatakan bahwa neoumena atau kehendak dapat kita ketahui dengan menangkap fenomena, dapat dipahami karena setiap fenomena adalah bagian dari kehendak Allah. “Dunia adalah kehendak dan bayangan (imaginasi); kehendak adalah realitas noumenal sebagai dasar, bayangan-bayangan adalah penjabarannya di alam fenomenal. (Suseno, 2003, hlm. 163). Allah Maha Tahu dan kita tidak tahu apa apa. Jangan menjadi tuhan pemecah belah, serahkan semuanya kepada Allah. Kita boleh memiliki kebenaran, tetapi Allah melarang memaksakannya. Wallahu’alam.

(PENULIS HEAD MASTER TRAINER)